ISTIQAMAH RANI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Karakteristik Bank dan Kebijakan Moneter di Indonesia” adalah karya saya dengan arahan dari Komisi Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Agustus 2012
ISTIQAMAH RANI. Bank Characteristics and Monetary Policy in Indonesia. Under direction of IMAN SUGEMA and TELISA AULIA FALIANTY.
The uniqueness of credit in asset side of bank’s balance sheet is the main view of bank lending channel (BLC). One of BLC assumption is the supply shift of bank credit, which will shift if bank reacts to the monetary shock pursue by central bank. The objectives of this study are to test whether BI rate affects the supply of bank credit and to analyze the reaction of commercial banks to the change of BI rate based on the bank characteristics such as size, liquidity and capitalisation during 4Q2005:3Q2011. The results using System GMM proved that BI rate has a negative and significant effect on the supply of bank credit. The bank’s reaction to the change of BI rate depend on their size dan the degree of liquidity while capitalization does not significantly determine the reaction.
ISTIQAMAH RANI. Karakteristik Bank dan Kebijakan Moneter di Indonesia. Dibimbing oleh IMAN SUGEMA dan TELISA AULIA FALIANTY.
Mekanisme transmisi kebijakan moneter telah menjadi fokus di banyak literatur perekonomian. Kebijakan moneter beroperasi melalui jalur-jalur individual yang disebut dengan jalur transmisi yang salah satunya adalah jalur kredit bank. Jalur kredit bank memandang bahwa kredit bank adalah unik karena sebagai sumber pembiayaan eksternal bagi perusahaan maupun konsumen yang tidak memiliki alternatif pembiayaan seperti penerbitan saham atau obligasi.
Penelitian Kashyap dan Stein (1994) merupakan salah satu penelitian awal
yang menyebutkan pentingnya melihat jalur kredit dari analisis data time-series
dan juga analisis data cross-section, yang artinya selain melihat pada data agregat
juga menganalisis lebih dalam melalui data mikro. Indonesia hingga saat ini belum memiliki penelitian terbaru yang populer mengenai jalur kredit bank dengan menggunakan data mikro. Penelitian dengan data mikro sangat penting dilakukan agar dapat membuktikan secara empiris bahwa jalur kredit bank benar beroperasi dan respon perbankan dapat terukur sehingga formulasi kebijakan moneter mampu tepat sasaran.
Pengaruh kebijakan moneter antar bank bisa berbeda jika karakteristik bank berperan dalam menentukan reaksi bank. Karakteristik bank dalam berbagai penelitian menggunakan data mikro bank diwakili oleh tiga variabel yaitu ukuran
total aset bank (size), likuiditas (liquidity), dan kapital (capitalization). Teori yang
mendasari ketiga karakteristik tersebut adalah : (1) bank kecil menghadapi masalah informasi asimetris di pasar modal sehingga lebih sulit untuk mendapatkan dana non-deposito untuk menghadapi guncangan moneter negatif; (2) Bank dengan aset likuid bisa menarik cadangan kas ataupun surat berharga untuk bertahan dengan perilaku kreditnya ketika terjadi guncangan moneter negatif; (3) Bank bermodal rendah memiliki batasan akses terhadap dana non-deposito sehingga akan terpaksa menurunkan penawaran kredit bila dibandingkan dengan bank bermodal tinggi pada saat terjadi guncangan moneter negatif.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah suku bunga acuan (BI Rate) mampu memengaruhi pertumbuhan kredit bank di Indonesia dan menganalisis perbedaan respon bank berdasarkan karakteristik bank yaitu ukuran aset, likuiditas dan kapital ketika terjadi perubahan BI rate di Indonesia periode triwulan IV tahun 2005 sampai triwulan III tahun 2011. Cakupan analisis penelitian ini adalah 99 bank umum dari 108 bank umum yang neraca triwulanan-nya tersedia untuk
diunduh diwebsiteBank Indonesia.
Hasil estimasi model dinamis dengan menggunakan metode SYS-GMM
menyatakan bahwa pengaruh BI rate adalah negatif dan signifikan dilag-nya yang
menegaskan bahwa kebijakan moneter memang memilikilagdalam memengaruhi
pertumbuhan kredit bank. Variabel makroekonomi lainnya yaitu inflasi menunjukkan bahwa banyaknya perusahaan dan rumah tangga di Indonesia yang
bersifat bank-dependent menjadi dasar argumen bahwa inflasi tidak menurunkan
permintaan kredit sehingga inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan pertumbuhan kredit bank.
Ketika Bank Indonesia mengumumkan BI rate tidak berubah, perubahan pertumbuhan kredit bank tidak tergantung langsung pada ukuran aset yang dimiliki oleh bank. Likuiditas adalah karakteristik yang signifikan memengaruhi perubahan pertumbuhan kredit bank karena bank yang memiliki derajat likuiditas tinggi mampu memacu pertumbuhan kreditnya ketika tidak terjadi perubahan dari BI rate. Likuiditas dalam studi ini merupakan likuiditas yang berbeda dari aset likuid yang digunakan oleh Bank Indonesia dalam beberapa publikasinya karena likuiditas yang digunakan dalam studi ini merupakan likuiditas tertimbang dengan ukuran aset bank dan rata-rata likuiditas seluruh bank serta komponen penyusunnya tidak hanya memperhitungkan penempatan SBI dan Surat Utang Negara (SUN) tetapi juga memperhitungkan surat berharga, kas, dan penempatan pada bank lain. Ketidakpastian perekonomian dan risiko kredit merupakan pertimbangan yang digunakan oleh bank-bank berukuran aset kecil untuk memegang aset likuid yang tinggi.
Koefisien negatif dari ukuran aset dan kapital mengindikasikan bahwa ketika BI rate tidak berubah, semakin besar ukuran aset dan kapital maka semakin rendah perubahan pertumbuhan kredit bank. Bank-bank besar memiliki nilai kredit yang besar sehingga pertumbuhan kreditnya tidak sebesar bank-bank kecil. Selain itu, kapital yang besar umumnya dimiliki oleh bank-bank berukuran besar, sehingga arah dari pengaruh kapital akan sejalan dengan arah dari pengaruh ukuran aset terhadap perubahan pertumbuhan kredit bank. Koefisien CAR yang bernilai negatif menyatakan bahwa semakin kecil CAR suatu bank maka semakin besar perubahan pertumbuhan kredit bank tersebut. CAR yang rendah menunjukkan bahwa bank aktif dalam menyalurkan kredit namun bisa juga berarti Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) bank tersebut besar.
Interaksi antara ukuran aset dengan perubahan BI rate berpengaruh positif terhadap perubahan pertumbuhan kredit bank. Ketika BI rate naik, maka bank yang memiliki ukuran aset yang semakin tinggi mengalami perubahan pertumbuhan kredit yang lebih besar dari bank yang memiliki ukuran aset lebih kecil. Alasan yang mendasari perilaku tersebut sesuai dengan konsensus bahwa pada masa kebijakan moneter kontraktif, bank kecil menghadapi masalah informasi asimetris yang menyebabkan sulitnya mencari dana non-deposito untuk
meng-offsetpenurunan deposito dan tabungan masyarakat yang berpengaruh pada
menurunnyareserves bank. Menurunnyareserves bank mengharuskan bank kecil
Interaksi karakteristik likuiditas dengan perubahan BI rate mendukung kesimpulan dari interaksi ukuran aset dengan perubahan BI rate. Bank-bank dengan ukuran aset yang semakin kecil cenderung memiliki derajat likuiditas yang lebih tinggi. Pengaruh interaksi karakteristik likuiditas dengan perubahan BI rate adalah negatif yang menunjukkan bahwa semakin tinggi derajat likuiditas bank maka lebih sensitif bank tersebut terhadap perubahan BI rate sehingga perubahan pertumbuhan kreditnya lebih rendah bila dibandingkan dengan bank-bank yang derajat likuiditasnya semakin rendah. Juks (2004) menyebutkan bahwa karakteristik likuiditas bisa merupakan variabel yang endogen yaitu bank-bank yang kesulitan untuk menggantikan deposito yang berkurang akibat kebijakan moneter kontraktif dengan bentuk lain dari pendanaan akan mungkin memegang jumlah saham yang sangat besar. Bank-bank dengan derajat likuiditas yang tinggi memang memiliki pilihan untuk mempertahankan perilaku kreditnya dengan
mencairkan asetnya yang bersifat likuid ketika terjadi penurunan reserves akibat
perubahan BI rate, namun risiko kredit yang menyertai kredit membuat bank-bank kecil yang memiliki aset likuid enggan untuk mencairkan aset likuidnya sehingga
aset likuid yang return-nya berdasarkan suku bunga tetap dipegang oleh bank
tersebut. Karakteristik kapital maupun CAR ternyata tidak signifikan dalam menentukan reaksi bank terhadap perubahan BI rate.
Berdasarkan kesimpulan yang didapat, saran untuk pengambil kebijakan (Bank Indonesia) yaitu : (i) Bank Indonesia harus memerhatikan dampak kebijakan moneter terhadap bank yang memiliki karakteristik berbeda; (ii) ukuran aset bank masih menyisakan celah untuk transmisi jalur kredit bank sehingga dapat dimaksimalkan dengan peraturan Bank Indonesia yang memfokuskan pada proporsi seharusnya kredit yang disalurkan yang searah antara ukuran aset bank dengan pertumbuhan kredit bank; (3) likuiditas harus dipertimbangkan secara serius ketika memformulasikan kebijakan moneter agar penilaian dampak kebijakan moneter terhadap pertumbuhan kredit bank dan terhadap perekonomian riil lebih tepat sasaran; dan (iv) Bank Indonesia sebaiknya menekankan tingkat likuiditas yang wajar ke bank-bank yang memiliki likuiditas tinggi agar fungsi
intermediasinya tidak tergerus oleh alat likuid yang menghasilkan return lebih
besar dari kredit. Selain itu, bank sendiri harus dapat memformulasikan besaran yang sesuai ketika akan memutuskan apakah meningkatkan kredit atau justru meningkatkan aset likuid-nya dan bank yang memiliki tingkat likuiditas yang tinggi harus mampu meningkatkan ukuran asetnya agar dampak yang dirasakan ketika terjadi guncangan moneter tidak besar.
©Hak Cipta milik IPB, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya.
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.
b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.
ISTIQAMAH RANI
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Ilmu Ekonomi
NRP : H151104354
Program Studi : Ilmu Ekonomi
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Iman Sugema, M.Ec Dr. Telisa Aulia Falianty
Ketua Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana
Ilmu Ekonomi
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala Rahmat-Nya sehingga tesis dengan judul “Karakteristik Bank dan Kebijakan Moneter di Indonesia” dapat terselesaikan. Penulis menyadari bahwa tesis ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak.
Penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Dr. Ir. Iman Sugema, M. Ec. selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Dr. Telisa Aulia Falianty selaku Anggota Komisi Pembimbing atas waktu yang diluangkan ditengah kesibukannya untuk memberikan arahan, wawasan baru dan bimbingan sangat bermanfaat dalam proses penulisan tesis ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, M.Ec. sebagai penguji luar komisi dan Dr. Lukytawati Anggraeni, S.P., M.Si.selaku perwakilan dari Program Studi Ilmu Ekonomi. Tidak lupa ucapan terima kasih penulis sampaikan untuk Badan Pusat Statistik dan Badan Pusat Statistik Provinsi Riau atas kesempatan yang telah diberikan untuk menempuh pendidikan di IPB. Ungkapan terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada orangtua, suami dan seluruh keluarga atas doa, dukungan dan bantuannya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Agustus 2012
Penulis lahir pada tanggal 18 Juli 1983 di Jakarta. Penulis merupakan anak pertama dari lima bersaudara dari pasangan Bapak Ichsan Nasution dan Ibu Aslaniah Lubis. Penulis menamatkan sekolah dasar di SD Negeri Bojongsari 01 Depok pada tahun 1996. Pada tahun 1998, penulis menamatkan pendidikan jenjang SLTP di SLTP Negeri 6 Bogor dan pada tahun 2001 menamatkan jenjang pendidikan di SMU Negeri 1 Bogor.
Setelah menamatkan pendidikan tingkat SMU, penulis melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta, tamat pada tahun 2005 dengan gelar Sarjana Sains Terapan (S.ST). Penulis kemudian bekerja di Badan Pusat Statistik Kabupaten Kerinci sejak tahun 2006 hingga tahun 2008. Tahun 2008 penulis pindah ke Badan Pusat Statistik Provinsi Riau hingga sekarang.
Halaman
DAFTAR ISI ...xvii
DAFTAR TABEL ...xix
DAFTAR LAMPIRAN ...xxii
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 9
1.4 Kegunaan Penelitian ... 10
1.5 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian ... 10
II. TINJAUAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN ... 13
2.1 Transmisi Kebijakan Moneter... 13
2.2 Jalur Kredit dan Jalur Kredit Bank ... 21
2.3 Perbankan Sebagai Lembaga Intermediasi ... 28
2.4 Kerangka Pemikiran... 31
2.5 Hipotesis Penelitian... 32
III. METODOLOGI PENELITIAN ... 35
3.1 Jenis dan Sumber Data... 35
3.2 Metode Analisis ... 35
3.2.1 Analisis Deskriptif ... 35
3.2.2 Analisis Regresi Data Panel... 35
3.3 Variabel dan Spesifikasi Model ... 45
3.4 Definisi Operasional ... 53
IV. GAMBARAN BANK UMUM DAN SUKU BUNGA KREDIT ... 57
4.1 Pangsa Aset, DPK dan Kredit Bank Umum ... 57
4.2 Pergerakan Suku Bunga BI rate dan Suku Bunga Kredit ... 59
V. ANALISIS KARAKTERISTIK BANK DAN KEBIJAKAN MONETER ... 63
5.1 Karakteristik Sampel... 63
5.2 Hasil Uji Stasioneritas Data ... 67
5.3 Panjang Lag Model Dinamis... 68
5.4 Analisis Hasil Estimasi Model Dinamis ... 70
5.6 Analisis Hasil EstimasiPooled Regression... 80
VI. KESIMPULAN DAN SARAN... 83 6.1 Kesimpulan ... 83 6.2 Implikasi Kebijakan ... 84 6.3 Saran Penelitian Lebih Lanjut ... 85
Halaman
Tabel 1 PDB nominal, total kredit bank dan rasio total kredit terhadap
PDB nominal tahun 2000-2011... 3
Tabel 2 Cakupan sampel penelitian Ehrmann et al. (2002) untuk area Euro... 26
Tabel 3 Penelitian lain mengenai jalur kredit bank dengan menggunakan
karakteristik bank ... 26
Tabel 4 Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ... 35
Tabel 5 Jumlah bank umum berdasarkan jenis bank tahun 2001, 2006 dan
2011... 57
Tabel 6 Pangsa aset berdasarkan jenis bank tahun 2001, 2006 dan 2011... 58
Tabel 7 Pangsa DPK berdasarkan jenis bank tahun 2001, 2006 dan 2011 ... 59
Tabel 8 Pangsa kredit berdasarkan jenis bank tahun 2001, 2006 dan 2011... 59
Tabel 9 Pangsa aset dan pangsa kredit bank dengan aset < Rp. 1 Triliun
bulan September tahun 2011... 63 Tabel 10 Pangsa aset dan pangsa kredit bank dengan aset > Rp. 50 Triliun
bulan September tahun 2011... 64 Tabel 11 Pangsa aset menurut jenis bank triwulan IV tahun 2005-triwulan
III tahun 2011... 65 Tabel 12 Pangsa kredit menurut jenis bank triwulan IV tahun 2005-triwulan
III tahun 2011... 66 Tabel 13 Rangkuman uji stasioneritas variabel penelitian... 68 Tabel 14 Penentuan panjang lag dengan metode SIC ... 69 Tabel 15 Koefisien long-run hasil estimasi model dinamis ... 71 Tabel 16 Persentase kredit bank yang disalurkan menurut kategori
penduduk dan bukan penduduk tahun 2005 - 2011 ... 73 Tabel 17 Daftar bank menurut derajat likuiditas sangat rendah dan derajat
likuiditas sangat tinggi ... 75 Tabel 18 Koefisien long-run untuk karakteristik ukuran aset, likuiditas,
kapital dan CAR... 79 Tabel 19 Sepuluh bank berdasarkan bank-specific effect terendah dan
terbesar dengan memperhitungkan ukuran aset ... 80 Tabel 20 Sepuluh bank berdasarkan bank-specific effect terendah dan
terbesar dengan memperhitungkan derajat likuiditas... 81 Tabel 21 Sepuluh bank berdasarkan bank-specific effect terendah dan
Halaman
Gambar 1 Komposisi aset lembaga keuangan Indonesia bulan Juni tahun
2011 ...1
Gambar 2 Total aset, DPK dan kredit nominal tahun 2000-2011 (triliun
rupiah)...2
Gambar 3 Jumlah bank umum menurut kategori total aset tahun 2006
-2011 ...4
Gambar 4 Mekanisme transmisi kebijakan moneter ...14
Gambar 5 Mekanisme transmisi kebijakan moneter ...17
Gambar 6 Mekanisme transmisi kebijakan moneter ...18
Gambar 7 Mekanisme transmisi kebijakan moneter Bank Indonesia ...19
Gambar 8 Lagdalam kebijakan moneter ...20
Gambar 9 Jalur kredit kebijakan moneter model Bernanke dan Blinder
(1988) ...23 Gambar 10 Kerangka pemikiran ...32 Gambar 11 Kredit bank umum berdasarkan jenis penggunaan tahun
2005-2011 ...60 Gambar 12 Pergerakan suku bunga BI rate, suku bunga KMK, suku bunga
KI dan suku bunga KK tahun 2006-2011...61 Gambar 13 Pangsa KMK, KI dan KK terhadap kredit bank tahun
2005-2011 ...61 Gambar 14 Pertumbuhan kredit, KMK, KI dan KK year on year (yoy%)
tahun 2006-2011 ...62 Gambar 15 Jumlah bank berdasarkan CAR tahun 2005-2011 ...67 Gambar 16 Aktifitas penempatan dana di SBI berdasarkan jenis bank tahun
2005-2011...74 Gambar 17 Pergerakan BI rate dan SBI 1 bulan triwulanan tahun 2005
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Daftar nama bank yang menjadi sampel penelitian... 93
Lampiran 2 Daftar nama bank yang dikeluarkan dari sampel penelitian... 94
Lampiran 3 Hasil uji stasioner variabel ... 95
Lampiran 4 Plot variabel ... 96
Lampiran 5 Hasil uji normalitas dengan Jarque-Bera Probability per cross
section... 91
Lampiran 6 Hasil estimasi dengan metode FD-GMM dengan set karakteristik
ukuran aset, likuiditas dan CAR ... 101
Lampiran 7 Hasil estimasi dengan metode SYS-GMM dengan set karakteristik
ukuran aset, likuiditas dan CAR ... 102
Lampiran 8 Hasil estimasi dengan metode FD-GMM dengan set karakteristik
ukuran aset, likuiditas dan kapital ... 103
Lampiran 9 Hasil estimasi dengan metode SYS-GMM dengan set karakteristik
ukuran aset, likuiditas dan kapital ... 104 Lampiran 10 Hasil estimasi OLS, SYS-GMM, FEM dan FD-GMM untuk
karakteristik ukuran aset, likuiditas dan CAR ... 105 Lampiran 11 Hasil estimasi OLS, SYS-GMM, FEM dan FD-GMM untuk
karakteristik ukuran aset, likuiditas dan kapital ... 106 Lampiran 12 Hasil uji normalitas residual model dinamis ... 107 Lampiran 13 Rangkuman statistik per triwulan ... 108 Lampiran 14 Hasil estimasi pooled regression ... 110 Lampiran 15 Daftar nama bank berdasarkan ukuran aset, likuiditas, kapital dan
CAR bulan Desember 2005, Desember 2008 dan September 2011 ... 100 Lampiran 16 Plot perubahan pertumbuhan kredit 99 bank umum triwulan IV
tahun 2005 – triwulan III tahun 2011 ... 1101 Lampiran 17 Plot variabel ukuran aset 99 bank umum triwulan IV tahun 2005 –
triwulan III tahun 2011 ... 102 Lampiran 18 Plot variabel derajat likuiditas 99 bank umum triwulan IV tahun
2005 – triwulan III tahun 2011 ... 103 Lampiran 19 Plot variabel kapital 99 bank umum triwulan IV tahun 2005 –
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mekanisme transmisi kebijakan moneter telah menjadi fokus di banyak
literatur perekonomian. Tidak sedikit riset yang dilakukan mengenai mekanisme
transmisi kebijakan moneter sebagai usaha untuk dapat lebih mengerti bagaimana
kebijakan moneter bisa memengaruhi perekonomian riil. Kebijakan moneter
beroperasi melalui jalur-jalur individual yang disebut dengan jalur transmisi. Jalur
yang mulai mendapat banyak perhatian karena pengaruhnya yang tidak selalu
sama dalam pembuktian secara empiris adalah jalur kredit. Jalur kredit dipecah
menjadi jalur neraca perusahaan (balance-sheet channel) dan jalur kredit bank
(bank lending channel).
Jalur kredit bank memandang bahwa kredit bank adalah unik karena sebagai
sumber pembiayaan eksternal bagi perusahaan maupun konsumen yang tidak
memiliki alternatif pembiayaan seperti penerbitan saham atau obligasi. Keunikan
kredit bank menempatkan perbankan dalam mekanisme transmisi yang tidak
hanya melihat dari sisi kewajiban bank (liabilities), yang terkait dengan fungsi
menerbitkan deposito (money creation),tetapi terutama melihat dari sisi aset bank
(assets) yang terkait erat dengan fungsi intermediasi perbankan yaitu kredit.
Indonesia memiliki 120 bank umum di bulan Juni tahun 2011 dengan pangsa
aset terbesar yaitu 77% dari total aset lembaga keuangan di Indonesia (Gambar
1). Pangsa tersebut menyatakan dominasi bank umum terhadap lembaga keuangan
lainnya seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR), perusahaan pembiayaan,
Pangsa besar total aset bank umum juga diikuti dengan besaran total aset
yang tercatat terus mengalami peningkatan sejak tahun 2000 hingga 2011. Dana
pihak ketiga (DPK) yang sebagian besar berasal dari tabungan masyarakat juga
mengalami peningkatan dari 699.1 triliun rupiah di tahun 2000 menjadi 2,644.7
triliun rupiah di tahun 2011 (Gambar 2). Peningkatan DPK memperlihatkan
bahwa kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dana di bank terus meningkat.
Sumber : Bank Indonesia (2000-2011)
Gambar 2 Total aset, DPK dan kredit nominal tahun 2000-2011 (triliun rupiah)
DPK yang besar dan total aset yang dominan tidak akan berarti signifikan
bagi perekonomian riil jika perbankan tidak menjalankan fungsi intermediasinya.
Loan to Deposit Ratio (LDR), yaitu rasio yang mencerminkan komitmen
perbankan dalam menjalankan fungsi intermediasinya, di tahun 2011 adalah
sebesar 82.60%. LDR yang cukup tinggi membuktikan bahwa perbankan di
Indonesia berkomitmen menjalankan fungsi intermediasinya. Jika disandingkan
dengan indikator makro seperti Produk Domestik Bruto (PDB) nominal, rasio
total kredit bank terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nominal sejak tahun
2000 hingga 2011 juga menunjukkan peningkatan.
Tabel 1 memperlihatkan bahwa secara umum rasio total kredit bank
terhadap PDB nominal mengalami peningkatan yang menandakan semakin
pentingnya kredit bank dalam perekonomian Indonesia. Krisis di tahun 2008
menurunkan rasio kredit di tahun 2009 dari 27.35% di tahun 2008 menjadi
26.24% ditahun 2009. Hal tersebut disebabkan adanya lagdari pencatatan kredit,
Tabel 1 PDB nominal, total kredit bank dan rasio total kredit terhadap PDB
nominal tahun 2000-2011
Tahun PDB nominal (triliun rupiah)
Total kredit bank (triliun rupiah)
Rasio total kredit terhadap PDB nominal (%)
2000 1,389.77 320.40 23.05
2001 1,646.32 358.60 21.78
2002 1,821.83 410.30 22.52
2003 2,013.67 477.20 23.70
2004 2,295.83 595.10 25.92
2005 2,774.28 730.20 26.32
2006 3,339.22 832.90 24.94
2007 3,950.89 1,045.70 26.47
2008 4,948.69 1,353.60 27.35
2009 5,606.20 1,470.80 26.24
2010 6,436.27 1,756.80 27.30
2011 7,427.09 2,146.90 28.91
Sumber : BPS dan Bank Indonesia (2011), diolah
Rasio total kredit terhadap PDB nominal yang cukup tinggi menjadikan
bank sebagai sumber pembiayaan terbesar di Indonesia bila dibandingkan dengan
sumber pembiayaan lainnya seperti lembaga keuangan bukan bank (LKBB),
penerbitan saham, maupun penerbitan obligasi. Total pembiayaan melalui
perbankan di tahun 2010 mencapai 1,756.80 triliun rupiah sedangkan perusahaan
pembiayaan hanya sebesar 259.55 triliun.
Kinerja perbankan tidak terlepas dari karakteristik bank yang beroperasi di
Indonesia. Dari tahun ke tahun, tidak sedikit bank-bank Indonesia yang
mengalami merger, akuisisi, konversi maupun pencabutan izin operasi. Proses
tersebut menjadikan komposisi bank tidak stagnan. Dilihat dari modal inti, di
tahun 2011 seluruh bank umum tercatat sudah memiliki modal inti di atas Rp. 100
milyar dan Capital Adequacy Ratio (CAR) melebihi batas yang ditetapkan yaitu
8%. Namun jika dilihat dari kategori total aset, mayoritas bank di Indonesia
adalah bank dengan total aset kurang dari 10 triliun rupiah sedangkan bank
dengan total aset lebih dari 50 triliun rupiah kurang dari 20 bank. Bank dengan
rupiah sedangkan bank dengan total aset terendah yaitu Anglomas Internasional
Bank memiliki total aset sebesar 183,4 miliar rupiah di September 2011. Rentang
yang sangat lebar tersebut menunjukkan adanya variasi karakteristik bank yang
beroperasi di Indonesia.
Sumber : Statistik Perbankan Indonesia (2011)
Gambar 3 Jumlah bank umum menurut kategori total aset tahun 2006 - 2011
Banyaknya bank berukuran sedang tidak diiringi dengan pangsa total aset,
kredit dan DPK yang besar karena adanya dominasi dari bank-bank besar. Tahun
2011, pangsa total aset bank besar terhadap total aset bank umum mencapai
63.30%, pangsa terhadap DPK total mencapai 65.43% dan pangsa kredit terhadap
total kredit sebesar 62.92%. Bank-bank besar didominasi oleh Bank Persero dan
Bank Umum Swasta Nasional Devisa (BUSN Devisa). Adanya dominasi bank
besar dari sisi kinerja tetapi tidak dari sisi jumlah menekankan pentingnya
kebijakan moneter yang tepat sasaran. Awal dari kebijakan moneter yang tepat
sasaran adalah formulasi yang tepat mengenai instrumen kebijakan moneter oleh
Undang-Undang (UU) No. 23/1999 yang kemudian direvisi dengan UU No.
3/2004, menyatakan Bank Indonesia mendapatkan otonomi penuh dalam
memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan moneter. Mandat yang
diberikan oleh undang-undang tersebut, membuat Bank Indonesia di awal tahun
2000 mulai mengumumkan target inflasi tahunan. Pada tahun 2005, selain target
inflasi, Bank Indonesia juga mengumumkan BI Rate setiap bulan sebagai suku
bunga acuan yang menjadi cerminan sikap (stance) Bank Indonesia. Suku bunga
acuan tersebut diharapkan akan direspon oleh perbankan. Respon tersebut
seharusnya dapat dipastikan secara empiris, namun pada kenyataannya hingga
saat ini belum ada kajian empiris yang mampu memastikan apakah perbankan di
Indonesia memang merespon terhadap perubahan BI rate melalui perubahan
pertumbuhan kredit. Respon yang terukur dari perbankan sangat diperlukan agar
jalur transmisi kebijakan moneter dapat berjalan terutama jalur kredit bank yang
menempatkan perbankan dalam peran penting. Peran perbankan dalam
mekanisme transmisi kebijakan moneter menjadikan respon kredit perbankan
ketika terjadi perubahan BI rate merupakan kajian penting untuk memahami jalur
kredit bank di Indonesia.
1.2 Perumusan Masalah
Banyaknya penelitian mengenai jalur kredit bank menunjukkan hasil yang
berbeda antar negara karena adanya perbedaan struktur perekonomian ataupun
struktur perbankan. Signifikansi jalur kredit bank di suatu negara dapat diuji
dengan menggunakan baik data agregat maupun data disagregat (data mikro level
bank). Penggunaan data agregat memiliki kelemahan yaitu tidak dapat
melepaskan efek penawaran kredit dari efek permintaan kredit, sehingga respon
bank secara pasti tidak dapat dianalisis. Dengan menggunakan data mikro level
bank, yaitu data neraca bank secara individu, perbedaan respon bank terhadap
guncangan moneter yang sama akan muncul karena adanya variasi dari :
1. Kekuatan finansial dari neraca bank
2. Kemampuan bank untuk menggantikan deposito dengan sumber dana external
Penelitian Kashyap dan Stein (1994) merupakan salah satu penelitian awal
yang menyebutkan pentingnya melihat jalur kredit dari analisis data time-series
dan juga analisis datacross-section, yang artinya selain melihat pada data agregat
juga melihat lebih akurat pada data mikro. Tidak sedikit studi yang kemudian
menggunakan data mikro dalam menganalisis jalur kredit bank dalam suatu
perekonomian. Kishan dan Opiela (2000) melakukan studi komprehensif dengan
menggunakan data mikro perbankan mengenai jalur kredit dan jalur kredit bank
di Amerika Serikat, dan Ehrmann et al. (2002) menganalisis signifikansi jalur
kredit bank untuk area Euro dengan menggunakan data mikro baik dari basis data
BankScope maupun dari basis data bank sentral negara-negara yang tergabung
dalam zona Euro. Studi yang serupa dalam hal penggunaan model dan data mikro
dalam menganalisis jalur kredit bank telah banyak dilakukan di negara-negara
lain, seperti Juks (2004) untuk negara Estonia, Boughrara dan Ghazouani (2008)
untuk negara-negara MENA (Mesir, Yordania, Tunisia dan Moroko), Bhaumik,
Dang dan Kutan (2011) untuk negara India, dan Juurikkala, Karas dan Solanko
(2011) untuk negara Rusia.
Indonesia hingga saat ini belum memiliki penelitian terbaru yang populer
mengenai jalur kredit bank dengan menggunakan data mikro. Salah satu studi
dengan data mikro mengenai jalur kredit bank di Indonesia yang banyak menjadi
rujukan adalah penelitian oleh Agung et al. (2002). Mengingat bahwa instrumen
kebijakan moneter telah mengalami perubahan sejak tahun 2000, maka sangat
penting penelitian dengan data mikro dilakukan dengan menggunakan indikator
kebijakan moneter terkini agar dapat membuktikan secara empiris bahwa jalur
kredit bank benar beroperasi dan respon perbankan dapat terukur sehingga
formulasi kebijakan moneter mampu tepat sasaran. Penggunaan data mikro dapat
menggambarkan jalur kredit secara lebih akurat dan hasil analisis dari model yang
menggunakan data mikro sangat bermanfaat bagi bank sentral dalam mengukur
respon perbankan ketika bank sentral memutuskan untuk menjalankan kebijakan
moneter melalui instrumen tertentu.
Secara garis besar, penelitian dengan menggunakan data mikro fokus pada
pembuktian asumsi beroperasinya jalur kredit bank dalam perekonomian.
sebagai syarat beroperasinya jalur kredit bank. Asumsi pertama yaitu pelaku
ekonomi memandang bahwa kredit bank spesial dan operasi pasar terbuka
menyebabkan pergeseran dari kurva penawaran kredit. Asumsi kedua yaitu
pergeseran dari kurva penawaran kredit akan dapat dibuktikan jika diketahui bank
merespon terhadap guncangan moneter dengan merubah penawaran kredit.
Pergeseran penawaran kredit dapat terjadi jika terpenuhi dua kondisi, yaitu:
1. Kredit bank dan surat berharga bukan merupakan substitusi sempurna untuk
beberapa peminjam kredit ; atau beberapa peminjam bersifatbank-dependent.
2. Bank sentral harus dapat memengaruhi penawaran kredit bank.
Kondisi pertama dapat dibuktikan dengan rangkaian data mengenai
dominasi perbankan sebagai sumber pembiayaan baik pembiayaan yang bersifat
konsumsi, modal kerja maupun investasi. Handa (2000) menyebutkan bahwa
dengan melihat data mengenai perkembangan finansial akan dapat membedakan
antara kontribusi dari perbankan dan unsur lainnya dari sistem finansial terhadap
pertumbuhan output. Perkembangan finansial seringkali diukur oleh jumlah dan
variasi dari intermediasi finansial, ukuran dan tingkat kerumitan pasar saham dan
obligasi, dan efisiensi aturan, regulasi dan praktik mengatur praktik-praktik
finansial dari perusahaan-perusahaan dalam perekonomian. Kontribusi perbankan
terhadap pertumbuhan output dijelaskan melalui jalur kredit bank yaitu melalui
pertumbuhan kredit yang berdampak pada investasi dan pada akhirnya berdampak
pada pertumbuhan output.
Untuk kondisi kedua, harus dibuktikan apakah memang Bank Indonesia
dengan instrumennya yaitu BI Rate mampu memengaruhi penawaran kredit bank.
Asumsinya adalah reaksi bank terhadap perubahan suku bunga acuan yaitu
dengan menyesuaikan jumlah kredit baru. Penyesuaian kredit baru akan melihat
pada perubahan kredit di waktu-waktu sebelumnya sehingga pertumbuhan kredit
bank mampu menggambarkan adanya pergeseran penawaran kredit. Pembuktian
kondisi kedua dapat dilakukan dengan menggunakan data mikro bank yang
diambil dari neraca bank yang menggambarkan karakteristik bank. Penggunakan
data mikro bank diperlukan karena kredit bisa bergeser dari sisi permintaan
pergeseran yang sebenarnya terjadi adalah dari sisi penawaran (bank) dan terjadi
karena dari pengaruh kebijakan moneter.
Karakteristik bank dalam berbagai penelitian mengenai jalur kredit bank
dengan menggunakan data mikro bank diwakili oleh tiga variabel yaitu ukuran
total aset bank (size), likuiditas (liquidity), dan kapital (capitalization). Total aset
adalah pendekatan ukuran dari kesehatan bank. Karakteristik likuiditas digunakan
karena level tinggi dari likuiditas dapat memungkinkan bank untuk menarik
dananya sendiri daripada mencari ke pasar kredit setelah diberlakukannya
kebijakan moneter ketat. Karakteristik terakhir yaitu kapital adalah karena kapital
yang tinggi berkaitan erat dengancreditworthinessbank ketika berusaha menutupi
terjadinya penurunan deposito dengan cara mencari sumber dana lain. Kapital
bank dapat dikategorikan menjadi dua bentuk (Mishkin, 2006) :
1. Leverage ratio yaitu rasio total modal terhadap total aset bank. Bank yang diklasifikasikan sebagai bank berkapital baik (well capitalized) adalah bank yang memenuhileverage ratio diatas 5%. Bank yang memiliki leverage ratio
dibawah 3% akan memicu pengawasan melalui batasan regulasi terhadap bank tersebut. Kishan dan Opiela (2000) membagi tiga kategori leverage ratio
untuk perbankan di Amerika Serikat yaitu < 8 % (undercapitalized), 8% ≤
leverage ratio< 10% (adequately capitalized), dan ≥ 10% (well capitalized).
2. Risk-based capital requirements (Capital Adequacy Ratio) berdasarkan Basel
Accord. Basel Accord ditetapkan oleh Basel Committee on Banking
Supervision yang mengadakan pertemuan Bank for International Settlements
di Basel. Basel 2 menetapkan bahwa bank memegang kapital setidaknya 8%
dari aset tertimbang menurut resiko. Basel 2 berdasarkan pada tiga pilar yaitu :
a. Pilar 1 bertujuan untuk menghubungkan penyediaan modal lebih dekat
dengan resiko aktual.
b. Pilar 2 fokus pada memperkuat proses pengawasan, khususnya dalam
menilai kualitas manajemen resiko dalam institusi perbankan dan dalam
mengevaluasi apakah institusi tersebut memiliki prosedur yang sesuai
c. Pilar 3 fokus pada peningkatan disiplin pasar melalui peningkatan detail
disclosure mengenai ekspos dari kredit bank, jumlah reserves dan modal,
officialyang mengontrol bank, dan efektivitas dari sisteminternal rating.
Teori yang mendasari ketiga karakteristik tersebut untuk digunakan dalam
penelitian yaitu :
1. Ukuran Aset (Size) : Bank kecil menghadapi masalah informasi asimetris di
pasar modal bila dibandingkan dengan bank besar, sehingga lebih sulit untuk
mendapatkan dana non-deposito untuk menghadapi guncangan moneter
negatif.
2. Likuiditas (Liquidity) : Bank dengan aset likuid bisa menarik cadangan kas
ataupun surat berharga untuk bertahan dengan perilaku kreditnya ketika terjadi
guncangan moneter negatif.
3. Kapital (Capitalisation) : Bank bermodal rendah memiliki batasan akses
terhadap dana non-deposito sehingga akan terpaksa menurunkan penawaran
kredit bila dibandingkan dengan bank bermodal tinggi pada saat terjadi
guncangan moneter negatif.
Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
1. Apakah suku bunga acuan (BI Rate) mampu memengaruhi pertumbuhan
kredit bank di Indonesia periode triwulan IV tahun 2005 sampai triwulan III
tahun 2011 ?
2. Apakah ada perbedaan respon bank berdasarkan karakteristik bank yaitu
ukuran aset, likuiditas dan kapital ketika terjadi perubahan suku bunga acuan
di Indonesia periode triwulan IV tahun 2005 sampai triwulan III tahun 2011 ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berkaitan dengan permasalahan penelitian yang ada, tujuan penelitian
adalah sebagai berikut :
1. Menguji apakah suku bunga acuan (BI Rate) mampu memengaruhi
pertumbuhan kredit bank di Indonesia periode triwulan IV tahun 2005 sampai
2. Menganalisis perbedaan respon bank berdasarkan karakteristik bank yaitu
ukuran aset, likuiditas dan kapital ketika terjadi perubahan suku bunga acuan
di Indonesia periode triwulan IV tahun 2005 sampai triwulan III tahun 2011.
1.4 Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai
dampak perubahan BI Rate terhadap pertumbuhan kredit perbankan. Selain itu,
hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pentingnya
bank sehat dan aman dalam tataran moneter Indonesia. Penelitian ini juga dapat
digunakan sebagai bahan perbandingan antar jalur transmisi karena untuk dapat
memahami tiap jalur transmisi secara utuh diperlukan bukti empiris.
1.5 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
Ruang lingkup penelitian meliputi tiga hal. Pertama, memberikan deskripsi
mengenai struktur perbankan Indonesia. Kedua, melakukan studi ekonometrik
untuk mengkaji respon perbankan melalui variabel pertumbuhan kredit bank
ketika terjadi perubahan suku bunga acuan. Hal tersebut dilakukan untuk melihat
apakah BI Rate selaku suku bunga acuan mampu memengaruhi penawaran kredit
perbankan yang tercermin melalui perubahan pertumbuhan kredit bank ketika
terjadi perubahan suku bunga BI Rate. Ketiga, melakukan studi ekonometrik
untuk melihat sensitivitas bank berdasarkan karakteristik bank dalam menghadapi
perubahan suku bunga BI Rate. Hal tersebut dilakukan untuk melihat apakah BI
Rate memiliki pengaruh yang berbeda terhadap bank dengan karakteristik yang
berbeda.
Penelitian ini menggunakan data mikro bank (neraca bank) dan data
makroekonomi dimana data mikro bank digunakan untuk membuktikan mampu
atau tidaknya suku bunga acuan (BI Rate) memengaruhi penawaran kredit bank.
Cakupan analisis deskriptif adalah seluruh bank yang beroperasi tiap tahunnya
untuk tahun 2001 sampai dengan tahun 2011. Cakupan analisis ekonometrik
adalah 99 bank umum dari 108 bank umum yang neraca triwulanan-nya tersedia
untuk diunduh di website Bank Indonesia. Kategori dari 99 bank umum tersebut
bank umum swasta nasional (BUSN) devisa, 22 BUSN Non-devisa dan 3 bank
asing. Perlakuan yang diterapkan dalam memilih 99 bank umum adalah
bank-bank yang merger dan akuisisi digunakan data bank-bank hasil merger (seolah merger
dan akuisisi terjadi sejak awal periode sampel), bank yang tidak memiliki
tabungan di neracanya tidak dimasukkan sebagai sampel dan bank dengan
fluktuasi aset yang tinggi serta capital adequacy ratio (CAR) diatas 500%
dikeluarkan dari sampel. Daftar lengkap bank yang dikeluarkan dari sampel dapat
dilihat di Lampiran 2.
Keterbatasan dari penelitian ini yaitu penggunaan data mikro bank yang
masih terbatas pada total aset, likuiditas, modal dan kredit. Beberapa keterbatasan
lainnya adalah sebagai berikut :
1. Respon bank yang dikaji yaitu penyesuaian kredit dengan mengasumsikan
terjadinya penurunan reserves bank ketika terjadi perubahan suku bunga BI
Rate, tanpa membuktikan secara empiris bahwa penurunan reserves bank
memang benar terjadi ketika ada perubahan suku bunga BI Rate.
2. Penelitian ini tidak meneliti dampak perubahan BI Rate terhadap
perekonomian riil yaitu output dan inflasi yang umum dilakukan ketika
meneliti jalur kredit bank dengan menggunakan data agregat.
3. Penelitian ini tidak mengkaji respon lembaga keuangan lain seperti mutual
funds, perusahaan asuransi, dan lainnya ketika terjadi perubahan suku bunga
BI Rate.
4. Jalur transmisi lainnya tidak dikaji karena luasnya lingkup jalur transmisi.
Spesifikasi model antar jalur transmisi juga memiliki perbedaan sehingga
untuk mengkaji keseluruhan jalur akan membutuhkan spesifikasi model yang
II.
TINJAUAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1 Transmisi Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh bank sentral
untuk memengaruhi perekonomian. Bank sentral adalah pemain terpenting dalam
pasar finansial diseluruh dunia karena merupakan otoritas pemerintah yang
bertanggungjawab terhadap kebijakan moneter. Tindakan bank sentral
memengaruhi suku bunga, jumlah kredit, dan penawaran uang, yang kesemuanya
memiliki dampak langsung tidak hanya di pasar finansial tetapi juga terhadap
output agregat dan inflasi (Mishkin, 2006).
Dampak kebijakan moneter terhadap pasar finansial, output agregat dan
inflasi menjadi perhatian khusus karena pengambil kebijakan moneter atau bank
sentral harus memiliki penilaian yang tepat mengenai waktu dan efek dari
kebijakan yang akan ditempuh. Penilaian tersebut memerlukan pemahaman
mengenai transmisi kebijakan moneter.
Transmisi kebijakan moneter adalah interaksi antara pengambil kebijakan
moneter atau bank sentral dengan perbankan, lembaga finansial lainnya dan para
pelaku di sektor riil. Interaksi tersebut merupakan transaksi finansial antara bank
sentral dengan perbankan dan lembaga finansial lainnya. Transaksi berikutnya
adalah transaksi antara perbankan dan lembaga finansial lainnya dengan para
pelaku ekonomi dalam berbagai aktivitas ekonomi di sektor riil. Pengaruh dari
transaksi finansial yang diawali dengan sikap (stance) kebijakan moneter tersebut
bisa melalui berbagai jalur yang disebut dengan jalur transmisi.
Mekanisme transmisi menurut Dornbusch et al. (2008) terjadi dalam dua
langkah yaitu :
1. Perubahan saldo rill (real balances) menciptakan disekuilibrium portofolio
yaitu pada tingkat suku bunga dan tingkat pendapatan yang berlaku,
masyarakat memegang uang lebih banyak dari yang mereka perlukan. Hal
Mekanisme Transmisi
(1) (2) (3) (4)
Perubahan jumlah penawaran uang riil
Penyesuaian portofolio yang akan menyebabkan perubahan harga aset dan suku bunga
Pengeluaran menyesuaikan diri terhadap perubahan suku bunga
Output
menyesuaikan dri terhadap perubahan permintaan agregat
Sumber : Dornbuschet al.(2008)
Gambar 4 Mekanisme transmisi kebijakan moneter
Mishkin (2006) menggambarkan mekanisme transmisi dengan membagi
mekanisme tersebut menjadi tiga bagian besar, yaitu jalur suku bunga tradisional,
jalur harga aset, dan jalur kredit. Tiga bagian besar tersebut terbagi lagi menjadi
sepuluh jalur yang lebih rinci yaitu jalur suku bunga tradisional, jalur kurs, jalur
teori Tobin’s q, jalur pengaruh kekayaan, jalur kredit bank, jalur neraca, jalur arus
kas, jalurunanticipated price level, dan jalur likuiditas rumah tangga (Gambar 5).
1. Jalur Suku Bunga Tradisional
Jalur ini menekankan pada pentingnya harga dalam pasar keuangan, yaitu
suku bunga, yang memengaruhi inflasi dan sektor riil. Perkembangan suku
bunga di sektor keuangan ini sangat berkaitan dengan permintaan konsumsi dan
investasi. Kenaikan jumlah uang beredar akan diikuti dengan kenaikan
ekspektasi harga dan inflasi. Kenaikan ini akan menurunkan suku bunga riil.
Penurunan ini kemudian akan menstimulasi peningkatan investasi melaluicost of
capital yang lebih murah atau konsumsi rumah tangga untuk pembelian
barang-barang tahan lama melalui kredit konsumsi akan meningkat yang
kemudian akan mendorongoutput.
2. Jalur Harga Aset. Jalur ini dibagi lagi menjadi tiga jalur rinci yaitu :
a. Jalur Kurs terhadap Ekspor Neto
Ketika suku bunga riil dalam negeri turun, aset dalam mata uang
domestik menjadi kurang menarik relatif terhadap aset dengan denominasi
mata uang asing. Akibatnya, nilai aset mata uang domestik terhadap aset
dengan denominasi mata uang asing turun, dan mata uang domestik
terdepresiasi (E ↓). Depresiasi tersebut menyebabkan kenaikan ekspor bersih
(NX ↑) dan output agregat pun meningkat (Y ↑).
b. Teori Tobin (Tobin’s q Theory)
perekonomian melalui harga saham. Kenaikan jumlah uang beredar akan
meningkatkan harga saham. Yang akan meningkatkan nilai q (nilai pasar
dari perusahaan dibagi dengan biaya memperoleh modal (replacement cost
of capital)). Kenaikan nilai q ini berarti modal peralatan dan pabrik baru
relatif lebih murah dibanding nilai pasar perusahaan, sehingga perusahaan
dapat menerbitkan saham dengan harga yang lebih tinggi. Hasil penjualan
saham yang tinggi ini akan meningkatkan investasi perusahaan dan
selanjutnya berdampak positif terhadap sektor riil.
c. Efek Kekayaan
Jalur harga aset berikutnya adalah melalui pengaruhnya terhadap
kekayaan dengan melihat dari sisi masyarakat dengan pola konsumsinya.
Kebijakan moneter ekspansi akan meningkatkan harga saham yang
selanjutnya akan meningkatkan kekayaan yang dimiliki. Meningkatnya
kekayaan akan mendorong peningkatan konsumsi yang berdampak positif
terhadap sektor riil.
3. Jalur Kredit
Ketidakpuasan akan teori yang menjelaskan pengaruh suku bunga telah
memunculkan penjelasan baru yang didasarkan pada masalah informasi asimetris
di pasar keuangan. Jalur ini terbagi menjadi beberapa jalur sebagai berikut :
a. Jalur Kredit Bank
Peranan perbankan dalam pasar kredit sangat penting terutama untuk
mengatasi timbulnya permasalahan informasi yang asimetris. Skema
berikut adalah gambaran efek kebijakan moneter ekspansi melalui saluran
kredit perbankan :
Kebijakan moneter ekspansif⇒deposito ↑⇒kredit ↑⇒ I ↑⇒ Y ↑
Peningkatan jumlah uang beredar akan meningkatkan simpanan bank
yang selanjutnya akan meningkatkan kemampuan bank dalam memberikan
pinjaman. Karena banyak peminjam yang bergantung pada pinjaman bank
dalam melakukan aktivitas ekonominya maka peningkatan pinjaman ini akan
meningkatkan investasi dan juga mungkin pengeluaran konsumsi yang
selanjutnya akan berdampak pada output. Proses ini akan terjadi selama
sumber pinjaman lainnya. Efek kebijakan moneter ekspansi ini akan
berbeda antar perusahaan kecil dan perusahaan besar, karena biasanya
perusahaan kecil lebih tergantung pada pinjaman perbankan sedangkan
perusahan besar biasanya memiliki sumber pembiayaan yang beragam.
b. Jalur Neraca Perusahaan
Saluran ini juga didasari oleh adanya permasalahan informasi yang
asimetris. Semakin banyak kekayaan perusahaan maka semakin rendah
risiko timbulnya masalah informasi asimetris (adverse selection dan moral
hazard/AS & MH). Risiko yang rendah akan menstimulasi pemberian
pinjaman yang berdampak pada meningkatnya investasi dan kemudian
berdampak pada sektor riil dengan adanya peningkatan output.
c. Jalur Arus Kas
Jalur ini melihat dari arus kas perusahaan. Saluran neraca bekerja
melalui dampaknya terhadap aliran dana (cash flow) perusahaan. Penurunan
suku bunga akan memperbaiki neraca perusahaan karena adanya
peningkatan aliran modal. Perbaikan neraca perusahaan ini akan
menurunkan masalah informasi asimetris sehingga perusahaan akan lebih
mudah memperoleh akses kredit. Kemudahan akses terhadap kredit ini
akan meningkatkan investasi yang berdampak positif padaoutput.
d. Jalur Harga yang Tidak Terantisipasi
Jalur ini masih berhubungan dengan jalur neraca bank melalui
kekayaan bersih perusahaan (real net worth). Kebijakan moneter
ekspansi menyebabkan kenaikan harga-harga umum (unanticipated price)
yang selanjutnya akan meningkatkan kekayaan bersih perusahaan (net
worth). Peningkatan ini akan menurunkan permasalahan informasi
asimetris dalam pemberian pinjaman. Peningkatan pinjaman ini kemudian
akan berdampak positif pada investasi danoutput.
e. Efek Kekayaan rumah Tangga
Tinjauan lain dari saluran neraca ini adalah terhadap aset
keuangan yang dimiliki oleh rumah tangga dan kaitannya dengan
pembelanjaan mereka terhadap barang-barang aset tetap (durable goods)
n
PENGARUH HARGA ASET LAINNYA PANDANGAN KREDIT
Gultom (2008) menggambarkan kerangka mekanisme transmisi kebijakan
moneter berdasarkan Inflation Targetting Framework yang mulai di adopsi
Indonesia sejak tahun 2000, dan menjadi full-pledged inflation tragetting sejak
tahun 2005 (Gambar 6).
Bank Indonesia selaku otoritas moneter di Indonesia menetapkan suku
bunga kebijakan BI rate sebagai instrumen kebijakan utama untuk mempengaruhi
aktivitas kegiatan perekonomian dengan tujuan akhir pencapaian
inflasi. Perubahan BI rate mempengaruhi inflasi melalui berbagai jalur,
diantaranya jalur suku bunga, jalur kredit, jalur nilai tukar, jalur harga aset, dan
jalur ekspektasi.
Sumber : Gultom (2008)
Sumber : Bank Indonesia (2011)
Gambar 7 Mekanisme transmisi kebijakan moneter Bank Indonesia
Milton Friedman (1958) dalam Handa (2000) menyatakan bahwa kebijakan
moneter memengaruhi perekonomian dan harga dengan lag dan jangka waktu
yang relatif panjang. Bofinger (2001) menuliskan terbatasnya pengetahuan
mengenai proses transmisi dikarenakan oleh beberapa faktor yang digambarkan
secara detail oleh Bernanke dan Blinder (1988) yaitu :
1. Adanya ketidakpastian model (model uncertainty), lebih spesifik misalnya
tidak ada konsensus di antara pengamat ekonomi mengenai model yang
‘benar’ atau teknik ‘ekonometrik yang benar’.
2. Transmisi impuls moneter dari bank sentral ke perekonomian riil
diasosiasikan dengan lag yang panjang (long and variable lags).
Gangguan (misal : resesi)
↓
Inside lag(reaksi bank sentral)
Lag informasi (information lag) : adanya keterlambatan (delay) satu
hingga tiga bulan mengenai data situasi siklus terkini.
Lag identifikasi (recognition lag) : penurunan Produk Nasional Bruto
dalam satu triwulan, sebagai contoh, tidak secara khusus
mengindikasikan adanya resesi ; observasi yang lebih panjang
dibutuhkan untuk mengenali adanya resesi tersebut.
Lag keputusan (decision lag) : dalam kasus kebijakan moneter,
keputusan diambil dalam waktu yang sangat singkat.
↓
Pengukuran kebijakan moneter (perubahanoperating target)
↓
Intermediate lag(reaksi dari bank dan pasar finansial)
↓
Efek terhadap kredit bank, suku bunga untuk perusahaan dan rumah tangga,
Jumlah Uang Beredar (JUB)
↓
Outside lag(reaksi non-bank, keputusan investasi, keputusan menabung)
↓
Efek terhadap belanja swasta, penawaran dan permintaan tenaga kerja, dan
pada akhirnya target-target makroekonomi
↓
Eliminasi gangguan
Sumber : Bofinger (2011)
Gambar 8 Lagdalam kebijakan moneter
Analisis empiris terhadap efek dari kebijakan moneter telah memposisikan
mekanisme kebijakan moneter sebagai “black box”. Hal tersebut dikarenakan
kebijakan moneter memengaruhi inflasi dan perekonomian dengan lag tertentu
kebijakan moneter yang paling tepat dari sisi waktu dan sisi efek kebijakan
moneter.
2.2 Jalur Kredit dan Jalur Kredit Bank
Jalur kredit adalah mekanisme transmisi yang berbasis pada permasalahan
informasi asimetris di pasar kredit. Menurut pandangan jalur kredit, perubahan
dalam kebijakan moneter yang menaikkan atau menurunkan suku bunga pasar
cenderung untuk merubah premi finansial eksternal (external finance premium)
dengan arah yang sama. Adanya efek tersebut menyebabkan dampak dari
kebijakan moneter terhadap biaya meminjam uang makin meningkat. Jalur kredit
bank memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dari jalur neraca perusahaan
karena memfokuskan pada efek yang mungkin terjadi dari tindakan kebijakan
moneter terhadap penawaran kredit oleh lembaga yang menyimpan deposito,
dalam hal ini yaitu bank (Bernanke dan Gertler, 1995).
Jalur kredit dalam Freixas dan Rochet (1999) digambarkan dengan
mengadopsi model Bernanke dan Blinder (1988). Asumsi dari jalur kredit adalah :
1. Tingkat harga tidak dapat menyesuaikan secara cepat untuk meng-offset
perubahan yang terjadi dalam kuantitas uang nominal.
2. Bank sentral dapat langsung memengaruhi volume kredit dengan
menyesuaikanreservesbank.
3. Kredit dan surat berharga merupakan substitusi tidak sempurna bagi peminjam
dan bank.
Dengan menggunakan konteks model IS/LM diasumsikan agen dalam
perekonomian yaitu rumah tangga, perusahaan, bank sentral dan bank, serta
pemerintah. Diasumsikan terdapat tiga jenis aset yaitu uang (D), surat berharga
(B) dan kredit bank (L). Penjabaran jalur kredit dalam Freixas dan Rochet (1999)
adalah sebagai berikut :
1. Aset Rumah tangga diasumsikan terdiri dari dua kategori yaitu pendapatan riil
(y) dan pendapatan dari suku bunga surat berharga (rB) yang menentukan
tingkat tabungan riil (S) yaitu :
2. Perusahaan memiliki dua alternatif pembiayaan yaitu surat berharga dengan
tingkat suku bunga rBdan kredit bank dengan tingkat suku bunga rLsehingga :
I(rB,rL) = Bf(rB,rL) + Lf(rB,rL) f = perusahaan 2.2
3. Bank sentral menentukan reserve rate sebesar α yang menentukan deposito
bank (Db) dan surat berharga yang dimiliki oleh bank(Bb) sehingga :
Db=R/α dan Bb= R(1-α)/ α 2.3
4. Bank memiliki tiga aset yaitu reserves(R), kredit (L) dan surat berharga(B)
sehingga:
R + Lb+ Bb= Db b = bank 2.4
a. Alokasi dari kredit bank adalah Lb= Db– R
Lb= R/ α – R = R(1-α)/ α 2.5
b. Optimisasi portofolio oleh bank adalah :
Lb= μ(rB,rL)R 2.6
Bb= v(rB,rL)R 2.7
dengan μ(rB,rL)R + v(rB,rL)R = 1-α/α 2.8
5. Pemerintah diasumsikan membiayai pengeluaran riil (G) dengan reserves (R)
yang dipinjam dari bank dan dengan menerbitkan obligasi (Bg) :
G = R + Bg g=pemerintah 2.9
6. Tingkat equilibrium yang terjadi variabel y dan rBadalah :
Lf(rB,rL) = μ(rB,rL)R yaitu equilibrium di pasar uang (kurva LM) 2.10
I(rB,rL) + G = S(y,rB) yaitu equilibrium di pasar barang (kurva IS) 2.11
sehingga rL= ϕ(rB,R) 2.12
7. Dengan mensubstitusikan persamaan (2.12) ke persamaan (2.11) didapatkan
gambaran kurvaCommodities and credit(CC) yaitu :
I(rB, ϕ(rB,R)) + G = S(y,rB) 2.13
Dari sistematika di atas dapat disimpulkan bahwa kenaikan cadangan
(reserves) bank memiliki dua efek dalam model Bernanke dan Blinder yaitu :
1. Kuantitas uang meningkat (kurva LM bergeser ke kanan bawah).
2. Sebagai konsekuensinya, volume dari kredit meningkat sehingga
meningkatkan permintaan investasi oleh perusahaan (kurva CC bergeser ke
Sumber : Freixas dan Rochet (1999)
Gambar 9 Jalur kredit kebijakan moneter model Bernanke dan Blinder (1988)
Jalur kredit dapat secara spesifik terbagi menjadi dua jalur yaitu jalur necara
perusahaan dan jalur kredit bank. Jalur kredit bank adalah bagian dari jalur kredit
yang melihat lebih dalam pada dampak kebijakan moneter terhadap kekuatan
neraca bank. Menurut jalur kredit bank, bank berpartisipasi dalam kebijakan
moneter tidak hanya dari sisi kewajiban (liabilities) tetapi juga melalui sisi aset.
Variabel yang dilihat dari jalur kredit bank adalah kredit bank sebagai bagian dari
aset bank. Ketika menghadapi guncangan moneter, bank yang mengalami
penurunan deposito jika tidak dapat meng-offset penurunan tersebut dengan
mencari sumber dana lain yang lebih murah akan terpaksa menurunkan
penawaran kredit mereka. Berkurangnya penawaran kredit disertai dengan
dominasi peminjam yang bank-dependentdalam perekonomian akan menurunkan
tingkat investasi yang berdampak pada tertekannya perekonomian riil.
Skema jalur kredit bank dapat memiliki penjelasan sebagai berikut (Gultom,
2008) :
BI rate/SBI rate ↓⇒PUABrate↓⇒Deposit rate↓⇒ Loan rate↓
⇒ Bank Loan↑⇒Y ↑
Kebijakan moneter ekspansif dari Bank Indonesia, yang diwakili oleh BI
rate yang turun, akan menambah likuiditas moneter di pasar sehingga suku bunga
PUAB akan turun, demikian juga dengan suku bunga simpanan. Komponen
penentu suku bunga kredit yang paling utama adalah suku bunga simpanan
suku bunga simpanan rendah maka suku bunga kredit juga akan turun.
Turunnya suku bunga kredit akan direspon oleh calon debitur yang
membutuhkan dana untuk berbagai kebutuhan, karena pembiayaan
eksternal yaitu pinjaman bank, lebih murah dibandingkan dengan pembiayaan
melalui modal sendiri. Meningkatnya jumlah kredit akan mendorong sektor
riil lebih meningkat.
Mishkin (2006) menyebutkan tiga alasan mengapa jalur kredit merupakan
mekanisme transmisi moneter yang penting, yaitu :
1. Banyak bukti mengenai perilaku individu perusahaan mendukung pandangan
bahwa ketidaksempurnaan pasar kredit yang penting untuk beroperasinya jalur
kredit memang memengaruhi keputusan penambahan tenaga kerja dan
pengeluaran perusahaan.
2. Adanya bukti bahwa perusahaan-perusahaan kecil (yang cenderung
mengalami credit-constrained) mengalami kesulitan yang lebih besar akibat
kebijakan moneter kontraktif bila dibandingkan dengan perusahaan besar,
yang tidak mengalamicredit-constrained.
3. Pandangan informasi asimetris mengenai ketidaksempurnaan pasar kredit
sebagai inti dari analisis jalur kredit merupakan pembentukan suatu teori yang
terbukti berguna dalam menjelaskan banyak fenomena penting lainnya, seperti
mengapa banyak lembaga keuangan yang muncul, mengapa sistem finansial
kita memiliki struktur seperti saat ini, dan mengapa krisis finansial sangat
merusak perekonomian.
Agung et al. (2002) meneliti jalur kredit bank di Indonesia dengan
menggunakan data bulanan Januari 1991 hingga Desember 2000 dan suku bunga
SBI serta suku bunga PUAB sebagai indikator kebijakan moneter. Penelitian
menggunakan baik data agregat maupun data disagregat. Penggunaan data
disagregat karena penelitian empiris menggunakan data agregat menyebabkan
masalah identifikasi yaitu ketidakmampuan untuk menyatakan apakah penurunan
kredit sebagai hasil dari kebijakan moneter kontraktif dari pergeseran penawaran
atau pergeseran permintaan. Pergeseran permintaan kredit lebih konsisten pada
jalur suku bunga karena pergeseran tersebut adalah dampak dari suku bunga
Penelitian Agung et al. (2002) menggunakan data agregat dengan metode
Vector Autoregression (VAR) menyatakan bahwa sebelum krisis tahun 1998,
kredit bank tidak terpengaruh oleh kebijakan moneter ketat. Untuk keseluruhan
periode sampel walaupun kredit bank responsif terhadap kebijakan guncangan
moneter, respon tersebut cukup rendah. Pemodelan pasar kredit dengan
menggunakan metode VECM memperkuat bukti penelitian VAR yang
menyatakan bahwa dalam jangka pendek, pasar kredit modal kerja dan kredit
investasi didominasi oleh penawaran kredit.
Penelitian Agung et al. (2002) menggunakan data level bank menyatakan
bahwa jalur kredit bank beroperasi di Indonesia dan efek dari kebijakan moneter
lebih terasa bagi bank dengan kapital rendah. Selain itu, ada perbedaan perilaku
kredit bank sebelum dan sesudah krisis tahun 1998. Sebelum krisis, suku bunga
SBI dan PUAB tidak signifikan memengaruhi kredit bank. Namun, menjelang
selama periode menjelang krisis tersebut, kredit bank dari bank berkapital rendah
secara negatif terpengaruh oleh kebijakan moneter ketat. Setelah krisis, kredit
bank sensitif terhadap guncangan moneter dan sensitivitas tersebut lebih tinggi
untuk bank dengan kapital rendah.
Ehrmann et al. (2002) meneliti jalur kredit bank untuk area euro dengan
menggunakan data Bankscope dan data bank sentral tiap negara. Negara yang
dicakup adalah Perancis, Jerman, Italia dan Spanyol. Penelitian menggunakan
model dinamis dengan metode estimasi Generalized Method Moments (GMM)
Penelitian dengan data Bankscope menyatakan bahwa size (ukuran aset) mampu
menjelaskan jalur kredit bank lebih baik dibandingkan dengan liquidity
(likuiditas) maupun capitalisation (kapital). Rata-rata bank mengurangi
penawaran kredit setelah kebijakan moneter kontraktif sebanyak 1.3% untuk
setiap kenaikan suku bunga sebesar 100 basis poin. Bank kecil mengurangi
penawaran kredit mereka lebih besar dibandingkan dengan bank besar.
Estimasi menggunakan data dari basis data Eurosystem (negara Perancis,
Jerman, Italia dan Spanyol) membuktikan bahwa kebijakan moneter kontraktif
menurunkan pertumbuhan kredit bank dalam jangka panjang. Peran ukuran aset
sebagai indikator informasi asimetris tidak relevan di semua negara. Indikator
kebijakan moneter kontraktif. Indikator lain yaitu likuiditas merupakan indikator
yang signifikan untuk menggambarkan efek distribusi antar bank di Jerman, Italia
dan Spanyol.
Tabel 2 Cakupan sampel penelitian Ehrmannet al.(2002) untuk area Euro
Sumber Data Periode Estimasi Jumlah Bank Jumlah
Observasi
Basis Data Bankscope 1993-1999 ± 3000 ± 9700
Perancis 1994:Q3 – 2000:Q3 312 5327
Jerman 1994:Q3 – 1998:Q3 ± 2700 ± 48000
Italia 1988:Q3 – 1998:Q3 587 28763
Spanyol 1991:Q3 – 1998:Q3 210 4012
Sumber : Ehrmannet al.(2002)
Penelitian mengenai jalur kredit bank dengan menggunakan data mikro dari
neraca bank telah dilakukan di beberapa negara yang dirangkum dalam Tabel 3.
Tabel 3 Penelitian lain mengenai jalur kredit bank dengan menggunakan karakteristik bank
Penulis Data ;
Sumber
Indikator
Moneter Hasil Penelitian
Juurikkala, Karas dan Solanko (2011)
Triwulanan , 1999Q1-2007Q1; Central Bank of Russia
-- broad
money,
monetary
base,
- CBR
rate,
- Mibor
rate
Dengan menggunakan System GMM yang memasukkan lag 1 dari peubah dependen sebagai regresor disimpulkan bahwa perubahan suku bunga tidak signifikan secara statistik memengaruhi kredit bank. Hasil lainnya adalah :
- Perubahanmoney supplysignifikan secara statistik
- Ukuran aset dan likuiditas tidak signifikan menjelaskan kredit bank
- Variabel makro lemah dalam menjelaskan variasi pertumbuhan kredit
- Bank berkapital tinggi secara konsisten menyesuaikan perilaku kredit lebih rendah dibandingkan bank lainnya - Interaksi kapital dengan perubahan kebijakan moneter
-Penulis Data ; Sumber
Indikator
Moneter Hasil Penelitian
Kishan dan Opiela (2000)
Triwulan , 1980Q1 – 1995Q4 ; The Fed
Federal Funds Rate (FFR), indikator Bernanke Milhov (1958)
Bank dikategorikan berdasarkan enam kategori aset (<$50 juta, $50-100 juta, $100-300 juta, $300-500 juta, $500 juta - $3 miliar, dan > $3 miliar) dan tiga kategori rasio kapital/aset ( <8%, 8-10%, >10%). Kesimpulan penelitian yaitu :
- Persamaan yang diestimasi menggunakan empat lag peubah dependen sebagai regresor
- Dengan FFR, Bank dengan kapital kurang dari $100 juta adalah yang paling responsif terhadap perubahan kebijakan moneter.
- Respon total kredit terhadap perubahan FFR mencerminkan perilaku bank-bank besar karena bank-bank terbesar memiliki volume terbesar dari kredit yang sedang berjalan .
- Bank dengan kapital rendah tidak mampu mendapatkan dana alternatif ketika terjadi guncangan moneter negatif.
- Ukuran aset dan rasio kapital/aset penting dalam membentuk respon bank terhadap perubahan kebijakan moneter.
Juks (2004)
Triwulan, 1996Q4-2004Q1; Eesti Pank
suku bunga EURIBOR
Dengan metode estimasi System GMM yang memasukkan lag 4 dari peubah dependen sebagai regresor didapat kesimpulan yaitu :
- Suku bunga EURIBOR tidak signifikan secara statistik terhadap permintaan deposito, penawaran kredit ke rumah tangga dan penawaran kredit ke perusahaan, signifikan secara statistik terhadap permintaan tabungan
- CAR merupakan determinan penting dari permintaan deposito ; depositor peduli terhadap kesehatan dan tingkat resiko bank.
2.3 Perbankan Sebagai Lembaga Intermediasi
Handa (2000) mendefinisikan lembaga intermediasi sebagai lembaga atau
institusi yang melakukan kegiatan intermediasi dalam proses finansial antara
peminjam dan pemberi pinjaman dalam perekonomian. Peminjam termasuk
didalamnya konsumen yang memerlukan pinjaman untuk membiayai sebagian
atau keseluruhan kegiatan konsumsi mereka, perusahaan yang meminjam untuk
berinvestasi dalam modal fisik dan pemerintah yang meminjam untuk membiayai
defisit anggarannya. Sedangkan pemberi pinjaman adalah unit perekonomian
yang menabung sebagian dari pendapatan mereka saat ini dengan melakukan
Penulis Data ;
Sumber
Indikator
Moneter Hasil Penelitian
Boughrara dan Ghazouani (2008)
Tahunan, 1989-2007; BankScope
Discount rate
Dengan menggunakan System GMM yang memasukkan lag 1 dari peubah dependen sebagai regresor didapat kesimpulan : - Untuk negara Mesir, terbukti bahwadiscount ratesebagai indikator kebijakan moneter efektif dalam memengaruhi dinamika kredit.
- Kapital dan aset memegang peranan penting dalam membentuk reaksi bank terhadap kebijakan moneter - Ketika mengalami guncangan kebijakan moneter, bank
berkapital tinggi menunjukkan respon yang lebih kuat daripada bank yang berkapital rendah, yang ditunjukkan dengan koefisien bernilai negatif.
- Untuk negara Yordania, aset dan kapital penting dalam membentuk reaksi bank terhadap perubahan kebijakan moneter.
- Untuk negara Moroko, aset dan likuiditas memegang peran penting dalam membentuk reaksi bank terhadap perubahan kebijakan moneter.
- Kapital tidak membuat adanya perbedaan antar bank dalam menghadapi perubahan kebijakan moneter.