HASIL DAN PEMBAHASAN
2011 2012 Perusahaan manufaktur yang listing di BEI 150 150
Perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan
dalam mata uang asing 19 19
Perusahaan yang tidak ada datanya untuk setiap
variabel yang diteliti 64 76
Jumlah sampel dalam penelitian 67 55
Sumber data: IDX 2011– 2012
Perusahaan manufaktur pada tahun 2011 dan 2012 yang menerbitkan laporan keuangannya dalam mata uang asing masing-masing 19 perusahaan. Perusahaan manufaktur pada tahun 2011 dan 2012, yang tidak mempublikasikan laporan keuangan masing-masing 23 perusahaan dan 29 perusahaan, yang tidak melaporkan laba masing-masing 17 perusahaan dan 21 perusahaan, yang tidak
melaporkan harga saham saat penutupan masing-masing 24 perusahaan dan 26 perusahaan. Perusahaan manufaktur yang tidak dapat dijadikan sampel penelitian sebanyak 140 Perusahaan. Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui jumlah sampel yang digunakan pada periode penelitian berjumlah 122 sampel yaitu sebesar 40,67% dari total perusahaan manufaktur yang listing di BEI.
Statistik Deskriptif
Uji statistik deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran atau deskripsi dari suatu data yang dilihat dari jumlah sampel, nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean), dan standar deviasi dari masing-masing variabel. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan program SPSS Ver.20.0 diperoleh hasil yang ditunjukkan:
Tabel 2. Statistik Deskriptif Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Manajemen_Laba 122 -2.11 3.03 1.88E-16 .98753 Size 122 25 33 27.92 1.530 ROE 122 -17.63 32.70 11.3326 9.79465 PBV 122 .01 5.30 1.5031 1.22108 Valid N (listwise) 122
Sumber Data : Hasil Output SPSS Ver.20.0
Berdasarkan input data dari IDX tahun 2011-2012 maka dapat dihitung rasio variabel-variabel yang digunakan pada penelitian ini yaitu manajemen laba, ukuran perusahaan, ROE dan PBV.
Pada variabel dependen ROE mempunyai nilai minimum -17,63; maksimum 32,70; rata-rata 11,3326 dengan standar deviasi 9,79465. Rata-rata ROE sebesar 11,33%, yang berarti nilai perusahaan yang dikaitkan dengan perusahaan untuk menghasilkan laba dengan menggunakan modal sendiri adalah 11,33%. Hal ini menunjukkan perusahaan dalam sampel mempunyai kinerja yang baik terbukti dari besaran ROE yang positif artinya perusahaan memperoleh laba. ROE yang paling tinggi dimiliki oleh PT. Selamat Sempurna Tbk, sedangkan yang paling rendah dimiliki oleh PT. Surabaya Agung Industri Pulp & Kertas Tbk.
Pada variabel dependen PBV mempunyai nilai minimum 0,01; maksimum 5,30; rata-rata 1,5031 dengan standar deviasi 1,22108. Rata-rata PBV sebesar 1,5 kali, yang berarti nilai perusahaan yang dikaitkan dengan harga pasar saham perusahaan adalah 1,5 kali. Hal ini menunjukkan bahwa pasar saham (investor) merespon secara positif terbukti dari harga pasar saham lebih besar dari nilai buku. PBV yang paling tinggi dimiliki oleh PT. Kalbe Farma Tbk pada tahun 2011, dan yang paling rendah dimiliki oleh PT. Kalbe Farma Tbk pada tahun 2012 .
Pada variabel independen manajemen laba (discretionary accrual atau DA) memiliki nilai minimum -2,11; maksimum 3,03; rata-rata 1,88E-16 dengan standar deviasi 0.98753. Hal ini menunjukkan perusahaan dalam sampel cenderung melakukan manajemen laba dengan strategi menaikkan laba (income icreasing). Nilai manajemen laba tertinggi dimiliki oleh PT. Indomobil Sukses
Internasional Tbk, nilai terendah dimiliki oleh PT. Keramika Indonesia Assosiasi Tbk.
Pada Variabel kontrol ukuran perusahaan yang diukur dengan logaritma natural dari total aktiva memiliki nilai minimum 25; maksimum 33; rata-rata 27,92 dengan standar deviasi 1,530. Ukuran perusahaan tertinggi dimiliki oleh PT. Astra International Tbk, nilai terendah dimiliki oleh Tbk, Kedaung Indah Can Tbk dan Pyridam Farma Tbk.
Uji Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas
Hasil uji normalitas data melalui kolmogorov-smirnov test menunjukkan bahwa nilai signifikansi KS 0,409 dan 0,134 lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.
2. Uji Autokorelasi
Hasil uji autokorelasi dilakukan dengan melihat nilai Durbin Watson. Nilai DW tidak terdapat masalah autokoelasi, apabila berada di antara -4 sampai +4. Hasil pengujian dengan jumlah sampel 122 dengan 2 variabel independen, maka akan diperoleh nilai dL= 1,6728; dU = 1,7388 ; 4-dU = 2,2612 ; 4 - dL = 2,3272. Hal ini menunjukan bahwa DW = 1,761 dan 2,141 terletak pada daerah dU = 1,7388 dan 4-dU = 2,2612 sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi autokorelasi.
0 1,6728 1,7388 2,2612 2,3272 4
+ Ragu-ragu AutokorelasiTidak ada Ragu-ragu
-1,761 dan 2,141
3. Uji Multikolinearitas
Untuk menguji adanya multikolinearitas yaitu dengan melihat VIF (Variance Inflation Factor). Dari hasil uji multikolinearitas menunjukkan nilai VIF dari masing-masing variabel sebesar 1,000 yang lebih kecil dari 10, sehingga tidak terdapat multikolinearitas. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolonieritas antara variabel independen dalam model regresi.
4. Uji Heteroskedastisitas
Untuk menguji ada tidaknya heteroskedastisitas digunakan uji park glejser. Dari hasil uji heteroskedastisitas dengan uji park glejser menunjukan bahwa nilai signifikansi masing-masing variabel independen 1,000 diatas tingkat signifikansi 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak terdapat heteroskedastisitas.
Regresi Berganda
Hasil perhitungan regresi berganda menggunakan SPSS dapat dilihat dari tabel di bawah ini:
Tabel 3. Hasil Pengujian Model Regresi Berganda Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -57.700 15.005 -3.845 .000 Manajemen_Laba 1.221 .832 .123 1.468 .145 Size 2.472 .537 .386 4.608 .000 Dependent Variable: ROE
R: 0.405a R Square: 0.164 Adjusted R Square: 0.150 F-hitung: 11.643 Sig: 0.000b N: 122
Sumber Data : Hasil Output SPSS Ver.20.0
Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa nilai adjusted (R²) sebesar 0,150. Hal ini menunjukkan bahwa 15% ROE dipengaruhi oleh variabel manajemen laba dan ukuran perusahaan. Sedangkan sebesar 85% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model. Meskipun nilai adjusted (R²) rendah tetapi dengan nilai F test, pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan diperoleh nilai F-hitung sebesar 11,643 dengan tingkat signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,05 mengindikasikan bahwa model yang
digunakan dalam penelitian ini layak. Hal ini berarti bahwa terjadi pengaruh yang signifikan variabel manajemen laba dan ukuran perusahaan secara bersama-sama terhadap variabel ROE.
Dilihat dari tabel 3 maka dapat disusun persamaan regresi linier berganda sebagai berikut :
ROE= -57,700 + 1,22DA+ 2,472SIZE + e
Manajemen laba dan Nilai Perusahaan (ROE)
Hasil pengujian menunjukkan variabel manajemen laba mempunyai nilai signifikansi sebesar 0,145 lebih besar dari nilai α = 0,05 artinya H1a ditolak. Ini menunjukkan bahwa praktek manajemen laba tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan yang diukur dengan ROE.
Penjelasan yang dapat diberikan dengan ditolaknya hipotesis tersebut adalah manajemen laba yang di proksi descretionary accrual yang terjadi dalam perusahaan sampel rata-rata posititif (nilai mean positif). Hal ini diduga dilakukan untuk kepentingan manajer yang bertindak secara opportunistic memaksimalkan laba saat ini (Bonus Plan Motivations). Namun demikian, nilai mean sebesar 1,88E-16 menunjukkan bahwa earning management yang dilakukan oleh perusahaan nilainya relatif kecil dengan strategi menaikkan laba (income increasing).
Tabel 4. Hasil Pengujian Crosstabulation Manajemen Laba-ROE Manajemen_Laba * ROE Crosstabulation
ROE Total ROE < Rata-rata ROE > Rata-rata Manajemen_Laba Manajemen Laba
Negatif 30 36 66 Manajemen Laba
Positif 32 24 56
Total 62 60 122
Sumber Data : Hasil Output SPSS Ver.20.0
Argumentasi ini diperkuat dengan hasil pengujian dari tabel 4 bahwa, proporsi perusahaan yang mempunyai nilai ROE yang diatas rata-rata (11,33%) dan melakukan praktek manajemen laba yang cenderung melakukan strategi menurunkan laba (decreasing income) adalah 29,51% (36 perusahaan). Hal ini diduga dilakukan untuk kepentingan penghindaran pajak (Taxation Motivations) dan adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturan yang lebih ketat (Political Motivations). Sedangkan nilai ROE yang dibawah rata-rata (11,33%) dan melakukan praktek manajemen laba yang cenderung melakukan strategi menaikkan laba (increasing income) adalah 26,23% (32 perusahaan). Hal ini diduga dilakukan untuk kepentingan manajer yang bertindak secara opportunistic memaksimalkan laba saat ini (Bonus Plan Motivations) dan perusahaan mempunyai rasio debt to equity yang besar (Debt Covenants Motivations). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, proporsi perusahaan yang melakukan praktek manajemen laba dengan strategi menaikkan laba (increasing income) maupun menurunkankan laba (decreasing income) tidak berbeda jauh artinya praktek manajemen laba tidak akan memberikan dampak
terhadap nilai perusahaan yang tercermin dari kinerja keuangan yaitu ROE. Hal ini menunjukkan bahwa laba yang dilaporkan oleh perusahaan bukan menjadi pertimbangan utama investor dalam menilai kinerja perusahaan untuk melakukan investasi. Akan tetapi ada faktor lain yang mungkin menjadi pertimbangan investor misalnya: perusahaan dalam sampel mempunyai prospek yang baik dimasa yang akan datang dan perusahaan mempunyai sumber daya manusia yang handal atau terampil serta perusahaan memiliki teknologi yang canggih.
Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Pae (1999), Feltham dan Pae (2000), Gideon (2005) dalam Ujiyantho dan Pramuka (2007) dan Hastuti (2005) yang mengatakan bahwa manajemen laba tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan.
Variabel kontrol ukuran perusahaan dengan nilai signifikansi sebesar 0.000 lebih kecil dari α = 0,05 artinya Ha diterima. Ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap ROE.
Ukuran perusahaan merupakan hal yang penting dalam proses pelaporan keuangan. Ukuran perusahaan dapat diukur dengan melihat seberapa besar asset yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Aset yang dimiliki perusahaan ini menggambarkan hak dan kewajiban serta permodalan perusahaan. Perusahaan dengan aset besar biasanya akan mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat maupun investor. Hal ini akan menyebabkan perusahaan lebih berhati-hati dalam melakukan pelaporan keuangannya. Semakin besar asset yang dimiliki oleh perusahaan, maka akan dapat meningkatkan kinerja perusahaan tergantung
bagaimana pihak manajemen mengelola sumber daya yang ada secara efektif dan efisien. Sehingga dapat disimpulkan bahwa investor mempertimbangkan ataupun menjadikan ukuran perusahaan sebagai tolak ukur dalam menilai kinerja perusahaan yang tercermin dari ROE yang dihasikan oleh perusahaan.
Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Hesti (2010) dan Uyun (2010) dalam Raharja (2012) yang menemukan bukti bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Tabel 5. Hasil Pengujian Model Regresi Berganda Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -10.711 1.710 -6.263 .000 Manajemen_Laba .033 .095 .026 .345 .730 Size .437 .061 .548 7.153 .000 Dependent Variable: PBV R: 0.549a R Square: 0.301 Adjusted R Square: 0.289 F-hitung: 25.626 Sig: 0.000b N: 122
Sumber Data : Hasil Output SPSS Ver.20.0
Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa nilai adjusted (R²) sebesar 0,289 Hal ini menunjukkan bahwa 28,90% PBV dipengaruhi oleh variabel manajemen laba dan ukuran perusahaan. Sedangkan sebesar 71,10% dipengaruhi oleh variabel
lain yang tidak dimasukkan dalam model. Meskipun nilai adjusted (R²) rendah, tetapi dengan nilai F test, pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan diperoleh nilai F-hitung sebesar 25,626 dengan tingkat signifikansi 0,000 lebih kecil dari α = 0,05 mengindikasikan bahwa model yang digunakan dalam penelitian ini layak. Hal ini berarti bahwa terjadi pengaruh yang signifikan variabel manajemen laba dan ukuran perusahaan secara bersama-sama terhadap variabel PBV.
Dilihat dari tabel 5 maka dapat disusun persamaan regresi linier berganda sebagai berikut :
PBV = -10,711 + 0,033DA + 0,437SIZE + e
Manajemen laba dan Nilai Perusahaan (PBV)
Hasil pengujian menunjukkan variabel manajemen laba mempunyai nilai signifikansi sebesar 0.730 lebih besar dari nilai α = 0,05 artinya H1b ditolak. Ini menunjukkan bahwa praktek manajemen laba tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan yang diukur dengan PBV.
Sesuai dengan tujuan manajemen laba adalah mengatur laporan keuangan agar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh manajer terkait dengan kepentingannya. Konflik keagenan yang terjadi dalam suatu perusahaan dapat memberikan dampak pada kualitas laba yang dihasilkan, hal ini dikarenakan para manajer akan bertindak opportunistic. Laba yang bersifat opportunistic tentunya akan merugikan bagi beberapa pihak yang memiliki kualitas rendah karena tidak mewakili informasi sebenarnya. Laba yang memiliki kualitas rendah sangat
merugikan para investor dan bagi perusahaan juga akan merugikan, sabab hal ini berhubungan dengan nilai perusahaan yang tercermin dari harga saham yang di transaksikan dan begitu juga sebaliknya. Penelitian ini menjelaskan bahwa pemakai laporan keuangan dalam hal ini investor beranggapan, laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan tidak menunjukkan kinerja manajemen secara keseluruhan. Hal ini diduga bahwa pasar atau investor tidak terfokus pada berapa banyak laba yang dihasilkan oleh perusahaan untuk membeli saham perusahaan, akan tetapi investor melihat bahwa perusahaan tersebut mempunyai prospek yang baik sehingga investor meresponnya dengan positif.
Tabel 6. Hasil Pengujian Crosstabulation Manajemen Laba-PBV Manajemen_Laba * PBV Crosstabulation
PBV
Total PBV < 1 PBV > 1
Manajemen_Laba Manajemen Laba Negatif 28 38 66 Manajemen Laba Positif 25 31 56 Total 53 69 122
Sumber Data : Hasil Output SPSS Ver.20.0
Dari tabel 6 dapat dilihat, proporsi perusahaan yang mempunyai nilai PBV yang lebih besar dari 1 dan melakukan praktek manajemen laba yang cenderung melakukan strategi menurunkan laba (decreasing income) adalah 31,15% (38 perusahaan), hal ini dikarenakan pihak manajemen melakukan buy out. Sedangkan nilai PBV yang lebih besar dari 1 dan melakukan praktek manajemen laba yang cenderung melakukan strategi menaikkan laba (increasing income) adalah 25.41% (31 perusahaan), hal ini diduga pihak manajemen melakukan penawaran saham ke publik.
Menurut Sulistyanto (2008) dalam Firdaus (2013), salah satu alasan motivasi manajemen laba dilakukan karena alasan pasar modal lebih banyak disebabkan oleh adanya anggapan umum bahwa angka-angka akuntansi, khususnya laba merupakan salah satu sumber informasi penting yang digunakan oleh investor dalam menilai harga saham (capital market motivations). Sehingga tidak mengherankan kalau ada sebagian manajer yang berusaha membuat laporan keuangannya tampak baik dengan maksud untuk mempengaruhi kinerja saham dalam jangka pendek. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, proporsi perusahaan dalam sampel yang melakukan praktek manajemen laba dengan strategi menaikkan laba (increasing income) maupun menurunkankan laba (decreasing income) tidak berbeda jauh artinya praktek manajemen laba yang dilakukan oleh manajer tidak akan berdampak terhadap nilai perusahaan (PBV). Hal ini diduga walaupun manajemen laba bisa dideteksi oleh pasar, namun investor atau pasar saham mengabaikan adanya manajemen laba tersebut Megawati (2009). Sehingga laba yang dihasilkan oleh perusahaan bukan menjadi pertimbangan utama bagi investor dalam membeli saham.
Penelitian ini tidak sejalan dengan temuan Fernandes dan Ferreira (2007) dan Herawaty (2008) yang mengatakan bahwa manajemen laba berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Akan tetapi hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Megawati (2009) yang menemukan bahwa manajemen laba tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Variabel kontrol ukuran perusahaan dengan nilai signifikansi sebesar 0.000 lebih kecil dari α = 0,05 artinya Ha diterima. Ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap PBV.
Darmawati (2004) menyatakan bahwa perusahaan besar pada dasarnya memiliki kekuatan finansial yang lebih besar dalam menunjang kinerja perusahaan. Jika perusahaan memiliki total asset yang besar maka pihak manajemen akan lebih leluasa dalam menggunakan asset yang ada di perusahaan tersebut. Kemudahan dalam mengendalikan asset perusahaan akan meningkatkan nilai perusahaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar asset yang dimiliki oleh perusahaan semakin besar nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa investor mempertimbangkan ukuran perusahaan dalam membeli saham perusahaan.
Penelitian ini sejalan dengan temuan Herawaty (2008), Sulistiono (2010) dan Prasetyorini (2013) bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan.