• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERBUATAN MENJUAL TANAH WAKAF DALAM

C. Perubahan Peruntukan Tanah Wakaf Hak Milik Menurut

Prinsip terhadap tanah wakaf tidak dapat dilakukan perubahan baik perubahan status, peruntukan maupun penggunaannya. Menurut kenyataan didunia ini tidak ada satupun yang abadi. Menurut kodratnya sesuatu akan

52

berubah, dan bahkan karena kemajuan-kemajuan yang terjadi didalam kehidupan manusia telah banyak perubahan-perubahan yang dilakukan olehnya.

Perubahan peruntukan tanah dikarenakan adanya perubahan kondisi tanah atau lingkungannya, atau bisa juga dikarenakan adanya perubahan rencana tata guna tanah, tata ruang atau rencana pembangunan daerah atau nasional.Perubahan peruntukan hak menurut hukum agraria nasional, selain dapat dilakukan melalui cara dengan jual beli, tukar menukar, hibah, wasiat, warisan, dan lain-lainnya, dapat juga dilakukan dengan cara wakaf.

Ketentuan peruntukan hak atas tanah selain maslahat dan manfaatnya lebih besar dan lebih banyak dinikmati oleh masyarakat, juga sesuai dengan maksud dari pada fungsi sosial dari pada hak atas tanah yang dianut hukum agrarian nasional. UUPA melakukan pembatasan terhadap peralihan atau perubahan hak milik, hanya mereka yang memenuhi ketentuan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 21 ayat 1 jo. Pasal 21 ayat 2 UUPA saja yang dapat menjadi pemegang hak milik atas tanah.7

Mengenai perwakafan tanah dalam UU No.5 Tahun 1960 tentang UUPA diatur dalam Pasal 49 ayat 3 dimana perwakafan tanah dilindungi dan diatur

7

Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Hak-Hak Atas Tanah , Prenada Media, (Jakarta: Prenada Media, 2004), h.79.

dengan peraturan pemerintah.8 Menurut Pasal 11 ayat 1 PP No.28 Tahun 1977 bahwa pada dasarnya terhadap tanah milik yang telah diwakafkan tidak dapat dilakukan peruntukan atau penggunaan lain daripada yang dimaksud dalam ikrar wakaf.9

Untuk itulah, maka di atur dalam UU No.5 Tahun 1960 tentang UUPA Pasal 49 ayat 3 jo. PP No.28 Tahun 1977 jo. Permandagri No.6 Tahun 1977 jo. PMA No.1 Tahun 1978 dan lain-lain, dimana hanyalah perwakafan hak milik yang kepentingannya umum atau kepentingannya tidak lain sebagai kepentingan umum atau kepentingan peribadatan lainnya (wakaf sosial, bukan wakaf ahli).

Semua hak-hak atas tanah di dalam hukum agraria nasional mempunyai fungsi sosial, yang berarti pula hak-hak tersebut harus mampu memenuhi satu atau lebih kepentingan masyarakat. Oleh Karen itu hukum agraria nasioanal kita tidak menganut sistem adanya suatu hak mutlak atas tanah. Hak milik sekalipun dibatasi oleh:

a. Adanya fungsi sosial yang dianggap melekat padanya.

b. Corak masyarakat Indonesia yang sejak Zaman dahulu membebankan manusia perorangan dengan berbagai kewajiban terhadap keluarga, masyarakat dan sekitarnya.

8

Muhammad Yamin, Beberapa Dimensi Filosofis Hukum Agraria (Medan: Pustaka Bangsa Press,2003), h.8.

9

54

Untuk masalah perwakafan yang status dan peruntukannya dipergunakan sebagai kepentingan pribadi atau keluarga (wakaf ahli), tidaklah termasuk ruang lingkup dan jangkauan pengaturannya. Ruang lingkup semacam ini diperlukan dengan maksud dan tujuan untuk menghindari adanya kekaburan di dalam masalah perwakafan. Dalam hal seseorang mewakafkan tanahnya untuk kepentingan seseorang pribadi atau keluarga (wakaf ahli), maka untuk tidak menyulitkan nantinya setelah orang yang menerima wakaf (nadzir) meninggal dunia, mengingat wakaf tidak dapat dirubah peruntukannya, baik dengan cara jual beli, hibah, warisan dan lain-lainnya, maka wakaf tersebut harus dianggap hibah.

Pada Pasal 49 ayat 1 UU No. 5 Tahun 1960 tentang UUPA menyatakan bahwa hak milik badan-badan keagamaan dan sosial, sepanjang dipergunakan untuk usaha dalam bidang keagamaan dan sosial, diakui dan dilindungi. Badan-badan tersebut dijamin pula akan memperoleh tanah yang cukup untuk bangunan dan usahanya dalam bidang keagamaan dan sosial.10 Pada Pasal 49 ayat 3 UUPA menyatakan bahwa perwakafan tanah milik dilindungi dan diatur dengan Peraturan Pemerintah.11

Pasal 23 UU No. 5/1960 tentang UUPA pada ayat 1 menyatakan bahwa hak milik, demikian pula setiap perubahan peruntukan, hapusnya dan pembebanannya

10

Ali Achmad Chomzah, Hukum Pertanahan ( Jakarta: Prestasi Pustaka, 2003), h.58.

11

dengan hak-hak lain harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 19.12

Pasal 23 UU No. 5 Tahun 1960 tentang UUPA menyatakan bahwa pendaftaran termaksud dalam ayat 1 merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai hapusnya hak milik serta sahnya peralihan dan pembebasan hak tersebut. Pasal 26 ayat 1 UU No.5 Tahun 1960 tentang UUPA menyatakan bahwa jual beli, penukaran, penghibahan, pemberian dengan wasiat, pemberian menurut adat, dan perbuatan-perbuatan lain yang dimaksudkan untuk memindahkan hak milik serta pengawasannya diatur dengan Peraturan Pemerintah.13

Menurut Pasal 7 Permenegria/ Kepala BPN No.9 Tahun 1999 tentang tata cara pemberian dan pembatalan hak atas tanah negara dan hak pengelolaan meyatakan bahwa sepanjang mengenai hak milik yang dipunyai badan hukum keagamaan. Badan hukum nasional dan badan hukum lain yang ditunjuk oleh pemerintah. Hak guna usaha dan yang lainnya yang menurut sifatnya harus memerlukan izin peralihan pihak, dalam penerbitan keputusan pemeberian haknya harus mencantumkan persyaratan izin perlaihan hak.14

Pasal 7 Permenegria/ Kepala BPN No.9 Tahun 1999 selanjutnya dipertegas kembali dengan ketentuan Pasal 134 yang menyatakan bahwa izin peralihan atau perubahan peruntukan hak atas tanah diperlukan hanya untuk hak

12

Ibid.,h.49.

13

Ali Achmad Chomzah, Hukum Pertanahan ( Jakarta: Prestasi Pustaka, 2003), h.50.

14

56

milik yang dipunyai oleh badan hukum keagamaan, badan hukum sosial dan badan hukum lain yang ditunjuk oleh pemerintah, hak guna usaha, hak pakai tanah diatas tanah negara dan hak-hak lain yang didalam sertifikatnya dicatat memerlukan izin.

Selain perubahan peruntukan hak milik atas tanah yang dilakukan perorangan. Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 26 UUPA jo. Pasal 21 ayat 1 UUPA. Perubahan peruntukan hak milik atas tanah yang dimiliki oleh badan-badan hukum sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 21 ayat 2 UUPA jo. PP No.38 Tahun 1963 tentang penunjukan Badan-badan hukum yang mempunyai hak milik atas tanah, harus memerlukan izin dari pihak yang berwenang.

Wakaf yang dirubah dengan cara dijual, digantikan, dipindahkan atau dialihkan ketempat yang lain dan yang lain sebagainya, dimana perubahan tersebut yang akan dilakukan mempunyai dasar hukum, yaitu diantaranya sebagai berikut :

1. Pada PP No.28 Tahun 1977 yakni dalam pasal 11 ayat 1, ayat 2 dan ayat 3.

2. Pada PMA No.1 Tahun 1978 yakni dalam pasal 12 ayat 1, ayat 2 dan ayat 3 serta Pasal 13 ayat , ayat 2 dan ayat 3.

3. Pada Surat Edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji No.DII/5/HK/007/901/1989 tanggal 1 April 1989.15

Selain dasar hukumnya juga ada alasan perubahan dan tukar menukar yaitu sebagai berikut:

1. Karena tidak sesuai lagi dengan tujuan wakaf seperti yang dikeluarkan oleh wakif (PP No.28 Tahun 1977 ayat 2 huruf a)

2. Karena kepentingan umum (PP No.28 Tahun 1977 ayat 2 huruf b)

3. Karena status tanah wakaf dapat di izinkan diberikan penggantian yang senilai dan seimbang (PMA No.1 Tahun 1978 Pasal 13 ayat 3)

D. Akibat Hukum Perubahan Peruntukan Tanah Wakaf Hak Milik Menurut UU No.5 Tahun 1960 Tentang UUPA

Menurut Pasal 52 ayat 1 UU No.5 Tahun 1960 tentang UUPA menyatakan bahwa barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan dalam Pasal 15 dipidana dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan dan/ atau denda setinggi-tingginya Rp 10.000 (sepuluh ribu rupiah).16

Pada Pasal 14 PP No.28 Tahun 1977 menyebutkan bahwa barangsiapa melakukan perbuatan yang melanggar ketentuan-ketentuan sebagaiman dimaksud

15

Departemen Agama RI, Manajemen Perwakafan Tanah Milik , Departemen Agama RI Pusat Pendidikan dan Latihan Kerja, Jakarta, 1995, hal.6

16

58

dalam Pasal 5 yakni mengenai tentang Ikrar Wakaf, Nadzir dan Saksi, Pasal 6 ayat 3 yakni mengenai tentang pendaftaran dan pengesahan nadzir, pasal 7 ayat 1 yakni tentang kewajiban nadzir, Pasal 9 yakni tentang tata cara perwakafan tanah, Pasal 10 yakni tentang pendaftaran tanah wakaf hak milik, Pasal 11 yakni tentang perubahan perwakafan tanah milik, dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamnya 3(tiga) bulan, atau denda sebanyak-banyaknya Rp.10.000 (sepuluh ribu rupiah).17

Apabila perbuatan yang dimaksud dalam Pasal 14 PP No.28 Tahun 1977 tersebut dilakukan oleh atau atas nama badan hukum, maka tuntutan pidana dijatuhkan, baik terhadap badan hukum maupun terhadap mereka yang memberi perintah melakukan perbuatan tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin atau penanggung jawab dalam perbuatan atau kelalaian atau terhadap kedua-duanya (Pasal 15 PP No.28 Tahun 1977).

Suatu penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan perwakafan atas tanah dijeniskan seperti perubahan peruntukan tanah wakaf yang tidak sesuai prosedur ketentuan yang berlaku, dan yang lainnya sebagai tindak pidana pelanggaran yakni perbuatan melanggar hukum. Hal ini dapat dibuktikan dengan mengemukakan sebuah contoh, bahwa sebelum adanya PP No.28 Tahun 1977, pelaksanaan perwakafan atas tanah yang tanpa dilakukan dan atau dicatatkan dihadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW), tidaklah dikategorikan

17

sebagai perbuatan melawan hukum (tindak pidana), karena disaat itu perbuatan tersebut belum dikenal sebagai perbuatan yang tidak baik.

Bukti lainnya adalah dari bentuk sanksi pidananya itu sendiri yang merupakan hukuman kurungan atau denda. Hukuman kurungan dimaksud paling lama 3 (tiga) bulan, sedangkan untuk hukuman denda sebanyak-banyaknya tidak lebih dari Rp 10.000 (sepuluh ribu rupiah). Bentuk sanksi pidana semacam ini merupakan salah satu ciri dari pada tindak pidana pelanggaran.18

E. Penyelesaian Perselisihan Tanah Wakaf

Dalam Pasal 62 ayat (1) UU Nomor 41 Tahun 2004 dijelaskan bahwa penyelesaian sengketa perwakafan ditempuh melalui musyawarah untuk mencapai mufakat dan di ayat dua (2) dijelaskan pula, apabila penyelesaian sengketa sebagaiamana dimaksud pada ayat (1) tidak berhasil, sengketa dapat diselesaikan melalui mediasi, arbitrase, atau pengadilan. Dalam hal penyelesaian secara musyawarah, harus disertai dengan bukti tertulis sejak permulaan, yaitu dari surat pemberitahuan untuk para pihak, Berita Acara Rapat dan selanjutnya sebagai bukti adanya perdamaian dituangkan dalam Akta Pernyataan Perdamaian yang bila perlu dihadapkan Notaris sehingga mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna.

18

Taufiq Hamami, Perwakafan Tanah Dalam Politik Hukum Agraria Nasional (Jakarta: PT. Tatanusa, 2003), h.207.

60

Penyelesaian perselisihan wakaf tanah milik termasuk yurisdiksi Pengadilan Agama, yaitu sepanjang masalah sahnya atau tidak perbuatan mewakafkan tanah milik sebgaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 dan masalah-masalah lainnya yang menyangkut wakaf berdasarkan syari‟at Islam. Dengan demikian, berarti masalah-masalah lainnya yang secara nyata menyangkut hukum perdata dan hukum pidana diselesaikan melalui hukum acara dalam pengadilan Negeri.

Sebelum dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977, penyelesaian sengketa perwakafan menjadi kompetensi Peradilan Umum dan bukan kompetensi Peradilan Agama. Dapat dilihat dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 163 K/Sip/1963 tertanggal 22 Mei 1963 yang menganggap soal wakaf yang berasal dari Hukum Islam, di Indonesia sudah dapat dianggap meresap dalam hukum adat. Kemudian Putusan Mahkamah Agung Nomor 152 K/Sip/1963 yang merumuskan pengertian wakaf sebagai perbuatan hukum dengan mana suatu barang atau barang-barang telah dikeluarkannya atau diambil dari kemanfaatan atau kegunaannya dalam lalu lintas maysarakat semula, guna kepentingan seorang atau orang-orang tertentu atau guna maksud atau tujuan yang telah ditentukan, barang-barang yang berada di tangan si mati.

Dengan keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977, maka menurut ketentuan dalam Pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977, penyelesaian perselisihan sepanjang yang menyangkut persoalan perwakafan

tanah, disalurkan melalui pengadilan Agama setempat sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.19

Menurut ketentuan dalam Pasal 17 Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1978, bahwa Pengadilan Agama yang mewilayahi tanah wakaf berkewajiban memeriksa dan menyelesaikan perkara tentang perwakafan tanah menurut syari‟ah, yang antara lain mengenai :

a. wakaf, wakif, nadzir (nazhir), ikrar dan saksi;

b. bayyinah (alat bukti administrasi tanah wakaf);

c. pengelolaan dan pemanfaatan hasil wakaf.

Dalam melaksanaan penyelesaian perselisihan wakaf tanah milik tersebut, Pengadilan Agama tetap berpedoman pada tata cara penyelesaian perkara yang berlaku pada Pengadilan Agama.

19

62 BAB IV

ANALISIS PENYELESAIAN SENGKETA PERBUATAN MENJUAL TANAH WAKAF PADA MAHKAMAH AGUNG (Analisa Kasus Putusan

Mahkamah Agung Nomor Perkara :995 K/Pdt/2002)

A. Posisi Kasus dan Permasalahan 1. Duduk Perkara

Pada tahun 1935 dibangun sebuah gedung yang dinamakan Madrasah Arabiyah Islamiyah yang merupakan bagian dari tanah wakaf yang diwakafkan oleh Syekh Abdullah Salmin Bahadjadj selaku wakif dan pendiri gedung tersebut. Luas tanah yang diwakafkan oleh Syekh Abudllah semula adalah 1640 m2, sedangkan luas tanah sekaligus gedung madrasah adalah 820 m2 sisanya dibangun Masjid.

Namun pada tahun 1951 ketika Syekh Abdullah pulang ke Irak, tanah wakaf masjid tersebut dijual oleh Syekh Oemar yakni adik kandung Syekh Abdullah (Wakif). Sehingga tanah wakaf yang semula 1640 m2 setelah dijual tersisa 830 m2. Pada tahun 1935 sampai dengan 1956 pengurus Madrasah Arabiyah Islamiyah tetap menjalankan tujuan wakaf yakni diselenggarakannya pendidikan, namun karna keuangan Madrasah tidak mencukupi dan keadaan ekonomi pengurus juga kurang maka kegiatan pendidikan Madrasah menjadi tersendat-sendat.

Dengan melihat keadaan Madrasah tersebut, Syekh Oemar menyesal atas perbuatan yang telah menjual tanah wakaf milik kakaknya yang semula masjid.

dengan penyesalan tersebut pada Tahun 1956 Syekh Oemar membuat Surat wasiat dengan Akta No.9 Tahun 1956 kepada ahli warisnya yang bertujuan untuk mendirikan yayasan, salah satunya adalah untuk membiayai kegiatan Madarasah Arabiyah Islamiyah.

Pada tahun 1963, Yayasan tersebut berdiri dan sebagai ketuanya adalah Syekh Oemar. Namun dengan berdirinya yayasan tersebut, dengan maksud dan tujuan membiyayai kegiatan Madrasah tetap tidak direalisasikan sampai Syekh Oemar meninggal. Keadaan semakin memburuk ketika Syekh Ali anak Syekh Oemar menjadi ketua Yayasan Syekh Oemar bin Salmin Bahadjadj, dimana Madrasah semakin diabaikan dan dengan melawan hukum pada tahun 1997 tanpa diteliti terlebih dahulu tanah wakaf tersebut atas permohonan Syekh Ali Oemar Salmin Bahadjadj diterbitkan Sertifikat HGB oleh Kepala Pertanahan Kotamadya Medan dan dengan sengaja tanah wakaf tersebut dialihkan oleh Syekh Ali dalam bentuk Akta Jual-Beli. Alasan tersebut dilakukan oleh Syekh Ali karena Madrasah adalah bagian dari yayasan atau harta kekayaan milik yayasan, tanpa memperhatikan adanya surat wasiat tujuan didirikannya yayasan oleh Syekh Oemar Salmin Bahadjadj.

2. Amar Putusan Mahkamah Agung

Diputuskan pada rapat permusyawaratan Mahkamah Agung Menolak permohonan kasasi dari para Pemohon Kasasi, yaitu:Yayasan Syekh Oemar Bin Salmin Bahdjadj, Ir. Ali Oemar Salmin Bahdjadj, Every, Lim Sun San alias Halim Tjipta Sanjaya, Oei Giok Leng, dan Go Tiong Tjho. Diwajibkan Para Pemohon

64

Kasasi untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini sebesar Rp 200.000,00 ( dua atus ribu rupiah)

B. Analisis Terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor Perkara : 995 K/Pdt/2002.

1. Analasis Kasus Perspektif Hukum Islam

Menurut hukum Islam, terjadi beberapa perbedaan pendapat (Ijtihad) Ulama mengenai perbuatan menjual tanah/ harta wakaf. Dalam kaitannya dengan pendapat ulama terutama imam madzhab Fiqh sebagian ada yang melarangnya dan adapula yang memperbolehkannya dengan adanya unsur hati-hati dalam melakukan praktik tesebut. Para ulama di kalangan Syafi‟iyyah (ulama bermazhab Syafi‟i) dan Malikiyah (ulama bermazhab Maliki) terkesan sangat berhati-hati, bahkan mereka cenderung melarang praktik tersebut. Karena dasar wakaf itu sendiri bersifat abadi, sehingga kondisi apapun benda wakaf tersebut harus dibiarkan sedemikian rupa. Dasar yang digunakan oleh mereka adalah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, di mana dikatakan bahwa benda wakaf tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan dan tidak boleh diwariskan.

Berbeda halnya para ulama di kalangan Hanafiyah (ulama bermazhab Hanafi) dan Hanbaliyah (ulama bermazhab Hanbali), yang terkesan mempermudah izin melakukan praktik tersebut. Mereka berpendapat, jika kita melarang perubahan status wakaf, sementara ada alasan kuat untuk itu, maka kita termasuk orang-orang yang menyia-nyiakan wakaf, sehingga asset wakaf menjadi rusak dan tidak bisa dimanfaatkan lagi. Dasar yang mereka gunakan adalah

tindakan sahabat Umar bin Khatab ra yang memindahkan Masjid Kufah yang lama dijadikan pasar bagi para penjual kurma. Ini adalah penggantian tanah masjid, adapun penggantian bangunannya dengan bangunan lain, maka sahabat Umar dan Utsman pernah membangun Masjid Nabawi tanpa mengikuti kontruksi pertama dan melakukan tambahan serta perluasan.1

Adapun dalam Kompilasi Hukum Islam, penjualan tanah wakaf dilarang pasal 225 Buku III. Penyimpangan dari ketentuan dimaksud hanya dapat dilakukan terhadap hal-hal tertentu setelah terlebih dahulu mendapatkan persetujuan tertulis Dari kepala Kantor Urusan Agama berdasarkan saran dari Majelis Ulama Kecamatan dan Camat setempat dengan alasan:2

a. Karena tidak sesuai lagi dengan tujuan wakaf seperti diikrarkan oleh

wakif;

b. Karena kepentingan umum.

Dalam kaitannya kegiatan wakaf di Indonesia, lebih dominan pengaturannya ke pendapat Imam Hanafi dan Hanbali terhadap diperbolehkannya penjualan tanah wakaf, karena Indonesia merupakan Negara berkembang yang sewaktu waktu bisa terjadi istibdal Masjid atau keharusan penjualan harta/ tanah wakaf Karena disebabkan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) ataupun untuk kepentingan umum lainnya dengan memperhatikan kondisi dan maslahat.

1

Muhammad Abid Abdullah Al-Kabisi, Hukum Wakaf: Kajian Kontemporer Pertama dan Terlengkap tentang Fungsi dan Pengelolaan Wakaf serta Penyelesaian atas Sengketa Wakaf. Penerjemah Ahrul Sani Faturrahman, dkk KMPC (Jakarta: Dompet Dhuafa Republika dan IIMaN Press, 2004), h.380-381.

2

66

Pendapat ini sangatlah bermanfaat bagi kegiatan perwakafan di Indonesia, karena dengan menjual tanah wakaf yang telah hilang fungsinya dapat dilakukan dengan menjualnya dan dibelikan lagi dengan tanah wakaf yang baru dengan nilai minimal sama dengan tanah wakaf yang semula sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Namun dalam kaitannya dengan kasus yang di analisis, penjualan tanah wakaf yang dilakukan oleh tergugat yakni Syekh Ali Umar Salmin Bahadjadj selaku ketua Yayasan Syekh Oemar Bin Salmin Bahdjadj adalah melanggar hukum, alasannya karena perbuatan tergugat adalah melawan hukum dengan keadaan sehat dan berakal tergugat melakukan penjualan tanah wakaf dengan akta jual-beli tanah serta melakukan permohonan penerbitan sertifikat Hak Guna Bangunan atas nama Yayasan/ tergugat I kepada Kepala Pertanahan Kotamadya Medan.

Kegiatan jual-beli tanah wakaf dalam kasus tersebut melanggar peraturan Undang-undang wakaf karena tergugat tidak memperhatikan prosedur yang berlaku. Eksepsi tergugat tidak mengakui kalau bahwasannya madrasah Arabiyah Islamiyah adalah wakaf dari Syekh Abdullah dan menganggap menganggap Madrasah merupakan harta yayasan, hal tersebut adalah keliru.

Dalam Putusan Pengadilan Negeri Medan, Majelis Hakim menyatakan menolak gugatan penggugat seluruhnya, hal ini disebabkan karena Penggugat tidak membuktikan secara pasti tanah wakaf tersebut adalah wakaf sari Syekh Abdullah Salmin Bahadjadj dalam pembuktiannya. Kemudian ketika di

Pengadilan Tinggi, Majelis hakim menolak eksepsi dari Tergugat I sampai dengan Tergugat X, yang khususnya Tergugat I dan II tidak memperhatikan adanya surat wasiat yang dibuat oleh Syekh Oemar Salmin Bahdjadj (orang tua tergugat II), bahwasannya di buatnya Yayasan adalah untuk membiayai kegiatan Pendidikan di tanah wakaf. Dalam hal Mahkamah Agung memberikan putusan adalah benar yaitu salah satunya adalah menguatkan adanya Surat Wasiat No.9 tangal 4 April 1956 yang mana Syekh Oemar dalam membuat wasiat adalah cakap dalam hukum serta berakal. Karena wasiat itu merupakan perjanjian sepihak, maka haruslah wasiat itu dibuat oleh seorang sudah cakap bertindak hukum (KHI Pasal 194 ayat 1), sebab wasiat yang dibuat seorang yang gila atau rusak akalnya (sedang mabuk) adalah batal.3

2. Analisis Kasus Perspektif Hukum Positif

Dalam analisis penulis, menurut hukum Islam mengenai kasus penjualan tanah wakaf Putusan Mahkamah Agung Nomor Perkara :995 K/Pdt/2002 adalah perbuatan melawan hukum dan membenarkan Putusan Mahkmah Agung atas perkara tersebut, demikian pula menurut hukum positif penjualan tanah wakaf yang dilakukan oleh tergugat adalah melawan hukum. Dengan adanya persamaan akibat hukum yang penulis analisis ini baik hukum Islam maupun hukum positif adalah membuktikan bahwasannya Undang-Undang Wakaf adalah berasal dari Kodifikasi Hukum Islam yang mana dalam hal pengaturannya Undang-Undang

3

Sidik Tono, Kedudukan Wasiat Dalam Sistem Pembagian Harta Peninggalan (Jakarta: Kementrian Agama RI Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, 2012), h.94.

68

wakaf di Indonesia lebih banyak mengambil teori dan praktik dari Madzhab Hanafiah dan Hanbaliah.

Dalam Pasal 6 Peraturan BWI No.1 Tahun 2008 yang berhak untuk mengajukan permohonan tukar ganti kepada Menteri melalui KUA adalah Nazhir. Nazhir dalam hal perubahan status harta wakaf termasuk jual beli adalah yang berperan penting, hal ini juga didukung dalam pasal 12 ayat 1 Peraturan Menteri Agama No.1 Tahun 1978 dan Pasal 51 PP No.42 Tahun 2006. Maka dari kasus tersebut merupakan perbuatan melawan hukum karena tergugat bukanlah Nazhir dan bukan pula yang berkepentingan atas penjualan tanah wakaf dan prosedur penjualan tanah wakaf dan meminta Kepala Kantor Pertanahan untuk menerbitkan Sertifikat Hak Guna Banguna termasuk dalam kategori penggalapan tanah yang mana dari penyimpangan perbuatan menjual tanah wakaf yang tidak sesuai dengan prosedurnya dapat dijatuhkan tuntutan pidana sesuai Pasal 15 PP No.28 Tahun 1977.

Dalam Pasal 24 PP No.40 Tahun 1996 Hak Guna Bangunan atas tanah Hak Milik terjadi dengan pemberian oleh pemegang Hak Milik dengan akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah.4 Dari penjelasan pasal tersebut penulis berpendapat terbitnya HGB yang diterbitkan oleh Kepala Pertanahan Kotamadya Medan adalah adanya dukungan akta yang dibuat oleh Notaris PPAT. Dalam kasus ini mereka tersebut adalah Tergugat VII,VIII dan IX atau Para Turut Termohon Kasasi.

4

Dalam hal tergugat VII,VIII dan IX sebagai Notaris/PPAT kurang memperhatikan salah satu Asas Pelaksanaan Tugas Jabatan Notaris yang Baik

Dokumen terkait