I. PENDAHULUAN
1.2 Perumusan Masalah
Banyaknya penelitian mengenai jalur kredit bank menunjukkan hasil yang berbeda antar negara karena adanya perbedaan struktur perekonomian ataupun struktur perbankan. Signifikansi jalur kredit bank di suatu negara dapat diuji dengan menggunakan baik data agregat maupun data disagregat (data mikro level bank). Penggunaan data agregat memiliki kelemahan yaitu tidak dapat melepaskan efek penawaran kredit dari efek permintaan kredit, sehingga respon bank secara pasti tidak dapat dianalisis. Dengan menggunakan data mikro level bank, yaitu data neraca bank secara individu, perbedaan respon bank terhadap guncangan moneter yang sama akan muncul karena adanya variasi dari :
1. Kekuatan finansial dari neraca bank
2. Kemampuan bank untuk menggantikan deposito dengan sumber dana external lain ketika terjadi penurunan deposito.
Penelitian Kashyap dan Stein (1994) merupakan salah satu penelitian awal
yang menyebutkan pentingnya melihat jalur kredit dari analisis data time-series
dan juga analisis datacross-section, yang artinya selain melihat pada data agregat
juga melihat lebih akurat pada data mikro. Tidak sedikit studi yang kemudian menggunakan data mikro dalam menganalisis jalur kredit bank dalam suatu perekonomian. Kishan dan Opiela (2000) melakukan studi komprehensif dengan menggunakan data mikro perbankan mengenai jalur kredit dan jalur kredit bank
di Amerika Serikat, dan Ehrmann et al. (2002) menganalisis signifikansi jalur
kredit bank untuk area Euro dengan menggunakan data mikro baik dari basis data BankScope maupun dari basis data bank sentral negara-negara yang tergabung dalam zona Euro. Studi yang serupa dalam hal penggunaan model dan data mikro dalam menganalisis jalur kredit bank telah banyak dilakukan di negara-negara lain, seperti Juks (2004) untuk negara Estonia, Boughrara dan Ghazouani (2008) untuk negara-negara MENA (Mesir, Yordania, Tunisia dan Moroko), Bhaumik, Dang dan Kutan (2011) untuk negara India, dan Juurikkala, Karas dan Solanko (2011) untuk negara Rusia.
Indonesia hingga saat ini belum memiliki penelitian terbaru yang populer mengenai jalur kredit bank dengan menggunakan data mikro. Salah satu studi dengan data mikro mengenai jalur kredit bank di Indonesia yang banyak menjadi
rujukan adalah penelitian oleh Agung et al. (2002). Mengingat bahwa instrumen
kebijakan moneter telah mengalami perubahan sejak tahun 2000, maka sangat penting penelitian dengan data mikro dilakukan dengan menggunakan indikator kebijakan moneter terkini agar dapat membuktikan secara empiris bahwa jalur kredit bank benar beroperasi dan respon perbankan dapat terukur sehingga formulasi kebijakan moneter mampu tepat sasaran. Penggunaan data mikro dapat menggambarkan jalur kredit secara lebih akurat dan hasil analisis dari model yang menggunakan data mikro sangat bermanfaat bagi bank sentral dalam mengukur respon perbankan ketika bank sentral memutuskan untuk menjalankan kebijakan moneter melalui instrumen tertentu.
Secara garis besar, penelitian dengan menggunakan data mikro fokus pada pembuktian asumsi beroperasinya jalur kredit bank dalam perekonomian. Kashyap dan Stein (1994) menuliskan bahwa setidaknya dua asumsi dibutuhkan
sebagai syarat beroperasinya jalur kredit bank. Asumsi pertama yaitu pelaku ekonomi memandang bahwa kredit bank spesial dan operasi pasar terbuka menyebabkan pergeseran dari kurva penawaran kredit. Asumsi kedua yaitu pergeseran dari kurva penawaran kredit akan dapat dibuktikan jika diketahui bank merespon terhadap guncangan moneter dengan merubah penawaran kredit.
Pergeseran penawaran kredit dapat terjadi jika terpenuhi dua kondisi, yaitu: 1. Kredit bank dan surat berharga bukan merupakan substitusi sempurna untuk
beberapa peminjam kredit ; atau beberapa peminjam bersifatbank-dependent.
2. Bank sentral harus dapat memengaruhi penawaran kredit bank.
Kondisi pertama dapat dibuktikan dengan rangkaian data mengenai dominasi perbankan sebagai sumber pembiayaan baik pembiayaan yang bersifat konsumsi, modal kerja maupun investasi. Handa (2000) menyebutkan bahwa dengan melihat data mengenai perkembangan finansial akan dapat membedakan antara kontribusi dari perbankan dan unsur lainnya dari sistem finansial terhadap pertumbuhan output. Perkembangan finansial seringkali diukur oleh jumlah dan variasi dari intermediasi finansial, ukuran dan tingkat kerumitan pasar saham dan obligasi, dan efisiensi aturan, regulasi dan praktik mengatur praktik-praktik finansial dari perusahaan-perusahaan dalam perekonomian. Kontribusi perbankan terhadap pertumbuhan output dijelaskan melalui jalur kredit bank yaitu melalui pertumbuhan kredit yang berdampak pada investasi dan pada akhirnya berdampak pada pertumbuhan output.
Untuk kondisi kedua, harus dibuktikan apakah memang Bank Indonesia dengan instrumennya yaitu BI Rate mampu memengaruhi penawaran kredit bank. Asumsinya adalah reaksi bank terhadap perubahan suku bunga acuan yaitu dengan menyesuaikan jumlah kredit baru. Penyesuaian kredit baru akan melihat pada perubahan kredit di waktu-waktu sebelumnya sehingga pertumbuhan kredit bank mampu menggambarkan adanya pergeseran penawaran kredit. Pembuktian kondisi kedua dapat dilakukan dengan menggunakan data mikro bank yang diambil dari neraca bank yang menggambarkan karakteristik bank. Penggunakan data mikro bank diperlukan karena kredit bisa bergeser dari sisi permintaan (demand) dan dari sisi penawaran (supply). Sehingga, harus dapat dibuktikan
pergeseran yang sebenarnya terjadi adalah dari sisi penawaran (bank) dan terjadi karena dari pengaruh kebijakan moneter.
Karakteristik bank dalam berbagai penelitian mengenai jalur kredit bank dengan menggunakan data mikro bank diwakili oleh tiga variabel yaitu ukuran
total aset bank (size), likuiditas (liquidity), dan kapital (capitalization). Total aset
adalah pendekatan ukuran dari kesehatan bank. Karakteristik likuiditas digunakan karena level tinggi dari likuiditas dapat memungkinkan bank untuk menarik dananya sendiri daripada mencari ke pasar kredit setelah diberlakukannya kebijakan moneter ketat. Karakteristik terakhir yaitu kapital adalah karena kapital
yang tinggi berkaitan erat dengancreditworthinessbank ketika berusaha menutupi
terjadinya penurunan deposito dengan cara mencari sumber dana lain. Kapital
bank dapat dikategorikan menjadi dua bentuk (Mishkin, 2006) :
1. Leverage ratio yaitu rasio total modal terhadap total aset bank. Bank yang diklasifikasikan sebagai bank berkapital baik (well capitalized) adalah bank yang memenuhileverage ratio diatas 5%. Bank yang memiliki leverage ratio
dibawah 3% akan memicu pengawasan melalui batasan regulasi terhadap bank tersebut. Kishan dan Opiela (2000) membagi tiga kategori leverage ratio
untuk perbankan di Amerika Serikat yaitu < 8 % (undercapitalized), 8% ≤
leverage ratio< 10% (adequately capitalized), dan ≥ 10% (well capitalized).
2. Risk-based capital requirements (Capital Adequacy Ratio) berdasarkan Basel
Accord. Basel Accord ditetapkan oleh Basel Committee on Banking
Supervision yang mengadakan pertemuan Bank for International Settlements di Basel. Basel 2 menetapkan bahwa bank memegang kapital setidaknya 8% dari aset tertimbang menurut resiko. Basel 2 berdasarkan pada tiga pilar yaitu : a. Pilar 1 bertujuan untuk menghubungkan penyediaan modal lebih dekat
dengan resiko aktual.
b. Pilar 2 fokus pada memperkuat proses pengawasan, khususnya dalam menilai kualitas manajemen resiko dalam institusi perbankan dan dalam mengevaluasi apakah institusi tersebut memiliki prosedur yang sesuai untuk menentukan berapa banyak modal yang dibutuhkan.
c. Pilar 3 fokus pada peningkatan disiplin pasar melalui peningkatan detail
disclosure mengenai ekspos dari kredit bank, jumlah reserves dan modal,
officialyang mengontrol bank, dan efektivitas dari sisteminternal rating.
Teori yang mendasari ketiga karakteristik tersebut untuk digunakan dalam penelitian yaitu :
1. Ukuran Aset (Size) : Bank kecil menghadapi masalah informasi asimetris di
pasar modal bila dibandingkan dengan bank besar, sehingga lebih sulit untuk mendapatkan dana non-deposito untuk menghadapi guncangan moneter negatif.
2. Likuiditas (Liquidity) : Bank dengan aset likuid bisa menarik cadangan kas
ataupun surat berharga untuk bertahan dengan perilaku kreditnya ketika terjadi guncangan moneter negatif.
3. Kapital (Capitalisation) : Bank bermodal rendah memiliki batasan akses
terhadap dana non-deposito sehingga akan terpaksa menurunkan penawaran kredit bila dibandingkan dengan bank bermodal tinggi pada saat terjadi guncangan moneter negatif.
Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Apakah suku bunga acuan (BI Rate) mampu memengaruhi pertumbuhan kredit bank di Indonesia periode triwulan IV tahun 2005 sampai triwulan III tahun 2011 ?
2. Apakah ada perbedaan respon bank berdasarkan karakteristik bank yaitu ukuran aset, likuiditas dan kapital ketika terjadi perubahan suku bunga acuan di Indonesia periode triwulan IV tahun 2005 sampai triwulan III tahun 2011 ?