Saudara Menteri PU beserta seluruh jajaran pemerintah yang hadir pada kesempatan ini. Saya tidak mengajukan pertanyaan seperti yang disampaikan oleh rekan dari PDIP karena memang ini bukan forum Panja,jadi karena ini masih pada posisi Pansus, jadi kita tidak bertanya nanti kita buang-buang waktu itu pendalamannya nanti di Panja, satu, tetapi yang mau saya sampaikan adalah mekanisme teknis yang prinsip terkait dengan pembuatan sebuah undang-undang. Saya dari tadi baca betul resume masukan Kementrian PU sangat luar biasa, hasilnya saya bisa membuat sebuah kesimpulan yang pasti bahwa temyata koordinasi di intern pemerintah tidak jalan, dan ini fakta yang harus kita luruskan dalam mekanisme tekhnis pembuatan sebuah undang-undang.
Seharusnya DPR hanya bicara tentang satu konsep, satu pandangan dari pemerintah bukan pertemuan dengan pemerintah dari departemen ini pandangannya lain, dengan departemen ini pandangannya lain lagi. Ini usul inisiatif dari siapa, dari pemerintah atau dari Badan Pertanahan Nasional, ini catatan prinsip supaya menjadi perhatian ketua, agar pemerintah kedepan lakukan dulu koordinasi dalam penyusunan sebuah rancangan undang-undang yang menjadi usul inisiatif
83
pemerintah, sebab kalau tidak kita jadi bingung sendiri, disaat harus bikin pendalaman kita berpegang pada konsep yang mana, konsep RUU yang disampaikan pertama dari pemerintah, ini masukan ini juga dari pemerintah, nah kalau pemerintah sendiri sudah punya pandangan yang saling berbeda ini akan sangat membahayakan pada saat pelaksanaan undang-undang ini di lapangan nanti. Karena yang ada dalam semangat pemerintah itu berbeda-beda sehingga penerjemahan rumusan undang-undang ini akan juga berbeda di lapangan dan itu akan sangat merugikan masyarakat sehingga sebetulnya kalau kita mau fair kita kembalikan dulu RUU ini kepada pemerintah. Satukan dulu pandangan dulu pemerintah baru DPR melakukan pembahasan lebih lanjut itu mekanisme teknis yang benar dari segi pembuatan undang-undang, ngga bisa kita melakukan perdebatan dengan pandangan pemerintah yang berbeda-beda. Dari tadi saya kaget betul kok ada mekanisme seperti ini, ini sebuah catatan khusus ketua, kalau toh kali ini kita terpaksa mentolerir tapi saya ingatkan pemerintah, selaku partai pemerintah saya sangat kecewa.
Saya Fraksi Partai Golkar, partai pemerintah tentu orang kaget saya sengaja bilang itu, kenapa karena yang namanya partai pemerintah itu adalah enam partai yang berkoalisi, bukan hanya satu partai, supaya orang memahami secara teori, jangan ada yang mengklaim diri kita partai pemerintah jadi partai koalisi harus begini ngga bisa, yang namanya partai pemerintah itu enam partai, itu secara teori, itu yang harus kita luruskan agar orang ngerti gitu, ngerti tentang teori gitu. Saya kira itu ketua catatan penting saya untuk menjadi perhatian menteri PU tolong sampaikan kepada jajaran pemerintah kalau malu mengajukan usul inisiatif pemerintah lakukan yang benar, satukan pandangan pemerintah agar tidak terjadi pembahasan yang tumpang tindih di parlemen.
Terima kasih Ketua. KETUA RAPAT:
Ya, terimakasih Pak Betaubun.
Catatan-catatan banyak yang penting dan yang terpenting juga ada. Barangkali sebelum masih ada lagi, ya ada dua tapi ini saya mau anu, pimpinan mau menyampaikan, bahwa Menteri Pekerjaan Umum di awal pembicaraannya telah mengatakan secara umum menyetujui RUU ini, lalu menyampaikan catatan-catatan tambahan usulan yaitu masuk didalam ayat-ayat maupun sub ayat kalau tidak salah, saya kira itu untuk ya dengan demikian drat tadi ....masalah dengan standard seperti yang ada bangku atau seperti yang disampaikan merupakan lampiran dari ampres. Nah dengan demikian dituntut menjelaskan agar masukan-masukannya bisa tetap mengarah. Catatan yang terpenting lainnya tadi berhubungan dengan koalisi itu ada urusan-urusan yang diatas dewa-dewa semua.
INTERUPSI F-PG (EDISON BETAUBUN, SH., MH):
Ketua, ketua saya interupsi sebentar, kalau toh tadi pernyataan Menteri PU seperti itu menyetujui lalu ada masukan, harus kita pahami itu sebagai sebuah basa-basi pemerintah, tatapi substasnsinya itu disadari bahwa ini ada yang berbeda.
84 KETUA RAPAT:
Ya, statemen terakhir kami catat sekaligus. Selanjutny Pak Nusyirwan silakan. F- PDIP (NUSYIRWAN SOEJONO, S.T):
lni ada yang mewakili partai oposisi rupanya lebih dulu susah saya ngomongnya. Pak ketau, mohon ijin, satu menit mudah-mudahan. Yang pertama bahwa tadi sudah diklasifikasi bahwa Departemen Pekerjaan Umum dan Kementrian Pekerjaan Umum pada posisi menyampaikan pendapat atas RUU lahan untuk pembangunan. Dalam artian kata pendapat disini mengikuti urutan yang disampaikan oleh Kepala BPN saya anggap urutan itu benar, soal penentuan lokasi kemudian ada dua titik krusialnya itu penentuan lokasi dan ganti rugi. Saya agak terkejut karena usulan Departemen Pekerjaan Umum dua hal yang menjadi titik persoalan itu tidak ada pendapat, tidak ada masukan berarti pendapat kami bahwa itu bisa dilaksanakan nanti pada waktu implementasinya, ini saya pura-puranya dalam posisi pemerintah pak, purapuranya begitu bapak.
Saya melihat bahwa draf itu untuk persoalan penentuan lokasi dan ganti rugi yang tercantum didalam draf tidak saya melihat ini tidak akan bisa dilaksanakan demikian begitu saja, tapinya target untuk semua problem persoalan tanah untuk pembangunan ini tadi Pak Kepala BPN tadi menyampaikan begitu. Tujuannya adalah RUU ini bisa menyelesaikan semua problem persoalan tanah untuk lahan untuk pembangunan, tujuannya begitu pak. Tapi kalau drafnya itu bunyi itu saya melihat bahwa itu belum bisa dilaksanakan filling saya demikian, nah tadi tentunya ada pendapat masukan jadi apakah dari sisi draf soal ganti rugi sudah dijamin kalimat-kalimat itu akan menyelesaikan soal pertama.
Yang kedua, soal penentuan lokasi. Sebetulnya Kementrian PU bisa menjawab persoalan penentuan lokasi ini dengan jawaban RUU Tata Ruang penataan ruang, bahwa ada peraturan pemerintah soal tata ruang nasional sampai kebawah meskipun kami setuju mungkin implementasi di level bawah ada disparitas atau katakanlah ada perbedaan antara kebijakan nasional dan di daerah. lni saja yang ingin kami sampaikan saya kesulitan karena rekan kami di sudut kanan sudah demikian oposisilah jadi saya harus ber pak ketua saya juga sama sangat lebih pemerintah daripada yang oposisi, begitu dapat jatah ngomong malah jadi susah ngomongnya apa ini. Itu saja pak kalau kita berfikitan positif tentunya dengan target untuk bisa menyelesaikan beberapa problem persoalan lahan untuk pembangunan tentunya sampai kita mendarat persoalan pasal-pasal yang ini harus bisa dijawab dengan itu. Soal ganti rugi apabila bapak buka itu masih ngambang, pasti untuk kebutuhan-kebutuhan public disini untuk pembebasan belum bisa di gerak cepat kita bisa selesaikan termasuk penentuan lokasi. Nah kalimat seperti apa atau katakanlah ketegasan seperti apa kita tunggu nanti pada waktu pembahasan dan mudah-rriudahan kami mengusulkan nanti pada waktu pembahasan karena ampresnya hanya berbunyi Mendagri, Departemen Hukum dan Kelembagaan, Departemen Keuangan dan satu lagi Bappenas. Agak khawatir kami untuk pendalaman ini menjadi banyak hal-hal yang perlu konfirmasi, maka kami mengusulkan pak, didalam forum ini pada waktu pembahasan untuk kementrian-kementrian tekhnis yang langsung berkaitan dengan ini bisa hadir mendampingi
85
pemerintah, ini usul kami didalam forum resmi RDP kali ini, dalam pengertian untuk Kementrian Pekerjaan Umum, BPN dan sebagainya untuk bisa ditetapkan hadir mendampingi mewakili pemerintah karena tidak ada didalam ampres itu saja.
Terima kasih. KETUA RAPAT :
Baik terimakasih Pak Nusyirwan.
Catatan tadi kami catat mengenai usulnya ada dua dari Pak Riswan dan Pak Nusyirwan tadi. Selanjutnya sekarang pukul tiga belas jadi waktunya sudah habis ....perlu kita perpanjang lagi lima belas menit setuju bapak sekalian, sekarang yang terakhir ya masih ada Pak Abdul Hakim, jadi ini waktu kita perpanjang lima belas menit mohori itu buka itu Pak Abdul Hakim tiga menit dan sisanya nanti kita gunakan untuk...
F-PKS (KH. Ir. ABDUL HAKIM, M.M):
Baik, mudah-mudahan tidak lebih dari tiga menit karena kami sudah setuju apa yang disampaikan oleh pemerintah Pak Ketua.
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua.
Pimpinan rekan-rekan Pansus, narasumber dari Kementrian PU Pak Menteri, dari BPN atau yang mewakili,
Hadirin yang berbahagia.
Saya kira posisi kehadiran Kementrian PU dan BPN pada kesempatan ini adalah memberikan masukan kepada fraksi-fraksi dalam proses penyusunan DIM nya saya kira itu kami lebih memaknai posisinya seperti itu, dan lebih memaknai posisinya adalah memberikan masukan mereka-merekan ada sebagai user yang terlibat dalam keseharian dalam proses-proses pengadaan tanah saya kira pada posisi itu. Kalau kehadiran kemarin-kemarin posisi pemerintah menyampaikan penjelasan tetapi pada posisi sekarang ini adalah menyampaikan masukan kepada fraksi-fraksi dalam proses penyusunan DIM dan katanya tentu karni ingin menyarnpaikan apresiasi dan terimakasih atas masukan-masukan itu, masukan yang berharga khususnya bagi kami di fraksi untuk selanjutnya akan kami tuangkan dalam DIM yang nantinyapun juga akan disampaikan kepada pemerintah ini statemen yang terlama.
Yang kedua, terkait dengan saya ingin mendapatkan pandangan dari BPN dapat masukan, tentu tadi telah diperdebatkan terkait dengan judul dari undang-undang ini pengadaan tanah untuk kepentingan umum, saya kira dalam kontek pengadaan tanah itu saat sekarang ini telah terjadi mix dalam sebuah kawasan ataupun lokasi tidak bisa dipisah-pisahkan. Dinegara-negara maju misalnya terminal, pelabuhan dan sebagainya itu sudah rnix pengelolaan dan pengadaan tanahnya, misalnya tidak semata-mata yang namanya stasiun itu hanya untuk pelayanan, untuk penumpang tidak tetapi disitu ada mall ada super market dan sebagainya. Nah oleh karenanya saya kira sudah sangat tepat ketika kemudian judulnya adalah pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan dan tidak bisa
86
dipisah-pisahkan, tadi dari kepala BPN juga sudah menjelaskan perlu ada kepastian hokum, terkait dengan bahwa ketika swasta ingin mengadakan tanah untuk kepentingan usahanya dan itu punya mix dengan kepentingan umum saya kira tidak bisa tadi itu.
Oleh karenanya saya kira pantas kalau kemudian undang-undang ini juga menjawab supaya ada kepastian hokum terkait dengan pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan yang dilakukan oleh swasta menjadi kepemilikannya ataupun hak milik dan hak yang lainnya juga oleh swasta saya kira itu pandangan kami yang pertama. Oleh karenanya saya ingin mendapatkan penjelasan lebih lanjut dari BPN terkait dengan kondisi terakhir yang mis tadi itu, dalam sebuah lokasi terminal, stasiun, pelabuhan ataupun kepentingan umum yang lainnya terjadi gak mix seperti itu. Yang kedua, ini saya ingin tujukan kepada Pak Menteri PU kita pernah punya pengalaman Pak Menteri ketika membahas perubahan undang-undang tentang penataan ruang terkait dengan komplikasi ataupun duplikasi antara satu peraturan satu dengan peraturan yang lainnya. Pada saat itu kegiatan kita inginnya bahwa undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang ingin menyelesaikan komplikasi itu, duplikasi itu, sehingga ada kepastian hokum yang kemudian tidak lagi bertabrakan dengan undang-undang yang lainnya, tetapi dari perjalanan evaluasi kami di Komisi V khususnya didalam rangka menyusun rencana tata ruang wilayah nasional provinsi kabupaten kota masih ada kendala-kendala di undang-undang yang lainnya ternyata undang-undang yang diharapkan, undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang bisa menyelesaikan problem komplikasi dan problem juga ...tidak bisa menyelesaikan masalah, persis saya kira persoalan inipun juga akan terjadi undang-undang ini. Tadi saya mendapatkan penjelasan dari ketua BPN bahwasannya diharapkan ini mampu melakukan unifikasi atas kontradiktif atas duplikasi itu. Nah persoalanannya barangkali ini yang harus kita jawab, betulkah undang-undang yang akan kita lahirkan mampu menjawab, memadukan, menyatukan, meyunifikasikan berbagai kontradiktif-kontradiktif terkait dengan peraturan perundang-undangan yang tersebar di berbagai sektornya menjadi satu dalam bentuk undang-undang, ini saya kira jawaban yang harus kita jawab secara cerdas dan tentu secara hokum bisa dipertanggungjawabkan.
Terakhir tentu Pak Menteri ini ada kelanjutan kita dari Komisi V mengupas disini kaitan dengan pengadaan tanah untuk jembatan selat sunda saya kira, saya ingin mendorong percepatan ini pak menteri, supaya ada kepastian jembatan selat sunda yang akan menghubungkan antara Jawa dan Sumatera bisa cepat terealisasi. Sekali lagi saya ingin mendukung percepatan penyelesaian undang-undang ini supaya JSS nanti tidak terkendalai oleh pengadaan tanah ini.
Demikian.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT :
Terima kasih Pak Abdul Hakim. Ibu, Bapak sekalian.
Jadi kita telah menyelesaikan semuanya hampir ada empat belas penanya. Karenanya itu dengan waktu yang tersedia kita silakan kepada Menteri Pekerjaan Umum dan BPN untuk menyampaikan jawaban atau pandangannya secara singkat dimana dapat memahami hal tersebut
87
dan memberikan ruang apabila ada hal yang akan disampaikan kelak secara tertulis secara mendetail tentang beberapa masukan tadi.
Silakan Pak.
MENTERI PEKERJAAN UMUM :