BAB IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
2. Perumahan
Pemukiman penduduk di wilayah Batujajar berciri menyebar dan kurang tertata dengan baik. Batas antara rumah yang satu dengan yang lainnya biasanya hanya berupa pagar tanaman hidup. Namun demikian masyarakat mempunyai hubungan yang baik antar tetangga. Hal ini tercermin dari adanya kerjasama antar masyarakat dalam penyelengaraan pesta hajatan atau dalam kegiatan upacara kematian. Kondisi rumah-rumah hunian masyarakat Batujajar cukup beragam, dari keseluruhan jumlah rumah yang ada di desa Batujajar 1.070 buah, terdiri dari 778 buah rumah permanen dan 292 buah rumah tidak permanen. Dari seluruh rumah ter nyata terdapat 284 buah
(26,5%) memiliki sanitasi (WC) sendiri, sedangkan keluarga yang menggunakan MCK di sungai mencapai 350 atau sekitar 32,7 persen.
Desa Batujajar merupakan salah satu unit pemerintahan terkecil dibawah kecamatan Cigudeg. Desa ini me liputi 11 (sebelas) wilayah administrasi yang disebut dusun. Dusun-dusun itu sendiri meliputi unit-unit administrasi yang disebut kampung. Setiap kampung terbagi dalam rumahtangga-rumahtangga yang didiami oleh penduduk dan secara keseluruhan membentuk suatu lingkungan sosial tersendiri. Pola pemukiman penduduk menyebar diseluruh desa namun kebanyakan pemukiman berada dipinggir jalan besar. Kondisi kawasan berupa perbukitan juga menjadi faktor terpencarnya pemukiman warga. Warga lebih memilih tinggal di daerah dataran rendah dibandingkan daerah dataran tinggi. Hal ini dimungkinkan mempunyai rumah di pinggir jalan lebih mudah aksesnya terhadap kebutuhan sehari-hari.
Kalau melihat kondisi rumah untuk mengetahui tingkat kemakmuran masyarakat di desa Batujajar maka dusun Sinengah yang rata-rata dihuni orang-orang berada. Bangunan rumah besar-besar dengan perabotan yang merupakan ciri masyarakat kota, sedangkan dusun yang paling miskin adalah dusun Bolang yang sebagian besar masyarakatnya menempati rumah yang sangat sederhana, ukuran kecil dan kebanyakan setengah permanen.
Pengelolaan sampah di perkampungan, biasanya sampah dibuang begitu saja di tanah-tanah kosong di sekitar rumah-rumah mereka bahkan juga dibuang ke sungai, tetapi dalam kondisi kering biasanya dibakar.
4.1.3 Demografi Desa Batujajar 1. Penduduk
Penduduk Batujajar sebagian besar merupakan masyarakat asli dengan komposisi 97 persen masyarakat asli dan tiga persen pendatang, dengan jumlah
penduduk sebanyak 5.272 tahun 2004. Jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan yaitu sekitar 2.742 jiwa atau 52 persen penduduk laki-laki dan 2.527 jiwa atau 48 persen penduduk perempuan.
Bila dilihat dari komposisi penduduk menurut umur, terlihat bahwa peresentase pendududk usia muda (0-15 tahun) cukup tinggi yaitu sekitar 39,7 persen dan penduduk usia belum wajib sekolah (< 6) juga cukup besar sekitar 19,8 persen dari total penduduk. Penduduk usia tua (> 60 tahun) juga cukup tinggi yaitu sekitar 18,4 persen. Sebagian besar penduduk merupakan penduduk usia produktif (16-60) tahun, yaitu sekitar 41,8 persen. Banyaknya penduduk usia non-produktif dan sedikitnya penduduk usia produktif, bisa memberikan kemungkinan yang berbeda, yaitu (angka harapan hidup penduduk Batujajar tinggi; (2) keluarga cenderung mempunyai anak lebih dari satu dengan rentang kelahiran yang rendah. Bila diasumsikan bahwa pendududk usia non produktif adalah usia 0-15 tahun dan > 60 tahun, maka Rasio Beban Tangungan (RBT), jumlah penduduk usia non produktif yang ditanggung oleh penduduk usia produktif adalah sekitar sebesar 139,4 jiwa10. Rasio beban tanggungan sebesar ini bisa dikatakan tinggi, karena dari 100 orang penduduk usia produktif menanggung sekitar 139 orang penduduk usia non produktif.
Kepadatan pendududk Batujajar, dengan luas desa sekitar 820 ha, pada tahun 1994 sekitar 5.112 jiwa dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 5.272 jiwa.
Tabel. 4. Jumlah dan Persentase Pria dan Wanita Penduduk Batujajar menurut Usia
No Usia Pria Persen Wanita Persen
1 0 – 6 540 10,2 506 9,6
2 7-15 511 9,7 543 10,2
3 16-60 1 176 22,3 1 026 19,5
4 >60 518 9,8 452 8,6
Jumlah 2 742 52 2 527 48
Sumber: Data monografi desa Batujajar 2005.
10 RBT= Jumlah Pendududk Usia 0-15 Tahun dan Usia>60 tahun Jumlah penduduk Usia 15 tahun - usia 60 Tahun
2. Ketenagakerjaan
Ketenagakerjaan disini mengacu kepada sumber nafkah utama penduduk Batujajar dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada tabel 6 dapat dilihat bahwa sebagian besar pendududuk Batujajar adalah petani dan buruh tani. Jumlah pendududk usia kerja di desa Batujajar adalah 28 persen. Penduduk yang belum bekerja adalah 44,9 persen Selanjutnya penduduk yang bukan usia kerja adalah 27,1 persen Dari data ini dapat dilihat bahwa jumlah penduduk yang bukan usia kerja hampir sebanding dengan penduduk usia kerja dan jumlah penduduk yang bekerja lebih lebih banyak dibandingkan penduduk yang tidak bekerja.
Tabel 5. Kondisi Ketenagakerjaan Masyarakat Batujajar.
No Kategori Jumlah Persen
1 Penduduk usia kurang dari 15 tahun 2 109
40,0 3 Jumlah Angkatan kerja penduduk usia 15-55 670 12,7 4 Jumla h Penduduk Usia 15-55 yang masih sekolah 57 1,1 5 Jumlah Penduduk usia 15-55 yang menjadi ibu
rumahtangga
1 080 20,5 6 Jumlah Penduduk usia 15-55 yang bekerja penuh 105 1,9 7 Jumlah penduduk usia 15-55 tahun yang bekerja tidak
tentu
205 3,8
8 Penduduk usia ≥56 1 046 19,8
Jumlah Total 5 272 100,0
Sumber : Data monografi desa Batujajar 2005
Pemilikan dan penguasaan lahan berpengaruh terhadap pilihan kerja masyarakat. Dari data tabel 6 menunjukkan bahwa sektor pertanian (petani, buruh tani) menjadi pekerjaan utama masyarakat Batujajar. Kecenderungan menunjukkan sektor pertanian hanya digeluti oleh orang-orang tua. Sedangkan anak-anak muda lebih cenderung bekerja di kota, sebagai buruh bangunan, buruh pabrik atau berdagang. Sedangkan pemuda yang tetap berada di desa lebih memilih menjadi tukang ojek, atau menjadi buruh di pertambangan sebagai sopir atau Pemantek.1
Tabel 6. Jumlah Penduduk Usia Kerja Desa Batujajar Menurut Matapencaharian Tahun 2003
No Mata Pencaharian Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1 Karyawan a. Pegawai negeri sipil/TNI 12 0,56 b. Pemsiunan PNS 8 0,37 c. Swasta 108 5,10 2 Pedagang 303 14,31
3 Tani dan Buruh Tani 1 850 87,38
4 Peternakan 2 0,09 5 Penggilingan Padi 5 0,23 6 Pertukangan 7 0,33 7 Penyewaan Traktor 1 0,04 8 Angkutan 7 0,33 9 Ojek 24 1,13 10 Jasa Lainnya 93 4,39 Total 2 117 100
Sumber : Data monografi Desa Batujajar 200 3
3. Pendidikan
Komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan menggambarkan tingkat kemajuan suatu wilayah dalam pembangunan, baik pembangunan pada tingkat pendidikan itu sendiri maupun pembangunan yang lain seperti dalam bidang ilmu pengetahun. Penduduk desa Batujajar menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 7 yang menunjukkan bahwa umumnya tingkat pendidikan di desa Batujajar saat ini adalah tidak sekolah atau tidak tamat SD mencapai 6,7 persen, SD 75,2 persen, SLTP 0,76 persen, SLTA 0,57 persen serta perguruan tinggi 0,17 persen.
Tabel 7. Jumlah dan Presentase tingkat Pendidikan Desa Batujajar Tahun 1994 dan2004 Tahun 1994 Tahun 2004
No Tingkat Pendidikan
Jumlah Jiwa Jumlah Jiwa
1 Belum Sekolah 1 006 6,8% 924 17,5% 2 Tidak Tamat SD 350 0,7% 355 6,7% 3 SD/Sederajat 3 693 72,2% 3 934 75,2% 4 SLTP 37 0,4% 40 0,76% 5 SLTA 23 0,05% 30 0,57% 6 PT/Akademi 3 19,6% 9 0,17% Jumlah 5 112 100 5 272 100
Sumber : Data monografi Desa Batujajar
1 Pantek. Buruh pemecah batu di daerah pertambangan. Batu yang berdiameter antara 0,5-1 meter dipecah dengan palu besar, menjadi kepingan sebesar kepalan tangan.
4.2 Kehidupan ekonomi, Sosial dan Budaya. 1. Kehidupan Ekonomi.
Di daerah Batujajar suatu hal yang menjadi ukuran ekonomi dan kebanggaaan penduduk adalah rumah, sawah dan perabotan mewah. Kesadaran untuk investasi terhadap pendididkan bagi anak-anaknya masih belum membudaya. Kondisi rumah di desa Batujajar secara keseluruhan cukup bagus, dengan artian, sudah tidak terlalu banyak penduduk yang rumahnya berlantai tanah dan berdinding anyaman. Sebagian besar besar sudah permanen dan semi permanen, namun kalau dilihat dari kelengkapan sanitasi maka masih kurang. Hampir 90 persen responden masih menggunakan sungai untuk mandi, cuci dan kakus (MCK).
Umumnya yang bekerja adalah kepala rumahtangga. Tiap kepala rumahtangga menanggung empat sampai delapan orang. Kondisi rumahtangga yang kurang mampu akan mendororng tenaga kerja dari pihak istri dan anak-anak untuk turut serta mencari uang. Kondisi inilah yang mendororng or ang tua yang kondisi ekonominya sulit untuk melepas/menikahkan anaknya di bawah umur 20 tahun.
Kebutuhan pokok yang lain adalah makan. Makanan pokok adalah nasi, yang pada umumnya penduduk makan tiga kali sehari, tetapi ada juga yang hanya makan dua kali sehari. Hal ini karena kebiasaan. Sesuai dengan kemampuannya dalam hal makan, mereka menggunakan sayur. Kebanyakan sayur diperoleh dari pekaranganan, antara lain daun ketela daun mlinjo, terong dan sebagainya, atau dapat diperoleh dari warung secara membeli. Pada saat makan kecuali mengguanakan sayur, juga menggunakan lauk-pauk. Lauk pauk yang digunakan beraneka ragam jenisnya, ini tergantung dari kondisi ekonominya. Kebanyakan lauk pauk yang digunakan adalah ikan asin, tahu, tempe, krupuk, daging/ikan, telor dan sebagainya. Mengenai buah-buahan masyarakat
menanamnya di gunung-gunung tanah perusahaan yang belum ditambang yakni biasanya ditanamai pisang dan durian serta kelapa.
Sementara itu tinggi rendahnya taraf hidup seseorang ditentukan oleh besar kecilnya pendapatan mereka masing-masing. Pendapatan rata-rata perkapita juga dipengaruhi oleh besar kecilnya jumlah keluarga atau penduduk setempat. Sehubungan dengan hal tersebut pendapatan rata-rata perkapita di desa Batujajar adalah Rp9.600.000,00. Untuk mengetahui tingkat kecukupan daerah ini, perlu dikemukakan tentang kriteria pendapatan perkapita kedalam golongan cukup atau tidak cukup. Pendapat Sayogyo, yang telah merinci kebutuhan kalori kedalam kelompok garis kemiskinan berdasarkan takaran beras sebagai pengganti sebesar 320 kg pertahun perorang berarti masuk kategori cukup atau tidak miskin. Penghasilan 320 kg sampai 240 kg pertahun perorang adalah miskin; penghasilan antara 240-180 kg pertahun perorang adalah miskin sekali. Berdasarkan kriteria tersebut yang tergolong cukup adalah dari yang berpenghasilan 320 kg beras keatas di daerah pedesaan dan 480 di daerah perkotaan. Oleh karena daerah penelitian merupakan daerah pedesaan, maka dalam penulisan digunakan kriteria minimal setara dengan 320 kg beras pertahun perorang berarti cukup dan penghasilan setara dengan kurang dari 320 kg beras berarti tidak cuku
Tabel 8. Jumlah dan Persentase Pendapatan Responden
No Pendapatan/Bulan ( Rp) Jumlah persen 1 < 432 000 15 75 2 432 000 - 750 000 3 15 3 >750 000 2 10 Jumlah 100
Pendapatan responden tersebut apabila disetarakan dengan beras bernilai lebih dari 320 kg, yang bila di setarakan kerupiah akan mencapai angka Rp72.000,00/ bulan / kepala, berarti tingkat kecukupan pangan hanya 15 persen cukup dan 10 persen lebih
dari cukup dan hampir 75 persen berada dibawah angka kecukupan minimal menurut ukuran Sayogjo. Berdasarkan perkiraan harga rata-rata, beras per kg adalah Rp2.700 maka garis kecukupan pangannya Rp72.000,00/bulan/kepala. Sementara itu jumlah perkepala keluarga enam orang, maka garis kecukupan pangan perkeluarga adalah Rp 5.184.000 pertahun
Tabel 9. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Antar Dusun di Desa Batujajar.
No Nama Dusun Jumlah Penduduk
Miskin Persen 1 Sinengah 12 8,2 2 Tipar 10 6,8 3 Wakap 8 5,47 4 Pasir Gedong 3 2,05 5 Bolang 32 21,9 6 Babakan 47 32,19 7 Curug 3 2,05 8 Pasir Kalong 23 15,75 9 Pabuaran 8 5,479 Jumlah 146 100
Sumber: Data Monogarafi Desa Batujajar Juli 2005
Pengangguran kelihatan mencolok sekali dimasyarakat Batujajar, selama pengamatan penulis, tiap hari bisa melihat pemuda maupun orang tua yang nongkrong tanpa ada kerjaan setiap jam produktif, yakni jam 9-12.00 sehingga akibatnya mereka memanfaatkan adanya uang setoran (upeti) dari truk-truk yang lewat. Pos yang dibangun sepanjang jalan di Batujajar ada sekitar, tujuh pos yang setiap pos mengutip tarif yang berbeda. Nilainya sekitar Rp 2.000-Rp 4.000 per sekali jalan. Setiap hari diperkirakan ada sekitar seratusan truk yang melewati jalan di Batujajar, sehingga bisa dihitung pemasukan kas desa perharinya hampir mencapai Rp300.000-Rp400.000 atau sekitar Rp12.000.000 perbulan. Namun sebagaimana yang penulis konvirmasikan dengan aparat desa yakni pembantu sekretaris desa pemasukan ke desa perharinya sekitar Rp20.000,00 per hari.
2. Kehidupan Sosial Budaya
Kehidupan masyarakat yang sebagian besar dipengaruhi adat sunda. Kehidupan keagamaan tidak terlalu nampak, kalau mengacu pembagian golongan keagamaan oleh Gertz yang membagi menjadi tiga golongan yakni abangan, santri dan priyayi, sebagian besar masyarakat desa Batujajar masuk dalam golongan abangan. Meskipun ada lima lembaga keagamaan (pesantren) dan juga rumah–rumah untuk mengajari ngaji terhadap anak-anak kecil, ciri yang menonjol masih kuatnya adat sunda dalam peri kehidupan sehari-hari. Ada dua golongan tokoh masyarakat terkait dengan pengaruhnya dalam hal keagamaan, yakni yang anti Speker (mengharamkan TV dan pengeras suara) dan ada yang membolehkan. Dua tokoh masyarakat ini punya kecenderungan kuat untuk perang pengaruh di desa Batujajar. Masing-masing pihak memegang keyakinan masing-masing, namun golongan yang anti speker dimasyarakat punya citra yang kurang baik. Semisal Ustadz dari golongan aspek tak akan menghadiri acara perkawinan yang menggunakan speker dalam mendukung kemeriahan acara meskipun sudah diundang. Sedangkan dari pihak yang mendukung pengeras suara biasanya lebih moderat (toleran).
3. Teknologi Penanaman Padi
Hampir 98 persen lahan sawah di desa Batujajar ditanami padi. Penanaman biasanya dimulai bulan Desember dan panen sekitar bulan Mei. Lahan sawah rata -rata ditanami 2 kali selama setahun, namun jika air melimpah yakni pada musim penghujan maka panen bisa dilakukan sebanyak 3 kali. Produktivitas lahan buat penanaman padi tergolong rendah yakni sekitar 1,6 ton per hektarnya. Hal ini sebenarnya diakui oleh responden bahwa produktivitas yang rendah sebagai akibat dari minimnya pengetahuan menanam padi serta modal untuk membeli benih pabrik. Benih yang petani gunakan biasanya diambil dari hasil panen. Yang dirasa terbaik (padat berisi dan besar) mereka
sisihkan untuk dijadikan benih. Menurut responden sebenarnya pihak desa pernah memberikan penyuluhan tentang pemakaian bibit yang baik namun karena terbatasnya modal maka petani cenderung “berhemat” dengan membuat bibit sendiri.
Cara pengolahan lahan di desa Batujajar hampir sama dengan petani-petani Jawa lainnya, alat yang mereka gunakan yakni cangkul, sabit, parang dan alat luku beserta kerbaunya. Pertama kali yang dilakukan untuk membudidayakan tanaman padi adalah dengan membersihkan sisa tanaman hasil panen sebelumnya, yaitu dengan memotong-motong jerami dan membakarnya. Abu dari jerami mereka taburkan keseluruh lahan yang mau ditanami. Menurut responden cara ini lebih cepat dari pada dibiarkan membusuk walaupun mereka paham bahwa jerami yang membusuk dapat menjadi pupuk yang baik buat tanaman padi. Alasan lainnya yakni ketika menggaru/ngluku jerami yang dibiarkan akan menghalangi kerja, karena biasanya menyangkut di alat bajak/luku sehingga beban tenaga menjadi berat.
Sekitar 3 sampai 4 minggu sebelum mengerjakan sawah para petani sudah terlebih dahulu membuat persemaian. Dengan demikian pada tiba saatnya menanam, maka bibitnya sudah siap. Setelah itu laha n mulai diairi dan didiamkan selama beberapa hari. Setelah lahan dirasa cukup gembur maka mulailah dibajak dengan menggunakan luku. Alat ini digunakan untuk membalik tanah supaya akar-akar tanaman sebelumnya bisa terangkat dan mati. Di desa Batujajar biasanya luku ditarik kerbau. Pemakaian luku yang ditarik kerbau lebih banyak diminati petani ketimbang traktor mesin, yang kepemilikannya hanya satu orang di desa Batujajar. Alat luku tidak semua petani mempunyai, maka untuk menggarap lahan sawahnya biasanya dikerjakan dengan mengupah orang lain yang punya luku, dengan bayaran kerja yang dihitung dengan ukuran mereka sendiri. Pengerjaan ngluku dimulai pukul 07.00-10.00
dengan ongkos Rp 30.000, tanpa tambahan rokok atau makanan ringan, dan Rp.25.000,00 jika memberi makan dan rokok.
Selanjutnya jika tanahnya sudah diluku atau dibedah maka tanah dibiarkan untuk beberapa hari lamanya dengan harapan supaya akar-akar yang terbalik dan sisa- sisa tanaman menjadi busuk dan dapat dimanfaatkan untuk pupuk. Selain menungggu waktu petani disibukkan dengan adanya pekerjaan lain seperti memperbaiki saluran air, mencangkuli pematang yaitu ditampingi pada bagian pematang yang tegak selanjutnya pada pematang yang datar mulai diperbaiki dan ditambah tanah dari sawah atau ditemboki. Disamping itu juga mencangkuli pada sawah yang tidak terjangkau oleh luku yang disebut disiku.
Didalam mengolah sawah yang akan ditanami padi, pengairannya selalu dijaga dan jangan sampai kekeringan. Sebab bila sampai terjadi maka tanah yang akan diolah menjadi keras. Berikutnya mulai meratakan tanah dengan menggunakan garu yang ditarik oleh sapi dan kerbau. Pada hari berikutnya tanah yang sudah diratakan itu langsung dilumatkan dengan menggunakan garu yang ditarik oleh sapi atau kerbau. Dengan selesainya digaru, maka lahan tersebut siap untuk ditanami, namun sebelumnya lahan tersebut diberi pupuk TSP dan didiamkan selama semalam supaya pupuknya mengendap dan tanahnya tidak panas.
Setelah tanamannya kira-kira 2 minggu mulai dibe ri pupuk kimia atau Urea. Memupuk tanaman pada waktu ini dimaksudkan supaya tanamannya bertunas banyak banyak dan dapat tumbuh dengan subur. Sebelum sawah tersebut diberi pupuk lebih dahulu sawahnya dikeringkan atau tidak dialiri sekitar 4 hari. Hal ini dimaksudkan supaya pupuknya mengendap ke tanah dan dimakan oleh akar padi. Dengan diberinya pupuk, maka akan merangsang tumbuhnya rumput liar. Untuk itu setelah rumputnya bermunculan biasanya langsung disiangi atau di bersihkan. Pada waktu menyiangi
biasanya menggunakan alat sabit atau menggunakan tangan dengan cara dicabuti rumputnya.
Selama perawatan tanaman, selain menjaga pengairan menyiangi dan memberi pupuk bila tanaman padi terserang hama, maka secepatnya harus diberantas. Menurut para responden, bila tanaman terserang hama tikus dan keong mas maka paling susah untuk memberantasnya. Tikus menyerang ketika tanaman hampir panen, biasanya pada malam hari. Sedangkan hama keong menyerang ketika tanamaan baru berumur seminggu sampai sebulan. Yang diserang adalah bagian pangkal tanaman sehingga tanaman akan layu dan mati. Pemberantasannya amat susah karena jumlahnya untuk ukuran lahan sawah 2000m² bisa mencapai ribuan keong mas. Sedangkan obat-obatan di pasaran menurut responden belum ada yang efektif memberantasnya. Untuk itulah petani menggunakan cara konvensioanal dengan memunguti langsung dan membungkusnya dengan plastik dan membiarkannya supaya mati
BAB V
STRUKTUR AGRARIA DESA BATUJAJAR
5.1. Sistem Pemilikan dan Praktek Pemanfaatan Lahan
Tanah merupakan faktor produksi yang sangat penting dalam kegiatan perta nian. Luas pemilikan dan penguasaan lahan sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan petani. Pemilikan lahan adalah hak atas tanah yang dapat dimiliki oleh seseorang. Hak milik tersebut dapat diperoleh dari warisan, jual beli, hibah, penukaran atau pemberian dari pihak lain. Sedangkan penguasaan adalah lahan yang diperoleh dari menyewa, menggadai atau menyakap lahan pertanian orang lain.
Lahan di daerah penelitian terdiri atas sawah, pekarangan dan tegalan. Sawah adalah lahan pertanian yang diairi dengan saluran irigasi atau air hujan. Lahan pekarangan adalah lahan di sekitar rumah, kebanyakan berpagar dan biasanya ditanami dengan beraneka tanaman musiman dan tanaman tahunan untuk keperluan sendiri maupun diperdagangkan. Sedangkan lahan tegalan adalah lahan kering di luar pekarangan yang ditanami tanaman musiman dan tanaman tahunan.
Tabel 10. Luas Pemilikan Lahan Sawah Responden
Kepemilikan Lahan Sawah
No Luas Lahan Jumlah Perse n 1 Tidak punya 4 20 2 <0,25 12 60 3 0,25 - <0,50 2 10 4 ≥0,50 2 10 Jumlah 20 100
Sumber : Data Primer 2005
Sistem pemilikan lahan yang berlaku di desa Batujajar adalah terdiri dari tanah bersertifikat, dan tanah belum bersertifikat. Tanah bersertifikat telah memiliki dasar hukum positif yang jelas, yang menunjukkan hak atas tanah dari pemilik tanah. Selain tanah bersertifikat, masih ada sejumlah luasan tanah yang belum bersertifikat. Secara
hukum normatif (hukum adat) dapat diakui sebagai hak milik, tetapi secara positif tidak dapat dibuktikan secara jelas. Kecenderungan para pembeli lahan di perbukitan (Pengusaha), setelah membeli lahan segera mengurus sertifikat lahan sedangkan warga desa yang sebelumnya memiliki lahan tersebut tidak mempunyai sertifikat, sebagaimana yang dituturkan Sekretaris desa Batujajar Pak Dadi (40 tahun):
“ Biaya pembuatan sertifikat lahan untuk sebagian besar masyarakat Batujajar boleh dibilang mahal, sehingga kebanyakan masyarakat belum punya sertifikat. Beda dengan pengusah, setelah proses jual beli selesai mereka langsung membuat sertifikat. Mungkin untuk jaga -jaga agar dikemudian hari jika ada sengketa lahan, tidak merugikan pihak pengusaha..”
Tabel 11. Menunjukkan pembagian pemanfaatan lahan yang terdapat di desa Batujajar. Tanah-tanah ini umumnya dimanfaatkan untuk pemukiman, sawah, ladang dan pertambangan.
Tabel 11. Jenis Pembagian Pemanfataan Tanah di Desa Batujajar Tahun 2003 No Jenis Pemanfaatan Luas Lahan (ha) Persentase (%)
1 Lahan Sawah a. Sawah irigasi b. Sawah irigasi setengah Teknis c. Sawah tadah hujan 100 50 47 12,2 6,09 5,7 2 Tanah Kering a. Pekarang b.Perladangan c.Pemukiman 145,5 26 12 17,7 3,17 1,46 3 Pertambangan a. Aktif b. Non aktif 42 250,5 5,12 30,5 4 Perkebunan 147 17,9 Total 820 100
5.2 Kelembagaan Pemilikan dan Penguasaan Lahan 5.2.1 Bentuk-bentuk sewa dan sakap-menyakap
Beberapa studi kasus di pulau Jawa menunjukkkan di Jawa Barat petani menyakapkan tanah lebih banyak daripada menyewakan. Sebaliknya di Jawa Tengah dan Jawa Timur petani-petani lebih banyak menyewakan dari pada menyakapkan. Di desa Batujajar bentuk sewa dan sakap-menyakap hampir seimbang. Sewa biasanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu dan mempunyai lahan yang luas, sedangkan sakap-menyakap biasanya dilakukan oleh petani yang tidak punya lahan (tunakisma) atau yang berlahan sempit. Sewa menyewa lebih banyak dilakukan antara petani yang agak jauh hubungan kekeluargaannya, sedangkan sakap-menyakap lebih banyak dilakukan diantara petani yang mempunyai hubungan kekeluargaan yang lebih dekat.
5.2.2 Ceblokan
Ceblokan adalah memanen di sawah orang lain dan menerima dari hasil panenan sebagai upah memanen. Pemanen (penderep) menerima upah memanen (seperlima bagian) 20 persen dari hasil yang dipanen. Di Batujajar besarnya bawon (upah berupa padi) didapat dengan cara ikut memanen dan kerja menyiangi lahan orang lain disamping itu penyeblok juga harus mengolah tanah. Semua pekerjaan tambahan ini dilakukan tanpa dibayar (hanya diberi maka n). Hak panen dengan persyaratan- persyaratan seperti disebut diatas biasa disebut nyeblok atau ceblokan menurut bahasa setempat.
5.2.3 Maro
Untuk maro penyakap dan pemilik lahan masing-masing menerima separo bagian dari hasil kotor. Untuk kasus di Batujajar Saprodi ditanggung bersama, penyakap