DAFTAR PUSTAKA
PETA LOKASI PENELITIAN
Ds. Tuntang Ds. Bejalen Ds. Kebondowo Ds. Rowoboni
Lokasi Desa Sampel
Sumber: Peta Rupa Bumi Digital Indonesia Skala 1 : 250.000
Lampiran 2 Kebijakan terkait pengelolaan Danau Rawa Pening, Tahun 2010
Jenis Peraturan Nomor Tentang Keterkaitan
Undang-Undang 5 Tahun 1990 Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
Mengusahakan terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Undang-Undang 31 Tahun 2004 Perikanan Pengelolaan perikanan berdasarkan asas manfaat, keadilan, kemitraan, pemerataan, keterpaduan, keterbukaan, efisiensi, dan kelestarian yang berkelanjutan
Undang-Undang 7 Tahun 2004 Sumber Daya Air Pengelolaan sumberdaya air wajib memperhatikan fungsi sosial, lingkungan hidup dan ekonomi secara selaras
Undang-Undang 32 Tahun 2004 Pemerintahan Daerah Kewenangan dan tanggung jawab pemanfaatan sumber daya alam antara pemerintah dan pemerintahan daerah
Undang-Undang 26 Tahun 2007 Penataan Ruang Pengendalian pemanfaatan ruang terkait perizinan pemanfaatan ruang dan sanksi
Undang-Undang 10 Tahun 2009 Kepariwisataan Pemanfaatan dan pengembangan pariwisata Undang-Undang 32 Tahun 2009 Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Upaya menjaga pelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya penurunan atau kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh perbuatan manusia
Peraturan Pemerintah 68 Tahun 1999 Tata Cara Pelaksanaan Peranserta Masyarakat dalam
Penyelenggaraan Negara
Peran serta masyarakat dalam bentuk hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab terhadap
kebijakan penyelenggara negara
Keputusan Presiden 32 Tahun 1990 Pengelolaan Kawasan Lindung Perlindungan kawasan sekitar danau untuk melindungi danau dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestarian fungsi danau
Keputusan Gubernur Jawa Tengah
510/21/2007 Tahun 2007
Pembentukan Forum Koordinasi Pengelolaan Kawasan Rawa Pening
Pengelolaan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia terkait penanganan kawasan Rawa Pening
Keputusan Kepala Bappeda Provinsi Jawa Tengah
500/12584 Tahun 2008 Pembentukan Kelompok Kerja (POKJA) Pengelolaan Kawasan Rawa Pening
Pembentukan kelompok kerja pengelolaan kawasan Rawa Pening
Peraturan Daerah Kabupaten Semarang
25 Tahun 2001 Pengelolaan Sumber Daya Ikan di Rawa Pening
Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan di kawasan Rawa Pening
Lampiran 3 Hasil analisis stakeholders dalam pengelolaan Danau Rawa Pening, Tahun 2010 Pengaruh Kepentingan No Stakeholders P1 P2 P3 K1 K2 K3 Jumlah Pengaruh Jumlah Kepentingan 1 Pemerintah Pusat 4 4 3 4 5 3 3,7 4,0 2 Pemda Prov. Jateng 3 5 4 5 5 4 4,0 4,7 3 BBWS Pemali Juana 5 4 5 5 4 4 4,7 4,3 4 Bappeda Prov. Jateng 4 4 4 4 5 4 4,0 4,3 5 Pemda Kab. Semarang 4 3 4 3 4 3 3,7 3,3 6 Bapermas Prov. Jateng 2 3 4 1 2 2 3,0 1,7 7 Dinas PSDA 5 4 3 4 4 4 4,0 4,0 8 Dinas Perikanan 4 3 2 3 3 4 3,0 3,3 9 Dinas Pariwisata 2 1 2 3 2 5 1,7 3,3 10 BLH Prov. Jateng 4 3 4 3 5 3 3,7 3,7 11 Dinas Perkebunan 1 1 2 1 2 2 1,3 1,7 12 Dinas Kehutanan 1 1 2 1 1 2 1,3 1,3 13 PT. Sarana Tirta Ungaran 1 1 2 4 2 5 1,3 3,7 14 BPSDA Jragung Tuntang 5 5 4 4 5 5 4,7 4,7 15 Balitbang Prov. Jateng 4 4 4 3 4 3 4,0 3,3 16 PLTA Jelok Timo 1 1 2 4 3 5 1,3 4,0 17 TNI Zeni Tempur 4 4 4 1 2 2 4,0 1,7 18 Pelaku usaha lokal 1 1 1 2 1 3 1,0 2,0 19 Perguruan Tinggi 3 4 4 1 3 2 3,7 2,0 20 Kelompok Sedyo Rukun 2 3 2 4 4 5 2,3 4,3 21 LSM 2 3 4 1 2 1 3,0 1,3 22 Wisatawan 1 1 2 1 1 2 1,3 1,3
Keterangan:
(1) Sangat rendah, (2) Rendah, (3) Cukup tinggi, (4) Tinggi, (5) Sangat tinggi
1 Tingkat pengaruh stakeholders dalam pengelolaan Danau Rawa Pening: P1: Kekuasaan terhadap kegiatan pengelolaan Danau Rawa Pening. P2: Pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan atau regulasi. P3: Memfasilitasi pelaksanaan kegiatan pengelolaan.
2 Tingkat kepentingan stakeholders dalam pengelolaan Danau Rawa Pening: K1: Harapan terhadap pengelolaan Danau Rawa Pening.
K2: Komitmen dalam pengelolaan Danau Rawa Pening. K3: Manfaat dari pengelolaan Danau Rawa Pening.
Lampiran 4 Hasil Analisis Interpretative Structural Modelling
1 Elemen kelompok masyarakat yang terpengaruh a) SSIM elemen kelompok masyarakat yang terpengaruh
No. E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E9 E1 V V V V V V V V E2 V V O O V V V E3 O O O O O O E4 A A X A A E5 O V V V E6 V V V E7 A A E8 O E9 Keterangan:
V adalah jika elemen eij = 1 dan eji = 0
A adalah jika elemen eij = 0 dan eji = 1
X adalah jika elemen eij = 1 dan eji = 1
O adalah jika elemen eij = 0 dan eji = 0
b) Reachability Matrix awal
No. E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E9 E1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 E2 0 1 1 1 0 0 1 1 1 E3 0 0 1 0 0 0 0 0 0 E4 0 0 0 1 0 0 1 0 0 E5 0 0 0 1 1 0 1 1 1 E6 0 0 0 1 0 1 1 1 1 E7 0 0 0 1 0 0 1 0 0 E8 0 0 0 1 0 0 1 1 0 E9 0 0 0 1 0 0 1 0 1
c) Hasil Reachability Matrix final
No. E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E9 Drv E1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 E2 0 1 1 1 0 0 1 1 1 6 E3 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 E4 0 0 0 1 0 0 1 0 0 2 E5 0 0 0 1 1 0 1 1 1 5 E6 0 0 0 1 0 1 1 1 1 5 E7 0 0 0 1 0 0 1 0 0 2 E8 0 0 0 1 0 0 1 1 0 3 E9 0 0 0 1 0 0 1 0 1 3 Dep 1 2 3 8 2 2 8 6 6
d) Hasil intepretasi elemen kelompok masyarakat yang terpengaruh
No Sub-elemen Level Ranking Koordinat Sektor Keterangan
1. E1 4 1 (1,9) IV Independent 2. E2 3 2 (2,6) IV Independent 3. E3 1 4 (3,1) I Autonomous 4. E4 1 4 (8,2) II Dependent 5. E5 3 2 (2,5) IV Independent 6. E6 3 2 (2,5) IV Independent 7. E7 1 4 (8,2) II Dependent 8. E8 2 3 (6,3) II Dependent 9. E9 2 3 (6,3) II Dependent
2 Elemen kendala utama dalam pengelolaan a) SSIM elemen kendala utama dalam pengelolaan
No. E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E9 E10 E1 X A X A A A A A A E2 A X A A A A A A E3 V V V V V V V E4 A A A A A A E5 X V X V V E6 V O V V E7 A X A E8 V V E9 A E10 Keterangan:
V adalah jika elemen eij = 1 dan eji = 0
A adalah jika elemen eij = 0 dan eji = 1
X adalah jika elemen eij = 1 dan eji = 1
O adalah jika elemen eij = 0 dan eji = 0
b) Reachability Matrix awal
No. E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E9 E10 E1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 E2 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 E3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 E4 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 E5 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 E6 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 E7 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 E8 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 E9 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 E10 1 1 0 1 0 0 1 0 1 1
c) Hasil Reachability Matrix final No. E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E9 E10 Drv E1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 3 E2 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 3 E3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 E4 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 3 E5 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 9 E6 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 9 E7 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 5 E8 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 9 E9 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 5 E10 1 1 0 1 0 0 1 0 1 1 6 Dep 10 10 1 10 4 4 7 4 7 5 d) Hasil intepretasi elemen kendala utama dalam pengelolaan
No Sub-elemen Level Ranking Koordinat Sektor Keterangan
1. E1 1 5 (10,3) II Dependent 2. E2 1 5 (10,3) II Dependent 3. E3 5 1 (1,10) IV Independent 4. E4 1 5 (10,3) II Dependent 5. E5 4 2 (4,9) IV Independent 6. E6 4 2 (4,9) IV Independent 7. E7 2 4 (7,5) II Dependent 8. E8 4 2 (4,9) IV Independent 9. E9 2 4 (7,5) II Dependent 10. E10 3 3 (5,6) IV Independent
3 Elemen tujuan pengelolaan a) SSIM elemen tujuan pengelolaan
No. E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E1 A A A A O A A E2 O V X O X O E3 O O A O A E4 A O O A E5 A O A E6 V V E7 O E8 Keterangan:
V adalah jika elemen eij = 1 dan eji = 0
A adalah jika elemen eij = 0 dan eji = 1
X adalah jika elemen eij = 1 dan eji = 1
b) Reachability Matrix awal No. E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E1 1 0 0 0 0 0 0 0 E2 1 1 0 1 1 0 1 0 E3 1 0 1 0 0 0 0 0 E4 1 0 0 1 0 0 0 0 E5 1 1 0 1 1 0 0 0 E6 0 0 1 0 1 1 1 1 E7 1 1 0 0 0 0 1 0 E8 1 0 1 1 1 0 0 1
c) Hasil Reachability Matrix final
No. E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 Drv E1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 E2 1 1 0 1 1 0 1 0 5 E3 1 0 1 0 0 0 0 0 2 E4 1 0 0 1 0 0 0 0 2 E5 1 1 0 1 1 0 1 0 5 E6 1 1 1 1 1 1 1 1 8 E7 1 1 0 1 1 0 1 0 5 E8 1 1 1 1 1 0 1 1 7 Dep 8 5 3 6 5 1 5 2
d) Hasil intepretasi elemen tujuan pengelolaan
No Sub-elemen Level Ranking Koordinat Sektor Keterangan
1. E1 1 5 (8,1) II Dependent 2. E2 3 3 (5,5) III Linkage 3. E3 2 4 (3,2) I Autonomous 4. E4 2 4 (6,2) II Dependent 5. E5 3 3 (5,5) III Linkage 6. E6 5 1 (1,8) IV Independent 7. E7 3 3 (5,5) III Linkage 8. E8 4 2 (2,7) IV Independent
4 Elemen lembaga yang terlibat dalam pengelolaan a) SSIM elemen lembaga yang terlibat dalam pengelolaan
No E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E9 E10 E11 E12 E13 E14 E15 E16 E17 E18 E19 E20
E1 X V V V V V V V V V V V V V V V V V V E2 V V V V V V V V V V V V V V V V V V E3 A X X V V V V V V V X A A X X X X E4 V V V V V V V V V V X X V V V V E5 X V V V V V V V X A A O O O O E6 V V V V V V V O A A O O O O E7 X O X V X X O O O O O O O E8 X X X X X A A A A A A A E9 O O O O A A A A A A A E10 X X X A A A A A A A E11 X X O O O O O O O E12 X A A A A A A A E13 A A A A A A A E14 A A A A A A E15 X V V V V E16 V V V V E17 V V V E18 X X E19 X E20 Keterangan:
V adalah jika elemen eij = 1 dan eji = 0
A adalah jika elemen eij = 0 dan eji = 1
X adalah jika elemen eij = 1 dan eji = 1
O adalah jika elemen eij = 0 dan eji = 0
b) Reachability Matrix awal
No. E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E9 E10 E11 E12 E13 E14 E15 E16 E17 E18 E19 E20
E1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 E2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 E3 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 E4 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 E5 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 E6 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 E7 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 E8 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 E9 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 E10 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 E11 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 E12 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 E13 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 E14 0 0 1 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 E15 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 E16 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 E17 0 0 1 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 E18 0 0 1 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 E19 0 0 1 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1 E20 0 0 1 0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 1
c) Hasil Reachability Matrix final
No. E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E9 E10 E11 E12 E13 E14 E15 E16 E17 E18 E19 E20 Drv E1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 E2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 E3 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 15 E4 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18 E5 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 15 E6 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 15 E7 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 7 E8 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 7 E9 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 7 E10 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 7 E11 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 7 E12 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 7 E13 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 7 E14 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 15 E15 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18 E16 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 18 E17 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 15 E18 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 15 E19 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 15 E20 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 15 Dep 2 2 13 5 13 13 20 20 20 20 20 20 20 13 5 5 13 13 13 13
d) Hasil intepretasi elemen lembaga yang terlibat dalam pengelolaan
No Sub-elemen Level Ranking Koordinat Sektor Keterangan 1. E1 4 1 (2,20) IV Independent 2. E2 4 1 (2,20) IV Independent 3. E3 2 3 (13,15) III Linkage 4. E4 3 2 (5,18) IV Independent 5. E5 2 3 (13,15) III Linkage 6. E6 2 3 (13,15) III Linkage 7. E7 1 4 (20,7) II Dependent 8. E8 1 4 (20,7) II Dependent 9. E9 1 4 (20,7) II Dependent 10. E10 1 4 (20,7) II Dependent 11. E11 1 4 (20,7) II Dependent 12. E12 1 4 (20,7) II Dependent 13. E13 1 4 (20,7) II Dependent
14. E14 2 3 (13,15) III Linkage
15. E15 3 2 (5,18) IV Independent
16. E16 3 2 (5,18) IV Independent
17. E17 2 3 (13,15) III Linkage
18. E18 2 3 (13,15) III Linkage
19. E19 2 3 (13,15) III Linkage
5 Elemen aktivitas pengembangan dalam pengelolaan a) SSIM elemen aktivitas pengembangan dalam pengelolaan
No. E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E9 E10 E1 A V V X V V V A V E2 V V X V V V X V E3 X A V V V A V E4 A V V V A X E5 V V V A V E6 X V A A E7 V A A E8 A A E9 V E10 Keterangan:
V adalah jika elemen eij = 1 dan eji = 0
A adalah jika elemen eij = 0 dan eji = 1
X adalah jika elemen eij = 1 dan eji = 1
O adalah jika elemen eij = 0 dan eji = 0
b) Reachability Matrix awal
No. E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E9 E10 E1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 E2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 E3 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 E4 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 E5 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 E6 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 E7 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 E8 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 E9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 E10 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 c) Hasil Reachability Matrix final
No. E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E9 E10 Drv E1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 8 E2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 E3 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 6 E4 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 6 E5 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 8 E6 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 3 E7 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 3 E8 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 E9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 E10 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 6 Dep 4 2 7 7 4 9 9 10 2 7
d) Hasil intepretasi elemen aktivitas pengembangan dalam pengelolaan
No Sub-elemen Level Ranking Koordinat Sektor Keterangan
1. E1 4 2 (4,8) IV Independent 2. E2 5 1 (2,10) IV Independent 3. E3 3 3 (7,6) III Linkage 4. E4 3 3 (7,6) III Linkage 5. E5 4 2 (4,8) IV Independent 6. E6 2 4 (9,3) II Dependent 7. E7 2 4 (9,3) II Dependent 8. E8 1 8 (10,1) II Dependent 9. E9 5 1 (2,10) IV Independent
ABSTRACT
PARTOMO. Collaborative Management Model of Inland Water in Rawa Pening Lake Central Java Province. Under supervision of SJAFRI MANGKUPRAWIRA, AIDA VITAYALA S. HUBEIS and LUKY ADRIANTO.
Rawa Pening Lake is an aquatic ecological system which plays important social role for surrounding residents. Disregarding involvement of surrounding residents and stakeholders in managing the lake may result in conflicting utilization of resources. Managing the lake based on collaborative management involving all stakeholders will facilitate to create self-governance that pay off all of the stakeholders. This research is intended to formulate strategic policy in managing lake based on collaborative management. The research was conducted in 4 villages using several method of sampling. Data analysis includes stakeholders analysis, vulnerability analysis, resilience, and interpretative structural modelling analysis. The results confirm that surrounding residents depended on Rawa Pening Lake resources. The finding also shows that Kecamatan Tuntang has the highest vulnerability index caused by population pressure and degraded built land. Key success factors in collaborative management of Rawa Pening Lake are involving fishermen, managing conflict and empowerment of lake resource users, and the regulatory roles of Central Government and Central Java Provincial Government. Furthermore, necessary activities needed in upwarding lake collaborative management are education and training for capacity building, besides enhancing coordination among stakeholders.
1.1 Latar Belakang
Danau merupakan perairan umum daratan yang memiliki fungsi penting bagi pembangunan dan kehidupan manusia. Secara umum, danau memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi ekologi dan sosial ekonomi. Dari aspek ekologi, danau merupakan tempat berlangsungnya siklus ekologis dari komponen air dan kehidupan akuatik di dalamnya. Keberadaan danau akan mempengaruhi keseimbangan ekosistem di sekitarnya, sebaliknya kondisi danau juga dipengaruhi oleh ekosistem di sekitarnya. Dari aspek sosial ekonomi, danau memiliki fungsi yang secara langsung berkaitan dengan kehidupan masyarakat sekitar danau. Menurut Hartoto et al. (2009), danau memiliki fungsi sebagai penyedia jasa lingkungan, sosial-ekologi, pendidikan, kenyamanan, budaya, kemasyarakatan, jasa spiritual, ketahanan masyarakat, ekonomi, dan rekreasi.
Menurut Puspita et al. (2005), saat ini di Indonesia terdapat sejumlah 843 danau dan 736 situ. Kondisi sebagian besar danau telah mengalami kerusakan ekosistem dan penurunan fungsi. Hasil penelitian FDI (2004), melaporkan bahwa faktor-faktor penyebab rusaknya ekosistem danau adalah tidak memadainya pengetahuan, kekurangan teknologi, keterbatasan finansial, serta kebijakan pengelolaan yang tidak tepat. Berdasarkan data Kementerian Negara Lingkungan Hidup (2009), terdapat sembilan danau yang kondisinya kritis dan memerlukan prioritas untuk penanganannya, yaitu Danau Toba (Provinsi Sumatera Utara), Danau Maninjau dan Danau Singkarak (Provinsi Sumatera Barat), Danau Tempe (Provinsi Sulawesi Selatan), Danau Tondano (Provinsi Sulawesi Utara), Danau Poso (Provinsi Sulawesi Tengah), Danau Limboto (Provinsi Gorontalo), Danau Batur (Provinsi Bali), serta Danau Rawa Pening (Provinsi Jawa Tengah).
Kondisi sebagian besar situ di Indonesia juga mengalami kerusakan ekologi dan dalam kondisi kritis. Menurut Roemantyo et al. (2003), jumlah situ di kawasan Jabodetabek pada tahun 1940 yaitu 76 situ dengan luas 7,900 km2, selanjutnya jumlah situ pada tahun 2000 adalah 114 situ dengan luas 3,213 km2. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi fragmentasi situ yang mengakibatkan penurunan kapasitas daya tampung situ.
Danau Rawa Pening dengan luas 2.770 hektar yang berada di Kabupaten Semarang merupakan salah satu danau yang kondisinya kritis. Hasil penelitian UNEP (1999), melaporkan bahwa berbagai faktor fisik-kimia dan biologi telah mengakibatkan sedimentasi, serta masuknya limbah domestik dan industri. Akumulasi endapan lumpur, limbah pertanian dan industri menyebabkan suburnya tanaman Eichornia crassipes (Eceng Gondok). Luas tanaman Eceng Gondok yang menutupi permukaan danau yang mencapai 1.080 hektar dengan pertumbuhan 7,1%-10% per bulan telah menimbulkan kerusakan ekosistem danau dan mengakibatkan krisis sumberdaya perikanan.
Potensi sumberdaya perikanan Danau Rawa Pening menjadi kompleks dengan semakin tingginya eksploitasi sumberdaya perikanan. Berdasarkan data Disnakan Kabupaten Semarang (2007), jumlah produksi perikanan di perairan Danau Rawa Pening selama kurun waktu Tahun 2002 sampai dengan 2006 berturut-turut 982,5 ton, 1.033,7 ton, 1.084,5 ton, 1.026,0 ton, dan 1.042,8 ton. Jumlah nelayan yang menggantungkan hidupnya pada sumberdaya danau sekitar 1.589 orang. Menurut Adrianto et al. (2010), status dan potensi sumberdaya perikanan menjadi kompleks setelah adanya intervensi manusia karena adanya
demands (permintaan) yang kemudian diikuti eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya perikanan. Dalam kondisi tanpa pengelolaan, kegiatan eksploitasi membuat sumberdaya perikanan menjadi kolaps.
Kegiatan pemanfaatan sumberdaya danau semakin meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk di sekitar danau. Kondisi ini dapat mengancam keberadaan danau sebagai ekosistem penyangga kehidupan dan penyedia langsung mata pencaharian bagi masyarakat sekitar danau (Anshari 2006). Dalam hal ini, masyarakat sekitar Danau Rawa Pening menggantungkan hidupnya terkait dengan matapencaharian, terutama untuk kegiatan perikanan tangkap dan pertanian.
Danau Rawa Pening merupakan sebuah sistem ekologi yang mempunyai peran sosial ekonomi bagi masyarakat sekitarnya. Kondisi ini menjadikan ekosistem danau sebagai sistem yang rentan terhadap gangguan atau tekanan eksternal. Berbagai gangguan atau tekanan eksternal, baik yang bersifat alamiah maupun antropogenik dapat mempengaruhi kesehatan ekosistem danau. Hal ini
menjadi latar belakang pentingnya dilakukan penilaian kerentanan untuk mengidentifikasi masyarakat atau tempat yang paling rentan terhadap bahaya serta mengidentifikasi tindakan untuk mengurangi kerentanan.
Pengelolaan Danau Rawa Pening bersifat multi stakeholders yang melibatkan banyak pihak seperti pemerintah, swasta, akademisi, lembaga non- pemerintah, petani, nelayan, dan pelaku perikanan lainnya. Model pengelolaan sentralistik dengan kontrol mutlak oleh pemerintah telah menghasilkan pola pengelolaan sumberdaya berbasis pemerintah. Dalam hal ini, pemerintah mendominasi dalam penentuan kebijakan dan kurang mengakomodasikan kepentingan masyarakat. Otoritas tunggal terbukti tidak efektif dalam pengelolaan Danau Rawa Pening, khususnya dalam mengurangi kerusakan sumberdaya serta menggalang dukungan dari masyarakat pemanfaat sumberdaya. Di lain pihak, apabila masyarakat melakukan kontrol penuh terhadap pengelolaan akan menghasilkan pola pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat. Model pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat tidak dapat menjamin keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya dan mengakibatkan konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumberdaya.
Ketidakseimbangan distribusi peran antara pemerintah dan masyarakat menjadi latar belakang pentingnya pendekatan pengelolaan kolaboratif untuk memperbaiki sistem pengelolaan Danau Rawa Pening dan mengakhiri konflik antar stakeholders tanpa adanya pihak yang dikalahkan. Seiring dengan tuntutan desentralisasi dan kemandirian dalam pengelolaan sumberdaya alam, pengelolaan kolaboratif merupakan model pengelolaan sumberdaya alam yang paling masuk akal. Pengelolaan kolaboratif dapat menciptakan perimbangan peran dan tanggung jawab antara pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam. Dalam hal ini, masyarakat pemanfaat sumberdaya bertindak sebagai pelaku yang mendayagunakan dan sekaligus memelihara sumberdaya alam, selanjutnya pemerintah berperan sebagai fasilitator.
1.2 Perumusan Masalah
Sumberdaya Danau Rawa Pening dianggap sebagai free goods (barang bebas) atau common property (sumberdaya milik bersama). Konsekuensi terhadap
sumberdaya milik bersama adalah bahwa semua orang berhak mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumberdaya yang ada atau yang lebih dikenal dengan prinsip
open access. Menurut Nasution et al. (2007), dampak negatif dari prinsip open access dalam pengelolaan sumberdaya alam adalah tidak adanya pihak yang peduli untuk mengembalikan atau memulihkan potensi sumberdaya yang telah rusak. Kerusakan sumberdaya alam dapat menurunkan produktivitas ekonomi dalam pemanfaatannya, sehingga dapat mengakibatkan menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat.
Eksploitasi sumberdaya danau dilakukan secara intensif untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sekitar kawasan. Pemanfaatan sumberdaya semakin meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Hal ini dapat mengancam keberadaan danau sebagai ekosistem penyangga kehidupan dan penyedia langsung mata pencaharian masyarakat (Anshari 2006). Kebergantungan masyarakat terhadap sumberdaya danau tidak hanya terbatas pada upaya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, akan tetapi telah berkembang menjadi upaya untuk memperoleh hasil yang lebih untuk dapat dipasarkan. Dalam hal ini, telah berkembang beberapa mata pencaharian alternatif terkait dengan pemanfaatan sumberdaya danau, yaitu industri rumah tangga, jasa pariwisata alam, serta usaha perdagangan di sekitar Danau Rawa Pening.
Kebergantungan masyarakat sekitar Danau Rawa Pening terhadap sumberdaya danau terkait dengan (1) kegiatan sektor pertanian lahan pasang surut
seluas 1.020 hektar, (2) nelayan dan petani ikan sebanyak 1.589 orang, (3) budidaya karamba ikan berjumlah 200 keramba jaring apung dan 500 keramba
tancap, (4) pemanfaatan Eceng Gondok dengan kapasitas 1.000 kg/hari, (5) pemanfaatan gambut untuk kompos dengan kapasitas 54.000 m3/tahun, serta
(6) pariwisata dengan jumlah pengunjung 50-100 orang/hari (BPSDA Jratun 2009). Konsep terpadu dalam pemberdayaan masyarakat belum tersusun, oleh sebab itu pemanfaatan potensi sumberdaya danau menghadapi banyak kendala. Konflik horisontal antar pemanfaat sumberdaya yang terus berlanjut telah menyebabkan tidak efektifnya program pemberdayaan masyarakat.
Danau Rawa Pening merupakan sebuah sistem ekologi yang mempunyai peran sosial ekonomi bagi masyarakat sekitarnya. Fungsi ekologi danau mulai
terancam oleh berbagai tekanan, baik yang bersifat alamiah maupun antropogenik. Tekanan yang bersifat alamiah disebabkan oleh pemanasan suhu bumi secara global dan perubahan iklim yang ekstrim. Selanjutnya tekanan yang bersifat antropogenik merupakan faktor terpenting yang mengakibatkan kerusakan ekosistem danau. Hal ini menjadikan danau sebagai sistem yang rentan terhadap gangguan atau tekanan eksternal. Tingkat kerentanan yang tinggi merupakan penghalang atau hambatan bagi keberlanjutan danau.
Penanggulangan terhadap kerusakan ekologi akan mempertinggi resiliensi untuk dapat kembali pada kondisi keseimbangan setelah adanya gangguan. Tingkat resiliensi bergantung pada kemampuan suatu sistem lingkungan dalam menanggulangi berbagai gangguan eksternal. Kapasitas beradaptasi merupakan kemampuan sistem sosial-ekologi untuk menghadapi situasi baru tanpa kehilangan pilihan di masa depan. Dalam hal ini, resiliensi merupakan kunci untuk meningkatkan kapasitas beradaptasi.
Pengelolaan Danau Rawa Pening bersifat lintas sektoral dan melibatkan banyak stakeholders. Lemahnya koordinasi antar stakeholders mengakibatkan pelaksanaan program pengelolaan cenderung sektoral. Model pengelolaan sentralistik dengan tidak memberikan ruang bagi peranserta masyarakat pemanfaat sumberdaya tidak mampu melindungi ekosistem danau dari kerusakan ekologi. Ketidakadilan distribusi peran dalam pemanfaatan sumberdaya alam telah mengakibatkan munculnya konflik kepentingan. Konflik internal terjadi akibat adanya ketidakharmonisan hubungan antar stakeholders dalam kegiatan pemanfaatan sumberdaya. Dalam hal ini, tidak ada kerangka hukum dan peraturan yang secara tegas dapat dipakai untuk menyelesaikan berbagai konflik yang terjadi dalam pemanfaatan sumberdaya Danau Rawa Pening.
Ekosistem Danau Rawa Pening merupakan penyangga kehidupan dan penyedia langsung mata pencaharian masyarakat sekitarnya. Terdapat keterkaitan antara aktivitas masyarakat terhadap kondisi ekosistem Danau Rawa Pening. Identifikasi permasalahan dalam pengelolaan Danau Rawa Pening mengacu penilaian biodiversity pada kerangka Drivers-Pressures-States-Impacts-Responses
(DPSIR) yang dikembangkan Bin et al. (2009) diacu dalam Sulistiawati (2011) seperti disajikan pada Gambar 1. Menurut Bowen dan Riley (2003), model DPSIR
bertujuan mengidentifikasi aspek-aspek atau parameter-parameter kunci pada suatu sistem dan memantau tingkat keberlanjutan dari pengelolaan.
Petumbuhan populasi penduduk, kepentingan ekonomi (permintaan sumberdaya, kegiatan perikanan) Faktor Penggerak/ Drivers (D) Tekanan Lingkungan/ Environmental Pressures (P) Perubahan Kondisi Lingkungan/ Environmental
States Changes (S) Dampak/ Impacts (I) Krisis perikanan, produktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat menurun, dan konflik kepentingan Eksploitasi sumberdaya, degradasi lahan di sekitar danau, sedimentasi, ekspansi Eceng Gondok Kerusakan ekosistem danau dan potensi sumberdaya Respon ekologi, ekonomi, dan sosial Responses (R) Pengurangan Peningkatan K ebut uh an Peng u rangan Pen guran gan
Gambar 1 Identifikasi permasalahan dalam pengelolaan Danau Rawa Pening dengan kerangka DPSIR (Sulistiawati 2011)
Kondisi ekosistem Danau Rawa Pening dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan populasi penduduk dan aktivitas masyarakat ekonomi seperti pemanfaatan sumberdaya dan kegiatan perikanan. Hal ini mengakibatkan tekanan terhadap ekosistem danau berupa eksploitasi sumberdaya, degradasi lahan di sekitar danau, sedimentasi dan penyuburan yang mengakibatkan kerusakan ekosistem danau dan kerusakan potensi sumberdaya danau. Sebagai dampaknya adalah terjadinya krisis sumberdaya perikanan, menurunnya tingkat produktivitas ekonomi dan tingkat kesejahteraan masyarakat, serta terjadinya konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumberdaya.
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah dengan kerangka DPSIR, maka dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat kebergantungan masyarakat terhadap sumberdaya Danau Rawa Pening?
2. Bagaimana tingkat gangguan eksternal yang dapat mempengaruhi ekosistem dan masyarakat sekitar Danau Rawa Pening?
3. Bagaimana masyarakat sekitar Danau Rawa Pening dapat menyerap gangguan-gangguan yang bersifat eksternal?
4. Bagaimana merancang model pengelolaan kolaboratif di Danau Rawa Pening yang mampu memperbaiki sistem pengelolaan sumberdaya dengan mengintegrasikan seluruh stakeholders?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi tingkat kebergantungan masyarakat terhadap sumberdaya Danau Rawa Pening.
2. Menganalisis tingkat kerentanan masyarakat sekitar Danau Rawa Pening. 3. Menganalisis tingkat resiliensi masyarakat sekitar Danau Rawa Pening.
4. Merumuskan model dan kebijakan strategis pengelolaan kolaboratif di Danau Rawa Pening.
1.4 Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat untuk:
1. Menghasilkan informasi ilmiah sebagai dasar dalam pembuatan kebijakan pengelolaan danau dengan mempertimbangkan tingkat kebergantungan masyarakat terhadap sumberdaya danau, kerentanan masyarakat, dan resiliensi masyarakat dalam menyerap perubahan dan gangguan-gangguan yang bersifat eksternal.
2. Bahan pertimbangan dalam perbaikan sistem pengelolaan sumberdaya danau dengan mengintegrasikan pengakuan hak dan kemitraan dari seluruh
stakeholders yang terlibat.
1.5 Kebaruan Penelitian
Konsep pengelolaan kolaboratif telah banyak diterapkan dalam pengelolaan sumberdaya alam, terutama dalam pengelolaan sumberdaya perikanan dan hutan. Konsep yang mengintegrasikan antara masyarakat dan ekosistem danau belum dipertimbangkan dalam pengelolaan danau. Adanya pola interaksi antara masyarakat dan ekosistem danau akan mempermudah kontrol terhadap kerusakan ekosistem danau.
Kebaruan penelitian ini apabila dibandingkan dengan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan adalah:
1. Strategi pengelolaan dengan mempertimbangkan tingkat kebergantungan masyarakat, kerentanan masyarakat, dan resiliensi masyarakat sekitar danau. 2. Model pengelolaan yang mengintegrasikan masyarakat dan danau dengan
lebih memfokuskan pada masyarakat serta adanya inisiasi kemitraan antara pemerintah dan masyarakat pemanfaat sumberdaya.
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perairan Umum Daratan
Air merupakan sumberdaya yang mutlak diperlukan bagi kehidupan manusia. Kebutuhan manusia terhadap air cenderung meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan semakin beragamnya jenis pemanfaatan terhadap sumberdaya air. Menurut Odum (1998), habitat air tawar menempati daerah yang relatif kecil pada permukaan bumi apabila dibandingkan dengan habitat laut dan daratan. Kepentingan bagi manusia jauh lebih berarti dibandingkan dengan luas daerahnya, karena (1) habitat air tawar merupakan sumber air yang paling praktis dan murah untuk kepentingan domestik dan industri, (2) komponen air tawar adalah daerah kritis pada daur hidrologi, dan (3) ekosistem air tawar menawarkan sistem pembuangan yang memadai dan murah. Selanjutnya Gunderson et al. (2006), meyatakan bahwa ekosistem akuatik merupakan sistem paling produktif yang menyediakan layanan dalam bentuk kualitas air serta kehidupan akuatik lainnya.
Menurut Suwignyo et al. (2003), semua badan air yang ada di daratan diistilahkan sebagai inland water atau perairan umum daratan. Dalam kajian ilmu lingkungan, badan-badan air tersebut dapat dibedakan antara perairan dengan ekosistem tertutup dan perairan dengan ekosistem terbuka. Perairan dengan ekosistem tertutup tidak terpengaruh oleh lingkungan di sekitarnya, misalnya kolam buatan dan kolam budidaya. Perairan dengan ekosistem terbuka terpengaruh oleh keadaan lingkungan di sekitarnya, misalnya sungai, rawa, waduk, dan danau.
Kajian tentang ekosistem danau telah mengalami perkembangan dalam berbagai disiplin ilmu. Danau dipandang sebagai sistem berbatasan yang ditentukan oleh permukaan perairan darat, sehingga dari sisi limnologi danau harus dipahami dalam konteks lansekap penampungan. Perubahan yang disebabkan oleh kegiatan pertanian, pemanfaatan lahan, kehutanan, konsumsi