• Tidak ada hasil yang ditemukan

PETA KOMPOSIT PEMANFAATAN SAAT INI ANALISIS SPASIAL KRITERIA KESE- SUAIAN LAHAN BASIS DATA PETA TEMATIK I DATA SEKUNDER PETA CITRA DATA PRIMER PENGUMPULAN DATA

skor berdasarkan tingkat kesesuaiannya. Sehingga pada hasil akhir akan diperoleh ”nilai akhir” atau ”matriks atribut” yang merupakan hasil perkalian antara bobot dengan skor kelas.

Setiap kriteria dan parameter, pemberian bobot, dan skor kelas ditentukan berdasarkan studi kepustakaan, dan justifikasi dari tenaga ahli yang berkompeten di bidang perikanan, baik secara tertulis maupun secara lisan.

Proses pemberian bobot dan skor dilakukan melalui pendekatan index overlay model (Bonham-Carter, 1994 dalam Vincentius, 2003) dengan persamaan matematis sebagai berikut:

Dimana: S = Indeks terbobot dari area atau poligon terpilih Sij = Skor kelas ke-j dari layer ke-i

Wi = Bobot untuk input layer ke-i n = Jumlah layer

Kelas Kesesuaian

Pembagian kelas kesesuaian dilakukan menurut klasifikasi FAO (1976) yang diacu oleh Hardjowigeno (2001), yang membagi kesesuaian lahan menjadi 2 ordo, yaitu ordo S (suitable/sesuai) dan ordo N (not suitable/tidak sesuai). Selanjutnya ordo ini dibedakan lagi menjadi kelas-kelas yaitu: Sangat Sesuai (S1), Sesuai (S2), dan Tidak Sesuai Permanen (N).

i) Kelas S1: sangat sesuai (highly suitable), yaitu: lahan tidak mempunyai pembatas yang berat untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari, atau hanya mempunyai pembatas yang kurang berarti dan tidak berpengaruh secara nyata terhadap produksi lahan tersebut, serta tidak akan menambah masukan dari pengusahaan lahan tersebut. Nilai scoring untuk kelas S1 sebesar 3. ii) Kelas S2: sesuai (suitable), yaitu: lahan yang mempunyai pembatas yang agak

berat untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari. Pembatas tersebut akan mengurangi produktivitas lahan dan keuntungan yang diperoleh, serta

=

n i i n i i ij

W

W

S

S

meningkatkan masukan untuk mengusahakan lahan tersebut. Nilai scoring untuk kelas S2 sebesar 2.

iii) Kelas N: tidak sesuai permanen (permanent not suitable), yaitu: lahan yang mempunyai pembatas sangat berat/permanen, sehingga tidak mungkin dipergunakan untuk suatu penggunaan tertentu yang lestari. Nilai scoring untuk kelas N sebesar 1.

Pelaksanaan operasi tumpang susun (overlay) untuk setiap peruntukan dimulai dari parameter yang paling penting (bobotnya terbesar), berurutan hingga parameter yang kurang penting.

Pada kegiatan ini diperoleh range nilai kesesuaian lahan antara 0-300. Range ini selanjutnya di bagi dalam 3 kelas, sehingga tersusun pembagian nilai kesesuaian sebagai berikut:

Nilai 0-170 (N) = tidak sesuai Nilai 171-224 (S2) = cukup sesuai Nilai 225-300 (S1) = sangat sesuai

Matriks kesesuaian untuk setiap peruntukan ditampilkan pada Tabel 2-4 berikut ini.

Tabel 2. Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Budidaya Tambak Tradisional Kelas Kesesuaian (Skor) No. Kriteria Bobot

S1 (3) S2 (2) N(1)

1 Tekstur Tanah 20 halus sedang kasar

2 Jenis Tanah 20 Aluvial Regosol, Latosol Mediteran, Grumosol 3 Curah Hujan (mm/tahun) 15 < 1500 1500-3000 > 3000

4 Topografi 15 Datar Berombak Berbukit

5 Kemiringan Lahan (%) 10 0-2 >2-8 >8

6 Penggunaan Lahan 10 alang-alang, Semak, rawa, tambak Pengembangan Pelabuhan, Sawah, kebun campuran Pemukiman, Hutan lindung 7 Jarak dari Sungai (m) 5 < 500 500 - 2000 > 2000 8 Jarak dari laut (m) 5 < 2000 2000 - 4000 > 4000 Sumber: modifikasi dari Hardjowigeno (2001) dan Wibowo (2004)

Tabel 3. Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Budidaya Karamba Jaring Tancap (Fixed net cage)

Kelas Kesesuaian (Skor) No. Parameter/Kriteria Bobot S1 (3) S2 (2) N(1)

1 Keterlindungan Perairan 20 terlindung Sangat Terlindung Terbuka 2 Kecepatan Arus (cm/dtk) 15 20-30 11 - <20 atau >30 - 45 < 11 atau >45 3 Kedalaman Perairan (m) 15 2-3 1 - <2 atau >3 - 5 <1 atau >5 4 Material Dasar Perairan 10 berkarang Pasir berlumpur Pasir Lumpur 5 Pencemaran 10 Tidak ada Tidak ada Tinggi 6 Kecerahan (%) 10 85-100 70 - <85 <70 7 Salinitas (ppm) 10 29-30 27 - <29 atau >30 - 35 <27 atau >35 8 Suhu (°C) 5 27-30 24 - <27 atau >30 - 34 <24 atau <34

9 DO (ppm) 5 >7 5 - 7 <5

Sumber: modifikasi dari Subandar (2005) dan Soebagio (2004)

Tabel 4. Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Budidaya Rumput Laut Sistem Long Line

Kelas Kesesuaian (Skor) No. Parameter/Kriteria Bobot S1 (3) S2 (2) N(1) 1 Keterlindungan 20 terlindung Sangat Terlindung Terbuka 2 Kedalaman Perairan (m) 20 3 - 15 2 - 3 atau >15 - 40 <1 atau >40 3 Material Dasar Perairan 15 berpasir Karang Pasir- Pasir berlumpur Lumpur 4 Arus (cm/dt) 15 21 - 30 11 - <21 atau >30 - 45 <11 atau >45 5 Kecerahan (%) 10 80 - 100 60 - <80 <60 6 Salinitas (ppm) 10 30 - 32 25 - <30 atau >32 - 35 <25 atau >35 7 Suhu (°C) 5 28 - 30 25 - <28 atau >30 - 33 <25 atau >33

8 DO (ppm) 5 >7 3 - 7 <3

Sumber: modifikasi dari Dirjen Perikanan Budidaya (2004), Besweni (2002), Syahputra (2005), dan Subagio (2004)

ii) Analisis Konflik Pemanfaatan Lahan

Dalam menganalisis konflik pemanfaatan lahan dalam pengembangan kawasan budidaya perikanan di wilayah pesisir Kabupaten Kutai Timur digunakan pendekatan Proses Hierarki Analitik/PHA. Proses Hierarki Analitik adalah suatu pendekatan yang biasanya digunakan untuk menganalisis kebijakan dalam pemanfaatan ruang agar dapat tepat dan sesuai dengan peruntukannya dengan tetap memperhatikan konsep pembangunan berkelanjutan.

Langkah paling awal dalam PHA adalah merinci permasalahan ke dalam komponen-komponennya (tujuan, kriteria, sub kriteria, dan alternatif kegiatan), kemudian mengatur bagian dari komponen-komponen tersebut ke dalam bentuk hierarki.

Tahapan-tahapan dalam Proses Hierarki Analitik adalah sebagai berikut: 1) Identifikasi Sistem

Identifikasi sistem dilakukan dengan cara mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi permasalahan/konflik pemanfaatan ruang dan menentukan variabel yang berpengaruh serta solusi yang diinginkan.

2) Penyusunan Struktur Hierarki

Membuat struktur hierarki dari sudut pandang manajerial secara menyeluruh dari level puncak sampai ke level dimana dimungkinkan campur tangan untuk dapat memecahkan persoalan.

3) Membuat Matriks Perbandingan Berpasangan

Dilakukan untuk menggambarkan pengaruh relatif setiap elemen terhadap masing-masing kriteria/kepentingan yang berada satu tingkat di atasnya. Penentuan tingkat kepentingan pada setiap tingkat hierarki dilakukan dengan teknik komparasi berpasangan berdasarkan pendapat dari para pakar atau bukan, namun memahami permasalahan.

4) Menghitung Matriks Pendapat Individu

Dilakukan dengan cara menghimpun semua pertimbangan yang diperlukan untuk mengembangkan perangkat matriks pada langkah ke 3 menjadi matriks pendapat individu.

Untuk membentuk suatu matriks yang mewakili matriks-matriks pendapat individu yang ada. Untuk memadukan matriks pendapat individu yang berasal dari 12 orang responden tersebut menjadi vektor prioritas gabungan, digunakan rata-rata geometrik (GEOMETRIC MEAN) dengan formulasi sebagai berikut:

Dimana: RGi = rata-rata geometrik baris ke-i m = responden (1-12)

Bij = vektor prioritas baris ke-i kolom ke-j 6) Pengolahan Horisontal

Pengolahan horisontal digunakan untuk menyusun prioritas pengaruh setiap elemen pada tingkat hierarki keputusan tertentu terhadap sasaran utama. 7) Revisi Pendapat

Revisi pendapat dapat dilakukan apabila nilai CR (Consistensy Ratio) cukup tinggi yaitu 0,1 dengan mencari Root Mean Square (RMS) dan merevisi pendapat pada baris yang mempunyai nilai terbesar.

Pengumpulan pendapat responden dilakukan dengan menggunakan teknik RRA, sedangkan pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Software Expert Choice version 2000 dan Microsoft Excell 2003.

Dari analisis ini dapat dihasilkan prioritas pengembangan kawasan pesisir Kutai Timur untuk kegiatan-kegiatan: (i) budidaya tambak, (ii) budidaya karamba, dan (iii) budidaya rumput laut.

Tujuan prioritas pengembangan perikanan di kawasan pesisir Kabupaten Kutai Timur yang berkelanjutan (sustainable development) dibangun oleh beberapa kriteria, yang merupakan tiga pilar dasar pembangunan berkelanjutan, yaitu pilar ekonomi, pilar sosial budaya, dan pilar kelestarian lingkungan.

Struktur hierarki berbagai kriteria dalam mencapai tujuan untuk arahan pengembangan kawasan budidaya perikanan laut di wilayah pesisir Kabupaten Kutai Timur dapat dilihat dalam gambar 4.

m ij m i

B

RG

1

π

=

Level 1 : Level 2 : Level 3 : Level 4:

Gambar 4. Diagram Hierarki Analisis Arahan Pengembangan Kawasan Budidaya di Wilayah Pesisir Kabupaten Kutai Timur Tujuan

Prioritas Pengembangan kawasan Budidaya Perikanan Di Wilayah Pesisir Kab. Kutai Timur

Kriteria Peningkatan Ekonomi Penurunan Konflik Sosial Kelestarian SDA dan Lingkungan

Sub

Kriteria Peningkatan PAD Peningkatan Pendapatn Kesempatan BerusahaPenyerapan TK dan Konflik Antar Pelaku Konflik Antar Ruang SDA Pulih SDA Tidak Pulih Lingkungan Jasa

Alternatif Kegiatan Kawasan Bd Karamba Kawasan Bd Tambak Kawasan Bd Rumput Laut

iii) Analisis Location Quotient untuk Penentuan Sektor Basis

Metode location quotient (LQ) merupakan perbandingan antara produksi sektor i pada tingkat kecamatan terhadap produksi total kecamatan, dengan pangsa relatif produksi sektor i pada tingkat kabupaten terhadap produksi total kabupaten. Secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut:

Dimana:

vi = pendapatan/tenaga kerja/produksi sektor i pada tingkat kecamatan vt = pendapatan/tenaga kerja/produksi total kecamatan

Vi = pendapatan/tenaga kerja/produksi sektor i pada tingkat kabupaten Vt = pendapatan/tenaga kerja/produksi total kabupaten

Berdasarkan nilai LQ akan diketahui apakah suatu sektor merupakan sektor basis atau sektor non-basis. Sektor basis akan menjadi sektor strategis dalam pengembangan perikanan budidaya.

iv) Analisis Kelayakan Usaha

Analisis kelayakan usaha mencakup pada perhitungan penentuan biaya investasi, biaya operasional dan penerimaan. Analisis ini menggunakan kriteria Revenue Cost Ratio (R/C), Net Benefit (π), Net Present Value (NPV), dan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C).

Revenue Cost Ratio (R/C)

Analisis ini digunakan untuk melihat layak atau tidaknya suatu usaha yang dilakukan dengan membandingkan penerimaan dengan biaya produksi selama periode waktu tertentu (satu musim tanam). Secara matematis R/C dapat dituliskan:

R/C = TR/TC

Dimana: TR = total penerimaan (Total Revenue) TC = total pengeluaran (Total Cost) Kriteria Usaha: R/C > 1, usaha menguntungkan

R/C = 1, usaha impas R/C < 1, usaha merugikan Vt Vi vt vi

LQ

i

= /

Net Present Value (NPV)

Net Present Value (nilai saat ini) adalah nilai kini dari keuntungan bersih yang akan diperoleh di masa yang akan datang. NPV merupakan selisih antara present value dari manfaat dengan present value dari biaya. Secara matematis NPV dapat dituliskan: NPV =

= + − n t t t t r C B 0 (1 ) ) (

Dimana : Bt = Manfaat pada tahun ke-t Ct = Biaya pada tahun ke-t

r = Tingkat bunga diskonto (discount rate) n = umur ekonomis

t = 0, 1, 2, 3... tahun ke-n

Kriteria Usaha: NPV > 1, usaha layak untuk dilaksanakan

NPV = 1, pengembalian persis sebesar opportunity cost modal NPV < 1, usaha tidak layak dilakukan

Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)

Net B/C merupakan perbandingan nilai sekarang dari keuntungan suatu usaha dengan biaya investasi pada awal usaha. Untuk menghitung nilai net B/C digunakan persamaan berikut:

Dimana : Bt = Manfaat pada tahun ke-t Ct = Biaya pada tahun ke-t

r = Tingkat bunga diskonto (discount rate) n = umur ekonomis

t = 0, 1, 2, 3... tahun ke-n

Kriteria Usaha: Net B/C > 1, usaha layak untuk dilaksanakan Net B/C = 1, usaha perlu ditinjau kembali Net B/C < 1, usaha tidak layak dilakukan

0 ) ( ) 1 ( ) ( 0 ) ( ) 1 ( ) ( / 1 0 < − + − > − + − =

= = t t n t t t t t t n t t t t C B i B C C B i C B C NetB

v) Strategi Pengembangan Kawasan Budidaya di Pesisir Kab. Kutai Timur Analisis strategi pengembangan budidaya perikanan di wilayah pesisir Kabupaten Kutai Timur dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats). Analisis ini dilakukan dengan menerapkan kriteria kesesuaian dengan data kuantitatif dan deskripsi keadaan (faktor internal dan eksternal) yang diperoleh dengan teknik RRA.

Pembobotan dan skoring dalam analisis SWOT ini dilakukan berdasarkan hasil wawancara dengan teknik RRA tersebut, yang kemudian dijustifikasi oleh peneliti dalam bentuk bobot dan skor.

Berdasarkan Rangkuti (2002) langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis SWOT ini adalah sebagai berikut:

1. Tahap pengumpulan data

Tahap pengumpulan data merupakan suatu kegiatan pengklasifikasian dan pra-analisis. Pada tahap ini data dibedakan menjadi dua, yaitu data eksternal dan internal.

Data eksternal berasal dari lingkungan luar (peluang dan ancaman), sedangkan data internal berasal dari dalam sistem pengelolaan kawasan pesisir Kabupaten Kutai Timur, mencakup ketersediaan sumberdaya alam, kondisi sumberdaya manusia dan pengembangan kawasan yang sedang dijalankan (kekuatan dan kelemahan).

Dalam tahap ini digunakan dua model matriks yaitu: (i) matriks faktor strategi eksternal, dan (ii) matriks faktor strategi internal.

Matriks faktor strategi eksternal disusun dengan langkah-langkah: • Pada kolom 1 disusun peluang-peluang dan ancaman-ancaman

• Selanjutnya pada kolom 2 diberi bobot terhadap masing-masing faktor peluang dan ancaman, mulai dari 1,0 (sangat penting) sampai dengan 0,0 (tidak penting). Jumlah bobot untuk semua faktor peluang dan ancaman sama dengan 1,0.

• Pada kolom 3 diberi skala rating mulai dari nilai 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor), berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi pemanfaatan lahan untuk suatu kegiatan tertentu. Pemberian nilai rating untuk peluang bersifat positif (nilai 4=sangat besar, 3=besar, 2=sedang,

dan 1=kecil). Sedangkan pemberian nilai rating untuk ancaman bersifat negatif (nilai 4=kecil, 3=sedang, 2=besar, dan 1=sangat besar).

• Pada kolom 4 diisi nilai hasil perkalian bobot dan rating suatu faktor yang sama. Nilai hasil kali tersebut merupakan skor pembobotan dari faktor tersebut.

• Pada kolom 5 diberi komentar atau catatan mengapa faktor-faktor tertentu dipilih dan bagaimana skor pembobotannya dihitung.

• Menjumlahkan skor pembobotan pada kolom 4. Nilai tersebut menunjukkan bagaimana sistem bereaksi terhadap faktor-faktor strategis eksternalnya.

Tabel 5. External Strategic Factors Analysis Summary (EFAS) Faktor-faktor

Strategi Eksternal Bobot Rating Skor Komentar

1 2 3 4 5 Peluang: O1 O2 O3 .... 4 3 2 1 Ancaman: T1 T2 T3 .... 1 2 3 4 TOTAL 1,00 -

Matriks faktor strategi internal disusun dengan langkah-langkah:

• Pada kolom 1 disusun kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan. • Pada kolom 2 diberi bobot terhadap masing-masing faktor, mulai dari 1,0

(sangat penting) sampai dengan 0,0 (tidak penting). Jumlah bobot untuk semua faktor kekuatan dan kelemahan sama dengan 1,0.

• Pada kolom 3 diberi skala rating mulai dari nilai 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor), berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi pemanfaatan lahan untuk suatu kegiatan tertentu. Pemberian nilai rating untuk kekuatan bersifat positif (nilai 4 = sangat besar, 3 = besar, 2 =

sedang, dan 1 = kecil). Sedangkan pemberian nilai rating untuk kelemahan bersifat negatif ((nilai 4 = kecil, 3 = sedang, 2 = besar, dan 1 = sangat besar).

• Pada kolom 4 diisi nilai hasil perkalian bobot dan rating suatu faktor yang sama. Nilai hasil kali tersebut merupakan skor pembobotan dari faktor tersebut.

• Pada kolom 5 diberi komentar atau catatan mengapa faktor-faktor tertentu dipilih dan bagaimana skor pembobotannya dihitung.

• Menjumlahkan skor pembobotan pada kolom 4. Nilai tersebut menunjukkan bagaimana sistem bereaksi terhadap faktor-faktor strategis internalnya.

Tabel 6. Internal Strategic Factors Analysis Summary (IFAS) Faktor-faktor

Strategi Eksternal Bobot Rating Skor Komentar

1 2 3 4 5 Peluang: S1 S2 S3 .... 4 3 2 1 Ancaman: W1 W2 W3 .... 1 2 3 4 TOTAL 1,00 - 2. Tahap analisis

Pada tahap analisis digunakan Model Matriks TOWS, dimana terdapat 4 strategi yang dapat dihasilkan, yaitu strategi SO, WO, ST, dan WT (tabel berikut).

Setelah diperoleh matriks TOWS, selanjutnya disusun rangking semua strategi yang dihasilkan berdasarkan faktor-faktor penyusun strategi tersebut.

Tabel 7. Model Matriks TOWS Hasil Analisis SWOT IFAS EFAS STRENGTH (S) WEAKNESSES (W) OPPORTUNITIES (O) SO1 SO2 SO3 .. .. SOn WO1 WO2 WO3 .. .. WOn THREATS (T) ST1 ST2 ST3 .. .. STn WT1 WT2 WT3 .. .. WTn