REPUBLIK INDONESIA
RISALAH RAPAT DENGAR PENDAPAT PANJA VERI-VALI KOMISI VIII DPR RI
DENGAN KEPALA BPS, DAN DIREKTUR JENDERAL KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KEMENTERIAN DALAM NEGERI RI
Tahun Sidang : 2019-2020 Masa Persidangan : II
Rapat Ke : 14 (Empat Belas)
Jenis Rapat : Rapat Dengar Pendapat
Sifat Rapat : Terbuka
Hari, Tanggal : Kamis, 6 Februari 2020
Pukul : 10.40 - 13.30 WIB
Tempat : Ruang Rapat Komisi VIII DPR RI Gedung Nusantara II Lt. 1,
Jl. Jenderal Gatot Soebroto, Jakarta 10270 Pimpinan Rapat : DR. TB. H. Ace Hasan Syadzily, M.Si. (Wakil
Ketua/F-PG)
Acara : Pelaksanaan dan Evaluasi Kebijakan dan Program Verifikasi, Validasi Data Kemiskinan, Permasalahan dan Alternatif Solusinya.
Sekretaris Rapat : Sigit Bawono Prasetyo, S.Sos., M.Si.
Kabag Sekretariat Komisi VIII DPR RI
Anggota yang Hadir : 12 dari 26 Anggota Panja PIMPINAN :
1. DR. TB. H. Ace Hasan Syadzily, M.Si.
(F-PG) ANGGOTA :
FRAKSI PDI PERJUANGAN 1. I Komang Koheri, SE.
2. Umar Bashor
3. Selly Andriani Gantina, A.Md.
FRAKSI PARTAI GOLKAR
4. Hj. Itje Siti Dewi Kuraesin, S.Sos., MM.
5. Hj. Endang Maria Astuti, S.Ag., SH., MH.
FRAKSI PARTAI GERINDRA 6. Drs. H. Saiful Rasyid, MM.
FRAKSI PARTAI NASIONAL DEMOKRAT 7. Ach. Fadil Muzakki Syah, S.Pd.I.
8. Dra. Delmeria
FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA 9. Dra. Hj. Anisah Syakur, M.Ag.
FRAKSI PARTAI DEMOKRAT 10. Drs. H. Achmad, M.Si.
FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA 11. KH. Bukhori, LC., MA.
FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL -
FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN
12. H. Iip Miftahul Choiri, S.Pd.I.
Anggota yang Izin : 4 orang Anggota Panja
Undangan : 1. M. Habibullah (Deputi Bidang Statistik Produksi BPS)
2. Drs. Akhmad Sudirman Tavipiyono, MM., MA (Direktur Pengelolaan Informasi Administasi Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri RI)
Jalannya Rapat:
KETUA RAPAT (DR. H. TB. ACE HASAN SYADZILY, M.SI./F-PARTAI GOLKAR):
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yang terhormat Saudara Kepala Badan Pusat Statistik atau yang mewakilinya, yang diwakili oleh Deputi Bidang Statistik Produksi BPS;
Yang kami hormati Saudara Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri atau yang mewakilinya;
Para Anggota Panja Komisi VIII DPR RI yang kami hormati.
Mengawali Rapat pada hari ini, pertama-tama marilah kita memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kita masih diberikan kesempatan untuk mengikuti Rapat Dengar Pendapat Panja Komisi VIII mengenai Verifikasi dan Validasi Data Kemiskinan dengan agenda pelaksanaan dan evaluasi kebijakan serta program Verifikasi Validasi dan Data Kemiskinan, permasalahan dan alternatif solusinya.
Sebagaimana kebiasaan Rapat di Komisi VIII sebelum kita memulai marilah kita sama-sama berdo’a untuk kelancaran acara ini, bagi yang beragama non-muslim dipersilakan untuk menyesuaikan, dan bagi yang beragama Muslim marilah kita membacakan Surat Al-Fatihah.
(PESERTA RAPAT BERDO’A)
Terima kasih.
Hadirin yang kami hormati.
Pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan, bahwa sesuai dengan acara rapat-rapat DPR RI Masa Persidangan II Tahun Sidang 2019-2020, yang telah diputuskan di dalam Rapat Konsultasi Pengganti Bamus antara Pimpinan DPR RI dengan Pimpinan Fraksi-Fraksi, pada Tanggal 13 Desember, dan sesuai dengan keputusan Rapat Internal Komisi VIII DPR RI Tanggal 13 Januari, maka pada hari ini kami 6 Februari Panja Komisi VIII DPR RI tentang Verifikasi dan Validasi Data Kemiskinan, mengadakan Rapat Dengar Pendapat dengan Badan Pusat Statistik dan Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, yang seharusnya kami pun juga mengundang Kementerian Sosial, tapi karena ada surat yang disampaikan kepada kami, bahwa Sekjen dan Kepala Pusat Data dan Informasinya sedang Rapat dengan Komisi Pemberantasan Korupsi, jadi mereka menyampaikan tidak bisa hadir.
Menurut laporan dari Sekretariat Komisi VIII DPR RI pada Rapat kali ini telah hadir 9 orang tanda tangan, yang hadir 9 orang dari 7 Fraksi dan izin 3, maka berdasarkan atas tata tertib DPR RI kuorum telah tercapai, atas
persetujuan Anggota Panja, maka Rapat ini kami nyatakan terbuka untuk umum.
(RAPAT DIBUKA PUKUL 10.44 WIB)
(RAPAT DINYATAKAN TERBUKA UNTUK UMUM)
Bapak/Ibu sekalian sesuai dengan undangan yang telah disampaikan maka kita akan setujui susunan acaranya yaitu:
1. Pengantar Ketua Rapat, 2. Paparan dari BPS,
3. Paparan dari Kementerian Dalam Negeri, 4. Tanya jawab,
5. Catatan Rapat, 6. Penutup.
Apakah acara tersebut bisa disetujui?.
(RAPAT: SETUJU)
Selanjutnya kita sepakati akhiri pada pukul 12.30.
(RAPAT: SETUJU)
Bapak-Ibu sekalian, perlu kami sampaikan, bahwa Komisi VIII DPR RI dalam Masa Sidang kedua Tahun 2020 ini telah membentuk Panja Verifikasi dan Validasi Data Kemiskinan. Panja ini adalah sebagai perwujudan dari pelaksanaan Pasal 20 A ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yang disebutkan, bahwa DPR mempunyai fungsi Legislasi, fungsi Anggaran, dan fungsi Pengawasan. Dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 yang diubah menjadi Undang-Undang 42 Tahun 2014, dan diubah kembali Tahun 2011 tentang susunan dan kedudukan MD3, MPR, DPR, DPD, dan DPRD.
Selanjutnya Panja dalam menjalankan tugasnya dimaksudkan untuk memastikan proses Verifikasi dan Validasi Data Kemiskinan menghasilkan data yang betul-betul akurat. Selain itu juga melakukan analisis kebijakan baik dari aspek dukungan anggaran, ketersediaan regulasi, serta pengawasan pelaksanaan kebijakan dan implementasi verifikasi dan validasi data kemiskinan, baik yang terkait dengan kebijakan, sistem maupun teknis pelaksanaan.
Dengan demikian tergambar potret yang menyeluruh berbagai hal yang terkait dengan proses verifikasi dan validasi data kemiskinan dengan memanfaatkan teknologi informasi agar data kemiskinan senantiasa up to date. Selain itu dari aspek kebijakan, juga hendak mengetahui mekanisme pelaporan dan pemutakhiran data kemiskinan, mulai dari Kelurahan, Kecamatan atau Desa ke Kecamatan, kemudian Bupati/Walikota ke Gubernur sampai terakhir ke Kementerian Sosial.
Nah, tapi Bapak-Ibu sekalian, dalam Rapat kali ini kita mengundang BPS dan Kementerian Dalam Negeri itu dalam rangka kita ingin mengetahui tentang proses awal di dalam menentukan data-data tersebut, karena sepengetahuan kami, bahwa data awal yang didapatkan oleh Kementerian Sosial itu juga didapatkan dari Badan Pusat Statistik. Selain itu, Panja Komisi VIII DPR RI juga menilai di dalam perdebatan yang terjadi di dalam Rapat- Rapat Komisi VIII, kami masih menemukan terjadi perbedaan persepsi tentang apa yang dimaksud dengan kemiskinan tersebut, bagaimana standar kemiskinan, lalu bagaimana proses seseorang atau suatu keluarga dikatakan lepas dari kemiskinan tersebut.
Nah, oleh karena itu pada kesempatan ini Bapak-Ibu sekalian, kami pun juga mengundang Kementerian Dalam Negeri yang mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksananaan kebijakan di bidang kependudukan dan pencatatan sipil sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku. Dengan kewenangan tersebut, maka diharapkan Panja akan mendapatkan gambaran tentang bagaimana pelaksanaan administrasi kependudukan melalui program sistem E-KTP yang memberikan informasi, yang terintegrasi dengan data kemiskinan yang ada di Indonesia.
Nah, oleh karena itu Bapak-Ibu sekalian, pada pagi hari ini Komisi VIII sengaja mengundang BPS dan Kementerian Dalam Negeri mengenai permasalahan data kemiskinan tersebut, dengan tujuan:
1. Bagaimana kebijakan dan program yang berkaitan langsung dengan verifikasi dan validasi data kemiskinan, dan juga bagaimana proses penentuan data kemiskinan tersebut yang dilakukan oleh BPS.
2. Bagaimana kebijakan dan langkah kongkrit dalam rangka menyediakan data kemiskinan, karena kita tahu, bahwa setiap tahun dan saya kira per-semester juga BPS selalu menerbitkan data tentang kemiskinan tersebut. Misalnya pada Bulan September yang lalu BPS mengeluarkan data kemiskinan kita menurun menjadi 9,2%, sebelumnya pada Bulan Maret 2019 BPS mengeluarkan 9,4, sebelumnya lagi BPS mengeluarkan angka 10,2.
Jadi hal-hal semacam itu tentu ini memiliki Implikasi buat kami, terutama Komisi VIII di dalam memberikan dukungan terhadap Kementerian Sosial dalam hal, misalnya strategi kebijakan penanggulangan kemiskinan dan yang paling penting adalah juga dukungan terhadap anggaran. Untuk itu maka kami ingin mengetahui lebih lanjut tentang berbagai kebijakan, terutama soal data kemiskinan itu dalam konteks kebijakan-kebijakan yang lebih akurat.
Demikian pengantar dari kami, selanjutnya kami persilakan terlebih dahulu mungkin kepada BPS untuk menyampaikan hal-hal yang perlu disampaikan dalam kesempatan ini dengan mengefektifkan dan mengefisienkan waktu.
Dipersilakan Pak.
DEPUTI BIDANG STATISTIK PRODUKSI BPS:
Terima kasih Bapak Pimpinan.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat Pagi, Salam Sejahtera untuk kita semua.
Yang saya hormati Bapak Pimpinan Rapat, dan;
Bapak/Ibu Anggota Panja Komisi VIII DPR RI.
Mohon izin Bapak-Ibu semua, Pak Kepala BPS menugaskan saya untuk menyampaikan materi Beliau, karena pada saat yang bersamaan ada Rapat yang harus menugaskan saya. Izinkan saya menyampaikan pertama ada 2 perspektif.
Pertama, ada data kemiskinan yang sifatnya Makro Pak, nanti ada proses mengenai bagaimana data yang di Kemensos itu diperoleh. Jadi ada 2 file yang akan kita sampaikan. Yang pertama, adalah mengenai data kemiskinan. Jadi dalam perspektif makro BPS menganut mengukur kemiskinan menggunakan konsep menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar atau basic needs approach, sehingga dengan pendekatan ini kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan. Jadi ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan.
Jadi kita punya garis kemiskinan sampai level daerah. Jadi ada garis kemiskinan masing-masing daerah kita ukur dan dilakukan Survey Sosial Ekonomi Nasional. Kalau dilihat garis kemiskinan makanan, kita menganut pendekatan bahwa kebutuhan minimum 2.100 kalori. Jadi dari dari hasil Survey Sosenas kita konversi yang bahan makanan itu, apabila sesorang mengkonsumsi lebih dari 2.100 kalori perkapita. Jadi kalau ada 5 nanti masing-masing akan dilihat kalau konsumsinya lebih dari angka tersebut, sehingga pada posisi garis kemiskinan makanan anggota rumah tangga tersebut tidak dianggap miskin. Akan sulit rasanya kalau seandainya kita konversi 2.100 kalori, sehingga BPS melakukan pendekatan menarik angka 2.100 kalori tersebut ke dalam rupiah perkapita terhadap garis makanan maupun non-makanan. Garis kemiskinan bukan makanan dinilai. Jadi ada beberapa kelompok makanan terutama pengeluaran untuk perumahan sandang, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan pokok bukan makan lainnya.
Bagaimana menentukan penduduk miskin? Jadi penduduk miskin yang memiliki rata-rata per kapitanya di bawah garis kemiskinan. Jadi nanti ada garis kemiskinan kita tentukan dari Sosenas, apabila seseorang anggota rumah tangga tersebut di bawah itu maka dikategorikan miskin. Metode ini sudah kita lakukan sejak tahun 1998, dalam kajian juga beberapa tempat kita berdiskusi dengan berbagai pakar mengenai ketepatan metode ini, sehingga sangat konsisten penghitungannya dari tahun ke tahun, karena metodenya sama dan ini sejak 1998.
Kalau dilihat perkembangan kemiskinan di Indonesia kita sajikan sejak Tahun 1999 presentase penduduk miskin bulan September, kita menghitung miskin itu pada bulan September yang terakhir itu sebesar 9,22%, artinya menurun terhadap Maret 2019. Jadi setahun 2x kita merilis angka penduduk miskin. Jumlah penduduk miskin pada September 2019 apa yang sudah disampaikan Bapak Pimpinan Sidang tadi, bahwa sebesar 24,79 juta orang, menurun 0,36 juta orang. Kalau dilihat menurut presentase penduduk miskin daerah perkotaan dan pedesaan ternyata masih ada disparitas Bapak-Ibu sekalian, antara kemiskinan perkotaan dan pedesaan, dan pedesaan masih tinggi. Jadi kalau dilihat pada warna biru, bahwa itu adalah kemiskinan pedesaan pada September 12,60%, sementara perkotaan 6,56%.
Apa yang menyebabkan atau faktor yang terkait dengan kemiskinan di Indonesia?
Pertama, adalah perubahan rata-rata buruh per hari, kita BPS menghitung kalau dilihat ada kenaikan di bulan September sebesar 1,02%
dibandingkan Maret. Jadi perubahan rata-rata upah buruh per hari, kenaikan upah ini menyebabkan ada penurunan kemiskinan di bulan September dari 9,41% menjadi 9,22%. Di samping itu adalah nilai tukar petani meningkat, karena berada di atas 100, artinya 102,63 dan 103, ini mengindikasikan, bahwa angka di atas 100 mengindikasikan, bahwa ada kenaikan nilai tukar petani. Yang tak kalah pentingnya adalah Inflasi. Jadi ini juga menyangkut daya beli masyarakat karena Inflasinya tercatat 1,84% ketika periode Maret dan September.
Kalau dilihat dari komposisi-komposisi komoditas yang menyebabkan kemiskinan makanan, yang pertama, adalah adanya penurunan harga eceran beberapa komuditas pokok. Ini secara Nasional harga eceran beberapa komoditas antara lain ada penurunan harga beras sebesar 1,75%, daging ayam ras, minyak goreng, telur ayam ras, dan ikan kembung. Ini komoditas utama yang menyebabkan terjadi penurunan kemiskinan. Rata-rata pengeluaran per kapita pada Desil 1 meningkat, artinya yang pada posisi kemiskinan yang paling bawah itu sebesar 4,01%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan garis kemiskinan pada periode sebesar 3,6%.
Hal lain adalah program pelaksanaan Bantuan Pangan Non Tunai ini juga jumlahnya meningkat 289 kota dibandingkan Triwulan I-2019. Kalau dilihat komposisi antara makanan dan non-makanan yang mendominasi penyebab-penyebab naik turunnya kemiskinan adalah 73,75% itu penentu garis kemiskinan makanan. Jadi ada 2 kalau kita total. Jadi komposisinya 73,75% untuk komposisi garis kemiskinan kategori makanan sementara yang lain adalah 26,25%.
Nah, selama Maret 2018-2019 garis kemiskinan naik sebesar 3,60%, yaitu dari 425.250 per kapita per bulan. Jadi kalau ada 5 orang kita kalikan 5 orang, ya sekitar di atas 2.000.000 lebih, dan pada Maret menjadi 440.538 pada bulan September. Nah, peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan dengan komoditi bukan makanan
pada September 2019, yang seperti yang saya utarakan tadi sebesar 73,75%.
Kalau dilihat pada tabel ini adalah garis kemiskinan sama dengan sumbangan kemiskinan, ini keterbandingan antara komposisi makanan dan bukan makanan, artinya tidak terlalu terjadi perbedaan signifikan antara September, Maret, dan September 2018 dan 2019. Kalau dilihat di bawah tadi tabel sebelumnya itu merupakan angka-angka pertumbuhan daripada garis kemiskinan.
Bapak-Ibu yang saya hormati.
Kalau dilhat dari komoditi yang berpengaruh besar terhadap penentuan garis kemiskinan adalah pertama beras. Beras itu pada September ini komposisinya 25,82%, artinya dengan kenaikan satuan beras itu akan sangat menentukan terhadap garis kemiskinan. Jadi ini penting strategi untuk beras.
Di samping itu adalah rokok kretek filter 10,37%, nah seperti yang terurai.
Sementara kalau kita lihat komoditas bukan makanan yang menentukan adalah perumahan. Jadi perumahan ini kita melakukan terhadap bagaimana mengenai sewa rumah, jadi ada imputasi terhadap sewa rumah. Jadi sesorang itu peranannya cukup besar 7,14%, di samping bensin, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi, perumahan 7,14%, bensin 3,74% dan 2,02%. Nah, ini yang paling penting untuk dikendalikan agar fluktuasi kemiskinan cukup baik.
Garis kemiskinan per rumah tangga miskin pada slide nya kita coba lihat kita bandingkan antara kalau seandainya kita lihat per kapita. Jadi ada perbedaan misalnya GK Nasional per kapita 440,538 kita kalikan dengan Familiy Size dapat perkiraan rumah tangga miskin itu, bahwa dia dikatakan rumah tangga miskin rata-ratanya 2.017.664. Ini yang sering kali mengintepretasikan yang bisa keliru karena yang dilihat itu per kapita seolah- olah kecil, padahal kalau kita kalikan familiy size masing-masing provinsi akan berbeda, yang seperti dipaparkan pada garis kemiskinan DKI. Jadi seseorang rumah tangga itu tidak akan miskin kalau seandainya penghasilan atau pendapatannya 3.177.470. Jadi akan berbeda setiap daerah atau setiap provinsi.
Bapak-Ibu sekalian, kita coba lihat bagaimana kemiskinan antar provinsi kita bandingkan ketika dan September 2019. Ada 33 provinsi yang mengalami penurunan terutama untuk Papua turun 0,8 poin dan Nusa Tenggara Barat, NTT, Bengkulu, dan Lampung. Sementara ada 1 provinsi yang mengalami presentase miskin Maret itu naik. Ini menurut informasi disebabkan ada kejadian-kejadian di sana yang menyangkut bencana alam.
Ada 2 strategi untuk mengentaskan kemiskinan. Pertama kita melihat indeks kedalaman kemiskinan, atau kita istilahkan P1, dan kedua adalah P2 untuk keparahan. Nah, 2 ini sesungguhnya strategi untuk menyalurkan program, kalau kita definisikan kedalaman kemiskinan itu merupakan jarak rata-rata, kalau ada garis kemiskinan ada jaraknya, sehingga setiap daerah itu akan berbeda tentunya strategi pengentasan kemiskinan. Demikian juga
dengan indeks keparahan mengindikasikan masa ketimpangan. Jadi ada 2 titik kiri-kanan itu menyatakan indeks keparahannya.
Nah, inilah yang menjadi strategi, makin jauh dia pada garis kemiskinan artinya makin agak sulit kita menaikannya melewati batas garis kemiskinan, demikian juga makin parah indeks keparahan kemiskinan antar miskin tentu programnya akan berbeda, itu strategi penting dalam ...
kemiskinan. Kalau dilihat dari angka.
KETUA RAPAT (DR. H. TB. ACE HASAN SYADZILY, M.SI./F-PARTAI GOLKAR):
Sebelumnya Pak, saya mau tanya, itu kedalaman dan keparahan itu bedanya apa Pak?.
DEPUTI BIDANG STATISTIK PRODUKSI BPS:
Kalau kedalaman Pak, mohon maaf, ini garis dia ke sini ke bawah, kalau keparahan ini ada miskin kiri kanannya itu Pak, nanti pada slide selanjutnya bisa, iya ke arah kiri-kanan, variasinya Pak. Begitu Bapak Pimpinan.
Kita lihat, kalau dilihat indeks kedalaman kemiskinan makin lama, kalau dilihat P1 itu makin turun, artinya jarak dengan garis kemiskinan terhadap batas miskinnya itu Pak, ke atas, nah itu makin baik artinya. Itu pada slide ini kita lihat di September dan Maret terjadi penurunan baik di perkotaan maupun di pedesaan. Sementara indeks keparahan kita lihat jarak variasi antara penduduk miskin ini, juga makin dia, jauh artinya makin bervariasi, tentu menyangkut programnya nanti pun biar tepat sasaran Pak, ini tampaknya juga menurun di 0,55 sama 0,53 untuk daerah pedesaan, sementara daerah perkotaan 0,24 sama 0,23. Hal lain bisa kita lihat ada ketimpangan ada namanya indeks ... rasio yang memang sudah cukup populer saya pikir, ini menyangkut ketimpangan penduduk dan pengeluaran. Nah, ini didekati dengan Survey Sosenas juga, tapi pendekatannya adanya pengeluaran, jadi ada ... approach di sini, nah kalau kita lihat ... rasio antara perkotaan dan pedesaan ada 2, ada pendekatan Bank Dunia dengan menggunakan presentase 40% terbawah, penduduk 40% menengah, dan penduduk 20%
teratas, sesungguhnya kedua ini mengukur bagaimana ketimbangan. Kalau dilihat ... rasio turun dari 0,382 menjadi 0,380, sementara kalau dilihat dari kelompok pengeluaran tidak terlalu terjadi perbedaan signifikan antara Maret dan September.
Pada grafik selanjutnya kita sajikan Series sejak 2012, mungkin ini juga bisa memberikan gambaran yang komprehensif bagaimana bentuk ... rasio di Indonesia. Kalau dilihat dari provinsi terdapat 8 provinsi dengan ... rasio di atas ... rasio Indonesia, seperti yang oranye, kalau Indonesia 0,380 ada Provinsi DIY, Gorontalo, Jawa Barat, Sulawesi Tenggara, Papua, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, dan Papua Barat yang kini rasionya diatas rata-rata
Nasional. Sementara ... rasio tertinggi tercatat di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang terendah ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Bapak-Ibu sekalian.
Pada kesempatan ini kita juga akan mencoba memohon bantuan dari Bapak-Ibu semua, bahwa pada bulan Februari, 15 Februari hingga 31 Maret, BPS akan menyelenggarakan sensus penduduk dengan cara online, nanti Bapak-Ibu akan ada Web di sana, dan ini mohon dukungan dari Bapak-Ibu semua, bahwa SP penduduk yang bisa dilakukan menurut Undang-Undang setiap 10 tahun sekali, dilakukan dengan 2 cara, SP online dan SP wawancara yang dilakukan pada bulan Juli untuk wawancara, dan BPS tanggal 15 Februari nanti akan memulai dengan SP Online. Jadi ini inovasi yang dilakukan BPS. Saya berharap Bapak-Ibu Anggota Dewan nanti bisa langsung mengakses dari Android-nya, sehingga SP bisa berlangsung cukup baik.
Ada 1 file lagi Bapak-Ibu, mungkin kita sajikan bagaimana proses PPDT dan keterlibatan BPS dan kaitanya dengan sensus penduduk.
Yang pertama, bahwa menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 Tentang Fakir Miskin, ada data namanya Data Terpadu Kesejahteraan Sosial, DTKS, merupakan basis data yang dipergunakan untuk berbagai bantuan sosial dengan rangka program penanggulangan kemiskinan, sehingga di sini menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 bahwa DTKS dibangun teman-teman dari Kemensos tapi hasil ... basis data terpadu 2015. Alurnya pembentukan data PPDT tersebut, pertama BPS diberi Mandat dan berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 Tentang Statistik, bahwa BPS tidak dibolehkan memberikan data individu, sehingga semua data dilakukan untuk ke TNP2K, dimulai dari pendataan sosial ekonomi nasional tahun 2005. Kita melakukan tahap untuk menghasilkan 19,71 rumah tangga miskin dan didistribusikan dengan Bantuan Langsung Tunai di 2005.
Selanjutnya BPS juga melakukan update namanya ada PPPS, Pendataan Program Perlindungan Sosial, dan terakhir pada Tahun 2015, BPS melakukan pemutakhiran basis data terbaru dengan cara yang berbeda.
Ini pada tahun 2015 kita melakukan forum konsultasi publik pendataan rumah tangga, dan di sini juga melibatkan Pemerintah Daerah, dalam hal ini teman- teman Lurah juga RT setempat kita lakukan terutama Kades kita lakukan namanya forum konsultasi publik.
Dari angka tersebut berdasarkan Undang-Undang, sehingga BPS menyerahkan sepenuhnya kepada Kemensos karena amanah Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2011. Nah, hal ini sehingga BPS secara mikro sudah tidak terlibat lagi dalam hal pendataan, tapi secara teknis kita tetap membantu memberi masukan terutama mengenai konsep dan metodologi pendataan tersebut, dan ini juga berlangsung setiap waktu dan kapan pun mereka memerlukan, dan tim ini cukup solid, tapi pendataan di lapangan BPS
sudah tidak lagi terlibat langsung karena ini sudah wewenang teman-teman dari Kemensos.
Demikian Bapak-Ibu.
Bapak Pimpinan Sidang yang saya hormati.
Ini yang bisa kami sajikan, mohon maaf bila ada hal-hal yang kurang berkenan.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
KETUA RAPAT (DR. H. TB. ACE HASAN SYADZILY, M.SI./F-PARTAI GOLKAR):
Wa'alaikum salam warrahmatulahi wabarakatuh.
Terima kasih Pak Habibullah Deputi Bidang Statistik Produksi BPS.
Selanjutnya kami persilahkan kepada Pak Tafif dari Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil, yang jadi titik tekannya begini Pak kira- kira, banyak temuan dari teman-teman dilapangan, bahwa yang seharusnya mereka mendapatkan bantuan sosial, tapi karena belum terdaftar sebagai penerima bantuan sosial itu akhirnya dia tidak dapat untuk perogram-program bantuan sosial.
Nah, hal-hal semacam inikan tetap kan berbasis pada E-KTP yang seharusnya dimiliki oleh mereka.
Nah, kira-kira secara sederhana itulah Pak.
Kami persilahkan Pak Tavip.
DIREKTUR PENGELOLAAN INFORMASI ADMINISTASI DIREKTUR JENDERAL KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KEMENDAGRI RI (DRS. AKHMAD SUDIRMAN TAVIPIYONO, MM., MA):
Bismillahirrahmannirrahim.
Assalamu'alaikum warahmatulahi wabarakatuh.
Selamat pagi menjelang siang, salam sejahtera untuk kita semua.
Yang terhormat Pimpinan dan Anggota Panja Komisi VIII DPR RI.
Pak Deputi.
Ibu/Bapak sekalian yang saya hormati.
Izinkan saya mewakili Pak Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil yang sampai saat ini masih ada di Kantor Pusat, saya Tavip Direktur Pengelolaan Informasi Administasi Dirjen Dukcapil.
Yang pertama, kami sampaikan, bahwa menurut Pasal 58 ayat (4) Undang-Undang 24 Tahun 2013 itu tentang Undang-Undang Adminduk, memang diamanatkan di sana, bahwa data kependudukan yang digunakan
untuk semua keperluan adalah data kependudukan dari Kementerian Dalam Negeri. Data kependudukan tersebut itu dimanfaatkan untuk 5 kepentingan besar, yang pertama adalah untuk pelayanan publik, kemudian perencanaan pembangunan, alokasi anggaran, pembangunan demokrasi dan penegakan Hukum dan pencegahan kriminal.
Dari sinilah maka seluruh stakeholder yang ada menggunakan data Kementerian Dalam Negeri cq. Dirjen Dukcapil. Terkait dengan DTKS yang tadi disampaikan yaitu Data Terpadu Kesejahteraan Sosial ini pertama kali kami terima.
Jadi yang menetapkan dia menerima atau tidak itu adalah Kementerian Sosial dan karena ada Stranas pencegahan korupsi, kemudian KPK menyarankan Kementerian Sosial untuk memberikan DTKS-nya itu kepada Dirjen Dukcapil untuk dapat kami sinkronisasikan dengan data kependudukan nasional. Oleh karena itu pada tanggal 31 Oktober 2019 itu, kami menerima yang pertama kali data DTKS dari Kementerian Sosial, jumlahnya adalah 98.604.086 orang. Kemudian sebelum kami lakukan sinkronisasi pemadanan, maka kami cek awal, kami lakukan sinkronisasi awal di internal kami ternyata ada 9.000 lebih yang dalam daftar penerima itu yang tidak ada nama orangnya, kemudian juga yang datanya ganda. Untuk itu terhadap 2 kategori ini langsung kami drop, tidak kami analisa.
Berikutnya, adalah jadi data kemudian yang kami proses untuk sinkronisasi dan seterusnya adalah 96.699.355 orang. Dari data tersebut terpadan, artinya cocok match dengan data kependudukan nasional sejumlah 74.554.113, dan dari yang terpadan ada semua cocok ternyata ada 111.272 orang yang statusnya sudah meninggal dia masih menerima bantuan sosial.
Kemudian ada data yang tidak terpadan sejumlah 22.145.242 orang. Nah, dari data yang tidak terpadan ini kami lakukan analisa ketidakterpadannya itu ada di mana, kami temukan sebagai berikut.
Jadi yang anomali di sana tidak tertulis jenis kelaminnya ada 223.000 lebih. Orang yang tidak memiliki tanggal lahir dan tempat lahir banyak, ini ada 17.000.000 lebih. Kemudian yang hanya tanggal lahirnya saja yang kosong, ada 1.189.000 lebih. Kemudian tempat lahirnya kosong, 838.000 lebih. Dan ada yang sisanya yang lain yang tidak terpadan adalah 2.000.000. Jadi total adalah 22.145.242 orang. Anomali ini tidak berarti tidak ada orangnya, ini hanya belum clear, belum cocok dengan data kependudukan. Jadi pada saat dia pendataan mungkin belum melengkapi data dan lain sebagainya, sehingga untuk ini 22.000.000 memang yang harus ditindaklanjuti oleh teman-teman Kementerian Sosial untuk dicoklit di lapangan dan untuk diperbaiki, dilengkapi, kalau memang salah diperbaiki, kalau memang belum lengkap dilengkapi dan seterusnya, dan kalau memang tidak ada orangnya atau yang disebut tadi, dan nanti tentu akan dilakukan analisa lebih lanjut oleh Kementerian Sosial.
Kami memberikan contoh Pak Pimpinan dan Ibu-Bapak Anggota Panja, ini contohnya, ini adalah contoh penerima di sana yang tidak ada NIK,
yang tidak memiliki NIK, juga yang di sebelah kanan, itu tanggal lahir sebagian ada isinya, sebagian kosong tidak ada tanggal lahirnya, ini contoh yang pertama. Nah, ini terhadap yang tidak ada NIK-nya, kemudian tidak ada tanggal lahirnya sebenarnya dia ketemu, ada NIK-nya di dalam data kami, di sana NIK SIAK, Sistem Informasi Administrasi Kependudukan, ada ternyata.
Waktu pendataan awal oleh Kementerian Sosial ini tidak lengkap, jadi kami kategorikan Anomali tadi. Setelah kami cek contoh ini ternyata ada orangnya, terus kemudian langsung kami perbaiki. Yang sebelah kanan yang kuning ini itu sudah kami lengkapi seperti itu. Sebagian ini ‘kan tidak ada tanggal lahirnya, tanggal lahir yang kolom paling kanan itu ada tanggal lahirnya, ini kita memastikan bahwa mereka itu memang benar-benar.
Halaman berikutnya, ini contoh yang NIK-nya ganda. Ini adalah 1 orang menerima bantuan 2, ini orang namanya Rais. Nah, di dalam data Kementerian Sosial itu ada 2, ternyata ketika kita cek NIK-nya sama, nomor KK-nya juga sama, itu artinya adalah orang yang sama. Berikutnya adalah yang ganda di elemen yang memiliki 5 elemen data sama, ini namanya misalnya yang pertama ini Suyantina ini adalah namanya, ini berarti 1 orang yang dapat 2 juga ini, jadi nama, kemudian jenis kelaminnya sama, tempat lahirnya sama, tanggal lahirnya sama, dan nama Ibunya sama pasti ini 1 orang. Karena kalau kami itu mencari orang ketika kita temukan 3 elemen data saja sama sebenarnya dia 1 orang, apalagi kalau 5 elemen data sama, termasuk nama Ibunya juga sama pasti dia orang yang sama.
F-PKS (K.H. BUKHORI, LC., M.A.):
Sebentar Pak Pimpinan.
Tadi bedanya dengan yang pertama tadi apa Pak?. Yang ini kan 5 elemen samanya, yang tadi sama apa saja?
DIRJEN KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KEMENDAGRI RI (PROF. DR. ZUDAN ARIF FAKRULLOH, SH, MH.):
Yang tadi adalah NIK, Pak, karena NIK itu kan Unique Number. Jadi 1 orang hanya memiliki 1 NIK dan NIK itu tidak akan dimiliki oleh siapapun kecuali dia. Ketika ada NIK yang sama, oh kebetulan nama orangnya sama ya sudah berarti sama.
F-PKS (K.H. BUKHORI, LC., M.A.):
Kalau yang pertama tadi itu masih berpotensi bahwa orangnya berbeda, walaupun NIK-nya sama?
DIRJEN KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KEMENDAGRI RI (PROF. DR. ZUDAN ARIF FAKRULLOH, SH, MH.):
Sama, karena NIK itu hanya dimiliki oleh 1 orang, jadi ketika nama sama dengan NIK yang sama dia menerima, misalnya bantuan di sini,
kemudian di sini, NIK-nya sama, namanya sama, bisa jadi seperti itu, maka sebenarnya ini orangnya sama, karena NIK itu hanya dimiliki oleh 1 orang.
F-PKS (K.H. BUKHORI, LC., M.A.):
Berarti kesimpulannya antara contoh pertama dengan contoh kedua sama itu yah?
DIRJEN KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KEMENDAGRI RI (PROF. DR. ZUDAN ARIF FAKRULLOH, SH, MH.):
Iya, lebih lengkap.
F-PKS (K.H. BUKHORI, LC., M.A.):
Ini sama-sama, sebenarnya double.
DIRJEN KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KEMENDAGRI RI (PROF. DR. ZUDAN ARIF FAKRULLOH, SH, MH.):
Iya, double dengan kata lain ganda. Berikutnya adalah ini yang meninggal. Ini sebenarnya sudah meninggal, bagaimana kita tahu meninggal?. Kolom paling kanan itu adalah akta kematian yang bersangkutan, di data kami sudah ada akta kematiannya tapi dia masih menerima bantuan, jadi seperti itu. Tadi angka-angkanya sudah di depan, berapa jumlahnya yang ini semua sudah saya sampaikan di depan tadi, itu seperti itu. Oleh karena itu, karena inilah kami Rapat bersama-sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi waktu itu, saya lupa tanggalnya, dan KPK memberikan rekomendasi bagaimana menindaklanjuti terhadap ini semua dan rekomendasi itu dituangkan dalam surat KPK kepada Menteri Sosial nomor surat B10484KSP.00/0116/122019, tanggal 11 Desember 2019, perihal rekomendasi Stranas GK untuk perbaikan data terpadu kesejahteraan sosial. Inti surat itu kira-kira yang pertama, adalah terdapat peningkatan tingkat kepadanan NIK pada DTKS dari 68.000.000 sekian, untuk waktu bulan Januari 2009 menjadi 74.000.000 sekian untuk waktu Oktober 2019, sudah ada perbaikan dari Kementerian Sosial.
Kemudian yang kedua, dari hasil yang terpadankan 111.272 jiwa yang sudah meninggal dengan status sudah mencetak Akta Kematian. Kemudian terdapat 9.854 jiwa yang tidak bisa dipadankan karena anomali nama, karena tidak ada namanya tadi. Kemudian terdapat data 1.796.702 jiwa dengan elemen NIK dan nama ganda, terdapat data 98.175 jiwa dengan elemen nama, jenis kelamin, tanggal lahir, tempat lahir dan nama Ibu yang ganda, dan rekomendasinya yang pertama, adalah diminta untuk menghapuskan anomali nama kosong DTKS tanpa perlu melakukan proses verifikasi, validasi dan finalisasi dari daerah dan juga mengeluarkan data orang yang meninggal dari data Kementerian Sosial.
Berikutnya adalah Kementerian Sosial diminta menyesuaikan DTKS dengan data kependudukan yang berhasil dipadankan, termasuk juga mengisi elemen data kosong dalam DTKS.
Rekomendasi berikutnya, adalah memastikan penggabungan program bantuan yang saat ini diberikan kepada orang yang memiliki data ganda dalam ART terpilih sesuai dengan dokumen kependudukan terbaru bernama Bansos yang tercatat di Dukcapil dan melakukan penghapusan sisa data ganda yang tidak terpilih pada DTKS.
Rekomendasi berikutnya, adalah menciptakan mekanisme pemutakhiran NIK dan nomor Kartu Keluarga oleh pengelola PKH yang dapat diterima untuk pemuktahiran DTKS.
Berikutnya, adalah merumuskan langkah-langkah strategis untuk mencari solusi perbaikan data yang 22.000.000 lebih tadi yang tidak bisa dipadankan, dan saat ini teman-teman Kementerian Sosial juga kami selalu berkoordinasi terus, sekarang sedang turun lapangan untuk pemutakhiran data-data tersebut, dan kami membantu mendukung sepenuhnya proses ini di antaranya adalah kami memberikan hak akses sepenuhnya kepada Kementerian Sosial untuk mengakses data kependudukan Nasional kami.
Ibu-Bapak sekalian.
Ini adalah data terkini saat ini pukul 11.33, jadi ini data terkini, saat ini, ini adalah pelayanan dari Pukul 00.00 tadi malam sampai sekarang, Kemensos, saat ini sedang mengakses 13.000 NIK kami, ini terus bergerak angkanya artinya Kementerian Sosial sekarang sedang bekerja keras betul untuk ini 13.032 saat ini, nanti akan bergerak terus bertambah terus dan seterusnya. Ini kami mempunyai dashboard ini memantau lembaga-lembaga ada sudah hampir 2.000 lembaga yang menggunakan data Dukcapil saat ini, yang paling banyak adalah BPJS Kesehatan, ini orang pada ngurus BPJS, BRI banyak, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan banyak, Telkomsel ini banyak sekali, dan ini kami punya datanya lengkap dan ini adalah data Real Time yang kami miliki.
Berikutnya kita coba lihat Monev Real Time. Monev pelayanan di daerah. Kita akan melihat, kita akan tahu sebenarnya saat ini berapa orang yang mengurus Akta Kematian, mengurus Akta Kelahiran dan seterusnya, kami juga punya dashboard dan ini juga Real Time seluruh Indonesia per Kabupaten, yang hari ini Akta Kelahiran adalah yang masuk hari ini adalah ada 11.430 yang sampai jam sekian, terus akan bertambah.
Akta Kematian hari ini 1.751, begitu dan seterusnya termasuk adalah perekaman KTP. Perekaman KTP saat ini dari pagi 7.045 orang, tapi pencetakan hari ini ngebut, karena waktu akhir Desember kemarin kekurangan blanko, dan sekarang ini blanko sudah sangat banyak dan alhamdulillah akan mencukupi semua dapat kita cetak, jadi sampai jam sekian sudah 50.000 lebih. Ini teman-teman daerah lembur sampai malam biasanya,
karena sekarang sedang mengejar target untuk menyelesaikan ... itu. Dan hari ini orang yang pindah sampai saat ini adalah 3.298 kepala keluarga, dengan anggota yang pindah 5.000 orang lebih, yang datang yang baru melapor 3.000 lebih. Jadi kami bisa memantau perkembangan pergerakan terus detik demi detik setiap harinya, dan ini Real dari pelayanan-pelayanan yang ada di 514 kabupaten/kota.
Berikutnya, kita akan mencoba untuk kalau diperkenankan, boleh pinjam KTP siapa mungkin yang punya NIK?. Kami punya teknologi baru Face Recognition, sudah punya di foto salah seorang, Pak Ketua mungkin.
Pak Ketua saja di foto, itu dari fotonya Pak Ketua kita akan cari, siapa Beliau sebenarnya, nah benarkah Beliau?. Oh betul, Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si. itu yang bawah itu adalah orang yang mirip dengan Pak Ace, jadi yang paling atas itu Pak Ace, kemudian di bawahnya ini adalah orang yang mirip dengan Pak Ace, itu NIK nya banyak di bawahnya itu, tapi kemiripannya adalah hanya 75% sampai yang paling bawah adalah 68%. Jangankan dari depan, dari pinggir pun akan ketahuan Beliau. Coba yang lain, Ibu mau dicoba?. Ibu mohon maaf saya juga belum tahu namanya. Ibu Selly, betul?.
Jadi beberapa orang yang mirip Ibu Selly banyak ternyata, ini kira-kira seperti itu.
Sekarang kita cek coba Ibu Selly, ini memiliki apa sih sebenarnya?, ada atau tidak, kita coba. Agak lama sedikit, tapi kalau kami cari orang itu tidak akan lebih dari 5 detik sudah ketahuan Pak. Jadi nanti kalau misalnya Bapak-Ibu itu punya anak gadis, misalnya ada cowok-cowok datang, nanti tidak usah ditanya siapa namamu, tanya saja berapa NIK mu, saya akan tahu berapa kekayaannya Beliau itu. Oh nomor HP Ibu Selly, banyak sekali ini, ada di Bank Danamon, Dirjen Pajak, ini NPWP, BPJS, Indosat dan lain-lain yang ditampilkan yang ini saja yang lain tidak ditampilkan. Tanggal Kawinnya kok kosong yah?. Yang agak berbeda misalnya, Pak Ketua izin boleh dilihatin ininya?. Oh, tidak boleh, tidak apa-apa. Oh, boleh coba Pak Ketua, kita lihat nanti mudah-mudahan ketahuan, Astra Credit Company ada, Smartfrend ada, sudah sampai di situ saja, jangan diteruskan. Oh, iya keluarganya Beliau coba, boleh Pak Ketua yah, anak istri kita lihat. Ini adalah Pak Ketua nanti kita lihat, sekarang kita cek keluarganya, anak dan istrinya, hanya dalam detik Insya Allah sudah ketahuan.
Ada mas? Betul Pak Ketua?
Begini Ibu-Bapak sekalian, Ibu-Ibu, kalau Bapak-Bapaknya kok tidak bisa masuk di dalam KK Ibu, dipastikan Bapaknya ada di KK yang lain, kira- kira begitu ilmunya.
Baik, saya kira berikutnya, jadi dengan sistem ini semuanya ini kami betul-betul mendukung sepenuhnya, bukan hanya Kementerian Sosial, tapi semua Kementerian dan Lembaga untuk menggunakan ini semuanya dan termasuk BPS Pak Pimpinan dan Ibu-Bapak semuanya. Jadi sensus penduduk tahun ini BPS itu Basic datanya adalah data kami di Dukcapil, itu tambahan tadi informasi dari Pak Deputi adalah dari kami kemudian. Jadi
kami berkolaborasi sepenuhnya dengan BPS untuk sensus penduduk tahun 2020 ini. Jadi mungkin juga Bapak-Ibu sekalian nanti akan ke konstituen, jadi kami sudah memberikan saran betul kepada teman-teman Kementerian Sosial, ketika sedang melakukan pendataan sekarang, terutama yang data anomali tadi 22.000.000 itu. Ketika orang sedang di data, entah dia didatangi atau dia itu datang ke Kementerian Sosial, ketika dia menerima bantuan, maka kami sudah menyarankan, yang pertama ditanyakan adalah mana KTP nya, kalau dia tidak bisa menunjukan KTP nya, maka yang kedua adalah tolong mana Kartu Keluarganya. Kalau tidak bisa menunjukan KTP dan Kartu Keluarganya, maka yang ketiga adalah disarankan kepada yang bersangkutan datang dulu ke Disdukcapil untuk menerima bantuan.
Jadi sebelum dia membawa KTP atau KK, maka dia tahan dulu bantuan sosialnya, jadi datang ke Disdukcapil untuk merekam dan seterusnya, maka dia nanti punya KTP dan lain sebagainya. Ini terkait juga sampai hari ini perekaman kami sudah mencapai 98,76%, masih ada PR kira- kira 2.000.000 penduduk kita yang belum melakukan perekaman. Ini juga sekaligus nanti kalau teman-teman Kementerian Sosial ini melakukan itu, maka data kami juga akan menjadi lebih baik lagi, karena orang yang tadinya belum merekam, ketika akan menerima bantuan direkam dulu, maka selanjutnya dia akan memiliki dokumen kependudukan yang memadai.
Kira-kira itu yang kami sampaikan, nanti kita diskusi lebih lanjut.
Sekian.
F-PARTAI NASDEM (DRA. HJ. DELMERIA):
Mohon maaf Ketua, langsung. Minta langsung yah Ketua, karena ini menyangkut yang ini.
Pak, hari ini di DKI Jakarta ada surat dari RT beredar untuk mengisi berapa orang di rumah dan berdasarkan minta Fotocopy KK, karena ‘kan sudah secanggih ini ngapain lagi minta begitu Pak, DKI Jakarta Pak. RT kami Pak, Pancoran.
DIRJEN KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KEMENDAGRI RI (PROF. DR. ZUDAN ARIF FAKRULLOH, SH, MH.):
Iya, kami belum dapat info tentang ini, tapi sebenarnya, bahkan sekarang Ibu, kalau kita itu mau membuat Akta Kelahiran misalnya, anak kita atau cucu kita, maka sebenarnya tidak perlu ke RT/RW lagi, karena data kependudukan sudah rapih. Jadi ketika anak itu lahir di Rumah Sakit maka, sekarang Rumah Sakit sudah bekerjasama dengan Dukcapil. Jadi hampir sebagian besar sudah kerjasama. Jadi mereka Bidan atau Dokter itu akan langsung memberikan fasilitas Akta Kelahirannya itu. Jadi Dokter atau Bidan itu tugasnya adalah mengeluarkan Surat Keterangan Lahir, bukan Akta, kemudian dia itu komunikasi atau berkoordinasi dengan Disdukcapil setempat. Kalau Ibu di Pancoran berarti Jakarta Selatan, langsung ke sana, kemudian langsung diterbitkan Akta Kelahirannya, tidak perlu pakai lama.
Demikian juga kalau orang meninggal dunia. Yang masih perlu pengantar Lurah atau Kepala Desa itu adalah kalau orang lahir di rumah tidak ada Bidan, tidak ada pembantu kelahiran, maka dia ke Kepala Desa atau Lurah untuk mendapatkan Surat Keterangan Lahir. Dengan Surat Keterangan Lahir kemudian dengan KK, KTP orangtua, maka di Disdukcapil langsung akan dikeluarkan Akta Kelahiran.
Demikian juga kalau meninggal dunia misalnya, maka tidak perlu juga ketika Beliau/Almarhum ini meninggal di Rumah Sakit, maka Surat Keterangan Kematian dari Dokter, kemudian dilampiri dengan Kartu Keluarga dan KTP yang bersangkutan, maka dia dibawa ke Disdukcapil setempat, keluarganya yang meninggal yang mengurus ini akan mendapatkan bukan hanya Akta Kematian, ketika dia mengurus Akta Kematian, maka yang didapat adalah satu Akta Kematian, yang kedua adalah Kartu Keluarga.
Kartu Keluarga dirubah karena nama Almarhum sudah tidak ada lagi.
Kemudian kalau Almarhum ini punya pasangan suami/istri, maka KTP nya pasangan ini juga dirubah, kalau tadinya statusnya menikah, kemudian dirubah langsung dia dapat KTP baru dengan status cerai mati, karena kita kan tidak membuat Akta di sini.
Kalau status Ibu di situ belum sesuai, karena Ibu belum update ke Disdukcapil, maka segera di-update, di situ sudah betul cerai mati, itulah status terkini Beliau. Nah, karena kalau statusnya masih kawin nanti Ibu tidak bisa lagi kawin, begitu kan, kalau status di KTP nya kawin, terus dia mau mengajukan mau Menikah, tidak mungkin ‘kan, status di KTP nya menikah kok. Ketika statusnya cerai mati maka Ibu menunjukan KTP nya, maka Ibu bisa menikah lagi.
F-PARTAI NASDEM (DRA. HJ. DELMERIA):
Iya Pak, tapi sudah secanggih begitu, apalagi di DKI sudah canggih begitu, kenapa kok minta data juga RT kami, RT 05/RW 08 Kelurahan Pengadegan, Pancoran.
DIRJEN KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KEMENDAGRI RI (PROF. DR. ZUDAN ARIF FAKRULLOH, SH, MH.):
Iya, baik Bu nanti saya koordinasikan, karena kadang-kadang kan memang di bawah ini, nanti kami koordinasikan dengan DKI.
KETUA RAPAT (DR. H. TB. ACE HASAN SYADZILY, M.SI./F-PARTAI GOLKAR) :
Oke, Bapak-Ibu sekalian.
Saya kira penjelasan dari Pak Habibullah Deputi Bidang Statistik ...
BPS dan Pak Tavip dari Direktur Dirjen Dukcapil ini menarik untuk kita elaborasi lebih jauh, dan saya kira terutama mungkin Bapak-Ibu sekalian,
kepada BPS saya kira itu juga penting untuk bisa kita mendalami, terkait dengan misalnya data-data kemiskinan dalam konteks, karena kan begini Bapak, kita ini sudah hampir 3 tahun program, misalnya seperti program PKH itu jumlahnya hampir 10.000.000 Pak, kemudian program BPNT, Bantuan Pangan Non Tunai, selama 3 tahun ini 15.600.000, kalau asumsinya setiap tahun terjadi penurunan, atau setiap semester terjadi penurunan data kemiskinan, maka seharusnya program-program itu pun juga turun begitu.
Nah, pertanyaannya kan ini antara data dengan program kan kira-kira seharusnya itu, dan uang yang dikeluarkannya besar begitu Pak. Nah, oleh karena itu mungkin dari Bapak-Ibu sekalian bisa disampaikan.
Yang kedua, kepada Pak Dirjen saya kira ini penting juga yah Pak, karena salah satu hambatan yang kami yakin, bahwa hampir semua penduduk Indonesia, makanya ... pertanyaan pertama nanti yang mungkin Bapak bisa klarifikasi adalah soal sudah berapa prosen jumlah penduduk Indonesia yang sudah terekam datanya?, karena ini penting terutama, saya kira. Saya 3 tahun yang lalu pernah ke Papua, perekaman KTP Elektronik di Papua itu tidak sinkron atau mungkin masih, saya tidak tahu kalau sekarang, waktu itu masih sangat terbatas perekaman KTP Elektronik, sementara menurut ketentuan yang mendapatkan bantuan itu harus terdaftar untuk mendapatkan bantuan itu harus terekam, punya terdaftar sebagai Warga Negara Indonesia dengan KTP yang dimilikinya. Nah, oleh karena itu Bapak- Ibu sekalian, di meja Pimpinan sudah ada 5 orang yang mau bertanya, pertama adalah Ibu Endang Maria dan setelah itu Ibu Anisah.
Silakan Ibu Endang!
F-PARTAI GOLKAR (HJ. ENDANG MARIA ASTUTI, S.AG., SH., MH.):
Terima kasih Pimpinan dan rekan-rekan Panja verifikasi data kemiskinan yang saya cintai.
Bapak dan Ibu yang saya hormati juga yah.
Jadi melihat paparan pertama dari BPS, Badan Statistik, ini kita melihatnya demikian Pak, kalau data ini di Makro tadi, kan disebutkan dengan menggunakan data BPS 1998, hasil perhitungannya konsisten, tetapi ternyata fakta di lapangan, meskipun kita kemudian setelah mendengarkan keterangan yang dari Disdukcapil, kita bisa menerima mungkin itu penyebabnya, tetapi fakta dan realita di lapangan itu ternyata seperti yang disampaikan oleh Pak Ketua tadi, yang berhak menerima bantuan seringkali berdasarkan temuan kita Pak, ketika kita turun itu justru tidak masuk di BDT.
Nah apa ini penyebabnya?.
Kemudian setelah dipaparkan oleh BPS tadi, yang terakhir itu di pelaksanaan sensus apakah sensus ini, ternyata kan ada tahap pertama, itu kapan?, Itu ada pencacahan lengkap, dalam benak saya lengkap itu, berarti apakah 1 keluarga ataukah semua penduduk Indonesia?
Yang kedua, ini ketika pencacahan lengkap tahap 1 itu, ada poin A sensus penduduk online, apakah diri kita sendiri yang harus mendaftarkan atau siapa?. Ataukah memang secara otomatis dari Disdukcapil?
Kemudian yang B sensus penduduk wawancara, nah ini dan ini berkaitan dengan yang tahap 2 pencacahan sample Pak, yang pernah kita temui di pencacahan sample yang akhirnya mungkin ini menjadi penyebab, mengapa dia tidak masuk BDT?, dan juga kita ingin tanyakan, apakah ini menjadi kesalahan atau penyebab dari tidak match-nya data kemiskinan itu?
Contoh dalam 1 keluarga saya, 1 rumah itu saya dihuni oleh 4 KK, dengan 3 Janda dan masing-masing punya anak dan masih ada beberapa lagi anak asuh kita. Tetapi ketika dicacah penduduk wawancara itu, ketika saya minta semua di data, tidak mau Pak, hanya sample 1 keluarga saja, ini kan berkaitan itu tadi, dengan yang 1 B dan yang nomor 2.
Lantas mereka yang ada di tempat saya ini janda miskin, anaknya, karena kebetulan tidak punya anak, kan saya menolong, hanya saya bantu, ini menjadi tanggung jawab siapa? ketika mereka tidak termasuk yang data miskin dan sebagainya, karena kebetulan tinggalnya di tempat saya. Ini kan kasihan mereka tidak dapat hak-haknya. Anaknya tidak mendapatkan PIP, KIS pun mereka tidak punya, ini sample paling mudah. Saya tidak perlu cari yang lain-lain, karena ada di tempat saya, tapi si pendata tidak mau, pokoknya hanya Ibu saja. Lantas yang 3 keluarga yang menumpang di tempat saya ini kan kasihan, rumah mereka tidak punya, mau membangun, mengakses bantuan Pemerintah tidak bisa karena mereka tidak dimasukan di BDT, ini contoh.
Jadi apa ada yang salah ini sistem pendataan?. Atau perlu dirubah barangkali? Karena kalau data di BPS dengan sample, sampling saja, saya yakin pasti banyak masyarakat yang mestinya berhak menerima bantuan menjadi tidak. Jadi kenapa itu data kemiskinan turun, mungkin banyak orang yang mengalami nasib seperti orang-orang yang hidup di rumah saya. Jadi kita berharap dengan kasuistik yang ada di tempat saya. Ini menjadi bahan pemikiran, up-date kependudukannya sih bisa dilihat seperti itu, tapi up-date data kemiskinannya kan menjadi tidak adil. Ini yang saya harapkan, yang pertama.
Kemudian yang kedua, indikator kemiskinan Pak. Jika indikator kemiskinan itu tadi kan konsep kemampuan memenuhi untuk mengukur kemiskinan itu menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Nah, saat di sampling mereka tanya, “Oh rumahnya sudah memenuhi syarat”, berarti melihat rumah ini tidak miskin, kalau melihat rumahnya dulu itu peninggalan siapa, yang di dalam itu kerjanya apa, pendapatannya berapa, apa bisa dikatakan, ternyata tidak sesuai dengan tempat yang mereka tinggali begitu. Ini kan kasihan juga mereka, kalau hanya dilihat rumahnya, motor bisa saja itu pemberian.
Jadi indikator-indikator untuk mengukur kemiskinan itu kita berharap betul dari pendapatan, secara otomatis itu akan kelihatan mampu atau tidak
mereka itu membeli kebutuhan dasar tadi, kebutuhan dasar pangan?.
Jangankan sandang, kita harapkan ini yang harus menjadi indikator utama, jangan atap rumah atau dinding, jangan Pak. Orang dulu kaya, begitu sudah tidak berhasil, pulang menjadi pengangguran, mereka tidak mendapat akses apa-apa, di daerah saya bejibun banyaknya, tapi tidak mendapatkan akses bantuan karena yang dilihat itu tadi.
Terima kasih Pimpinan.
KETUA RAPAT (DR. H. TB. ACE HASAN SYADZILY, M.SI./F-PARTAI GOLKAR):
Terima kasih Ibu Endang.
Selanjutnya Ibu Anisah Syakur dari PKB.
F-PKB (DRA. HJ. ANISAH SYAKUR, M.AG.):
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bapak Pimpinan, dan dari BPS yang saya hormati.
Peserta seluruhnya.
Langsung saja saya, mungkin serupa tapi tak sama dengan apa yang disampaikan oleh Bu Endang.
Yang pertama, yang ingin saya ketahui pemutakhiran data itu dilakukan setiap berapa bulan?, atau tahun, atau setiap saat sebagaimana tadi sudah disampaikan, kalau saya lihat nampaknya teori dan sistem yang dipakai itu sebetulnya sudah cukup canggih, tetapi kenyataannya kok masih ada yang tidak sesuai.
Ini yang ingin saya tanyakan di mana letak kekeliruan atau kesalahan itu?, Apakah karena hanya something tadi atau bagaimana?. Kalau Ibu Endang tadi menyontohkan tetangganya, saya ini punya tetangga persis di samping rumah saya, tidak punya siapa-siapa, tidak punya anak, tidak punya orangtua, tidak punya saudara, dia janda, sakit lagi.
KETUA RAPAT (DR. H. TB. ACE HASAN SYADZILY, M.SI./F-PARTAI GOLKAR):
Tapi punya KTP Elektronik kan?
F-PKB (DRA. HJ. ANISAH SYAKUR, M.AG.):
Punya KTP, punya KK tapi tidak pernah dapat apa-apa, karena kebetulan bersebelahan dengan saya, ya setiap hari itu yang kasih makan, kamilah yang ..., tapi seharusnya ini Pemerintah kan juga ikut turun tangan, kan dia juga perlu berobat, walaupun sudah saya daftarkan BPJS juga, tapi orang-orang seperti ini kan seharusnya bisa mendapatkan sentuhan.
Tetapi kadang-kadang ada orang yang sebetulnya dia masih mampu, tapi dapat PKH terus, ini bagaimana untuk mengatasi?, Itu maksud saya, jangan kemudian rutinitas yang dapat PKH itu, yang kemudian dia itu sudah maju, sudah ada perubahan kehidupannya masih tetap saja dikasih, tapi bagaimana orang-orang yang membutuhkan ini bisa mendapatkan.
Saya kira itu saja tambahan kami.
Terima kasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
KETUA RAPAT (DR. H. TB. ACE HASAN SYADZILY, M.SI./F-PARTAI GOLKAR):
Terima kasih Ibu Anisah.
Selanjutnya Ibu Delmaria, siap-siap Pak Achmad.
Silahkan Bu.
F-PARTAI NASDEM (DRA. HJ. DELMERIA):
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Terima kasih Ketua.
Yang kami hormati Ketua Komisi VIII.
Rekan-rekan seperjuangan.
Bapak dari BPS, dan Kementerian Dalam Negeri.
Apa yang mau kami sampaikan sama dengan yang disampaikan sama Ibu Endang tadi, karena kalau di Dapil kami kan banyak orang miskin Pak, tapi setiap rumah sama ada yang 3 KK 1 rumah, ada yang 4 KK, kalau di pinggir pantai itu rata-rata kemiskinannya tinggi. Kalau berita di kampung kami BPS kurang tangguh katanya, karena kalau orang Survey ke lapangan, BPS ini kan pagi jam kerjanya sampai siang, kadang-kadang orang itu kan ke pasar, jualan, rumahnya tutup, itu tidak mau lagi mengulang kembali begitu.
Ya, sudah tinggal saja, tidak perlu begitu, jadi longkap-longkap.
Kalau dia Pegawai sudah pasti dia pulang sore jam 4, kalau dia pekerja di kebun atau pekerja di mana kadang-kadang sudah mau Maghrib baru pulang. Nah, itu BPS kurang tangguh, karena kan kampung kami itu dari desa ke desa itu jauh-jauh jaraknya. Jadi tidak merata BPS, tapi dengan adanya data Dukcapil kami bahagia tadi Ketua. Semua data dari KTP, NIK sudah ketahuan mana yang miskin, kaya Pak Ace kalau dilihat tampangnya saja sudah jelas orang kaya. Jadi dari situ saja, dari segi Pendidikan, dari segi pekerjaan sudah ketahuan, bahwa itu mana yang sudah salah satunya bisa dipantau.
Kami berharap BPS lebih bekerja di lapangan, seperti yang disampaikan Ibu Anisah tadi, juga itu Ibu Endang, belum tentu juga. Kadang-
kadang kan kita membantu itu kan berdasarkan rumahnya, kalau sudah semi permanen tidak bisa dibantu, tapi yang di dalamnya itukan karena semi permanen. Itu dulu mungkin peninggalan orangtuanya, yang sementara anaknya memang sudah tidak mampu, kan harus ada pendataan seperti itu.
Memang sudah peninggalan orangtua yang rumah tidak dibetulin lagi, semi permanennya saja, tapi atapnya kadang-kadang juga sudah bocor ke mana- mana begitu. Nah, itu juga yang terjadi di daerah Pak, itu yang kami rasakan.
Untuk hari ini kalau Kementerian Dalam Negeri, seperti kami sampaikan tadi, hari ini masih ada edaran RT di dalam rumah, yang tidak saya jawab, minta foto KK ulang. Terus 1 lagi tentang KTP di Jakarta Pak, hari ini kami di Kelurahan Pengadegan, kalau datang ke Kelurahan, kaya KTP saya itu sudah di lakban sekeliling Pak, karena kalau ditarik begitu dia tidak lengket, kalau kaya kartu Mandiri kan lengket tulisannya, kalau ini kan plastik yang bisa, terus kalau mau ganti KTP ini selalu tidak ada blanko katanya. Ini kita orang DKI malu juga ini, sudah dilakban keliling ini. Kalau tidak dilakban keliling copot dia. Kalau copot plastiknya ini hilang semuanya Pak. Sampai hari ini kalau kami ke Kelurahan di Pengadegan tidak ada blanko katanya.
Kalau ke Walikota Jakarta Selatan disuruh ke Kelurahan, ini Jakarta apalagi daerah Pak, apa iya mau begini saja kita terus-terusan begitu?.
Terima kasih Pak.
KETUA RAPAT (DR. H. TB. ACE HASAN SYADZILY, M.SI./F-PARTAI GOLKAR):
Terima kasih Ibu Delmaria.
Selanjutnya Pak Achmad, silahkan Pak Achmad.
F-PD (DRS. H. ACHMAD, M.SI.):
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pimpinan serta Anggota Panja yang kami hormati.
Pak Deputi BPS, serta Direktur dari Kementerian Dalam Negeri.
Baik, pertama kami dari BPS dulu Pak, ini mengenai sistem tentang pendataan, inikan ada 2 sistem Pak, pertama sistem online, kedua sistem manual. Nah, bagaimana ini kalau sistem online ini yang sudah diberi pelatihan kepada personil kita, terutama SP nanti 2020, tapi ternyata di daerah itu signal-nya tidak ada, sedangkan mereka dilatih untuk yang sistemnya elektronik begitu, sehingga ini persoalan di lapangan, itu yang pertama.
Yang kedua, ini menyambung apa yang disampaikan Ibu Endang, yaitu mengenai personil yang kita gunakan, ini sistem kontrak biasanya Pak, mereka tidak struktural, sehingga tanggung jawab moral mereka, tanggung jawab kinerja mereka tidak ada, mereka kan dikontrak. Nah, maksud saya komitmen mereka terhadap kinerja tercapainya sasaran itu tipis sekali, seperti yang disampaikan Ibu Endang tadi, dia kunjungi pagi hari, masyarakat kita
pagi hari kan bekerja Pak, apalagi di pedesaan ke ladang, ke sawah dan seterusnya. Nah, kami yakin itu tidak diulangnya lagi, tidak datang dia lagi.
Nah, di sanalah mulai mengarang, kenapa kami sampaikan ini kami 10 tahun Kepala Daerah Bupati Pak, ini yang terjadi. Dan pernah kami panggil yang personil itu, rata-rata kan anak-anak SMA yang dikontrak, mereka kita panggil kenapa tidak diulang lagi?, “kami kan hanya dikontrak, habis kontrak habis kerja”. Nah, apakah ini pendataan kemiskinan ini yang kita jadikan acuan untuk kebijakan Nasional, ini koreksi Pak.
Yang kedua item ini Pak, inikan merokok dimasukkan di sini, saya agak heran juga Pak, apakah keluarga yang tidak merokok itu nanti itu karena tidak mereka mampu atau mereka kan tidak merokok, tapi dimasukan Item dari warga miskin. Nah, ini jadi persoalan, uang itu tidak dikeluarkannya karena dia tidak merokok, bukan karena tidak mampu beli rokok. Nah, kalau item- Item kemiskinan ini tidak pas, inikan artinya kebijakan kita mengatakan orang miskin itu tidak hanya berdasarkan pengeluaran, inikan tidak pas Pak. Nah, ini koreksi. Jadi maunya item yang jadi pengeluaran itu universal, berlaku untuk seluruh masyarakat Indonesia ini, sama dengan seperti saya baca juga tempe sama tahu itu ada ... di daerah Melayu itu tidak pernah makan tempe-tahu seumur-umurnya Pak, tempe dan tahu ini karena kan di Jawa. Nah, ini seperti itu.
Jadi kalau item pengeluaran ini tidak pas, bagaimana kita mengkategorikan orang itu miskin, karena itu tidak dibutuhkannya. Nah, sehingga angka yang didapatkan nanti kemiskinan ini kami kira nanti tidak seperti di lapangan, sehingga kebijakan Pemerintah terutama Kemensos akan memberikan bantuan kepada mereka itu tidak pas, karena selisih antara Kementerian Sosial dengan BPS, karena segala sesuatunya BPS yang dipercaya SP ini Pak. BPS kan Instansi yang dipercaya oleh Pemerintah yang resmi, jadi kami itu saja Pak, terima kasih.
Seterusnya untuk Dukcapil, ini kapan Dukcapil update data ini Pak?
Update data terhadap pendataan itu, karena ini kami kaitkan dengan kepentingan Demokrasi, asal Pemilu itu ribut antara Dukcapil dengan KPU, sampai hari H pemilihan pun, ini tidak selesai. Kalau kami tengok tadi sistem yang dibuat Direktur itu luar biasa, setiap detik bisa di-update, tapi kenapa setiap kali Pemilu ini ribut masalah data pemilih ini? Kenapa begini Pak?.
Kalau saya tengok yang tadi Pak Direktur, luar biasa per detik, tetapi kenapa Partai-Partai Politik sibuk data pemilihnya tidak pas, orang belum ada terdaftar dan segala macamnya, padahal data Pemilu sangat penting.
Kemudian masalah koordinasi antara Kemensos dengan Kementerian Dalam Negeri, sensus Dukcapil, mengenai data PKH dan ... ini penting, bagaimana koordinasinya ini? Kami tengok yang di Kemensos tidak cocok datanya dengan Dukcapil tentang kemiskinan itu, padahal sebetulnya bisa diakses, Kemensos kan bisa akses, tapi tidak masuk dia.
Terakhir mengenai peran E-KTP, kalau tadi dibilang 2% yang belum, ini kan 98% Pak, tapi ternyata di lapangan kalau diadakan operasional
pelayanan E-KTP terbuka, itu ratusan bahkan ribuan orang datang Pak, itu seperti kejadian kemarin di mana itu yang tidak terlayani itu, sehingga lari mobil pelayanan itu, di Tangerang kalau tidak salah itu dibuka, itukan?. Nah, ini masalah pelayanan ini terutama pengadaan blanko, terutama terhadap percepatan daripada proses itu sendiri, karena tidak semua daerah, kita ini listriknya sama, seperti daerah saya itu lebih banyak mati daripada hidupnya, nah ini kan tidak jalan juga.
Jadi saya kira ini catatan.
Terima kasih Pak Ketua itu saja.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
KETUA RAPAT (DR. TB. H. ACE HASAN SYADZILY, M.SI./F-PARTAI GOLKAR):
Wa’alaikumsalam.
Selanjutnya Pak Kyai Bukhori, setelah itu Ibu Selly.
F-PKS (KH. BUKHORI, LC., MA.):
Terima kasih Pak Ketua.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Selamat siang, salam sejahtera bagi kita semua.
Pertama, saya menyampaikan terima kasih kepada 2 narasumber kita yang telah memberikan suatu informasi-informasi penting ini Pak.
Pertama dari BPS, sebenarnya Panja ini kan baru pertama kali melakukan suatu pertemuan terkait untuk menggali, yang ingin saya maksudkan, adalah pertama-tama kami ingin tahu Pak sebenarnya, yang mau kita kerjakan di Panja ini apa sebenarnya?, yaitu kita sedang ingin memverifikasi terhadap data, data ini apa sebenarnya?. Inilah kemudian kami mengundang Bapak-Bapak sekalian. Nah, karena itu data yang kami maksudkan adalah data kemiskinan, nah ketika data kemiskinan tentu ini persoalannya memang ada di ukuran atau metodologi yang dipakai Kementerian Sosial dan juga di BPS.
Nah, pertanyaan saya ini Pak, apakah sudah ada suatu compromize antara Kementerian Sosial dan juga BPS?, BPS memang setahu saya sejak tahun 1998 tadi itu memang menggunakan metodologi, yaitu pendekatan kalori, walaupun ini kalau kita konversi ke secara faktualnya, contoh misalnya ketika orang itu, bahwa garis kemiskinannya adalah 2.100 kilo kalori per hari, dan kalau misalnya itu kurang lebih sekitar 440.000 per bulan, padahal termasuk di situ ada kesehatan, ada rekreasi, ada sewa rumah. Saya mau bertanya, kira-kira uang 440.000 itu bisa atau tidak dipakai seorang saja untuk kemudian bisa dinyatakan dia di atas garis kemiskinan?. Kalau 1 orang punya
penghasilan 400.000 cukup atau tidak untuk kehidupan 1 bulan ini?. Saya minta ini supaya dirasionalisasikan Pak.
Dulu tahun 2005 saya pernah mendapat data ini, waktu itu adalah di DKI saja per orang sekitar 400.000-an, sekarang sudah 600.000-an per orang, tadi Pak, 400.000 ketika kami ingin membuat standar, orang kena Zakat itu berapa sih?, saya menggunakan data ini ternyata, setelah saya korelasikan dengan berbagai macam data lapangan, waktu saya mendapakan data dari BPS, itu 400.000 per orang per bulan, itu cukup dianggap sebagai orang yang pra sejahtera, artinya Rp1.000 lagi dia dianggap cukup tidak termasuk miskin, maka kemudian di waktu yang sama beberapa LSM itu melakukan suatu kalkulasi, sebenarnya berapa sih orang yang misalnya dianggap sejahtera awal itu?, ya sekurang-kurangnya adalah sekitar 1.200.000, berarti 3x lipat.
Nah, jadi ini saya memang mohon penjelasan Pak, penjelasan metodologi tentang pendekatan kalori ini. Saya kira betul-betul memang itu merupakan berpihak kepada rakyat atau berpihak kepada siapa ini?. Ini supaya nanti, inikan kaitannya dengan masalah Kebijakan Politik di Undang- Undang Dasar, kaitannya bahwa kemudian orang miskin dan seterusnya itu.
Jadi ini pertama, jadi mohon dengan segala keawaman kami, tolong diyakinkan kami, bahwa ini merupakan suatu metodologi yang memang berpihak, bukan kemudian diakui, kalau diakui semuanya karena Rakyat tidak punya kuasa ini, ini yang pertama, terkait dengan itu. Jadi kenapa kemudian pendekatannya dengan kalori itu?. Kenapa tidak menggunakan pendekatan real dan setiap tahun pasti berbeda-beda, ini yang pertama.
Yang kedua, bagaimana dengan lanjut usia?. Lanjut usia ini termasuk faktor, tadikan ada beberapa faktor yang menyebabkan garis kemiskinan dan kemudian ada faktor yang tidak, apakah lanjut usia ini termasuk?. Karena kita di Kementerian Sosial ini ada program untuk lanjut usia, tidak semua orang lanjut usia ini sebenarnya mereka layak untuk dibantu, dan lanjut usia itu apakah sudah disepakati, bahwa usia 70 tahun ke atas ataukah sebagimana Undang-Undang, yaitu 60 tahun ke atas. Kalau 60 tahun ke atas itu lanjut usia, maka kemudian kalau kita naikkan menjadi 70 tahun, memang akhirnya orang yang lanjut usia menjadi sedikit, lalu kemudian bantuan yang kita berikan sedikit, belum lagi kemudian verifikasinya. Ini mohon diberikan pencerahan.
Lalu kemudian saya perhatikan tadi Pak, penurunan kemiskinan ini dari mulai tahun 1999 sampai kemudian tahun 2019 ada 20 tahun tadi Bapak tampilkan itu, itu kira-kira dari sisi kualitasnya apa? Karena saya melihat misalnya waktu itu kurang lebih sekitar ada jumlah 23% atau sekitar 40.000.000 dari penduduk 135.000.000 barangkali, masih jamannya waktu lagunya Rhoma Irama yah, nah lalu kemudian sekarang penduduk 257.000.000, kita punya jumlah miskin yang tinggal sekitar 22.000.000, ini yang keliru, ini yang kemudian perlu diverifikasi, yang di data Bapak itu kurang lebih sekitar hanya 24.000.000. Nah, itu sebenarnya penduduk miskin
24.000.000 ini adalah penduduk miskin yang karena memang diakali dari metodologinya?, ataukah kemudian betul-betul faktanya miskin?
Nah, lagi-lagi itu Pak, jadi ini bulatnya di situ nanti, ketika memang dari sisi metodologi itu dikurangi saja. Contoh kemarin ketika kita ingin mengurangi bantuan kepada Lansia yang tinggal dinaikkan usia saja, yang Lansia semua 60 tahun tinggal naik 10 tahun, wah sudah sangat banyak sekali, bedanya sangat besar sekali. Nah, apakah dari situ ataukah betul-betul memang ini faktanya masyarakat ini secara kualitasnya sudah dari itu, ini terkait dengan dari BPS.
Nah, yang kedua, ini saya juga terima kasih, ini Pak Habibullah dari Dukcapil, terima kasih ini data cukup clear yah, dan Bapak tadi sampaikan, bahwa perekaman itu sudah sampai 98%. Nah, makanya kalau ini sudah sampai 98% begitu, saya kira ini mestinya verifikasi data di tingkat Kementerian manapun, khususnya di Kementerian Sosial untuk miskin, clear dan mudah begitu, tapi kemudian persoalannya di sini adalah fakta lapangan Pak. Nah, fakta lapangan yang kita dapatkan itu, metodologinya ini masih macam-macam Pak, saya minta rekomendasi ini apa?, misalnya cara yang paling mudah atau yang paling akurat agar kita mendapatkan data orang miskin yang sesungguhnya, orang miskin yang faktual yang kemudian betul- betul, memang kemudian tidak double dan seterusnya. Ini adalah yang pertama.
Kemudian yang kedua, ini sedikit agak berbeda Pak, kalau tadi Bapak sebut, bahwa setiap anak yang lahir di Rumah Sakit atau ditangani Bidan sekalipun itu tinggal lapor ke Dinas Dukcapil, itu pasti akan mendapatkan Akta kelahiran, tapi fakta di lapangan kelihatannya tidak begitu. Jadi di lapangannya mestinya seorang suami pertama dia disuruh ngurus KK dulu, dia harus misah KK dulu, setelah misah KK kalau dia antara suami dari 2 Provinsi yang berbeda, tentu dia proses masing-masing, setelah itu kemudian baru dibawa ke pengantar oleh RW, setelah pengantar RW ada pengantar lagi sampai kemudian nanti dibawa kepada Dukcapilnya itu. Nah, bagaimana sesungguhnya ini?. Karena apakah cukup dari keterangan lahir Rumah Sakit atau kemudian Bidan lalu bisa dibawa atau tidak?. Karena ini konstituen kami juga merasa banyak mengeluhkan itu Pak, mohon diberikan pencerahan ini Pak.
Jadi yang kedua saya meng-endorse tadi yang disampaikan Pak Achmad Pak, ini Bapak punya data yang luar biasa ini, data yang sangat akurat, sangat bagus, nah bagaimana koordinasinya antara Dukcapil dengan Kementerian Sosial, khususnya dalam menetapkan para pihak yang berhak mendapatkan bantuan?. Apakah itu PKH atau kemudian yang lain-lainnya, karena semua basisnya itu adalah DTKS Pak, sementara problemnya ada di DTKS.
Dan yang terakhir Pak, karena Bapak ini memiliki data yang luar biasa, hanya dengan melihat Pak Ace saja, bisa melihat Beliau dan kemudian seluruh yang ada di bawahnya. Pertanyaan saya, apakah di Dukcapil ini ada