BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.6. Perubahan Struktur Ekonomi dalam Proses Pembangunan
Mengambil arti pembangunan menurut Meir dalam Kuncoro (2006) bahwa pembangunan adalah suatu proses dimana pendapatan perkapita suatu negara meningkat selama kurun waktu yang panjang, dengan catatan bahwa jumlah
penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan absolut tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak semakin timpang.”
Proses pembangunan menghendaki adanya pertumbuhan ekonomi yang diikuti dengan perubahan dalam hal:
1. Perubahan struktur ekonomi dari pertanian ke industri atau jasa
2. Perubahan dalam kelembagaan baik melalui regulasi maupun reformasi kelembagaan itu sendiri.
Adanya perubahan struktural dapat tercermin dalam peranan sektor-sektor dalam pembentukan produksi nasional maupun besarnya persentase tenaga kerja pada masing-masing sektor ekonomi tersebut. Dimana peranan ataupun
sumbangan sektor primer (pertanian dan pertambangan) dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) ataupun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) akan semakin berkurang, sedangkan peranan sektor sekunder (industri
manufaktur, konstruksi) serta sektor tersier (jasa-jasa) akan semakin meningkat, dengan semakin majunya perekonomian negara. Disamping itu, semakin tinggi pendapatan perkapita suatu negara, akan semakin kecil peranan pertanian dalam menyediakan dan menyerap kesempatan kerja, dan sebaliknya sektor industri akan semakin penting dan meningkat peranannya dalam menampung tenaga kerja. (Kamaludin: 1999).
Pembangunan ekonomi dalam periode jangka panjang, mengikuti pertumbuhan pendapatan nasional, akan membawa suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonomi, dari ekonomi tradisional dengan pertanian sebagai sektor
utama ke sektor modern yang didominasi oleh sektor-sektor non primer khususnya industri manufaktur dengan increasing returns to scale (relasi positif antara pertumbuhan output dengan pertumbuhan produktivitas) yang dinamis sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi (Weiss dalam Tambunan, 2001), sehingga terdapat suatu kolerasi yang positif antara pertumbuhan ekonomi dengan perubahan struktur ekonomi melalui peningkatan pendapatan masyarakat (demand side effect ).
Struktur ekonomi akan mengalami perubahan dalam proses pembangunan ekonomi. A.G.B. Fisher dalam Sadono Sukirno (2007) telah mengemukakan pendapat bahwa berbagai negara dapat dibedakan berdasarkan persentase tenaga kerja yang bekerja di sektor primer, sekunder, dan tertier. Data yang
dikumpulkannya itu menunjukkan bahwa makin tinggi pendapatan perkapita suatu negara, makin kecil peranan sektor pertanian dalam menyediakan kesempatan kerja, sementara sektor industri akan semakin penting peranannya dalam menampung tenaga kerja.
Kuznets dalam Sadono Sukirno (2007) membuat kesimpulan mengenai corak perubahan sumbangan berbagai sektor dalam pembangunan ekonomi di 13 negara yaitu Inggris, Perancis, Jerman, Negeri Belanda, Denmark, Norwegia, Swedia, Italia, Amerika Serikat, Kanada, Australia, Jepang, dan Rusia, dimana kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut:
1. Sumbangan sektor pertanian kepada produksi nasional telah menurun di dua belas dari tiga belas negara. Umumnya pada taraf permulaan pembangunan
ekonomi, peranan sektor itu mendekati setengah dan adakalanya mencapai sampai hampir dua pertiga dari seluruh produksi nasional. Satu-satunya pengecualian dari keadaan ini adalah perubahan yang terjadi di Australia, dalam delapan dasawarsa peranan sektor pertanian bertambah besar, walaupun dalam jangka masa itu kemajuan ekonominya terus-menerus berlangsung.
2. Di dua belas negara peranan sektor industri dalam menghasilkan produksi nasional meningkat, kecuali Australia.
3. Sumbangan sektor jasa dalam menciptakan pendapatan nasional tidak mengalami perubahan yang berarti dan perubahan itu tidak konsisten sifatnya. Umumnya penurunan sektor pertanian dalam menciptakan produksi nasional di imbangi oleh kenaikan yang hampir sama besarnya dengan peranan sektor industri. Hal ini menyebabkan peranan sektor jasa tidak mengalami perubahan yang berarti.
Dengan demikian, kesimpulan umum yang dapat diambil dari tulisan Kuznets tersebut adalah:
1. Produksi sektor pertanian mengalami perkembangan yang lebih lambat daripada perkembangan produksi nasional
2. Tingkat pertambahan produksi sektor industri lebih cepat daripada tingkat pertambahan produksi nasional
3. Tidak adanya perubahan dalam peranan sektor jasa dalam produksi nasional berarti bahwa tingkat perkembangan sektor jasa adalah sama dengan tingkat perkembangan produksi nasional.
Ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya perubahan dalam struktur ekonomi suatu negara antara lain pertama, disebabkan oleh sifat manusia dalam kegiatan konsumsinya, yaitu apabila pendapatan naik, elastisitas permintaan yang diakibatkan oleh perubahan pendapatan (income elasticity of demand) adalah rendah untuk konsumsi bahan makanan. Sedangkan permintaan terhadap bahan- bahan pakaian, perumahan, dan barang-barang konsumsi hasil industri adalah sebaliknya. Sifat permintaan masyarakat tersebut sesuai dengan hukum Engels, dimana teori Engels mengatakan bahwa, makin tinggi pendapatan masyarakat maka akan semakin sedikit proporsi pendapatan yang digunakan untuk membeli bahan pertanian, sebaliknya proporsi pendapatan yang digunakan untuk membeli produksi barang-barang industri menjadi bertambah besar.
Faktor kedua, yaitu perubahan struktur ekonomi disebabkan pula oleh perubahan teknologi yang terus–menerus berlangsung. Perubahan teknologi yang terjadi di dalam proses pembangunan akan menyebabkan perubahan pada struktur produksi yang bersifat cumpolsory dan inducive.
Kemajuan teknologi akan mempertinggi produktivitas kegiatan-kegiatan ekonomi, pada akhirnya menyebabkan terjadinya perluasan pasar serta kegiatan perdagangan. Dengan demikian akan tercipta produk baru yang tidak hanya diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan bagi konsumsi masyarakat desa tetapi
juga untuk kebutuhan masyarakat kota. Produk baru tersebut timbul karena adanya kemajuan teknologi, dengan demikian perubahan seperti itu disebut dengan perubahan struktur produksi nasional yang bersifat cumpolsory yaitu memproduksi produk yang belum tentu diperlukan masyarakat yang masih tradisional.
Selain itu, kemajuan teknologi juga menyebabkan perubahan dalam struktur produksi nasional yang bersifat inducive, yaitu kemajuan dalam
menciptakan produk baru akan menyebabkan bertambahnya pilihan produk yang dapat dikonsumsi masyarakat, dengan demikian kemajuan teknologi
menyebabkan terciptanya barang-barang yang lebih beragam dan bermutu. Perubahan–perubahan seperti ini selanjutnya menyebabkan peranan produksi barang-barang industri dalam negeri menjadi bertambah penting. Dengan
demikian, dapat digambarkan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan struktur ekonomi adalah sebagai berikut:
Sumber: Tambunan (2001)
Gambar 2.2. Faktor-Faktor yang Mengakibatkan Perubahan Struktur Ekonomi
Seperti yang diilustrasikan pada Gambar 2.2. diatas bahwa perubahan struktur ekonomi terjadi akibat perubahan dari sejumlah faktor, yang menurut sumbernya dapat dibedakan atas faktor-faktor dari sisi Agregat Demand(AD) dan
Agregat Supply (AS). Perubahan struktur ekonomi juga dipengaruhi secara langsung atau tidak langsung oleh intervensi pemerintah di dalam kegiatan ekonomi sehari-hari.
Dari sisi Agregat Demand, faktor yang sangat dominan adalah perubahan permintaan domestik yang disebabkan oleh kombinasi antara peningkatan
pendapatan rill perkapita masyarakat dan perubahan selera masyarakat. Perubahan permintaan tidak hanya dalam arti peningkatan konsumsi tetapi juga perubahan komposisi barang-barang yang dikonsumsi. Perubahan komposisi ini dapat dijelaskan dengan teori Engel: Apabila pendapatan rill masyarakat meningkat maka pertumbuhan permintaan akan barang-barang non makanan akan lebih besar daripada pertumbuhan permintaan terhadap makanan. Pada umumnya makanan, seperti beras memiliki elastisitas pendapatan dari permintaan yang nilainya nol (kategori barang normal) atau negatif (inferior), sedangkan barang-barang non makanan seperti alat-alat rumah tangga dari elektronik dan baju, memiliki
elastisitas yang positif dan besar (kategori ferior). Hal ini dapat dijelaskan melalui Gambar 2.3. berikut ini:
Sumber:Tambunan (2001)
Gambar 2.3. Komposisi Penggunaan Barang yang di Konsumsi
Gambar 2.3. diatas menjelaskan bahwa dengan meningkatnya pendapatan masyarakat maka komposisi barang yang dikonsumsi mengalami perubahan, proporsi barang kebutuhan pokok dalam konsumsi menurun sedangkan proporsi barang bukan kebutuhan pokok meningkat. Nilai elasitisitas pendapatan dari permintaan terhadap kelompok barang pertama seperti makanan dan minuman biasanya rendah (negatif), sedangkan nilai elastisitas terhadap kelompok barang kedua seperti barang-barang elektronik, mobil, dan rumah adalah tinggi.
Peningkatan pendapatan rill per kapita dibarengi dengan perubahan selera pembeli selain memperbesar pasar (permintaan) bagi barang-barang yang ada, juga menciptakan pasar baru (diversifikasi pasar) bagi barang-barang baru (non makanan). Perubahan ini menggairahkan pertumbuhan industri-industri baru, disatu pihak dan di lain pihak meningkatkan laju pertumbuhan output di industri- industri yang sudah ada.
Dari sisi Agregat Supply, faktor-faktor penting diantaranya adalah pergeseran keunggulan komparatif, perubahan atau kemajuan teknologi,
peningkatan pendidikan atau kualitas sumber daya manusia, penemuan-penemuan material baru untuk produksi, dan akumulasi barang modal. Semua hal ini
memungkinkan untuk melakukan inovasi dalam produk dan proses produksi. Dalam hal pergeseran keunggulan komparatif menurut Chenery dalam Tambunan (2001) bahwa proses transformasi struktural akan berjalan lambat, bahkan ada kalanya berbalik atau mengalami kemunduran dalam arti terjadinya penurunan atas kontribusi output industri manufaktur dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), jika keunggulan komparatif tidak berjalan sesuai dengan arah pergeseran pola permintaan domestik ke arah output industri manufaktur dan pola perubahan dalam komposisi ekspor.
Perubahan struktur ekonomi dari sisi Agregat Supply juga diakibatkan oleh realokasi dana investasi dan resources utama lainnya, termasuk teknologi dan tenaga kerja atau sumber daya manusia dari satu sektor ke sektor lain. Realokasi ini dapat terjadi disebabkan karena adanya perbedaan produktivitas atau
pendapatan rill antar sektor, adanya kemiskinan di salah satu sektor ataupun karena adanya kebijakan-kebijakan pemerintah yang lebih menguntungkan sektor- sektor tertentu, misalnya kebijakan industrialisasi dan kebijakan perdagangan luar negeri yang mengutamakan pembangunan atau pertumbuhan output di sektor industri.
Dalam intervensi pemerintah, kebijakan yang berpengaruh langsung terhadap perubahan struktur ekonomi adalah kebijakan pemberian insentif bagi sektor industri atau tidak langsung lewat pengadaan infrastruktur. Intervensi ini mempengaruhi sisi Agregat Supply dari sektor tersebut. Dari sisi Agregat Demand, kebijakan yang berpengaruh langsung adalah pajak penjualan yang membuat harga jual barang yang bersangkutan menjadi mahal, yang selanjutnya dapat mengurangi permintaan terhadap barang tersebut (permintaan tergantung pada nilai elastisitas harga terhadap permintaan). Sedangkan kebijakan yang berpengaruh tidak langsung adalah pengurangan pajak pendapatan (ceteris paribus), dapat meningkatkan konsumsi terhadap produk-produk dari sektor- sektor tertentu seperti manufaktur dan jasa.
Faktor dari sisi Agregat Demand dan Agregat Supply diatas adalah faktor- faktor internal, sedangkan faktor eksternal yang merupakan penyebab perubahan struktur ekonomi antara lain adalah kemajuan teknologi (bagi Indonesia kemajuan teknologi bersifat given), dan perubahan struktur perdagangan global yang antara lain disebabkan oleh peningkatan pendapatan dunia dan dampak dari peraturan- peraturan mengenai perdagangan regional dan internasional. Perubahan struktur ekspor misalnya dari ekspor komoditas primer ke komoditas manufaktur juga tidak terlepas dari perubahan struktur permintaan dunia yang disebabkan oleh peningkatan pendapatan dunia.
Sejalan dengan pembangunan ekonomi akan terjadi perubahan struktur permintaan domestik, struktur produksi yang pada akhirnya merubah struktur
perdagangan internasional. Proses perubahan struktur sering disebut dengan proses alokasi. Pada dasarnya proses alokasi ini adalah hasil interaksi antara proses akumulasi di satu pihak, dengan proses perubahan pola konsumsi masyarakat yang timbul secara bersamaan dengan meningkatnya pendapatan perkapita di pihak lain. Interaksi ini pada akhirnya akan memberikan dampak berupa perubahan pada komposisi barang dan jasa yang diproduksi dan
diperdagangkan. Dengan demikian, secara ringkas dapat dibuat suatu alat ukur untuk menilai apakah perekonomian suatu wilayah mengalami perubahan struktur atau tidak, yaitu dengan melihat:
1. Struktur permintaan domestik
Dengan meningkatnya pendapatan perkapita, terjadi pula perubahan struktur permintaan domestik dalam bentuk menurunnya bagian pendapatan yang digunakan untuk mengkonsumsi bahan makanan. Penurunan konsumsi bahan makanan ini dikaitkan dengan hukum Engels yang menyatakan bahwa elastisistas permintaan terhadap perubahan pendapatan untuk bahan makanan adalah lebih kecil dari 1 (in elastic), dengan demikian jika terjadi peningkatan pendapatan maka permintaan akan bahan makanan meningkat dengan persentase lebih rendah dari persentase peningkatan pendapatan perkapita.
2. Struktur produksi
Perubahan struktur produksi yang terjadi pada saat perekonomian tumbuh biasanya ditunjukkan dengan semakin rendahnya peran sektor pertanian dalam
perekonomian nasional, dan semakin tingginya peran sektor lain diluar sektor pertanian.
Dari sisi permintaan, pergeseran ini dijelaskan berdasarkan argumen- argumen sebagai berikut. Pertama, elastisitas permintaan terhadap pendapatan dari bahan pangan bersifat in elastis.Kedua, perkembangan teknologi yang terjadi selain cenderung menghemat penggunaan bahan baku, juga cenderung untuk menggantikan hasil alam dengan produk – produk sintesis.
Dari sisi penawaran, terjadinya pergeseran keunggulan komparatif dari sektor pertanian ke sektor lain di luar pertanian. Pergeseran ini terjadi karena proses akumulasi mengubah komposisi faktor-faktor produksi. Akibat terjadinya proses akumulasi ini, jumlah capital dan tenaga kerja meningkat begitu juga jumlah tenaga kerja terdidik dan tingkat teknologi yang dikuasai. Hal ini pada gilirannya mengubah keunggulan komparatif, dari sektor pertanian yang relatif pada tenaga kerja terampil ke sektor-sektor lainnya yang relatif lebih padat modal.