BAB IV ANALISIS HASIL TEMUAN LAPANGAN
B. Perubahan Sosial dan Ekonomi Kelompok Tani Bina Avera
1. Perubahan Sosial Kelompok Tani Bina Avera
Perubahan sosial dapat dibayangkan sebagai perubahan yang terjadi di dalam atau mencakup sistem sosial. Lebih tepatnya, terdapat perbedaan antara keadaan sistem tertentu dalam jangka waktu yang berlainan. Untuk itu, konsep dasar mengenai perubahan sosial menyangkut 3 hal, yaitu:
Studi mengenai perbedaan, maksudnya bahwa untuk dapat melakukan studi perubahan sosial, kita harus melihat adanya perbedaan ataupun perubahan kondisi objek yang menjadi fokus studi.
Studi harus dilakukan pada waktu yang berbeda, maksudnya studi perubahan harus di lihat dalam konteks yang berbeda, dengan kata lain kita harus melibatkan studi komparatif dalam dimensi waktu yang berbeda.
Pengamatan pada sistem sosial yang sama, maksudnya objek yang menjadi fokus studi komparasi tersebut haruslah objek yang sama.27
Sekitar tahun 1971, lebih sedikit orang laki-laki yang bersikap negatif terhadap wanita yang bekerja di berbagai jenis pekerjaan. Apakah
itu suatu perubahan? Beberapa orang mengatakan “Yaa” ; sementara itu
menganut paham feminisme mungkin akan mengatakan sebenarnya tidak ada perubahan karena sikap laki-laki tidak mencerminkan kesempatan kerja yang diperoleh wanita di pasar tenaga kerja. Lalu apa yang kita artikan dengan perubahan sosial itu? Kebanyakan definisi membicarakan perubahan dalam arti yang sangat luas. Wilbert Moore misalnya,
27
Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2012), h. 2-3
mendefinisikan perubahan sosial sebagai “perubahan penting dari struktur
sosial”, dan yang di maksud dengan struktur sosial adalah “pola-pola
perilaku dan interaksi sosial”. Moore memasukan ke dalam definisi
perubahan sosial sebagai ekspresi mengenai Struktur seperti Norma, nilai dan fenomena Kultural.28
a. Pengertian Perubahan Sosial
Adapun definisi-definisi perubahan sosial yang di kemukakan oleh beberapa tokoh:
Tabel 2
Definisi Perubahan Sosial Menurut Para Ahli
No. Tokoh Definisi
1. Munandar Perubahan sosial sebagai perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi dari bentuk-bentuk masyarakat.
2. Selo Sumardjan dan Soelaiman Sumardji
Perubahan sosial meliputi segala perubahan- perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku diantara kelompok-kelompok didalam masyarakat.
3. Kingsley Perubahan sosial ialah perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat
4. Mac Iver Perubahan sosial ialah perubahan yang terjadi dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan
5. Gillin Perubahan sosial ialah suatu variasi cara-cara hidup yang telah di terima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan materil, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun
28
Robert H. Lauer, Perspektif tentang Perubahan Sosial (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003), h. 4
penemuan-penemuan dalam masyarakat
6. Koenig Perubahan sosial ialah modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia 7. Hawley Perubahan sosial merupakan setiap perubahan
yang tidak terulang dari sistem sosial sebagai satu kesatuan
8. Macionis Perubahan sosial ialah transformasi dalam organisasi masyarakat dalam pola berpikir dan dalam perilaku pada waktu tertentu
9. Ritzer Perubahan sosial mengacu pada variasi hubungan antar individu, kelompok, organisaisi, kultur dan masyarakat pada waktu tertentu 10. Lauer Perubahan sosial di maknai sebagai perubahan
fenomena sosial di berbagai tingkat kehidupan manusia, mulai dari tingkat individu-individu sampai dengan tingkat dunia.29
b. Faktor Pendorong dan penghambat Perubahan Sosial
1) Faktor yang mempercepat proses perubahan sosial
Kontak dengan budaya lain. Bertemunya budaya yang berbeda menyebabkan manusia saling berinteraksi dan mampu menghimpun berbagai penemuan yang telah di hasilkan, baik dari budaya asli maupun budaya asing dan bahkan hasil perpaduannya. Hal ini dapat mendorong terjadinya perubahan dan tentu saja akan memperkaya kebudayaan yang ada.
Sistem pendidikan formal yang maju. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat mengukur tingkat kemajuan suatu masyarakat. Pendidikan telah membuka pikiran dan membiasakan berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif. Hal ini
29
Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2012), h. 4-5
akan memberikan kemampuan manusia untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya mampu memenuhi tuntutan perkembangan zaman, dan memerlukan suatu perubahan atau tidak.
Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju. Sebuah hasil karya dapat memotivasi seseorang untuk mengikuti jejak karya orang lain. Orang yang berpikiran dan berkeingin maju senantiasa termotivasi untuk mengembangkan diri.30
Adanya toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang. Penyimpangan sosial sejauh tidak melanggar hukum atau merupakan tindak pidana, dapat merupakan cikal bakal terjadinya perubahan sosial budaya. Untuk itu, toleransi dapat diberikan agar semakin tercipta hal-hal baru yang kreatif. Sistem stratifikasi masyarakat yang terbuka. Sistem stratifikasi
yang terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal dan horizontal yang lebih luas kepada anggota masyarakat. Masyarakat tidak lagi mempersalahkan status sosial dalam menjalin hubungan dengan sesamanya. Hal ini membuka kesempatan kepada para individu untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya.
Pembangunan dan pengembangan jaringan, pengorganisasian kelompok-kelompok swadaya masyarakat perlu disertai dengan
30
Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2012), h. 18-21.
peningkatan kemampuan para anggotanya untuk membangun dan mempertahankan jaringan dengan berbagai sistem sosial disekitarnya.
Penduduk yang Heterogen. Masyarakat yang heterogen dengan latar belakang budaya, ras, dan ideologi yang berbeda akan mudah terjadi pertentangan yang dapat menimbulkan kegoncangan sosial. Keadaan demikian merupakan pendorong terjadinya perubahan-perubahan baru dalam masyarakat untuk mencapai keselarasan sosial.
Ketidakpuasan masyarakat pada bidang-bidang tertentu. Rasa tidak puas dapat menjadi sebab terjadinya perubahan. Ketidakpuasan menimbulkan reaksi berupa perlawanan, pertentangan dan berbagai gerakan revolusi untuk mengubahnya.
Adanya orientasi masa depan. Kondisi yang senantiasa merangsangorang untuk mengikuti dan menyesuaikan dengan perubahan.
Adanya nilai bahwa manusia harus selalu berusaha untuk memperbaiki kehidupannya.31
2) Faktor yang menghambat proses perubahan sosial
Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain. Apabila sebuah masyarakat tidak melakukan kontak sosial dengan masyarakat
31
Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial , (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2012), h. 18-21.
lain, maka tidak akan terjadi tukar informasi, atau tidak akan terjadi proses asimilasi, akulturasi yang mampu mengubah kondisi masyarakat tersebut.
Perkembangan ilmu pengetahuan yang lambat. Ilmu pengetahuan adalah kunci perubahan yang akan membawa masyarakat menuju pada peradaban yang lebih baik.
Sikap masyarakat yang sangat tradisional. Sikap tradisional akan mengagung-agungkan kepercayaan yang telah di ajarkan nenek moyangnya yang dianggap sebagai sebuah kebenaran mutlak yang tidak dapat di ubah. Pandangan ini lah yang dapat menghambat, karena apabila mereka mencoba untuk mengubah nilai-nilai yang sudah diajarkan secara turun temurun tersebut, dapat di percaya akan menimbulkan malapetaka.
Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat atau versted interest. Dalam setiap kehidupan bermasyarakat, akan ada sekelompok individu yang ingin mempertahankan atau hanya sekedar mewujudkan ambisinya dalam meraih tujuan pribadi atau golongannya.
Rasa takut akan terjadi kegoyahan pada integrasi kebudayaan. Untuk itu, suatu kelompok masyarakat seringkali membatasi diri untuk menerima unsur-unsur budaya dari luar.
Prasangka terhadap hal-hal baru atau sikap yang tertutup. Sikap demikian akan dijumpai pada masyarakat yang pernah dijajah masyarakat lain. Hal ini kemudian memunculkan prasangka
ketika masyarakat tersebut berinteraksi dengan masyarakat yang dudlu pernah menjajah mereka, karena dikhawatirkan masyarakat tersebut memiliki rencana kembali untuk menjajah mereka.
Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis. Setiap upaya untuk mengubah masyarakat , adakalanya harus bertentangan dengan ideologi yang telah di anut oleh kelompok masyarakat selama ini. Apabila nilai-nilai yang akan di ubah tersebut bertentangan dengan ideologi yang dianut selama ini maka dipastikan perubahan tersebut tidak akan berjalan.
Adat atau kebiasaan. Faktor ini merupakan pola-pola perilaku bagi anggota masyarakat didalam memenuhi segala kebutuhan pokoknya. Apabila kemudian ternyata pola-pola tersebut tidak efektif lagi dalam memenuhi kebutuhan, maka akan terjadi krisis. Misalnya dalam proses adopsi inovasi ini mampu meningkatkan efisiensi produksi, namun disisi lain, adopsi ini justru dapat memunculkan masalah baru, yaitu bertambahnya pengangguran.
Adanya nilai bahwa hidup ini pada hakekatnya buruk dan tidak mungkin di perbaiki. Sikap pasrah ini menyebabkan masyarakat enggan untuk melakukan perubahan.32
32
Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial, (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2012), h. 18-21.