• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Terima kasih Pak Jhonni Allen, pak Muhammad Aras silakan Pak

F-PPP (Dr. H. MUH ARAS, S.Pd., M.M.):

Bissmillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum waramatullahi wabarakatuh.

Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua.

Yang terhormat Pimpinan dan kawan-kawan Komisi V, Yang saya hormati Ibu Kepala BMKG, Pak Kabasarnas, dan Seluruh hadirin yang berbahagia.

Tentu sudah banyak disampaikan oleh teman-teman tadi terkait dengan beberapa permasalahan, saya sedikit ingin menyinggung sedikit terkait dengan program-program dari BMKG. Ini serapan yang tidak terlalu maksimal tentu menimbulkan pertanyaan besar buat kita, karena anggaran sudah kecil dan harus dimaksimalkan, sementara negara kita adalah negara yang memang negara yang tiada hari tanpa bencana.

Oleh karenanya tentu perlu deteksi dini yang dilakukan oleh BMKG, sehingga seluruh stakeholder terkait dalam hal penanggulangan bencana ini

juga bisa terdeteksi secara cepat. Olehnya itu tentu ke depan kita harapkan bahwa BMKG betul-betul menghadirkan kerja kerja yang efektif yang efisien, sehingga seluruh peralatan-peralatan yang dibutuhkan memang perlu untuk di siap siagakan, paling tidak bahwa kemajuan teknologi kita, ketinggalan.

Apa yang disampaikan ke Pak Dewo tadi bahwa benar bahwa kalau bagaimanapun teknologinya kalau SDM-nya kita kurang juga tidak bisa maksimal, begitu juga sebaliknya bagaimanapun hebatnya SDM kita tapi kalau teknologinya tidak mempuni untuk memberikan informasi yang akurat terhadap suatu gejala bencana, tentu juga tidak bisa maksimal. Oleh karenanya tentu kita sama-sama bisa melakukan hal-hal yang paling tidak untuk kepentingan pencegahan bencana yang ada di negeri kita.

Dan yang kedua tentu kegiatan-kegiatan di daerah perlu juga sosialisasi dari teman-teman BMKG, sehingga kegiatan-kegiatan daerah juga perlu ada pengawasan-pengawasan dari teman-teman Komisi V. Sampai saat ini kegiatan-kegiatan yang kami lakukan hanya satu yakni sekolah nelayan yang ada di daerah, itu pun tempatnya sangat terbatas, lalu kemudian juga disampaikan oleh Tamanuri juga ya seperti itu.

Sehingga apa namanya animo masyarakat untuk bisa berpartisipasi dalam hal ikut mensukseskan program-program BMKG juga tidak terlalu begitu besar. Sehingga ke depan kita harapkan bahwa BMKG ini mengkomunikasikan program-programnya di semua daerah, secara detail, jadi diharapkan dari Kepala BMKG yang ada di provinsi dan kabupaten tentu bersinergi dengan teman-teman Komisi V, sehingga paling tidak bahwa kegiatan-kegiatan yang terlaksana dilapangan itu kita bisa tahu program ada saja dan seperti apa? Jadi fungsi pengawasan juga teman-teman bisa jalan.

Yang selanjutnya adalah untuk Basarnas ya, mudah-mudahan Basarnas tidak terlalu banyak kegiatannya berarti bahwa negeri kita aman dari bencana. Tetapi yang pasti bahwa kegiatan-kegiatan yang tentu dilakukan di lapangan juga harus berinteraksi dengan kita-kita teman-teman di Komisi V, terutama di Sulawesi Selatan misalnya.

Kantor Basarnas yang ada I Sulawesi Selatan itu sangat terbatas, nah ini ada di Makassar dan ada di hampir di Sulawesi Barat sana, sehingga di daerah tengah tidak ada. Sehingga pada saat terjadi sesuatu ini agak sulit untuk melakukan tindakan secara cepat. Kemarin terjadi banjir di kabupaten Soppeng, Wajo dan Bone kemudian Baru, sementara petugas-petugas lapangan terlambat untuk hadir di tempat, akibatnya karena lokasinya agak jauh.

Paling tidak bahwa di daerah Pare-Pare atau Baru itu ada kantor Basarnas, sehingga bisa semua cepat terkomunikasikan, sehingga tidak teman-teman di lapangan, tidak kalang kabut untuk bisa mendatangkan teman-teman dari Basarnas, ya paling tidak bahwa dari seluruh LSM atau lembaga bantuan yang diharapkan hanya Basarnas yang memiliki perlengkapan yang cukup maksimal.

Kemudian terkait juga dengan pelatihan yang dilakukan oleh teman-teman Basarnas, ini kemarin juga di lapangan dilatih cukup berat ternyata, ya banyak teman-teman yang kami dorong untuk latihan juga, ya baru 2 hari sudah mau minggat katanya. Ya karena ndak mampu ikuti seluruh kegiatan-kegiatan yang cukup berat. Dan ia tentu juga tadi disampaikan oleh teman-teman uang sakunya juga sangat terbatas, sehingga mereka-mereka ini kapok untuk ikut. Dan kita minta untuk ikut berikutnya atau program lanjutan atau yang lainnya juga supaya tidak terlalu bersemangat.

Oleh karenanya ya kedepan paling tidak harus diperhitungkan sehingga tenaga-tenaga lapangan kita betul-betul banyak terjadi, ya banyak yang ada di setiap daerah. Sehingga pada terjadi setiap peristiwa di suatu tempat ada jaringan kita yang tentu bisa kita manfaatkan di daerah itu. Yang terakhir untuk ke depan berharap bahwa sinergitas antara mitra dengan teman-teman Komisi V itu betul-betul terjalin dengan baik, sehingga apa yang menjadi program kita secara bersama-sama insya Allah bisa terlaksana dengan secara maksimal. Barangkali itu pak Ketua terima kasih.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh KETUA RAPAT:

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Terima kasih Pak Aras, berikutnya pak Hamka.

F-PG (Drs. HAMKA B KADY, M.S.):

Bismillahirohmanirohim.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pimpinan dan seluruh Anggota yang saya hormati,

Bapak Kepala Basarnas, Ibu Kepala BMKG yang saya hormati, dan seluruh jajarannya.

Yang ingin saya sampaikan Pak Ketua yang pertama adalah mari di benak pemikiran kita semua di sini bahwa apa yang kami lakukan selaku Anggota DPR, itu adalah hak menurut konstitusi. Saya mengingatkan ini karena ada kecenderungan bahwa setelah rapat selesai begini, selesailah urusannya dengan Komisi V. Ini yang saya tekankan, sehingga nanti kejadian seperti apa yang terjadi di BMKG baru kita tahu pada hari ini, berarti kita tidak ada pengawasan, DPR tidak ada pengendalian. Yang salah DPR tidak mengendalikan yang selalu kita manut saja.

Oleh karena itu pada kesempatan ini berdasarkan aturan MD3 dan undang-undang lainnya, Pak Ketua setelah rapat ini saya minta dengan hormat, diagendakan satu persatu deputinya untuk kita telusuri. Saya akan audit tertentu dengan cara saya, dengan cara teman-teman yang lain, malu rasanya kita tidak bisa memenuhi, apalagi ini terkait dengan luar negeri.

Kepercayaan kita di mana? Ini yang saya tekankan pak Ketua, saya tidak sampai saat ini saya minta setelah selesai rapat ini, minta waktu seluruh Deputi harus mempertanggungjawabkan tugasnya baru kita satu persatu untuk bisa diskusikan.

Ini penting karena saya merasa sedih banget, sudah ketok palu diserahkan, kalau kita juga mau kontrol juga secara langsung kadangkala tertutup, bertanya pun tidak ada yang mau menjawab, ya silakan masing-masing, kalau saya mengambil sikap saya tidak mau menyetujui, selesai.

Nanti kalau kejadian seperti begini siapa yang salah? Apakah kita serahkan kepada rumput yang bergoyang, tidak mungkinlah. Kami yang salah, kami juga tidak tahu apa-apa mengenai teknologi, kami buta kalau tidak dijelaskan dengan baik, apa artinya kita duduk sama-sama hanya 15 menit di sini atau 2 jam selesai, nanti tahun depan baru ketemu atau bulan depan atau 6 bulan kemudian, kita tidak tahu apa yang terjadi di lingkungan Ibu dan Bapak sekalian.

Dengan gagalnya ini, saya mengatakan, menyimpulkan bahwa manajemen BMKG ini saya mohon maaf Ibu ada sesuatu yang perlu kita perbaiki. Saya ndak pernah menelpon, saya ndak pernah lagi mem biarkan saja apa yang sudah kita ketok ayo silakan. Sekarang saya akan mau satu persatu, akan mau melakukan audit tertentu terhadap detailing semua program yang ada, itu sudah hak kami. Kasihan Basarnas begitu sedikit anggarannya, BMKG sudah dikasih peluang yang sebanyak-banyaknya itu pun tidak bisa dimanfaatkan dengan baik.

Ini pimpinan saya tidak bisa berkata-kata banyak, terlalu banyak yang ingin saya sampaikan dan belum saya pelajari juga itu, baru hari ini juga dikasih. Saya kira saya tidak mau masuk detailnya pak Ketua, saya memerlukan waktu, saya tidak mau menyalahkan siapa saya, siapa-siapa yang salah, yang saya salahkan adalah diri saya sendiri. Kenapa saya tidak melakukan itu? Karena ibu dan bapak-bapak semua tertutup, padahal hak kami mengontrol itu.

Saya berharap banyak, jangan kita mengulangi hal-hal yang terjadi pada hari ini, mari kita sama-sama sekolah lapang, sekolah lapang hentikan saja kalau tidak ada manfaatnya. Ayo mari kita fokus pada tupoksi masing-masing, ini Bu tolong ini, belum Lagi pada tahun 2023 nanti, APBN kita itu sudah menurun terus, akan kita kembali pada tahun 2023 itu defisit 3%

karena masih 6%. Coba kita bayangkan itu Bu, peluang uang yang sudah diberikan pinjaman luar negeri kita tidak manfaatkan dengan baik, tidak ada yang bisa, yang salah siapa? Kebodohan kita, kebodohan saya.

Saya kira itu pimpinan saya enggak bisa meneliti satu persatu dari awal saja saya sudah lihat ini ada yang tidak beres. Saya kira demikian Pimpinan, saya minta waktu, semua Deputi kita adakan rapat tersendiri, sendiri.

Terima kasih lebih dan kurangnya saya mohon maaf.

Assalamu’alaikum Waramatullahi Wabarakatuh KETUA RAPAT:

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ini karena spesifik pak Hamka ini, mungkin barangkali kita jadwalkan Minggu depan Pak, kita jadwalkan khusus, nanti kita Minggu depan ya. Masa Sidang depan ya, tidak bisa ya, masa sidang depan begitu pak Hamka.

Berikutnya saya kira kesepakatan kita.

F-PG (Drs. HAMKA B KADY, M.S.):

Izin, izin ketua, intruksi ketua.

KETUA RAPAT:

Ya silakan.

F-PG (Drs. HAMKA B KADY, M.S.):

Kalau tahun depan tidak usah dilakukan Pak,

KETUA RAPAT:

Bukan tahun depan bukan, bukan, bukan tahun depan yaitu minggu depan ini, kalau tidak sidang berikutnya maksudnya,

F-PG (Drs. HAMKA B KADY, M.S.):

Sidang berikutnya gitu aja jangan, jangan sampai semester berikutnya.

KETUA RAPAT:

Bukan tahun depan, Bu kepala BMKG ini emang kalau saya ingin mengatakan rapor merah memang tahun ini, rapor merah memang ya. Kalau kita lihat semua paparannya, tapi saya pikir nanti kita perdalam di pertemuan khusus tadi, kita cari waktu yang tepat. Karena apapun alasannya kelemahan BMKG adalah kelemahan kita juga sama seperti yang disampaikan oleh pak Hamka tadi, karena kita dalam mitra.

Baik berikutnya Ibu Novita.

F-P. GERINDRA (Hj. NOVITA WIJAYANTI, S.E., M.M.):

Terima kasih Pimpinan.

Yang hormati seluruh Pimpinan dan Komisi V, Kemudian BMKG dan jajaran, Basarnas dan jajaran.

Langsung saja tadi bu Trikora katanya rapot merah, tapi saya tetap mengucapkan terima kasih, karena waktu itu datang ke Cilacap untuk melakukan pelatihan. Raport merah nanti diurus lain supaya jadi biru ya, birunya biru netral maksudnya, biru dan memutih. Jadi Bu Dwikorita terima kasih yang pertama, untuk BMKG dan jajaran mau datang kesana pelatihan di Cilacap, Banyumas kebetulan Dapil saya, punya laut, punya gunung kemudian banyak sekali seperti info-info bencana itu saya terima kasih sekali, karena ada pelatihan-pelatihan dan itu sangat membantu untuk nelayan petani dan semuanya.

Harapan saya sih untuk pelatihan seperti itu dimaksimalkan karena petugas dan sumber daya manusianya di BMKG pasti kurang. Jadi kalau pelatihan kepada masyarakat langsung maka itu akan memberikan bantuan lebih, di mana mereka bisa membantu masyarakat kalau terjadi situasi yang tidak diharapkan, jadi masyarakat juga bisa tahu waktu-waktunya.

Kemudian ibu tadi saya mendengar ada lebih, sekarang ada media, atau studio apa itu tadi, nah karena kan sekarang informasi dari BMKG itu menjadi salah satu acuan yang utama oleh kita. BMKG kalau kita, saya mau terbang saja saya selalu tanya gimana ini cuacanya pasti BMKG menjadi acuan informasinya. Kalau media studio ini kira-kira saya tanya jangkauannya itu sampai ke mana, dan bagaimana efektifitasnya begitu?

Karena pasti kan ini menyempurnakan informasi-informasi yang disampaikan ke masyarakat. Apakah ini sudah efektif sekali atau hanya seperti memenuhi syarat aja gitu? Kemudian apalagi sekarang ini semua pasti pegangannya informasi dari BMKG, saya berharap sekali BMKG ini lebih maksimal lagi untuk memberikan informasi kepada kita semua yang di Indonesia. Ini ada bencana, tsunami dan lain sebagainya itu kita menunggu dari BMKG.

Kemudian, sama Bu saya juga mau menanyakan tentang serapan yang kurang tadi, itu sangat disayangkan yang saya ingin tanyakan itu, mungkin saya tadi kurang mendengarkan itu kenapa dan kemudian apakah anggaran tersebut kembali ke Kementerian Keuangan atau bagaimana atau bisa digunakan yang lainnya lagi? Kalau, oh jadi masuk lagi,

KETUA RAPAT:

Nanti dijawab, nanti dijawab bu.

F-P. GERINDRA (Hj. NOVITA WIJAYANTI, S.E., M.M.):

Ya itu kira-kira saya ingin tanya itu anggaran kalau masuk tahun berikutnya kan sayang banget. Sebenarnya seharusnya bisa sekali digunakan untuk kegiatan yang lainnya yang lebih mendukung program-program dari BMKG.

Kemudian melihat kondisi Indonesia yang pastinya bencana, apa dari laut, gunung dan lain sebagainya melihat ritme yang tahunan seperti ini

ada-ada apa namanya antisipasi atau ide-ide baru lagi enggak dari BMKG, untuk antisipasi supaya orang-orang itu tidak terkena gitu, longsor, kemudian banjir, kemudian gempa, dan lain sebagainya itu untuk ibu BMKG dan semuanya.

Dan pelatihannya sih saya harapkan terus ditingkatkan khususnya di Dapil saya dan yang lainnya terserah, terserah kalau yang lainnya pada nggak mau, nggak apa-apa kasih ketempat saya saja.

Kemudian, Basarnas ya pasti anggarannya sedikit ya pa ya kita juga berharap anggarannya di jadi bisa lebih banyak lagi, tetapi kemampuan pemerintah ternyata tidak bisa dimaksimalkan. Ya kita berharap kedepan anggarannya lebih bisa naikkan Basarnas juga bisa mungkin tidak hanya pendekatan ke kita tetapi pendekatan ke pemerintah di bagian yang lain.

Kemudian tadi juga disampaikan oleh Pak Dewo juga program pengadaan dan lain sebagainya itu diharapkan yang betul, kemudian yang sesuai dengan aturan-aturan itu.

Nah, yang saya ingin sampaikan sih sebenarnya terima kasih juga kemarin kita ke Papua dan kebetulan saya ke Raja Ampat dan dibantu oleh Basarnas di sana dan alhamdulillah sangat membantu. Dan tidak hanya itu tetapi untuk kondisi bencana di Indonesia ya saya berharap lagi karena sumber daya manusianya di Basarnas juga saya lihatkan kurang maksimal, jadi pelatihan-pelatihan juga diharapkan ditingkatkan Pak.

Pelatihan kepada masyarakat-masyarakat yang bisa membantu kegiatan-kegiatan Basarnas di saat-saat yang dibutuhkan. Kepada masyarakat, kepada elemen-elemen, pemuda dan lain sebagainya di seluruh lini, kayak di tempat saya di Kabupaten Cilacap di Basarnas itu ada beberapa kali kecelakaan laut, di Laut Cilacap, Nusakambangan kapal tenggelam beberapa kali, ya sumber daya manusianya pasti kurang, sehingga dibutuhkan pelatihan-pelatihan dari orang-orang.

Pak saya lagi ngomong gantian dong!

Kemudian, tapi tadi pesannya adalah kalau pelatihan ya karena pelatihannya 3 hari ya dikasih uang saku mungkin dianggarkan seperti itu ya.

Kalau enggak nanti kita yang habis dimaki-maki sama orang-orang, ini pelatihan gimana sih kok nggak ada uang sakunya apalagi tiga hari?

Kemudian Cilacap juga Palembang Pak Edi saya melihat kantor Basarnasnya kurang itu ya representative, jadi harapannya usulan-usulan yang masuk dari Kabupaten Cilacap dan sekitarnya bisa diakomodir begitu.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh KETUA RAPAT:

Terima kasih bu Novi,

F-P. GERINDRA (Hj. NOVITA WIJAYANTI, S.E., M.M.):

Pak tambah satu lagi.

KETUA RAPAT:

Kalau bu Novi boleh.

F-P. GERINDRA (Hj. NOVITA WIJAYANTI, S.E., M.M.):

Terima kasih, ini ada kegiatan-kegiatan yang tertunda dan dilanjutkan Tahun 2022, lah ini dengan tertundanya seperti ini efeknya apa gitu Pak?

Saya ingin tanya itu aja tapi ini komplit ini efek samping ke depan ke atas ke bawah dan semuanya tolong dijelaskan baik di rescue boat, kemudian juga ada sinyal marabahaya ini dan lain sebagainya nih ada 134 ya saya ingin tahu dan mendengarkan dari Kabasarnas.

Demikian Terima kasih Pimpinan yang baik hati.

KETUA RAPAT:

Terima kasih, ibu Chen.

F-PG (CHEN SUI LAN):

Terima kasih pimpinan.

Yang saya hormati Pimpinan dan Anggota, juga dari BMKG, Basarnas dan jajarannya.

Saya langsung saja Bu Profesor mengenai MMS-2 yang tidak terealisasi 0% nya realisasinya 0% itu kan termasuk kalau nggak salah di Natuna Radar benar? Jadi saya ingin menanyakan apakah itu memang ada atau karena, karena 0% tidak ada? Jadi Pak, Ibu jangan ragu-ragu kalau ada pinjaman dari luar negeri, karena kalau keraguan ibu bisa membuat masyarakat menderita.

Contohnya peralatan-peralatan yang di harus seharusnya ada untuk daerah tidak terealisasi. Juga saya ingin menanyakan Ibu ini BMKG kan lembaga pemerintah, ibu membawa nama negara untuk berbisnis dengan negara lain, bagaimana Ibu bisa menjelaskan perusahaan yang pengadaan itu tutup dan tidak bisa terealisasi anggaran tidak terserap? Jangan membuat kredibilitas BMKG diragukan ibu, tolong dijaga karena kita ini mitra makanya saya menanyakan ke Ibu.

Jadi, itu saja dari saya juga kepada Pak Hendri terima kasih selama ini saya sudah banyak dibantu, saya ingin menanyakan sedikit, bukan menanyakannya saya mendapat informasi daerah-daerah kalau mengalami bencana seperti anak hilang, anak tenggelam biasanya mereka tidak melaporkan langsung ke Basarnas, mereka mencari sendiri setelah tidak dapat udah terlambat baru melaporkan. Jadi tolong edukasi masyarakat,

gunanya Basarnas itu untuk membantu penyelamatan, supaya hal-hal itu tidak terjadi pak kepala. Itu saja dari saya, terima kasih pimpinan.

KETUA RAPAT:

Terima kasih bu Cen, berikutnya Pak Edi Santana.

F-P. GERINDRA (Ir. EDDY SANTANA PUTRA, M.T.):

Terima kasih Pimpinan.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Yang saya hormati Pimpinan dan seluruh Anggota Komisi V DPR RI, Kepala BMKG Bu Ibu beserta seluruh jajaran.

Kepala Basarnas beserta jajaran.

Yang pertama, memang ke langsung ke BMKG bu, memang ini fatal bu ini urusannya belanja modal Ibu cuman berapa? Saya lihat ini ya, tadi yang disampaikan teman-teman ya, belanja pegawai oke tinggal, tinggal keluarkan itu gaji dan sebagainya honorarium, belanja barang masih bagus bu ini, tapi belanja modal nah ini hanya 70% tercapai, 30% ini besar bu untuk BMKG itu 371 miliar, ini saya hitung ini, jadi besar.

Karena cuman, belanja modalnya cuman 1,211 triliun, jadi nggak terserap ini ya tadi mungkin sudah disampaikan. Tapi, yang jadi pertanyaan saya ini ada dua hal ini ya, yang pertama di belanja barang penyelesaian pelaksanaan putusan Bani, Badan Arbitrase inikan. Artinya sudah sampai ke sana, karena penyedia tidak sanggup melanjutkan pekerjaannya yang 2018, nah ini mohon penjelasan, Apakah ini multiyears? Barangnya pembangunan AWS dan sensor kualitas laut ini. Tidak tahu ini berapa ini, satu unit atau berapa unit? Dan di mana? Apa tersebar? Saya mohon penjelasan ini?

Kita tahu ini tidak oh ini tidak terealisasi berarti karena, apabila ini memang dibutuhkan penting ya harus dianggarkan lagi kan untuk selanjutnya, 2022 harus bisa kita realisasikan. Apa penyebabnya tadi? Apa karena tadi ada covid, tadi penjelasannya penyelesaian di pabrikan di mana, bukan ini beda ya? Nah, saya mohon penjelasan pak ini.

Yang kedua, belanja modal adanya wanprestasi, putus kontrakkan itu maksudnya, putus kontrak bagaimana itu? Itu putus kontrak apakah kemampuan dari perusahaan pengadaan jasa dan barang itu tidak tidak dak punyai kompetensi di bidangnya, atau memang nakal dia, bisa saja begitu?

Dapat duit muka kerja pelan-pelan pelan-pelan minta putuskan memang, nah ini jadi nanti jadi kebiasaan.

Saya di PU juga ada seperti itu ambil 20% kerjalah sedikit-sedikit itu justru dia tunggu diputuskan, wanprestasi sudah untung dia, kalau pekerjaan 100 miliar, ambil 20 miliar ya, kerja 5 miliar, 15 miliar, di simpan dia itu. Nah, ini hal-hal seperti itu memang harus jadi perhatian kita ini ya, dan mungkin

nanti di pendalaman di deputi itu kita minta juga sistemnya, proses tender Ibu itu bagaimana gitu?

Kita minta penjelasan itu, sebab jangan sampai juga seperti tempat lain ada banting-bantingan, sampai 60% itu, dan 70% dan diberikan, dimenangkan itu yang tidak masuk dilogika saya gitu. Pakai harga satuan mana gitu? Apalagi kalau ini barang ya, barang apa yang, yang apa kaitanya dengan teknologi, teknologi tinggi tak mungkin bisa jauh penawarannya gitu kan, ada standarnya atau pakai e-katalog. Hal ini juga ada baiknya memang Pimpinan kita perdalam lagi di masing-masing deputi itu ya.

Selanjutnya mungkin keduanya gitu, saya setuju sekolah lapang saya mengikuti terus BMKG, hanya Basarnas belum pak, rasanya tidak pernah mengundang saya juga, tapi kalau BMKG sudah dua kali sekolah lapang nelayan, di Sungsang ya Sumatera Selatan, kemudian di Banyuasin juga

Selanjutnya mungkin keduanya gitu, saya setuju sekolah lapang saya mengikuti terus BMKG, hanya Basarnas belum pak, rasanya tidak pernah mengundang saya juga, tapi kalau BMKG sudah dua kali sekolah lapang nelayan, di Sungsang ya Sumatera Selatan, kemudian di Banyuasin juga

Dokumen terkait