BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
HUKUM PERDATA INDONESIA A. Sistem Hukum Perdata
C. Perwalian Dalam Sistem Hukum Islam
Perwalian menurut hukum Islam merupakan tanggung jawab orangtua terhadap anak. Dalam hukum Islam diatur dalam hadlanah, yang di artikan “ melakukan pemeliharaan anak-anak yang masih kecil laki-laki atau perempuan, atau yang sudah besar, tetapi belum tamyiz dan menyediakan sesuatu yang menjadikan kebaikannya, menjaga dari seseuatu yang menyakiti dan merusaknya, mendidik jasmani, rohani, dan akalnya agar mampu berdiri sendiri mengahadapi hidup dan memikul tanggung jawabnya. Dalam hal ini kedua orangtua wajib memelihara anaknya, baik pemeliharaan mengenai jasmani maupun rohaninya, keduanya bertanggung jawab penuh mengenai perwatan, pemeliharaan, akhlak dan agamannya.50
1. Menurut Kompilasi Hukum Islam
Dalam hal ini ada 2 Sistem Hukum Islam yang mengatur tentang perwalian yakni :
Perwalian bagi orang-orang beragama Islam di Indonesia diatur dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia Pasal 107-111. Adapun pengertian perwalian menurut Kompilasi Hukum Islam adalah sebagai berikut “ perwalian adalah kewenangan yang diberikan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan hukum sebagai wakil untuk kepentingan dan atas nama anak yang tidak mempunyai kedua orang tua, orang tua yang masih hidup tidak cakap melakukan perbuatan hukum.51
50Syaid Sabiq,Fiqih Sunnah 8,Al Maarif, Bandung,1980,hal.173.
51 Darwan Prinst,Hukum Anak Indonesia,Cetakan II,PT. Citra Aditya Bakti, Malang,2003,hal.122
Pasal 107 mengatur bahwa perwalian hanya dapat dilakukan terhadap anak yang belum mencapai 21 ( dua puluh satu tahun) dan atau belum
pernah melangsungkan perkawinan dari ketentuan tersebut, dapat dipahami usia dewasa menurut Kompilasi Hukum Islam di Indonesia adalah 21 (dua puluh satu) tahun dan atau belum pernah kawin.
Perwalian menurut hukum Islam meliputi perwalian terhadap diri dan harta kekayaan apabila wali tidak mampu berbuat atau lalai melaksanakan tugas perwaliannya, maka pengadilan agama dapat menunjuk salah seorang kerabat untuk bertindak sebagai wali. Pembatalan perwalian lama dan penunjukkan wali baru ini adalah atas permohonan kerabat tersebut, atau orang lain, syarat menjadi wali adalah harus berfikiran sehat, adil, jujur dan berkelakuan baik. Disamping orang perorangan badan hukum juga dapat menjadi wali.52
Menurut Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, pegangkatan wali dapat juga terjadi karena adanya wasiat dari orangtua si anak, yang mewasiatkan kepada seseorang atau badan hukum tertentu untuk melakukan perwalian atas diri dan kekayaan anak atau anak-anaknya sesudah ia meninggal dunia.53
Pasal 110 mengatur kewajiban wali untuk mengurus diri dan harta orang yang berada di bawah perwaliannya dengan sebaik-baiknya. Untuk masa depan orang yang berada di perwaliannya, wali wajib memberikan bimbingan Selanjutnya Pasal 109 menentukan, bahwa Pengadilan Agama dapat mencabut hak perwalian seseorang atau badan hukum dan memindahkannya kepada pihak lain.
Permohonan untuk itu diajukan oleh kerabatnya, dengan alasan wali tersebut : pemabuk, penjudi, pemboros, gila, dan atau melalaikan atau menyalahgunakan hak dan wewenangnya sebagai wali demi kepentingan yang berada diperwaliannya.
52Ibid, hal.123
53Lihat Pasal 108 Kompilasi Hukum Islam
agama, pendidikan dan keterampilan lainnya kepada anak. Wali dilarang mengikatkan, membebani dan mengasingkan harta orang yang berada di bawah perwaliannya, kecuali bila perbuatan tersebut menguntungkan bagi orang yang berada di bawah perwaliannya atau merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihindarkan.54
Dalam menjalankan tugasnya wali wajib memuat daftar harta benda anak yang berada di bawah perwaliannya pada waktu memulai jabatannya dan mencatat semua perubahan-perubahan harta benda anak atau anak-anak itu.
Untuk itu wali bertanggung jawab terhadap harta orang yang berada di bawah perwaliannya dan mengganti kerugian yang timbul sebagai akibat kesalahan atau kelalaiannya.
55
Apabila anak yang berada di bawah perwalian telah mencapai usia 21 (dua puluh satu) tahun, sesuai Pasal 111 maka wali berkewajiban menyerahkan seluruh hartanya kepadanya. Setelah masa perwalian ini berakhir, Pengadilan Agama berwenang mengadili perselisihan antara wali dan anak yang berada di bawah perwaliannya, tentang harta yang diserahkan kepadanya. Menurut Pasal 112, wali dapat mempergunakan harta orang yang berada di bawah perwaliannya sepanjang diperlukan untuk kepentingannya menurut kepatutan atau bilma`ruf kalau wali itu fakir56
Pada dasarnya perwalian menurut Kompilasi Hukum Islam adalah kekuasaan yang diberikaan kepada seseorang untuk mewakili anak yang belum dewasa dalam melakukan tindakan hukum demi kepentingan dan kebaikan si anak, yang meliputi perwalian terhadap diri juga harta kekayaannya, adapun anak
54 Lihat Pasal 110 Kompilasi Hukum Islam
55Darwan Prinst, Op.Cit.,hal.123
56Ibid,.hal.123.
yang belum dewasa menurut Kompilasi Hukum Islam adalah anak yang belum mencapai 21 tahun atau belum pernah menikah.
2. Menurut hukum syariat
Perwalian dalam Islam dibagi kedalam dua kategori yaitu : perwalian umum biasanya mencakup kepentingan bersama (bangsa atau rakyat) dan perwalian khusus yang pengertiannya adalah perwalian terhadap jiwa dan harta seseorang, seperti terhadap anak yatim, perwalian khusus yaitu meliputi perwalian terhadap diri pribadi anak tersebut dan perwalian terhadap harta bendanya57
Dalam kitab tafsir Ibnu katsir diterangkan, bahwa Allah SWT melarang untuk menyerahkan harta kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, yaitu anak yang belum baligh, orang gila dan orang dewasa yang tidak dapat mengatur harta bendanya. Mereka seharusnya tidak diberi kesempatan untuk mengatur harta benda yang menjadi sandaran hidupnya. Dilarang memberi harta kepada mereka namun wajib bagi sang waris yang menguasai hartanya memberi pakaian dan belanja dari harta mereka itu dengan disertai ucapan serta berkata yang baik kepada mereka.
Dasar hukum perwalian menurut hukum Islam temasuk dalam firman Allah SWT, dala surat Al-Baqarah ayat 282 yang artinya :
“ jika yang berhutang itu orang yang akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu membacakannya, hendaklah dibacakan oleh walinya dengan jujur, dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (diantaramu)”
58
57Dedi Junaidi, Bimbingan Perkawinan Cet. I, Akademika Prasendo, Jakarta,2000,hal.
104.
58Salim Bahreisyi, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Kasir Jilid II, PT Bina Ilmu, Surabaya, 1990, hal.307.
Dalam surat An-nisa ayat 5-6 Allah berfirman :
“janganlah kamu serahkan harta mereka yang ada di bawah penguasaanmu, kepada orang-orang yang pemboros, padahal kamu sendiri dijadikan Allah sebagai pemeliharanya. Berilah mereka belanja dan pakaian dari hasil harta itu dan ucapkanlah perkataan yang baik kepada mereka. Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pedapatmu, ia sudah cukup cerdas serahkan kepada mereka harta bendanya dan janganlah kamu makan harta anak-anak yatim lebih ddari bataskepatutan dan janganlah kamu tergesa-gesa membelanjakannya sebelum mereka dewasa. Barang siapa diantara pemelihara itu yang mampu maka hendaklah ia menahan diri memakan harta anak-anak yatim itu dan barang siapa yang miskin maka bolehlah ia memakannya menurut keperluan. Apabila kamu menyerahkan kembali kepada anak-anak yatim itu, hendaklah kamu panggilkan saksi-saksi tentang penyerahanitu bagi mereka dan cukuplah Allah sebagai pengawas atas persaksian itu.”
Kutipan ayat tersbut menunjukkan peran, kewajiban dan hak-hak wali terhadap anak dan harta benda yang berada di bawah perwaliannyaa, disamping itu orang yang lemah akalnya dalam melakukan perbuatan hukum harus melalui walinya. Wali tidak boleh menyerahkan harta ( yang perlindungannya ) kepada yang belum sempurna akalnya. Berikanlah kepada mereka belanja dan pakaian secukupnya serta perlakukan mereka dengan baik. Allah SWT memerintahkan kepada para wali untuk mereka dari waktu kewaktu mengecek dan menguji anak-anak yang di bawah asuhannya sampai mereka cukup umur untuk kawin. Jika di dapati mereka cukup cerdas dan cakap serta pandai untuk menjaga hartanya
sendiri, maka hendaklah diserahkan harta mereka yang ada di bawah kekuasaan sang wali kepada mereka untuk diurusnya sendiri59