• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Usahaternak

6.1.3 Peternak Mandiri dan Peternak Plasma Berdasarkan

Fungsi produksi berikut diperoleh berdasarkan hasil regresi dari masing- masing peternak, yaitu peternak mandiri dan peternak plasma yang berada di wilayah Kecamatan Pamijahan. Dalam fungsi produksi ini terdapat dummy yang membedakan antara masing peternak dan skala usaha peternak tersebut, yaitu 0 untuk peternak dengan skala usaha di bawah 5.000 ekor dan 1 untuk skala usaha di atas 5.000 ekor. Berdasarkan Tabel 8 dan Tabel 9 terlihat nilai R-Sq (Koefisien determinasi) pada paternak mandiri sebesar 99,3 persen dan 98,2 persen pada peternak plasma. Nilai tersebut menunjukkan bahwa 99,3 persen variabel independen pada paternak mandiri dapat menjelaskan variable dependen pada taraf nyata 20 persen dan 98,2 persen variabel independen pada peternak plasma dapet menjelaskan variabel dependen pada taraf nyata sebesar 20 persen. Sedangkan sebesar 0,7 persen pada peternak mandiri dan 1,8 persen pada peternak plasma dijelaskan oleh faktor lain di luar model. Nilai probabilitas pada uji F- hitung sebesar 0,000 pada peternak mandiri dan 0,000 pada peternak plasma

57 dimana nilai tersebut kurang dari α 20 persen. Hal ini menunjukkan bahwa variabel indepanden pakan, tenaga kerja, mortalitas, kepadatan kandang, respesifikasi antara vaksin dan pemanas serta dummy skala usaha berpengaruh nyata secara bersama-sama terhadap produksi usahaternak pada α 20 persen. Setelah dilakukan pengolahan dengan menggunakan software Minitab, diperoleh pendugaan fungsi produksi ayam ras pedaging sebagai berikut:

a. Fungsi Produksi Peternak Mandiri:

Ln Y = - 0.457 + 0.870 Ln X1 + 0.334 Ln X2 - 0.140 Ln X3 + 0.140 Ln X4 + 0.0909 Ln X5 + 0.0128 D ... (6.5)

Tabel 8. Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Usahaternak Peternak Mandiri Berdasarkan Skala Usaha di Kecamatan Pamijahan

Variabel Koefisien Standar Error

T-hitung Peluang VIF

Konstanta -0,457 0,4806 -0,95 0,351 Pakan (X1) 0,870 0,0330 26,31 0,000 * 4,0 Tenaga Kerja (X2) 0,334 0,1912 1,75 0,094 ** 8,4 Mortalitas (X3) -0,140 0,0597 -2,35 0,028 * 1,1 Kepadatan Kandang (X4) 0,140 0,0854 1,64 0,114 *** 1,1 Vaksin/ Pemanas (X5r) 0,0909 0,0930 0,98 0,338 1,8 Dummy 0,0128 0,0692 0,19 0,855 6,1 R-Sq = 99,3% R-Sq (adj) = 99,1% DW = 2,32011 Sumber: Data Primer Diolah, 2012.

Keterangan: * Nyata pada taraf 5 persen ** Nyata pada taraf 10 persen *** Nyata pada taraf 15 persen

Nilai T-hitung dari Tabel 8 menunjukkan bahwa variabel pakan dan mortalitas berpengaruh nyata pada α 5 persen, tenaga kerja pada α 10 persen, sedangkan kepadatan kandang pada α 15 persen. Variabel yang tidak berpengaruh nyata terhadap model adalah variabel respesifikasi antara obat-obatan dan pemanas serta dummy skala usaha pada peternak mandiri ini memiliki arti bahwa pengaruh variabel tersebut memiliki pengaruh kecil terhadap turun naiknya produksi usahaternak ayam ras pedaging. Nilai elastisitas produksi (Σbi) yang

58 didapat dari model adalah sebesar 1,295. Artinya bahwa fungsi produksi berada pada daerah increasing return dimana, setiap proporsi penambahan input akan menghasilkan output dengan proporsi lebih besar. Peningkatan input sebesar satu persen akan menghasilkan output sebesar 1,295 persen. Daerah increasing ini menggambarkan bahwa belum tercapai produksi optimum dan keuntungan maksimum, sehingga peningkatan penggunaan input produksi masih dapat dilakukan.

Penggunaan pakan berpengaruh nyata pada produksi usahaternak ayam ras pedaging pada α 5 persen, artinya setiap peningkatan penggunaan pakan dalam proses produksi akan meningkatkan produksi pada usahaternak ayam ras pedaging. Nilai elastisitas pakan dalam fungsi produksi usahaternak ayam ras pedaging adalah sebesar 0,870 yang artinya setiap peningkatan pakan sebesar 1 persen akan meningkatkan jumlah produksi usahaternak sebesar 0,870 persen,

ceteris paribus. Nilai koefisien menunjukkan besaran yang positif dan berada pada nilai nol dan satu (0 ≤ Ep ≤ 1), yang menggambarkan bahwa penggunaan pakan berada dalam daerah rasional. Hal ini menunjukkan penggunaan pakan masih dapat dilakukan penambahan untuk meningkatkan produksi dan mencapai keuntungan maksimum.

Penggunaan tenaga kerja berpengaruh nyata pada produksi usahaternak ayam ras pedaging pada α 10 persen, artinya setiap peningkatan penggunaan tenaga kerja dalam proses produksi akan meningkatkan produksi pada usahaternak ayam ras pedaging. Nilai elastisitas tenaga kerja dalam fungsi produksi usahaternak ayam ras pedaging adalah sebesar 0,334 yang artinya setiap peningkatan tenaga kerja sebesar 1 persen akan meningkatkan jumlah produksi

59 usahaternak sebesar 0,334 persen, ceteris paribus. Nilai koefisien menunjukkan besaran yang positif dan berada pada nilai nol dan satu (0 ≤ Ep ≤ 1), yang menggambarkan bahwa penggunaan tenaga kerja berada dalam daerah rasional. Hal ini menunjukkan penggunaan tenaga kerja masih dapat dilakukan penambahan untuk meningkatkan produksi dan mencapai keuntungan maksimum.

Mortalitas berpengaruh nyata pada produksi usahaternak ayam ras pedaging pada α 5 persen, artinya setiap peningkatan mortalitas dalam proses produksi akan mengurangi produksi pada usahaternak ayam ras pedaging. Nilai elastisitas mortalitas dalam fungsi produksi usahaternak ayam ras pedaging adalah sebesar -0,140 yang artinya setiap peningkatan mortalitas sebesar 1 persen akan mengurangi jumlah produksi usahaternak sebesar 0,140 persen, cateris paribus. Nilai koefisien menunjukkan besaran yang negatif dan berada pada nilai lebih kecil dari nol (Ep < 0), yang menggambarkan mortalitas berada pada daerah irasional. Hal ini menunjukkan mortalitas sebaiknya dikurangi untuk meningkatkan produksi dan mencapai keuntungan maksimum.

Kepadatan kandang berpengaruh positif pada produksi usahaternak ayam ras pedaging dan nyata pada α 15 persen, artinya setiap peningkatan kepadatan kandang dalam proses produksi akan meningkatkan produksi pada usahaternak ayam ras pedaging. Nilai elastisitas kepadatan kandang dalam fungsi produksi usahaternak ayam ras pedaging adalah sebesar 0,140 yang artinya setiap peningkatan kepadatan kandang sebesar 1 persen akan meningkatkan jumlah produksi usahaternak sebesar 0,140 persen, ceteris paribus. Nilai koefisien menunjukkan besaran yang positif dan berada pada nilai nol dan satu (0 ≤ Ep ≤ 1), yang menggambarkan bahwa kepadatan kandang berada dalam daerah rasional.

60 Hal ini menunjukkan kepadatan kandang masih dapat dilakukan penambahan untuk meningkatkan produksi dan mencapai keuntungan maksimum.

Respesifikasi antara vaksin dan pemanas berpengaruh positif terhadap produksi usahaternak ayam ras pedaging dan tidak berpengaruh nyata pada α 20 persen, artinya setiap peningkatan respesifikasi antara vaksin dan pemanas dalam proses produksi tidak akan meningkatkan produksi pada usahaternak ayam ras pedaging. Nilai elastisitas respesifikasi antara vaksin dan pemanas dalam fungsi produksi usahaternak ayam ras pedaging adalah sebesar 0,0909. Nilai koefisien menunjukkan besaran yang positif dan berada pada nilai nol dan satu (0 ≤ Ep ≤ 1), yang menggambarkan respesifikasi antara vaksin dan pemanas berada pada daerah rasional. Hal ini menunjukkan respesifikasi antara vaksin dan pemanas masih dapat dilakukan penambahan untuk meningkatkan produksi dan mencapai keuntungan maksimum. Diduga tidak nyatanya variabel karena respesifikasi antara vaksin dan pemanas tidak berpengaruh terlalu besar terhadap total produksi ayam ras pedaging.

Dummy skala usaha peternak berpengaruh positif terhadap produksi usahaternak ayam ras pedaging dan tidak berpengaruh nyata pada α 20 persen. Nilai elastisitas dummy tipe peternak dalam fungsi produksi adalah sebesar 0,0128. Hal ni menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan produksi usahaternak ayam ras pedaging antara peternak dengan skala kurang dari 5.000 ekor dan diatas 5.000 ekor pada peternak mandiri.

Uji multikolinieritas untuk memastikan tidak adanya hubungan linier antar variabel independen. Nilai VIF yang terdapat pada Tabel 8 untuk analisis faktor- faktor produksi usahaternak ayam ras pedaging berkisar antara 1,1 sampai 8,4

61 yang berarti bahwa pendugaan model yang diperoleh tidak menunjukkan adanya multikolinieritas.

Uji heteroshedastisitas dilakukan untuk memastikan varian unsur ganggauan adalah konstan, tidak tergantung pada nilai dalam varian yang menjelaskan. Model regresi dikatakan memenuhi asumsi homokedastisitas, jika sebaran titik-titik pada scatterplot tidak membentuk pola tertentu dan titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y. Gambar pada lampiran 13 memperlihatkan bahwa sebaran titik-titik pada scatterplot tidak membentuk pola tertentu dan titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y. Hal tersebut menunjukkan bahwa model pada persamaan regresi tersebut memenuhi asumsi homokedastisitas sehingga tidak terjadi heteroskedastisitas.

Uji kenormalan pada model dilakukan dengan menggunakan Kolmogorv- Smirnov. Model regresi dikatakan menyebar secara normal apabila nilai dari KS hitung lebih kecil dari KS tabel. Berdasarkan lampiran 14 diperoleh KS hitung sebesar 0,125, nilai tersebut lebih kecil dari nilai KS tabel yaitu sebesar 0,190. Hal tersebut menunjukkan bahwa model tersebut telah memenuhi asumsi kenormalan dan data menyebar normal.

b. Fungsi Produksi Peternak Plasma

Ln Y = - 0.062 + 0.899 Ln X1 + 0.129 Ln X2 + 0.0500 Ln X3 + 0.087 Ln X4 + 0.118 Ln X5 + 0.0066 D ... (6.6)

62

Tabel 9. Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Usahaternak Peternak Plasma Berdasarkan Skala Usaha di Kecamatan Pamijahan

Variabel Koefisien Standar Error

T-hitung Peluang VIF

Konstanta -0,062 0,6989 -0,09 0,930 Pakan (X1) 0,899 0,0691 13,00 0,000 * 9,4 Tenaga Kerja (X2) 0,129 0,0831 1,54 0,133 *** 5,2 Mortalitas (X3) 0,0500 0,0687 0,73 0,472 1,2 Kepadatan Kandang (X4) 0,087 0,1338 0,65 0,522 1,3 Vaksin/ Pemanas (X5r) 0,118 0,1668 0,71 0,484 1,2 Dummy 0,0066 0,0683 0,10 0,923 4,1 R-Sq = 98,2% R-Sq (adj) = 98,1% DW = 1,48898 Sumber: Data Primer Diolah, 2012.

Keterangan: * Nyata pada taraf 5 persen *** Nyata pada taraf 15 persen

Nilai T-hitung dari Tabel 9 menunjukkan bahwa variabel pakan berpengaruh nyata pada α 5 persen, sedangkan tenaga kerja berpengaruh nyata pada α 15 persen. Variabel yang tidak berpengaruh nyata terhadap model adalah variabel mortalitas, kepadatan kandang, respesifikasi antara vaksin dan pemanas serta dummy skala usaha peternak plasma ini memiliki arti bahwa pengaruh variabel tersebut memiliki pengaruh kecil terhadap turun naiknya produksi usahaternak ayam ras pedaging. Nilai elastisitas produksi (Σbi) yang didapat dari model adalah sebesar 1,283. Artinya bahwa fungsi produksi berada pada daerah

increasing return dimana, setiap proporsi penambahan input akan menghasilkan output dengan proporsi lebih besar. Peningkatan input sebesar satu persen akan menghasilkan output sebesar 1,283 persen. Daerah increasing ini menggambarkan bahwa belum tercapai produksi optimum dan keuntungan maksimum, sehingga peningkatan penggunaan input produksi masih dapat dilakukan.

Penggunaan pakan berpengaruh nyata pada produksi usahaternak ayam ras pedaging pada α 5 persen, artinya setiap peningkatan penggunaan pakan dalam proses produksi akan meningkatkan produksi pada usahaternak ayam ras pedaging. Nilai elastisitas pakan dalam fungsi produksi usahaternak ayam ras

63 pedaging adalah sebesar 0,899 yang artinya setiap peningkatan pakan sebesar 1 persen akan meningkatkan jumlah produksi usahaternak sebesar 0,899 persen,

ceteris paribus. Nilai koefisien menunjukkan besaran yang positif dan berada pada nilai nol dan satu (0 ≤ Ep ≤ 1), yang menggambarkan bahwa penggunaan pakan berada dalam daerah rasional. Hal ini menunjukkan penggunaan pakan masih dapat dilakukan penambahan untuk meningkatkan produksi dan mencapai keuntungan maksimum.

Penggunaan tenaga kerja berpengaruh nyata pada produksi usahaternak ayam ras pedaging pada α 15 persen, artinya setiap peningkatan penggunaan tenaga kerja dalam proses produksi akan meningkatkan produksi pada usahaternak ayam ras pedaging. Nilai elastisitas tenaga kerja dalam fungsi produksi usahaternak ayam ras pedaging adalah sebesar 0,129 yang artinya setiap peningkatan tenaga kerja sebesar 1 persen akan meningkatkan jumlah produksi usahaternak sebesar 0,129 persen, ceteris paribus. Nilai koefisien menunjukkan besaran yang positif dan berada pada nilai nol dan satu (0 ≤ Ep ≤ 1), yang menggambarkan bahwa penggunaan tenaga kerja berada dalam daerah rasional. Hal ini menunjukkan penggunaan tenaga kerja masih dapat dilakukan penambahan untuk meningkatkan produksi dan mencapai keuntungan maksimum.

Mortalitas tidak berpengaruh nyata terhadap produksi usahaternak ayam ras pada α 20 persen, artinya setiap peningkatan mortalitas dalam proses produksi tidak akan meningkatkan produksi pada usahaternak ayam ras pedaging. Nilai elastisitas mortalitas dalam fungsi produksi usahaternak ayam ras pedaging adalah sebesar 0,0500. Nilai koefisien menunjukkan besaran yang positif dan berada pada nilai nol dan satu (0 ≤ Ep ≤ 1), yang menggambarkan mortalitas berada pada

64 daerah rasional. Diduga tidak nyatanya variabel karena mortalitas yang terjadi tidak begitu besar sehingga tidak berpengaruh nyata terhadap total produksi ayam ras pedaging.

Kepadatan kandang tidak berpengaruh nyata terhadap produksi usahaternak ayam ras pada α 20 persen, artinya setiap peningkatan kepadatan kandang dalam proses produksi tidak akan meningkatkan produksi pada usahaternak ayam ras pedaging. Nilai elastisitas kepadatan kandang dalam fungsi produksi usahaternak ayam ras pedaging adalah sebesar 0,087. Nilai koefisien menunjukkan besaran yang positif dan berada pada nilai nol dan satu (0 ≤ Ep ≤ 1), yang menggambarkan kepadatan kandang berada pada daerah rasional. Hal ini menunjukkan kepadatan kandang masih dapat dilakukan penambahan untuk meningkatkan produksi dan mencapai keuntungan maksimum.

Respesifikasi antara vaksin dan pemanas berpengaruh positif terhadap produksi usahaternak ayam ras pedaging dan tidak berpengaruh nyata pada α 20 persen, artinya setiap peningkatan respesifikasi antara vaksin dan pemanas dalam proses produksi tidak akan meningkatkan produksi pada usahaternak ayam ras pedaging. Nilai elastisitas respesifikasi antara vaksin dan pemanas dalam fungsi produksi usahaternak ayam ras pedaging adalah sebesar 0,118. Nilai koefisien menunjukkan besaran yang positif dan berada pada nilai nol dan satu (0 ≤ Ep ≤ 1), yang menggambarkan respesifikasi antara vaksin dan pemanas berada pada daerah rasional. Hal ini menunjukkan respesifikasi antara vaksin dan pemanas masih dapat dilakukan penambahan untuk meningkatkan produksi dan mencapai keuntungan maksimum. Diduga tidak nyatanya variabel karena respesifikasi

65 antara vaksin dan pemanas tidak berpengaruh terlalu besar terhadap total produksi ayam ras pedaging.

Dummy skala usaha peternak berpengaruh positif terhadap produksi usahaternak ayam ras pedaging dan tidak berpengaruh nyata pada α 20 persen. Nilai elastisitas dummy tipe peternak dalam fungsi produksi adalah sebesar 0,0066. Hal ni menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan produksi usahaternak ayam ras pedaging antara peternak dengan skala kurang dari 5.000 ekor dan diatas 5.000 ekor pada peternak plasma.

Uji multikolinieritas untuk memastikan tidak adanya hubungan linier antar variabel independen. Nilai VIF yang terdapat pada Tabel 9 untuk analisis faktor- faktor produksi usahaternak ayam ras pedaging berkisar antara 1,2 sampai 9,4 yang berarti bahwa pendugaan model yang diperoleh tidak menunjukkan adanya multikolinieritas.

Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk memastikan varian unsur ganggauan adalah konstan, tidak tergantung pada nilai dalam varian yang menjelaskan. Model regresi dikatakan memenuhi asumsi homokedastisitas, jika sebaran titik-titik pada scatterplot tidak membentuk pola tertentu dan titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y. Gambar pada lampiran 13 memperlihatkan bahwa sebaran titik-titik pada scatterplot tidak membentuk pola tertentu dan titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y. Hal tersebut menunjukkan bahwa model pada persamaan regresi tersebut memenuhi asumsi homokedastisitas sehingga tidak terjadi heteroskedastisitas.

Uji kenormalan pada model dilakukan dengan menggunakan Kolmogorv- Smirnov. Model regresi dikatakan menyebar secara normal apabila nilai dari KS

66 hitung lebih kecil dari KS tabel. Berdasarkan lampiran 14 diperoleh KS hitung sebesar 0,075, nilai tersebut lebih kecil dari nilai KS tabel yaitu sebesar 0,165. Hal tersebut menunjukkan bahwa model tersebut telah memenuhi asumsi kenormalan dan data menyebar normal.

6.2. Analisis Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi

Dokumen terkait