• Tidak ada hasil yang ditemukan

Produk Hukum:

PERUBAHAN UNSUR-UNSUR ADMINISTRASI PERPAJAKAN

Apabila kinerja administrasi perpajakan kurang efektif, kinerjanya mengalami stagnasi, atau karena perubahan peraturan perpajakan (tax law), maka perlu dilakukan pembenahan administrasi. Pembenahan tersebut dapat berupa perubahan struktur organisasi (reorganisasi) dan penyederhanaan prosedur, pembenahan sumber daya manusia dengan menggunakan pendekatan human resources management, penggunaan sistem informasi manajemen dan pengembangannya secara berkelanjutan, peningkatan pembinaan dan pengawasan internal, serta perubahan-perubahan lainnya yang dilakukan secara parsial.

Direktorat Jenderal Pajak sejak tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 melakukan perubahan secara serempak terhadap keseluruhan unsur-unsur organisasi tersebut dengan mengimplementasikan reformasi administrasi perpajakan atau juga dikenal sebagai modernisasi administrasi pajak. Nasucha

(2004) menyebutkan bahwa reformasi administrasi perpajakan adalah penyempurnaan atau perbaikan kinerja administrasi, baik secara individu, kelompok, maupun kelembagaan agar lebih efisien, ekonomis dan cepat. Tugas utama reformasi administrasi perpajakan adalah untuk mencapai efektivitas yang tinggi yaitu kemampuan untuk mencapai tingkat kepatuhan yang tinggi dan efisiensi berupa kemampuan untuk membuat biaya administrasi per unit penerimaan pajak sekecil-kecilnya.

Pada acara peresmian penerapan sistem administrasi perpajakan modern di KPP Badan Usaha Milik Negara pada tanggal 30 Agustus 2004, Direktur Jenderal Pajak Hadi Poernomo mengemukakan beberapa ciri khusus sistem administrasi perpajakan modern yakni perbaikan pelayanan melalui pembentukan account representative dan complaint center untuk menampung keberatan Wajib Pajak. Selain itu juga merangkul kemajuan teknologi terbaru diantaranya e-filing, e-payment, e-registration, dan e-counceling yang diharapkan meningkatkan mekanisme kontrol yang lebih efektif. Manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan sistem bagi Wajib Pajak adalah simplicity, dimana alur pekerjaan lebih sederhana dengan bantuan Account Representative. Certainly, yaitu terdapat kepastian dalam melaksanakan peraturan perpajakan didukung bidang pelayanan dan penyuluhan di Kanwil serta seksi pelayanan di KPP11 .

Pandiangan dalam Rapina dkk (2011) menyatakan bahwa modernisasi administrasi perpajakan yang dilakukan pada dasarnya meliputi restrukturisasi organisasi, penyempurnaan proses bisnis melalui pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi, serta penyempurnaan manajemen sumber daya manusia.

11

Restrukturisasi organisasi dilakukan dengan pembagian organisasi yang berbasis pada fungsi terkait dengan perpajakan. Yaitu dengan melakukan pemisahan antara fungsi pemeriksaan dengan fungsi keberatan, adanya segmentasi Wajib Pajak (level operasional) yang dikelola KPP, adanya internal audit dan change program unit serta lebih efisien dan customer oriented. Penyempurnaan proses bisnis dilakukan dengan proses bisnis yang berbasis teknologi komunikasi dan informasi, efisien, customer oriented, sederhana, mudah dimengerti. Serta adanya built in control. Penyempurnaan atas sistem manajemen sumber daya manusia dilakukan melalui pengembangan sumber daya manusia yang berbasis kompetensi, optimalisasi teknologi komunikasi dan informasi, serta customer driven.

Pendapat lain dikemukakan oleh Nasucha (2004) yang menyebutkan bahwa terdapat empat dimensi reformasi administrasi perpajakan yaitu12:

1. Struktur organisasi. Bahwa struktur organisasi adalah unsur yang berkaitan dengan pola-pola peran yang sudah ditentukan dan hubungan antar peran, alokasi kegiatan kepada sub unit-sub unit terpisah, pendistribusian wewenang di antara posisi administratif, dan jaringan komunikasi formal;

2. Prosedur organisasi. Prosedur organisasi berkaitan dengan proses komunikasi, pengambilan keputusan, pemilihan prestasi, sosialisasi dan karier. Pembahasan dan pemahaman prosedur organisasi berpijak pada aktivitas organisasi yang dilakukan secara teratur;

3. Strategi organisasi. Strategi organisasi dipandang sebagai siasat, sikap pandangan dan tindakan yang bertujuan memanfaatkan segala

12

keadaan, faktor, peluang, dan sumber daya yang ada sedemikian rupa sehingga tujuan organisasi dapat dicapai dengan berhasil dan selamat. Strategi berkembang dari waktu ke waktu sebagai pola arus keputusan yang bermakna;

4. Budaya organisasi. Budaya organisasi didefinisikan sebagai sistem penyebaran kepercayaan dan nilai nilai yang berkembang dalam organisasi dan mengarahkan perilaku anggota-anggotanya. Budaya organisasi mewakili persepsi umum yang dimiliki oleh anggota organisasi.

D.1. Perubahan Organisasi Administrasi Pajak (Reorganisasi)

Pengorganisasian dapat dipandang sebagai proses penyesuaian struktur organisasi dengan tujuan, sumber daya dan lingkungan. Fungsi pengorganisasi meliputi pembagian seluruh tugas ke dalam berbagai kerja individual dengan wewenang dan tanggungjawab tertentu untuk menjalankan kerja tersebut dan selanjutnya kerja individual tersebut dikumpulkan ke dalam berbagai departemen menurut dasar dan ukuran tertentu. Tujuannya adalah untuk mencapai usaha terkoordinasi melalui pendesaian strukur hubungan tugas dan wewenang. Terdapat dua konsep pokok pengorganisasian, yaitu desain (mengimplementasikan bahwa seorang manager menetapkan cara karyawan melakukan pekerjaan) dan struktur (menunjukkan kepada pertalian yang relatif stabil dan aspek organisasi).

Pembagian pekerjaan merupakan penjabaran tugas pekerjaan sehingga setiap orang dalam organisasi bertanggung jawab untuk melaksanakan seperangkat aktivitas tertentu dan bukan keseluruhan tugas. Pendekatan

pembagian kerja terdiri atas spesialiasi tugas dan desain pekerjaan13. Instumen untuk melakukan pembagian kerja tersebut adalah departementalisasi. Melalui departementalisasi, maka dapat dilakukan upaya mengelompokkan aktivitas pekerjaan, sehingga aktivitas-aktivitas dan hubungan yang serupa dan logis dapat diselenggarakan secara serempak. Terdapat dua metode yang digunakan untuk menyusun departementalisasi, yaitu departementalisasi fungsional (mengelompokkan fungsi yang sama atau kegiatan yang sejenis untuk membentuk satuan organisasi) dan departementalisasi divisional (dengan membagi divisi-divisi atas dasar produk, proses dan lain-lain)14.

Setelah dilakukan pembagian kerja, pembagian kerja dalam organisasi memperhatikan 3 (tiga) unsur dalam dimensi organisasi, yaitu formalisasi, sentralisasi dan kompleksitas15. Formalisasi menunjuk kepada luasnya pengharapan berkpenaan dengan maksud dan tujuan pekerjaan ditetapkan, ditulis dan diselenggarakan. Sentralisasi menunjuk kepada tempat wewenang pengambilan keputusan di dalam hirarki organisasi. Kompleksitas adalah akibat perkembangan langsung pembagian kerja dan penciptaan departemen-departemen. Ketiga unsur tersebut dijabarkan ke dalam lima indikator, yaitu: 1. Spesialisasi aktivitas, mengacu kepada spesifikasi tugas-tugas

perorangan dan kelompok kerja di seluruh organisasi dan penyatuan tugas-tugas tersebut ke dalam unit kerja;

13 Ratna Mutu Manikam., Manajemen Umum Pengorganisasian. Jakarta. Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana, 2007.

14

Ibid., Halaman 8 15

Ratna Mutu Manikam., Manajemen Umum Pengorganisasian. Jakarta. Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana, 2007.

2. Standarisasi aktivitas, merupakan prosedur yang digunakan organisasi untuk menjamin kelayak-dugaan aktivitas-aktivitasnya, yang dituangkan dalam Standard Operating and Procedure;

3. Koordinasi aktivitas, adalah prosedur untuk mengintegrasikan fungsi-fungsi sub unit organisasi;

4. Sentralisasi dan desentralisasi pengambilan keputusan, mengacu kepada lokasi kekuasaan pengambilan keputusan;

5. Ukuran unit kerja, mengacu pada jumlah pegawai dalam suatu kelompok kerja.

Perubahan struktur organisasi terkait dengan perubahan prosedur. Prosedur yang dijabarkan pada Standard Operating and Procedure (SOP) atau instruksi kerja harus didokumentasikan dengan menggunakan instrumen berupa struktur dokumentasi prosedur16. Gambar di bawah menunjukkan struktur dokumentasi dan prosedur yang diadopsi oleh Direktorat Jenderal Pajak dalam menyusun suatu SOP dan pedoman instruksi kerja sebagai penjabaran dari peraturan, visi misi, strategi, serta organisasi (struktur, tugas pokok dan fungsi, serta uraian jabatan).

16 Bahan Ajar DTSS Penyegaran Perpajakan Untuk Widyaiswara Tenaga Pengajar, Pusdiklat Pajak, 2013

Gambar 2.8. Struktur Dokumentasi Prosedur pada Direktorat Jenderal Pajak

Berdasarkan pengamatan Penulis mengenai struktur organisasi pada beberapa Dinas Pendapatan Daerah, organisasi pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama, serta literatur lainnya, dalam penyusunan kerangka/struktur organisasi pajak daerah setidaknya terdapat beberapa fungsi yang harus dimunculkan dalam kerangka/ struktur organisasi pajak daerah dalam melakukan pemungutan Pajak Hotel dan Restoran (self assessment). Beberapa fungsi tersebut adalah sebagai berikut:

 fungsi tata usaha perpajakan dan pelayanan pajak;

 fungsi pengawasan kepatuhan dan konsultasi Wajib Pajak;

 fungsi pengolahan data dan informasi (mencakup fungsi pembukuan, penerimaan dan pelaporan penerimaan pajak;

 fungsi pendataan dan perhitungan potensi (monografi fiskal);

 fungsi pemeriksaan pajak dan penetapan;

 fungsi penagihan pajak.

Fungsi-fungsi tersebut dapat dibentuk sebagai bagian/departemen sendiri (departementalisasi fungsi) atau fungsi tersebut melekat pada bagian/departemen yang dibentuk berdasarkan departementalisasi divisional

Peraturan, Visi-Misi-Strategi, Organisasi (Struktur, Tusi dan Urjab)

Peta Proses Bisnis

Standard Operating & Procedure Insruksi Kerja

atau bagian/departemen yang dibentuk dengan kebijakan tertentu oleh masing-masing Pemerintah Daerah.

Fungsi tata usaha perpajakan, pelayanan dan penetapan pajak setidaknya memiliki tugas pemungutan pajak sebagai berikut:

1. Melakukan pelayanan kepada Wajib Pajak, dengan tahapan menerima berkas permohonan dari Wajib Pajak, meneruskan berkas permohonan ke bagian terkait serta menyerahkan ketetapan kepada Wajib Pajak;

2. Memproses dan mendistribusikan ketetapan berupa STPD, SKPDKB, SKPDKBT, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, serta surat keputusan lainnya rangkap 5 dengan rincian:

i. diserahkan kepada Wajib Pajak; ii. dikirim ke bagian penagihan; iii. pertinggal (rangkap dua);

iv. diarsipkan di rumah berkas Wajib Pajak .

3. Mengarsipkan berkas Wajib Pajak pada suatu “rumah berkas Wajib Pajak”. Dalam rumah berkas Wajib Pajak tersebut disimpan semua berkas yang terkait atas satu Wajib Pajak tertentu atau sebagai “tax payer account”. Data yang disimpan dalam rumah berkas Wajib Pajak berupa Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD), Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD), STPD, SKPDKB, SKPDKBT, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, serta surat keputusan lainnya.

D.1.1. Fungsi Pelayanan dalam Administrasi Pajak

Fungsi pelayanan dalam administrasi pajak harus dapat memproses jenis pelayanan yang harus disediakan dalam administrasi pembayaran daerah, yaitu sebagaimana pada gambar berikut.

Gambar 2.9. Jenis Pelayanan yang Disediakan oleh Administrasi Pajak Daerah serta Unsur Pendukungnya dalam Administrasi

D.1.2. Fungsi Pengawasan dan Konsultasi

Fungsi pengawasan dan konsultasi setidaknya melaksanakan tugas pemungutan pajak sebagai berikut:

1. Melakukan pengawasan pembayaran masa dengan cara:

a. Melakukan himbauan kepada Wajib Pajak untuk melakukan pembayaran pajak apabila sampai dengan tanggal jatuh tempo Wajib Pajak tersebut tidak melakukan pembayaran.

b. Apabila Wajib Pajak tetap tidak menyampaikan SPTPD setelah dilakukan himbauan, maka mengusulkan kepada bagian pemeriksaan (penelitian lapangan) untuk dilakukan penetapan secara jabatan. c. Menagih sanksi atas keterlambatan pembayaran pajak dengan

mengusulkan penerbitan Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD).

2. Melakukan peninjauan ke lapangan (visit) secara berkala ke lokasi objek pajak untuk melakukan monitoring perkembangan omset Wajib Pajak. 3. Melakukan penelitian Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD)

dengan tujuan:

a. Mengetahui adanya kesalahan tulis/kesalahan menghitung SPTPD;

b. Mengetahui adanya indikasi kebenaran/ketidakbenaran atas kewajiban pajaknya sesuai yang dilaporkan dalam SPTPD dengan data hasil monitoring perkembangan omset Wajib Pajak yang diadakan secara berkala;

c. Menindaklanjuti hasil penelitian SPTPD yang dapat berupa:

 Melakukan himbauan kepada Wajib Pajak untuk meningkatkan kepatuhan pembayaran pajak;

 Melakukan himbauan kepada Wajib Pajak untuk melakukan pembetulan SPTPD;

 Mengusulkan kepada bagian pemeriksaan untuk dilakukan penelitian (verivikasi lapangan) atau pemeriksaan pajak dan dilakukan penetapan secara jabatan.

4. Memberikan konseling kepada Wajib Pajak atas pelaksanaan kewajiban dan hak Wajib Pajak.

D.1.3. Fungsi Pengolahan Data dan Informasi

Fungsi pengolahan data dan informasi setidaknya melaksanakan tugas pemungutan pajak sebagai berikut:

1. Melakukan pemeliharaan perangkat keras dan jaringan sistem informasi 2. Mendesain arsitektur data perpajakan meliputi :

Data yang bisa dilakukan input (entry data) serta data yang dapat diakses oleh masing-masing bagian, seksi serta petugas terkait.

 Perbaikan metode, sistem, dan prosedur kerja yang diarahkan pada penerapan full automation dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, terutama untuk pekerjaan yang sifatnya klerikal,

pengembangan dan penyempurnaan fitur case management dan workflow system yang digunakan untuk administrasi persuratan, proses pelayanan,

Pengadministrasian account Wajib Pajak (tax payer account)

3. Melakukan input data atas SSPD, SPTPD, SPTPD, STPD, SKPDKB, SKPDKBT, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, serta surat keputusan lainnya;

4. Mencetak Produk keluaran berupa STPD, SKPDKB, SKPDKBT, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, serta surat keputusan lainnya;

5. Menghimpun dan membukukan seluruh Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) dan Surat Keputusan lainnya;

6. Menyiapkan data realisasi penerimaan dan tunggakan pajak/retribusi daerah dan pendapatan daerah lainnya;

7. Menghimpun data dan menyusun laporan pendapatan daerah secara periodic tentang realisasi penerimaan/tunggakan pajak/retribusi dan pendapatan asli daerah lainnya;

8. Menjaga dan memelihara data perpajakan yang ada pada Sistem Informasi.

D.1.4. Fungsi Pendataan dan Monografi Fiskal

Fungsi pendataan dan monografi fiskal setidaknya melaksanakan tugas pemungutan pajak sebagai berikut:

1. Membuat monografi fiskal untuk menghitung potensi pajak yang sesungguhnya, sehingga dapat dihitung besarnya tax gap (selisih antara realisasi penerimaan dengan potensi pajak);

2. Melakukan ekstensifikasi pajak untuk menjaring Wajib Pajak baru serta meningkatkan coverage ratio;

Dalam rangka optimalisasi kinerja fungsi pendataan dapat juga dikembangkan kegiatan sebagai berikut:

1. Melakukan sensus pajak daerah untuk pajak daerah yang dipungut dengan sistem self assessment, seperti Pajak Hotel dan Pajak Restoran.

2. Mengembangkan data spasial dari Sistem Informasi Geografis (SIG Pajak Bumi dan Bangunan) untuk keperluan pembentukan data spasial objek pajak daerah lainya.

D.1.5. Fungsi Pemeriksaan Pajak

Fungsi pemeriksaan pajak setidaknya melaksanakan tugas pemungutan pajak sebagai berikut:

1. Melakukan pemeriksaan sederhana lapangan (PSL), atau disebut juga dengan verivikasi lapangan. yaitu pemeriksaan pajak untuk mencocokkan atau memverivikasi data tertentu;

2. Melakukan pemeriksaan pajak, yaitu pemeriksaan dilakukan dengan melihat pembukuan atau pencatatan wajib pajak secara lengkap.

D.1.6. Fungsi Penagihan Pajak

Fungsi penagihan pajak setidaknya melaksanakan tugas pemungutan pajak sebagai berikut:

1. Memproses Surat Teguran dan mengirim kepada Wajib Pajak;

2. Memproses penerbitan Surat Paksa dan menyampaikan Surat Paksa kepada Wajib Pajak;

3. Memproses Surat Keputusan angsuran pembayaran pajak;

4. Menerbitkan Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD) bunga penagihan atas SKPDKB/SKPDKBT/SK Keberatan/SK Pembetulan/Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus bertambah pada saat tanggal jatuh tempo belum dibayar;

5. Melakukan penyitaan;

6. Melakukan pemblokiran rekening Wajib Pajak di tersempan di bank, serta tindakan penagihan aktif lainya.

D.2. Pengukuran Variabel Stuktur Organisasi

Nasucha (2004) menyebutkan bahwa modernisasi struktur organisasi adalah pendekatan modernisasi administrasi yang berusaha untuk mengatasi masalah-masalah organisasi yang berskala besar guna mengatasi biropatologi dan disfungsi organisasi. Dalam melakukan penelitian mengenai reformasi administrasi perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak. Nasucha (2004) melakukan

pengukuran dimensi struktur organisasi menggunakan indikator dan butir pertanyaan. Instrumen tersebut juga digunakan oleh Sofyan (2005). Beberapa indikator dan butir pertanyaan tersebut dapat digunakan dalam penelitian ini untuk melakukan pengukuran dimensi struktur organisasi (disesuaikan dengan tujuan penelitian), yaitu sebagai berikut:

1. Pembenahan fungsi pelayanan, penelitian SPTPD, pemeriksaan pajak, serta pengawasan internal;

2. Pendelegasian otoritas kegiatan pelayanan dan pemeriksaan; 3. Sistem pelaporan secara rutin;

4. Jalur pengawasan tugas pelayanan, penelitian SPTPD dan pemeriksaan. Dimensi struktur organisasi dalam sistem administrasi perpajakan modern juga mencakup mengenai spesifikasi tugas dan tanggung jawab yang mempunyai tugas khusus, antara lain:

1. Penunjukan Account Representative yang khusus melayani dan mengawasi pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak secara langsung.

2. Pemeriksaan pajak hanya dilakukan oleh tenaga fungsional pemeriksa dengan alokasi tenaga fungsional pemeriksa disesuaikan dengan tingkat resiko pemeriksaan.

3. Spesialisasi pegawai lainnya seperti jurusita pajak dan programmer teknologi informasi.

E. DIMENSI PROSEDUR ADMINISTRASI PAJAK

Dimensi prosedur organisasi terkait erat dengan dimensi struktur organisasi. Karena dalam pembentukan tipe organisisasi, bagan organisasi,

pembagian struktur serta departementalisasi terkait pula pembagian kerja, pembagian tugas dan tanggung jawab (kewenangan) serta prosedur antar bagian/divisi. Tinjauan mengenai prosedur organisasi tidak melihat dimensi organisasi secara statis namun melihat dimensi organisasi secara dinamis dengan memperhatikan pembagian tugas dan wewenang serta komunikasi dalam menjalin kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Titik berat tinjauan dimensi prosedur organisasi lebih kepada perubahan metode, proses dan prosedur kerja agar operasionalisasi pelaksanaan pekerjaan dapat dilakukan dengan cepat mudah dan akurat.

Nasucha (2004) menyebutkan bahwa peubahan/modernisasi prosedur organisasi adalah penyempurnaan administrasi dalam model pemberian pelayanan dan pemeriksaan yang disesuaikan dengan tuntutan undang-undang, masyarakat, serta biaya yang tersedia. Selanjutnya, Nasucha dalam melakukan penelitian mengenai reformasi administrasi perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak dalam melakukan pengukuran dimensi prosedur organisasi menggunakan indikator dan butir pertanyaan. Instrumen tersebut juga digunakan oleh Sofyan (2005). Beberapa indikator dan butir pertanyaan tersebut dapat digunakan dalam penelitian ini untuk melakukan pengukuran dimensi prosedur organisasi (disesuaikan dengan tujuan penelitian), yaitu:

1. Perubahan metode pelayanan dan pengawasan kepatuhan Wajib Pajak. Melalui perubahan metode pelayanan dan pengawasan kepatuhan Wajib Pajak, maka fungsi-fungsi pelayanan dan pengawasan kepatuhan Wajib Pajak yang telah ada pada struktur organisasi dapat dilaksanakan secara lebih cepat, efisien dan efektif. Perubahan metode yang diterapkan dapat

berupa penyederhanaan prosedur pelayanan serta terdapat petugas khusus sebagai costumer service atau petugas konseling;

2. Inovasi Proses. Inovasi proses ditujukan untuk mempercepat saluran informasi dengan menggunakan sistem informasi atau alat lainnya. Melalui penggunaan sistem informasi, ditujukan agar SOP yang telah ditetapkan dan diatur serta instruksi kerja dapat dilaksanakan lebih cepat, dapat terpantau (akurat), efisien dan efektif. Penggunaan sistem informasi dapat meningkatkan produktivitas serta ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan. Demikian juga melalui penggunaan cash register, maka data cash register tersebut dapat diakses secara online, atau dengan cara upload oleh Kantor Pajak kapan saja. Inovasi proses dapat juga dilakukan agar komunikasi dengan Wajib Pajak dapat dilakukan secara lebih intensif dan terbuka dengan didukung oleh seringnya dilakukan pertemuan rutin dan kunjungan pembinaan;

3. Perubahan metode operasional merupakan perubahan metode yang sebelumnya dilakukan secara manual beralih kepada otomasi. Dengan dipergunakannya otomasi dalam pemungutan pajak, maka pembayaran dan pelaporan wajib pajak dapat dimonitor secara lebih cepat dan akurat dengan menggunakan sistem informasi. Penggunaan otomasi dalam pemungutan pajak dapat dilihat dari apakah semua petugas dilengkapi dengan personal computer yang terkoneksi dalam Sistem Informasi Perpajakan.

F. DIMENSI STRATEGI ORGANISASI PAJAK

Perubahan strategi organisasi adalah penyempurnaan dengan melakukan perencanaan untuk mencapai tujuan organisasi. Strategi organisasi

menggambarkan secara umum arah organisasi serta keperluan yang nyata, baik di tingkat unit kegiatan maupun organisasi secara keseluruhan.

Dalam mencapai tujuan meningkatkan penerimaan pajak, strategi yang ditempuh oleh Kantor Pajak dapat berupa (Sofyan, 2005):

1. Melakukan kampanye sadar dan peduli pajak. Kampanye dan sosialisasi perpajakan sebagai bagian dari good governance framework melalui berbagai pihak, seperti perguruan tinggi, tokoh agama, dan juga melalui media massa, portal website, serta pemasangan billboard di tempat-tempat strategi dan meningkatkan kinerja penyuluhan sebagai information service dan public relation;

2. Simplifikasi administrasi perpajakan. Dukungan teknologi informasi mempercepat proses pelayanan dan pemeriksaan dimana basis data dikembangkan dalam jaringan online memungkinkan kecepatan akses informasi dan juga pelayanan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) dan pembayaran pajak secara online mengurangi administrative cost dan compliance cost;

3. Intensifikasi penerimaan pajak, diantaranya dapat dilakukan dengan:

 melaksanakan pengawasan (monitoring) terhadap klasifikasi kategori Wajib Pajak menurut besaran omset tertentu atau kawasan tertentu yang tingkat kepatuhannya masih rendah dan/atau potensi perpajakannya masih dapat digali;

 meningkatkan kegiatan pemeriksaan pajak untuk memberikan deterrent effect yang positif;

 melaksanakan kegiatan penagihan pajak aktif melalui pemberitahuan Surat Paksa, penyitaan, lelang, pemblokiran

kekayaan (rekening) Wajib Pajak/Penanggung Pajak yang tersimpan di bank, pencegahan dan penyanderaan;

4. Mengembangkan mekanisme internal quality control atas pelaksanaan pelayanan dan pemeriksaan.

Strategi untuk mengintensifkan penggalian potensi pajak menjadi program kerja yang harus direncanakan dan kemudian dilaksanakan pada periode waktu tertentu sesuai program kerja. Untuk dapat mengukur keberhasilan suatu program kerja, harus dibuat parameter apa saja yang menjadi tujuan program kerja. Beberapa parameter dikembangkan untuk untuk mengukur kinerja/program Kantor Pajak Daerah sebagaimana pada gambar 2.10.

Gambar 2.10. Penerimaan Pajak Berdasar Basis Pajak vs Potensi Pajak Berdasarkan

PDRB

BASIS PAJAK

WP/Objek Tarif

Penerimaan yang masuk dilakukan identifikasi

Berdasarkan gambar, terdapat beberapa parameter yang dapat dikembangakan untuk mengukur kinerja penggalian pajak. Kinerja pertama yang perlu diukur adalah seberapa besar jumlah Wajib Pajak yang dapat dijaring dan

Tambah – Muncul

Dokumen terkait