TINJAUAN PUSTAKA
2.4 RTH dan Pengelolaan DAS
2.2.5 Pengelolaan DAS Deli Terpadu
Menurut Davenport (2005) pertanyaan kunci untuk semua individu yang mengelola DAS/watershed adalah apa proses yang paling efektif untuk menyatukan ilmu, kebijakan dan peran serta masyarakat dalam pengelolaan DAS. Menurutnya ada 4 (empat) phase dari watershed management model yaitu (lihat pada gambar 2. 4) :
Abdul Rahim Siregar : Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Medan Studi Kasus: Daerah Aliran Sungai Deli Di Kelurahan Aur Medan Maimun, 2010.
1). Assesment: melihat apa yang sebenarnya terjadi pada DAS dan peran daripada semua stakeholder, kelembagaan, sosial/ekonomi yang terlibat pada DAS tersebut.
2). Perencanaan: mendapatkan manfaat daripada perencanaan dengan adanya
action dan direction dan harus bersifat battom up daripada top down.
3). Implementasi: melaksanakan dengan baik apa yang sudah direncanakan, dan 4). Evaluasi: untuk melihat kinerja apa yang sudah dilaksanakan dan apa yang
belum dengan membuat laporannya.
Gambar 2.4 Watershed management model
Untuk lebih berhasilnya pengelolaan DAS diperlukan Watershe Partnership yang berbentuk committee atau Dewan Air baik pada Tingkat Federal, Provincial dan
local. PHASE I Assessment/ Problem PHASE II Planning PHASE III Implementati PHASE IV Evaluation
Abdul Rahim Siregar : Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Medan Studi Kasus: Daerah Aliran Sungai Deli Di Kelurahan Aur Medan Maimun, 2010.
Pengelolaan DAS secara terpadu menuntut suatu manajemen terbuka yang menjamin keberlangsungan proses koordinasi antara lembaga terkait (Reimold, 1998 an Davenport, 2005). Pendekatan terpadu juga memandang pentingnya peranan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan DAS, mulai dari perencanaan, perumusan kebijakan, pelaksanaan dan pemungutan manfaat. Dalam upaya menciptakan pendekatan pengelolaan DAS secara terpadu, diperlukan perencanaan secara terpadu, menyeluruh, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dengan mempertimbangkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan. Dengan demikian bila ada bencana, apakah itu banjir atau kekeringan, penanggulangannya dapat dilakukan secara menyeluruh yang meliputi DAS mulai dari daerah hulu sampai hilir (Svendsen, 2004).
Kodoatie dan Sugiyanto (2002) menyatakan pengelolaan DAS berubungan erat dengan peraturan, pelaksanaan dan pelatihan. Kegiatan penggunaan lahan dimaksudkan untuk menghemat dan menyimpan air dan konservasi tanah. Pengelolaan DAS mencakup aktifitas-aktifitas berikut ini:
a. Pemeliharaan vegetasi dibagian hulu DAS
b. Penanaman vegetasi untuk mengendalikan kecepatan aliran air & erosi tanah. c. Pemeliharaan vegetasi alam, atau penanaman vegetasi tanah air yang
tepat,sepanjang tunggul drainase, saluan-saluran dan daerah lain untuk pengendalian aliran yang berlebihan atau erosi tanah.
d. Mengatur secara khusus bangunan-bangunan pengendali banjir (misal cekdam) sepanjang dasar aliran yang mudah tererosi.
Abdul Rahim Siregar : Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Medan Studi Kasus: Daerah Aliran Sungai Deli Di Kelurahan Aur Medan Maimun, 2010.
e. Pengelolaan khusus untuk menantisipasi aliran sedimenyang dihasilkan dari kegiatan gunung berapi.
Sasaran penting dari kegiatan pengelolaan DAS adalah untuk mencapai keadaan-keadaan berikut (Reimold, 1998; Kodoatie dan Sugiyanto, 2002; Thoma, 2005) :
a. Mengurangi debit banjir di daerah hilir.
b. Mengurangi erosi tanah dan muatansedimen di sungai.
c. Meningkatkan produksi pertanian yang dihasilkan dari penataan guna tanah dan perlindungan air.
d. Miningkatkan lingkungan di daerah DAS dan daerah sungai.
2.2.5.1Konsep Terpadu dan Tujuan Pengelolaan DAS Terpadu
Tujuan pengelolaan DAS terpadu menurut Reimold (1998), Svendsen (2004), Kodoatie dan Sjarief (2005), Asdak (2005) dan Thomas (2005) antara lain sebagai berikut:
a. Terwujudnya koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergi lintas sektor/instansi/lembaga/wilayah dalam pengelolaan sumber daya hutan, tanah dan air dalam DAS.
b. Terwujudnya kondisi hidrologi ( tata air ) DAS yang optimal meliputi kuantitas, kualitas dan distribusinya
Abdul Rahim Siregar : Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Medan Studi Kasus: Daerah Aliran Sungai Deli Di Kelurahan Aur Medan Maimun, 2010.
d. Terjaminnya pemanfaatan/penggunaan hutan, tanah dan air dalam DAS secara lestari sesuai daya dukung wilayah dan daya tampung lingkungan.
e. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan dan pembangunan yang berkelanjutan.
2.2.5.2 Wilayah Sungai Sebagai Satuan Basis Perencanaan dan Pengelolaan Karena air mengalir dalam batas-batasnya sendiri (yaitu wilayah sungai atau basin danau, atau akifer air anah) maka dalam penerapan semua hal tersebut wilayah sunai atau water basin harus diterima sebagai satuan basis (baisc unit) untuk perencanaan dan pengoperasian, dan komitmen sosial yang kuat serta partisipasi pulik yang baik yang harus diikuti. Pengelolaan DAS terpadu secara inheren menerima pendekatan ekosistem untuk pengelolaan wilayah sungai dan danau, termasuk fungsi dari ekosistem sebagai basis untuk kehidupan manusia dan konservasi keanekaragaman hayati (biodiversity). Menurut Asdak (2005) pengelolaan DAS sebagai proses yang melibatkan langkah-langkah perencanaan dan pelaksanaan yang terpisah, tetapi erat berkaitan melalui kelembagaan yang relevan dan terkait sebagai serial aktifitas yang masing-masing berkaitan dan memerlukan perangkat pengelolaan yang spesifik untuk memperoleh manfaat produksi dan jasa tanpa terjadinya kerusakan sumber daya air dan tanah.
Konsep pengelolaan DAS mengenal pendekatan one river, one plan and one
Abdul Rahim Siregar : Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Medan Studi Kasus: Daerah Aliran Sungai Deli Di Kelurahan Aur Medan Maimun, 2010.
Wil. Administrasi A Wil. Administrasi B Wil. Administrasi C hujan hujan S u ng ai De li Sungai Babura Belaw an BATAS DAS BATAS WILAYAH ADM KAB/KOTA Laut Keterangan: : Pelabuhan : : Gedung
dilaksanakan, yang menurutnya perlu dikaji lebih lanjut Hubungan antara DAS dan Tata Ruang. Sesuai dengan UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air bahwa : 1) Pola pengelolaan dan rencana pengelolaan SDA disusun berdasarkan wilayah
sungai (DAS);
2) Prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah; 3) Melibatkan masyarakat dan dunia usaha;
4) Dasar adalah keseimbangan antara konservasi, Pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air;
5) Penyelenggaraan SDA harus lakukan secara utuh dari hulu sampai hilir.
Abdul Rahim Siregar : Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Medan Studi Kasus: Daerah Aliran Sungai Deli Di Kelurahan Aur Medan Maimun, 2010.
2.2.5.3Perubahan Tata Guna Lahan Terhadap Kualitas Dan Kuantitas Serta Banjir Daerah Hilir
Kejadian banjir menurut Kodoatie (2002) dan Siswoko (2002) disebabkan oleh teknis dan non teknis (man made). Salah satu akibat dari man made adalah adanya perubahan tata guna lahan, urbanisasi, dan penebangan hutan yang pengaruhnya sangat besar terhadap kuantitas banjir yang diilustrasikan pada sebuah DAS yang semula berupa hutan mempunyai debit 10 m3/det jika berubah menjadi sawah debit sungainya akan menjadi antara 25 sampai 90 m3/det, ada kenaikan debit sebesar 2,5 atau 9 kali debit semula dan seterusnya bila hutan berubah menjadi kawasan perdagangan/perindustrian, maka debitnya akan meningkat tajam menjadi 60 sampai 250 m3/det (Raudkivi, 1979; Subarkah, 1980; Schwab dkk, 1981; Loebis, 1984; dan Linsley, 1989) untuk jelasnya lihat Gambar 2.6
Gambar 2.6 Peningkatan dan penggambaran suatu sungai akibat perubahan tata guna lahan
Abdul Rahim Siregar : Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Medan Studi Kasus: Daerah Aliran Sungai Deli Di Kelurahan Aur Medan Maimun, 2010.
Gambar 2.7 Tata guna lahan terhadap kualitas dan kuantitas serta banjir daerah hilir
2.2.5.4 Konsep Zero Delta Q dan Kompensasi Hilir-Hulu
Upaya pengendalian tata ruang harus tetap dilaksanakan dengan adanya implementasi law enforcement dan pemberian sanksi bagi pelanggarn dan memberi insentif bagi individu/kelompok yang menjaga kelestarian hutan. Untuk hal ini agar tetap berjalannya sustainable development konsep Zero Delta Q yaitu tidak boleh ada penembahan debit akibat adanya pembangunan/perubahan tata guna lahan yaitu sebagai contoh bila ada pembangunan pada lahan seluas 1000 m2, maka 30% dari luas lahan atau 300 m2 dijadikan kolam serapan.
Kota Medan sebagai lembah yang berkembang dan mempunyai dana yang cukup perlu memberikan kompensasi ke wilayah Kabupaten Deli Serdang dan Karo
Sesudah
Sebelum
1 D e bi t B Puncak Simulasi Setelah P b Simula si T 0 (Jam 5 1Waktu Setelah Puncak Curah
Sebelum
/ 1960
Sesudah
/2004 RI VER-JI CE-JAPAN/ 2003/ RUN OFF KOTA BANDUNG/ OTTO
AIR MERESA
AIR TDK MERESA
Abdul Rahim Siregar : Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Medan Studi Kasus: Daerah Aliran Sungai Deli Di Kelurahan Aur Medan Maimun, 2010.
sebagai DAS hulunya dalam bentuk program konservasi reboisasi ataupun dana segar, dengan demikian diharapkan masyarakat yang tinggal di daerah hulu akan benar-benar menjaga kelestarian lingkungan dan hutan di wilayahnya.
2.2.5.5 Tata Guna Lahan DAS Deli
Daerah Aliran Sungai Deli terletak di kabupaten Karo, Deli Serdang dan Kota Medan Propinsi sumatera Utara, Disebalah kiri berbatasan DAS Percut, sedangkan disebelah barat dengan DAS Belawan. DAS tersebut terdari dari tujuh sub DAS yakni Sub DAS Petani, Sub DAS Simai-mai, Sub DAS Deli, Sub DAS Babura, Sub DAS Bekala, Sub DAS Sikambing dan Sub DAS Paluh Besar, pemberian nama – nama dari DAS tersebut memperhatikan nama anak-anak sungai yang mengalir didaerah tersebut, untuk jelasnya lihat rincian Luas DAS per Sub DAS dan Nilai Rc pada Tabel 2.1
Tabel 2.1 Luas DAS per Sub DAS dan Nilai Rc
Sub DAS Luas ( Ha ) Persentasi (%) Nilai Rc
Sub DAS Petani 10.187 21,15 0,38
Sub DAS Simai-mai 30.43 6,32 0,25
Sub DAS Deli 8.469 17,59 0,09
Sub DAS Babura 5.911 12,27 0,16
Sub DAS Bekala 4.793 9,95 0,45
Sub DAS Sei Sikambing 4.415 9,17 0,37
Sub DAS Paluh Besar 11.344 23,55 0,48
Abdul Rahim Siregar : Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Medan Studi Kasus: Daerah Aliran Sungai Deli Di Kelurahan Aur Medan Maimun, 2010.
Sungai Deli dengan Panjang ± 82 km dan daerah tangkahan hujan seluas 48,162 Km2 alirannya berawal dari mata air di lereng bagian utara gunung pintau, gunung sibayak dan pegunungan disekitarnya yang berketinggian antara 1,400 m – 1.800 m mengalir melalui suangai Deli dengan kemiringan rara-rata dasar sungai 0,0061 melalui kota
Medan dan bermuara di Belawan (JICA, 1996). Disekitar pusat kota Medan (belakang kantor walikota saat ini) Sungai Deli bertemu dengan anak sungainya yaitu
Sungai Babura dan kemudian Sungai Sikambing. Sungai ini merupakan saluran utama yang mendukung drainase kota Medan dengan cakupan luas wilayah pelayanan sekitar 51% dari luas kota Medan. Meluasnya lahan kritis pada wilayah Sungai Deli hulu , tengah dan pinggiran kota Medan akibat perambahan hutan, alih fungsi dan tekanan penduduk. Hal ini menyebabkan bertambahnya aliran permukaan menyebabkan perubahan tata guna lahan sebagaimana ada pada tabel dibawah ini:
Tabel 2.2 Data penggunaan lahan pada DAS Deli
Kelas Luas ( Ha ) Luas ( % )
Hutan 3.655 7,59
Belukar 2.068 4,29
Kebun Rakyat 285 0,59
Kebun Coklat, kelapa sawit/kelapa 2.284 4,74
Sawah 8.143 16,91 Tanaman Campuran 16.154 33,54 Tegalan 1.836 3,81 Perkebunan Tembakau 5.628 11,69 Alang – alang 479 0,99 Rawa 69 0,14 Pemukiman 5.374 11,16 Lain-lain 2.187 4,54
Abdul Rahim Siregar : Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Medan Studi Kasus: Daerah Aliran Sungai Deli Di Kelurahan Aur Medan Maimun, 2010.
Dari susunan pemanfaatan DAS Deli secara sekilas hutan yang seharusnya mempunyai luas ± 30 % sesuai dengan UU Kehutanan nomor 41 tahun 1999, pada kenyataannya hanya tersisa 7,59 % ( tabel 2 ) yang berarti wajarlah Sungai Deli selalu membawa debit banjir ± 315 m3/det saat musim hujan dan 10-12 m3/det saat musim kemarau.
2.2.5.6 Prakiraan Neraca Air Sungai Deli Tahun 2008
Dari prakiraan data neraca air Sungai Deli pada Tabel 2.3 dan ketersediaan air sungai Deli berdasarkan grafik debit sungai deli tahun 1990 – 2004 sebagaimana dilihat pada gambar 3 cenderung menurun dari rata-rata 17 m3/detik ( 1990 ) menjadi rata-rata 8 – 10 m3/detik (2004) dan jika diasumsikan rata-rata debit sungai Deli adalah 10-12 m3/detik (saat ini sampai dengan 2008) sedangkan prakiraan kebutuhan tahun 2008 adalah ± 14,5 m3/det, digunakan untuk IPA Deli Tua 1,5 m3/detik, Daerah Irigasi Namorambe 2 m3/det, medan floodway ± 5 m3/det untuk river maintenance, air industri kota Medan 1 m3/det, dan river maintenance Sungai Deli 5 m3/det, maka terjadi defisit air Sungai Deli ± 2,5 m3/det. Untuk itu perlu dilakukan segera rencana aksi untuk mengatasi defisit air Sungai Deli pada waktu yang akan datang.
Abdul Rahim Siregar : Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Medan Studi Kasus: Daerah Aliran Sungai Deli Di Kelurahan Aur Medan Maimun, 2010.
Tabel 2.3 Neraca Air Sungai Deli Ketersediaan
(l/detik)
Kebutuhan (l/detik) Keterangan
10 – 12 m3/det 1. PDAM Deli Tua 1,5 m3/det (data JICA dan
Bappedalda SU, 2006)
2. DI. Namorambe 2 m3/det Luas DI. 1.200 Ha 3. River Maintenance Medan Floodway 5 m3/det
4. Air Industri Kota Medan 1 m3/det 5. River Maintenance Sungai Deli 5 m3/det
Jumlah Kebutuhan
14,5 m3/det - 2,5 m3/det
Grafik 2.1 Debit Sungai Deli Tahun 1990 – 2004
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 1 2 3 4 5 6 7 8 9 m 3/ s Series1
Abdul Rahim Siregar : Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Kota Medan Studi Kasus: Daerah Aliran Sungai Deli Di Kelurahan Aur Medan Maimun, 2010.
BAB III