• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pidana Denda dalam Rancangan KUHP Indonesia

BAB II EKSISTENSI PIDANA DENDA DALAM HUKUM POSITIF

C. Pidana Denda dalam Rancangan KUHP Indonesia

Indonesia dapat dikatakan negara yang tertinggal dalam pengaturan dan penerapan pidana denda. Menurut Suhariyono AR, KUHP yang berlaku di Indonesia itu sendiri memiliki kelemahan-kelemahan, antara lain :76

1. Pidana denda dapat dibayarkan atau ditanggung oleh pihak ketiga sehingga pidana yang dijatuhkan tidak secara langsung dirasakan oleh terpidana dan pada akhirnya tujuan pemidanaan tidak tercapai;

2. Pidana denda lebih menguntungkan bagi orang mampu karena bagi mereka yang tidak mampu akan membebaninya dan mereka memilih untuk menerima jenis pidana perampasan kemerdekaan;

3. Adanya kesulitan pelaksanaan eksekusi pidana denda bagi terpidana yang tidak ditahan atau dipenjara atau jika terpidana tidak bersedia membayar denda, terdapat kesulitan untuk melelang harta benda milik terpidana.”

Ketertinggalan pengaturan dan penerapan pidana denda di atas, upaya pembaruan hukum pidana oleh para ahli hukum pidana dan pemerintah merupakan bagian dari pembangunan sistem hukum nasional yang salah satunya adalah pembaruan KUHP warisan zaman Hindia Belanda yang merupakan induk dari keseluruhan sistem hukum pidanan saat ini. Upaya ini merupakan tuntutan reformasi di segala bidang pembangunan, terutama pembangunan hukum nasional sebagai amanat proklamasi dan amanat UUD 1945 beserta perubahannya. Pembaruan KUHP telah lama dipersiapkan dana dalam dekade terakhir telah diprioritaskan dalam Program Legislasi Nasional untuk dalam waktu yang tidak terlalu lama dapat dibahas bersama antara DPR-RI dan Pemerintah.

Di dalam Rancangan Undang-Undang tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP 2008) atau dapat disebut sebagai KUHP Nasional, pidana denda masih tetap sebagai bagian dari pidana pokok di samping pidana

76

penjara, pidana tutupan, pidana pengawasan, dan pidana kerja sosial. Jenis pidana tersebut mendasarkan RUU KUHP 1993 dan tetap dipertahankan sampai dengan konsep (versi) 2008. Dalam Penjelasan Pasal 80 RUU KUHP 2008 disebutkan bahwa pidana denda sebagai salah satu sarana dalam politik kriminal tidak kalah efektif dengan jenis pidana lainnya.

Pola pidana denda yang ditentukan dalam RUU KUHP 2008 disebutkan sebagai berikut :77

1. Pidana denda merupakan pidana berupa sejumlah uang yang wajib dibayar oleh terpidana berdasarkan putusan pengadilan.

2. Jika tidak ditentukan minimum khusus maka pidana denda paling sedikit Rp. 15.000,- (lima belas ribu rupiah).

3. Pidana denda paling banyak ditetapkan berdasarkan kategori, yaitu: a. Kategori I Rp. 1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu rupiah); b. Kategori II Rp. 7.500.000,00 (tujuh juta lima ratus ribu

rupiah);

c. Kategori III Rp. 30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah);

d. Kategori IV Rp. 75.000.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah);

e. Kategori V Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah); f. Kategori VI Rp. 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

4. Pidana denda paling banyak untuk korporasi adalah kategori lebih tinggi berikutnya.

5. Pidana denda paling banyak untuk korporasi yang melakukan tindak pidana yang diancamkan dengan :

a. Pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun sampai dengan 15 (lima belas) tahun adalah pidana denda Kategori V;

b. Pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun adalah pidana denda Kategori VI.

6. Pidana denda paling sedikit untuk korporasi adalah pidana denda kategori IV.

7. Dalam hal terjadi perubahan nilai uang, ketentuan besarnya pidana denda ditetapkan dengan Pengaturan Pemerintah.

8. Dalam penjatuhan pidana denda, wajib dipertimbangkan kemampuan terpidana.

77

9. Dalam menilai kemampuan terpidana, wajib diperhatikan apa yang dapat dibelanjakan oleh terpidana sehubungan dengan keadaan pribadi dan kemasyarakatannya.

10.Ketentuan mengenai pertimbangan kemampuan terpidana tidak mengurangi untuk tetap diterapkan minimum khusus pidana denda yang ditetapkan untuk tindak pidana tertentu.

11.Pidana denda dapa dibayar dengan cara mencicil dalam tenggang waktu sesuai dengan putusan hakim.

12.Jika pidana denda tersebut tidak dibayar penuh dalam tenggang waktu yang ditetapkan, maka untuk pidana denda yang tidak dibayar tersebut dapat diambil dari kekayaan atau pendapatan terpidana.

13.Jika mengambil kekayaan atau pendapatan tersebut tidak memungkinkan, maka pidana-pidana denda yang tidak dibayar tersebut diganti dengan pidana kerja sosial, pidana pengawasan, atau pidana penjara, dengan ketentuan pidana-pidana denda tersebut tidak melebihi pidana denda Kategori I.

14.Lamanya pidana pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :

a. Untuk pidana kerja sosial pengganti, berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (3) dan ayat (4),

b. Untuk pidana pengawasan, paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun;

c. Untuk pidana penjara pengganti, paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun yang dapat diperberat paling lama 1 (satu) tahun 4 (empat) bulan jika ada pemberatan pidana denda karena perbarengan atau karena adanya faktor pemberatan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134.

15.Perhitungan lamanya pidana pengganti didasarkan pada ukuran, untuk setiap pidana denda Rp. 2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah) atau kurang, disepadankan dengan :

a. 1 (satu) jam pidana kerja sosial pengganti;

b. (satu) hari pidana pengawasan atau pidana penjara pengganti.

16.Jika setelah menjalani pidana pengganti, sebagai pidana denda dibayar, maka lamanya pidana pengganti dikurangi menurut ukuran yang sepadan.

17.Jika pengambilan kekayaan atau pendapatan tidak dapat dibayar penuh, maka untuk pidana denda di atas kategori I yang tidak dibayar diganti dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama sebagaimana yang diancamkan untuk tindak pidana yang bersangkutan.

18.Jika pengambilan kekayaan atau pendapatan tidak dapat dibayar penuh, maka untuk korporasi dikenakan pidana pengganti berupa pencabutan izin usaha atau pembubaran korporasi.

Disamping pola, di dalam RUU KUHP 2008 juga diatur mengenai pedoman penerapan pidana. Jika tindak pidana hanya diancamkan dengan pidana penjara, sedangkan hakim berpendapat tidak perlu menjatuhkan pidana penjara setelah mempertimbangkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 dan Pasal 55 maka orang tersebut dapat dijatuhi pidana denda.

Jika suatu tindak pidana diancamkan dengan pidana pokok secara altenatif, maka penjatuhan pidana pokok yang lebih ringan harus kebih diutamakan apabila hal itu dipandang telah sesuai dan dapat menunjang tercapainya tujuan pemidanaan. Jika pidana penjara dan pidana denda diancamkan secara altenatif, maka untuk tercapainya tujuan pemidanaan, kedua jenis pidana pokok tersebut dapat dijatuhkan secara kumulatif, dengan ketentuan tidak melampaui separuh batas maksimum kedua jenis pidana pokok yang diancamkan tersebut. Jika dalam menerapkan ketentuan tersebut, dipertimbangkan untuk menjatuhkan pidana pengawasan berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 dan Pasal 78 ayat (1) dan ayat (2), maka tetap dapat dijatuhkan pidana denda paling banyak separuh dari maksimum pidana denda yang diancamkan tersebut bersama- sama dengan pidana pengawasan.

Dari pola atau pedoman pemidanaan pidana denda di atas, dapat diketahui bahwa pidana denda dalam RUU KUHP 2008 merupakan pembaruan dari

ketentuan KUHP (lama), dimana menurut Suhariyono AR, pola KUHP Lama yakni :78

1. Pidana denda ditentukan melalui pengkategorian;

2. Jika terdapat perubahan nilai rupiah,dapat diubah dengan menetapkan Peraturan Pemerintah;

3. Adanya pengaturan mengenai pertimbangan tentang kemampuan terpidana;

4. Pidana denda dapat dibayar dengan cara mencicil;

5. Pidana denda dapat diganti dengan pidana kerja sosial, pengawasan atau pidana penjara;

6. Untuk denda dapat dijatuhakn terhadap korporasi;

7. Untuk korporasi yang tidak dapat membayar denda secara penuh, diganti dengan pidana berupa pencabutan izin usaha atau pembubaran korporasi.

Dari uraian umum dan kutipan mengenai jenis-jenis pidana di atas, semakin tampak bahwa jenis pidana denda masih dominan untuk diancamkan terhadap tindak pidana yang diatur di dalam Bukum II RUU KUHP 2008, baik sebagai altenatif dan pengganti pidana penjara, maupun diancamkan secara tunggal karena jenis pidana denda perumusannya dekat dengan jenis pidana penjara.

RUU KUHP 2008 tetap berkeinginan untuk memfungsikan pidana denda terkait dengan gugurnya (hapusnya) kewenangan penuntutan, jika:

1. Maksimum pidana denda dibayar dengan sukarela bagi tindak pidana yang dilakukan hanya diancamkan dengan pidana denda paling banyak kategori II; dan

78

2. Maksimum pidana denda dibayar dengan sukarela bagi tindak pidana yang diancamkan dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling banyak kategori III.

Pidana denda yang menggugurkan penuntutan di atas dibayarkan kepada pejabat yang berwenang dalam tenggang waktu yang telah ditetapkan.

Pidana denda menurut Remmelink adalah suatu hukuman. Hal ini mengimplikasikan bahwa terpidana wajib membayar sejumlah uang yang ditetapkan dalam putusan pengadilan kepada negara, tidak dapat mendayagunakan keberatan atau perlawanan dalam konteks hukum keperdataan terhadap negara.79

.Dalam penjelasan Pasal 73 RUU KUHP 2008 disebutkan bahwa pidana denda juga bisa dipandang sebagai alternatif pidana pencabutan kemerdekaan. Sebagai sarana politik kriminal, pidana ini tidak kalah efektifnya dari pidana pencabutan kemerdekaan. Berdasarkan pemikiran ini maka pada dasarnya sedapat mungkin denda itu harus dibayar oleh terpidana dan untuk pembayaran itu ditetapkan tenggang waktu. kalau keadaan mengizinkan, denda yang tidak dibayar itu dapat diambilkan dari kekayaan atau pendapatan terpidana sebagai gantinya. Pengertian kekayaan atau pendapatan terpidana sebagai gantinya. Pengertian “apabila keadaan mengizinkan” berarti terpidana mampu, akan tetapi tidak melunasi dendanya. Bilamana usaha pengganti itu tidak mungkin, maka pidana penjara pengganti dikenakan kepadanya. Ketentuan agar terpidana sedapat mungkin membayara dendanya harus diartikan bahwa kepadanya diberi kesempatan oleh hakim untuk mengangsur dendanya.

79

Jan Remelink, Hukum Pidana-Komentar atas Pasal -Pasal Terpenting dari KUHP Belanda dan Pidananya dalam KUHP Indonesia, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarata, 2003, hal. 485-486.

Terkait dengan penentuan kategori, dalam konsep RUU KUHP 2008 disebutkan bahwa tujuan utama penggunaan kategori denda adalah:80

a) Agar diperoleh pola yang jelas tentang maksimum denda yang dicantumkan untuk berbagai tindak pidana (ada enam kategori); dan

b) Agar mudah melakukan perubahan (cukup dengan mengubah ayat (3) Pasal ini), apabila terjadi perubahan keadaan ekonomi dan moneter di negara kita.

Sebagai satuan terkecil denda, dipergunakan denda yang besarnya sama dengan upah maksimum harian (UMR). Maksimum kategori denda yang teringan mempunyai kelipatan seratus kali “denda harian”, sedangkan maksimum kategori yang terberat adalah kelipatan dua ratus ribu kali (200.000 x) denda harian. Kategori-kategori lain (II,III, IV dan V) adalah berturut turut kelipatan 500, 2000, 5000, dan 20.000 kali denda harian.

Oleh karena pidana pokok yang dapat dijatuhkan pada korporasi hanyalah pidana denda (berbeda dengan apabila “orang” yang menjadi terpidana), maka wajar kiranya bahwa apabila korporasi yang menjadi terpidana, ancaman maksimum pidana denda yang dapat dijatuhkan pengadilan haruslah pula lebih berat (daripada apabila “orang” yang merupakan terpidana). Untuk itu, telah dipilih cara memberlakukan sebagai maksimum denda terhadap korporasi untuk suatau tindak pidana tertentu, kategori lebih tinggi berikutnya. Dalam hal rumusan tindak pidana tidak mengancamkan denda, maka berlaku ketentuan minimum denda untuk korporasi yakni kategori IV.

80

Mengingat tujuan pemidanaan yang tidak hanya berupa pembalasan maka dalam penjatuhan pidana denda hakim harus memperhatikan kemampuan terpidana secara nyata. Terkait dengan kemampuan tersebut, Remmellink menyinggung bahwa terbuka kemungkinan justru atau hanya orang-orang kaya yang diuntungkan olehnya, karena berat ringannya pidana denda dalam kenyataan harus turut memperhitungkan kemampuan financial terpidana, yakni untuk menghindari absurditas. Pada lain pihak mereka yang miskin akan sangat dirugikan oleh pengenaan pidana denda.81

Terkait dengan masalah jumlah ancaman pidana denda, hal ini bersangkutan dengan jumlah lamanya pidana penjara. Dalam sistem penetapan jumlah ancaman pidana, Barda Nawawi Arief menjelaskan bahwa dalam menetapkan jumlah atau lamanya ancaman pidana, pembuat konsep pertama-tama dihadapkan pada dua altenatif, yaitu sistem atau pendekatan absolute dan sistem atau pendekatan relatif.82

Pendekatan absolut adalah setiap tindak pidana ditetapkan bobot/ kualitasnya sendiri-sendiri yakni dengan menetapkan ancaman pidana maksimum (dapat juga ancaman minimumnya) untuk setiap tindak pidana. Penetapan masimum pidana untuk tiap tindak pidana dikenal dengan sebutan sistem

indefinite atau sistem maksimum. Pendekatan tersebut disebut juga pendekatan tradisional karena selama ini memang sudah biasa digunakan perumusan KUHP di berbagai negara, termasuk dalam praktik legislasi di Indonesia. Pendekatan relatif adalah tiap tindak pidana tidak ditetapkan bobot/kualitas (maksimum

81

Jan Remmelink, Op.Cit., hal. 485.

82

Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Op.Cit., hal. 118- 119.

pidananya) sendiri-sendiri, tetapi bobot direlatifkan yaitu dengan melakukan penggolongan tindak pidana dalam beberapa tingkatan dan sekaligus menetapkan maksimum pidana untuk tiap kelompok tindak pidana itu. Pendekatan ini dikenal dengan pendekatan imajinatif.83

Kedua sistem atau pendekatan di atas, menurut Colin Howard mempunyai segi positif. Segi positif dari sistem maksimumnya ada tiga, yakni:84

a. Dapat menunujukkan tingkat keseriusan masing-masing tindak pidana; b. Memberikan fleksibilitas dan diskresi kepada kekuasaan pemidanaan; c. Melindungi kepentingan si pelanggar itu sendiri dengan menetapkan

batas-batas kebebasan dari kekuasaan pemidaan.

Ketiga keuntungan di atas secara teorotis mengandung aspek perlindungan masyarakat dan aspek perlindungan individu. Aspek pelindungan masyarakat terlihat dengan ditetapkannya ukuran objektif berupa maksimum pidana dalam perumusan delik yang bersangkutan, sedangkan aspek perlindungan individual terlihat dengan ditentukannya batas-batas kewenangan dari aparat kekuasaan dalam menjatuhkan pidana. Namun demikian, dalam setiap proses kriminalisasi, pembuat undang-undang selalu dihadapkan pada masalah pemberian bobot dengan menetapkan kualifikasi ancaman pidana maksimumnya. Penetapan maksimum pidana untuk menunjukkan tingkat keseriusan atau kualitas suatu tindak pidana, bukanlah pekerjaan yang mudah dan sederhana. Untik itu diperlukanlah pekerjaan yang mudah dan sederhana, untuk itu diperlukan pengetahuan yang cukup mengenai urutan-urutan tingkat atau gradasi nilai dari norma dan kepentingan hukum yang akan dilindungi itu.

83

Barda Nawawi Arief, Kebijakan Hukum Pidana, Bunga Rampai, Perkembangan Penyusunan KUHP Baru, Kencana Prenada Media Grup, Jakarta, 2008. hal. 116.

84

Sistem yang kedua, yakni pendekatan relatif yang secara positif dapat memecahkan atau memudahkan permasalahan yang dihadapi sistem pertama dalam penentuan bobot karena tingkat keseriusan suatu delik direlatifkan. Namun hal ini ada segi negatifnya yakni karena direlatifkan ancaman maksimum untuk suatu kelompok tindak pidana berarti memberikan kewenangan dan diskresi yang sangat luas kepada para hakim dan di lain pihak dapat member peluang adanya disparitas pidana yang semakin mencolok.

Menurut Barda Nawawi Arief, anggota tim RUU KUHP 2008, melaui berbagai diskusi dan pertemuan ilmiah, mempertimbangkan bahwa konsep RUU KUHP 2008 masih akan tetap menggunakan sistem atau pendekatan absolut (sistem maksimum), walaupun dengan beberapa modifikasi. Di samping itu, masih tetap dipelajari seberapa jauh kemungkinan dapat ditempuh pendekatan relatif.85

Dari pola di atas, RUU KUHP 2008 dalam aturan umumnya menggunakan konsep pendekatan maksimum dan minimum pidana (indefinite) yang ditentukan sebagai berikut:86

1. Untuk pidana penjara:

a. Pidana penjara dijatuhkan untuk seumur hidup atau untuk waktu tertentu.

b. Pidana penjara untuk waktu tertentu dijatuhkan paling lama 15 (lima belas) tahun berturut turut atau paling singkat (minimal) 1 (satu) hari, kecuali ditentukan minimum khusus.

c. Jika dapat dipilih antara pidana mati dan pidana penjara seumur hidup atau jika ada pemberatan pidana atas tindak pidana yang dijatuhkan pidana penjara 15 (lima belas) tahun, maka pidana penjara untuk waktu tertentu dapat dijatiuhkan untuk waktu 20 (dua puluh) tahun berturut turut.

85

Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Op.Cit., hal. 120.

86

d. Dalam hal bagaimana pun pidana penjara untuk waktu tertentu tidak boleh dijatuhkan lebih dari 20 (dua puluh) tahun.

2. Untuk pidana denda:

a. Jika tidak ditentukan minimum khususnya maka pidana denda paling sedikit Rp. 15.000,- (lima belas ribu rupiah).

b. Pidana denda paling banyak ditetapkan berdasarkan kategori, yakni : 1) Kategori I Rp 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah); 2) Kategori II Rp. 7.500.000,- (tujuh juta lima ratus ribu rupiah); 3) Kategori III Rp. 30.000.000,- (tujuh juta lima ratus ribu rupiah); 4) Kategori IV Rp. 75.000.000,- (tujuh puluh lima juta rupiah); 5) Kategori V Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah); dan 6) Kategori VI Rp. 3.000.000.000,- (tiga miliar rupiah).

c. Pidana denda paling banyak untuk korporasi adalah kategori lebih tinggi berikutnya.

d. Pidana denda paling banyak untuk korporasi yang melakukan tindak pidana yang diancamkan dengan :

1) Pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun sampai dengan 15 (lima belas) tahun adalah pidana denda kategori V;

2) Pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 tahun (dua puluh) tahun adalah pidana denda kategori VI.

e. Pidana denda palling sedikit untuk korporasi adalah pidana denda kategori IV.

Dari pidana maksimum dan minimum di atas, pembentuk RUU KUHP 2008 dalam merumuskan norma dan ancaman pidanaya dalam Buku II digunakan pola sebagai berikut:87

1) Jika suatu tindak pidana menurut penilaian dianggap tidak perlu diancam dengan pidana penjara atau bobotnya dinilai kurang dari 1 tahun penjara, digolongkan sebagai tindak pidana sangat ringan. Golongan ini hanya diancam dengan pidana denda menurut kategori ke-1 sampai kategori ke dua.

2) Jika suatu tindak pidana yang semula atau selama ini diancam pidana penjara atau kurungan kurang dari 1 tahun, tetap dinilai patut untuk

87

diancam dengan pidana penjara, maka akan diancam dengan maksimum pidana penjara paling rendah 1 tahun.

3) Semua tindak pidana yang menurut penilaian patut diancam pidana penjara maksimum 1 tahun sampai dengan 7 tahun, selalu akan dialternatifkan dengan pidana denda 7, selau akan dialtenatifkan dengan pidana denda dengan penggolongan sebagai berikut;

4) Untuk penggolongan ringan (maksimum penjara 1 sampai 2 tahun), diancam dengan maksimum denda kategori ke-3 yakni maksimum Rp. 30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah);

5) Untuk golongan sedang (maksimum penjara 2 sampai 4 tahun) dan golongan berat (maksimum penjara 4 sampai 7 tahun) diancam dengan maksimum denda kategori ke-4, yakni Rp. 75.000.000,- (tujuh puluh lima juta rupiah);

Semua tindak pidana yang tergolong sangat serius (di atas 7 tahun penjara) tidak dialternatifkan dengan pidana denda, kecuali apabila dilakukan oleh korporasi dapat dikenakan maksimum denda menurut kategori ke-5, yakni maksimum Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) untuk delik yang diancam pidana penjara 7 tahun sampai dengan 15 tahun, dan menurut kategoti ke-6 yakni Rp. 300.000.000,- (tiga miliar rupiah) untuk yang diancamkan pidana penjara 20 tahun atau seumur hidup.

Uraian di atas dapat digambarkan Tabel sebagai berikut: Tabel 13

Pringkat dan Kategori Ancaman Pidana 88

Tindak Pidana Penjara Denda

Sangat ringan - Kategori I : Rp. 1.500.000,00 Kategori II : Rp. 7.500.000,00 Ringan 1 – 2 tahun Kategori III : Rp 30.000.000,00 Sedang 2 – 4 tahun Kategori IV : Rp. 75.000.000,00 Berat 4 – 7 tahun Kategori V : Rp. 300.000.000,00

Sangat Serius Di atas 7 tahun Tanpa denda, kecuali untuk korporasi; Kategori V : Rp 300.000.000,00 Kategori VI : Rp3.000.000.000,-

Dari pola di atas, dapat dilihat bahwa hanya ada 3 kategori pengelompokan gradasi tindak pidana, yakni :

1) Yang hanya diancamkan pidana denda, untuk delik yang bobotnya dinilai kurang dari 1 tahun penjara;

2) Yang diancamkan pidana penjara atau denda secara alternatif, untuk delik yang diancam dengan penjara 1 sampai 7 tahun;

3) Yang hanya diancam dengan pidana penjara, untuk delik yang diancam dengan pidana penjara lebih dari 7 tahun.

Pola dan pengelompokan di atas masih dimungkinkan adanya penyimpangan, misalnya:

1) Untuk beberapa tindak pidana yang dipandang meresahkan masyarakat ancaman pidananya akan ditingkatkan secara khusus dan sebaliknya dengan alas an khusus dapat diturunkan ancaman pidananya menyimpang dari pola;

88

Barda Nawawi Arief, Kebijakan Hukum Pidana, Bunga Rampai, Perkembangan Penyusunan KUHP Baru, Op. Cit., hal. 123 (Jumlah denda disesuaikan dengan RUU KUHP 2008).

2) Untuk beberapa tindak pidana yang dipandang dapat menimbulkan keuntungan ekonomis/keuangan yang cukup tinggi, pidana penjara yang diancamkan dapat dialternatifkan dan dikumulatifkan dengan pidana denda (sistem altenatif kumulatif);

3) Untuk beberapa tindak pidana yang dipandang dapat menimbukan disparitas pidana dan meresahkan masyarakat, akan diancam dengan pidana minimum khusus.

Dari pola di atas, dalam Buku II RUU KUHP 2008 telah ditentukan beberapa penyimpangan dari sistem atau pendekatan maksimum dan minimum pidana, yakni antara lain tindak pidana makar dengan maksud membunuh atau merampas kemerdekaan Presiden atau Wakil Presiden, atau menjadikan Presiden atau Wakil Presiden tidak mampu menjalankan pemerintahan yang ancaman pidananya adalah pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun. Penyimpangan ini berlaku untuk pelanggaran hak asasi manusia yang berat, korupsi, dan terorisme. Beberapa kualifikasi tindak pidana yang ancamannya menyimpang dari pola di atas.

Ketentuan-ketentuan di atas dialtenatifkan dengan denda, dalam arti diancamkan secara tunggal, hal ini sesuai dengan pola untuk pidana yang sangat serius dan beberapa penyimpangan karena tindak pidana dalam contoh di atas dipandang meresahkan masyarakat dan kekhawatiran adanya disparitas. Untuk itu, ditentukan adanya ancaman pidana minimum khusus yang disandingkan dengan pidana maksimum.

Ancaman pidana yang dipandang dapat menimbulkan keuntungan ekonomis/keuangan yang cukup tinggi yang pidana penjaranya diancamkan secara alternatif dan kumulatif dengan pidana denda (sistem altenatif kumulatif) yang dapat diartikan sebagai pilihan pidana dan pemberatan pidana, dan juga pemberatan dengan ancaman minimum khusus, baik penjara maupun denda, Tindak pidana tersebut antara lain peredaran gelap narkotika, penyuapan kepada pejabat dan korupsi.89

Dalam pola yang ditentukan di atas, penentuan jumlah ancaman yang ditetapkan pada dasarnya sulit untuk dirumuskan karena terkait dengan angka- angka yang secara subjektif akan berbeda cara memandangnya bagi pembentuk undang-undang. Di sisi lain, untuk pola pada sistem maksimum, di samping kelemahan di atasm juga akan menyulitkan bagi hakim dalam mempertimbangkan untuk menjatuhkan putusannya. Mengenai hal ini, Oemar Seno Adji menyatakan bahwa:90

1) Pembentuk undang-undang memberikan “Freies Ermessen” kepada hakim untuk menetapkan hukuman yang bergerak dalam batas-batas maxima dan minima yang disediakan oleh udang-undang kepadanya;

2) Hal demikian tidak berarti bahwa dimungkinkan adanya willekuer subjectif kepada hakim ataupun suatu tindakan atau sikap menurut inzicht

ataupun goed dunken dari hakim yang bersangkutan;

3) Walaupun pembentuk undang-undang, doktrin dan jurisprudensi tidak memberikan pegangan bagi hakim dalam menetapkan hukuman yang dijatuhkan, maka yang dipergunakan olehnya dapat dilandaskan pada teori gabungan, di mana kepentingan-kepentingan masyarakat itu ditinggalkan.” Sudarto juga mengatakan bahwa :91

89

Suhariyono AR, Op. Cit, hal. 272.

90

Oemar Seno Adji, Hukum-Hakim Pidana, Penerbit Erlangga, Cetakan Kedua, Jakarta,

Dokumen terkait