• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI V DPR RI DENGAN BMKG DAN BNPP (BASARNAS)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RISALAH RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI V DPR RI DENGAN BMKG DAN BNPP (BASARNAS)"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

REPUBLIK INDONESIA

RISALAH

RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI V DPR RI DENGAN BMKG DAN BNPP (BASARNAS) Tahun Sidang : 2021-2022

Masa Persidangan : III

Rapat Ke- : 10 (sepuluh)

Jenis Rapat : Rapat Dengar Pendapat Sifat Rapat : Terbuka

Hari, Tanggal : Senin, 24 Januari 2022

Waktu : Pukul 13.05 Wib s.d. 16.30 Wib

Tempat : Ruang Rapat Komisi V DPR RI, (Ruang KK V) Gedung Nusantara DPR RI

Ketua Rapat : Ir. Ridwan Bae

Acara : 1. Evaluasi Pelaksanaan APBN TA 2021;

2. Membahas Program Kerja BMKG dan BNPP (Basarnas) Tahun 2022

3. Lain-lain

Sekretaris Rapat : Nunik Prihatin Budiastuti, S.H., Kabag Komisi V DPR RI

Hadir : A. Anggota DPR RI:

40 dari 55 orang Anggota dengan rincian:

1. FRAKSI PDI-PERJUANGAN (F-PDIP) 8 dari 11 orang Anggota

1. Bob Andika Mamana Sitepu, S.H.

2. H. Herson Mayulu, S.IP.

3. Mochamad Herviano

4. Hj. Sadarestuwati, S.P., M.MA.

5. Sukur H. Nababan, S.T.

6. Sarce Bandaso Tandiasik, S.H., M.H.

7. H. Irmadi Lubis 8. Ir. Effendi Sianipar

2. FRAKSI PARTAI GOLKAR (F-PG) 7 dari 8 orang Anggota

1. Ir. Ridwan Bae

2. Drs. Hamka B Kady, M.S.

3. DR. H. Ali Mufthi, S.AG., M.Si.

4. H. Tubagus Haerul Jaman, S.E.

5. Ilham Pangestu

6. Bambang Hermanto, S.E.

7. Muhammad Fauzi, S.E.

3. FRAKSI PARTAI GERINDRA (F-GERINDRA)

(2)

6 dari 7 orang Anggota

1. H. Andi Iwan Darmawan Aras, S.E., M.Si.

2. Sudewo, S.T., M.T.

3. Iis Rosyita Dewi, S.Hum., M.M.

4. Ir. Eddy Santana Putra, M.T.

5. Drs. H. Mulyadi, M.MA.

6. Hj. Novita Wijayanti, S.E., M.M.

4. FRAKSI PARTAI NASDEM (F-NASDEM) 6 dari 6 orang Anggota

1. Roberth Rouw

2. H. Syarif Abdullah Alkadrie, S.H., M.H.

3. Drs. H. Soehartono, M.Si.

4. Sri Wahyuni

5. Drs. H. Tamanuri, M.M.

6. Drs. Fadholi, M. Ilkom.

5. FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA (F-PKB)

3 dari 6 orang Anggota

1. Sofyan Ali, S.Ag., S.H., M.Pd.

2. Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, M.M.

3. H. Syafiuddin, S.Sos.

6. FRAKSI PARTAI DEMOKRAT (F-PD) 4 dari 5 orang Anggota

1. Dr. H. Irwan, S.IP., M.P.

2. drh. Jhonni Allen Marbun, M.M.

3. Lasmi Indaryani, S.E.

4. Ir. H. Ishak Mekki, M.M.

7. FRAKSI PARTAI KEADILAN

SEJAHTERA (F-PKS) 2 dari 5 orang Anggota 1. Ir. H. Sigit Sosiantomo 2. KH. Toriq Hidayat, Lc.

8. FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL (F-PAN)

3 dari 5 orang Anggota 1. H.A. Bakri H. M., S.E.

2. Athari Ghauthi Ardi 3. Hj. Hanna Gayatri, S.H.

9. FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN (F-PPP)

(3)

1 dari 2 orang Anggota

1. Dr. H. Muh Aras, S.Pd., M.M.

B. UNDANGAN:

1. Kepala BMKG (Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D.)

2. Kepala BNPP (BASARNAS) (Marsekal Madya TNI Henri Alfiandi)

JALANNYA RAPAT:

KETUA RAPAT (Ir. RIDWAN BAE):

Assalamu’alaikum Waramatullahi Wabarakatuh, Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua.

Yang terhormat pimpinan anggota Komisi V DPR RI.

Yang terhormat Kepala BMKG dan Kepala Badan Nasional Pencarian, dan Pertolongan Basarnas beserta seluruh jajarannya.

Mengawali rapat dengar pendapat hari ini, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa, yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita semua, sehingga pada hari ini, kita dapat bertemu untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab kita, dalam keadaan sehat walafiat, baik secara fisik dan virtual dari tempat masing-masing.

Berdasarkan, informasi dari sekretariat, daftar anggota Komisi V DPR RI telah ditandatangani sebanyak 23 orang, terdiri dari 10 orang fisik dan 30 orang, eh 13 orang virtual, sehingga lebih dan melebihi dari separuh dari fraksi, sehingga telah memenuhi kuorum.

Oleh karena itu sebagaimana ketentuan yang diatur dalam Pasal 281 peraturan DPR RI tentang Tata Tertib ijinkanlah kami membuka rapat dengar pendapat hari ini, dan sesuai ketentuan Pasal 276 ayat (1) Rapat Dengar Pendapat Komisi V DPR RI pada hari ini kami buka, dan dinyatakan terbuka untuk umum.

(RAPAT DIBUKA PUKUL 13.05 WIB)

Ucapan terima kasih kepada Kepala BMKG dan Kepala BNPP Basarnas beserta jajarannya, yang telah memenuhi undangan dan undangan kami dalam rapat dengar pendapat pada hari ini.

Mengawali rapat dengar pendapat hari ini, kami ingin memperkenalkan ada penambahan Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Nasdem, dari pergantian anggota, dari Fraksi Partai Golongan Karya yaitu, yang pertama dari Fraksi Nasdem Drs. Fadholi, M.I., Kom., ada virtual? Virtual ada Pak Drs.

Fadholi belum ada.

(4)

Berikutnya adalah dari Fraksi Partai Golongan Karya yaitu Dr. H. Ali Mufti, S.Ag., M.Si. sudah ada? Virtual sudah ada? Belum juga, yaitu Anggota A – 319 Dapil Jatim 7 sudah ada, oh iya ini Pak Dr. H. Ali Mufti,

F-PG (DR. H. ALI MUFTI, S.Ag., M.Si.):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ali Mufti Dapil Jatim 7 Fraksi Partai Golkar Anggota A – 319, siap.

KETUA RAPAT:

Selamat bergabung, Selamat bergabung di Komisi V yang disebut Fraksi Komisi V, beliau menggantikan Ir. H. Anang Susanto, M.Si. yang pindah ke Komisi VIII. Terima kasih Pak Mufti.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dalam Undang-Undang nomor 42 tahun 2019 tentang perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 17 tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD. Pasal 97 ayat (3) huruf a disebutkan bahwa tugas komisi di bidang pengawasan adalah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang, termasuk APBN serta peraturan pelaksanaannya, yang termasuk dalam ruang lingkup tugasnya.

Oleh karena itu Komisi V DPR RI perlu melakukan evaluasi terhadap pencapaian target kegiatan badan meteorologi dan klimatologi dan geofisika, dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP), pada tahun anggaran 2021 dan juga pembahasan terhadap program kerja pada tahun anggaran 2022.

Untuk agenda pertama terkait evaluasi pelaksanaan APBN tahun anggaran 2021, Komisi V DPR RI ingin mendapatkan penjelasan dari Kepala BMKG dan Kepala BNPP atau Bazarnas, tentang bagaimana hasil akhir pencapaian realisasi anggaran BMKG dan BNPP, sesuai saran dan masukan yang telah diberikan oleh Komisi V DPR RI pada rapat sebelumnya.

Adapun terkait agenda kedua yaitu, pembahasan program kerja tahun 2022, perlu kami sampaikan bahwa pagu anggaran BMKG dalam tahun 2022 adalah sebesar 3,180 trilyun, dan BNPP atau Basarnas dalam tahun anggaran 2022 adalah sebesar 1,967 trilyun. Dengan pagu yang ada ini kami ingin mengetahui pemanfaatan dari anggaran tersebut, untuk mencapai prioritas nasional sebagaimana tertuang dalam rencana kerja pemerintah pada tahun 2022.

Setelah itu pada kesempatan rapat dengar pendapat ini, terdapat sejumlah isu strategis di bidang meteorologi, klimatologi dan geofisika, maupun di bidang pencarian dan pertolongan yang perlu mendapatkan perhatian untuk ditindaklanjuti antara lain.

(5)

Yang pertama adanya fenomena meningkatnya curah hujan ekstrim yang dapat mengakibatkan bencana alam seperti banjir, badai, dan tanah longsor, sehingga perlu disikapi oleh BMKG dan Basarnas.

Yang kedua kebutuhan yang mendesak untuk memperluas penyebaran informasi cuaca kepada masyarakat, dan stakeholder secara cepat, tepat, akurat dan mudah dipahami.

Berikutnya adalah perlu peningkatan antisipasi terhadap kemungkinan datangnya gempa yang dapat diikuti oleh gelombang tsunami.

Keempat, tuntutan untuk meningkatkan ketersediaan sumber daya manusia, serta sarana atau prasarana pencarian dan pertolongan untuk mempercepat evakuasi korban kecelakaan dan bencana alam.

Yang kelima, perlu untuk meningkatkan pelatihan terhadap segenap potensi SAR daerah, untuk membantu berbagai upaya penyelamatan dan evakuasi.

Para Kepala Badan, Pimpinan, Anggota Komisi V DPR RI yang kami hormati,

Demikian pengantar dari kami, selanjutnya kami berikan kesempatan kepada Kepala BMKG dan Kepala BNPP atau Basarnas untuk menjelaskan, menyampaikan hasil capaian untuk pelaksanaan anggaran tahun 2021, dan menyampaikan program BMKG dan BNPP, Basarnas pada tahun 2022. Kami harapkan, paparan dapat disampaikan secara singkat, paling lama 20 menit sehingga kita bisa lebih focus saat pendalaman.

Kami persilakan yang pertama mungkin dari BMKG.

KEPALA BMKG (Prof. Ir. DWIKORITA KARNAWATI, M.Sc., Ph.D.):

Bissmillahirrahmanirrahim.

Yang terhormat Bapak Ketua, para Wakil Ketua dan Anggota Komisi V DPR RI,

Yang saya hormati bapak Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Basarnas, serta

Bapak, Ibu sekalian yang berbahagia.

Syukur alhamdulillah, kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Berkat rahmat, hidayahnya kita semua dapat berkumpul dalam rapat dengar pendapat yang sangat penting ini dalam keadaan sehat wal afiat. Dan, sebelum menyampaikan perkenankan kami karena ini pertama kali kami hadir di rapat dengar pendapat dengan Komisi V di tahun 2022 ini, perkenankan kami menghaturkan selamat tahun baru 2022. Semoga, Allah SWT selalu memudahkan langkah kita bersama dalam melompatkan kemajuan dan ketangguhan negeri kita bersama.

(6)

Bapak, Ibu yang kami hormati.

Perkenankan, bahwa tiga poin yang akan kami sampaikan terkait evaluasi pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2021, dan program kerja Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Tahun Anggaran 2022, serta ringkasan penutup.

Mohon izin slide yang pertama, kami sampaikan di halaman 4, di sini kita lihat bahwa adanya perkembangan pagu anggaran tahun 2021 di BMKG yang semula Rp3.274.000.000.000,- mengalami empat kali penghematan dan juga mengalami penurunan target pendapatan negara bukan pajak, dari penerbangan. Sehingga, akhirnya kami setelah mengalami beberapa kali penghematan dan penurunan target PNBP, total anggaran yang kami terima adalah Rp2.903.000.000.000,- di mana rupiah murni sebesar Rp2.532.000.000.000,- kemudian PNBP adalah Rp63.000.000.000,- dan pinjaman luar negeri adalah 624 miliar.

Kemudian, mohon izin kami melompat ke slide nomor 6, di sini perlu kami sampaikan realisasi pelaksanaan kegiatan BMKG di Tahun Anggaran 2021, komposisi jenis belanja di BMKG yang terbesar adalah belanja modal sebesar 42%, ya 42%, kemudian diikuti dengan belanja barang 37%, dan belanja pegawai sebesar 21%. Dan, di sini mohon berkenan kami sampaikan dari belanja pegawai pagu 619,9 miliar, terealisasi 611,29 miliar, atau sebesar 98,601%.

Kemudian belanja barang pagu Rp1.071.000.000.000,- terealisasi Rp1.011.000.000.000,- yaitu sebesar 94,34%. Kemudian, belanja modal pagu sebesar Rp1.211.000.000.000,- terealisasi sebesar 840,3 miliar atau sebesar 69,37%, sehingga total pagu 2,9 T realisasi sebesar 2,462 T, yang artinya realisasi sebesar 84,83%, di mana kontribusi terbesar untuk apa realisasi adalah di belanja pegawai dan belanja barang.

Sementara belanja modal merupakan belanja yang paling rendah serapannya untuk tahun ini. Kemudian, juga kami sampaikan bahwa dari prosentase tersebut untuk dukungan manajemen serapannya adalah 98,66%, dan untuk program meteorologi klimatologi dan geofisika serapannya adalah 82, 75%.

Slide berikutnya perlu kami sampaikan bahwa dari pagu 2,9 triliun dan realisasi 2,4 triliun atau sebesar 84,83%, di sini terlihat bahwa untuk belanja pegawai realisasinya 98,6%, belanja barang 94,34%, dan belanja barang hanya 63,37%. Dari grafik tersebut, kita lihat bagaimana perkembangan realisasi dari bulan ke bulan, dan di sini apa, kita lihat meskipun 84%

keuangan yang terserap namun secara fisik adalah 90,20%.

Jadi, yang berkontribusi dalam apa, rendahnya serapan itu adalah pada belanja modal yang nanti akan kami sampaikan bagaimana hal tersebut dapat terjadi. Kemudian, untuk realisasi jenis belanja untuk rupiah murni, rupiah murni di sini, kita lihat bahwa pagu 2,215 triliun, realisasi tercapai

(7)

95,81%. Kemudian, untuk pinjaman luar negeri di sini terlihat dari pagu 624,338 miliar, realisasinya hanya 45,66%.

Jadi, persoalannya adalah bagaimana kami untuk menyerap dari pinjaman luar negeri tersebut, yang berkontribusi terhadap rendahnya serapan, jadi ada di pinjaman luar negeri.

Kemudian, untuk pendapatan negara bukan pajak, ini juga ada hal di mana ternyata PNBP itu, jauh lebih rendah dari yang kami siapkan, sebelumnya di atas 100 miliar, ternyata sudah kami turunkan kami revisi menjadi 63,5 miliar, namun ternyata pihak yang akan membayar PNBP juga masih mohon keringanan.

Sehingga, permohonan itu karena sudah berjalannya waktu, hampir di ujung tahun, sehingga kami tidak berhasil melakukan revisi dari pendapatan PNBP. Artinya, kami masih menggunakan pagu sebelum direvisi, karena memang tidak bisa direvisi, sementara faktanya yang akan membayar tidak, tidak sanggup.

Sehingga di sini berkontribusi, apa pagu yang tidak berhasil direvisi ini berkontribusi cukup, cukup signifikan untuk perhitungan rendahnya serapan, karena ada over pembaginya ini, yang tidak berhasil direvisi. Dari grafik kita lihat bahwa di sini serapan yang rendah adalah di pinjaman luar negeri, yang separuh, dari yang ditargetkan kurang lebihnya.

Kemudian, mohon izin kami sampaikan untuk realisasi anggaran rupiah murni di sini terlihat bahwa untuk belanja pegawai 98,61%, belanja barang 95, 32%, belanja modal yang rupiah murni, jadi yang rupiah murni belanja modalnya sebetulnya 93,70%. Namun, di slide berikutnya, jadi meskipun rupiah murni itupun belanja modalnya ada kegiatan yang wanprestasi, karena penyedia tidak dapat melengkapi persyaratan bank garansi pada waktu yang telah ditentukan.

Jadi, masih serapan masih 93,7% artinya tetap tidak dapat 100%

karena ada persoalan tersebut, wanprestasi. Kemudian, untuk yang pinjaman luar negeri di sinilah permasalahannya, ini mohon izin kami sampaikan di slide berikutnya, permasalahan utama kami yang apa ya bagi kami sangat apa ya, yang sangat menguras energi, sangat memprihatinkan dan menguras energi kami mohon maaf dan nanti kami mohon arahan lanjut tentang hal ini.

Yaitu di sini, adanya kegiatan yang sama sekali tidak dapat diserap, karena adanya kendala negosiasi yang sangat berkepanjangan, terkait teknologi, teknologi yang harus kami, kami bangun tentunya, dengan memperhatikan semakin meningkatnya fenomena cuaca ekstrem maka teknologi itu harus benar-benar teknologi terkini, paling tidak masih bisa relevan untuk 10 tahun ke depan. Namun ternyata dari hasil kajian teknologi yang kami dapatkan bukanlah yang terkini.

Nah, sehingga hal itu cukup alot pembicaraannya dan berujung pada, kami belum sampai pada kesepakatan untuk mengeksekusi proses

(8)

pengadaan, masih berkutat di persoalan tersebut. Jadi, di sini serapannya adalah 0 (nol).

Kemudian, juga ada satu loan, yang terkait dengan Indonesia disaster resilience initiative projects, di sini serapannya baru 1,9% karena hal ini terkait dengan adanya perubahan mekanisme lelang yang ternyata cukup memakan waktu, nanti apa bila di perkenankan kami akan menjelaskan. Tapi, persoalan perubahan mekanisme lelang ini cukup menyerap waktu, dan perlu kami sampaikan bahwa BMKG dalam kegiatan loan ini bukan sebagai executing agency, jadi executing agency-nya adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana kami berada di bawah BNPB, sebagai impelementing agency.

Jadi, memang diskusinya menjadi cukup panjang begitu ya, tidak tidak langsung seperti loan yang sebelumnya, itu langsung dengan BMKG.

Kemudian, perlu kami sampaikan mohon izin kami melompat kegiatan yang tidak terserap di slide nomor 12 yang di situ, belanja modal di sini terlihat ada kontribusi 5,50%, kegiatan yang tidak terserap dari total 12,78%, atau maaf dari total 15,17% yang tidak terserap, yaitu yang terbesar, mohon maaf ini 5,50%.

Tadi, yang sudah saya sampaikan adanya belum sepaham sepakatnya tentang teknologi, dan kegiatan ini sebetulnya merupakan kegiatan multiyears jadi tidak terserap dapat di digulirkan di tahun berikutnya, saat ini kami masih berproses dalam negosiasi. Dan, leander atau AFD baru mengeluarkan 03 pada bulan Desember 2021, sehingga saat kami menyusun laporan ini belum dapat melanjutkan proses pengadaan barang dan jasa. Jadi, no objection letter dari leander pun karena negosiasi yang sangat panjang itu, akhirnya baru dikeluarkan di akhir Desember 2021, yang tentunya tidak dapat kami melakukan pengadaan barang dan jasa.

Kemudian, yang berikutnya adalah bobot atau kontribusi 5,07% ini adalah kegiatan IDRIB dengan Bank Dunia, yang multiyears yang saat ini sebetulnya sudah berjalan, hanya mundur. Jadi, sebetulnya tidak ada problem hanya prosesnya menjadi panjang, karena ada perubahan mekanisme.

Kemudian, untuk realisasi per-kegiatan di sini program dukungan manajemen adalah 98,66%. Mohon izin, kami tidak membacakan seluruhnya, jadi apa saja yang sudah terwujud tertera pada table. Kemudian, untuk program meteorologi dan geofisika di sini sebagian besar adalah di atas 90%, kecuali yang tadi yang sudah kami sampaikan, yaitu kegiatan yang terkait dengan loan tadi sehingga total serapan 84,83%.

Kemudian, monitoring pelaksanaan kegiatan, di sini kami sampaikan ada, ada revisi di point nomor 5 itu sebetulnya angkanya 1,90 mohon izin, dan serapan rupiahnya adalah 2,847 miliar, jadi ada angka 1,9. Namun, perlu kami sampaikan penyebab tidak terserapnya selain persoalan loan, yang tadi teknologinya belum sepakat, juga ada sebetulnya bukan tidak terserap, tapi ada perbedaan kurs, sehingga ada uang sisa akibat perbedaan kurs tersebut.

(9)

Kemudian juga ada penghematan atau efisiensi artinya HPS nya bisa ditekan dari yang dialokasikan sebelumnya, kemudian juga adanya, apa, beberapa perjalanan yang tidak dapat dilaksanakan, kegiatan tersebut memerlukan perjalanan dan tidak dapat dilaksanakan karena adanya PPKM.

Jadi, hal tersebutlah yang berperan dalam ketidak terserapan tadi, kemudian juga beberapa kegiatan multiyears yang bisa digulirkan di tahun berikutnya.

Jadi, selain perbedaan kurs juga karena efisiensi dan juga disebabkan keterbatasan sumber daya manusia di pabrikan karena ada pembatasan aktifitas di negara pabrikan. Jadi, ada kegiatan belanja modal yang dengan rupiah bukan loan, tetapi di situ akhirnya wanprestasi, artinya tidak dapat selesai pihak pabrikan menyampaikan bahwa pabriknya itu berhenti.

Jadi, alatnya yang dipesan, dibuat itu menjadi pas sudah saatnya harus dipasang belum jadi, dia mengatakan pegawainya apa, di liburkan karena ada persoalan pandemi di negaranya, sehingga ada satu kegiatan tersebut yang akhirnya tidak dapat selesai, namun kami proses sesuai dengan peraturan yang ada jadi wanprestasi.

Kemudian, di ini kami perlu sampaikan beberapa capaian prioritas nasional antara lain untuk instalasi alat monitoring kualitas udara, dan juga sekolah lapang iklim ini mengalami peningkatan saat tahun 2021 berhasil 67 lokasi, dengan 2.384 peserta, kemudian juga sekolah lapang cuaca nelayan juga mengalami peningkatan ada 40 lokasi dengan 4.000 peserta nanti grafiknya kami tunjukkan.

Dan list lokasi ada kami sampaikan dan dari sekolah lapang cuaca nelayan ini ada salah satu alumni yang apa yang berhasil menyelamatkan masyarakat satu desanya saat itu dari badai seroja, karena dia terus apa mencoba berhasil menggerakkan masyarakat sekitarnya untuk menyelamatkan diri dari badai setelah mendapatkan peringatan dini dari BMKG.

Jadi, Insya Allah, desa-desa yang sukses selamat sebagai dampak lanjut sekolah lapang cuaca nelayan dapat terus kami tambah jumlahnya kami perluas. Kemudian juga pemasangan seismograf, ini kami juga melakukan beberapa puluh seismograf yang terpasang, dan sekolah lapang cuaca geofisika.

Kemudian, untuk capaian tahun 2021 Badan Meteorologi BMKG, nah ini sesuai dengan arahan dari Komisi V untuk terus menggencarkan sosialisasi, literasi dan edukasi kepada masyarakat, dan pernah kami mendapat arahan dari Komisi V agar kalau perlu ada TV khusus tersendiri, alhamdulillah kami baru saja berhasil untuk melengkapi ada studio khusus untuk channel BMKG, agar kami lebih luas lagi dalam menggencarkan ini terlihat pada slide nomor 30.

(10)

Jadi, kami akan terus memasifkan upaya edukasi dan literasi tersebut, juga untuk pusat meteorologi penerbangan kami juga melakukan beberapa instalasi peralatan untuk meningkatkan akurasi dan kecepatan.

Nah, kemudian dibagian akhir, jadi tadi ada meteorologi klimatologi juga literasi iklim juga kami terus sampaikan, kami gencarkan, dari prediksi lanina ini alhamdulillah ini nampaknya masyarakat lebih siap dari tahun lalu meskipun tetap masih ada korban ya. Namun, kami lihat pemerintah daerah lebih sigap dalam mengantisipasi lebih koordinatif, meskipun ya masih harus terus kita tingkatkan. Untuk iklim demikian, dan kami terus menggelorakan kerja sama dengan berbagai pihak di masyarakat dan sekolah. Kemudian untuk gempa bumi kami juga memberi.

KETUA RAPAT:

Lebih dipersingkat ya bu karena ini sudah lebih dari 20 menit ini.

KEPALA BMKG (Prof. Ir. DWIKORITA KARNAWATI, M.Sc., Ph.D.):

Oh, mohon maaf, kami lanjut saja terima kasih itu tadi capaiannya.

Kemudian untuk program badan meteorologi dan geofisika untuk tahun 2020, di sini mohon izin komposisi jenis belanjanya yang terbesar 39% adalah belanja modal, kemudian belanja barang juga 37,63% yang kedua dan yang terakhir adalah belanja pegawai.

Nah, di sini kami belajar dari tahun 2021 tentunya akan mengawal lebih prudent dan cermat lagi dalam hal LOAN ini, agar tidak terjadi penundaan seperti yang terjadi tahun lalu. Kemudian, apa strateginya adalah untuk pengurangan risiko bencana dan dampak cuaca iklim ekstrem, kemudian juga untuk lebih menggencarkan pemanfaatan informasi cuaca, dan diseminasi literasi.

Nah, untuk itu kami apa memang mengalami banyak tantangan, namun kami akan lebih fokus lagi dalam hal ini meningkatkan di slide nomor 80 maaf nomor 79, Tahun 2022 yaitu untuk mempercepat informasi dan meningkatkan resolusi dan akurasi, kami menguatkan big data dan artifisial intelijen. Dan di slide nomor 80 yaitu kami berupaya untuk terutama mewujudkan ini akurasi, kecepatan, ketepatan dan tata kelola atau governance, karena governance ini juga sangat berpengaruh dalam hal untuk meningkatkan layanan. Nah jadi ini ada beberapa program pembangunan yang kami siapkan mohon izin itu ada di slide nomor 82, 83 dan seterusnya.

Dan mohon izin yang paling penting bagi kami yaitu peningkatan dari sekolah lapang dari grafik di slide halaman 90 terlihat grafik sekolah lapang iklim, sekolah lapang geofisika dan sekolah lapang cuaca nelayan terus meningkat, dan akhirnya perlu kami simpulkan atau kami tutup bahwa untuk di bagian penutup slide nomor 100 yaitu realisasi pelaksanaan anggaran BMKG mencapai 84,83% dengan realisasi fisik 90,2% dikarenakan penyerapan pinjaman luar negeri hanya terserap 45,66%. Sedang penyerapan rupiah murni adalah 95,81% dan PNBP 87,3%.

(11)

Nah, kemudian blokir pencadangan anggaran BMKG Tahun 2022 sebesar 115,87 M, dikenakan untuk belanja pegawai tunjangan kinerja ke-13 dan ke-14 antara lain itu. Dan, diharapkan pemotongan ini tidak mengganggu pencapaian kinerja BMKG. Lalu fokus program kerja BMKG Tahun 2022 sejalan dengan rencana, dengan Renstra tahun 2020-2024 diantaranya peningkatan akurasi informasi MKG, dan pemenuhan alutama, serta mempertahankan keberlangsungan peralatan operasional.

Demikian, yang kami sampaikan mohon maaf atas beberapa kekurangan ini kami mohon arahan lanjut dari Komisi V.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Terima kasih bu Kepala BMKG, lewat 5 menit dari target yang tadi ditargetkan.

KEPALA BMKG (Prof. Ir. DWIKORITA KARNAWATI, M.Sc., Ph.D.):

Mohon maaf Bapak, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Tidak apa-apa, pak Dewo tidak tersinggung kalau baru 5 menit, tolong dari Basarnas sekarang kalau bisa jangan melebihi dari 20 menit ya dipersingkat pak.

KEPALA BASARNAS (Marsekal Madya TNI HENRI ALFIANDI):

Terima kasih Pak Ketua.

Yang terhormat Ketua Komisi V DPR RI selaku Pimpinan rapat,

Yang saya hormati para Wakil Ketua, para Anggota Komisi V DPR RI, Yang saya hormati Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, serta

Hadirin yang berbahagia.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shalom,

Om swastiastu, Namo buddhaya, Salam kebajikan.

(12)

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkah rahmat dan ridhonya pada hari ini kita dapat mengikuti rapat di Komisi V baik secara langsung maupun virtual. Selanjutnya kami ucapkan terima kasih kepada Pimpinan dan Anggota Komisi V DPR atas kesempatan yang diberikan kepada Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) untuk menyampaikan penjelasan tentang evaluasi pelaksanaan APBN Tahun 2021 dan program kerja di Tahun 2022.

Bapak Ketua, para Wakil Ketua, dan para Anggota Komisi V yang saya hormati,

Pada bagian pertama, paparan ini kami akan menjelaskan evaluasi pelaksanaan APBN Basarnas Tahun Anggaran 2021 sesuai dengan surat Menteri Keuangan RI Nomor S903-MK/02/2020 tanggal 2 Oktober 2020 Basarnas mendapatkan pagu anggaran 2021 sebesar 2,6 triliun, pagu alokasi anggaran tersebut mengalami pemotongan sebesar 398,14 miliar sehingga pagu Basarnas setelah refocusing adalah sebesar 1,86 triliun yang terdiri dari program dukungan manajemen mengalami pemotongan sebesar 77,77 miliar sehingga menjadi 781,79 miliar, terealisasi sebesar 773,51 miliar atau 94,34%.

Program pencarian dan pertolongan pada kecelakaan dan bencana mengalami pemotongan sebesar 320,37 miliar, sehingga menjadi 1,08 triliun terealisasi sebesar 1,06 triliun atau 97,97%. Sehingga total realisasi anggaran Tahun Anggaran 2021 adalah 1,8 triliun atau 96,45%.

Adapun realisasi per-jenis belanja dengan rincian, realisasi belanja pegawai Rp430,38 miliar atau 94,53% hal ini antara lain karena tunkin THR dan gaji ke 13 tidak dapat dibayarkan karena kebijakan. Realisasi belanja barang sebesar 793,45 miliar atau 95,35% dan realisasi belanja modal 579,14 miliar atau sebesar 99,53%.

Beberapa kegiatan penting yang mengalami refocusing tersebut harus memperoleh prioritas untuk dianggarkan di Tahun 2022. Kegiatan tersebut antara lain pembangunan kapal penyelamat rescue boat panjang 66meter, yang semula multiyears 2020/2021 akan diselesaikan pada tahun anggaran 2022, dan masih memerlukan anggaran sebesar 60,92 miliar.

Pengadaan rescue drag 4 x 4 akan diselesaikan tahun anggaran 2022 masih memerlukan biaya sebesar 19,16 miliar. Pengembangan sistem pemandu signal marabahaya, cospas sarsat akan diselesaikan di Tahun 2022 dan masih memerlukan anggaran sebesar 50,11 miliar.

Pengembangan visualisasi kolaborasi streaming akan diselesaikan di Tahun Anggaran 2022 dan masih memeluk negara sebesar 1,56 miliar pengembangan aplikasi manajemen informasi akan diselesaikan di tahun anggaran 2022 dan masih memerlukan anggaran sebesar 2,53 miliar.

Ketua, wakil ketua dan para Anggota Komisi V yang saya hormati,

(13)

Rincian realisasi anggaran Basarnas per kegiatan tahun anggaran 2021, program pencarian pertolongan pada kecelakaan dan bencana adalah sebagai berikut.

Realisasi pengelolaan sarana dan prasarana SAR adalah 840,6 miliar atau 98,39% dengan output antara lain pengadaan rescue boat kelas 2 rigid, RIB ini biasanya kelas 1, RIB kelas 2 rubber boat, rapid deployment tactical tent dan merupakan kegiatan Tahun 2022 tertunda.

Pengadaan 1 unit helikopter, 20 unit rubber boat, peralatan urban SAR, pengadaan satu rescue boat kelas 1 dan empat rescue drag 4 x 4 yang tertunda dan akan diselesaikan di Tahun 2022. Pemilihan pemeliharaan helikopter 10 unit, kapal 75 unit, RIB 149 unit, rubber boat 620 unit, rescue car 345 unit dan rescue truck 280 unit.

Realisasi pengelolaan diklat pembinaan tenaga SAR adalah sebesar 41,28 miliar atau 97,14% dengan output antara lain penyusunan standar biaya keluar diklat, pelaksanaan diklat sebanyak 20 jenis diklat dengan jumlah peserta 1.088 orang. Secara detil kegiatan Pendidikan dan Pelatihan SAR yang sudah dilaksanakan antara lain proficiency instruktur bidang diklat SAR tingkat dasar, medical first responder, diklat peningkatan kompetensi awak kapal Basarnas, dan pelatihan luka dasar bagi para Basarnas sebagai ditampilkan di slide.

Realisasi pengelolaan operasi SAR adalah sebesar 53,02 miliar atau 92,19% dengan output antara lain bisa Bapak Ibu bisa lihat di, seperti di slide, demikian juga dengan pelaksanaan sebesar rincian pelaksanaan operasi SAR yaitu 2.264, operasi SAR di tahun 2021, meliputi empat operasi terhadap kecelakaan pesawat udara, 811 operasi SAR terhadap kecelakaan kapal, 164 SAR terhadap bencana, 1.253 operasi SAR terhadap kondisi membahayakan manusia, dan 42 operasi SAR terhadap kecelakaan penanganan khusus.

Realisasi pengolahan system komunikasi SAR adalah 96,5 miliar atau 98,56% dengan output antara lain, pengadaan 5 unit bus komunikasi sistem, pengembangan sistem pemantauan signal marabahaya, pemeliharaan peralatan komunikasi di kantor pusat di seluruh UPT Basarnya.

Realisasi pembinaan potensi SAR adalah sebesar 22,45 miliar atau 97,14% dengan output antara lain penyusunan standard biaya pengelolaan pelatihan potensi pelaksanaan SAR Goes to School, pelaksanaan pelatihan potensi sebanyak 2.546 orang, adapun rincian pelatihan SAR bisa dilihat di tampilan slide.

Kemudian keenam adalah realisasi pengelolaan kesiapsiagaan SAR sebesar 11,56 miliar atau 94,69% dengan output antara lain pelaksanaan siaga SAR khusus lebaran, persiapan siaga SAR khusus Nataru, serta siaga PON ke-20, penyelesaian SBK latihan dan siaga SAR. Latihan SAR sebanyak 15 kali latihan dengan total peserta sebanyak 712 orang yang meliputi penyelamatan khusus di jalan tol, latihan bersama Australia dan Indonesia, bencana alam, gempa bumi, penanganan pesawat jatuh,

(14)

penanganan kapal tenggelam, terbakar, dan latihan penanganan khusus PON, serta kecelakaan di jalan sebagaimana ditampilkan di dalam slide.

Bapak Ketua, wakil ketua dan para Anggota Komisi V yang saya hormati, Realisasi rincian anggaran Basarnas perlu per-kegiatan tahun 2021, program dukungan manajemen adalah sebagai berikut:

Realisasi penyusunan rencana program evaluasi, pelaporan dan kerjasama sebesar 7,33 miliar atau 96,78% dengan output antara lain, pelaksanaan penyusunan perencanaan dan anggaran, monitoring evaluasi, pelaksanaan kerjasama dengan hasil tiga kerjasama.

Delapan, realisasi penyusunan produk hukum organisasi tata laksana dan pengelolaan kepegawaian sebesar 12,99 miliar atau 75,18% dengan output antara lain penyusunan 7 peraturan perundang-undangan, pelaksanaan seleksi CPNS sebanyak 323 orang, evaluasi reformasi birokrasi.

Sembilan, realisasi pengelolaan administrasi keuangan, perlengkapan kehumasan dan protokol dan sebesar 626,36 miliar atau 94,34% dengan output antara lain pengelolaan keuangan, kearsipan, humas dan protokol.

Sepuluh, realisasi pengelolaan sarana prasarana aparatur adalah sebesar 57,25 miliar atau 97,41% dengan output antara lain penataan ruang kantor pusat Basarnas, pengadaan meubeleir, sarana central file dan peralatan pendukung kehumasan.

Sebelas, realisasi pengelolaan data dan sistem informasi adalah sebesar 28,94 miliar atau 97,93% dengan output antara lain optimalisasi jaringan Basarnas, pengembangan visualisasi kolaborasi streaming, sistem pengamatan protokol, pengambilan pengembangan aplikasi, manajemen informasi dan informasi sistem display.

Dua belas, realisasi pengawasan dan pembinaan internal sebesar 4,62 miliar atau 99,08% dengan output antara lain audit review dan peningkatan kompetensi APIP.

Adapun rincian belanja program dukungan manajemen sebagaimana ditampilkan pada slide di atas.

Bapak Ketua, Wakil Ketua dan para Anggota Komisi V yang saya hormati,

Permasalahan yang dihadapi Basarnas pada tahun 2021 antara lain terbatasnya anggaran yang mengakibatkan belum terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana SAR, serta penundaan beberapa kegiatan, hal ini disebabkan oleh kecilnya pagu anggaran dan refocusing anggaran.

Pelaksanaan kegiatan yang kurang optimal karena covid-19, bapak-bapak mungkin bisa lihat di slide waktu kita terbatas.

(15)

Kemudian dari hal tersebut meskipun ada pandemic covid 19 di tahun 2021 Basarnas mampu melaksanakan operasi SAR sebanyak 2.265 operasi SAR. Capaian lain Basarnas diberbagai bidang meliputi SAKIP dengan nilai 72,27, reformasi birokrasi dengan nilai 76,85, kmatangan APIP mencapai level 3, indeks audit kearsipan dengan nilai 78,91 atau sangat baik ini pak, merid sistem kepegawaian dengan nilai 262,5 kabar kenaikannya, sistem monitoring evaluasi kinerja terpadu atau smart dengan nilai 93,8. Opini WTP atas laporan keuangan Basarnas tahun 2020 diterima dari BPK. Respon times menjadi IKU Basarnas sebesar 18,7 menit, waktu tersebut lebih cepat dari target Renstra yaitu 27 menit.

Sistem pelaporan berbasis elektronik atau SPBE dengan nilai 2,75 atau baik, indeks keterbukaan informasi publik (KIP) dengan nilai 89,90.

Kemudian, langsung skip saja Pak, ini karena waktu dan yang disediakan.

Bapak Ketua, para Wakil Ketua dan Anggota Komisi V yang saya hormati.

Selanjutnya, kami sampaikan rincian anggaran Basarnas kegiatan di Tahun 2022 setelah mengalami otomatic adjustment penjelasan pada program pencarian dan pertolongan pada kecelakaan dan bencana beserta kegiatan dan outputnya adalah sebagai berikut.

1. Sarana dan prasarana dengan anggaran sebesar 679,43 miliar dengan 7 output yaitu perencanaan sarana dan prasarana SAR dengan anggaran sebesar 1,3 miliar yang akan, yang digunakan sebagai, digunakan antara lain untuk kajian pengembangan sarana, pedoman pengujian peralatan, penyusunan spesifikasi teknis, penyusunan manual manajemen perawatan dan keselamatan kapal.

2. Kemudian dukungan sarpras SAR dengan anggaran sebesar 1,35 miliar

3. Pengadaan sarana dan peralatan SAR dengan anggaran sebesar 211 miliar, yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan pengadaan 1 unit rescue boat panjang 66 meter dan seterusnya bisa dilihat di dalam tampilan slide.

Demikian Pak kira-kira yang bisa saya sampaikan kepada bapak, laporan kami tentang capaian pelaksanaan tahun anggaran 2021 dan banyak hal lagi yang belum bisa kita sampaikan, namun di dalam di dalam laporan kami telah secara rinci garis besar kita sampaikan kepada Bapak, Ibu sekalian hadirin yang hadir.

Kami akan menyampaikan bahwa kegiatan-kegiatan prioritas Basarnas antara lain adalah untuk penyelenggaraan operasi SAR di seluruh NKRI, penyelenggaraan siaga SAR selama 24 jam, latihan SAR nasional dan internasional, pemenuhan sarana prasarana SAR, pemenuhan peralatan sistem komunikasi, pemeliharaan sarpras SAR, pemeliharaan peralatan sistem komunikasi, pelaksanaan-pelaksanaan pelatihan potensi SAR

(16)

sebanyak 5.000 orang, target yang akan kami capai pada tahun ini, dan peningkatan kompetensi tenaga SAR.

Bapak Ketua, Wakil Ketua dan para Anggota Komisi V yang saya hormati.

Demikianlah, kiranya penjelasan yang dapat kami sampaikan mengenai evaluasi APBN tahun anggaran 2021 dan program kerja Tahun 2022. Kami ucapkan terima kasih atas perhatian dan dukungan Pimpinan dan seluruh Anggota Komisi V DPR RI kepada Basarnas selama ini, semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu menganugerahkan kesehatan dan perlindungan kepada kita semua Aamiin.

Sekian terima kasih.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Wa’alaikumussalam, Warahmatullahi Wabarakatuh.

Terima kasih dari Bapak Kepala BNPB/Basarnas tepat waktu pak masih sisa satu menit justru, sekarang tiba saatnya pertanyaan dan pendalaman dari yang terhormat Anggota Komisi V. Sesuai catatan yang ada di sini adalah yang pertama pak Tamanuri dari fraksi Nasdem silakan pak.

F-P NASDEM (Drs. H. TAMANURI, M.M.):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yang saya hormati pak Pimpinan, Yang terhormat Ibu Kepala BMKG,

Yang terhormat Bapak Kepala BNPB atau Basarnas serta seluruh jajaran yang hadir hari ini.

Serta yang saya muliakan rekan-rekan para Anggota Dewan.

Yang pertama-tama adalah memang kita dalam tahun ini sungguh banyak cobaan-cobaan yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kita baik gunung meletus, baik gempa, banjir kemudian angin puting beliung, dan lain sebagainya. Ini semuanya adalah merupakan satu cobaan pada perangkat-perangkat kita pada dan juga sumber daya manusia kita. Apakah mampu mengendalikan ini? Bukan menahannya, nggak bisa tertahan itu ya, angin puting beliung atau gempa segala macam tapi mengendalikannya.

Tapi disamping itu kami agak kecewa sedikit dari Ibu Kepala BMKG bahwa total anggaran 2021 sebanyak 2,9 triliun, belanja modal hanya mencapai 69,37%. Kami sebetulnya tidak tahu persis di mana atau apa yang terjadi di situ? Seyogyanya ini kalau ada hal serupa ini, ibu dapat lebih menstres yang 69% ini menjelaskan kepada kami, di mana duduk

(17)

persoalannya maka nggak sampai seperti apa yang belanja pegawai dan belanja barang. Jadi, nggak perlu semuanya dijelaskan, yang ditanya saja ibu harus bisa menjelaskan apa-apa di situ.

Selain itu kita lihat bahwa realisasi per jenis belanja pinjaman luar negeri itu sampai tidak ada realisasi, PNBP juga tidak ada realisasi yang menurut tadi Kalau saya tidak salah dengar bawah ini karena tawar-menawar seperti BNPB. Sehingga ada keputusan sudah bulan 12 yang tidak mungkin lagi ada revisi. Hal serupa ini di seyogyanya tidak perlu terjadi lagi di kemudian hari, kenapa sampai terjadi sedemikian rupa? Sehingga mengakibatkan dana kita tidak bisa terserap, lain halnya kalau kita bandingkan tadi dengan bapak kepala BNPB, di mana beliau bisa geser menjadi multiyears, jadi nggak ada masalah punya ibu nggak, tidak seperti itu, habis di situ hilang cuma-cuma.

Sedang kita-kita mencari dana ini bukannya gampang apa, ibu harus berkomunikasi dengan luar negeri segala macam, segala macam, kemudian tentu dengan terang-terangan PNBP-nya, tapi yang hasilnya tidak memuaskan. Nah, seperti sini realisasi anggaran pinjaman luar negeri, apa nih MMS-2, 159 juta ya ini nol ya nol persen juga, kemudian FIR, 1 miliar, maksudnya juga nol persen.

Yang mana, tadi disampaikan bahwa karena teknologi yang kita dapat bukan teknologi yang terkini, lho kenapa bisa begitu? Kita kan mencari teknologi yang paling kalau bisa yang belum ada orang lain yang bikin kita sudah ada. Ini bukan justru yang kita beli adalah teknologi yang sudah lewat, yang sudah tidak mempunyai kekuatan lagi atau tidak bisa menjadi satu ukuran lagi dengan kejadian-kejadian yang kita hadapi.

Ini juga di sini kegiatan tidak terserap, pengadaan APBD-APB 355 juta, tidak terserap nol, kemudian penyelesaian pelaksanaan putusan Bani, pembangunan apa nih? Aus dan sensor kualitas laut tahun anggaran 2018 nol juga itu.

Kemudian kegiatan tidak terserap juga mengenai MMS-2, inscal nol (0) realisasinya, mode PIR mitior penerbangan nol. Kemudian juga saya berterima kasih di sini ada di flot di Lampung ada tiga lokasi untuk 96 peserta mengenai prioritas nasional sekolah lapang iklim. Nah ini bapak, ibu baik dia BNPB ataupun Ibu Kepala BMKG saya harapkan, bahwa kita ngundang orang-orang ini yang dari pedesaan yang kita bawa kemana, dikumpulkan supaya ada uang transport, supaya ada uang saku, jangan transportnya nggak ada, uang saku nggak ada hanya ditanggung makan mereka itu meninggalkan tempat itu, setiap harinya kalau kerja mereka tuh 100 ribu, mereka sudah meninggalkan tempat.

Sampai di tempat kita uang saku tidak ada, uang transport nggak ada hanya ditanggung makan, kalau soal makan Bu, Pak nggak usah ada program ini. Ini kan nyusahkan masyarakat sekali dia ngikut dia karena dia takut, kedua kali tidak mau lagi tuh nah kita yang rugi.

(18)

Nah, oleh karena itu harapan saya adalah di masa yang akan datang pengalaman-pengalaman 2021 ini baik Ibu kepala BMKG ataupun Bapak Kepala BNPB supaya betul-betul menjadi suatu pelajaran. Walaupun di dalam kertas ini, karena saya tidak tahu secara persis apa itu dilaksanakan Kepala BNPB, sudah hampir memenuhi persyaratan yang diharapkan di atas 90%

semua. Harapan kita yang akan datang adalah supaya ini kita bisa lebih ditingkatkan lagi, terima kasih.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Wa’alaikumussalam Waramatullahi Wabarakatuh.

Terima kasih Pak Tamanuri, saya tidak pernah saya menanggapi kalau anggota bertanya menyampaikan tanggapannya. Tapi kali ini saya ingin menyampaikan Pak, ada benarnya juga itu harus menjadi perhatian tentang masyarakat yang diundang untuk dilatih, mereka jangan sampai kosong, karena mereka meninggalkan keluarga benar itu. Jadi harus diperhitungkan bahwa pendapatan sehari mereka itu berapa? Sehingga mereka pulang tidak menyusahkan keluarganya.

Terima kasih pak Tamanuri itu bagus sekali itu Pak, kan saya juga dapatkan data lapangan seperti itu.

Baik berikutnya Pak Sudewo, silakan Pak Sudewo.

F-P. GERINDRA (SUDEWO, S.T., M.T.):

Terima kasih Pimpinan.

Langsung saja, BMKG itu kinerjanya bisa menjadi akurat berkualitas sesuai dengan harapan banyak orang itu terkait dengan dua faktor. Yang pertama adalah teknologi yang kedua sumber daya manusia. Kalau teknologi yang dipakai oleh BMKG itu tidak bagus, tidak canggih, tidak akurat itu pasti menghasilkan bacaan yang tidak akurat juga. Kalau teknologinya canggih, tetapi sumber daya manusianya tidak memadai itu percuma juga.

Jadi, BMKG itu erat kaitannya dengan dua faktor ini, jadi kalau ibu tadi mengatakan bahwa ternyata peralatannya itu tidak canggih untuk membaca data sampai 10 tahun kedepan saja tidak bisa, ya kalau begitu lebih baik dibatalkan saja begitu ya. Saya setuju itu tapi juga tidak sependapat karena tentu pilihan itu tidak hanya dari satu produk saja, yang punya teknologi canggih itu tidak hanya satu pabrikan saja, itu pasti banyak pilihan.

Jadi, itu bisa dikatakan benar tapi tidak tepat, mengingat alat tersebut harus segera dibelanjakan, harus segera dibeli. Oleh karena apa? Ini sangat tergantung terhadap kinerja ibu BMKG yang bisa menghadirkan bacaan yang akurat terhadap mitigasi-mitigasi. Pemerintah sudah dengan susah payah sampai memberikan satu persetujuan belanja tersebut dengan pinjaman luar

(19)

negeri itu melalui proses kajian yang panjang tentu, karena melibatkan institusi Bappenas, Kementerian Keuangan sampai belanja teknologi tersebut disetujui.

Tetapi, setelah itu disetujui, ternyata di BMKG tidak secara maksimal memanfaatkan momentum ini. Jadi,dengan alasan bahwa teknologinya kurang sependapat, tidak terjadi deal dengan kurs rupiah dan segala macam itu tidak merupakan alasan yang bisa diterima. Mestinya BMKG bekerja secara maksimal supaya momentum ini dimanfaatkan sebesar-besarnya, belanja peralatan dengan teknologi yang canggih itu harus bisa direalisasikan, mengingat alat tersebut sangat sangat dibutuhkan.

Sangat sangat dibutuhkan. 80 unit dengan 1 unit 150 miliar, uang sudah di siapkan, karena pinjaman luar negeri itu uang berarti sudah tersedia, kebijakan dari kementerian keuangan, dari Bappenas itu sudah diberi ruang kepada BMKG, tapi kalau ini tidak dibelanjakan, tidak dimanfaatkan segera, terjadi keterlambatan belanja alat.

Ini berarti akan menimbulkan satu risiko yang besar. Salah mitigasi resikonya sangat besar, apalagi alat tersebut di bisa digunakan untuk monitoring gempa dan tsunami, gempa dan tsunami itu adalah kategori bencana tingkat tinggi, yang punya potensi menimbulkan korban jiwa yang sangat besar. Jadi tidak bisa dengan alasan apapun belanja alat ini menjadi tertunda, menjadi tertunda perintah itu sampai harus hutang terhadap negara lain. Tapi mengapa ini momentum ini tidak diimbangi dengan satu kinerja yang sangat besar.

Jadi BMKG tidak boleh di Tahun 2022 ini terjadi kembali seperti di tahun 2021, dengan alasan apapun tidak bisa diterima kalau belanja ini tertunda. Kita tidak tahu apa yang terjadi di Semeru di Lumajang, mungkin dengan teknologi yang sudah canggih, resiko dari pada bencana tersebut bisa diminimalisir, karena mitigasinya bisa lebih akurat.

Jadi BMKG ini erat kaitannya kesuksesan BMKG itu terhadap dua hal.

Yaitu teknologi yang canggih dan sumber daya manusianya, kalau teknologi yang canggih sudah disediakan uang oleh Negara dengan susah payah pinjam keluar negeri ini tidak ya dengan kesadarannya, dengan kesadarannya bahwa BMKG sengaja, sengaja membuat buruknya performent BMKG itu sendiri dan dengan sengaja menimbulkan dampak yang lebih besar itu dibiarkan, gitu ya jadi saya minta kepada Kepala BMKG serius terhadap hal ini.

Di kementerian yang lain pinjaman luar negeri itu sangat besar, sangat banyak dan variabelnya untuk mengimplementasikan pinjaman luar negeri itu sangat banyak, tidak sekedar belanja barang, kalau belanja barang itu tentu lebih simple. Di Kementerian Ketahanan, Kementerian Pertahanan dan lain- lain belanja barang tidak hanya cukup dengan 2 triliun, 3 triliun, puluhan triliun di institusi yang lain, tapi bisa ditunaikan dengan baik. Teknologinya canggih, komparatifnya itu banyak dan bisa menemukan pilihan yang lebih bagus.

(20)

Tapi mengapa BMKG ini terjadi ya? Jadi, saya minta di Tahun 2022, 80 unit per unitnya 150 miliar, itu harus semuanya bisa terserap itu yang saya minta kepada BMKG.

Kemudian, kepada Basarnas saya tidak mengikuti sama sekali apa yang disampaikan ke Pak, oleh Basarnas dan saya tidak menarik itu untuk diikuti. Mengapa tidak menarik? Karena sudah pasti yang disampaikan itu terserap 90% lebih, dari tahun ketahun Basarnas mesti selalu begitu. Yang akan saya dalami dari Basarnas itu adalah bagaimana cara belanjanya Basarnas selama ini?

Saya tidak akan mendalami dalam forum sekarang ini, tetapi dengan cara saya secara pribadi, baik secara pribadi orang warga negara Indonesia, maupun sebagai Anggota Komisi V, saya akan sisir satu persatu setiap item yang dibelanjakan oleh Basarnas ini, ini ada satu hal yang menimbulkan pertanyaan besar atau tidak ya?

Suatu saat akan saya munculkan, akan saya sajikan datanya, bagaimana belanja kapal, bagaimana belanja heli dan barang-barang yang lain itu dengan cara saya, sehingga kami sebagai Anggota Komisi V ini tidak hanya dipuaskan dengan sekian persen, sekian persen, tapi secara detail itu betul-betul menimbulkan suatu pertanyaan besar ataukah memang sudah sesuai dengan spek, sesuai dengan prosedur, sesuai dengan segala hal yang ditentukan dalam pengadaan barang dan jasa.

Saya kira itu saja Pimpinan.

KETUA RAPAT:

Terima kasih pak Sudewo, yang berikutnya Pak Joni Alen, silakan Pak.

F-PD (drh. JHONNI ALLEN MARBUN, M.M.):

Terima kasih Pimpinan.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pertama BMKG dan Basarnas kami memberikan apresiasi cukup detail, tadi akan mungkin agak lebih tajam saya, pinjaman luar negeri itu, kalau sudah ada dipakai enggak dipakai itunya jalan terus rate-nya, bunganya jalan terus oke nanti Bu.

Saya mohon penjelasan ibu, apakah waktu pinjaman luar negeri itu kan tidak terikat dengan bahwa kita meminjam uang dari Si A, harus membeli barang si A kan? Tidak kan? Atau memang harus barang itu, ya kalau begitu ya jangan mau dong, ya jangan mau dong, kalau keterikatannya harus membeli. Kita minjem sama dengan dulu katakanlah pesawat dari China yang kita batalkan, meminjam uang dari China tanpa bunga tapi barangnya dari China, ya teknologinya dari China saja kita tidak pakai ya jangan mau dong kalau itu persyaratannya.

(21)

Jelas jangan mau, pinjam uang, ya pinjam uang, jangan mau kalau ada keterkaitannya dengan beli barang dari negara peminjam, itu nggak boleh itu pun sudah lama kita bicarakan tuh, kalau itu memang, jangan. Itu menjadi tidak ada keleluasaan kita untuk melihat perkembangan teknologi. Jadi, saya tegas itu, jadi ibu juga sebagai katakanlah user dengan katakanlah pengambil kebijakan dalam koordinasi dengan kedutaan harus tegas itu, itu dulu sudah pernah kita bicarakan itu, karena pesawat China dulu yang kecelakaan sampai sekarang nggak tuntas itu, sehingga ada berapa orang yang masuk penjara itu.

Ya, jadi tidak ada hubungannya walaupun non, apa tidak berbunga tapi belanja barang dari negara itu ya jangan mau. Itu namanya apa lagi, kecuali kalau memang barang itu sudah teruji secara internasional, sudah go public kan gitu. Tapi kalau untuk barang-barang baru itu bukan ya jangan dong, saya kira itu harus tegas, ya itu harus tegas.

Jadi apa karena jalan apanya bunganya jalan terus itu, itu ininya luar negeri ini, itu satu. Nah, kalau itu yang terjadi ya apa, saya ya jangan boleh kejadian, tapi kalau itu tidak, misalnya barang lain pertanyaan, lho kok ibu kan sudah tahu dong kalau memang tidak terikat dengan belanja barang, ibu kan bisa nyari. Masa kan ibu melakukan satu program itu kan tahun ini kan bukan tahun ini, sekian tahun sebelumnya, mengkaji, iya dong, jadi tidak mungkin terjadi itu satu.

Nah, beda lagi dengan dari tadi apa itu? Negara mana tadi itu yang akibat apa, barangnya tidak terjadi, negara apa tadi itu? Prancis yang tidak akibat tsunami pabriknya tidak ini tadi, pabriknya tutup, yang dari rupiah murni, rupiah murni. Kan tidak ada terserap ini, karena rupiah murni karena apa namanya covid 19 pabriknya tutup tadi penjelasan ibu.

Kok Amerika, tadi bukan Amerika saya dengar, negara apa tadi itu negara Katolik apa? Negara pabriknya tutup akibat tsunami, akibat apa?

Akibat covid iya oke, artinya Bu, artinya Bu, harus apalagi kan karena begini BMKG ini peralatan-peralatan, peralatan-peralatan BMKG ini adalah teknologi yang sangat dibutuhkan dalam mitigasi dalam antisipasi secara dini dalam bencana alam yang sekarang perubahan cuaca.

Dan, ini perencanaan itu harus betul-betul matang, jadi harus ada alternatif solusi apabila, apalagi itu dari rupiah murni, tentunya ada proses- proses apa namanya administrasinya, error tender satu peringatan satu yang keluar. Apalagi, misalnya kalau kontraktornya yang tidak kapabel saya minta itu tidak menjadi catatan, tadi misalnya apa wanprestasi karena tidak punya apa base asuransi, bank garansi, perusahaan apa itu?

Padahal ibu kan puluhan miliar, ratusan miliar masak bank garansi artinya ini perusahaan odong-odong ini. Siapa ini, kok bisa masuk, kok ibu, kok bisa anda respon? Dari mana pun itu, enggak bener dong. Masa bank garansi tidak punya terus ke tender puluhan miliar, ratusan miliar gimana sih?

Perusahaan odong-odong dari mana itu? Ini coret ini nggak ada urusan gitu

(22)

lho, ya boleh ngertilah saya tapi jangan, yang sesuai dengan prosedurlah, yang lain ngerti lah saya, saya paham betul itu tapi jangan yang begitu-begitu menyulitkan kita di dalam membangun bangsa dan negara, ini khususnya mitigasi daripada bencana.

Ini saya minta tegas ini, saya terus terang saja, saya apresiasi ibu bisa agak menjelaskan walaupun ya dengan gayanya slow tapi tajam, ya di situ saya memberikan apresiasi tajam. Tapi dengan demikian jangan hanya tajam, tapi juga tajam di dalam mengambil keputusan ke depan tidak usah takut gitu ya. Iya tolak itu masa bank garansi nggak punya, dan nggak boleh bahkan kalau perlu umumkan ini perusahaan ini termasuk orangnya ya.

Mungkin begitu saya kira supaya kemitraan-kemitraan yang lain juga kita juga tidak masuk, harus gitu dong, sekarang harus tegas ya.

Bahwa saling katakanlah kompetisi orang kenal saling bantu ya silakan wajar, tetapi tidak melanggar daripada SOP-SOP yang normative. Tidak usah munafiklah ya, karena kenal sayang itu wajar, tapi jangan karena kenal malah lagi rusak, karena kenal sayang optimal dan jadi malah bagus, justru karena kenal itu malah tambah bagus, bukan malah nambah rusak tidak usah munafik karena saya sudah ada di situ ya tidak usah munafik, saya tidak suka manusia-manusia munafik, iya to.

Tapi justru karena kenal kebaikan itulah semakin saling membantu dan saling baik dalam keputusan membuat satu kebanggaan kita untuk negara kita. Untunglah ya itu wajar, nggak ada perusahaan tidak untung tapi bukan barang abal-abal, ya itu ibu harus tegas menurut saya itu.

Saya kira, untuk ke depan saya mohon tidak lagi terjadi dengan ketegasan ibu, yang kedua tolong juga supaya ada gambaran PNBP itu jenisnya apa? Yang saya tahu PNBP itu harus dibayar dulu kan, misalnya SIN itu dibayar dulu, apa misalnya tolong dijelaskan, Kenapa? Di mana itu? PNBP itu apa saja sih? Di mana kendalanya kok nggak bisa tercapai? Kok bayarnya belakangan? Kenapa jenisnya kayak apa? Dari tadi tambahan-tambahan apa namanya penjelasan dari ibu, yang lain saya cukup jelas dan saya kira cukup bagus penjelasan.

Basarnas, saya cuma simpel saja ya, penjelasannya ya karena memang demikian, saya mau tanya pengembangan sistem pemantauan signal marabahaya cospas sarsat, ini dilakukan di 2021, dan dilanjutkan di 2022 kurang lebih sekitar 60 miliar sekian.

Apa hubungannya ini sistem ini dengan apa yang, karena apa kerjaan bapak ini sangat erat kaitannya dengan BMKG. Ya, artinya dalam konteks sistem teknologi apa peringatan dini atau informasi signal marabahaya, coba tolong dijelaskan apa ini kira-kira? Dan tidak apa itu, apakah itu, itu tidak bisa diinikan oleh teknologi yang sudah ada di BMKG atau dibaca, atau memang ini spesifik? Nah, sebelumnya ini kaya apa?

Sebelum ada ini kaya apa Basarnas ini dengan yang saya tahu kan latihan, persiapan, peralatan teknis, ya buat apa namanya, kapal, udara, laut

(23)

everything itu saya kira. Tapi, kalau sistem saya kira banyakan dari tadi BMKG, karena kan ini kan pertama kecelakaan-kecelakaan ini kan akibat daripada persoalan-persoalan daripada perubahan cuaca atau apa namanya, ya teknologi yang bisa memberikan inovasi secara ini.

Jadi, ini tolong apa secara spesifik fungsinya ini, karena gambarnya juga signal-signalnya juga hampir sama dengan signal-signal yang dari peralatan-peralatan BMKG ini, itu saja yang saya Tanya supaya nanti sinkron ini BMKG juga bisa melihat ini, kayak apa sinergitas ini? Dan sebelumnya ini ada bapak belum berfungsi, sudah berfungsi atau saya belum tahu kenapa belum dibayar lunas mungkin 2022 ya.

Nah, artinya yang begini-begini supaya sinergi dengan instansi lain dalam melihat sinergitas daripada pekerjaan apa namanya itu antar lembaga atau badan departemen yang lain.

Saya kira itu saja saya yang Basarnas disamping yang lain-lain bahkan apa memelihara itu adalah wajar saja, normatif lah ya, kita ini juga ya kalau nggak di pelihara tidak sehat itu. Baju kita juga nggak kita pelihara kan ndak bisa dipakai kan apalagi peralatan ya. Ya saya kira pemeliharaan, pengadaan saya kira sama sarpras sudah jelaslah itu, saya kira itu kira-kira yang dapat saya sampaikan mohon maaf ya, terima kasih.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Terima kasih Pak Jhonni Allen, pak Muhammad Aras silakan Pak

F-PPP (Dr. H. MUH ARAS, S.Pd., M.M.):

Bissmillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum waramatullahi wabarakatuh.

Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua.

Yang terhormat Pimpinan dan kawan-kawan Komisi V, Yang saya hormati Ibu Kepala BMKG, Pak Kabasarnas, dan Seluruh hadirin yang berbahagia.

Tentu sudah banyak disampaikan oleh teman-teman tadi terkait dengan beberapa permasalahan, saya sedikit ingin menyinggung sedikit terkait dengan program-program dari BMKG. Ini serapan yang tidak terlalu maksimal tentu menimbulkan pertanyaan besar buat kita, karena anggaran sudah kecil dan harus dimaksimalkan, sementara negara kita adalah negara yang memang negara yang tiada hari tanpa bencana.

Oleh karenanya tentu perlu deteksi dini yang dilakukan oleh BMKG, sehingga seluruh stakeholder terkait dalam hal penanggulangan bencana ini

(24)

juga bisa terdeteksi secara cepat. Olehnya itu tentu ke depan kita harapkan bahwa BMKG betul-betul menghadirkan kerja kerja yang efektif yang efisien, sehingga seluruh peralatan-peralatan yang dibutuhkan memang perlu untuk di siap siagakan, paling tidak bahwa kemajuan teknologi kita, ketinggalan.

Apa yang disampaikan ke Pak Dewo tadi bahwa benar bahwa kalau bagaimanapun teknologinya kalau SDM-nya kita kurang juga tidak bisa maksimal, begitu juga sebaliknya bagaimanapun hebatnya SDM kita tapi kalau teknologinya tidak mempuni untuk memberikan informasi yang akurat terhadap suatu gejala bencana, tentu juga tidak bisa maksimal. Oleh karenanya tentu kita sama-sama bisa melakukan hal-hal yang paling tidak untuk kepentingan pencegahan bencana yang ada di negeri kita.

Dan yang kedua tentu kegiatan-kegiatan di daerah perlu juga sosialisasi dari teman-teman BMKG, sehingga kegiatan-kegiatan daerah juga perlu ada pengawasan-pengawasan dari teman-teman Komisi V. Sampai saat ini kegiatan-kegiatan yang kami lakukan hanya satu yakni sekolah nelayan yang ada di daerah, itu pun tempatnya sangat terbatas, lalu kemudian juga disampaikan oleh Tamanuri juga ya seperti itu.

Sehingga apa namanya animo masyarakat untuk bisa berpartisipasi dalam hal ikut mensukseskan program-program BMKG juga tidak terlalu begitu besar. Sehingga ke depan kita harapkan bahwa BMKG ini mengkomunikasikan program-programnya di semua daerah, secara detail, jadi diharapkan dari Kepala BMKG yang ada di provinsi dan kabupaten tentu bersinergi dengan teman-teman Komisi V, sehingga paling tidak bahwa kegiatan-kegiatan yang terlaksana dilapangan itu kita bisa tahu program ada saja dan seperti apa? Jadi fungsi pengawasan juga teman-teman bisa jalan.

Yang selanjutnya adalah untuk Basarnas ya, mudah-mudahan Basarnas tidak terlalu banyak kegiatannya berarti bahwa negeri kita aman dari bencana. Tetapi yang pasti bahwa kegiatan-kegiatan yang tentu dilakukan di lapangan juga harus berinteraksi dengan kita-kita teman-teman di Komisi V, terutama di Sulawesi Selatan misalnya.

Kantor Basarnas yang ada I Sulawesi Selatan itu sangat terbatas, nah ini ada di Makassar dan ada di hampir di Sulawesi Barat sana, sehingga di daerah tengah tidak ada. Sehingga pada saat terjadi sesuatu ini agak sulit untuk melakukan tindakan secara cepat. Kemarin terjadi banjir di kabupaten Soppeng, Wajo dan Bone kemudian Baru, sementara petugas-petugas lapangan terlambat untuk hadir di tempat, akibatnya karena lokasinya agak jauh.

Paling tidak bahwa di daerah Pare-Pare atau Baru itu ada kantor Basarnas, sehingga bisa semua cepat terkomunikasikan, sehingga tidak teman-teman di lapangan, tidak kalang kabut untuk bisa mendatangkan teman-teman dari Basarnas, ya paling tidak bahwa dari seluruh LSM atau lembaga bantuan yang diharapkan hanya Basarnas yang memiliki perlengkapan yang cukup maksimal.

(25)

Kemudian terkait juga dengan pelatihan yang dilakukan oleh teman- teman Basarnas, ini kemarin juga di lapangan dilatih cukup berat ternyata, ya banyak teman-teman yang kami dorong untuk latihan juga, ya baru 2 hari sudah mau minggat katanya. Ya karena ndak mampu ikuti seluruh kegiatan- kegiatan yang cukup berat. Dan ia tentu juga tadi disampaikan oleh teman- teman uang sakunya juga sangat terbatas, sehingga mereka-mereka ini kapok untuk ikut. Dan kita minta untuk ikut berikutnya atau program lanjutan atau yang lainnya juga supaya tidak terlalu bersemangat.

Oleh karenanya ya kedepan paling tidak harus diperhitungkan sehingga tenaga-tenaga lapangan kita betul-betul banyak terjadi, ya banyak yang ada di setiap daerah. Sehingga pada terjadi setiap peristiwa di suatu tempat ada jaringan kita yang tentu bisa kita manfaatkan di daerah itu. Yang terakhir untuk ke depan berharap bahwa sinergitas antara mitra dengan teman-teman Komisi V itu betul-betul terjalin dengan baik, sehingga apa yang menjadi program kita secara bersama-sama insya Allah bisa terlaksana dengan secara maksimal. Barangkali itu pak Ketua terima kasih.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh KETUA RAPAT:

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Terima kasih Pak Aras, berikutnya pak Hamka.

F-PG (Drs. HAMKA B KADY, M.S.):

Bismillahirohmanirohim.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pimpinan dan seluruh Anggota yang saya hormati,

Bapak Kepala Basarnas, Ibu Kepala BMKG yang saya hormati, dan seluruh jajarannya.

Yang ingin saya sampaikan Pak Ketua yang pertama adalah mari di benak pemikiran kita semua di sini bahwa apa yang kami lakukan selaku Anggota DPR, itu adalah hak menurut konstitusi. Saya mengingatkan ini karena ada kecenderungan bahwa setelah rapat selesai begini, selesailah urusannya dengan Komisi V. Ini yang saya tekankan, sehingga nanti kejadian seperti apa yang terjadi di BMKG baru kita tahu pada hari ini, berarti kita tidak ada pengawasan, DPR tidak ada pengendalian. Yang salah DPR tidak mengendalikan yang selalu kita manut saja.

Oleh karena itu pada kesempatan ini berdasarkan aturan MD3 dan undang-undang lainnya, Pak Ketua setelah rapat ini saya minta dengan hormat, diagendakan satu persatu deputinya untuk kita telusuri. Saya akan audit tertentu dengan cara saya, dengan cara teman-teman yang lain, malu rasanya kita tidak bisa memenuhi, apalagi ini terkait dengan luar negeri.

(26)

Kepercayaan kita di mana? Ini yang saya tekankan pak Ketua, saya tidak sampai saat ini saya minta setelah selesai rapat ini, minta waktu seluruh Deputi harus mempertanggungjawabkan tugasnya baru kita satu persatu untuk bisa diskusikan.

Ini penting karena saya merasa sedih banget, sudah ketok palu diserahkan, kalau kita juga mau kontrol juga secara langsung kadangkala tertutup, bertanya pun tidak ada yang mau menjawab, ya silakan masing- masing, kalau saya mengambil sikap saya tidak mau menyetujui, selesai.

Nanti kalau kejadian seperti begini siapa yang salah? Apakah kita serahkan kepada rumput yang bergoyang, tidak mungkinlah. Kami yang salah, kami juga tidak tahu apa-apa mengenai teknologi, kami buta kalau tidak dijelaskan dengan baik, apa artinya kita duduk sama-sama hanya 15 menit di sini atau 2 jam selesai, nanti tahun depan baru ketemu atau bulan depan atau 6 bulan kemudian, kita tidak tahu apa yang terjadi di lingkungan Ibu dan Bapak sekalian.

Dengan gagalnya ini, saya mengatakan, menyimpulkan bahwa manajemen BMKG ini saya mohon maaf Ibu ada sesuatu yang perlu kita perbaiki. Saya ndak pernah menelpon, saya ndak pernah lagi mem biarkan saja apa yang sudah kita ketok ayo silakan. Sekarang saya akan mau satu persatu, akan mau melakukan audit tertentu terhadap detailing semua program yang ada, itu sudah hak kami. Kasihan Basarnas begitu sedikit anggarannya, BMKG sudah dikasih peluang yang sebanyak-banyaknya itu pun tidak bisa dimanfaatkan dengan baik.

Ini pimpinan saya tidak bisa berkata-kata banyak, terlalu banyak yang ingin saya sampaikan dan belum saya pelajari juga itu, baru hari ini juga dikasih. Saya kira saya tidak mau masuk detailnya pak Ketua, saya memerlukan waktu, saya tidak mau menyalahkan siapa saya, siapa-siapa yang salah, yang saya salahkan adalah diri saya sendiri. Kenapa saya tidak melakukan itu? Karena ibu dan bapak-bapak semua tertutup, padahal hak kami mengontrol itu.

Saya berharap banyak, jangan kita mengulangi hal-hal yang terjadi pada hari ini, mari kita sama-sama sekolah lapang, sekolah lapang hentikan saja kalau tidak ada manfaatnya. Ayo mari kita fokus pada tupoksi masing- masing, ini Bu tolong ini, belum Lagi pada tahun 2023 nanti, APBN kita itu sudah menurun terus, akan kita kembali pada tahun 2023 itu defisit 3%

karena masih 6%. Coba kita bayangkan itu Bu, peluang uang yang sudah diberikan pinjaman luar negeri kita tidak manfaatkan dengan baik, tidak ada yang bisa, yang salah siapa? Kebodohan kita, kebodohan saya.

Saya kira itu pimpinan saya enggak bisa meneliti satu persatu dari awal saja saya sudah lihat ini ada yang tidak beres. Saya kira demikian Pimpinan, saya minta waktu, semua Deputi kita adakan rapat tersendiri, sendiri.

Terima kasih lebih dan kurangnya saya mohon maaf.

(27)

Assalamu’alaikum Waramatullahi Wabarakatuh KETUA RAPAT:

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ini karena spesifik pak Hamka ini, mungkin barangkali kita jadwalkan Minggu depan Pak, kita jadwalkan khusus, nanti kita Minggu depan ya. Masa Sidang depan ya, tidak bisa ya, masa sidang depan begitu pak Hamka.

Berikutnya saya kira kesepakatan kita.

F-PG (Drs. HAMKA B KADY, M.S.):

Izin, izin ketua, intruksi ketua.

KETUA RAPAT:

Ya silakan.

F-PG (Drs. HAMKA B KADY, M.S.):

Kalau tahun depan tidak usah dilakukan Pak,

KETUA RAPAT:

Bukan tahun depan bukan, bukan, bukan tahun depan yaitu minggu depan ini, kalau tidak sidang berikutnya maksudnya,

F-PG (Drs. HAMKA B KADY, M.S.):

Sidang berikutnya gitu aja jangan, jangan sampai semester berikutnya.

KETUA RAPAT:

Bukan tahun depan, Bu kepala BMKG ini emang kalau saya ingin mengatakan rapor merah memang tahun ini, rapor merah memang ya. Kalau kita lihat semua paparannya, tapi saya pikir nanti kita perdalam di pertemuan khusus tadi, kita cari waktu yang tepat. Karena apapun alasannya kelemahan BMKG adalah kelemahan kita juga sama seperti yang disampaikan oleh pak Hamka tadi, karena kita dalam mitra.

Baik berikutnya Ibu Novita.

F-P. GERINDRA (Hj. NOVITA WIJAYANTI, S.E., M.M.):

Terima kasih Pimpinan.

Yang hormati seluruh Pimpinan dan Komisi V, Kemudian BMKG dan jajaran, Basarnas dan jajaran.

Referensi

Dokumen terkait

Salam sejahtera bagi kita semua. Izinkan kami menambahkan beberapa catatan atas ASEAN Convention Against Trafficking in Person Especially Women and Children. Seperti

Nah hal-hal seperti ini sebenarnya kalau toh kita dapat predikat WTP tidak ada lagi hal seperti ini. Ini kan hal yang biasa yang sudah menjadi rutinisme di

Yang saya hormati seluruh Anggota Komisi VI yang hadi mengikuti video conference pada siang ini. Pertama-tama, tentu saya ingin menyampaikan permohonan maaf

KETUA RAPAT/KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS. Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua.. 2 Yang saya hormati segenap Pimpinan dan seluruh Anggota Komisi V DPR RI. Yang

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V (Ir. Terima kasih pak. Demikianlah kira-kira apa yang kita dengarkan atas penjelasan dari BMKG, Basarnas maupun BPWS. Oleh karena tidak

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V (HJ. NURHAYATI/F.PP): Ada yang ingin disesuaikan dari badan-badan? Sudah. Komisi V DPR RI meminta BMKG, Basarnas dan BPWS untuk

Terima kasih. Pimpinan, Anggota Komisi I DPR RI yang terhormat, Para Komisioner BRTI. Sebagai Ketua BRTI ya Pak? Bukan sebagai Dirjen, Dirjen kan eks officio artinya hadir sebagai

Kalau saya melihat, bahwa salah satu penentu efektivitas konvensi ini adalah pada seberapa besar kepentingan pengorganisasian hal-hal yang terkait dengan counter