• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.3 Perumusan Masalah

Pernikahan semarga menarik untuk diamati karena dilatarbelakangi adanya adat istiadat yang mengatur pernikahan yang diperbolehkan dan dilarang dalam suku Batak. Apabila terjadi suatu perkawinan semarga dalam Batak Toba maka hal itu dianggap sebagai tabu dan pasangan yang menikah itu akan dikucilkan dari masyarakat di mana ia berada. Ini berarti terjadi penolakan terhadap pasangan yang melakukan perkawinan ini, dan yang lebih parahnya lagi, ia tidak akan pernah memperoleh pengakuan dari adat Batak Toba, masyarakat Batak Toba menolak perkawinan semarga alasannya karena masih satu darah atau masih keluarga. Berangkat dari fenomena tersebut, maka dapat dirumuskan pertanyaan permasalahan penelitian sebagai berikut:

22Sartika Simatupang, “Perkawinan Semarga dalam Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Sipahutar, Kab. Tapanuli Utara”, Agustus 2002. Jurnal Pendidikan Antropologi UNIMED. Vol.

1.No. http/journal ipi126560.ac.id, 18 Januari 2018, hlm 17

1. Apa faktor penyebab masyarakat desa Parsingguran II, Kecamatan Pollung melakukan perkawinan semarga?

2. Bagaimanakah masyarakat desa Parsingguran II, Kecamatan Pollung mengatur perkawinan semarga atau perkawinan Batak secara endogami pada upacara perkawinan adat?

1.4 Tujuan Dan Manfaat Penelitian

Penelitian tentu harus memiliki tujuan dan manfaat penelitian, adapaun tujuan dan manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.4.1 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa yang menyebabkan masyarakat Batak Toba yang tinggal di desa Parsingguran II, Kec.

daerah Pollung melakukan perkawinan semarga yang melanggar hukum perkawinan adat Batak Toba, serta bagaimana masyarakat di sana menyikapi setiap terjadi pernikahan semarga yang sudah sering terjadi. Penelitian ini juga bermanfaat untuk mengetahui alasan atau penyebab apa yang membuat masyarakat atau pemuda dan pemudi di sana menikahi satu marga sendiri yang diketahuinya melanggar hukum adat perkawinan yang berlaku di sukunya.

1.4.2 Manfaat Penelitian

Penelitiaan ini diharapkan dapat menyubang pengetahuan bagi para pembaca, memperbanyak pengetahuan serta menyumbang ilmu pada bidang pendidikan mengenai kebudayaan Batak Toba terkhususnya pada bagian perkawinan adat Batak Toba. Terkhususnya pada bagian Antropologi, jika ternyata telah terjadi banyak perkawinan semarga pada masyarakat Batak Toba

yang melanggar hukum perkawinan eksogami yang dipegang kuat oleh suku Batak Toba.

1.5 Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan di desa Parsingguran II, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan. Kecamatan Pollung yang terdiri dari 13 desa yang mata pencahariannya rata-rata di sektor pertanian. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang didasarkan pada upaya membangun pandangan mereka yang diteliti secara rinci, dibentuk dengan kata-kata, lalu dideskripsikan.

Penelitian kulalitatif merupakan penelitian yang menghasilkan prosedur analisis, penelitian ini akan mengumpukan data kualitatif saat menjawab persoalan dan permasalahan dari permasalahan peneliti.

1.5.1 Sumber Data

Dalam penerapannya, pendekatan kualitatif menggunakan metode pengumpulan data dan metode analisis yang bersifat nonkuantitatif, seperti penggunaan instrumen wawancara mendalam dan observasi partisipasi

1.5.1.1 Data Primer

Merupakan data utama yang diporelah dari observasi dan wawancara 1. Observasi

Observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi serta wawancara yang dilakukan dengan masyarakat Batak Toba desa Parsingguran II, Kec. Pollung yang melakukan perkawinan semarga, pemuka adat-adat di sana, serta masyarakat umum di sana yang memberikan informasi yang dibutuhkan peneliti.

Dan sedikit pemaparan hasil observasi peneliti. Pada kenyataannya, terdapat beberapa keluarga yang melangsungkan perkawinan semarga di Parsingguran II, Kecamatan Pollung. Hal itu terjadi karena ada alasan dan faktor-faktor yang melatarbelakangi sehingga mereka melanggar ketentuan yang sudah ditetapkan dalam hukum adat Batak Toba mengenai perkawinan semarga. Faktor-faktor tersebut antara lain Faktor-faktor cinta, Faktor-faktor agama, Faktor-faktor keluarga, Faktor-faktor perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, dan faktor tingkat pendidikan.

2. Wawancara

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara dengan terlebih dahulu membangun hubungan yang nyaman atau rapport dengan masyarakat di sana. Wawancara dilengkapi dengan alat perekam suara (recorder), sebagai alat bantu untuk peneliti untuk menyimpan semua informasi saat melakukan wawancara dengan informan, dan juga menggunkan kamera sebagai alat bantu peneliti untuk melakukan dokumentasi setiap wawancara dan juga pada setiap keadaan yang memerlukan dokumentasi selama proses penelitian.

Peneliti juga menggunakan peralatan tulis untuk membuat catatan ferbatim, untuk memudahkan peneliti menggali lebih dalam lagi tentang setiap situasi yang dihadapi saat melakukan penelitian, dan sebagai acuan untuk mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan baru yang lebih relevan.

1.5.1.2 Data Sekunder

Merupakan data pendukung yang dapat menyempurnakan hasil observasi dan wawancara. Data berupa jumlah penduduk di desa Parsingguran, serta berapa jumlah penduduk bermarga Marbun di sana.

1.6 Lokasi Penelitian

Yang menjadi tempat atau lokasi di mana peneliti melakukan penelitian adalah di Desa Parsingguran II, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara.

1.7 Pengalaman Penelitian

Dingin menusuk hingga sum-sum, udara dingin menciumi setiap permukaan kulit yang nyaris membeku dan membiru. Angin sepoi tidak mengizinkan para pengguna jalan, para petani dan semua penghuni Parsingguran untuk keluar dari dalam rumah masing-masing tanpa penghangat tubuh atau jaket.

Senasip dengan orang-orang hebat itu, orang-orang yang menerjang suhu dingin itu untuk mencari tumpukan rupiah demi kelangsungan hidup keluarga, saya juga mengalami perasaan yang sama. Yaitu dingin luar biasa, mengakukan hingga tulang-tulang, bahkan membuat saya sulit untuk sekedar mengangkat tangan untuk menulis.

Sebenarnya, dinginnya daerah Parsingguran II dan sekitarnya. Secara umum untuk setiap daerah di Kabupaten Humbang Hasundutan, bukan lagi merupakan suatu hal yang mengejutkan untuk saya, karena saya sendiri adalah kelahiran asli Parsingguran dan menghabiskan masa anak-anak, remaja di sana.

Saya juga telah melakukan persiapan untuk mengantisipasi akan dinginnya di sana pada saat penelitian berlangsung. Tetapi kenyataan berkata lain, dingin serta musim penghujan yang saat itu terjadi di Parsingguran ternyata menjadi salah satu

kendala yang menyulitkan saya dalam rangka penelitian. Suhu serta cuaca tersebut sedikit menganggu rencana yang telah saya susun.

Cara untuk sampai di lokasi penelitian harus dengan menggunakan angkutan umum atau angkutan pribadi. Angkutan umumpun hanya bisa ditemukan pada waktu pagi dan juga sore. Sebelum saya sampai di rumah ataupun lokasi penelitian, saya harus terlebih dahulu melewati simpang tiga di desa Huta Paung. Salah satu desa dengan penduduk Toga Marbun, Lumban Gaol terbanyak di Kabupaten Humbang Hasundutan. Dan berlanjut ke Desa Pollung, yang juga merupakan desa dengan penduduk marga Lumban Gaol lebih banyak dari marga lainnya. Seperti halnya Huta Paung, yang menjadi salah satu tempat berdirinya instansi pendidikan yaitu Sekolah Menengah Atas, di desa Pollung juga didirikan sebuah Sekolah Menengah Pertama. Dan tidak lebih dari 500 meter dari sana, akan ditemukan sebuah tugu Toga Marbun. Yaitu Lumban Gaol Sianggasana.

Salah satu keturunan dari marga Lumban Gaol yang pertama. Tugu ini merupakan salah satu tugu tertua di desa Pollung.

Di sebelah Barat desa Pollung, terdapat sebuah desa yang namanya Pancur Batu. Desa di mana mayoritas penduduk di sana bermarga Lumban Batu.

Dan sebelah Utara desa Pollung, kira-kira 4 km ke dalam, maka sampailah di desa Parsingguran. Desa yang terbagi menjadi 2 buah desa. Yaitu Parsingguran 1 dan juga Parsingguran II. Dalam hal itu, peneliti memilih Parsingguran II sebagai lokasi penelitian, selain karena peneliti adalah penduduk desa Parsingguran II, saya juga akan lebih muda mendapatkan data di Parsingguran II karena

masyarakatnya sudah mengenal peneliti dan peneliti juga telah mengenal mereka.

Karena sebelum penelitian berlangsung peneliti dan calon informan sudah menjalin hubungan dekat bahkan keluarga.

Pada hari pertama berlangsungnya penelitian, terlebih dahulu peneliti mengunjungi rumah Sekretaris Desa untuk meminta informasi dan data kependudukan desa Parsingguran II, dari jumlah penduduk, hingga jumlah dusun.

Namun untuk mendapatkan data tersebut, peneliti terkendala pada transportasi.

Karena jarak rumah peneliti dengan kediaman sekretaris desa terbilang cukup jauh, maka peneliti memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk bisa sampai di sana dengan berjalan kaki. Tersedia motor sebagai transportasi yang bisa digunakan peneliti yang difasilitasi oleh orangtua, tapi sangat disayangkan, peneliti sendiri tidak bisa mengoperasikan motor. Yang terjadi peneliti terkadang harus menumpang motor yang lewat jalan, mengganggu pekerjaan orangtua dengan meminta tolong diantarkan ataupun harus menempuh jarak itu dengan berjalan kaki.

Seperti jatuh tertimpa tangga pula, hari pertama peneliti melakukan penelitian desa Parsingguran II dan sekitarnya diguyur hujan deras yang menyulitkan segala aktifitas peneliti termasuk pekerjaan para petani di sana.

Meski terkena hujan, saya tetap melanjutkan langkah untuk sampai di rumah Skretaris Desa. Dengan pakaian yang sedikit basah saya tetap dipersilahkan masuk dan mengutarakan keinginan saya datang ke sana. Yang pertama saya

minta saat sampai di sana adalah data penduduk Parsingguran II perdusun. Dan kemudian beliau mengatakan:

"Begini saja ito, kalau kamu butuh datanya untuk skripsi kamu.

Lebih baik kamu ambil saja data yang lain sekaligus. Data mana yang kira-kira kampu perlukan untuk skripsi kamu. Kamu bisa cek sendiri di dalam labtop saya. Takutnya kamu bolak balik datang kemari dan itu bisa menyusahkan dan mengulur waktu kamu"

Mendengar itu saya langsung bersemangat, seolah mendapatkan durian runtuh. Saya langsung menyalin semua data yang kira-kira saya perlukan untuk skripsi. Tetap saya yang pada akhirnya menggunakan labtop tadi, karena meskipun sang Skretaris memilikinya, beliau tidak begitu paham dalam pengoperasiannya. Dan setelah mendapatkan apa yang saya inginkan, saya kembali ke rumah setelah dijemput oleh ayah saya. Usai makan malam saya membuka labtop dan mulai memeriksa kembali data yang tadi saya peroleh. Dan saat saya memeriksa data kartu keluarga setiap keluarga di Parsingguran II. Saya lumayan syok melihat isi semua kartu keluarga penduduk parsungguran 2. Dari awal saya memang telah mengira-ngira bahwa banyak dari penduduk Parsingguran II yang menikahi satu marga, tapi jumlah yang ada di data melebihi ekspektasi saya. Persentasi pernikahan semarga itu menurut saya terlalu tinggi.

Hari kedua saya kembali melakukan penelitian, saya berencana pergi. Namun sebelum prgi ayah saya mengatakan dalam bahasa Batak yang artinya

"Kamu ke rumah inang udah Melda saja, karena inang uda itu juga menikah semarga. Inang itu boru Banjarnahor sementara Uda itu Lumban Gaol"

Mendapatkan saran itu, saya pergi ke desa Lumban Hariara. Desa dimana Inang Uda tadi tinggal. Saya diantar ke sana dan bersyukur karena pada saat kami sampai, beliau masih di rumah. Belum pergi ke ladang seperti yang diketahui bahwa penduduk Parsingguran II adalah parpadot. Yang artinya rajin bekerja. Mereka tidak mau membuang waktu sedikitpun untuk bermalas-malasan di rumah. Begitupula Inang Uda Melda sebagai informan saya. Setelah kami saling menyapa dan saya mengutarakan maksud saya datang ke sana kamipun memulai perckapan. Setelah berlalu beberapa lama, sayapun tidak ingin menganggu waktunya lama, saya rasa data saya cukup, saya akhirnya izin untuk pulang. Beliau juga meberitahu saya beberapa tugu dari para marga Marbun yang dulu saling melakukan pernikahan. Dan sayapun melanjutkan kembali penelitian saya untuk pergi ke tempat di mana beliau mengatakan tugu Marbun yang dahulu saling menikah. Di sana mengambil beberapa gambar yang menunjukkan jika perkawinan semarga memang sangat banyak terjadi di desa ini.

Hari ketiga penelitian saya, saya pergi ke desa Huta Julu yang jauhnya kira-kira 3 km dari rumah saya. Di sana saya telah membuat sebuah janji dengan kakak saya yang juga menikah dengan sesama marga Marbun. Kakak saya ini adalah anak dari Bapa Tua saya, yang merupakan abang dari bapak saya. Ayah saya dan Bapa Tua tadi memiliki hubungan dari orangtua mereka yang kakak beradik. Dan dapat disimpulkan jika hubungan yang mengikat saya dan kakak sekaligus informan saya ini adalah oppung kami atau kakek dan nenek kami yang bersaudara. Di desa ini terdapat sawah yang dikerjakan oleh warga di sana.

Karena mata pencaharian di sana tidak hanya di dapat dari kopi, tetapi juga padi.

Umumnya marga yang ada di desa ini adalah marga Marbun Banjarnahor. Ada beberapa marga lain seperti Nainggolan, Lumban Gaol, Simamora, Sitohang.

Namun jumlah mereka tidak terlalu banyak. Bisa dibilang jika desa ini mayoritasnya Banjarnahor.

Melakukan penelitian di desa sendiri bukanlah hal yang begitu sulit, namun tidak sulit bukan berarti begitu mudah. Banyak hal yang saya lewati selama lebih dari 14 hari di Parsingguran dua untuk mengumpulkan data dan juga melakukan wawancara. Tidak semua hal yang saya rencanakan berjalan sesuai dengan yang saya harapkan, bahkan semua rencana saya cenderung lari dari hasil yang sudah saya ekspektasi. Ada satu hari di mana saat itu saya berencana ke Sibagaras, salah satu desa bagian dari Parsingguran II yang jarak dari rumah saya kurang lebih 600 meter. Saya menempuh jalan ke sana dengan berjalan kaki dengan membawa perlengkapan wawancara saya seperti alat tulis, ponsel dan juga kamera. Namun masih setengah perjalan saya tempuh, ditemani cuaca yang sangat dingin, tiba-tiba saja hujan turun yang membuat saya kesulitan mencari tempat berlindung. Tidak hanya untuk melindungi tubuh saya dari hujan dan kemungkinan sakit, tetapi juga melindungi ponsel pintar dan kamera saya yang sensitif akan air. Dipatok harga yang berbeda jauh, saya lebih dulu melindungi kamera dan berujung ponsel terkena air hujan dan untuk beberapa jam ponsel tersebut sempat padam. Beruntung ayah saya memiliki inisiatifuntuk menjemput dan pada akhirnya membuat saya membatalakan rencana saya melakukan wawancara dengan Mihar yang saya panggil dengan sebutan Tulang.

Pada esok harinya saya kembali membuat janji kepada tulang saya tadi untuk melakuka wawancara. Dan saat itu saya beruntung karena beliau bersedia sore hari melakukan wawancara setelah beliau pulang dari ladang. Dan sampai di sana, entah apa yang terjadi dan membuat proses berpikir saya sedikit melambat, saya lambat memahami dan juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting mengenai perkawinan semarga yang pernah dilakukan oleh ito dari tulang saya tadi. Tanpa persiapan yang matang juga saya datang ke rumah beliau, yang berujung kita mulai dari angin. Mulai dari angin, ini istilah yang saya ciptakan sendiri yang artinya mulai dari mana saja. Karena kadang-kadang pembicaraan tidak terencana malah lebih berbobot dari pada yang terencana.

Beberapa hari melakukan penelitian tidak lantas membuat saya sepenuhnya penelitian setiap harinya. Saya juga tetap harus mengerjakan pekerjaan rumah dan bahkan kadang juga membantu orangtua mengerjakan pekerjaan mereka di sawah. Dan itu sebenarnya salah satu kesulitan yang saya keluhkan. Saya harus bisa membagi waktu anatara penelitian, menulis dan juga bekerja. Dan semuanya selalu berujung saya yang kelelahan dan malam hari menjadi malas untuk menulis hasil wawancara.

Tidak terbiasa dingin juga membuat saya malas keluar dari rumah, sesak menggunakan pakaian-pakaian tebal dan juga malas berjalan kaki ke rumah para informan saya. Dan kendala paling besar saya, dan alasan mengapa saya juga sempat menunda penelitian dan juga penulis skripsi adalah kemalangan yang menimpa keluarga saya. Abang paling dekat dengan saya dipanggil Tuhan tepat pada tanggal 27 Desember 2017. Kemalangan yang kami alami terpaksa membuat

kami ke Palangkaraya pagi hari itu juga, dan kami menghabiskan cukup banyak waktu di sana hingga lewat tahun baru.

Kemalangan yang terjadi pada saya, kesedihan yang saya rasakan, dan perasaan tidak adil yang terus mengiang di otak saya sempat membuat saya manja. Mengeluh pada segala hal dan selalu menempatkan diri saya sebagai korban dan orang lain selalu salah di mata saya. Saya bahkan sempat berpikir malas untuk melanjutkan skripsi. Dan benar saja, saya sempat menghentikan skripsi beberapa minggu setelah tahun 2018. Tapi dari semua itu akhirnya saya belajar, jika tidak ada gunanya saya diam tanpa melakukan sesuatu. Menjadi adik yang tidak punya motivasi hidup sudah pasti bukan tipe adik yang ingin dimiliki abang saya yang dipanggil Tuhan. Tidak seharusnya saya menggunakan alasan ditinggalkan untuk tidak melakukan apa-apa dan pasrah pada hidup. Dan pada akhirnya saya menyadari, seharusnya saya bangkit. Saya harus membuat abang saya bangga, saya harus membuat ayah saya bahagia seperti yang diinginkan abang saya. Dan akhirnya saya lanjutkan kembali beberapa hari penelitian dan menulis hasil penelitian itu berupa skripsi.

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2.1 Sejarah Kecamatan Pollung

Tapanuli Utara sebagai kabupaten induk dari Humbang Hasundutan terbentuk berdasarkan Undang Undang Darurat Nomor 7 Tahun 1956 tentang pembentukan daerah otonom kabupaten-kabupaten dalam lingkungan Propinsi Sumatera Utara.

Pada masa pemerintahan penjajahan Belanda, salah satu afdeling di wilayah Keresidenan Tapanuli adalah Afdeling Bataklanden dengan ibukota Tarutung terdiri atas lima onder afdeling. Setelah kemerdekaan tepatnya tahun 1947 Kabupaten Tanah Batak menjadi 4 (empat) kabupaten yaitu :

1. Kabupaten Silindung ibukotanya Tarutung.

2. Kabupaten Humbang ibukotanya Dolok Sanggul.

3. Kabupaten Toba Samosir ibukotanya Balige.

4. Kabupaten Dairi ibukotanya Sidikalang.

Pada Tahun 1950 keempat kabupaten ini dilebur menjadi Kabupaten Tapanuli Utara, seiring dengan terbentuknya Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Kabupaten Nias. Keadaan ini bertahan hingga tahun 1964, karena pada saat itu Tapanuli Utara dimekarkan dengan terpisahnya Dairi menjadi kabupaten berdasarkan Undang-undang Nomor 15 Tahun 1964, dan selanjutnya berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1998 terbentuknya Kabupaten

Toba Samosir. Kenyataan menunjukan bahwa kedua daerah tersebut mengalami perkembangan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Berdasarkan faktor sejarah dan keinginan untuk semakin cepat pembangunan dengan pelayanan yang semakin dekat kepada masyarakat maka harapan yang terkandung selama ini mengkristal menjadi usul pembentukan Kabupaten Humbang Hasundutan melalui terbentuknya Panitia Pembentukan Kabupaten Humbang Hasundutan.

Terbitnya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang dilengkapi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000 tentang Persyaratan Pembentukan dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan dan Penggabungan Daerah, menjadi peluang munculnya wacana perlunya usul pemekaran melalui pembentukan Kabupaten. Berbekal keinginan untuk mendambakan peningkatan kesejahteraan masyarakat, peluang tersebut dimanfaatkan secara tepat oleh masyarakat di wilayah Humbang Hasundutan melalui Panitia Pembentukan Kabupaten Humbang Hasundutan. Ternyata sejalan dengan tuntutan kemajuan jaman mampu menumbuhkan aspirasi masyarakat untuk mengusulkan Pemekaran Kabupaten Tapanuli Utara, melalui usul pembentukan Kabupaten Humbang Hasundutan.

Aspirasi murni masyarakat tersebut disambut dan difasilitasi oleh pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, serta dukungan DPRD Kabupaten Tapanuli Utara, yang kemudian memperoleh dukungan Gubernur Sumatera Utara dan DPRD Provinsi Sumatera Utara.

Berikut ini beberapa langkah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, dalam menyikapi aspirasi tersebut di atas adalah :

1. Mengikuti perkembangan Deklarasi Pembentukan Kabupaten Humbang Hasundutan tanggal 23 April yang dilaksanakan di Dolok Sanggul.

2. Tanggal 25 Mei 2002 menerima audensi Panitia Pembentukan Kabupaten Humbang Hasundutan sekaligus menerima berkas pengusulan.

3. Tanggal 26 Mei 2002 Bupati Tapanuli Utara menerbitkan SK Tim Peneliti sekaligus memberi petunjuk dalam memfasilitasi aspirasi masyarakat.

4. Tanggal 27 Mei 2002 berkonsultasi dengan DPRD Kabupaten Tapanuli Utara perihal aspirasi masyarakat tentang usulan pemekaran.

5. Tanggal 3 s/d 5 Juni 2002 menugaskan Tim Peneliti mendampingi DPRD Kabupaten Tapanuli Utara, turun ke Kecamatan guna mendengar aspirasi dan meneliti usulan dimaksud.

6. Tanggal 5 Juni 2002 menerima berkas pengajuan/penyempurnaan usul pemekaran melalui pembentukan Kabupaten Humbang Hasundutan.

7. Tanggal 5 Juni 2002 melapor ke Bapak Gubernur Sumatera Utara.

8. Tanggal 6 dan 7 Juni 2002 secara langsung turun ke Kecamatan- kecamatan untuk mendengar dan memfasilitasi usul pemekaran Kabupaten, sekaligus mengingatkan masyarakat agar usul pemekaran tidak menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat termasuk para perantau.

9. Tanggal 8 Juni 2002 menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Tapanuli Utara dengan hasil penerbitan Surat Keputusan DPRD

Kabupaten Tapanuli Utara Nomor : 16 Tahun 2002 tentang Persetujuan Pemekaran Kabupaten Tapanuli Utara.

Beberapa upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, untuk mempercepat proses pemekaran Kabupaten Humbang Hasundutan yaitu : (1) Melaksanakan pertemuan dengan segenap komponen masyarakat Tapanuli Utara guna memantapkan pemahaman dan melaporkan perkembangan terakhir usul pemekaran kepada Gubernur Sumatera Utara dan Bapak Ketua DPRD Sumatera Utara. (2) Melaksanakan pertemuan dengan segenap komponen masyarakat Tapanuli Utara guna memantapkan pemahaman dan dukungan bagi terwujudnya pemekaran. (3) Meyampaikan laporan tertulis dan pendapat kepada Bapak Gubernur SumateraUtara, Bapak Menteri Dalam Negeri dan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. (4) Mengundang Komisi II DPR-RI untuk memantau, mengevaluasi dan berkunjung langsung ke wilayah yang mengusulkan pemekaran. (5) Konsultasi dengan DPRD Kabupaten Tapanuli Utara dalam rangka dukungan APBD dan pengajuan usul dukungan DPRD

Beberapa upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, untuk mempercepat proses pemekaran Kabupaten Humbang Hasundutan yaitu : (1) Melaksanakan pertemuan dengan segenap komponen masyarakat Tapanuli Utara guna memantapkan pemahaman dan melaporkan perkembangan terakhir usul pemekaran kepada Gubernur Sumatera Utara dan Bapak Ketua DPRD Sumatera Utara. (2) Melaksanakan pertemuan dengan segenap komponen masyarakat Tapanuli Utara guna memantapkan pemahaman dan dukungan bagi terwujudnya pemekaran. (3) Meyampaikan laporan tertulis dan pendapat kepada Bapak Gubernur SumateraUtara, Bapak Menteri Dalam Negeri dan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. (4) Mengundang Komisi II DPR-RI untuk memantau, mengevaluasi dan berkunjung langsung ke wilayah yang mengusulkan pemekaran. (5) Konsultasi dengan DPRD Kabupaten Tapanuli Utara dalam rangka dukungan APBD dan pengajuan usul dukungan DPRD

Dokumen terkait