Iya betul Pak.
Saya juga tidak bisa mengatakan kalau dia berhenti merokok menjadi tidak miskin kan. Nah, saya tidak berani, nanti tiba-tiba ada penyakit, penyakit tidak merokok, akhirnya dia keluarnya ke kesehatan Pak Kyai.
F-PARTAI GOLKAR (HJ. ENDANG MARIA ASTUTI, S.AG., SH., MH.):
Tapi di masyarakat tidak mau Pak, ketika kita terangkan seperti itu dia akan menjawab, bahwa saya ini taat dan patuh terhadap Negara, karena kita membayar Pajak, ikut, nah itu dia Pak.
DEPUTI BIDANG STATISTIK PRODUKSI BPS:
Jadi dia itu mungkin ini Bu Endang, dia jurusan kuliahnya Ekonomi itu Bu, namanya Trackeldown Effect Economy. Iya seperti itu Bu, jadi memang seperti itu.
KETUA RAPAT (DR. TB. H. ACE HASAN SYADZILY, M.SI./F-PARTAI GOLKAR):
Tapi kan begini Pak, satu-satunya hiburan kami merokok Pak, katanya.
DEPUTI BIDANG STATISTIK PRODUKSI BPS:
Itu dia Pak, jadi merokok itu membuat masuk Surga, ya Pak Kyai?.
Karena dia tidak berfikir yang jorok-jorok barangkali.
Ibu Anisah saya pikir kalau di BPS itu pemutakhiran itu setiap Maret dan September, kita melakukan Sosenas rapatnya, dan itu dapat mengenai angka kemiskinan Makro, dan masukan mengenai kurang tangguhnya, tentu ini juga terus menerus kita perbaiki dengan mencoba dengan sistem yang ada.
Dan Ibu Selly saya pikir pendekatan dengan gizi, saya pikir nanti juga menjadi masukan untuk kita, apakah bisa, karena kita juga dalam Forum ini ada Forum FMS, Masyarakat Statistik, ketika kita mencoba suatu metodologi tentu harus didiskusikan sama Supervisor kita yang anggotanya Pak Bustanul Arifin, Pak Ihsan juga ada di dalam, jadi kita tidak bisa. Karena nanti ketika berubah metode dikhawatirkan nanti berubah kemiskinannya begitu Bu.
F-PDI PERJUANGAN (SELLY ANDRIANI GANTINA, A.MD.):
... ada tidak Pak?. Mungkin itu bisa jadi rujukan juga kan kepada Kemensos, bahwa pendekatannya tidak hanya pendekatan pada kalori, tetapi pada gizi yang berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Bapak, itu menjadi kajian kita semua, dan mungkin itu yang saya mau itu seperti itu begitu.
DEPUTI BIDANG STATISTIK PRODUKSI BPS :
Iya betul. Terus mengenai detail Rural dan Urban, nanti bedanya apa, saya pikir nanti kita berikan saja yang tertulis, nanti karena lengkap komoditasnya ada semua, ada 52 untuk Rural, tapi kalau untuk makanan dia tidak berbeda, tapi yang non-makanan mungkin yang akan berbeda.
Terus mengenai Pak Kyai tadi, saya pikir 440.000 betul Pak, intepretasi ini Pak yang terus menerus kita sering menjadi, karena kadang-kadang dianggap per kapitanya itu Pak, katakanlah seperti yang Pak Kyai katakan, ini 440.000, ada yang membaginya Pak, membaginya dengan 30 hari, jadi kesannya 15.000 cukup apa?. Padahal yang dimaksud di sini adalah per kapita. Jadi kalau kita kalikan dengan family size sekitar 4,5, seperti slide yang DKI tadi, ketika di Rumah Tangga itu menjadi lebih dari 2.000.000 dan setiap Provinsi berbeda. Sehingga kalau DKI itu, jadi kalau Rumah Tangga dikatakan miskin apabila dibawah 3,177. Anaknya 2 Pak.
KETUA RAPAT (DR. TB. H. ACE HASAN SYADZILY, M.SI./F-PARTAI GOLKAR):
Jadi asumsinya anaknya 2 yah?
DEPUTI BIDANG STATISTIK PRODUKSI BPS:
Iya, jadi per kapita dikalikan 4 Pak, yang sisi kiri 400 sekian, dikali 4,5 Pak, setiap daerah berbeda rata-rata ukuran Rumah Tangganya. Sehingga kita sajikan juga Pak, bahwa untuk jangan sampai keliru, bahwa seorang Rumah Tangga dikatakan miskin apabila, karena family size setiap provinsi itu kan akan berbeda. Nah, ini juga dilakukan seperti yang signifikan antara Jawa Tengah dan DKI, kan akan berbeda, karena pendekatannya itu pendekatan pengeluaran karena akan berbeda.
Saya pikir hampir semua, nanti kalau yang kurang lengkap kita akan lengkapi dengan jawaban secara tertulis Pak Pimpinan.
Terima kasih.
KETUA RAPAT (DR. TB. H. ACE HASAN SYADZILY, M.SI./F-PARTAI GOLKAR):
Terima kasih.
F-PDI PERJUANGAN (SELLY ANDRIANI GANTINA, A.MD.):
Pimpinan, saya belum.
KETUA RAPAT (DR. TB. H. ACE HASAN SYADZILY, M.SI./F-PARTAI GOLKAR):
Kita waktunya sudah jam 13.00.
F-PDI PERJUANGAN (SELLY ANDRIANI GANTINA, A.MD.):
Sedikit saja.
KETUA RAPAT (DR. TB. H. ACE HASAN SYADZILY, M.SI./F-PARTAI GOLKAR):
Karena nanti kita masih ada Panja dana optimalisasi.
Iya Ibu, silakan.
F-PDI PERJUANGAN (SELLY ANDRIANI GANTINA, A.MD.):
Sedikit saja. Tadi kan saya bertanya, bahwa kita kan sepakat, bahwa nanti itu data jadi 1 data Indonesia semuanya Pak, bahwa BPS dijadikan rujukan oleh Kemensos, dari hasil Survey BPS ini, adalah rujukan Kemensos untuk melakukan Verivali Data kemiskinan. Nah, yang menjadi pertanyaan saya tadi, yang dijadikan rujukan Kemensos selama ini dari data-data Bapak itu, apa saja sih Pak?.
Kemudian apakah yang sudah dilakukan oleh Kemensos ini sudah ada berkoordinasi tidak dengan BPS?, atau yang dilakukan oleh BPS kemudian diadopsi oleh Kemensos?.
Itu saja sih tadi pertanyaan saya.
KETUA RAPAT (DR. TB. H. ACE HASAN SYADZILY, M.SI./F-PARTAI GOLKAR):
Belum dijawab katanya.
Silahkan Pak.
DEPUTI BIDANG STATISTIK PRODUKSI BPS:
Iya, mohon izin Bapak Pimpinan.
Betul Perpres 39/2019, salah satunya kita adalah sebagai pembina data, termasuk juga teman-teman di Kemensos, Pusdatinnya ada Wali data.
Nah, sesungguhnya dalam standar verifikasi kita ada namanya norma standar
verifikasi klasifikasi dan metodologi. Nah, ini memang ruang BPS untuk melakukan pembinaan mengenai tujuan 1 data Indonesia.
Nah, harapannya dengan Perpres ini kita bisa menyamakan, tapi agak sulit disamakan memang, karena basisnya mereka itu basis Multidimensi Approach tadi, karena pendekatannya Mikro, sementara BPS itu Makro, jadi pemanfaatannya agak berbeda Ibu Selly. Pemanfaatan datanya mereka itu untuk intervensi program, sementara kita bisa dibagi untuk evaluasi yang saya katakan tadi beda arahnya.
Tapi secara ini, ini Ibu Wanti Direkturnya juga terlibat Bu, ketika dalam Pokja memberikan, menyatukan basis data Dukcapil dan Kemensos, ini kan perlu waktu, mungkin tadi yang cerita Pak Tafif tadi. Saya pikir bagus yang Kemensos sudah berbasis data Dukcapil, dan BPS pun menggunakan data Dukcapil, dan ini sejak tahun lalu dan men-support. Artinya nanti ke depan harapannya kita tidak ada lagi sensus penduduk yang harus mendata SP Online, tapi kita menggunakan Variable Long Firm saja, Variabel yang memang menyangkut Variabel estimasi demografis, harapannya begitu dan ini bisa berhemat.
Kalau Dukcapilnya seperti ini, nanti kita data BPS kita berikan, hasilnya kita berikan kepada Dukcapil, tentu dari SP nanti akan dapat memverifikasi berapa banyak yang belum punya NIK, karena kita tanyakan juga dan ini teman-teman Dukcapil dengan timnya akan ke lapangan melihat yang katanya itu sekitar 2.000.000 tadi Pak.
Nah, terkait dengan pertanyaan yang tidak adanya sinyal, kita makanya menggunakan berbasis Web tadi. Jadi biasanya kita ada Web, dengan Web itu nunggu ada sinyalnya Pak, nanti kita kasih sekitar 1 minggu.
Dan kedua, lagi kan tidak semua ditargetkan menjadi SP online, hitung-hitungan kita masih sekitar 20-30% masyarakat Indonesia yang sadar teknologi dan mau mengisi melalui android-nya, karena butuh waktu sekitar 5-10 menit. Nah, kalau mereka tidak, kita akan datangi petugas itu pada bulan Juli. Jadi masih ada, makanya metodenya 2 cara, Februari sampai dengan 31 Maret, harapan masyarakat mengisi sendiri, kalau masih belum mampu mengisi sendiri, nanti akan dilakukan dengan cara kita mendatangi penduduk dengan sistem CAPI, dan untuk daerah tertentu kita masih pakai kuisioner, karena sulitnya, tapi untuk daerah-daerah yang sinyalnya sudah oke kita pakai CAPI.
Mungkin itu Bapak Pimpinan.
Terima kasih.
KETUA RAPAT (DR. TB. H. ACE HASAN SYADZILY, M.SI./F-PARTAI GOLKAR):
Terima kasih.
Selanjutnya Pak Tafif, jika ada yang perlu ditanggapi.
DIREKTUR PENGELOLAAN INFORMASI ADMINISTASI DIREKTUR