• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bank characteristics and monetary policy in Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Bank characteristics and monetary policy in Indonesia"

Copied!
267
0
0

Teks penuh

(1)

ISTIQAMAH RANI

(2)
(3)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Karakteristik Bank dan Kebijakan Moneter di Indonesia” adalah karya saya dengan arahan dari Komisi Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Agustus 2012

(4)
(5)

ISTIQAMAH RANI. Bank Characteristics and Monetary Policy in Indonesia. Under direction of IMAN SUGEMA and TELISA AULIA FALIANTY.

The uniqueness of credit in asset side of bank’s balance sheet is the main view of bank lending channel (BLC). One of BLC assumption is the supply shift of bank credit, which will shift if bank reacts to the monetary shock pursue by central bank. The objectives of this study are to test whether BI rate affects the supply of bank credit and to analyze the reaction of commercial banks to the change of BI rate based on the bank characteristics such as size, liquidity and capitalisation during 4Q2005:3Q2011. The results using System GMM proved that BI rate has a negative and significant effect on the supply of bank credit. The bank’s reaction to the change of BI rate depend on their size dan the degree of liquidity while capitalization does not significantly determine the reaction.

(6)
(7)

ISTIQAMAH RANI. Karakteristik Bank dan Kebijakan Moneter di Indonesia. Dibimbing oleh IMAN SUGEMA dan TELISA AULIA FALIANTY.

Mekanisme transmisi kebijakan moneter telah menjadi fokus di banyak literatur perekonomian. Kebijakan moneter beroperasi melalui jalur-jalur individual yang disebut dengan jalur transmisi yang salah satunya adalah jalur kredit bank. Jalur kredit bank memandang bahwa kredit bank adalah unik karena sebagai sumber pembiayaan eksternal bagi perusahaan maupun konsumen yang tidak memiliki alternatif pembiayaan seperti penerbitan saham atau obligasi.

Penelitian Kashyap dan Stein (1994) merupakan salah satu penelitian awal

yang menyebutkan pentingnya melihat jalur kredit dari analisis data time-series

dan juga analisis data cross-section, yang artinya selain melihat pada data agregat

juga menganalisis lebih dalam melalui data mikro. Indonesia hingga saat ini belum memiliki penelitian terbaru yang populer mengenai jalur kredit bank dengan menggunakan data mikro. Penelitian dengan data mikro sangat penting dilakukan agar dapat membuktikan secara empiris bahwa jalur kredit bank benar beroperasi dan respon perbankan dapat terukur sehingga formulasi kebijakan moneter mampu tepat sasaran.

Pengaruh kebijakan moneter antar bank bisa berbeda jika karakteristik bank berperan dalam menentukan reaksi bank. Karakteristik bank dalam berbagai penelitian menggunakan data mikro bank diwakili oleh tiga variabel yaitu ukuran

total aset bank (size), likuiditas (liquidity), dan kapital (capitalization). Teori yang

mendasari ketiga karakteristik tersebut adalah : (1) bank kecil menghadapi masalah informasi asimetris di pasar modal sehingga lebih sulit untuk mendapatkan dana non-deposito untuk menghadapi guncangan moneter negatif; (2) Bank dengan aset likuid bisa menarik cadangan kas ataupun surat berharga untuk bertahan dengan perilaku kreditnya ketika terjadi guncangan moneter negatif; (3) Bank bermodal rendah memiliki batasan akses terhadap dana non-deposito sehingga akan terpaksa menurunkan penawaran kredit bila dibandingkan dengan bank bermodal tinggi pada saat terjadi guncangan moneter negatif.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah suku bunga acuan (BI Rate) mampu memengaruhi pertumbuhan kredit bank di Indonesia dan menganalisis perbedaan respon bank berdasarkan karakteristik bank yaitu ukuran aset, likuiditas dan kapital ketika terjadi perubahan BI rate di Indonesia periode triwulan IV tahun 2005 sampai triwulan III tahun 2011. Cakupan analisis penelitian ini adalah 99 bank umum dari 108 bank umum yang neraca triwulanan-nya tersedia untuk

diunduh diwebsiteBank Indonesia.

Hasil estimasi model dinamis dengan menggunakan metode SYS-GMM

menyatakan bahwa pengaruh BI rate adalah negatif dan signifikan dilag-nya yang

menegaskan bahwa kebijakan moneter memang memilikilagdalam memengaruhi

(8)

pertumbuhan kredit bank. Variabel makroekonomi lainnya yaitu inflasi menunjukkan bahwa banyaknya perusahaan dan rumah tangga di Indonesia yang

bersifat bank-dependent menjadi dasar argumen bahwa inflasi tidak menurunkan

permintaan kredit sehingga inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan pertumbuhan kredit bank.

Ketika Bank Indonesia mengumumkan BI rate tidak berubah, perubahan pertumbuhan kredit bank tidak tergantung langsung pada ukuran aset yang dimiliki oleh bank. Likuiditas adalah karakteristik yang signifikan memengaruhi perubahan pertumbuhan kredit bank karena bank yang memiliki derajat likuiditas tinggi mampu memacu pertumbuhan kreditnya ketika tidak terjadi perubahan dari BI rate. Likuiditas dalam studi ini merupakan likuiditas yang berbeda dari aset likuid yang digunakan oleh Bank Indonesia dalam beberapa publikasinya karena likuiditas yang digunakan dalam studi ini merupakan likuiditas tertimbang dengan ukuran aset bank dan rata-rata likuiditas seluruh bank serta komponen penyusunnya tidak hanya memperhitungkan penempatan SBI dan Surat Utang Negara (SUN) tetapi juga memperhitungkan surat berharga, kas, dan penempatan pada bank lain. Ketidakpastian perekonomian dan risiko kredit merupakan pertimbangan yang digunakan oleh bank-bank berukuran aset kecil untuk memegang aset likuid yang tinggi.

Koefisien negatif dari ukuran aset dan kapital mengindikasikan bahwa ketika BI rate tidak berubah, semakin besar ukuran aset dan kapital maka semakin rendah perubahan pertumbuhan kredit bank. Bank-bank besar memiliki nilai kredit yang besar sehingga pertumbuhan kreditnya tidak sebesar bank-bank kecil. Selain itu, kapital yang besar umumnya dimiliki oleh bank-bank berukuran besar, sehingga arah dari pengaruh kapital akan sejalan dengan arah dari pengaruh ukuran aset terhadap perubahan pertumbuhan kredit bank. Koefisien CAR yang bernilai negatif menyatakan bahwa semakin kecil CAR suatu bank maka semakin besar perubahan pertumbuhan kredit bank tersebut. CAR yang rendah menunjukkan bahwa bank aktif dalam menyalurkan kredit namun bisa juga berarti Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) bank tersebut besar.

Interaksi antara ukuran aset dengan perubahan BI rate berpengaruh positif terhadap perubahan pertumbuhan kredit bank. Ketika BI rate naik, maka bank yang memiliki ukuran aset yang semakin tinggi mengalami perubahan pertumbuhan kredit yang lebih besar dari bank yang memiliki ukuran aset lebih kecil. Alasan yang mendasari perilaku tersebut sesuai dengan konsensus bahwa pada masa kebijakan moneter kontraktif, bank kecil menghadapi masalah informasi asimetris yang menyebabkan sulitnya mencari dana non-deposito untuk

meng-offsetpenurunan deposito dan tabungan masyarakat yang berpengaruh pada

menurunnyareserves bank. Menurunnyareserves bank mengharuskan bank kecil

(9)

Interaksi karakteristik likuiditas dengan perubahan BI rate mendukung kesimpulan dari interaksi ukuran aset dengan perubahan BI rate. Bank-bank dengan ukuran aset yang semakin kecil cenderung memiliki derajat likuiditas yang lebih tinggi. Pengaruh interaksi karakteristik likuiditas dengan perubahan BI rate adalah negatif yang menunjukkan bahwa semakin tinggi derajat likuiditas bank maka lebih sensitif bank tersebut terhadap perubahan BI rate sehingga perubahan pertumbuhan kreditnya lebih rendah bila dibandingkan dengan bank-bank yang derajat likuiditasnya semakin rendah. Juks (2004) menyebutkan bahwa karakteristik likuiditas bisa merupakan variabel yang endogen yaitu bank-bank yang kesulitan untuk menggantikan deposito yang berkurang akibat kebijakan moneter kontraktif dengan bentuk lain dari pendanaan akan mungkin memegang jumlah saham yang sangat besar. Bank-bank dengan derajat likuiditas yang tinggi memang memiliki pilihan untuk mempertahankan perilaku kreditnya dengan

mencairkan asetnya yang bersifat likuid ketika terjadi penurunan reserves akibat

perubahan BI rate, namun risiko kredit yang menyertai kredit membuat bank-bank kecil yang memiliki aset likuid enggan untuk mencairkan aset likuidnya sehingga

aset likuid yang return-nya berdasarkan suku bunga tetap dipegang oleh bank

tersebut. Karakteristik kapital maupun CAR ternyata tidak signifikan dalam menentukan reaksi bank terhadap perubahan BI rate.

Berdasarkan kesimpulan yang didapat, saran untuk pengambil kebijakan (Bank Indonesia) yaitu : (i) Bank Indonesia harus memerhatikan dampak kebijakan moneter terhadap bank yang memiliki karakteristik berbeda; (ii) ukuran aset bank masih menyisakan celah untuk transmisi jalur kredit bank sehingga dapat dimaksimalkan dengan peraturan Bank Indonesia yang memfokuskan pada proporsi seharusnya kredit yang disalurkan yang searah antara ukuran aset bank dengan pertumbuhan kredit bank; (3) likuiditas harus dipertimbangkan secara serius ketika memformulasikan kebijakan moneter agar penilaian dampak kebijakan moneter terhadap pertumbuhan kredit bank dan terhadap perekonomian riil lebih tepat sasaran; dan (iv) Bank Indonesia sebaiknya menekankan tingkat likuiditas yang wajar ke bank-bank yang memiliki likuiditas tinggi agar fungsi

intermediasinya tidak tergerus oleh alat likuid yang menghasilkan return lebih

besar dari kredit. Selain itu, bank sendiri harus dapat memformulasikan besaran yang sesuai ketika akan memutuskan apakah meningkatkan kredit atau justru meningkatkan aset likuid-nya dan bank yang memiliki tingkat likuiditas yang tinggi harus mampu meningkatkan ukuran asetnya agar dampak yang dirasakan ketika terjadi guncangan moneter tidak besar.

(10)
(11)

©Hak Cipta milik IPB, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya.

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.

b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(12)
(13)

ISTIQAMAH RANI

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Ilmu Ekonomi

(14)
(15)

NRP : H151104354

Program Studi : Ilmu Ekonomi

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Iman Sugema, M.Ec Dr. Telisa Aulia Falianty

Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana

Ilmu Ekonomi

(16)
(17)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala Rahmat-Nya sehingga tesis dengan judul “Karakteristik Bank dan Kebijakan Moneter di Indonesia” dapat terselesaikan. Penulis menyadari bahwa tesis ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak.

Penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Dr. Ir. Iman Sugema, M. Ec. selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Dr. Telisa Aulia Falianty selaku Anggota Komisi Pembimbing atas waktu yang diluangkan ditengah kesibukannya untuk memberikan arahan, wawasan baru dan bimbingan sangat bermanfaat dalam proses penulisan tesis ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, M.Ec. sebagai penguji luar komisi dan Dr. Lukytawati Anggraeni, S.P., M.Si.selaku perwakilan dari Program Studi Ilmu Ekonomi. Tidak lupa ucapan terima kasih penulis sampaikan untuk Badan Pusat Statistik dan Badan Pusat Statistik Provinsi Riau atas kesempatan yang telah diberikan untuk menempuh pendidikan di IPB. Ungkapan terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada orangtua, suami dan seluruh keluarga atas doa, dukungan dan bantuannya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Agustus 2012

(18)
(19)

Penulis lahir pada tanggal 18 Juli 1983 di Jakarta. Penulis merupakan anak pertama dari lima bersaudara dari pasangan Bapak Ichsan Nasution dan Ibu Aslaniah Lubis. Penulis menamatkan sekolah dasar di SD Negeri Bojongsari 01 Depok pada tahun 1996. Pada tahun 1998, penulis menamatkan pendidikan jenjang SLTP di SLTP Negeri 6 Bogor dan pada tahun 2001 menamatkan jenjang pendidikan di SMU Negeri 1 Bogor.

Setelah menamatkan pendidikan tingkat SMU, penulis melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta, tamat pada tahun 2005 dengan gelar Sarjana Sains Terapan (S.ST). Penulis kemudian bekerja di Badan Pusat Statistik Kabupaten Kerinci sejak tahun 2006 hingga tahun 2008. Tahun 2008 penulis pindah ke Badan Pusat Statistik Provinsi Riau hingga sekarang.

(20)
(21)

Halaman

DAFTAR ISI ...xvii

DAFTAR TABEL ...xix

DAFTAR LAMPIRAN ...xxii

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Kegunaan Penelitian ... 10

1.5 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian ... 10

II. TINJAUAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN ... 13

2.1 Transmisi Kebijakan Moneter... 13

2.2 Jalur Kredit dan Jalur Kredit Bank ... 21

2.3 Perbankan Sebagai Lembaga Intermediasi ... 28

2.4 Kerangka Pemikiran... 31

2.5 Hipotesis Penelitian... 32

III. METODOLOGI PENELITIAN ... 35

3.1 Jenis dan Sumber Data... 35

3.2 Metode Analisis ... 35

3.2.1 Analisis Deskriptif ... 35

3.2.2 Analisis Regresi Data Panel... 35

3.3 Variabel dan Spesifikasi Model ... 45

3.4 Definisi Operasional ... 53

IV. GAMBARAN BANK UMUM DAN SUKU BUNGA KREDIT ... 57

4.1 Pangsa Aset, DPK dan Kredit Bank Umum ... 57

4.2 Pergerakan Suku Bunga BI rate dan Suku Bunga Kredit ... 59

V. ANALISIS KARAKTERISTIK BANK DAN KEBIJAKAN MONETER ... 63

5.1 Karakteristik Sampel... 63

5.2 Hasil Uji Stasioneritas Data ... 67

5.3 Panjang Lag Model Dinamis... 68

5.4 Analisis Hasil Estimasi Model Dinamis ... 70

(22)

5.6 Analisis Hasil EstimasiPooled Regression... 80

VI. KESIMPULAN DAN SARAN... 83 6.1 Kesimpulan ... 83 6.2 Implikasi Kebijakan ... 84 6.3 Saran Penelitian Lebih Lanjut ... 85

(23)

Halaman

Tabel 1 PDB nominal, total kredit bank dan rasio total kredit terhadap

PDB nominal tahun 2000-2011... 3

Tabel 2 Cakupan sampel penelitian Ehrmann et al. (2002) untuk area Euro... 26

Tabel 3 Penelitian lain mengenai jalur kredit bank dengan menggunakan

karakteristik bank ... 26

Tabel 4 Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ... 35

Tabel 5 Jumlah bank umum berdasarkan jenis bank tahun 2001, 2006 dan

2011... 57

Tabel 6 Pangsa aset berdasarkan jenis bank tahun 2001, 2006 dan 2011... 58

Tabel 7 Pangsa DPK berdasarkan jenis bank tahun 2001, 2006 dan 2011 ... 59

Tabel 8 Pangsa kredit berdasarkan jenis bank tahun 2001, 2006 dan 2011... 59

Tabel 9 Pangsa aset dan pangsa kredit bank dengan aset < Rp. 1 Triliun

bulan September tahun 2011... 63 Tabel 10 Pangsa aset dan pangsa kredit bank dengan aset > Rp. 50 Triliun

bulan September tahun 2011... 64 Tabel 11 Pangsa aset menurut jenis bank triwulan IV tahun 2005-triwulan

III tahun 2011... 65 Tabel 12 Pangsa kredit menurut jenis bank triwulan IV tahun 2005-triwulan

III tahun 2011... 66 Tabel 13 Rangkuman uji stasioneritas variabel penelitian... 68 Tabel 14 Penentuan panjang lag dengan metode SIC ... 69 Tabel 15 Koefisien long-run hasil estimasi model dinamis ... 71 Tabel 16 Persentase kredit bank yang disalurkan menurut kategori

penduduk dan bukan penduduk tahun 2005 - 2011 ... 73 Tabel 17 Daftar bank menurut derajat likuiditas sangat rendah dan derajat

likuiditas sangat tinggi ... 75 Tabel 18 Koefisien long-run untuk karakteristik ukuran aset, likuiditas,

kapital dan CAR... 79 Tabel 19 Sepuluh bank berdasarkan bank-specific effect terendah dan

terbesar dengan memperhitungkan ukuran aset ... 80 Tabel 20 Sepuluh bank berdasarkan bank-specific effect terendah dan

terbesar dengan memperhitungkan derajat likuiditas... 81 Tabel 21 Sepuluh bank berdasarkan bank-specific effect terendah dan

(24)
(25)

Halaman

Gambar 1 Komposisi aset lembaga keuangan Indonesia bulan Juni tahun

2011 ...1

Gambar 2 Total aset, DPK dan kredit nominal tahun 2000-2011 (triliun

rupiah)...2

Gambar 3 Jumlah bank umum menurut kategori total aset tahun 2006

-2011 ...4

Gambar 4 Mekanisme transmisi kebijakan moneter ...14

Gambar 5 Mekanisme transmisi kebijakan moneter ...17

Gambar 6 Mekanisme transmisi kebijakan moneter ...18

Gambar 7 Mekanisme transmisi kebijakan moneter Bank Indonesia ...19

Gambar 8 Lagdalam kebijakan moneter ...20

Gambar 9 Jalur kredit kebijakan moneter model Bernanke dan Blinder

(1988) ...23 Gambar 10 Kerangka pemikiran ...32 Gambar 11 Kredit bank umum berdasarkan jenis penggunaan tahun

2005-2011 ...60 Gambar 12 Pergerakan suku bunga BI rate, suku bunga KMK, suku bunga

KI dan suku bunga KK tahun 2006-2011...61 Gambar 13 Pangsa KMK, KI dan KK terhadap kredit bank tahun

2005-2011 ...61 Gambar 14 Pertumbuhan kredit, KMK, KI dan KK year on year (yoy%)

tahun 2006-2011 ...62 Gambar 15 Jumlah bank berdasarkan CAR tahun 2005-2011 ...67 Gambar 16 Aktifitas penempatan dana di SBI berdasarkan jenis bank tahun

2005-2011...74 Gambar 17 Pergerakan BI rate dan SBI 1 bulan triwulanan tahun 2005

(26)
(27)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Daftar nama bank yang menjadi sampel penelitian... 93

Lampiran 2 Daftar nama bank yang dikeluarkan dari sampel penelitian... 94

Lampiran 3 Hasil uji stasioner variabel ... 95

Lampiran 4 Plot variabel ... 96

Lampiran 5 Hasil uji normalitas dengan Jarque-Bera Probability per cross

section... 91

Lampiran 6 Hasil estimasi dengan metode FD-GMM dengan set karakteristik

ukuran aset, likuiditas dan CAR ... 101

Lampiran 7 Hasil estimasi dengan metode SYS-GMM dengan set karakteristik

ukuran aset, likuiditas dan CAR ... 102

Lampiran 8 Hasil estimasi dengan metode FD-GMM dengan set karakteristik

ukuran aset, likuiditas dan kapital ... 103

Lampiran 9 Hasil estimasi dengan metode SYS-GMM dengan set karakteristik

ukuran aset, likuiditas dan kapital ... 104 Lampiran 10 Hasil estimasi OLS, SYS-GMM, FEM dan FD-GMM untuk

karakteristik ukuran aset, likuiditas dan CAR ... 105 Lampiran 11 Hasil estimasi OLS, SYS-GMM, FEM dan FD-GMM untuk

karakteristik ukuran aset, likuiditas dan kapital ... 106 Lampiran 12 Hasil uji normalitas residual model dinamis ... 107 Lampiran 13 Rangkuman statistik per triwulan ... 108 Lampiran 14 Hasil estimasi pooled regression ... 110 Lampiran 15 Daftar nama bank berdasarkan ukuran aset, likuiditas, kapital dan

CAR bulan Desember 2005, Desember 2008 dan September 2011 ... 100 Lampiran 16 Plot perubahan pertumbuhan kredit 99 bank umum triwulan IV

tahun 2005 – triwulan III tahun 2011 ... 1101 Lampiran 17 Plot variabel ukuran aset 99 bank umum triwulan IV tahun 2005 –

triwulan III tahun 2011 ... 102 Lampiran 18 Plot variabel derajat likuiditas 99 bank umum triwulan IV tahun

2005 – triwulan III tahun 2011 ... 103 Lampiran 19 Plot variabel kapital 99 bank umum triwulan IV tahun 2005 –

(28)
(29)

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mekanisme transmisi kebijakan moneter telah menjadi fokus di banyak

literatur perekonomian. Tidak sedikit riset yang dilakukan mengenai mekanisme

transmisi kebijakan moneter sebagai usaha untuk dapat lebih mengerti bagaimana

kebijakan moneter bisa memengaruhi perekonomian riil. Kebijakan moneter

beroperasi melalui jalur-jalur individual yang disebut dengan jalur transmisi. Jalur

yang mulai mendapat banyak perhatian karena pengaruhnya yang tidak selalu

sama dalam pembuktian secara empiris adalah jalur kredit. Jalur kredit dipecah

menjadi jalur neraca perusahaan (balance-sheet channel) dan jalur kredit bank

(bank lending channel).

Jalur kredit bank memandang bahwa kredit bank adalah unik karena sebagai

sumber pembiayaan eksternal bagi perusahaan maupun konsumen yang tidak

memiliki alternatif pembiayaan seperti penerbitan saham atau obligasi. Keunikan

kredit bank menempatkan perbankan dalam mekanisme transmisi yang tidak

hanya melihat dari sisi kewajiban bank (liabilities), yang terkait dengan fungsi

menerbitkan deposito (money creation),tetapi terutama melihat dari sisi aset bank

(assets) yang terkait erat dengan fungsi intermediasi perbankan yaitu kredit.

Indonesia memiliki 120 bank umum di bulan Juni tahun 2011 dengan pangsa

aset terbesar yaitu 77% dari total aset lembaga keuangan di Indonesia (Gambar

1). Pangsa tersebut menyatakan dominasi bank umum terhadap lembaga keuangan

lainnya seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR), perusahaan pembiayaan,

(30)

Pangsa besar total aset bank umum juga diikuti dengan besaran total aset

yang tercatat terus mengalami peningkatan sejak tahun 2000 hingga 2011. Dana

pihak ketiga (DPK) yang sebagian besar berasal dari tabungan masyarakat juga

mengalami peningkatan dari 699.1 triliun rupiah di tahun 2000 menjadi 2,644.7

triliun rupiah di tahun 2011 (Gambar 2). Peningkatan DPK memperlihatkan

bahwa kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dana di bank terus meningkat.

Sumber : Bank Indonesia (2000-2011)

Gambar 2 Total aset, DPK dan kredit nominal tahun 2000-2011 (triliun rupiah)

DPK yang besar dan total aset yang dominan tidak akan berarti signifikan

bagi perekonomian riil jika perbankan tidak menjalankan fungsi intermediasinya.

Loan to Deposit Ratio (LDR), yaitu rasio yang mencerminkan komitmen

perbankan dalam menjalankan fungsi intermediasinya, di tahun 2011 adalah

sebesar 82.60%. LDR yang cukup tinggi membuktikan bahwa perbankan di

Indonesia berkomitmen menjalankan fungsi intermediasinya. Jika disandingkan

dengan indikator makro seperti Produk Domestik Bruto (PDB) nominal, rasio

total kredit bank terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nominal sejak tahun

2000 hingga 2011 juga menunjukkan peningkatan.

Tabel 1 memperlihatkan bahwa secara umum rasio total kredit bank

terhadap PDB nominal mengalami peningkatan yang menandakan semakin

pentingnya kredit bank dalam perekonomian Indonesia. Krisis di tahun 2008

menurunkan rasio kredit di tahun 2009 dari 27.35% di tahun 2008 menjadi

26.24% ditahun 2009. Hal tersebut disebabkan adanya lagdari pencatatan kredit,

(31)

Tabel 1 PDB nominal, total kredit bank dan rasio total kredit terhadap PDB

nominal tahun 2000-2011

Tahun PDB nominal (triliun rupiah)

Total kredit bank (triliun rupiah)

Rasio total kredit terhadap PDB nominal (%)

2000 1,389.77 320.40 23.05

2001 1,646.32 358.60 21.78

2002 1,821.83 410.30 22.52

2003 2,013.67 477.20 23.70

2004 2,295.83 595.10 25.92

2005 2,774.28 730.20 26.32

2006 3,339.22 832.90 24.94

2007 3,950.89 1,045.70 26.47

2008 4,948.69 1,353.60 27.35

2009 5,606.20 1,470.80 26.24

2010 6,436.27 1,756.80 27.30

2011 7,427.09 2,146.90 28.91

Sumber : BPS dan Bank Indonesia (2011), diolah

Rasio total kredit terhadap PDB nominal yang cukup tinggi menjadikan

bank sebagai sumber pembiayaan terbesar di Indonesia bila dibandingkan dengan

sumber pembiayaan lainnya seperti lembaga keuangan bukan bank (LKBB),

penerbitan saham, maupun penerbitan obligasi. Total pembiayaan melalui

perbankan di tahun 2010 mencapai 1,756.80 triliun rupiah sedangkan perusahaan

pembiayaan hanya sebesar 259.55 triliun.

Kinerja perbankan tidak terlepas dari karakteristik bank yang beroperasi di

Indonesia. Dari tahun ke tahun, tidak sedikit bank-bank Indonesia yang

mengalami merger, akuisisi, konversi maupun pencabutan izin operasi. Proses

tersebut menjadikan komposisi bank tidak stagnan. Dilihat dari modal inti, di

tahun 2011 seluruh bank umum tercatat sudah memiliki modal inti di atas Rp. 100

milyar dan Capital Adequacy Ratio (CAR) melebihi batas yang ditetapkan yaitu

8%. Namun jika dilihat dari kategori total aset, mayoritas bank di Indonesia

adalah bank dengan total aset kurang dari 10 triliun rupiah sedangkan bank

dengan total aset lebih dari 50 triliun rupiah kurang dari 20 bank. Bank dengan

(32)

rupiah sedangkan bank dengan total aset terendah yaitu Anglomas Internasional

Bank memiliki total aset sebesar 183,4 miliar rupiah di September 2011. Rentang

yang sangat lebar tersebut menunjukkan adanya variasi karakteristik bank yang

beroperasi di Indonesia.

Sumber : Statistik Perbankan Indonesia (2011)

Gambar 3 Jumlah bank umum menurut kategori total aset tahun 2006 - 2011

Banyaknya bank berukuran sedang tidak diiringi dengan pangsa total aset,

kredit dan DPK yang besar karena adanya dominasi dari bank-bank besar. Tahun

2011, pangsa total aset bank besar terhadap total aset bank umum mencapai

63.30%, pangsa terhadap DPK total mencapai 65.43% dan pangsa kredit terhadap

total kredit sebesar 62.92%. Bank-bank besar didominasi oleh Bank Persero dan

Bank Umum Swasta Nasional Devisa (BUSN Devisa). Adanya dominasi bank

besar dari sisi kinerja tetapi tidak dari sisi jumlah menekankan pentingnya

kebijakan moneter yang tepat sasaran. Awal dari kebijakan moneter yang tepat

sasaran adalah formulasi yang tepat mengenai instrumen kebijakan moneter oleh

(33)

Undang-Undang (UU) No. 23/1999 yang kemudian direvisi dengan UU No.

3/2004, menyatakan Bank Indonesia mendapatkan otonomi penuh dalam

memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan moneter. Mandat yang

diberikan oleh undang-undang tersebut, membuat Bank Indonesia di awal tahun

2000 mulai mengumumkan target inflasi tahunan. Pada tahun 2005, selain target

inflasi, Bank Indonesia juga mengumumkan BI Rate setiap bulan sebagai suku

bunga acuan yang menjadi cerminan sikap (stance) Bank Indonesia. Suku bunga

acuan tersebut diharapkan akan direspon oleh perbankan. Respon tersebut

seharusnya dapat dipastikan secara empiris, namun pada kenyataannya hingga

saat ini belum ada kajian empiris yang mampu memastikan apakah perbankan di

Indonesia memang merespon terhadap perubahan BI rate melalui perubahan

pertumbuhan kredit. Respon yang terukur dari perbankan sangat diperlukan agar

jalur transmisi kebijakan moneter dapat berjalan terutama jalur kredit bank yang

menempatkan perbankan dalam peran penting. Peran perbankan dalam

mekanisme transmisi kebijakan moneter menjadikan respon kredit perbankan

ketika terjadi perubahan BI rate merupakan kajian penting untuk memahami jalur

kredit bank di Indonesia.

1.2 Perumusan Masalah

Banyaknya penelitian mengenai jalur kredit bank menunjukkan hasil yang

berbeda antar negara karena adanya perbedaan struktur perekonomian ataupun

struktur perbankan. Signifikansi jalur kredit bank di suatu negara dapat diuji

dengan menggunakan baik data agregat maupun data disagregat (data mikro level

bank). Penggunaan data agregat memiliki kelemahan yaitu tidak dapat

melepaskan efek penawaran kredit dari efek permintaan kredit, sehingga respon

bank secara pasti tidak dapat dianalisis. Dengan menggunakan data mikro level

bank, yaitu data neraca bank secara individu, perbedaan respon bank terhadap

guncangan moneter yang sama akan muncul karena adanya variasi dari :

1. Kekuatan finansial dari neraca bank

2. Kemampuan bank untuk menggantikan deposito dengan sumber dana external

(34)

Penelitian Kashyap dan Stein (1994) merupakan salah satu penelitian awal

yang menyebutkan pentingnya melihat jalur kredit dari analisis data time-series

dan juga analisis datacross-section, yang artinya selain melihat pada data agregat

juga melihat lebih akurat pada data mikro. Tidak sedikit studi yang kemudian

menggunakan data mikro dalam menganalisis jalur kredit bank dalam suatu

perekonomian. Kishan dan Opiela (2000) melakukan studi komprehensif dengan

menggunakan data mikro perbankan mengenai jalur kredit dan jalur kredit bank

di Amerika Serikat, dan Ehrmann et al. (2002) menganalisis signifikansi jalur

kredit bank untuk area Euro dengan menggunakan data mikro baik dari basis data

BankScope maupun dari basis data bank sentral negara-negara yang tergabung

dalam zona Euro. Studi yang serupa dalam hal penggunaan model dan data mikro

dalam menganalisis jalur kredit bank telah banyak dilakukan di negara-negara

lain, seperti Juks (2004) untuk negara Estonia, Boughrara dan Ghazouani (2008)

untuk negara-negara MENA (Mesir, Yordania, Tunisia dan Moroko), Bhaumik,

Dang dan Kutan (2011) untuk negara India, dan Juurikkala, Karas dan Solanko

(2011) untuk negara Rusia.

Indonesia hingga saat ini belum memiliki penelitian terbaru yang populer

mengenai jalur kredit bank dengan menggunakan data mikro. Salah satu studi

dengan data mikro mengenai jalur kredit bank di Indonesia yang banyak menjadi

rujukan adalah penelitian oleh Agung et al. (2002). Mengingat bahwa instrumen

kebijakan moneter telah mengalami perubahan sejak tahun 2000, maka sangat

penting penelitian dengan data mikro dilakukan dengan menggunakan indikator

kebijakan moneter terkini agar dapat membuktikan secara empiris bahwa jalur

kredit bank benar beroperasi dan respon perbankan dapat terukur sehingga

formulasi kebijakan moneter mampu tepat sasaran. Penggunaan data mikro dapat

menggambarkan jalur kredit secara lebih akurat dan hasil analisis dari model yang

menggunakan data mikro sangat bermanfaat bagi bank sentral dalam mengukur

respon perbankan ketika bank sentral memutuskan untuk menjalankan kebijakan

moneter melalui instrumen tertentu.

Secara garis besar, penelitian dengan menggunakan data mikro fokus pada

pembuktian asumsi beroperasinya jalur kredit bank dalam perekonomian.

(35)

sebagai syarat beroperasinya jalur kredit bank. Asumsi pertama yaitu pelaku

ekonomi memandang bahwa kredit bank spesial dan operasi pasar terbuka

menyebabkan pergeseran dari kurva penawaran kredit. Asumsi kedua yaitu

pergeseran dari kurva penawaran kredit akan dapat dibuktikan jika diketahui bank

merespon terhadap guncangan moneter dengan merubah penawaran kredit.

Pergeseran penawaran kredit dapat terjadi jika terpenuhi dua kondisi, yaitu:

1. Kredit bank dan surat berharga bukan merupakan substitusi sempurna untuk

beberapa peminjam kredit ; atau beberapa peminjam bersifatbank-dependent.

2. Bank sentral harus dapat memengaruhi penawaran kredit bank.

Kondisi pertama dapat dibuktikan dengan rangkaian data mengenai

dominasi perbankan sebagai sumber pembiayaan baik pembiayaan yang bersifat

konsumsi, modal kerja maupun investasi. Handa (2000) menyebutkan bahwa

dengan melihat data mengenai perkembangan finansial akan dapat membedakan

antara kontribusi dari perbankan dan unsur lainnya dari sistem finansial terhadap

pertumbuhan output. Perkembangan finansial seringkali diukur oleh jumlah dan

variasi dari intermediasi finansial, ukuran dan tingkat kerumitan pasar saham dan

obligasi, dan efisiensi aturan, regulasi dan praktik mengatur praktik-praktik

finansial dari perusahaan-perusahaan dalam perekonomian. Kontribusi perbankan

terhadap pertumbuhan output dijelaskan melalui jalur kredit bank yaitu melalui

pertumbuhan kredit yang berdampak pada investasi dan pada akhirnya berdampak

pada pertumbuhan output.

Untuk kondisi kedua, harus dibuktikan apakah memang Bank Indonesia

dengan instrumennya yaitu BI Rate mampu memengaruhi penawaran kredit bank.

Asumsinya adalah reaksi bank terhadap perubahan suku bunga acuan yaitu

dengan menyesuaikan jumlah kredit baru. Penyesuaian kredit baru akan melihat

pada perubahan kredit di waktu-waktu sebelumnya sehingga pertumbuhan kredit

bank mampu menggambarkan adanya pergeseran penawaran kredit. Pembuktian

kondisi kedua dapat dilakukan dengan menggunakan data mikro bank yang

diambil dari neraca bank yang menggambarkan karakteristik bank. Penggunakan

data mikro bank diperlukan karena kredit bisa bergeser dari sisi permintaan

(36)

pergeseran yang sebenarnya terjadi adalah dari sisi penawaran (bank) dan terjadi

karena dari pengaruh kebijakan moneter.

Karakteristik bank dalam berbagai penelitian mengenai jalur kredit bank

dengan menggunakan data mikro bank diwakili oleh tiga variabel yaitu ukuran

total aset bank (size), likuiditas (liquidity), dan kapital (capitalization). Total aset

adalah pendekatan ukuran dari kesehatan bank. Karakteristik likuiditas digunakan

karena level tinggi dari likuiditas dapat memungkinkan bank untuk menarik

dananya sendiri daripada mencari ke pasar kredit setelah diberlakukannya

kebijakan moneter ketat. Karakteristik terakhir yaitu kapital adalah karena kapital

yang tinggi berkaitan erat dengancreditworthinessbank ketika berusaha menutupi

terjadinya penurunan deposito dengan cara mencari sumber dana lain. Kapital

bank dapat dikategorikan menjadi dua bentuk (Mishkin, 2006) :

1. Leverage ratio yaitu rasio total modal terhadap total aset bank. Bank yang diklasifikasikan sebagai bank berkapital baik (well capitalized) adalah bank yang memenuhileverage ratio diatas 5%. Bank yang memiliki leverage ratio

dibawah 3% akan memicu pengawasan melalui batasan regulasi terhadap bank tersebut. Kishan dan Opiela (2000) membagi tiga kategori leverage ratio

untuk perbankan di Amerika Serikat yaitu < 8 % (undercapitalized), 8% ≤

leverage ratio< 10% (adequately capitalized), dan ≥ 10% (well capitalized).

2. Risk-based capital requirements (Capital Adequacy Ratio) berdasarkan Basel

Accord. Basel Accord ditetapkan oleh Basel Committee on Banking

Supervision yang mengadakan pertemuan Bank for International Settlements

di Basel. Basel 2 menetapkan bahwa bank memegang kapital setidaknya 8%

dari aset tertimbang menurut resiko. Basel 2 berdasarkan pada tiga pilar yaitu :

a. Pilar 1 bertujuan untuk menghubungkan penyediaan modal lebih dekat

dengan resiko aktual.

b. Pilar 2 fokus pada memperkuat proses pengawasan, khususnya dalam

menilai kualitas manajemen resiko dalam institusi perbankan dan dalam

mengevaluasi apakah institusi tersebut memiliki prosedur yang sesuai

(37)

c. Pilar 3 fokus pada peningkatan disiplin pasar melalui peningkatan detail

disclosure mengenai ekspos dari kredit bank, jumlah reserves dan modal,

officialyang mengontrol bank, dan efektivitas dari sisteminternal rating.

Teori yang mendasari ketiga karakteristik tersebut untuk digunakan dalam

penelitian yaitu :

1. Ukuran Aset (Size) : Bank kecil menghadapi masalah informasi asimetris di

pasar modal bila dibandingkan dengan bank besar, sehingga lebih sulit untuk

mendapatkan dana non-deposito untuk menghadapi guncangan moneter

negatif.

2. Likuiditas (Liquidity) : Bank dengan aset likuid bisa menarik cadangan kas

ataupun surat berharga untuk bertahan dengan perilaku kreditnya ketika terjadi

guncangan moneter negatif.

3. Kapital (Capitalisation) : Bank bermodal rendah memiliki batasan akses

terhadap dana non-deposito sehingga akan terpaksa menurunkan penawaran

kredit bila dibandingkan dengan bank bermodal tinggi pada saat terjadi

guncangan moneter negatif.

Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, dapat dirumuskan

permasalahan sebagai berikut :

1. Apakah suku bunga acuan (BI Rate) mampu memengaruhi pertumbuhan

kredit bank di Indonesia periode triwulan IV tahun 2005 sampai triwulan III

tahun 2011 ?

2. Apakah ada perbedaan respon bank berdasarkan karakteristik bank yaitu

ukuran aset, likuiditas dan kapital ketika terjadi perubahan suku bunga acuan

di Indonesia periode triwulan IV tahun 2005 sampai triwulan III tahun 2011 ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berkaitan dengan permasalahan penelitian yang ada, tujuan penelitian

adalah sebagai berikut :

1. Menguji apakah suku bunga acuan (BI Rate) mampu memengaruhi

pertumbuhan kredit bank di Indonesia periode triwulan IV tahun 2005 sampai

(38)

2. Menganalisis perbedaan respon bank berdasarkan karakteristik bank yaitu

ukuran aset, likuiditas dan kapital ketika terjadi perubahan suku bunga acuan

di Indonesia periode triwulan IV tahun 2005 sampai triwulan III tahun 2011.

1.4 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

dampak perubahan BI Rate terhadap pertumbuhan kredit perbankan. Selain itu,

hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pentingnya

bank sehat dan aman dalam tataran moneter Indonesia. Penelitian ini juga dapat

digunakan sebagai bahan perbandingan antar jalur transmisi karena untuk dapat

memahami tiap jalur transmisi secara utuh diperlukan bukti empiris.

1.5 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian

Ruang lingkup penelitian meliputi tiga hal. Pertama, memberikan deskripsi

mengenai struktur perbankan Indonesia. Kedua, melakukan studi ekonometrik

untuk mengkaji respon perbankan melalui variabel pertumbuhan kredit bank

ketika terjadi perubahan suku bunga acuan. Hal tersebut dilakukan untuk melihat

apakah BI Rate selaku suku bunga acuan mampu memengaruhi penawaran kredit

perbankan yang tercermin melalui perubahan pertumbuhan kredit bank ketika

terjadi perubahan suku bunga BI Rate. Ketiga, melakukan studi ekonometrik

untuk melihat sensitivitas bank berdasarkan karakteristik bank dalam menghadapi

perubahan suku bunga BI Rate. Hal tersebut dilakukan untuk melihat apakah BI

Rate memiliki pengaruh yang berbeda terhadap bank dengan karakteristik yang

berbeda.

Penelitian ini menggunakan data mikro bank (neraca bank) dan data

makroekonomi dimana data mikro bank digunakan untuk membuktikan mampu

atau tidaknya suku bunga acuan (BI Rate) memengaruhi penawaran kredit bank.

Cakupan analisis deskriptif adalah seluruh bank yang beroperasi tiap tahunnya

untuk tahun 2001 sampai dengan tahun 2011. Cakupan analisis ekonometrik

adalah 99 bank umum dari 108 bank umum yang neraca triwulanan-nya tersedia

untuk diunduh di website Bank Indonesia. Kategori dari 99 bank umum tersebut

(39)

bank umum swasta nasional (BUSN) devisa, 22 BUSN Non-devisa dan 3 bank

asing. Perlakuan yang diterapkan dalam memilih 99 bank umum adalah

bank-bank yang merger dan akuisisi digunakan data bank-bank hasil merger (seolah merger

dan akuisisi terjadi sejak awal periode sampel), bank yang tidak memiliki

tabungan di neracanya tidak dimasukkan sebagai sampel dan bank dengan

fluktuasi aset yang tinggi serta capital adequacy ratio (CAR) diatas 500%

dikeluarkan dari sampel. Daftar lengkap bank yang dikeluarkan dari sampel dapat

dilihat di Lampiran 2.

Keterbatasan dari penelitian ini yaitu penggunaan data mikro bank yang

masih terbatas pada total aset, likuiditas, modal dan kredit. Beberapa keterbatasan

lainnya adalah sebagai berikut :

1. Respon bank yang dikaji yaitu penyesuaian kredit dengan mengasumsikan

terjadinya penurunan reserves bank ketika terjadi perubahan suku bunga BI

Rate, tanpa membuktikan secara empiris bahwa penurunan reserves bank

memang benar terjadi ketika ada perubahan suku bunga BI Rate.

2. Penelitian ini tidak meneliti dampak perubahan BI Rate terhadap

perekonomian riil yaitu output dan inflasi yang umum dilakukan ketika

meneliti jalur kredit bank dengan menggunakan data agregat.

3. Penelitian ini tidak mengkaji respon lembaga keuangan lain seperti mutual

funds, perusahaan asuransi, dan lainnya ketika terjadi perubahan suku bunga

BI Rate.

4. Jalur transmisi lainnya tidak dikaji karena luasnya lingkup jalur transmisi.

Spesifikasi model antar jalur transmisi juga memiliki perbedaan sehingga

untuk mengkaji keseluruhan jalur akan membutuhkan spesifikasi model yang

(40)
(41)

II.

TINJAUAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Transmisi Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh bank sentral

untuk memengaruhi perekonomian. Bank sentral adalah pemain terpenting dalam

pasar finansial diseluruh dunia karena merupakan otoritas pemerintah yang

bertanggungjawab terhadap kebijakan moneter. Tindakan bank sentral

memengaruhi suku bunga, jumlah kredit, dan penawaran uang, yang kesemuanya

memiliki dampak langsung tidak hanya di pasar finansial tetapi juga terhadap

output agregat dan inflasi (Mishkin, 2006).

Dampak kebijakan moneter terhadap pasar finansial, output agregat dan

inflasi menjadi perhatian khusus karena pengambil kebijakan moneter atau bank

sentral harus memiliki penilaian yang tepat mengenai waktu dan efek dari

kebijakan yang akan ditempuh. Penilaian tersebut memerlukan pemahaman

mengenai transmisi kebijakan moneter.

Transmisi kebijakan moneter adalah interaksi antara pengambil kebijakan

moneter atau bank sentral dengan perbankan, lembaga finansial lainnya dan para

pelaku di sektor riil. Interaksi tersebut merupakan transaksi finansial antara bank

sentral dengan perbankan dan lembaga finansial lainnya. Transaksi berikutnya

adalah transaksi antara perbankan dan lembaga finansial lainnya dengan para

pelaku ekonomi dalam berbagai aktivitas ekonomi di sektor riil. Pengaruh dari

transaksi finansial yang diawali dengan sikap (stance) kebijakan moneter tersebut

bisa melalui berbagai jalur yang disebut dengan jalur transmisi.

Mekanisme transmisi menurut Dornbusch et al. (2008) terjadi dalam dua

langkah yaitu :

1. Perubahan saldo rill (real balances) menciptakan disekuilibrium portofolio

yaitu pada tingkat suku bunga dan tingkat pendapatan yang berlaku,

masyarakat memegang uang lebih banyak dari yang mereka perlukan. Hal

(42)

Mekanisme Transmisi

(1) (2) (3) (4)

Perubahan jumlah penawaran uang riil

Penyesuaian portofolio yang akan menyebabkan perubahan harga aset dan suku bunga

Pengeluaran menyesuaikan diri terhadap perubahan suku bunga

Output

menyesuaikan dri terhadap perubahan permintaan agregat

Sumber : Dornbuschet al.(2008)

Gambar 4 Mekanisme transmisi kebijakan moneter

Mishkin (2006) menggambarkan mekanisme transmisi dengan membagi

mekanisme tersebut menjadi tiga bagian besar, yaitu jalur suku bunga tradisional,

jalur harga aset, dan jalur kredit. Tiga bagian besar tersebut terbagi lagi menjadi

sepuluh jalur yang lebih rinci yaitu jalur suku bunga tradisional, jalur kurs, jalur

teori Tobin’s q, jalur pengaruh kekayaan, jalur kredit bank, jalur neraca, jalur arus

kas, jalurunanticipated price level, dan jalur likuiditas rumah tangga (Gambar 5).

1. Jalur Suku Bunga Tradisional

Jalur ini menekankan pada pentingnya harga dalam pasar keuangan, yaitu

suku bunga, yang memengaruhi inflasi dan sektor riil. Perkembangan suku

bunga di sektor keuangan ini sangat berkaitan dengan permintaan konsumsi dan

investasi. Kenaikan jumlah uang beredar akan diikuti dengan kenaikan

ekspektasi harga dan inflasi. Kenaikan ini akan menurunkan suku bunga riil.

Penurunan ini kemudian akan menstimulasi peningkatan investasi melaluicost of

capital yang lebih murah atau konsumsi rumah tangga untuk pembelian

barang-barang tahan lama melalui kredit konsumsi akan meningkat yang

kemudian akan mendorongoutput.

2. Jalur Harga Aset. Jalur ini dibagi lagi menjadi tiga jalur rinci yaitu :

a. Jalur Kurs terhadap Ekspor Neto

Ketika suku bunga riil dalam negeri turun, aset dalam mata uang

domestik menjadi kurang menarik relatif terhadap aset dengan denominasi

mata uang asing. Akibatnya, nilai aset mata uang domestik terhadap aset

dengan denominasi mata uang asing turun, dan mata uang domestik

terdepresiasi (E ↓). Depresiasi tersebut menyebabkan kenaikan ekspor bersih

(NX ↑) dan output agregat pun meningkat (Y ↑).

b. Teori Tobin (Tobin’s q Theory)

(43)

perekonomian melalui harga saham. Kenaikan jumlah uang beredar akan

meningkatkan harga saham. Yang akan meningkatkan nilai q (nilai pasar

dari perusahaan dibagi dengan biaya memperoleh modal (replacement cost

of capital)). Kenaikan nilai q ini berarti modal peralatan dan pabrik baru

relatif lebih murah dibanding nilai pasar perusahaan, sehingga perusahaan

dapat menerbitkan saham dengan harga yang lebih tinggi. Hasil penjualan

saham yang tinggi ini akan meningkatkan investasi perusahaan dan

selanjutnya berdampak positif terhadap sektor riil.

c. Efek Kekayaan

Jalur harga aset berikutnya adalah melalui pengaruhnya terhadap

kekayaan dengan melihat dari sisi masyarakat dengan pola konsumsinya.

Kebijakan moneter ekspansi akan meningkatkan harga saham yang

selanjutnya akan meningkatkan kekayaan yang dimiliki. Meningkatnya

kekayaan akan mendorong peningkatan konsumsi yang berdampak positif

terhadap sektor riil.

3. Jalur Kredit

Ketidakpuasan akan teori yang menjelaskan pengaruh suku bunga telah

memunculkan penjelasan baru yang didasarkan pada masalah informasi asimetris

di pasar keuangan. Jalur ini terbagi menjadi beberapa jalur sebagai berikut :

a. Jalur Kredit Bank

Peranan perbankan dalam pasar kredit sangat penting terutama untuk

mengatasi timbulnya permasalahan informasi yang asimetris. Skema

berikut adalah gambaran efek kebijakan moneter ekspansi melalui saluran

kredit perbankan :

Kebijakan moneter ekspansif⇒deposito ↑⇒kredit ↑⇒ I ↑⇒ Y ↑

Peningkatan jumlah uang beredar akan meningkatkan simpanan bank

yang selanjutnya akan meningkatkan kemampuan bank dalam memberikan

pinjaman. Karena banyak peminjam yang bergantung pada pinjaman bank

dalam melakukan aktivitas ekonominya maka peningkatan pinjaman ini akan

meningkatkan investasi dan juga mungkin pengeluaran konsumsi yang

selanjutnya akan berdampak pada output. Proses ini akan terjadi selama

(44)

sumber pinjaman lainnya. Efek kebijakan moneter ekspansi ini akan

berbeda antar perusahaan kecil dan perusahaan besar, karena biasanya

perusahaan kecil lebih tergantung pada pinjaman perbankan sedangkan

perusahan besar biasanya memiliki sumber pembiayaan yang beragam.

b. Jalur Neraca Perusahaan

Saluran ini juga didasari oleh adanya permasalahan informasi yang

asimetris. Semakin banyak kekayaan perusahaan maka semakin rendah

risiko timbulnya masalah informasi asimetris (adverse selection dan moral

hazard/AS & MH). Risiko yang rendah akan menstimulasi pemberian

pinjaman yang berdampak pada meningkatnya investasi dan kemudian

berdampak pada sektor riil dengan adanya peningkatan output.

c. Jalur Arus Kas

Jalur ini melihat dari arus kas perusahaan. Saluran neraca bekerja

melalui dampaknya terhadap aliran dana (cash flow) perusahaan. Penurunan

suku bunga akan memperbaiki neraca perusahaan karena adanya

peningkatan aliran modal. Perbaikan neraca perusahaan ini akan

menurunkan masalah informasi asimetris sehingga perusahaan akan lebih

mudah memperoleh akses kredit. Kemudahan akses terhadap kredit ini

akan meningkatkan investasi yang berdampak positif padaoutput.

d. Jalur Harga yang Tidak Terantisipasi

Jalur ini masih berhubungan dengan jalur neraca bank melalui

kekayaan bersih perusahaan (real net worth). Kebijakan moneter

ekspansi menyebabkan kenaikan harga-harga umum (unanticipated price)

yang selanjutnya akan meningkatkan kekayaan bersih perusahaan (net

worth). Peningkatan ini akan menurunkan permasalahan informasi

asimetris dalam pemberian pinjaman. Peningkatan pinjaman ini kemudian

akan berdampak positif pada investasi danoutput.

e. Efek Kekayaan rumah Tangga

Tinjauan lain dari saluran neraca ini adalah terhadap aset

keuangan yang dimiliki oleh rumah tangga dan kaitannya dengan

pembelanjaan mereka terhadap barang-barang aset tetap (durable goods)

(45)

n

PENGARUH HARGA ASET LAINNYA PANDANGAN KREDIT

(46)

Gultom (2008) menggambarkan kerangka mekanisme transmisi kebijakan

moneter berdasarkan Inflation Targetting Framework yang mulai di adopsi

Indonesia sejak tahun 2000, dan menjadi full-pledged inflation tragetting sejak

tahun 2005 (Gambar 6).

Bank Indonesia selaku otoritas moneter di Indonesia menetapkan suku

bunga kebijakan BI rate sebagai instrumen kebijakan utama untuk mempengaruhi

aktivitas kegiatan perekonomian dengan tujuan akhir pencapaian

inflasi. Perubahan BI rate mempengaruhi inflasi melalui berbagai jalur,

diantaranya jalur suku bunga, jalur kredit, jalur nilai tukar, jalur harga aset, dan

jalur ekspektasi.

Sumber : Gultom (2008)

(47)

Sumber : Bank Indonesia (2011)

Gambar 7 Mekanisme transmisi kebijakan moneter Bank Indonesia

Milton Friedman (1958) dalam Handa (2000) menyatakan bahwa kebijakan

moneter memengaruhi perekonomian dan harga dengan lag dan jangka waktu

yang relatif panjang. Bofinger (2001) menuliskan terbatasnya pengetahuan

mengenai proses transmisi dikarenakan oleh beberapa faktor yang digambarkan

secara detail oleh Bernanke dan Blinder (1988) yaitu :

1. Adanya ketidakpastian model (model uncertainty), lebih spesifik misalnya

tidak ada konsensus di antara pengamat ekonomi mengenai model yang

‘benar’ atau teknik ‘ekonometrik yang benar’.

2. Transmisi impuls moneter dari bank sentral ke perekonomian riil

diasosiasikan dengan lag yang panjang (long and variable lags).

(48)

Gangguan (misal : resesi)

Inside lag(reaksi bank sentral)

 Lag informasi (information lag) : adanya keterlambatan (delay) satu

hingga tiga bulan mengenai data situasi siklus terkini.

 Lag identifikasi (recognition lag) : penurunan Produk Nasional Bruto

dalam satu triwulan, sebagai contoh, tidak secara khusus

mengindikasikan adanya resesi ; observasi yang lebih panjang

dibutuhkan untuk mengenali adanya resesi tersebut.

 Lag keputusan (decision lag) : dalam kasus kebijakan moneter,

keputusan diambil dalam waktu yang sangat singkat.

Pengukuran kebijakan moneter (perubahanoperating target)

Intermediate lag(reaksi dari bank dan pasar finansial)

Efek terhadap kredit bank, suku bunga untuk perusahaan dan rumah tangga,

Jumlah Uang Beredar (JUB)

Outside lag(reaksi non-bank, keputusan investasi, keputusan menabung)

Efek terhadap belanja swasta, penawaran dan permintaan tenaga kerja, dan

pada akhirnya target-target makroekonomi

Eliminasi gangguan

Sumber : Bofinger (2011)

Gambar 8 Lagdalam kebijakan moneter

Analisis empiris terhadap efek dari kebijakan moneter telah memposisikan

mekanisme kebijakan moneter sebagai “black box”. Hal tersebut dikarenakan

kebijakan moneter memengaruhi inflasi dan perekonomian dengan lag tertentu

(49)

kebijakan moneter yang paling tepat dari sisi waktu dan sisi efek kebijakan

moneter.

2.2 Jalur Kredit dan Jalur Kredit Bank

Jalur kredit adalah mekanisme transmisi yang berbasis pada permasalahan

informasi asimetris di pasar kredit. Menurut pandangan jalur kredit, perubahan

dalam kebijakan moneter yang menaikkan atau menurunkan suku bunga pasar

cenderung untuk merubah premi finansial eksternal (external finance premium)

dengan arah yang sama. Adanya efek tersebut menyebabkan dampak dari

kebijakan moneter terhadap biaya meminjam uang makin meningkat. Jalur kredit

bank memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dari jalur neraca perusahaan

karena memfokuskan pada efek yang mungkin terjadi dari tindakan kebijakan

moneter terhadap penawaran kredit oleh lembaga yang menyimpan deposito,

dalam hal ini yaitu bank (Bernanke dan Gertler, 1995).

Jalur kredit dalam Freixas dan Rochet (1999) digambarkan dengan

mengadopsi model Bernanke dan Blinder (1988). Asumsi dari jalur kredit adalah :

1. Tingkat harga tidak dapat menyesuaikan secara cepat untuk meng-offset

perubahan yang terjadi dalam kuantitas uang nominal.

2. Bank sentral dapat langsung memengaruhi volume kredit dengan

menyesuaikanreservesbank.

3. Kredit dan surat berharga merupakan substitusi tidak sempurna bagi peminjam

dan bank.

Dengan menggunakan konteks model IS/LM diasumsikan agen dalam

perekonomian yaitu rumah tangga, perusahaan, bank sentral dan bank, serta

pemerintah. Diasumsikan terdapat tiga jenis aset yaitu uang (D), surat berharga

(B) dan kredit bank (L). Penjabaran jalur kredit dalam Freixas dan Rochet (1999)

adalah sebagai berikut :

1. Aset Rumah tangga diasumsikan terdiri dari dua kategori yaitu pendapatan riil

(y) dan pendapatan dari suku bunga surat berharga (rB) yang menentukan

tingkat tabungan riil (S) yaitu :

(50)

2. Perusahaan memiliki dua alternatif pembiayaan yaitu surat berharga dengan

tingkat suku bunga rBdan kredit bank dengan tingkat suku bunga rLsehingga :

I(rB,rL) = Bf(rB,rL) + Lf(rB,rL) f = perusahaan 2.2

3. Bank sentral menentukan reserve rate sebesar α yang menentukan deposito

bank (Db) dan surat berharga yang dimiliki oleh bank(Bb) sehingga :

Db=R/α dan Bb= R(1-α)/ α 2.3

4. Bank memiliki tiga aset yaitu reserves(R), kredit (L) dan surat berharga(B)

sehingga:

R + Lb+ Bb= Db b = bank 2.4

a. Alokasi dari kredit bank adalah Lb= Db– R

Lb= R/ α – R = R(1-α)/ α 2.5

b. Optimisasi portofolio oleh bank adalah :

Lb= μ(rB,rL)R 2.6

Bb= v(rB,rL)R 2.7

dengan μ(rB,rL)R + v(rB,rL)R = 1-α/α 2.8

5. Pemerintah diasumsikan membiayai pengeluaran riil (G) dengan reserves (R)

yang dipinjam dari bank dan dengan menerbitkan obligasi (Bg) :

G = R + Bg g=pemerintah 2.9

6. Tingkat equilibrium yang terjadi variabel y dan rBadalah :

Lf(rB,rL) = μ(rB,rL)R yaitu equilibrium di pasar uang (kurva LM) 2.10

I(rB,rL) + G = S(y,rB) yaitu equilibrium di pasar barang (kurva IS) 2.11

sehingga rL= ϕ(rB,R) 2.12

7. Dengan mensubstitusikan persamaan (2.12) ke persamaan (2.11) didapatkan

gambaran kurvaCommodities and credit(CC) yaitu :

I(rB, ϕ(rB,R)) + G = S(y,rB) 2.13

Dari sistematika di atas dapat disimpulkan bahwa kenaikan cadangan

(reserves) bank memiliki dua efek dalam model Bernanke dan Blinder yaitu :

1. Kuantitas uang meningkat (kurva LM bergeser ke kanan bawah).

2. Sebagai konsekuensinya, volume dari kredit meningkat sehingga

meningkatkan permintaan investasi oleh perusahaan (kurva CC bergeser ke

(51)

Sumber : Freixas dan Rochet (1999)

Gambar 9 Jalur kredit kebijakan moneter model Bernanke dan Blinder (1988)

Jalur kredit dapat secara spesifik terbagi menjadi dua jalur yaitu jalur necara

perusahaan dan jalur kredit bank. Jalur kredit bank adalah bagian dari jalur kredit

yang melihat lebih dalam pada dampak kebijakan moneter terhadap kekuatan

neraca bank. Menurut jalur kredit bank, bank berpartisipasi dalam kebijakan

moneter tidak hanya dari sisi kewajiban (liabilities) tetapi juga melalui sisi aset.

Variabel yang dilihat dari jalur kredit bank adalah kredit bank sebagai bagian dari

aset bank. Ketika menghadapi guncangan moneter, bank yang mengalami

penurunan deposito jika tidak dapat meng-offset penurunan tersebut dengan

mencari sumber dana lain yang lebih murah akan terpaksa menurunkan

penawaran kredit mereka. Berkurangnya penawaran kredit disertai dengan

dominasi peminjam yang bank-dependentdalam perekonomian akan menurunkan

tingkat investasi yang berdampak pada tertekannya perekonomian riil.

Skema jalur kredit bank dapat memiliki penjelasan sebagai berikut (Gultom,

2008) :

BI rate/SBI rate ↓⇒PUABrate↓⇒Deposit rate↓⇒ Loan rate

Bank Loan↑⇒Y ↑

Kebijakan moneter ekspansif dari Bank Indonesia, yang diwakili oleh BI

rate yang turun, akan menambah likuiditas moneter di pasar sehingga suku bunga

PUAB akan turun, demikian juga dengan suku bunga simpanan. Komponen

penentu suku bunga kredit yang paling utama adalah suku bunga simpanan

(52)

suku bunga simpanan rendah maka suku bunga kredit juga akan turun.

Turunnya suku bunga kredit akan direspon oleh calon debitur yang

membutuhkan dana untuk berbagai kebutuhan, karena pembiayaan

eksternal yaitu pinjaman bank, lebih murah dibandingkan dengan pembiayaan

melalui modal sendiri. Meningkatnya jumlah kredit akan mendorong sektor

riil lebih meningkat.

Mishkin (2006) menyebutkan tiga alasan mengapa jalur kredit merupakan

mekanisme transmisi moneter yang penting, yaitu :

1. Banyak bukti mengenai perilaku individu perusahaan mendukung pandangan

bahwa ketidaksempurnaan pasar kredit yang penting untuk beroperasinya jalur

kredit memang memengaruhi keputusan penambahan tenaga kerja dan

pengeluaran perusahaan.

2. Adanya bukti bahwa perusahaan-perusahaan kecil (yang cenderung

mengalami credit-constrained) mengalami kesulitan yang lebih besar akibat

kebijakan moneter kontraktif bila dibandingkan dengan perusahaan besar,

yang tidak mengalamicredit-constrained.

3. Pandangan informasi asimetris mengenai ketidaksempurnaan pasar kredit

sebagai inti dari analisis jalur kredit merupakan pembentukan suatu teori yang

terbukti berguna dalam menjelaskan banyak fenomena penting lainnya, seperti

mengapa banyak lembaga keuangan yang muncul, mengapa sistem finansial

kita memiliki struktur seperti saat ini, dan mengapa krisis finansial sangat

merusak perekonomian.

Agung et al. (2002) meneliti jalur kredit bank di Indonesia dengan

menggunakan data bulanan Januari 1991 hingga Desember 2000 dan suku bunga

SBI serta suku bunga PUAB sebagai indikator kebijakan moneter. Penelitian

menggunakan baik data agregat maupun data disagregat. Penggunaan data

disagregat karena penelitian empiris menggunakan data agregat menyebabkan

masalah identifikasi yaitu ketidakmampuan untuk menyatakan apakah penurunan

kredit sebagai hasil dari kebijakan moneter kontraktif dari pergeseran penawaran

atau pergeseran permintaan. Pergeseran permintaan kredit lebih konsisten pada

jalur suku bunga karena pergeseran tersebut adalah dampak dari suku bunga

(53)

Penelitian Agung et al. (2002) menggunakan data agregat dengan metode

Vector Autoregression (VAR) menyatakan bahwa sebelum krisis tahun 1998,

kredit bank tidak terpengaruh oleh kebijakan moneter ketat. Untuk keseluruhan

periode sampel walaupun kredit bank responsif terhadap kebijakan guncangan

moneter, respon tersebut cukup rendah. Pemodelan pasar kredit dengan

menggunakan metode VECM memperkuat bukti penelitian VAR yang

menyatakan bahwa dalam jangka pendek, pasar kredit modal kerja dan kredit

investasi didominasi oleh penawaran kredit.

Penelitian Agung et al. (2002) menggunakan data level bank menyatakan

bahwa jalur kredit bank beroperasi di Indonesia dan efek dari kebijakan moneter

lebih terasa bagi bank dengan kapital rendah. Selain itu, ada perbedaan perilaku

kredit bank sebelum dan sesudah krisis tahun 1998. Sebelum krisis, suku bunga

SBI dan PUAB tidak signifikan memengaruhi kredit bank. Namun, menjelang

selama periode menjelang krisis tersebut, kredit bank dari bank berkapital rendah

secara negatif terpengaruh oleh kebijakan moneter ketat. Setelah krisis, kredit

bank sensitif terhadap guncangan moneter dan sensitivitas tersebut lebih tinggi

untuk bank dengan kapital rendah.

Ehrmann et al. (2002) meneliti jalur kredit bank untuk area euro dengan

menggunakan data Bankscope dan data bank sentral tiap negara. Negara yang

dicakup adalah Perancis, Jerman, Italia dan Spanyol. Penelitian menggunakan

model dinamis dengan metode estimasi Generalized Method Moments (GMM)

Penelitian dengan data Bankscope menyatakan bahwa size (ukuran aset) mampu

menjelaskan jalur kredit bank lebih baik dibandingkan dengan liquidity

(likuiditas) maupun capitalisation (kapital). Rata-rata bank mengurangi

penawaran kredit setelah kebijakan moneter kontraktif sebanyak 1.3% untuk

setiap kenaikan suku bunga sebesar 100 basis poin. Bank kecil mengurangi

penawaran kredit mereka lebih besar dibandingkan dengan bank besar.

Estimasi menggunakan data dari basis data Eurosystem (negara Perancis,

Jerman, Italia dan Spanyol) membuktikan bahwa kebijakan moneter kontraktif

menurunkan pertumbuhan kredit bank dalam jangka panjang. Peran ukuran aset

sebagai indikator informasi asimetris tidak relevan di semua negara. Indikator

(54)

kebijakan moneter kontraktif. Indikator lain yaitu likuiditas merupakan indikator

yang signifikan untuk menggambarkan efek distribusi antar bank di Jerman, Italia

dan Spanyol.

Tabel 2 Cakupan sampel penelitian Ehrmannet al.(2002) untuk area Euro

Sumber Data Periode Estimasi Jumlah Bank Jumlah

Observasi

Basis Data Bankscope 1993-1999 ± 3000 ± 9700

Perancis 1994:Q3 – 2000:Q3 312 5327

Jerman 1994:Q3 – 1998:Q3 ± 2700 ± 48000

Italia 1988:Q3 – 1998:Q3 587 28763

Spanyol 1991:Q3 – 1998:Q3 210 4012

Sumber : Ehrmannet al.(2002)

Penelitian mengenai jalur kredit bank dengan menggunakan data mikro dari

neraca bank telah dilakukan di beberapa negara yang dirangkum dalam Tabel 3.

Tabel 3 Penelitian lain mengenai jalur kredit bank dengan menggunakan karakteristik bank

Penulis Data ;

Sumber

Indikator

Moneter Hasil Penelitian

Juurikkala, Karas dan Solanko (2011)

Triwulanan , 1999Q1-2007Q1; Central Bank of Russia

-- broad

money,

monetary

base,

- CBR

rate,

- Mibor

rate

Dengan menggunakan System GMM yang memasukkan lag 1 dari peubah dependen sebagai regresor disimpulkan bahwa perubahan suku bunga tidak signifikan secara statistik memengaruhi kredit bank. Hasil lainnya adalah :

- Perubahanmoney supplysignifikan secara statistik

- Ukuran aset dan likuiditas tidak signifikan menjelaskan kredit bank

- Variabel makro lemah dalam menjelaskan variasi pertumbuhan kredit

- Bank berkapital tinggi secara konsisten menyesuaikan perilaku kredit lebih rendah dibandingkan bank lainnya - Interaksi kapital dengan perubahan kebijakan moneter

(55)

-Penulis Data ; Sumber

Indikator

Moneter Hasil Penelitian

Kishan dan Opiela (2000)

Triwulan , 1980Q1 – 1995Q4 ; The Fed

Federal Funds Rate (FFR), indikator Bernanke Milhov (1958)

Bank dikategorikan berdasarkan enam kategori aset (<$50 juta, $50-100 juta, $100-300 juta, $300-500 juta, $500 juta - $3 miliar, dan > $3 miliar) dan tiga kategori rasio kapital/aset ( <8%, 8-10%, >10%). Kesimpulan penelitian yaitu :

- Persamaan yang diestimasi menggunakan empat lag peubah dependen sebagai regresor

- Dengan FFR, Bank dengan kapital kurang dari $100 juta adalah yang paling responsif terhadap perubahan kebijakan moneter.

- Respon total kredit terhadap perubahan FFR mencerminkan perilaku bank-bank besar karena bank-bank terbesar memiliki volume terbesar dari kredit yang sedang berjalan .

- Bank dengan kapital rendah tidak mampu mendapatkan dana alternatif ketika terjadi guncangan moneter negatif.

- Ukuran aset dan rasio kapital/aset penting dalam membentuk respon bank terhadap perubahan kebijakan moneter.

Juks (2004)

Triwulan, 1996Q4-2004Q1; Eesti Pank

suku bunga EURIBOR

Dengan metode estimasi System GMM yang memasukkan lag 4 dari peubah dependen sebagai regresor didapat kesimpulan yaitu :

- Suku bunga EURIBOR tidak signifikan secara statistik terhadap permintaan deposito, penawaran kredit ke rumah tangga dan penawaran kredit ke perusahaan, signifikan secara statistik terhadap permintaan tabungan

- CAR merupakan determinan penting dari permintaan deposito ; depositor peduli terhadap kesehatan dan tingkat resiko bank.

(56)

2.3 Perbankan Sebagai Lembaga Intermediasi

Handa (2000) mendefinisikan lembaga intermediasi sebagai lembaga atau

institusi yang melakukan kegiatan intermediasi dalam proses finansial antara

peminjam dan pemberi pinjaman dalam perekonomian. Peminjam termasuk

didalamnya konsumen yang memerlukan pinjaman untuk membiayai sebagian

atau keseluruhan kegiatan konsumsi mereka, perusahaan yang meminjam untuk

berinvestasi dalam modal fisik dan pemerintah yang meminjam untuk membiayai

defisit anggarannya. Sedangkan pemberi pinjaman adalah unit perekonomian

yang menabung sebagian dari pendapatan mereka saat ini dengan melakukan

Penulis Data ;

Sumber

Indikator

Moneter Hasil Penelitian

Boughrara dan Ghazouani (2008)

Tahunan, 1989-2007; BankScope

Discount rate

Dengan menggunakan System GMM yang memasukkan lag 1 dari peubah dependen sebagai regresor didapat kesimpulan : - Untuk negara Mesir, terbukti bahwadiscount ratesebagai indikator kebijakan moneter efektif dalam memengaruhi dinamika kredit.

- Kapital dan aset memegang peranan penting dalam membentuk reaksi bank terhadap kebijakan moneter - Ketika mengalami guncangan kebijakan moneter, bank

berkapital tinggi menunjukkan respon yang lebih kuat daripada bank yang berkapital rendah, yang ditunjukkan dengan koefisien bernilai negatif.

- Untuk negara Yordania, aset dan kapital penting dalam membentuk reaksi bank terhadap perubahan kebijakan moneter.

- Untuk negara Moroko, aset dan likuiditas memegang peran penting dalam membentuk reaksi bank terhadap perubahan kebijakan moneter.

- Kapital tidak membuat adanya perbedaan antar bank dalam menghadapi perubahan kebijakan moneter.

Referensi

Dokumen terkait

BI rate merupakan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia yang berfungsi sebagai sinyal dari kebijakan moneter Bank Indonesia, dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa

Kantor Bank Indonesia Medan mempunyai Visi yaitu Berperan aktif dalam pelaksanaan kebijakan moneter Bank Indonesia dalam mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah

Peran Kebijakan Moneter Dalam Perekonomian Indonesia, Presentasi pada Executive Development Training Program Bank BNI, Jakarta, Oktober,

Kantor Bank Indonesia Medan mempunyai Visi yaitu Berperan aktif dalam pelaksanaan kebijakan moneter Bank Indonesia dalam mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah

Kesimpulannya bahwa sarana yang diterapkan dalam strategi kebijakan moneter Bank Indonesia dapat memberikan dukungan terhadap tujuan Komite Nasional Keuangan Syariah: menjadikan

IndicatorVariablePeriodSource IRATEInterest rate proxied by the Bank Indonesia BI rate From July 2005 to July 2016, we use ‘implicit rate’ anchoring to 1-month BI certificate rate;

IndicatorVariablePeriodSource IRATEInterest rate proxied by the Bank Indonesia BI rate From July 2005 to July 2016, we use ‘implicit rate’ anchoring to 1-month BI certificate rate;

From the price growth based on the housing price index of each type of house Bank Indonesia, 2016, after 2011, in aggregate, housing price index for small housing category grows faster