• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

2) Pendekatan Dalam Melakukan Mobilitas Penduduk

2.1.2 Pilihan Dalam Melakukan Mobilitas Penduduk Nonpermanen

Beberapa pilihan yang melandasi keputusan sesorang dalam melakukan mobilitas dapat dikaitkan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dari setiap individu. Everet S. Lee (1974) menyebutkan volume migrasi di suatu wilayah berkembang sesuai dengan tingkat keanekaragaman daerah wilayah tersebut. Selanjutnya Lee menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan untuk bermigrasi dapat dipengaruhi oleh empat faktor sebagai berikut :

a. Faktor-faktor yang berhubungan dengan tempat asal migran (origin). b. Faktor-faktor yang berhubungan dengan tempat tujuan migran (destination).

c.Faktor-faktor penghalang atau pengganggu (intervening factors). d. Faktor-faktor yang berhubungan dengan individu migran.

Ketidaktersedian lahan serta penghasilan yang rendah di daerah tempat asal migran merupakan faktor pendorong untuk pindah, namun adanya ikatan kekeluargaan yang erat serta lingkungan sosial yang dinamis merupakan faktor yang menahan agar seseorang tidak pindah. Adanya upah yang tinggi, ketersediaan fasilitas pendidikan, iklim yang baik serta banyaknya kesempatan kerja yang menarik di daerah tempat tujuan migran merupakan faktor penarik untuk datang kesana namun ketidakpastian, resiko yang mungkin dihadapi, pemilikan lahan yang tidak pasti dan sebagainya merupakan faktor penghambat untuk pindah ke tempat tujuan migran tersebut. Transportasi dan komunikasi yang tidak lancar, jarak yang jauh, ongkos pindah yang tinggi, birokrasi yang tidak baik, pajak yang tinggi, serta informasi yang tidak jelas merupakan contoh faktor yang menghambat. Di pihak lain adanya informasi tentang kemudahan, seperti kemudahan angkutan dan sebagainya merupakan intervening faktor yang mendorong migrasi. Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah faktor individu, karena dialah yang menilai positif dan negatifnya suatu daerah, dia pulalah yang memutuskan apakah akan pindah dari daerah asal atau tidak, dan kalau pindah akan individulah yang akan memutuskan daerah mana yang akan dituju.

Gambar 2.1 Faktor – Faktor Determinan Mobilitas Penduduk Menurut Everett S. Lee (1976)

Sumber : Diadaptasi dari Mantra (2003)

+ - + - + - - + - + - + - + - + - + - + - + - + - + - + - + - 2. Rintangan Antara (Intervening astacles)

1. Daerah Asal 4. Individu 3. Daerah tujuan Keterangan : + = faktor dimana kebutuhan dapat terpenuhi

- = faktor dimana kebutuhan tidak dapat terpenuhi

0 = faktor netral + - + - + - - + - + - + - + - + - + - + - + - + - + - + - + -

Di daerah asal dan daerah tujuan ada faktor positif (+) maupun faktor negatif (-), adapula faktor netral (o). Faktor positif adalah faktor yang memberikan nilai menguntungkan kalau bertempat tinggal didaerah itu. Faktor negatif adalah faktor yang memberikan nilai negatif pada daerah yang bersangkutan sehingga seseorang ingin pindah dari tempat itu karena kebutuhan tertentu tidak terpenuhi. Faktor-faktor di tempat asal migran misalnya dapat berbentuk faktor yang mendorong untuk keluar atau menahan untuk tetap dan tidak berpindah. Di daerah tempat tujuan migran faktor tersebut dapat berbentuk penarik sehingga orang mau datang kesana atau menolak yang menyebabkan orang tidak tertarik untuk datang. Perbedaan nilai kumulatif antara kedua tempat tersebut cenderung menimbulkan arus migrasi penduduk.

Robert Norris (1972, dalam Mantra 2003) mengungkapkan bahwa diagram Lee perlu ditambah dengan tiga komponen yaitu migrasi kembali, kesempatan antara, dan migrasi paksaan (force migration). Kalau Lee menekankan bahwa faktor individu adalah faktor terpenting diantara empat faktor tersebut. Norris berpendapat lain bahwa faktor daerah asal merupakan faktor terpenting. Di daerah asal seseorang lahir, dan sebelum sekolah orang itu hidup di daerah tersebut, maka dia tahu benar tentang kondisi daerah asal, penuh dengan nostalgia ketika hidup dan berdomisili di daerah asal dan bermain dengan teman – teman sebayanya. Itulah sebabnya, seseorang sangat terikat dengan daerah asal, walaupun sesudah berumah tangga harus pindah dan berdomisili di daerah lain, namun mereka tetap menganggap bahwa daerah asal (daerah tempat mereka dilahirkan) merupakan home pertama, dan daerah tempat mereka berdomisili sekarang merupakan home kedua. Berdasarkan hal diatas dapatlah dikatakan bahwa penduduk migran adalah penduduk yang bersifat bi local population, sehingga dimanapun mereka tinggal pasti mengadakan hubungan dengan daerah asal.

Rozy Munir (1990) mengatakan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi migrasi ada dua, yakni faktor pendorong dan faktor penarik. Faktor pendorong (daerah asal) tersebut misalnya makin berkurangnya sumber-sumber alam, menyempitnya lapangan pekerjaan akibat masuknya teknologi yang menggunakan mesin-mesin, tekanan atau diskriminasi politik dan SARA, tidak ada kecocokan secara adat dan budaya, perkawinan atau pengembangan karier pribadi, dan bencana alam. Faktor penarik (daerah perkotaan) antara lain adanya kesempatan kerja yang lebih baik, kesempatan mendapat pendidikan yang lebih tinggi, situasi yang menyenangkan di tempat tujuan, adanya tarikan dari orang yang diharapkan sebagai tempat berlindung di tempat tujuan, dan adanya aktivitas hiburan di perkotaan.

Mantra (2003) mengungkapkan bahwa teori kebutuhan dan stres (need and stress) menjadi salah satu dasar sesorang dalam mengambil keputusan bermobilitas. Setiap individu mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, seperti kebutuhan ekonomi, sosial, dan psikologi. Apabila kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi terjadilah tekanan (stress), dan tingkatan stress ini berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Secara umum tinggi rendahnya stress yang dialami oleh seseorang berbanding terbalik dengan proporsi pemenuhan kebutuhan tersebut.

Adapun stress yang dialami tersebut dapat dipilah menjadi dua, yaitu apabila stress yang dialami seseorang masih dalam batas – batas toleransi, orang tersebut akan memutuskan tidak akan pindah dan yang bersangkutan akan berusaha untuk menyesuaikan kebutuhannya dengan kondisi lingkungan yang ada dan apabila stress yang dialami seseorang sudah diluar batas toleransinya, orang tersebut akan mulai memikirkan untuk mengambil keputusan untuk pindah ke daerah tujuan lain, yaitu tempat dimana kebutuhannya dapat dipenuhi.

Kebutuhan (needs) dan aspirasi

Terpenuhi Tidak terpenuhi (stres)

Gambar 2.3 Hubungan Antara Kebutuhan dan Pola Mobilitas Penduduk Sumber : Diadaptasi dari Mantra (2003), Sudibia (2012)

Gambar 2.3 memperlihatkan apabila kondisi kebutuhan seseorang tidak terpenuhi atau terjadi stress namun masih dalam batas toleransi, yang bersangkutan memutuskan tidak pindah dan akan terus berusaha untuk menyesuaikan kebutuhannya dengan keadaan lingkungan yang ada dan memutuskan untuk menetap. Secara garis besar mereka yang memutuskan untuk pindah ke daerah tujuan baru karena kebutuhan hidupnya di daerah asal tidak terpenuhi. Bahkan sudah di luar batas toleransi akan melakukan mobilitas permanen dan mereka yang memutuskan tidak pindah, walaupun kebutuhan hidupnya di daerah asal tidak terpenuhi. Namun masih dalam batas – batas toleransi akan melakukan mobilitas nonpermanen yakni ulang alik (commuting) atau mondok di daerah tujuan.

Mobilitas penduduk juga merupakan suatu pilihan yang dilandasi oleh adanya dua kekuatan yang terdapat pada di daerah asal. Mitchell, (1961) mengemukakan bahwa kekuatan tersebut adalah adanya kekuatan sentripetal (centripetal forces) dan kekuatan sentrifugal (centrifugal forces).

(a) Kekuatan sentripetal, yakni kekuatan yang bersifat mengikat penduduk untuk tetap tinggal di daerah asalnya, karena disebabkan oleh berbagai faktor yakni terikat akan tanah

warisan, terikat akan adanya orang tua yang sudah lanjut usia, adanya kegotong royongan yang baik, dan daerah asal merupakan tempat kelahiran nenek moyang mereka.

(b) Kekuatan sentrifugal adalah kekuatan yang yang mendorong penduduk untuk meninggalkan daerah asalnya, karena disebabkan oleh berbagai faktor yakni terbatasnya pasarana kerja dan terbatasnya fasilitas pendidikan.

(c) Apabila salah satu kekuatan tersebut lebih besar daripada kekuatan lainnya, maka seseorang akan mengambil keputusan untuk tetap tinggal di daerah asal, ataukah pindah dan menetap di daerah lain yang lebih menjanjikan. Permasalahan muncul apabila kekuatan sentripetal dan kekuatan sentrifugal, ataupun kekuatan pendorong dan penarik tersebut berimbang seperti umumnya dijumpai di daerah perdesaan pada negara – negara yang sedang berkembang.

Gambar 2.4 Kekuatan Sentrifugal dan Sentripetal yang seimbang, dan Keputusan Melakukan Mobilitas Nonpermanen

Sumber : Diadaptasi dari Mantra (2003), Sudibia (2012)

Untuk memecahkan masalah tersebut biasanya diambil kompromi dengan memilih melakukan mobilitas nonpermanen sehingga para pelaku mobilitas nonpermanen tetap memiliki status kependudukan di daerah asal, sedangkan kegiatannya di luar daerah dilakukan dengan cara komuter (ulang alik) atau dalam istilah Bali disebut “ngajag”, atau

MP nonpermanen MP sirkuler + - Kekuatan sentripetal Kekuatan sentrifugal Daerah tujuan Daerah asal

menginap (mondok) ditempat tujuan. Sehingga dengan mengambil keputusan atau pilihan melakukan mobilitas nonpermanen, pekerja migran tidak perlu pindah menetap sehingga keluarganya masih tetap menetap di daerah asal dan hubungan kekerabatan di daerah asal tetap terjaga dengan baik. Sedangkan pada sisi lain mereka dapat meningkatkan penghasilan dengan bekerja di daerah lain. Sehingga saat mereka memutuskan untuk mencari pekerjaan di daerah lain dan memulai perjalanan penuh harapan, pekerja migran nonpermanen telah memperhitungkan berbagai kerugian dan keuntungan yang akan didapat untuk dapat memberikan manfaat yang besar kepada keluarga yang mereka tinggalkan.

Dokumen terkait