IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4. Perubahan Penggunaan Lahan
Dalam menginterpretasi citra landsat ETM+, Sudadi et al. (1991) dan Janudianto (2004) mengelompokkan penggunaan lahan menjadi kategori hutan lebat, hutan semak atau belukar, kebun campuran, kebun karet, lahan terbuka, pemukiman, sawah, dan tegalan atau ladang. Berdasarkan pengelompokan ini, hasil analisis penggunaan lahan terhadap peta penggunaan lahan kawasan DAS Ciliwung hulu tahun 1985, 1990, 1994, 2001, dan 2010 ditampilkan pada Tabel 6.
Pada periode 1985 – 1990, luas hutan lebat mengalami penurunan dari 3869,93 ha menjadi 3143,39 ha. Kebun campuran, kebun karet, sawah, dan lahan terbuka juga mengalami penurunan luasan, yang masing – masing terwakili dengan nilaian 1.317,45 ha menjadi 1.151,73 ha, 188,53 ha menjadi 0,00 ha, 3.417,76 ha menjadi 2.703,87 ha, dan 540,70 ha menjadi 107,15 ha. Berbanding terbalik, hutan semak atau belukar, kebun teh, dan tegalan atau ladang mengalami
kenaikan luasan lahan yang masing – masing sebesar 479,39 ha menjadi 873,46 ha, 3.166,06 ha menjadi 3.838,64 ha, dan untuk tegalan sebesar 174,42 ha menjadi 619,93 ha. Pemukiman juga termasuk salah satu penggunaan lahan yang mengalami kenaikan luas lahan dari 1.765,58 ha menjadi 2.482,24 ha.
Tabel 5. Penggunaan Lahan di DAS Ciliwung Hulu (1985 – 2010)
Pada periode 1990 – 1994, lahan pertanian seperti sawah dan tegalan atau ladang mengalami penurunan masing – masing sebesar 213,62 ha dan 250,86 ha. Kebun teh, lahan terbuka, dan hutan semak atau belukar juga mengalami penurunan luasan lahan yang masing-masing sebesar 79,48 ha, 62,71 ha, dan 361,40 ha. Penggunaan lahan yang mengalami kenaikan dalam luasan lahannya adalah pemukiman dan kebun campuran sebesar 533,77 ha dan 434,68 ha. Hutan lebat pada periode ini hanya mengalami penurunan luasan sebesar 0,37 ha.
Pada periode 1994 – 2001, penggunaan lahan yang mengalami penurunan luasan lahannya adalah hutan lebat, hutan semak, kebun teh, dan lahan terbuka masing-masing sebesar 149,49 ha, 233,37 ha, 664,39 ha, dan 32,74 ha. Sebaliknya penggunaan lahan yang mengalami penambahan luasan lahan yang cukup besar adalah pemukiman, yakni sebesar 938,87 ha. Pada periode ini penggunaan lahan yang paling banyak mengalami penambahan luasan lahan adalah tegalan atau ladang, yakni sebesar 1.272,06 ha, sedangkan penggunaan lahan yang mengalami
Penggunaan Lahan
1985 1990 1994 2001 2010 Hektar Persen Hektar
Persen Hektar Persen Hektar Persen Hektar Persen Hutan Lebat 3.869,93 25,94 3.143,39 21,07 3.143,02 21,07 2.993,53 20,06 1.462,15 9,80 Semak/belukar 479,39 3,21 873,46 5,85 512,06 3,43 278,69 1,87 903,67 6,06 Kebun Campuran 1.317,45 8,83 1.151,73 7,72 1.586,41 10,63 1.582,01 10,60 2.264,33 15,18 Kebun Karet 188,53 1,26 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Kebun Teh 3.166,06 21,22 3.838,64 25,73 3.759,16 25,20 3.094,77 20,74 4.057,06 27,19 Lahan Terbuka 540,70 3,62 107,15 0,72 44,44 0,30 11,70 0,08 35,45 0,24 Pemukiman 1.765,58 11,83 2.482,24 16,64 3.016,01 20,21 3.954,88 26,51 4.238,13 28,40 Sawah 3.417,76 22,91 2.703,87 18,12 2.490,25 16,69 1.363,73 9,14 429,47 2,88 Tegalan 174,72 1,17 619,63 4,15 368,77 2,47 1.640,83 11,00 1.530,28 10,26 Total 14.920 100 14.920 100 14.920 100 14.920 100 14.920 100
penurunan luasan lahan terbesar adalah sawah, yakni sebesar 1.126,52 ha. Kebun campuran mengalami penurunan luasan lahan sebesar 4,40 ha.
Penggunaan lahan pada tahun 2010 (Tabel 5, Gambar Lampiran 1) didominasi oleh pemukiman. Luasan lahan pemukiman pada tahun 2010 naik secara signifikan, pada tahun 1985 sebesar 1.765,58 ha, dan meningkat menjadi 4.238,13 ha pada tahun 2010. Periode 2001 – 2010, penggunaan lahan yang mengalami penurunan luasan lahan adalah hutan lebat, sawah, dan tegalan, yang masing – masing perubahan penurunan luasannya adalah 1.531,38 ha, 934,26 ha, dan 110,55 ha. Penggunaan lahan luasannya bertambah adalah hutan semak, kebun campuran, pemukiman, lahan terbuka, yamg masing-masing kenaikan luasannya sebesar 624,98 ha, 682,32 ha, 283,25 ha, dan 23,75 ha. Pada periode ini, kebun teh mengalami penambahan luasan, yakni sebesar 962,29 ha.
4.4.1. Perubahan Penggunaan Lahan Hutan Lebat
Perubahan luas hutan lebat memiliki laju peluruhan eksponensial yang tergambar dalam model persamaan y = 4.010,8 exp(-0,029X) dengan nilai R square (R2) = 0,91 (Gambar 15 dan Tabel 6). Laju peluruhan hutan lebat mengalami penurunan luasan lahannya dari tahun 1985 ke tahun 2010, yakni sebanyak 2.407,78 ha atau berkurang sebanyak 62,21 %.
Gambar 15. Model Persamaan Eksponensial Laju Perubahan Hutan Lebat Hutan lebat di DAS Ciliwung Hulu kebanyakan berada di wilayah dengan elevasi tinggi dan kemiringan lereng yang curam, sekitar puncak gunung (Janudianto, 2004). Hal ini menyebabkan sangat sulit hutan lebat langsung
urutan tahun pengamatan
luas
an (
ha)
dikonversi menjadi pemukiman. Kenyataannya karena teknologi yang semakin berkembang dari waktu ke waktu menyebabkan semakin banyak ditemui pemukiman atau lahan terbangun yang berada di sekitar puncak gunung.
Tabel 6. Model Pendugaan Perubahan Berbagai Tipe Penggunaan Lahan DAS Ciliwung Hulu (1985 – 2010)
Model persamaan pendugaan pertumbuhan eksponensial penggunaan lahan DAS Ciliwung hulu (y = c*exp(b0+b1*x1+b2*x2...)
Tipe penggunaan lahan R2 Persamaan
Hutan Lebat 0,91 y = 4.010,8exp(-0,029X)
Hutan Semak/Belukar 0,25 y = 521,6exp(0,012X)
Kebun Campuran 0,92 y = 1.140,1exp(0,025X)
Kebun Teh 0,41 y = 3.368,7exp(0,005X)
Lahan Terbuka 0,99 y = 736,6exp(-0,31X)
Pemukiman 0,93 y = 2.109,5exp(0,029X)
Sawah 0,97 y = 3.808,2exp(-0,06X)
Tegalan/Ladang 0,82 y = 399exp(0,056X)
Ket: y = luas pendugaan penggunaan lahan (ha); x = urutan tahun pengamatan Tabel 7. Hasil Estimasi Luas Penggunaan Lahan Berdasarkan Model
Pertumbuhan Eksponensial
Tahun Hutan Kebun Lahan Pemukiman Sawah Tegalan/
Lebat Campuran Terbuka Ladang
1985 3.897,06 1.169,02 539,96 2.172,16 3.587,53 422,03 1986 3.786,58 1.198,71 395,81 2.236,69 3.379,69 446,42 1987 3.679,23 1.229,16 290,14 2.303,13 3.183,89 472,21 1988 3.574,92 1.260,38 212,69 2.371,55 2.999,43 499,50 1989 3.473,57 1.292,40 155,91 2.442,00 2.825,66 528,36 1990 3.375,09 1.325,23 114,28 2.514,54 2.661,96 558,89 1991 3.279,41 1.358,89 83,77 2.589,23 2.507,74 591,19 1992 3.186,44 1.393,41 61,41 2.666,15 2.362,46 625,35 1993 3.096,10 1.428,80 45,02 2.745,35 2.225,59 661,48 1994 3.008,32 1.465,10 33,00 2.826,90 2.096,66 699,70 1995 2.923,04 1.502,31 24,19 2.910,88 1.975,19 740,13 1996 2.840,17 1.540,47 17,73 2.997,35 1.860,76 782,90 1997 2.759,65 1.579,60 13,00 3.086,38 1.752,96 828,14 1998 2.681,41 1.619,73 9,53 3.178,07 1.651,40 875,99 1999 2.605,39 1.660,87 6,98 3.272,47 1.555,73 926,61 2000 2.531,53 1.703,06 5,12 3.369,68 1.465,60 980,15 2001 2.459,76 1.746,32 3,75 3.469,78 1.380,69 1.036,79 2002 2.390,02 1.790,68 2,75 3.572,85 1.300,70 1.096,69 2003 2.322,27 1.836,16 2,02 3.678,99 1.225,35 1.160,06 2004 2.256,43 1.882,80 1,48 3.788,28 1.154,36 1.227,10 2005 2.192,46 1.930,63 1,08 3.900,81 1.087,48 1.298,00 2006 2.130,30 1.979,67 0,79 4.016,69 1.024,48 1.373,00 2007 2.069,91 2.029,95 0,58 4.136,00 965,13 1.452,34 2008 2.011,22 2.081,52 0,43 4.258,87 909,21 1.536,26 2009 1.954,20 2.134,39 0,31 4.385,38 856,54 1.625,03 2010 1.898,80 2.188,61 0,23 4.515,65 806,92 1.718,93 R2 0,90 0,92 0,99 0,93 0,97 0,82
4.4.2. Perubahan Penggunaan Lahan Kebun Campuran
Luas penggunaan lahan kebun campuran selama periode 1985 – 2010 mengalami peningkatan, yakni sebesar 946,88 ha. Model persamaan pertumbuhan penggunaan lahan kebun campuran adalah y = 1.140,1exp(0,025X) dengan nilai koefisien determinasi (R2) = 0,92. Peningkatan luas kebun campuran umumnya merupakan penambahan lahan kebun campuran atau pekarangan di sekitar pemukiman dan konversi dari semak belukar. Kebun campuran pada penelitian ini terdiri atas campuran yang tidak teratur antara tanaman tahunan dan tanaman semusim yang terletak pada satu bidang lahan yang pengolahannya menggunakan alat berat sehingga menyebabkan kondisi fisik tanah menurun. Model persamaan eksponensial laju pertumbuhan kebun campuran dapat dilihat pada Gambar 16.
Gambar 16. Model Persamaan Eksponensial Laju Perubahan Kebun Campuran
4.4.3. Perubahan Penggunaan Lahan Terbuka
Luas lahan terbuka mengalami penurunan sebesar 505,25 ha. Penurunan luas lahan terbuka dinyatakan dalam persamaan y = 736,6exp(-0,31X) dengan nilai koefisien determinasi (R2) = 0,99 (Gambar 17). Luas lahan terbuka di akhir – akhir tahun pengamatan semakin sedikit jumlahnya, hal ini dapat dilihat dari luas lahan terbuka 2010 yang hanya sebesar 0,23 ha.
urutan tahun pengamatan
luas
an (
ha) y = 1.140,1exp
Gambar 17. Model Persamaan Eksponensial Laju Perubahan Lahan Terbuka
4.4.4. Perubahan Penggunaan Lahan Pemukiman
Pemukiman meningkat pesat dibandingkan penggunaan lahan lain, sebesar 2.472,55 ha atau meningkat sebesar 58,34 %. Pertumbuhan pemukiman dinyatakan dalam persamaan y = 2.109,5exp(0,029X) dengan R square (R2) = 0,99 (Gambar 18). Pemukiman dalam penelitian ini meliputi kampung dan penggunaan lahan non pertanian (Janudianto, 2004). Pertumbuhan pemukiman yang pesat terjadi karena DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah yang menawarkan pertumbuhan ekonomi tinggi dari sektor pariwisatanya. Pemukiman dalam penelitian ini meliputi kampung dan penggunaan lahan non pertanian lainnya, seperti sarana dan prasarana daerah wisata (Sudadi et al., 1991).
Gambar 18. Model Persamaan Eksponensial Laju Perubahan Pemukiman
urutan tahun pengamatan
luas
an (
ha)
urutan tahun pengamatan
luas
an (
ha)
y = 736,6exp(-0,31X)
4.4.5. Perubahan Penggunaan Lahan Tegalan atau Ladang
Luas lahan tegalan atau ladang pada periode 1985 – 2010 bertambah sebesar 1.355,56 ha. Model persamaan laju pertumbuhan tegalan atau ladang periode (1985 – 2010) adalah y = 399exp(0,056X) dengan nilai koefisien determinasi (R2) = 0,92. Model persamaan dapat dilihat pada Gambar 19. Tegalan atau ladang dalam penelitian ini merupakan usahatani lahan kering yang ditanami komoditas seperti palawija.
Gambar 19. Model Persamaan Eksponensial Laju Perubahan Tegalan atau Ladang
4.4.6. Perubahan Penggunaan Lahan Sawah
Luas sawah berkurang signifikan dari tahun ke tahun. Laju pertumbuhan sawah dapat dinyatakan dalam persamaan y = 3.808,2exp(-0,06X) dengan nilai nilai koefisien determinasi (R2) = 0,97 (Gambar 20).
Sawah merupakan lahan yang paling berpotensi dikonversi menjadi kawasan pemukiman (tempat peristirahatan, restaurant, toko, dan tempat wisata). Hal ini disebabkan karena umumnya sawah berlokasi di sekitar pemukiman, dekat dengan aliran sungai dan jalan (Janudianto, 2004). Luas penggunaan lahan sawah berkurang sebanyak 2.988,29 ha atau sebanyak 87,43 %. Sawah dalam penelitian merupakan usahatani yang ditanami padi.
urutan tahun pengamatan
luas
an (
ha)
Gambar 20. Model Persamaan Eksponensial Laju Perubahan Sawah