• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perumusan UUD Negara Republik Indonesia Tahun

Dalam dokumen PPKn SMP Kelompok Kompetensi A (Halaman 47-52)

Perumusan dan Penetapan Pancasila sebagai Dasar negara Oleh: Rahma Tri Wulandari, S.Pd.

PERUMUSAN DAN PENGESAHAN UUD NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN

1. Perumusan UUD Negara Republik Indonesia Tahun

Badan Penyelidik menyelenggarakan Sidang Pleno/Paripurna sebanyak dua kali atau periode yaitu periode pertama tanggal 29 Mei s.d 1 Juni 1945, dan periode kedua tanggal 10 s.d 17 Juli 1945.

Pada Sidang Pleno pertama selama empat hari digunakan untuk

menyampaikan “pemandangan umum” bagi para anggota. Hal itu sesuai dengan

pandangan tentang dasar negara Indonesia merdeka yang akan datang. Sebenarnya dalam sidang pertama ini ada beberapa orang pembicara, tetapi ada tiga orang yang secara dominan mempunyai pengaruh yaitu Muh. Yamin, Prof.,Dr., Mr. Supomo dan Ir. Sukarno (Muh. Yamin, 1959:59).

Sela waktu antara Sidang periode pertama (29 Mei s.d. 1 Juni 1945) dan periode kedua (10 Juli s.d. 17 Juli 1945) dimanfaatkan oleh tiga puluh delapan orang anggota Badan Penyelidik yang merangkap menjadi anggota Cuo Sangiin (semacam Dewan Perwakilan Rakyat) membentuk sebuah Panitia Kecil yang terdiri dari sembilan orang, sehingga di sebut “Panitia Sembilan”. Pembentukan Panitia Sembilan ini sebagai tindak lanjut dari persetujuan dari para anggota Badan Penyelidik (golongan Islam dan golongan kebangsaan) untuk mencari persamaan wawasan tentang dasar negara Indonesia medeka. Tanggal 22 Juni 1945 Panitia Sembilan berhasil mencapai persetujuan atau permufakatan bersama yang tertuang dalam sebuah naskah yang dikenal dengan “Piagam

Jakarta”, yang sering juga disebut “Jakarta Charter”.

Sejarah menunjukkan bahwa Piagam Jakarta (22 Juni 1945)itu kemudian ditetapkan menjadi Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan sedikit perubahan pada rumusan kalimat

...”Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-

pemeluknya”... diubah dan ditetapkan menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”

setelah melalui pembahasan secara seksama dan mendalam. Rumusan baru itu merupakan hasil kompromi antara golongan Islam dengan golongan kebangsaan dalam sidang Badan Penyelidik pada tangga 11 Juli 1945.

Panitia Perancang Undang-Undang Dasar dipimpin oleh Ketua Ir. Sukarno dalam rapatnya tanggal 11 Juli 1945 membentuk Panitia Kecil yang terdiri atas Ketua Supomo, anggotanya Wongsonegoro, Subardjo, Maramis. Singgih, Salim dan Sukiman (tujuh orang). Kewajiban Panitia Kecil adalah merancang Undang-Undang Dasar dengan memperhatikan pendapat-pendapat yang telah dimajukan di Sidang maupun dalam rapat Panitia Perancang Undang- Undang Dasar (Muh. Yamin, 1959:260). Dalam rapatnya tanggal 13 Juli 1945, Panitia Perancang Undang-Undang Dasar ini membentuk “Panitia Penghalus

Penetapan/Pengesahan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, tepatnya tanggal 18 Agustus 1945 mengadakan sidang PPKI yang dihadiri oleh 27 orang di bawah kepemimpinan Bung Karno (Ketua) dan Bung Hatta (Wakil Ketua). Dalam sidang PPKI tersebut telah diambil keputusan yang sangat penting bagi kehidupan negara yaitu:

1) Menetapkan dan atau mengesahkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, yang kemudian hari dikenal dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,

2) Memilih Ir. Sukarno dan Drs. Moh. Hatta masing-masing sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia,

3) Sebelum terbentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat, Presiden untuk sementara waktu dibantu oleh Komite Nasional.

Perubahan/Penyempurnaan Rancangan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Rancangan Undang-Undang Dasar hasil karya Badan Penyelidik Usaha- usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada sidangnya pada tanggal 16 Juli 1945, setelah mengalami perubahan dan penyempurnaan, rancangan inilah yang kemudian ditetapkan oleh PPKI sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Perubahan dan penyempurnaan tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut.

1) Pembukaan

Istilah “Mukadimah” atau kata “Pembuka Undang-Undang Dasar”

diganti dengan “Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945”.

Kalimat...”Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam

bagi pemeluk-pemeluknya...” diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha

Esa”. Jadi rumusan “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam

bagi pemeluk-pemeluknya” dihapuskan. 2) Perubahan pada pasal-pasal

a) Pasal 4:

- Ayat (1): Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan ditambah dengan kata-kata “menurut Undang-

- Ayat (2): perkataan “dua orang wakil Presiden”, menjadi “satu

wakil Presiden”. Alinea 3 dicoret.

b) Pasal 5 ditambahkan ayat (2) berbunyi: Presiden menetapkan Peraturan Pemerintah untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya.

c) Pasal 6

- Ayat (1) diganti menjadi: Presiden ialah orang Indonesia asli. - Ayat (2) menjadi: Presiden dan Wakil Presiden (dan tidak lagi

wakil-wakil).

d) Pasal 7, menjadi berbunyi: Presiden dan Wakil Presiden e) Pasal 8, diubah sehingga masuk kalimat: ia diganti oleh Wakil

Presiden

Pasal 8 ini tidak lagi memakai ayat (2) lagi.

f) Pasal 9, kalimat pertama ditambah dengan: Presiden dan

Wakil Presiden. Perkataan “mengabdi” diganti dengan kata “berbakti” (dua kali) seperti rumusan sekarang.

g) Pasal 23:

- Ayat (1) ditambahkan kalimat “Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui anggaran yang diusulkan Pemerintah,

maka Pemerintah menjalankan anggaran tahun yang lalu”.

- Ayat (5) ditambahkan kalimat “Hasil pemeriksaan itu

diberitahukan kepada Dewan perwakilan rakyat”.

h) Pasal 24:

- Ayat (1) ditambahkan kalimat “menurut Undang-Undang”. i) Pasal 25: ditambahkan kata “dan untuk diberhentikan”. j) Perubahan lain

Menjelang akhir sidang, Ketua (Bung Karno) menanyakan kepada anggota, apakah masih ada usul lagi?, maka Iwa Kusumasumantri menyatakan ada satu usul:

....Berhubung dengan pernyataan dari pimpinan, maka benarlah bahwa ini adalah Undang-Undang Dasar kilat. Akan tetapi meskipun demikian, ada syarat-syarat dari suatu Undang-Undang Dasar yang tidak boleh kita lupakan. Nanti saya kemukakan beberapa pasal, yang saya harap tidak akan menimbulkan perbantahan, karena maksudnya

ialah untuk sedikit memperbaiki bangunannya saja. Salah satu perubahan yang akan saya tambahkan, yang saya usulkan, yaitu

tentang “Perubahan Undang-Undang Dasar”. Di sini belum ada artikel tentang perubahan Undang-Undang Dasar dan itu menurut pendapat saya masih perlu diadakan (Muh. Yamin, 1959:412).

Berkaitan dengan hal itu maka sidang memutuskan untuk menambahkan kepada rancangan Undang-Undang Dasar tersebut yaitu:

a) Bab XVI pasal 37 tentang Perubahan Undang-Undang Dasar b) Aturan Peralihan pasal I, II, III, IV.

c) Aturan Tambahan ayat (1) dan (2).

Penjelasan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Rapat PPKI tanggal 18 Agustus 1945 menetapkan dan atau mengesahkan Undang-Undang Dasar yang meliputi Pembukaan, Batang Tubuh, termasuk empat pasal Aturan Peralihan dan dua ayat Aturan Tambahan. Jadi tidak kita dapati pembahasan dan perundingan tentang Penjelasan, baik Penjelasan Umum, maupun penjelasan pasal demi pasalnya.

Dalam Berita Republik Indonesia Tahun II No. 7 tanggal 15 Pebruari 1946 dimuat Undang-Undang Dasar 1945 terdiri-dari Pembukaan dan Batang Tubuh pada halaman 45-48, sedangkan Penjelasan dimuat dalam halaman 51 terdapat suatu pejelasan yang berbunyi:

....Untuk memberikan kesempatan lebih luas lagi kepada umum mengenai isi Undang-Undang Dasar Pemerintah yang semulanya di bawah ini kita sajikan penjelasan selengkapnya (JCT Simorangkir, 1984:22).

D. Aktivitas Pembelajaran

Untuk mengasah dan memantapkan penguasaan materi “Perumusan dan Pengesahan UUDNRI Tahun 1945”, maka Anda perlu mengikuti aktivitas pembelajaran sebagai berikut.

1. Memberikan motivasi peserta diklat untuk mengikuti proses pembelajaran

dan kebermaknaan mempelajari materi modul “Perumusan dan Pengesahan UUDNRI Tahun 1945”.

2. Menginformasikan judul modul, lingkup Kegiatan Pembelajaran dan tujuan yang hendak dicapai pada modul ini.

3. Menyampaikan skenario kerja diklat dan gambaran tugas serta tagihan hasil kerja sebagai indikator capaian kompetensi peserta dalam penguasaan materi modul baik yang dikerjakan secara individual atau kelompok.

4. Mempersilahkan peserta diklat (secara individual) membaca cerdas terhadap materi modul

5. Membagi peserta diklat ke dalam beberapa kelompok (sesuai dengan keperluan);

6. Mempersilahkan kelompok untuk berdiskusi materi latihan/kasus/tugas sebagaimana yang telah dipersiapkan di dalam modul.

7. Presentasi kelompok, pertanyaan, saran dan komentar. 8. Penyampaian hasil diskusi;

9. Memberikan klarifikasi berdasarkan hasil pengamatannya pada diskusi dan kerja kelompok

10. Menyimpulkan hasil pembelajaran

11. Melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan. 12. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran\ 13. Merencanakan kegiatan tindak lanjut

E. Latihan/Kasus/Tugas

Dalam dokumen PPKn SMP Kelompok Kompetensi A (Halaman 47-52)