• Tidak ada hasil yang ditemukan

I. PENDAHULUAN

1.2. Perumusan Masalah

Kabupaten Bogor merupakan salah satu daerah yang berpotensi untuk pengembangan sektor pertanian secara umum termasuk subsektor peternakan. Masih banyaknya lahan yang kosong serta suhu yang tidak terlalu panas sangat mendukung pertumbuhan subsektor peternakan terutama unggas. Berdasarkan

6 data dari Dinas Peternakan Kabupaten Bogor tahun 2007 diketahui bahwa jenis ternak ayam ras pedaging mempunyai proporsi terbesar dengan jumlah populasi 12.756.300 ekor, disusul dengan ternak ayam ras petelur dengan jumlah populasi 3.791.836 ekor.

Jumlah populasi puyuh di Kabupaten Bogor pada tahun 2006 masih sedikit yaitu hanya 4.000 ekor (Dinas Peternakan Kabupaten Bogor). Permintaan akan telur puyuh di pasar cukup banyak, yaitu sekitar 140.000 butir per minggu sedangkan pasokan telur hanya sekitar 120.000 butir per minggu, sehingga pemenuhan akan telur puyuh masih kurang sekitar 14,28 persen (wawancara di Pasar Bogor). Pengiriman telur puyuh yang diterima pedagang di pasar sebagian besar berasal dari Sukabumi, Jawa Tengah, serta dari Jawa Timur. Melihat kondisi permintaan serta penawaran yang ada di pasar tersebut, maka terdapat peluang pasar yang besar bagi para pengusaha untuk mengembangkan peternakan puyuh di Kabupaten Bogor.

Salah satu perusahaan yang menjalankan bisnis peternakan puyuh di Kabupaten Bogor yaitu Peternakan Puyuh Bintang Tiga (PPBT). Unit bisnis utama dari perusahaan PPBT yaitu budidaya puyuh untuk dijual telurnya (puyuh petelur). Unit bisnis kedua yang diusahakan yaitu pakan puyuh. Selain itu afkiran dan kotoran puyuh juga dijual walaupun hanya sebagai penerimaan sampingan, serta saat ini PPBT juga baru mencoba menjual puyuh pembibitnya. Saat ini PPBT masih menjual produk telurnya ke pasar-pasar di wilayah Bogor dan belum memasarkan telur ke luar Kota Bogor.

Meskipun baru didirikan pada bulan September 2007 namun PPBT telah mampu menghasilkan telur puyuh layak jual sebanyak 8.500 butir per hari dari 12.000 ekor puyuh secara keseluruhan. Berdasarkan jumlah puyuh yang diternakkan maka PPBT dapat dikategorikan ke dalam skala usaha besar karena jumlah puyuh yang dipelihara lebih dari 8.000 ekor (Listiyowati dan Roospitasari, 2005).

Banyaknya jumlah telur yang dihasilkan per hari oleh PPBT ternyata belum memenuhi semua permintaan pasar. Berdasarkan wawancara dengan pemilik serta pengelola PPBT permintaan dari seluruh para pelanggan PPBT terhadap telur puyuh PPBT sebanyak 30.000 butir per hari, namun pemenuhan

7 permintaan telur puyuh oleh PPBT hanya masih sekitar 30 persen yaitu 8.500 butir per hari. Oleh karena itu paling tidak PPBT harus menambah produksi sebanyak 21.500 butir telur per hari agar dapat mengambil peluang pasar dan memperoleh keuntungan yang lebih besar

Pencapaian target produksi telur puyuh PPBT tersebut dapat terwujudkan apabila disertai dengan perluasan kandang. Selain mengembangkan skala usaha telur puyuh, PPBT juga memulai rencana untuk membibitkan sendiri Day old quail (DOQ) dengan tujuan mengurangi ketidakpastian pasokan DOQ akibat serangan penyakit pada pemasok bibit puyuh. Investasi yang diperlukan untuk membuat kandang baru baik untuk puyuh petelur maupun puyuh pembibit relatif besar. Biaya yang besar diperlukan tidak hanya untuk membuat bangunan serta kandang baru, namun juga untuk usaha membuat mesin tetas baru dan untuk perlengkapan lain terutama pakan puyuh.

Manajemen yang dilakukan oleh pemilik PPBT masih bersifat sederhana. Pengelolaan PPBT masih bergantung sepenuhnya pada pemilik. Pemilik perusahaan PPBT bertindak sebagai pengelola dan pengawas peternakan, serta produksi pakan. Pemilik juga memiliki wewenang untuk mengambil setiap keputusan baik yang bersifat operasional maupun non operasional. Pembukuan keuangan yang dilakukan pada perusahaan masih sederhana dan sampai saat ini belum dilakukan analisis kelayakannya, baik secara finansial maupun non finansial.

Berdasarkan kondisi di atas, maka perlu dilakukan analisis kelayakan pada usaha telur puyuh PPBT baik usaha yang sedang dijalani sekarang maupun rencana usaha pengembangannya. Analisis kelayakan ini dilakukan untuk mengetahui apakah usaha puyuh tersebut layak jika dilihat dari aspek non finansial dan aspek finansial. Untuk mengetahui informasi kelayakan usaha dari bisnis ini diperlukan analisis berbagai aspek seperti aspek pasar, teknis, manajemen, hukum, dan sosial.

Puyuh termasuk salah satu unggas yang peka terhadap penyakit tertentu. Selain menimbulkan kematian, penyakit yang menyerang unggas ini dapat meningkatkan morbiditas (tingkat kesulitan hidup pada individu atau kelompok ternak). Penyakit yang paling ditakuti oleh peternak puyuh yaitu tetelo (Newcastle

8 Disease) karena dapat menyebabkan kematian puyuh sebesar 100 persen (Listiyowati dan Roospitasari, 2005). Selain tetelo masih banyak penyakit lain yang dapat menyerang puyuh. Puyuh yang terserang penyakit, produktivitasnya akan menurun sehingga telur yang dihasilkan pun akan berkurang. Jumlah telur yang menurun akan menurunkan penerimaan perusahaan dan mengurangi laba. Berdasarkan pengalaman perusahaan, ternak puyuh PPBT sempat terkena penyakit tetelo yang menyebabkan kematian 100 persen populasi puyuhnya yaitu sekitar 5.000 ekor sehingga PPBT harus memulai usahanya dari awal kembali. Disamping produksi telur, hal lain yang perlu diperhatikan yaitu kenaikan harga pakan dan DOQ (puyuh anakan). Kenaikan harga pakan disebabkan karena harga jagung yang berfluktuasi akibat mahalnya harga pupuk serta mahalnya bahan komponen lain terutama konsentrat pakan. Apabila harga pakan naik maka biaya yang ditanggung oleh perusahaan akan lebih besar, karena pakan membutuhkan sekitar 70 persen dari biaya keseluruhan. Masalah ini akan turut berpengaruh terhadap laba yang akan diperoleh perusahaan. Kesulitan DOQ dapat terjadi jika terdapat serangan penyakit pada puyuh pemasok, sehingga pemasok tidak mampu memenuhi permintaan perusahaan. Hal ini dapat diatasi jika peternak membibitkan puyuhnya sendiri sehingga tidak menggantungkan diri pada pemenuhan DOQ dari pemasok. Sedangkan harga telur puyuh PPBT relatif stabil kecuali jika ada kenaikan bahan input (pakan), sebab supply telur puyuh ke pasar yang masih rendah. Untuk itu, maka perlu dilakukan analisis sensitivitas terhadap penurunan produksi telur akibat serangan penyakit, dan peningkatan harga pakan. PPBT juga berencana untuk melakukan perluasan usaha dimana biaya yang akan dikeluarkan PPBT terhadap usaha tersebut akan lebih besar dari sebelumnya, sehingga perlu juga dilakukan analisis sensitivitas terhadap rencana perluasan PPBT terhadap kemungkinan kenaikan biaya total usaha baru PPBT.

Berdasarkan hal di atas, maka beberapa masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana kelayakan usaha Peternakan Puyuh Bintang Tiga saat ini bila dikaji dalam aspek pasar, teknis, manajemen, hukum, dan sosial lingkungan?

9

2. Bagaimana kelayakan finansial Peternakan Puyuh Bintang Tiga, baik pada

usaha puyuh petelur, usaha puyuh petelur dan pembibit maupun pada rencana perluasan usaha puyuh petelur dan pembibit?

3. Bagaimana tingkat kepekaan (sensitivitas) dari usaha Peternakan puyuh Bintang Tiga (PPBT) apabila terjadi penurunan produksi telur akibat serangan penyakit dan peningkatan harga pakan? Bagaimana tingkat kepekaan pada rencana perluasan usaha puyuh petelur dan pembibit PPBT jika terjadi peningkatan biaya total?

Dokumen terkait