• Tidak ada hasil yang ditemukan

DALAM KAITANNYA DENGAN PERATURAN HUKUM POSITIF INDONESIA

3. Piagam memuat beberapa hal penting baru yaitu:

(1) Pengaturan Badan Hak Asasi Manusia (HAM) ASEAN.

(2) Integrasi ekonomi. Kesepakatan baru dalam Piagam ASEAN ini mencita-citakan terbentuknya suatu pasar tunggal dan basis produksi yang

141 stabel, makmur, berkompetitif dan terintegrasi secara ekonomis. Untuk maksud itu, Piagam ASEAN mempercepat target pencapaiannya dari semula tahun 2020 menjadi 2015.

(3) Piagam memberi kewenangan yang lebih besar kepada Sekretariat ASEAN di Jakarta.

(4) Bahasa resmi ASEAN. Piagam menetapkan bahwa bahasa resmi ASEAN adalah bahasa Inggris.

(c) UU Ratifikasi

1. Pemerintah meratifikasi Piagam ASEAN melalui UU Nomor 38 Tahun 2008 tentang Pengesahan Charter of the Association of Southeast Asean Nations (Piagam Perhimpunan Bangsa-Bangasa Asia Tenggara).

2. Pertimbangan pemerintah dalam meratifasi Piagam adalah:

(1) bahwa hubungan luar negeri yang dilandasi politik bebas aktif merupakan salah satu perwujudan dari tujuan Pemerintah Negara Republik Indonesia, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial;

(2) bahwa perkembangan dan intensitas interaksi, baik di fora internasional maupun regional, telah menghadapkan bangsa Indonesia sebagai bagian dari Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) untuk lebih menyesuaikan diri dan tanggap dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman, tantangan, dan peluang baru melalui transformasi ASEAN dari suatu Asosiasi menjadi Komunitas ASEAN berdasarkan Piagam;

(3) bahwa Indonesia memiliki kepentingan strategis pada ASEAN dalam memperkuat posisi Indonesia di kawasan dan mencapai kepentingan nasional secara maksimal di berbagai bidang, khususnya di bidang politik dan keamanan, ekonomi, dan sosial budaya;

(4) bahwa pada Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN Ke-13, di Singapura, pada tanggal 20 November 2007, Pemerintah Indonesia telah menandatangani Charter of the Association of Southeast Asian Nations (Piagam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara).

142 3. UU Ratifikasi Piagam ASEAN mengandung 2 (dua) pasal, yaitu pernyataan pengesahan terhadap Piagam ASEAN (Pasal 1), dan penetapan tanggal berlakunya pengesahan (Pasal 2).

4. Sama halnya dengan UU ratifikasi sebelumnya, UU ratifikasi ini pun tidak dipersiapkan terjemahan teks-teks piagam ASEAN.

4. Analisis

1. Kesepakatan berupa perjanjian atau persetujuan internasional di atas mengandung norma-norma baru yang disepakati oleh negara-negara di dunia. Konsekuensi dari kesepakatan tersebut adalah terikatnya negara-negara (anggota) untuk menerapkan aturan-aturan dalam perjanjian ke dalam wilayahnya.46

2. Langkah penerapan ke dalam hukum nasional dapatlah diartikan sebagai masuknya aturan-aturan atau norma hukum internasional (baru) ke dalam hukum nasional negara tersebut. Hal ini mengindikasikan pula bahwa dengan masuknya aturan-aturan hukum tersebut telah terjadi suatu penyampuran atau peresapan suatu norma hukum baru yang menjadi bagian dari hukum nasional negara.

3. Peresapan atau masuknya norma-norma hukum internasional (baru) ke dalam hukum nasional seyogyanyalah dipandang secara positif. Positif karena keputusan negara anggota untuk merundingkan dan menyetujui teks-teks kesepakatan yang dituangkan ke dalam naskah perjanjian internasional merupakan hasil dari suatu pertimbangan matang oleh masing-masing negara anggotanya.47

4. Pertimbangan matang anggota biasanya didasarkan kepada dua hal utama yaitu kepentingan nasionalnya tetap terlindungi dan maksud atau tujuan dari perumusan dan persetujuan teks-teks perjanjian internasional dimaksudkan untuk tujuan kepentingan hukum nasionalnya dan kepentingan bersama negara anggotanya.

5. Satu hal yang penting dan menjadi asumsi atau hipotesis dari tulisan ini yang dikemukakan dalam awal tulisan, yaitu bahwa efektifitas atau terpenuhinya

46

Pasal 26 Konvensi Wina 1969.

47

Termuat dalam konsideran atau pertimbangan pemerintah sebagai alasan meratifikasi perjanjian internasional. Pertimbangan ini termuat dalam UU Ratifikasi.

143 tujuan perjanjian internasional ini baru akan efektif atau bermanfaat apabila muatan perjanjian internasional itu diterapkan efektif atau diterapkan secara operasional dalam hukum nasional negara anggotanya.

6. Persyaratan peraturan perundang-undangan nasional Indonesia antara lain mensyaratkan setiap naskah perjanjian internasional dan setiap naskah peraturan perundang-undangan nasional di Indonesia haruslah ditulis dalam bahasa Indonesia dan apabila peraturan perjanjian internasional tertulis dalam bahasa Inggeris (asing), maka teks tersebut haruslah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

7. Uraian mengenai UU ratifikasi di atas menunjukkan bahwa dari 4 (empat) sektor perjanjian yang dijadikan sampel dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun naskah perjanjian internasional tersebut yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Teks-teks perjanjian tersebut adalah baik perjanjian yang dibuat sebelum atau pasca UU Nomor 24 Tahun 2000 ini dikeluarkan.

8. Tidak adanya naskah yang diterjemahkan apalagi kemudian disahkan menjadi bagian dari peraturan perundang-undangan yang resmi, misalnya turut diumumkan di lembaran negara, membawa dampak yang cukup penting di tanah air.

9. Dampak utama dan terpenting dari tidak adanya teks terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah sulitnya atau bahkan tidak dapat dilaksanakannya secara operasional ketentuan-ketentuan dalam teks perjanjian internasional ke dalam hukum nasional. Masalah ini akan menjadi kenyataan ketika pengadilan (hakim) dalam menangani suatu perkara akan dihadapkan pada teks-teks perjanjian internasional.

5. Kesimpulan

1. Dari uraian di atas dapatlah ditarik kesimpulan berikut:

(1) Pelaksanaan ratifikasi perjanjian-perjanjian internasional yang pemerintah telah ratifikasi selama ini di Indonesia ternyata belum secara penuh dapat diterapkan secara praktis dan operasional semata-mata belum ada atau bahkan tidak ada terjemahan dalam teks bahasa Indonesia.

(2) Perjanjian internasional di dalam rangka analisis dan evaluasi terhadap hukum kolonial berperan penting di dalam ‗memodernkan‘ peraturan

perundang-144 undangan nasional yang ada, baik peninggalan kolonial maupun peraturan perundang-undangan nasional.

Keluaran penelitian ini menyarankan kepada pemerintah (Eksekutif) supaya segera dibentuk suatu lembaga penerjemah resmi. Lembaga ini bertugas secara khusus menerjemahkan teks-teks perjanjian internasional baik yang telah ada maupun yang sedang dirundingkan.

Dapat pula dipertimbangkan, lembaga bahasa ini diberi tugas juga untuk menerjemahkan teks-teks hukum kolonial yang selama ini masih berlaku namun belum ada terjemahan resmi menurut hukum (misalnya Burgerlijke Wetboek).

145

BAB VI

Dokumen terkait