• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peta Zonasi Wisata Bahari

Dalam dokumen 4 HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 41-46)

S 1 0 2 Km Sekala 1:120.000

Peta Zonasi

Wisata Bahari

Zona Wisata Bahari Zona Inti

Daratan Sungai Garis Pantai

Keterangan: Penutupan Lahan/Tipe Substrat:

Karang Campur Pasir Kebun

Lamun Campur Pasir Mangrove Pasir Pemukiman Tegal/Ladang Terumbu Karang Kedalaman (m): 5 - 10 0 - 5 10 - 20 20 - 30 30 - 50 50 - 100 > 100 6 °2 0 ' 2 0 ' 6 °0 0 ' 0 0 ' 120°20' 120°20' 120°40' 120°40'

Berdasarkan zonasi dan hasil perhitungan daya dukung kawasan untuk wisata bahari kategori snorkeling dan selam menunjukkan bahwa Pulau Pasi dapat menerima 1.787 orang/hari pada 68,68 ha kawasan yang sangat sesuai untuk pengembangan ekowisata bahari (Tabel 21). Luas wilayah snorkeling adalah 31,32 ha dengan kemampuan menerima kunjungan sebanyak 748 orang/hari. Sedangkan luas wisata selam adalah 37,36 ha luas dengan daya dukung 1.039 orang/hari. Hasil analisa daya dukung kawasan untuk wisata bahari kategori wisata selam dan wisata snorkeling dapat dilihat pada Lampiran 10 dan 11.

Tabel 21 Luas wilayah kesesuaian wisata bahari dan daya dukung kawasan terhadap jumlah pengunjung

Luas wilayah Kesesuaian (ha)

Daya Dukung Kawasan (orang) Jumlah Pengunjung (orang) Snorkeling 31,32 748 1.787 Selam 37,36 1.039

McNeely et al. (1992) menyatakan bahwa daya dukung wisata merupakan tingkat pengunjung yang memanfaatkan suatu kawasan wisata dengan perolehan tingkat kepuasan yang optimal dengan dampak minimal terhadap sumberdaya. Konsep ini meliputi dua faktor utama yang membatasi perilaku pengunjung berkaitan dengan daya dukung, yaitu kondisi lingkungan dan kondisi sosial budaya masyarakat. Davis dan Tisdell (1995) menyatakan bahwa sangat penting melakukan kajian tentang daya dukung lingkungan terhadap penyelaman karena beberapa jenis karang mudah patah dan peka terhadap kerusakan. Selanjutnya dikatakan bahwa daya dukung kawasan adalah 200.000 orang penyelam pertahun (300 hari). Hawkins dan Robert (1997) merekomendasikan 5.000 – 6.000 penyelam per satuan lokasi dalam satu kawasan pertahun tergantung pada jumlah lokasi penyelaman yang dapat digunakan untuk tetap menjaga daya dukung kawasan konservasi. Sementara itu, Dixon et al. (1993) merekomendasikan 4.000 – 6.000 penyelaman per lokasi per tahun dengan asumsi dalam setahun terdapat 300 hari penyelaman.

Jika mengacu pada Davis dan Tisdell (1995) dan Dixon et al. (1993) tentang jumlah hari penyelaman dalam satu tahun, maka jumlah kunjungan wisatawan yang dapat ditolerir untuk wisata bahari di Pulau Pasi adalah 536.100 orang/tahun untuk 68,68 ha.

4.4.4 Dokumen Perencanaan

Setelah mengidentifikasi potensi yang dapat dikembangkan sebagai kawasan ekowisata bahari dan perencanaan zonasi, maka langkah selanjutnya yang diperlukan adalah memantapkan rencana pengelolaan IUCN, CORDIO dan ICRAN (2008). Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen) no. 16 Tahun 2008 tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, terdapat 4 model perencanaan yaitu rencana strategis, rencana zonasi, rencana pengelolaan dan rencana aksi. Dalam dokumen perencanaan ekowisata bahari di Pulau Pasi, hanya menggunakan dua jenis perencanaan yaitu rencana pengelolaan dan rencana aksi. Hal ini disebabkan rencana strategis dan rencana zonasi dapat terintegrasi pada skala kegiatan yang lebih luas dan menjadi salah satu acuan dalam perencanaan pengelolaan dan rencana aksi ekowisata bahari.

Selanjutnya IUCN, CORDIO dan ICRAN (2008) menjelaskan bahwa rencana pengelolaan dapat membantu dalam:

• m

eningkatkan efesiensi dan akuntabilitas penggunaan sumber daya manusia dan keuangan dengan menetapkan prioritas berdasarkan tujuan

meningkatkan komunikasi dengan para stakeholder, masyarakat dan donor

Dokumen rencana pengelolaan ekowisata di Pulau Pasi dapat berupa

guidelines yang isinya dapat ditinjau ulang jika terdapat kekeliruan maupun

ketidaksesuaian dengan kondisi yang ada. Dokumen perencanaan ini akan menjadi dasar bagi pengelola untuk melakukan perencanaan dan pengembangan kegiatan ekowisata bahari.

merupakan dasar berfikir dan bertindak bagi pengelola dalam menjalankan fungsi manajerialnya.

Castellani dan Sala (2010) menyatakan bahwa perencanaan pengelolaan dan strategi wisata yang berkelanjutan dapat diatur dalam sebuah aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Pearce (2000) menyatakan bahwa dalam perencanaan pengelolaan wisata terdapat 4 langkah yang harus ditempuh yaitu pertama mengidentifikasi elemen-elemen kunci dari perencanaan pengelolaan, langkah kedua adalah mengevaluasi penilaian tekhnis, tujuan dan implementasi, langkah ketiga adalah identifikasi isu-isu yang berkembang dan langkah terakhir adalah program pengembangan aksi. Berdasarkan Permen KP no. 16 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, dalam dokumen perencanaan pengelolaan, setidaknya terdapat 5 pokok pikiran yang

harus dijelaskan yaitu 1) Pendahuluan yang berisi latar belakang, maksud, tujuan dan ruang lingkup perencanaan kegiatan; 2) gambaran umum kondisi daerah yang berisi deskripsi umum, sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil, pola penggunaan lahan dan perairan serta kondisi sosial-budaya dan ekonomi masyarakat; 3) kebijakan pengelolaan dan administrasi; 4) rekomendasi perizinan dan 5) pemantauan dan evaluasi pelaksanaan. Program ini dapat merupakan peninjauan kembali terhadap perencanaan untuk disesuaikan dengan kondisi kekinian dan tuntutan perubahan.

4.4.5 Rencana Jalur Wisata

Rencana jalur wisata Pulau Pasi merupakan paket perjalanan wisata yang menggabungkan beberapa jenis wisata di lokasi yang berbeda. Jalur wisata ditujukan agar wistawan dapat mengenal lebih jauh kebudayaan dan keindahan Kabupaten Kepulauan Selayar dengan melihat lebih dekat berbagai objek dan daya tarik wisata.

Untuk menyebrang ke Pulau Pasi, terdapat 2 rute yang dapat dilalui yakni dari kota Benteng menuju Desa Bontolebang di sisi utara bagian timur Pulau Pasi. Jalur kedua adalah menggunakan kendaraan darat dari kota Benteng menuju kampung nelayan di kampung Padang sejauh 8 km, kemudian menyeberang ke desa Kahu-Kahu atau Desa Bontoborusu di sisi selatan bagian timur Pulau Pasi selama 10 menit. Kedua rute tersebut menggunakan kapal tradisional lepa-lepa atau katinting. Berdasarkan rute penyeberangan dan obyek daya tarik wisata yang dimiliki Kabupaten Kepaulauan Selayar, maka dibuat jalur wisata sebagai berikut:

1. Jalur I : Jalur Utara.

Menikmati atraksi kebudayaan masyarakat Selayar berupa kesenian tradisional dan tari-tarian di sanggar kesenian, kehidupan desa nelayan di Bonehalang seperti pengelolaan hasil perikanan secara tradisional, gedung peninggalan zaman Belanda yang berada di kota Benteng, kemudian menyeberang ke Pulau Pasi melalui pelabuhan Benteng menuju Desa Bontolebang. Di Desa Bontolebang dapat melihat keramba jaring apung, keramba jaring tancap, pembuatan perahu dan menikmati jalan setapak desa diantara rimbunan pohon kelapa. Wisatawan dapat pula menyusuri rimbunan mangrove yang memisahkan dusun Lengu dan dusun Gusung barat dengan menggunakan perahu. Sebagian panorama dapat dilihat pada Gambar 16.

Gambar 16 Beberapa atraksi wisata yang dapat dijumpai pada jalur I. a) atraksi kesenian daerah yang dilaksanakan di Benteng, b) jalan setapak dengan panorama pohon kelapa, c) pembuatan perahu di Bontolebang dan d) sunset (Photo by Irwan).

2. Jalur II : Jalur Selatan

Jalur selatan merupakan jalur wisata yang lebih panjang dan lebih kompleks. Rute dimulai dari Benteng menuju arah selatan ke kampung Matalalang, Desa Bontobangun untuk melihat gong nekara Dongsong yang merupakan peninggalan zaman perunggu (lebih dari 2000 tahun lalu) dan nekara terbesar di Asia Tenggara. Dari Matalalang menuju kampung nelayan Padang yang, terdapat peninggalan sejarah berupa dua buah meriam kuno dan dua buah jangkar raksasa dari abad XVII yang merupakan peninggalan seorang saudagar Cina yang juga pendiri kampung tersebut. Di kampung Padang juga dapat melihat keramba jaring apung dan pengolahan hasil tangkapan secara tradisional. Dari kampung Padang, kemudian menyeberang ke Pulau Pasi untuk menikmati suasana pemukiman nelayan yang padat, menyusuri jalan setapak atau tracking di sisi barat pulau dengan medan berbatu dan pemandangan pantai yang indah. Beberapa panorama pada jalur II dapat dilihat pada Gambar 17.

Untuk lebih memuaskan wisatawan, sebaiknya jalur kedatangan dan kepulangan dibedakan sehingga wisatawan dapat menikmati lebih banyak keindahan dan panorama yang disediakan oleh alam dan masyarakat.

Gambar 17 Beberapa atraksi wisata yang dapat dijumpai pada jalur II. a) gong nekara di Matalalang, b) jangkar raksasa dan meriam kuno di Padang, c) suasana desa nelayan di Padang dan d) pembuatan terasi di desa Kahu-kahu (Photo by Irwan).

Dalam dokumen 4 HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 41-46)

Dokumen terkait