• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Profil Darah Mahasiswi Yang Diberi Suplementasi Zat Besi (1 Tablet)Setiap Hari dan Setiap Minggu Selama 6 MingguPada Mahasisw

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Hasil Penelitian 1 Analisis Normalitas Data

1. Perubahan Profil Darah Mahasiswi Yang Diberi Suplementasi Zat Besi (1 Tablet)Setiap Hari dan Setiap Minggu Selama 6 MingguPada Mahasisw

Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Berdasar Tabel 11 didapatkan bahwa tempat tinggal responden 72% tinggal dengan orang tua. Pada penelitian ini tempat tinggal responden dipertimbangkan, apakah tinggal dengan orang tua atau tidak dengan orang tua (indekost). Tinggal bersama orang tua akan lebih menjamin ketersediaan makanan dibandingkan dengan jika tidak tinggal dengan orang tua (indekost) sehingga diharapkan ketersediaan makanan yang mencukupi mampu memperbaiki status aneminya.

Berdasarkan Tabel 11 didapatkan bahwa ada 45 % pendidikan orang tua responden adalah pada tingkat SMA. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa

kesehatan, yang mungkin berarti mengakibatkan keadaan kesehatan yang lebih baik. Semakin tinggi pendidikannya diharapkan semakin tinggi pengetahuannya terutama tentang pentingnya pemenuhan gizi dalam keluarga.Tingkat pekerjaan orang tua responden akan mempengaruhi tingkat penghasilan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kenaikan penghasilan selain akan mendorong perubahan pola konsumsi makanan dan pola kebiasaan makan juga mendorong masyarakat memilih makanan yang kualitasnya lebih tinggi (Soekirman, 2004). Kualitas konsumsi makanan mempengaruhi status gizi para remaja.

Pada penelitian ini kebiasaan makan pagi dan siang dipertimbangkan. Berdasarkan Tabel 12 didapatkan sebagian besar responden mempunyai kebiasaan tidak sarapan pagi dan mempunyai pola makan yang tidak teratur. Menurut berbagai kajian, frekuensi makan yang baik adalah tiga kali sehari. Sarapan pagi akan memenuhi kebutuhan tubuh selama 4 – 6 jam sebelum makan siang dan akan menyumbang asupan gizi sebesar 25%. Apabila kecukupan energi untuk orang dewasa adalah sekitar 2000 kalori dan kebutuhan protein adalah sebesar 50 gram sehari, maka sarapan pagi akan menyumbangkan asupan sebanyak 500 kalori dan 12,5 gram protein. Sisa kebutuhan energi dan protein lainnya dipenuhi dari makan siang, makan malam, dan makanan selingan diantara dua waktu makan. Selain itu faktor kebiasaan pola makan ini diperhitungkan karena tingkat keasaman lambung dapat meningkatkan daya larut zat besi. Asam lambung dan rata – rata pengosongan lambung akan mempengaruhi kelarutan zat besi (Fairweather, 2004)

teh, obat sakit maag. Penyerapan zat besi dapat ditingkatkan oleh adanya vitamin C dan HCL, sebaliknya penyerapan zat besi menurun apabila terdapat antasida (pada produk obat sakit Maag) atau jika mengandung tannin yang merupakan polifenol yang terdapat pada teh dan kopi (Hallberg dan Hulten, 2000).

Berdasarkan Tabel 14 didapatkan efek samping dari suplementasi lebih banyak ditemukan pada kelompok suplementasi A yang mendapat suplementasi zat besi 1 tablet setiap hari. Keadaan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Suprapto , mengemukakan bahwa makin sering tablet zat besi diberikan maka efek samping yang timbul lebih sering terjadi (Suprapto,1999). Menurut Muslimatun, 2001 salah satu penyebab rendahnya penerimaan terhadap suatu program suplementasi adalah kurangnya motivasi dari pasien dan petugas kesehatan, tidak adekuatnya pemberian suplementasi tablet besi, serta kurangnya jalur terhadap pelayanan kesehatan.

Berdasar Tabel 17 ,hasil analisis perubahan nilai profil darah pada responden yang diberi suplementasi zat besi selama 6 minggu menunjukkan nilai p <0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti ada perubahan signifikan antara profil darah sesudah pemberian suplementasi zat besi pada kelompok A maupun kelompok B .

Rata –rata peningkatan nilai profil darah pada kelompok suplementasi besi 1 tablet setiap minggu lebih tinggi dibandingkan pada kelompok suplementasi 1 tablet setiap hari. Pada kelompok yang diberi suplementasi 1 tablet setiap hari dapat meningkatkan nilai Hb 11,39 g/dLmenjadi 12,85 g/dLsedangkan pada kelompok suplementasi 1 tablet setiap minggu dapat meningkatkan rata – rata nilai Hb

Pemberian suplementasi zat besi setiap hari dan setiap minggu menyebabkan peningkatan kadar profil darah yang bermakna secara statistik diatas nilai rujukan yang ditetapkan oleh WHO (1996) sebagai batasan anemia. Menurut Breyman (2005) defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia pada remaja sehingga suplementasi besi menjadi terapi utama baik secara oral, parenteral dan tranfusi. Terapi besi secara oral telah terbukti efektif dalam memperbaiki defisiensi besi pada kebanyakan kasus anemia, kemudian ada bukti yang mendukung adanya koreksi terhadap parameter hematologi dan status besi dengan suplementasi besi secara oral.

Berdasarkan penilitian yang dilakukan oleh Siddiqui (2004) yang membandingkan pemberian suplementasi besi setiap hari dan setiap minggu sekali dengan pemberian suplementasi zat besi dengan cara diminum (per oral) pada anak sekolah. Kadar Hb, Hematokrit, TIBC dan Feritin sebelumnya diukur. Ferro sulfat 200 mg di berikan setiap hari pada 1 kelompok dan seminggu sekali pada kelompok yang lain selama 2 bulan. Hasil dari penelitiannya adalah pemberian suplementasi besi setiap seminggu sekali lebih efektif dibandingkan pemberian suplementasi besi setiap hari untuk pengobatan anemia defisiensi besi. Lebih lanjut dikemukakan pemberian suplementasi zat besi seminggu sekali lebih efektif dan sedikit atau bahkan tidak mempunyai efek samping.

Penentuan frekuensi suplementasi zat besi pada penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Schultink dan Gross, 1996 yang mengemukakan bahwa terdapat perkembangan baru dalam penentuan frekuensi suplementasi zat besi. Percobaan yang dilakukan pada tikus untuk membandingkan pengaruh suplementasi

pada mukosa usus manusia uptake zat besi akan ditekan. Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa suplementasi yang berselang dengan dosis yang lebih rendah sama efektifnya dengan suplementasi zat besi setiap hari dalam memperbaiki status zat besi. Telah didiskusikan bahwa apabila pemberian zat besi sesuai dengan masa pembaharuan mukosa usus, maka penyerapan dan timbunan zat besi akan lebih efisien. Berdasarkan hasil diskusi tersebut dilakukan beberapa penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian suplementasi zat besi setiap hari dan seminggu sekali pada populasi di negara – negara berkembang. Sejauh ini hasil yang telah dipublikasikan adalah penelitian pada anak usia prasekolah di Indonesia dan Cina serta pada wanita hamil dan tidak hamil di Indonesia. Seluruh penelitian yang telah dilakukan pada subjek dari Cina dan Indonesia menunjukkan bahwa suplementasi seminggu sekali sama efektifnya dengan suplementasi zat besi setiap hari dalam memperbaiki status zat besi. Lebih lanjut dikemukakan, asupan zat besi setiap hari yang lebih tinggi dapat berpengaruh negatif terhadap mikronutrien lain seperti misalnya zink sehingga dengan suplementasi zat besi seminggu sekali interaksi negatif yang demikian tidak akan terjadi.

Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Suprapto dkk (2001), untuk mengetahui apakah pemberian suplementasi zat besi seminggu dua kali dapat mengatasi anemia pada wanita usia sekolah yang dilakukan di Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah. Sebanyak 123 anak usia 8 – 10 tahun dibagi dalam 3 kelompok suplementasi. Kelompok 1 mendapat deworming agent (125 mg pyrantelpamoat), kelompok 2 mendapat deworming agent + tablet besi (200mg Fe

kelompok 3 mendapat deworming agent + tablet besi setiap hari, selama 8 minggu. Kesimpulannya adalah pemberian suplementasi zat besi setiap hari dan seminggu dua kali selama 6 minggu dapat meningkatkan kadar hemoglobin pada wanita usia sekolah dan secara statistik signifikan.

Berdasarkan Tabel 18 menunjukkan hasil bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna pada peningkatan kadar profil darah antara kedua kelompok (p > 0,05) hal ini berkaitan dengan absorbsi besi, menurut Agustriadi & Suega (2006) mengatakan bahwa dalam keadaan normal sangat sedikit besi dari makanan yang diserap, jumlah yang dikeluarkan melalui urine adalah minimal dan sebagian besar dari zat besi dalam tubuh secara terus menerus didistribusikan ke seluruh tubuh dalam beberapa lingkaran metabolisme. Karena tidak ada jalan untuk mengekskresikan besi secara berlebihan, absorbsi di usus harus diatur, bila tidak akan ditimbun di dalam jaringan dalam jumlah yang toksik.

Proses absorbsi besi ada 3 fase, salah satunya adalah fase mukosal yaitu suatu proses aktif yang sangat komplek dan terkendali dimana sel absorbtif pada puncak vili - vili usus ferri dikonversi menjadi ferro oleh enzim ferrireduktase yang dimediasi oleh duodenal cytochrom b- like (DCYTB). Transpor melalui membran di fasilitasi oleh protein Divalent Metal Transpoerter 1 (DMT 1). Setelah besi masuk ke sitoplasma, sebagian disimpan dalam bentuk feritin,sebagian dikeluarkan ke usus melalui basolateral transporter (Feroportin/FPN). Pada proses ini terjadi oksidasi dari ferro menjadi ferri oleh enzim ferooksidasi lalu ferri diikat oleh apotransferin dalam usus. Terdapat fenomena mukosal blok dimana setelah beberapa hari dilakukan

Hambatan ini mungkin timbul karena akumulasi besi dalam enterosit sehingga menyebabkan set point diatur seolah – olah kebutuhan besi sudah berlebihan (Agustriadi, 2006)

Beberapa hal yang meregulasi absorbsi besi dalam usus yaitu Dietary Regulator (Jenis diet dengan bioavaibilitas besi yang tinggi dan adanya faktor enhancer akan meningkatkan absorbsi besi), Stores Regulator (Besarnya cadangan besi dapat mengatur tinggi rendahnya absorbsi besi), Erythropoetic Regulator (Besarnya absorbsi besi berhubungan dengan kecepatan erythropoesis) dan Hepsidin yang diperkirakan berperan sebagai soluble regulator absorbsi besi di usus (Younget al, 2009)

Hepsidin adalah sebuah hormon peptida yang dihasilkan di dalam hati dan mengatur penyerapan zat besi dalam tubuh. Hepsidin mencegah tubuh menyerap lebih banyak besi dari yang diperlukan baik yang berasal dari makanan atau suplemen dan menahan pengambilan zat besi dari sel. Keseimbangan zat besi dalam tubuh diatur oleh hepsidin dan reseptor ferroportin yang mengangkut zat besi. Ketika konsentrasi hepsidin rendah, zat besi seluler di lepaskan ke dalam plasma menembus membran dan bergabung dengan ferroportin (FPN). Ketika konsentrasi hepsidin tinggi,hepsidin berikatan dengan ferroportin kemudian ferroportin masuk dan didegradasi oleh hepsidin. Sebagai konsekuensi dari hilangnya ferroportin, ekspor zat besi seluler berkurang dan besi terakumulasi dalam feritin sitoplasma (Ganz et al,2007)

Hepsidin ini diyakini sebagai regulator kunci dari homeostasis besi dengan cara meregulasi absorbsi besi di usus, mendaur ulang besi dari makrofag dan mengontrol persediaan besi di dalam hati (Nemeth dan Ganz,2006).

Penelitian yang dilakukanoleh Haidar (2003) memperlihatkan efektifitas dan kemungkinan – kemungkinan aspek sosial dalam pemberian suplementasi besi setiap hari atau setiap minggu guna mencegah dan mengobati anemia pada remaja putri. Hasil penelitian ini adalah pemberian suplementasi besi setiap minggu lebih mudah dibandingkan dengan pemberian suplementasi besi setiap hari dan secara ekonomis lebih menguntungkan. Dengan demikian cara tersebut direkomendasikan untuk digunakan dalam mengatasi anemia. Lebih lanjut dikemukakan suplementasi besi setiap minggu mempunyai efek samping yang lebih rendah.

Berdasarkan Tabel 20 didapatkan hasil bahwa tidak ada perbedaan asupan gizi antar kelompok suplementasi (p>0,05). Angka kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKG) atau Recommmended Dietary Allowwances (RDA) adalah tingkat konsumsi zat – zat gizi esensial yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi hampir semua orang sehat disuatu negara (Almatsier, 2004). AKG untuk Indonesia didasarkan atas patokan berat badan untuk masing – masing kelompok menurut umur, jenis kelamin, dan aktivitas fisik yang ditetapkan secara berkala melalui survei penduduk.AKG digunakan sebagai standar untuk mencapai status gizi optimal bagi penduduk dalam hal penyediaan pangan secara nasional dan regional serta penilaian kecukupan gizi penduduk golongan masyarakat tertentu yang diperoleh dari konsumsi makanannya. Pada penelitian ini dari analisa food recall hari biasa dan hari libur

Vitamin B1, vitamin B2, vitamin B6, asam folat, Vitamin C, zat besi dan seng pada seluruh subjek berada dibawah nilai angka kecukupan gizi yang dianjurkan.

Berbagai hasil survei gizi mengungkapkan bahwa asupan energi selalu dibawah angka kecukupan gizi yang dianjurkan , meskipun untuk kelompok yang status gizinya baik. Asupan energi yang mencukupi akan berpengaruh terhadap metabolisme tubuh dan akan memberi peluang terhadap asupan protein untuk berfungsi secara optimal sebagai katalisator, molekul karir, reseptor signal biologic dan sebagai komponen struktural (Almatsier,2004)

Asupan protein sangat penting dan perlu diperhitungkan karena walaupun fungsi utama protein untuk pertumbuhan, tetapi bila mana tubuh kekurangan energi maka fungsi protein untuk menghasilkan energi atau untuk membentuk glukosa dan energi. Glukosa dibutuhkan untuk sumber energi sel – sel otak dan sistem saraf. Pemecahan protein tubuh guna memenuhi kebutuhan energi dan glukosa akhirnya akan menyebabkan melemahnya otot – otot,oleh karena itu dibutuhkan konsumsi karbohidrat dan lemak yang cukup setiap hari sehingga protein dapat digunakan sesuai dengan fungsinya yang utama yaitu untuk pembentukan sel – sel tubuh.

2. Perubahan Skor Tes Potensi AkademikPada Mahasiswi Yang Diberi