LANDASAN TEORI
D. Review Penelitian Terdahulu
2. Perumusan Hipotesis
Penelitian ini memiliki lima variabel, yaitu empat variabel
independen dan satu variabel dependen. Variabel independen yang
digunakan adalah earnings, leverage, operating cycle dan capital intensity.
Sementara itu, variabel dependen yang digunakan adalah arus kas masa
depan.
2. Perumusan Hipotesis
a. Kemampuan Earnings dalam Memprediksi Arus Kas Masa Depan
Penelitian yang dilakukan oleh Dahler dan Febrianto (2006)
tentang kemampuan prediktif earnings dan arus kas dalam
memprediksi arus kas masa depan menemukan hasil bahwa arus kas
operasi tahun berjalan memiliki kemampuan yang lebih baik dibanding
laba dalam memprediksi arus kas operasi masa depan. Laba akrual
didasarkan pada dua prinsip akuntansi, yakni, pengakuan pendapatan
dan prinsip penandingan. Prinsip pengakuan pendapatan meminta
perusahaan untuk mengakui pendapatan ketika telah melaksanakan
semua, atau satu bagian substansial dari jasa-jasa yang harus diberikan,
dan penerimaan kas dari transaksi tersebut adalah pasti. Prinsip
penandingan meminta perusahaan untuk mengakui semua biaya yang
terkait dengan pendapatan dalam periode yang sama di mana
pendapatan diakui. Karena proses akrual dianggap mengurangi
masalah waktu dan masalah penandingan yang melekat di arus kas,
commit to user
26
perusahaan (Dechow dalam Dahler dan Febrianto, 2006). Saat ini,
penelitian dalam kegunaan laba untuk keputusan investasi didasarkan
pada hipotesis bahwa laba merupakan proksi arus kas masa depan
perusahaan (Beaver, Ball dan Brown, Easton dalam Dahler dan
Febrianto, 2006). Atas dasar uraian penelitian tersebut maka hipotesis
dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
H1 : earnings berpengaruh terhadap arus kas masa depan perusahaan.
b. Kemampuan leverage dalam memprediksi arus kas masa depan
Ross dalam Shenoy dan Koch (1995) menyatakan bahwa
manajer menggunakan leverage sebagai sinyal untuk menilai pasar
mengenai kualitas suatu perusahaan, di mana kualitas digambarkan
sebagai tingkatan arus kas. Ross dalam Shenoy dan Koch (1995)
berpendapat sejumlah hutang dan modal yang dimiliki suatu
perusahaan menyediakan informasi kepada investor mengenai kualitas
suatu perusahaan. Ross dalam Shenoy dan Koch (1995) menyatakan
bahwa seorang manajer dengan kualitas yang tinggi akan
mengeluarkan lebih banyak hutang dan mempunyai tingkat leverage
yang tinggi, dan disimpulkan bahwa tingkat leverage yang tinggi dapat
dihubungkan dengan tingginya arus kas dalam periode yang sama.
Hasil berkebalikan diperoleh Blazenko, Poitevin dan Raviv dan Sarig
dalam Shenoy dan Koch (1995), sesuai dengan signalling theory, yang
menyebutkan bahwa tingkat leverage yang tinggi dapat dihubungkan
commit to user
27
yang dimiliki oleh perusahaan maka semakin besar pula tingkat arus
kas artinya bahwa semakin besar kas yang harus dikeluarkan untuk
membayar hutang beserta bunga pinjaman. Rasio leverage dapat
diproksikan dengan debt to equity ratio, debt ratio dan time interest
earned ratio. Atas dasar penelitian tersebut, maka hipotesis dalam
penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
H2 : leverage berpengaruh terhadap arus kas masa depan perusahaan.
c. Kemampuan operating cycle dalam memprediksi arus kas masa depan
Penelitian Dechow, Kothari dan Watts dalam DeFond dan Hung
(2001) menyatakan bahwa suatu perusahaan yang memiliki siklus
operasional yang panjang mempunyai arus kas operasional yang
kurang baik, sehingga akan mengurangi kemampuan untuk mengukur
capaian perusahaan. Dechow dalam DeFond dan Hung (2001)
mengemukakan bahwa perusahaan dengan siklus operasional yang
lebih pendek menunjukkan suatu hubungan yang kuat dengan arus kas
operasional dan pengembalian saham, sehingga dapat disimpulkan
bahwa peramalan arus kas masa depan akan lebih akurat jika
perusahaan memiliki siklus operasional yang lebih cepat. Penelitian
DeFond dan Hung (2001) konsisten dengan pernyataan Dechow
(1994), yaitu perusahaan yang memiliki operating cycle yang lebih
commit to user
28
dasar uraian tersebut di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
H3 : operating cycle berpengaruh terhadap arus kas masa depan perusahaan.
d. Kemampuan capital intensity dalam memprediksi arus kas masa depan
Intensitas modal dapat diartikan jumlah modal perusahaan yang
diinvestasikan pada aktiva tetap perusahaan yang dapat diukur dengan
menggunakan rasio aktiva tetap dibagi dengan penjualan (Zmijewski
dan Hagerman dalam DeFond dan Hung, 2001). Hasil yang diperoleh
dalam penelitian DeFond dan Hung (2001) adalah ramalan yang
dilakukan oleh perusahaan skala besar mempunyai kecenderungan
menggunakan metode akuntansi yang lebih beragam bila dibandingkan
dengan perusahaan skala kecil, selain itu penelitian ini membuktikan
bahwa perusahaan besar mempunyai capital intensity yang lebih besar,
untuk melakukan peramalan arus kas yang lebih baik. Oleh karena itu
kesimpulan dalam penelitian DeFond dan Hung (2001) bahwa capital
intensity berpengaruh terhadap ramalan arus kas masa depan. Atas
dasar uraian tersebut di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
H4 : capital intensity berpengaruh terhadap arus kas masa depan perusahaan.
commit to user
29
e. Kemampuan operating cash flow dalam memprediksi arus kas masa depan
Operating Cash Flow (CFO) merupakan jumlah arus kas yang
digunakan atau yang mampu disediakan dari kegiatan operasional pokok
perusahaan. CFO ini mencerminkan keuntungan atau kembalian bagi para
penyedia modal, termasuk utang atau equity. CFO dapat digunakan untuk
membayar hutang, membeli kembali saham, membayar dividen, atau
menahannya untuk kesempatan pertumbuhan di masa depan. CFO
memudahkan perusahaan untuk mengukur pertumbuhan bisnis dan
pembayaran kepada shareholders. CFO oleh Jensen (1986) difokuskan
pada arus kas masa depan. Jensen menyatakan bahwa manajer dapat
meningkatkan kesejahteraan mereka dengan arus kas masa depan. Arus
kas yang baik memberikan jaminan bahwa entitas tidak mengalami
kesulitan terkait dengan ketersediaan kas dalam pendanaan kegiatan
operasional perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Dahler dan
Febrianto (2006) tentang kemampuan prediktif earnings dan arus kas
dalam memprediksi arus kas masa depan menemukan hasil bahwa arus kas
operasi tahun berjalan memiliki kemampuan yang lebih baik dibanding
laba dalam memprediksi arus kas operasi masa depan. Berdasarkan hasil
analisis dan penelitian di atas, maka hipotesis pertama dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut ini.
H5 = Cash Flow (CFO) berpengaruh terhadap arus kas masa depan perusahaan.
commit to user
30