HASIL DAN PEMBAHASAN
5. Luas Lahan Garapan
5.1.2 Perubahan Pola Interaksi Masyarakat dengan Hutan
Sejak dulu hingga saat ini masyarakat sekitar hutan menggantungkan hidup dan kehidupannya pada produksi dan jasa hutan. Hutan sebagai sebuah ekosistem mempunyai sumberdaya di satu sisi dan masyarakat sekitar hutan di sisi lain yang mempunyai jalinan ketergantungan yang tidak dapat dipisahkan (Sutaryono 2008).
Masyarakat sekitar hutan semakin hari semakin terpinggirkan dan taraf kehidupannya memprihatinkan. Terbatasnya akses pada sumberdaya hutan, terbatasnya kesuburan dan luas lahan yang dimiliki, tingkat pendidikan dan ketrampilan yang relatif rendah yang diikuti dengan jumlah pendapatan yang rendah merupakan faktor-faktor yang menyebabkannya (Sutaryono 2008). Kondisi demikian cenderung menjadi sebuah ancaman bagi kelestarian sebuah kawasan hutan.
Perubahan pola interaksi masyarakat dengan hutan dalam penelitian ini adalah berdasarkan perubahan penggunaan lahan hutan oleh masyarakat di Dusun Cisarua dan Pandan Arum. Terdapat tiga pola interaksi yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut:
1. Pola dengan penggunaan lahan: adalah penggunaan lahan oleh masyarakat untuk keperluan tertentu yang permanen/menahun. Contoh dari pola ini adalah penggunaan lahan hutan untuk pertanian menetap dan pemukiman. 2. Pola pemanfaatan atau pemungutan hasil hutan: adalah pemanfaatan lahan
hutan oleh masyarakat tanpa menggunakan/menduduki lahan hutan yang bersangkutan. Contoh dari pola ini adalah pengambilan hasil hutan kayu atau non kayu.
3. Pola tanpa interaksi: yaitu masyarakat tidak menggunakan lahan hutan dan tidak mengambil hasil hutan sama sekali.
Perubahan pola interaksi yang dilakukan oleh responden adalah perubahan dari satu pola ke pola lainnya. Dalam penelitian ini, perubahan pola interaksi dibatasi hanya pada satu tahap perubahan saja, yaitu perubahan pola interaksi sebelum saat ini menjadi pola interaksi yang dilakukan saat ini. Berdasarkan hal tersebut maka perubahan pola interaksi yang mungkin terjadi adalah 6 (enam) pola perubahan.
Tidak semua masyarakat mengubah interaksinya dengan lingkungan sekitar. Pada beberapa masyarakat ditemui adanya hubungan yang relatif konstan dengan hutan. Dalam konteks penelitian ini, ditemui beberapa responden yang tidak mengalami perubahan pola interaksi. Tabel 8 berikut menyatakan besarnya responden beserta perubahan interaksi yang dilakukannya.
Tabel 8 Perubahan pola interaksi responden di kedua dusun penelitian
Pola perubahan Cisarua Pandan Arum
Jumlah Persentase (%) Jumlah Persentase (%)
Pola 1 2 4,5 0 0 Pola 2 14 31,8 16 40,0 Pola 3 6 13,7 4 10,0 Pola 4 0 0 3 7,5 Pola 5 20 45,5 13 32,5 Pola 6 0 0 0 0 Tidak berubah 2 4,5 4 10,0 Total 44 100,00 40 100,00
Keterangan : Pola perubahan interaksi adalah sebagai berikut:
1. Perubahan dari pola penggunaan lahan menjadi pemanfaatan hasil hutan. 2. Perubahan dari pola penggunaan lahan menjadi tanpa interaksi.
3. Perubahan dari pola pemanfaatan hasil hutan menjadi penggunaan lahan. 4. Perubahan dari pola pemanfaatan hasil hutan menjadi tanpa interaksi. 5. Perubahan dari pola tanpa reaksi menjadi penggunaan lahan.
6. Perubahan dari pola tanpa reaksi menjadi pemanfaatan hasil hutan.
Perubahan pola interaksi antara masyarakat dengan hutan di Dusun Pandan Arum dan Dusun Cisarua tidak jauh berbeda. Terdapat dua pola perubahan yang paling banyak dilakukan oleh responden, yaitu: pola 2 dan pola 5. Pola 2 adalah perubahan dari interaksi dengan penggunaan lahan menjadi tanpa interaksi. Sedangkan pola 5 adalah perubahan dari tanpa interaksi menjadi penggunaan
lahan. Kedua pola tersebut saling berlawanan dan paling banyak dilakukan oleh masyarakat di kedua dusun tersebut.
Di Dusun Pandan Arum terdapat 20 responden (45,5%) dengan perubahan interaksi pola 5 dan 14 responden (31,8%) dengan perubahan interaksi pola 2. Sisanya adalah responden dengan perubahan pola 3 sebanyak 6 (13,7%), perubahan pola 1 sebanyak 2 responden (4,5%) dan 2 responden yang tidak melakukan perubahan interaksi.
Di Dusun Cisarua terdapat 16 responden (40%) dengan perubahan interaksi pola 2 dan sebanyak 13 responden (32,5%) yang melakukan perubahan interaksi pola 5. Sisanya adalah 4 responden (10%) dengan perubahan interaksi pola 3 dan 3 responden (7,5%) yang melakukan perubahan pola 4. Responden yang tidak melakukan perubahan interaksi sebanyak 4 orang atau 10% dari total responden di Dusun Cisarua.
Secara keseluruhan responden di kedua dusun paling banyak melakukan perubahan dari pola tanpa interaksi menjadi pola penggunaan lahan yaitu pola 5. Perubahan kedua paling banyak dilakukan oleh masyarakat dikedua dusun adalah perubahan pola 2 yakni dari pola penggunaan lahan menjadi tanpa interaksi. Tabel 9 berikut ini menyajikan persentase jumlah responden di kedua dusun yang melakukan perubahan pola interaksi.
Tabel 9 Perubahan pola interaksi responden keseluruhan
Pola perubahan Jumlah Persentase (%)
Pola 1 2 2,4 Pola 2 30 35,7 Pola 3 10 11,9 Pola 4 3 3,6 Pola 5 33 39,3 Pola 6 0 0 Tidak berubah 6 7,1 Total 84 100
Perubahan pola interaksi masyarakat dengan hutan merupakan respon masyarakat terhadap suatu perubahan yang terjadi. Perubahan yang dilakukan oleh masyarakat di Dusun Cisarua dan Pandan Arum serta Desa Cipeuteuy umumnya merupakan respon terhadap perubahan yang terjadi pada berbagai hal
yang mempengaruhinya. Adanya perubahan pengelolaan hutan, perubahan kondisi lingkungan, dan perubahan kondisi di dalam masyarakat merupakan beberapa hal yang mempengaruhinya.
Masyarakat di Desa Cipeuteuy adalah masyarakat yang berada di lingkungan sekitar hutan dan perkebunan. Sebagian besar masyarakatnya bergantung pada pertanian dan perkebunan. Perkebunan yang berada di desa ini adalah perkebunan cengkeh PT. Intan Hepta yang sudah bangkrut sejak sekitar tahun 1993. Pada waktu perkebunan cengkeh masih beroperasi, banyak warga desa yang menjadi tenaga kerja di perkebunan tersebut. Selain itu Desa Cipeuteuy juga terletak tidak terlalu jauh dengan perkebunan teh PTPN VIII Kebun Cianten. Beberapa warga desa bekerja di perkebunan teh sampai saat ini meskipun tidak terlalu banyak. Sebagian besar masyarakat yang lain bermata pencaharian di bidang pertanian yaitu sebagai petani pemilik lahan maupun sebagai buruh tani.
Tidak semua masyarakat yang bermata pencaharian petani memiliki lahan yang cukup luas atau bahkan tidak memiliki lahan pertanian sama sekali atau tuna kisma. Sebagian besar dari petani berlahan sempit tersebut memanfaatkan lahan kawasan hutan sebagai lahan pertanian tambahan atau lahan pertanian utama bagi petani tuna kisma. Meskipun lahan hutan tidak terlalu bagus untuk lahan pertanian, namun masyarakat petani merasa tidak mempunyai pilihan lain selain menggarap lahan di kawasan hutan.
Interaksi masyarakat dengan hutan di Desa Cipeuteuy dapat dikelompokkan menjadi dua berdasarkan penggunaan lahannya. Interaksi yang pertama adalah interaksi yang dilakukan tanpa menggunakan lahan hutan secara langsung. Kelompok yang termasuk dalam interaksi ini adalah pemungutan hasil hutan baik hasil hutan kayu maupun non kayu. Sedangkan interaksi yang kedua adalah interaksi yang dilakukan dengan pemanfaatan lahan secara langsung, yaitu untuk lahan pertanian.
Gambar 7 Lahan pertanian dan pemukiman warga yang berbatasan langsung dengan TNGHS.
Berdasarkan keterangan dari responden, masyarakat Desa Cipeuteuy khususnya di Dusun Cisarua dan Pandan Arum yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan adalah yang paling banyak melakukan interaksi, baik interaksi dengan penggunaan lahan maupun tanpa menggunakan lahan secara langsung. Gambar 7 menunjukkan pemukiman dan lahan pertanian warga desa yang berbatasan langsung dengan kawasan TNGHS. Penggunaan lahan hutan untuk pertanian dan pemanfaatan hasil hutan kayu ataupun non kayu telah dilakukan masyarakat sejak sebelum lahan hutan dikelola oleh TNGHS. Pada waktu masih dikelola oleh Perhutani masyarakat di sekitar hutan banyak yang mengambil kayu bakar untuk keperluan sehari-hari dan memungut hasil hutan non kayu lain yaitu sayuran dan rumput untuk pakan ternak. Mereka yang menggunakan lahan hutan untuk lahan pertanian sebagian besar adalah petani tumpang sari.
Program tumpang sari tersebut merupakan kebijaksanaan Perhutani untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Tumpang sari dilakukan setelah ada tebangan. Masyarakat yang mengikuti program ini terbagi dalam kelompok yang terdiri dari sekumpulan petani. Blok-blok tumpang sari sudah ditentukan oleh Perhutani di lahan bekas tebangan. Petani dapat memanfaatkan lahan hutan di sela-sela tanaman kehutanan untuk pertanian dengan kewajiban menjaga tanaman kehutanan tersebut. Tanaman pertanian yang ditanam masyarakat antara lain padi huma, berbagai sayuran, pepaya, singkong, dan tanaman-tanaman pangan lain. Kontrak untuk tumpang sari adalah 4 tahun dengan pertimbangan jika pada usia tersebut tanaman kehutanan sudah cukup tinggi dan
rindang sehingga pertanian tumpang sari juga sudah tidak terlalu bagus untuk dilakukan. Pada prakteknya banyak dari petani melakukan tumpang sari lebih dari kontrak yang dilakukan. Hal ini disebabkan karena petani-petani tersebut sangat membutuhkan lahan untuk bertani sebagai penopang hidup.
Petani yang telah selesai menyelesaikan kontrak tumpang sari di suatu blok dapat mengikuti lagi tumpang sari di blok lain. Dengan demikian petani-petani tersebut melakukan tumpang sari tidak pada satu lokasi saja, namun pada beberapa lokasi yang terpisah. Meskipun banyak petani yang mengikuti tumpang sari dalam beberapa periode, beberapa petani memutuskan untuk tidak meneruskan kegiatan tumpang sari mereka atau bahkan berhenti melakukan tumpang sari sebelum kontrak selesai. Beberapa responden menyatakan bahwa mereka pernah bertumpang sari hanya selama 2 kali musim panen padi huma atau sekitar 1 tahun.
Petani-petani yang tidak lagi meneruskan pertanian tumpang sari beralih menjadi petani di lahan sendiri atau di lahan sewa, menjadi buruh tani, atau bekerja di bidang yang lain. Kebanyakan dari petani tersebut sudah tidak lagi menggunaan lahan hutan sebagai salah satu penopang hidupnya. Beberapa rumah tangga petani yang tempat tinggalnya tidak jauh dari hutan masih melakukan interaksi dengan hutan. Mereka masih memanfaatkan hasil hutan di sekitar rumahnya untuk keperluan sehari-hari, misalnya pengambilan kayu bakar untuk memasak.
Beberapa sebab yang mendasari perubahan tersebut hampir sama untuk tiap responden. Mereka mengatakan bahwa pertanian tumpang sari tidak cukup menguntungkan untuk dilakukan. Penyebabnya antara lain adalah tanah yang dianggap kurang subur terlebih lagi jika tanaman kehutanan sudah mulai tinggi dan daun-daunnya menaungi tanah sehingga hasil pertanian yang didapatkan sedikit. Banyaknya gangguan binatang seperti babi dan monyet yang merusak tanaman pertanian juga sangat merugikan petani. Faktor jarak juga menjadi salah satu alasan mengapa para petani tumpang sari enggan meneruskan pertanian di dalam hutan. Beberapa responden menyatakan bahwa lokasi lahan tumpang sari sangat jauh dari rumah dan untuk menempuhnya harus berjalan kaki selama dua sampai tiga jam. Periode tahun 1990-an adalah waktu ketika petani tumpang sari
banyak yang mulai berhenti seiring dengan kebangkrutan perkebunan cengkeh PT. Intan Hepta dan mulai diambil-alihnya lahan perkebunan tersebut oleh masyarakat desa.
Sekitar tahun 1996 – 1997 lahan eks HGU PT. Intan Hepta mulai diambil- alih oleh masyarakat desa, tidak terkecuali para petani tumpang sari di hutan. Sebagian dari masyarakat yang mengambil-alih dan menggarap lahan tersebut adalah mereka yang hanya memiliki lahan pertanian sempit atau bahkan tidak memiliki lahan sama sekali. Lahan seluas 583 ha tersebut akhirnya terbagi-bagi menjadi lahan pertanian masyarakat sampai saat ini. Masyarakat yang pada awalnya sangat tergantung dengan lahan hutan untuk pertanian mulai meninggalkan hutan dan menggarap lahan eks HGU tersebut. Para petani mendapatkan keuntungan dari lahan tersebut karena selain relatif luas, lahan tersebut juga tidak dibebani pajak sehingga masyarakat beramai-ramai menggarap lahan tersebut. Hal ini menjadi salah satu faktor perubahan interaksi masyarakat dengan hutan. Pada umumnya semakin luas lahan pertanian masyarakat di luar hutan, maka ketergantungan masyarakat akan hutan juga semakin berkurang.
Gambar 8 Lahan eks HGU PT Intan Hepta yang digarap masyarakat desa.
Tidak semua masyarakat di desa ikut dalam pengambil alihan lahan eks HGU PT. Intan Hepta. Seorang tokoh desa menjelaskan bahwa pada waktu itu tidak semua orang berani untuk ikut dalam aksi tersebut. Sejumlah warga kampung yang cukup jauh dari lokasi perkebunan tidak terlalu tertarik dengan lahan tersebut, sebagian yang lain adalah yang memang tidak kebagian karena semua lahan telah diambil-alih. Saat ini lahan tersebut masih menjadi lahan pertanian masyarakat dan sebagian lain adalah lahan yang dikuasai oleh orang dari
luar desa. Dalam dekade terakhir ini mulai sering adanya jual beli lahan eks HGU tersebut. Banyak masyarakat yang menjual lahan garapan kepada pembeli dari luar daerah. Hal ini menjadi sangat riskan karena lahan yang diperjual-belikan tersebut adalah tanah negara.
Meskipun sebagian besar dari petani tumpang sari meninggalkan pertanian di hutan, sebagian yang lain justru memulai untuk bertani di hutan. Mereka yang memutuskan untuk bertani di hutan umumnya adalah warga yang tidak mempunyai lahan pertanian sendiri atau memiliki lahan namun tidak cukup luas. Sebanyak 25 dari 33 responden atau sebesar 75,8% responden yang melakukan hal ini adalah mereka yang tergolong kepala keluarga yang relatif muda antara 20 – 45 tahun. Pada awalnya pemuda-pemuda di desa banyak yang bekerja di kota- kota besar seperti Bogor dan Jakarta. Pada saat berkeluarga, pemuda-pemuda tersebut meninggalkan keluarganya di desa. Upah bekerja di kota yang dianggap tidak mencukupi untuk keperluan hidup dan jauhnya jarak dengan keluarga membuat banyak dari pemuda-pemuda tersebut kembali ke desa untuk beralih mata pencaharian sebagai petani. Karena umumnya kepala keluarga muda tidak mempunyai lahan yang luas atau bahkan tidak mempunyai lahan sama sekali, maka mereka menggarap lahan di kawasan kehutanan.
Ketika status lahan hutan beralih dari kawasan Perhutani menjadi perluasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak hal ini menjadi permasalahan yang harus diperhatikan. Saat disahkan menjadi bagian TNGHS lahan hutan di Desa Cipeuteuy masih berupa lahan pertanian tumpang sari yang digarap oleh masyarakat. Perubahan status tersebut membuat para petani khawatir dan takut jika suatu saat lahan pertanian mereka diambil oleh pihak TNGHS sedangkan mereka sangat menggantungkan hidup dari pertanian tersebut. Sejak perluasan taman nasional sampai saat ini, banyak terjadi konflik kepentingan antara masyarakat dan taman nasional terkait lahan hutan maupun sumberdaya hutan.
Permasalahan yang muncul adalah saat lahan hutan berstatus sebagai bagian dari kawasan TNGHS. Peraturan dalam pengelolaan kawasan taman nasional menjadi lebih ketat dari sebelumnya saat masih dikelola Perhutani. Jika sebelum lahan hutan berstatus taman nasional masyarakat lebih leluasa untuk mengambil kayu bakar atau hasil hutan lainnya, maka saat ini hal tersebut terkadang menjadi
permasalahan dan dapat dikategorikan pelanggaran oleh pihak taman nasional. Lahan garapan tumpang sari yang digarap oleh masyarakat pun menjadi permasalahan pelik. Di satu sisi masyarakat masih membutuhkan lahan pertanian untuk mempertahankan mata pencaharian utamanya, namun di sisi lain aktifitas pertanian warga di dalam kawasan hutan mengancam kelestarian hutan. Gambar 9 menunjukkan salah satu areal pertanian di Dusun Pandan Arum yang beririsan dengan kawasan TNGHS.
Gambar 9 Lahan pertanian di Dusun Pandan Arum yang beririsan dengan kawasan TNGHS.
Menurut Lier (1998) dalam Yatap (2008), pada perencanaan penggunaan lahan terdapat dua dimensi yang saling bertentangan, yaitu: aspek konservasi dan aspek ekonomi. Dari aspek konservasi, dibutuhkan perlindungan terhadap air, udara, tanah, tumbuhan, dan hewan. Tetapi, dari aspek ekonomi, dibutuhkan peningkatan terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat pedesaan, yang berarti perluasan lahan pertanian, peningkatan produksi, relokasi bangunan pertanian, dan pembuatan desa.
Penutupan lahan merupakan status lahan secara ekologi dan penampakan permukaan lahan secara fisik, yang dapat berubah karena adanya intervensi manusia, gangguan alam, atau suksesi tumbuhan (Helms 1998 dalam Yatap 2008). Perubahan penutupan lahan dapat dibagi menjadi dua bentuk (FAO 2000), sebagai berikut:
1. Konversi dari suatu kategori penutupan lahan menjadi kategori yang lain, contohnya dari hutan menjadi padang rumput.
2. Modifikasi dari suatu kategori, contohnya dari hutan rapat menjadi hutan jarang.
Dalam hal perubahan penutupan lahan di Dusun Pandan Arum dan Dusun Cisarua cenderung kepada bentuk kedua yakni konversi dari suatu kategori penutupan lahan menjadi kategori yang lain. Lahan pertanian yang saat ini digarap oleh masyarakat di dalam kawasan hutan sebelumnya berupa hutan, saat ini telah menjadi lahan pertanian yang cenderung terbuka. Pada beberapa lokasi lahan garapan masyarakat di kedua dusun tersebut terdapat beberapa tanaman kehutanan, namun dalam jumlah yang sedikit dan umur yang relatif muda.
Tabel 8 dan 9 menunjukkan bahwa perubahan pola interaksi masyarakat dan hutan di Dusun Cisarua dan Pandan Arum tidak hanya terdapat satu perubahan saja, dari 6 perubahan yang mungkin, terdapat 5 perubahan pola interaksi yang dilakukan oleh responden penelitian. Perubahan-perubahan tersebut tidak terjadi dalam satu waktu, namun terjadi dalam waktu yang tidak bersamaan. Masing- masing perubahan pola interaksi tersebut akan dijelaskan dalam uraian berikut ini.
1. Perubahan dari pola penggunaan lahan menjadi pemanfaatan hasil hutan