BAB II LANDASAN TEORI
D. Perumusan Hipotesis
Penelitian terdahulu menunjukan hasil yang beragam mengenai asosiasi antara informasi CSR yang umumnya bersifat sukarela, yang diungkapkan oleh perusahaan dalam laporan tahunannya dengan kinerja pasar. Setiap perusahaan mempunyai kebijakan yang berbeda – beda mengenai pengungkapan sosial sesuai dengan karakteristik perusahaan. Terdapat beragam faktor yang sudah diteliti mempengaruhi perusahaan untuk mengungkapkan CSR kedalam laporan tahunan perusahaan.
Berdasarkan uraian landasan teori mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi luas pengungkapan CSR maka peneliti mengindikasikan faktor ukuran perusahaan, profitabilitas, dan tingkat pengawasan eksternal
yang dilihat dari aspek leverage, ukuran dewan komisaris, dan
kepemilikan saham go public sebagai variabel independen penelitian yang mempengaruhi pengungkapan CSR sebagai variabel dependen penelitian.
1. Ukuran perusahaan
Hubungan antara ukuran perusahaan dengan pengungkapan sosial perusahaan telah ditunjukkan dalam beberapa penelitian empiris dalam Achmad 2007 (Sebagai contoh, Belkaoui dan Karpik,
1989;Cowen et. al., 1987; Kelly, 1981; Ng, 1981; Patten 1991, 1992; Trotman dan Bradley, 1981). Ukuran suatu perusahaan dapat mempengaruhi luas pengungkapan informasi dalam laporan keuangan mereka. Secara umum perusahaan besar akan mengungkapkan informasi lebih banyak daripada perusahaan kecil. Teori agensi menyatakan bahwa perusahaan besar memiliki biaya keagenan yang lebih besar daripada perusahaan kecil (Marwata, 2001). Oleh karena itu perusahaan besar akan mengungkapkan informasi yang lebih banyak sebagai upaya untuk mengurangi biaya keagenan tersebut.
Penjelasan lain yang juga sering diajukan adalah perusahaan besar memiliki sumber daya yang besar, sehingga perusahaan perlu dan mampu untuk membiayai penyediaan informasi untuk keperluan internal. Informasi tersebut sekaligus menjadi bahan untuk keperluan pengungkapan informasi kepada pihak eksternal, sehingga tidak perlu ada tambahan biaya yang besar untuk dapat melakukan pengungkapan dengan lebih lengkap.
Sebaliknya, perusahaan dengan sumber daya yang relatif kecil mungkin tidak memiliki informasi siap saji sebagaimana perusahaan besar, sehingga perlu ada tambahan biaya yang relatif besar untuk dapat melakukan pengungkapan selengkap yang dilakukan perusahaan besar. Perusahaan kecil umumnya berada pada situasi persaingan yang ketat dengan perusahaan yang lain. Mengungkapkan terlalu banyak tentang jati dirinya kepada pihak eksternal dapat membahayakan
posisinya dalam persaingan sehingga perusahaan kecil cenderung tidak melakukan pengungkapan selengkap perusahaan besar (Singhvi dan Desai,1971; Buzby,1975) dalam Marwata (2001).
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:
H1: Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR
2. Profitabilitas
Hubungan antara pengungkapan CSR dan profitabilitas perusahaan telah dipostulasikan untuk merefleksikan pandangan bahwa kepekaan sosial membutuhkan gaya managerial yang sama sebagaimana yang diperlukan untuk dapat membuat perusahaan
menguntungkan (profitable) Bowman dan Haire (1976) dalam
Heckston dan Milne (1996).
Rasio profitabilitas merupakan rasio yang mengukur
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (profitabilitas) pada tingkat penjualan, asset, dan modal. Ada tiga rasio yang dapat digunakan dalam rasio profitabilitas, yaitu rasio profit margin, return on asset (ROA) dan return on equity (ROE). Profit margin mengukur sejauh mana perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu. Profit margin yang tinggi menandakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi pada tingkat penjualan
tertentu, atau biaya yang tinggi untuk tingkat penjualan tertentu. Secara umum rasio yang rendah bisa menunjukkan ketidakefisienan manajemen (Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim : 84).
Shingvi dan Desai (1971) dalam Binsar H.Simanjuntak dan Widiastuti (2004) menjelaskan bahwa profit margin yang tinggi akan mendorong para manajer untuk memberikan informasi yang lebih terinci, sebab mereka ingin meyakinkan investor terhadap profitabilitas perusahaan dan kompensasi terhadap manajemen. Berdasarkan hubungannya kepada para pemegang saham atau stakeholder, Teori Stakeholder mengatakan bahwa Stakeholder dan organisasi saling mempengaruhi, hal ini dapat dilihat dari hubungan sosial keduanya yang berbentuk responsibilitas dan akuntabilitas.
Oleh karena itu organisasi memiliki akuntabilitas terhadap stakeholdernya. Varian kedua teori stakeholder berhubungan dengan pandangan Trekers (1983) dalam Achmad (2007) mengenai emprical accountability. Robert (1992) menyatakan bahwa pengungkapan sosial perusahaan merupakan sarana yang sukses bagi perusahaan untuk menegosiasikan hubungan dengan stakeholdernya. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi profitabilitas akan mempengaruhi pihak manajerial suatu perusahaan untuk melakukan pengungkapan CSR lebih besar guna meyakinkan para pemegang saham dan stakeholder mereka sehingga semakin tinggi indeks kelengkapan pengungkapannya.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2: Profitabilitas berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR
3. Tingkat pengawasan yang diukur dengan leverage
Rasio leverage merupakan proporsi total hutang terhadap rata- rata ekuitas pemegang saham. Rasio tersebut digunakan untuk memberikan gambaran mengenai struktur modal yang dimiliki perusahaan, sehingga dapat dilihat tingkat resiko tak tertagihnya suatu utang.
Scott (2000) menyampaikan pendapat yang mengatakan bahwa semakin tinggi leverage kemungkinan besar perusahaan akan mengalami pelanggaran terhadap kontrak utang, maka manajer akan berusaha untuk melaporkan laba sekarang lebih tinggi dibandingkan laba dimasa depan. Dengan laba yang dilaporkan lebih tinggi akan mengurangi kemungkinan perusahaan melanggar perjanjian utang. Manajer akan memilih metode akuntansi yang akan memaksimalkan laba sekarang.
Menurut Belkaoui dan Karpik (1989) keputusan untuk mengungkapkan CSR akan mengikuti suatu pengeluaran untuk pengungkapan yang menurunkan pendapatan. Perusahaan dengan rasio leverage yang tinggi mengakibatkan pengawasan yang tinggi
dilakukan oleh debtholder terhadap aktivitas perusahaan. Sesuai dengan teori agensi maka manajemen perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi akan mengurangi pengungkapan tanggung jawab sosial yang dibuatnya agar tidak menjadi sorotan dari para debtholders. Sehingga tingkat leverage yang tinggi akan mengurangi tingkat pengungkapan CSR atau memiliki dampak negatif terhadap CSR.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Aulia (2011) dan Lidya
(2011) juga menunjukkan bahwa leverage berpengaruh negatif
terhadap pengungkapan CSR. Konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Aulia (2011) dan Lidya (2011), variabel leverage akan diuji kembali pengaruhnya terhadap pengungkapan CSR.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:
H3: Tingkat pengawasan yang diukur dengan leverage berpengaruh negatif terhadap pengungkapan CSR
4. Tingkat pengawasan yang diukur dengan ukuran dewan komisaris
Dewan komisaris merupakan wakil shareholder dalam entitas bisnis yang berbadan hokum Perseroan Terbatas (PT) yang berfungsi
mengawasi pengelolaan perusahaan yang dilaksanakan oleh
manajemen (direksi), dan bertanggung-jawab untuk menentukan apakah manajemen memenuhi tanggung jawab mereka dalam
perusahaan (Mulyadi, 2002) dalam Ardilla (2011). Dengan wewenang yang dimiliki, dewan komisaris dapat memberikan pengaruh yang cukup kuat untuk menekan manajemen agar mengungkapkan informasi CSR lebih banyak, sehingga dapat dijelaskan bahwa perusahaan yang memiliki ukuran dewan komisaris yang lebih besar akan lebih banyak mengungkapkan CSR. Sebagai wakil dari prinsipal di dalam perusahaan, dewan komisaris dapat mempengaruhi luasnya pengungkapan tanggungjawab sosial, karena dewan komisaris
merupakan pelaksana tertinggi didalam entitas. Dengan
mengungkapkan tanggung jawab sosial perusahaan, maka image
perusahaan akan semakin baik (Gray et al., 1988 dalam Fr.Reni, 2006).
Proporsi dewan komisaris cukup menentukan pengaruhnya terhadap pengungkapan sosial perusahaan. Beasly (2001) menyatakan bahwa semakin besar jumlah anggota dewan komisaris makan akan semakin mudah mengendalikan Chief Eexecutive Officer (CEO) dan monitoring yang dilakukan akan semakin efektif. Dengan demilkian, semakin besar dewan komisaris maka akan semakin mudah untuk mengendalikan CEO untuk mengungkapkan informasi sosial perusahaan. Sehingga keinginan untuk meningkatkan citra perusahaan akan semakin besar dan akan berdampak pada pengungkapan CSR yang lebih besar juga. Hal ini sejalan dengan penelitian Sabeni (2002)
dan Sembiring (2005) yang menunjukan hasil bahwa proporsi dewan komisaris mempengaruhi tingkat pengungkapan sukarela.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:
H4: Tingkat pengawasan yang diukur dengan ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR
5. Tingkat pengawasan yang diukur dengan kepemilikan saham public
Perusahaan public dan telah terdaftar dalam BEI adalah perusahaan- perusahaan yang memiliki proporsi kepemilikan saham oleh publik, yang artinya bahwa semua aktivitas dan keadaan perusahaan harus dilaporkan dan diketahui oleh publik sebagai salah satu bagian pemegang saham. Sehingga, semakin besar kemungkinan informasi mengenai keadaan dan kegiatan perusahaan dipantau oleh
masyarakat dan para stakeholder sehingga perusahaan harus melaporkan
informasi sebaik mungkin guna mendapatkan penilaian yang baik dimata publik. Karena semakin baik image yang dapat dibangun oleh perusahaan dimata publik, maka akan semakin banyak investor yang akan berinvestasi pada perusahaan tersebut. Hasibuan (2001) dalam Eka (2011) menjelaskan bahwa semakin tinggi rasio/ tingkat kepemilikan publik dalam perusahaan diprediksi akan melakukan tingkat pengungkapan yang lebih luas.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:
H5: Tingkat pengawasan yang diukur dengan kepemilikan saham public berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR