BAB VI PERUBAHAN STRUKTUR AGRARIA DAN PENGELOLAAN
6.2 Perubahan Struktur Agraria dan Pengelolaan DAS
Pusat Studi Pembangunan IPB (2005) menyatakan bahwa perubahan
penggunaan lahan yang terjadi di DAS mengindikasikan bahwa telah terjadi
proses penurunan kuantitas dan kualitas sumberdaya DAS. Seiring dengan
meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk, maka berbagai tatanan kehidupan
pun ikut berubah mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat. Dampak dari
perubahan tersebut ialah pola pemanfaatan sumber daya alam oleh masyarakat
terjadi, perubahan yang paling besar pengaruhnya terhadap kelestarian
sumberdaya air adalah perubahan dari kawasan hutan ke penggunaan lainnya
seperti pertanian, perumahan ataupun industri.
Keinginan untuk memanfaatkan sumberdaya alam semaksimal mungkin
untuk tujuan pertanian, umumnya membuat masyarakat kurang mengindahkan
dampak lingkungan yang akan muncul pada DAS. Masyarakat yang cenderung
mencari lahan-lahan yang relatif lebih subur, sehingga banyak masyarakat sekitar
DAS yang menggarap lahan di kawasan hutan atau pada lahan dengan elevasi
yang lebih tinggi.
Perkembangan penduduk dan meningkatnya kebutuhan tempat tinggal
juga akan mendesak pola pemanfaatan lahan yang semakin luas sehingga
menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan. Hal ini karena pertambahan penduduk
yang begitu pesat tidak diikuti oleh luas DAS yang relatif tetap, dimana
pertambahan jumlah penduduk nantinya juga akan diikuti dengan peningkatan
daerah terbangun.
Bagian hulu DAS yang merupakan kawasan penyangga bagi daerah hilir
dan tengah harus tetap terjaga kemampuan konservasinya. Kenyataan tersebut
memiliki arti bahwa upaya konservasi tanah dan konservasi air pada DAS hulu
menjadi keharusan demi kelangsungan hidup penduduk di sekitar DAS yang pada
umumnya merupakan masyarakat tani yang sangat tergantung dengan lahan
pertanian, baik berupa kebun campuran maupun sawah.
Wilayah Desa Tanjungsari berada di wilayah hulu Sungai Citanduy. Desa
Tanjungsari ini letaknya sangat strategis karena diapit oleh dua sungai, yaitu
dua sungai, tidak berarti membuat Desa Tanjungsari memiliki pasokan air yang
cukup di musim kemarau. Hal ini karena masyarakat tidak mengkonsumsi kedua
air sungai tersebut untuk kebutuhan rumahtangganya. Menurut keterangan
beberapa warga, air Sungai Citanduy maupun Sungai Cikidang sudah tidak layak
untuk dikonsumsi, airnya sudah tidak jernih lagi dan banyak endapan lumpur.
Berikut kutipan keterangan warga mengenai hal tersebut:
“…dahulu air di desa ini jernih neng, kira-kira tahun 80-an. Ibu dulu sering mandi di sungai dan ikannya juga masih banyak. Sekarang airnya sudah tidak jernih, keruh dan banyak lumpur…”(IH, 65 tahun)
Selain disaat musim kemarau mengalami kekurangan air, desa juga
mengalami kebanjiran di musim hujan. Menurut penduduk desa, bencana banjir
yang melanda desa ini sudah terbiasa terjadi dalam lima tahun belakangan ini.
Desa Tanjungsari sendiri biasanya mengalami dua sampai tiga kali banjir tiap
tahunnya.
”....desa ini tiap tahunnya selalu kebanjiran, bisa sampai tiga kali neng. Awal tahun 2009 kemarin saja sudah kebanjiran, padahal akhir 2008 baru saja kebanjiran. Sudah terbiasalah kalau desa kebanjiran...”(SR, 60 tahun )
Banjir akan melanda Desa Tanjungsari apabila hujan yang turun deras.
Selain itu, letak desa ini yang berada di dataran rendah dan diapit oleh dua sungai
(Sungai Citanduy dan Cikidang) juga memberikan peluang yang besar untuk
“….banjir yang terjadi di desa ini akibat hujan deras semaleman. Selain itu, lokasi perkampungan Tanjungsari berada di dataran rendah yang diapit dua sungai, yaitu Sungai Citanduy di utara dan Sungai Cikidang di selatan. Biasanya, kalau Citanduy meluap, Cikidang juga ikut maluap. Begitu juga sebaliknya…”
Sebelum mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan
DAS, sebaiknya dilihat dahulu permasalahan-permasalahan yanga ada di DAS
menyangkut pola penggunaan lahan, diantaranya:
6.2.1 Minimnya Kawasan Hutan di DAS
Kawasan hutan yang semakin berkurang dapat berpengaruh pada
keseimbangan kondisi tata air di DAS, sehingga mengakibatkan penurunan
kualitas DAS itu sendiri. Hutan yang terdapat di wilayah DAS Citanduy terdiri
atas hutan rakyat dan hutan Negara (Tabel 21).
Tabel 21. Data Luas Hutan Wilayah DAS Citanduy Tahun 2007 No Kabupaten/ Kota Hutan Rakyat
(Ha)
Hutan Negara (Ha) 1 Kab. Ciamis + Kota Banjar 36 880 26 199
2 Kab. Tasikmalaya + Kota Tasikmalaya 37 341 32 496 3 Kab. Kuningan 6 862 25 718 4 Kab. Majalengka 3 884 20 140 5 Kab. Cilacap + Kab. Banyumas 18 000 24 000 Total 102 967 128. 53
Sumber: Profil DAS Cimanuk-Citanduy Tahun 2007, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tasikmalaya
Sesuai dengan UU No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, yaitu suatu
kawasan/wilayah minimal harus memiliki kawasan hutan sabagai daerah
penyangga sebesar 30 persen dari luas total wilayah. Jika dilihat dari
Kabupaten/Kota Tasikmalaya, Ciamis, Banjar dan Cilacap, masih kurang dari
jumlah minimum yang diperlukan sebagai suatu kawasan penyangga, yaitu 30
persen dari luas wilayah .
Luas kawasan hutan yang ada di Kabupaten Tasik dan Kota Banjar hanya
24,70 persen dari luas wilayah, kemudian luas kawasan hutan Kabupaten
Tasikmalaya dan kota Tasikmalaya hanya 26,05 persen dari luas kawasan. Luas
hutan yang dimiliki Kota Kuningan hampir mendekati 30 persen, yakni 29,12
persen dari luas wilayah. Kota Majalengka memiliki kawasan hutan seluas 19,95
persen dari luas wilayahnya, sedangkan Kabupaten Cilacap dan Kabupaten
Banyumas memiliki kawasan hutan sebesar 19,60 persen dari luas wilayah. Hasil
perhitungan ini menunjukkan bahwa luas kawasan di DAS Citanduy belum
mampu menjadi wilayah penyangga dalam menjaga keseimbangan sistem
ekologis (Tabel 22).
Tabel 22. Perbandingan Luas Hutan di DAS Citanduy dan Luas Hutan yang Dibutuhkan Menurut UU No 41 Kehutanan Tahun 1999.
No Kabupaten/ Kota Luas Wilayah (Ha) Hutan Rakyat + Hutan Negara (Ha) Persen terhadap Luas Total 1 Kab. Ciamis + Kota Banjar 255 371 63 079 24,70
2 Kab. Tasikmalaya + Kota
Tasikmalaya 268 048 69 837 26,05 3 Kab. Kuningan 111 700 32 580 29,12 4 Kab. Majalengka 120 424 24 024 19,95
5 Kab. Cilacap +
Kab. Banyumas 214 257 42 000 19,60 Sumber: Profil DAS Cimanuk-Citanduy Tahun 2007, Dinas Kehutanan dan Perkebunan
Kabupaten Tasikmalaya
Desa Tanjungsari tidak memiliki kawasan hutan. Menurut keterangan UK
(80 tahun), seperti yang telah dijelaskan pada Bab IV, areal hutan sudah berubah
dimanfaatkan masyarakat desa sekarang ini berupa lahan pertanian dan
pemukiman. Berikut tabel mengenai jenis lahan yang ada di Desa Tanjungsari:
Tabel 23. Jenis Lahan di Desa Tanjungsari Tahun 2008
No. Jenis Lahan Luas Lahan (ha) Persentase (%) 1 Lahan sawah 152,265 37,34 2 Tanah kering a. Pekarangan - 00,00 b. Perladangan/perkebunan 214,295 52,56 c. Permukiman 38,1 9,34 3 Lain-lain 3,077 0,76 Total 407,737 100,00 Sumber: Data Monografi Desa Tahun 2008
6.2.2 Lahan Kritis
Semakin berkurangnya kawasan hutan dapat menambah jumlah kategori
luas lahan kritis di DAS. Terjadinya lahan-lahan kritis di DAS tidak saja
menyebabkan penurunan produktivitas tanah, tetapi juga mengakibatkan hasil
tanaman terus menurun sehingga tidak mampu lagi mendukung kehidupan
ekonomi keluarga petani. Di wilayah DAS Citanduy sendiri masih banyak
terdapat lahan kritis, bahkan jumlahnya terus bertambah seiring semakin
berkurangnya luas hutan yang ada di DAS. (Lihat Tabel 26)
Tabel 24. Kondisi Lahan Kritis di DAS Citanduy Tahun 2009
DAS Tidak Kritis Kritis Ringan Kritis Luas (ha) Luas (ha) Luas (ha) Citanduy Hulu 57 994,83 8 851,50 3 914,10 Cijolang 45 197,46 4 025,07 3 876,12 Cimuntur 51 804,00 6 183,09 1 988,10 Cikawung 53 337,51 6 033,42 8 018,82 Ciseel 78 009,03 7 584,84 10 989,00 Segara Anakan 76 536,18 10 079,91 17 851,68 Sumber: Balai Besar Pengelolaan Citanduy Tahun 2009.
Ciri utama lahan kritis adalah gundul, berkesan gersang, dan bahkan
muncul batu-batuan di permukaan tanah, topografi lahan pada umumnya berbukit
atau berlereng curam (Hakim et al., 1991). Meluasnya lahan kritis dapat
disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya: (1) Tekanan penduduk, (2)Perluasan
areal pertanian yang tidak sesuai, (3) Perladangan berpindah, (4) Pengelolaan
hutan yang tidak baik, dan (5)Pembakaran yang tidak terkendali.
Data dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan mennyebutkan bahwa pada
tahun 2008 terdapat lahan kritis di Desa Tanjungsari seluas 10 hektar. Tiga desa
lainnya yang masih dalam kawasan Kecamatan Sukaresik juga memiliki lahan
kritis seluas 10 hektar tiap desanya (Tabel 27).
Tabel 25. Lahan Kritis di Kecamatan Sukaresik Tahun 2008
No Desa Blok Luas (Ha)
1 Banjarsari Pasir Tengah 10 2 Tanjungsari Pasir Timbang 10 3 Sukapancar Kebon Cau 10 4 Margamulya Kabuyutan 10 Sumber: Dinas Kehutanan dan Perekebunan Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2008
6.2.3 Pencemaran Sumbedaya Air DAS Citanduy
Air merupakan sumberdaya alam yang sangat dibutuhkan makhluk hidup.
Pemanfaatan air haruslah secara bijaksana agar ketersediaan air dapat mencukupi
kebutuhan kehidupan generasi sekarang maupun yang akan datang. Aktivitas
kehidupan masyarakat di sekitar DAS yang sangat tinggi, telah menimbulkan efek
terhadap kondisi air DAS itu sendiri. Aktivitas-aktivitas tersebut dapat berupa
kegiatan pertanian, penebangan hutan, limbah rumahtangga maupun industri dan
yang lainnya, mengakibatkan terganggunya kualitas bahkan kuantitas air.
air yang berkualitas sudah tidak dapat lagi memenuhi kehidupan masyarakat DAS.
Beberapa bentuk pencemaran air DAS yang banyak terjadi diantaranya:
1. Pencemaran oleh kegiatan pertanian
Kegiatan pertanian baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
mempengaruhi kualitas air, seperti penggunaan pupuk buatan yang
mengandung nitrogen dan fosfat yang tinggi.
2. Limbah rumahtangga
Masyarakat yang bermukim di DAS akan menghasilkan limbah rumahtangga
(organik maupun anorganik) yang dapat mempengaruhi kualitas air pada
perairan sungai.
Masyarakat Desa Tanjungsari pada umumnya adalah petani dan buruh
tahi. Luas sawah yang ada di desa ini menembati urutan pertama dibanding
desa-desa lainnya dalam kawasan Kecamatan Sukaresik (Tabel 28).
Tabel 26. Luas Tanah Sawah Menurut Desa Tahun 2007
No Desa Luas Tanah Sawah (Ha)
1. Margamulya 117,20 2. Cipondok 115,70 3. Sukamenak 92,80 4. Sukaresik 85,90 5. Sukaratu 67,30 6. Banjarsari 1250 7. Sukapancar 112,7 8. Tanjungsari 152,27 Sumber: BPS 2007
Penduduk Desa Tanjungsari masih menggunakan pupuk buatan dalam
mengolah lahan pertaniannya. Limbah pertanian dari lahan sawah tersebut
Tanjungsari lebih memilih memanfaatkan Sungai Cikidang untuk irigasi
dibanding Sungai Citanduy. Hal ini karena letak Sungai Citanduy yang lebih
rendah dibandingkan Sungai Cikidang, sehingga lebih sulit mengalirkan air ke
sawah-sawah yang dimiliki warga. Penduduk kemudian menjadikan Sungai
Citanduy hanya untuk tempat pembuangan limbah pertanian.
Limbah rumahtangga juga dihasilkan penduduk Desa Tanjungsari. Limbah
rumahtangga yang dihasilkan dapat berupa organik maupun anorganik. Pada
umumnya warga yang membangun rumah tepat berada di pinggiran Sungai
Citanduy masih membuang limbah rumahtangga mereka ke sungai tersebut. Hal
ini karena menurut mereka lebih praktis jika dibandingkan dengan membakarnya
untuk anorganik, sedangkan untuk limbah organik pada umumnya pembuangan
disalurkan ke sungai oleh warga yang bermukim tepat di pingggir sungai.