PEMEGANG SAHAMNYA PERUSAHAAN ASING YANG ANGGARAN DASARNYA MEMILIH PILIHAN HUKUM NEGARA LAIN
C. Pilihan Hukum dalam Penjualan Saham oleh Asing
Istilah pilihan hukum yang akan dibahas dalam tesis ini merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu choice of law. Pilihan hukum berkaitan dengan hukum apakah yang akan digunakan jika terjadi sengketa antara para pihak. Dalam kontrak yang telah dibuat oleh para pihak telah ditentukan hukum
154 Pasal 29 Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 12 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 5 Tahun 2013 tentang Pedoman dan Tata Cara Perizinan dan Nonperizinan Penanaman Modal
155 H. Salim HS, dkk., Op.Cit., hal.259
yang digunakan jika terjadi sengketa di antara para pihak. Misalnya para pihak memilih hukum Indonesia, hukum Inggris di dalam penyelesaian sengketanya.156
Joint venture agreement merupakan salah satu bentuk dari asas kebebasan berkontrak yang menyatakan bahwa semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Pemegang saham baru dalam perusahaan patungan tidak dengan sendirinya menjadi pihak dalam joint venture agreement karena suatu perjanjian hanya berlaku antara pihak-pihak yang membuatnya. Suatu perjanjian lahir karena kehendak para pihak, dan hanya mengikat para pihak dan tidak mengikat orang lain yang bukan merupakan pihak dalam perjanjian tersebut. Perjanjian yang menjadi landasan pembentukan perusahaan patungan (joint venture company) adalah joint venture agreement dan anggaran dasar. Joint venture agreement adalah perjanjian antara calon pemegang saham suatu perusahaan joint venture yang tunduk pada hukum perjanjian (law of contract). Sedangkan anggaran dasar adalah perjanjian antara para pemegang saham yang diatur oleh undang-undang perseroan terbatas.157
Pilihan hukum dan pilihan forum penyelesaian sengketa adalah dua klausula penting yang harus ada dalam perjanjian “joint venture”. Pilihan hukum adalah untuk menjawab pertanyaan hukum manakah yang berlaku bagi suatu
156 H.Salim HS, dkk., Op.Cit., hal.128
157 Remigius Jumalan, Kedudukan Joint Venture Agreement Dalam Usaha Patungan Dengan Masuknya Investor Baru, lib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-94235.pdf, diakses pada tanggal 17 Agustus 2015, Pukul 22.30 WIB
perjanjian “joint venture” karena para pihak berasal dari sistem hukum yang berlainan, hukum Indonesia atau hukum asing.158
Hukum mana yang dipergunakan untuk mendasari perjanjian kerja sama tersebut agar dalam sengketa nantinya dapat ditentukan posisi hukum kedua belah pihak.159 Pada sistem hukum ini perumusan perjanjian yang mendasari suatu kerja sama (joint venture) sangat rumit dan terrinci dibandingkan dengan sistem Eropa Kontinental yang tidak terlalu rumit dan rinci.160 Oleh karena itu, mengenai bentuk hukum dan pilihan hukum merupakan unsur yang sangat perlu disebutkan di dalam kontrak kerja sama.161
Oleh karena itu permasalahan utama berkaitan dengan kerjasama dalam bidang penanaman modal tersebut adalah pengaturan dan berlakunya hukum bagi para pihak-pihak yang mengadakan kerja sama atau lebih dikenal dengan pilihan hukum (choice of law) dan/atau pilihan hakim (choice of forum).162
Sebenarnya, sifat pilihan hukum ini tidak merupakan prasyarat untuk berlakunya atau sahnya suatu kontrak. Artinya, adalah kesepakatan, kehendak dan kebebasan para pihak yang membuat suatu kontrak: apakah akan membuat klausul pilihan hukum ini atau tidak dalam kontrak mereka. Ketiadaan klausul ini tidak berpengaruh terhadap keabsahan suatu kontrak.163 Namun fungsi pilihan
158 Budiman Ginting, Op.Cit., hal.229
159 Aminuddin Ilmar, Hukum Penanaman Modal di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), hal.71
160 Ibid.
161 Salim H.S., Op.Cit., hal.59
162 Dhaniswara K. Harjono, Op.Cit., hal.160
163 Huala Adolf, Op.Cit., hal.161
hukum ini cukup penting. Eksistensi klausul pilihan hukum akan cukup berpengaruh terhadap status kontrak di masa depan. 164
Suatu transaksi joint venture juga membawa dampak pada pengaturan dan hubungan hukum antara para pihak dari segi hukum perdata internasional, karena di dalamnya terlibat unsur asing. Oleh karena itu, untuk adanya kepastian hukum (law certainty), maka apa-apa yang diperjanjikan dalam hubungan kerja sama itu harus dituangkan dalam perjanjian kerja sama tersebut (joint venture agreement).165
Dalam beberapa hal, muncul kesukaran bagi pemilihan hukum, domisili, dan arbitrase, karena adanya berbagai pendapat yang menganggap bahwa ada faktor-faktor tertentu yang sangat mempengaruhi dalam menentukan pilihan hukum (proper law), antara lain yaitu:166
1. Tempat perjanjian itu dibuat;
2. Tempat prestasi (performance) dilakukan;
3. Domisili, kewarganegaraan, dan tempat kedudukan (pusat) usaha para pihak;
4. Keadaan yang menjadi subjek perjanjian (subjek matter);
5. Bendera nasional dalam hal pencarteran kapal.
Karena bentuk kerjasama ini melibatkan modal asing, hukum nasional yang juga terkait adalah hukum penanaman modal dari negara bersangkutan.
164 Ibid., hal.162
165 Amirizal, Hukum Bisnis Deregulasi dan Joint Venture di Indonesia Teori dan Praktik, (Jakarta: Djambatan, 1996), hal.99
166 Ibid., hal.99
Termasuk di dalam pengaturan hukum ini biasanya adalah persyaratan keikutsertaan modal pengusaha lokal di dalam perusahaan kerjasama.167
Berkaitan adanya Pasal 16 AB (Algemene Bepaling van Wetgiving).
Pasal 16 AB ini bertalian dengan ajaran “status personil” dalam Hukum Privat Internasional. Singkatnya menurut ajaran ini, bagi orang asing yang berada di wilayah Republik Indonesia (dahulu Hindia Belanda) berhak menuntut diperlakukannya hukum nasionalnya (sepanjang mengenai persoalan-persoalan yang menyangkut bidang status personil). Dengan kata lain mengenai segala perbuatan perdatanya di Indonesia, berhak yang bersangkutan menuntut untuk diperlakukan hukum mereka. Kalau hal ini terjadi maka akan menyulitkan kita di mana akan lebih banyak terbuka kemungkinan diperlakukannya harus dalam bentuk badan hukum Indonesia, yang dengan demikian ia menjadi sama seperti personil Indonesia, maka terkurangilah kemungkinan berlakunya hukum asing.
Sebab itu hanya atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan untuk dan atas nama badan hukum Indonesia. Badan hukum Indonesia ini pemegang sahamnya masih terbuka kemungkinan personil asing (orang asing atau badan hukum asing).
Demikian untuk perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh personal-personal asing tersebut tetap senantiasa masih mungkin diperlakukannya hukum asing.168
167 Huala Adolf, Op.Cit., hal.139
168 Rudhi Prasetya, Op.Cit., hal.73
Di dalam Hukum Perdata Internasional dikenal dua dua macam titik pertalian, yaitu titik pertalian primer (titik taut pembeda) dan titik pertalian sekunder (titik taut penentu).169 Titik titik pertalian primer adalah:170
1. Kewarganegaraan
Perbedaaan kewarganegaraan diantara para pihak yang melakukan suatu hubungan hukum akan melahirkan persoalan HPI. Misalnya: seorang warga negara Indonesia melakukan suatu transaksi jual beli dengan seorang warga negara Jerman.171
2. Bendera kapal dan persawat udara 3. Domisili
4. Tempat kediaman
5. Tempat kedudukan badan hukum
Sebagaimana halnya manusia, badan hukum sebagai subjek hukum juga memiliki kebangsaan dan tempat kedudukan (legal seat) Umumnya kebangsaaan badan hukum ditentukan berdasarkan tempat (atau negara) dimana pendirian badan hukum tersebut didaftarkan. Misalnya PT.Indohokindo, sebuah PT joint venture antara beberapa pengusaha Jepang dan Indonesia. PT tersebut didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di Jakarta (Indonesia). Dengan demikian status hukum PT tersebut adalah badan hukum Indonesia. Contoh lain: Hing Ming Co. Ltd sebuah perusahaan joint venture antara pengusaha Indonesia dan Singapura, didirikan dan berkedudukan di Singapura. Maka perusahaan yang bersangkutan berbadan hukum Singapura. Seringkali dijumpai beberapa pengusaha Indonesia yang mendirikan perusahaan di negara lain, misalnya di Hongkong. Walaupun semua pemegang saham adalah warga negara Indonesia, namun karena didirikan berdasarkan hukum Hongkong, maka perusahaan berbadan hukum dan harus tunduk kepada hukum Hongkong.172 6. Pilihan hukum dalam hubungan intern
Untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan pilihan intern dapat dikemukakan contoh sebagai berikut: dua orang WNI di Jakarta mengadakan transaksi jual beli barang-barang bahan suatu pabrik yang penyerahannya memakan waktu jangka panjang dan barangnya diimpor dari Inggris. Dalam kontrak jual beli itu dinyatakan, bahwa perjanjian jual beli itu diatur oleh hukum Inggris. Karena adanya pilihan hukum oleh para pihak yang menutup
169 Ridwan Khairandy, dkk. Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia, (Yokyakarta:
Gama Media, 1999), hal.25
170 Ibid., hal.26
171 Ibid.
172 Ibid., hal.28
kontrak jual beli ke arah hukum yang berlainan dan hukum nasional meraka, akan melahirkan hubungan HPI.173
Titik-titik pertalian sekunder adalah faktor-faktor atau sekumpulan fakta yang menentukan hukum mana yang harus digunakan atau berlaku dalam suatu hubungan HPI. Termasuk dalam Titik-titik pertalian sekunder adalah:
1. Tempat terletaknya benda (Lex Situs = Lex rei sitae);
2. Tempat dilangsungkannya perbuatan hukum (Lex loci actus)
3. Tempat dilangsungkannya atau diresmikannya perkawinan (lex loci celebrationis)
4. Tempat ditandatanganinya kontrak (lex loci contractus)
5. Tempat dilaksanakannya perjanjian (lex loci solutionis – lex loci executionis)
6. Tempat terjadinya perbuatan melawan hukum (lex loci delicti commisi) 7. Pilihan hukum (choice of law) Menurut Sudarga Gautama ada
kemungkinan titik pertalian sekunder jatuhnya bersamaan dengan titik-titik pertalian primer, yaitu:
a. Kewarganegaraan (lex patriae) b. Bendera kapal (dan persawat udara) c. Domisili (lex domicili)
d. Tempat kediaman, dan
e. Tempat kedudukan badan hukum (legal seat) 8. Lex Loci Contractus
Menurut Teori Klasik Lex Loci Contractus, hukum yang berlaku bagi suatu kontrak internasional adalah hukum di tempat perjanjian atau kontrak itu dibuat. Penerapan teori ini memang sangat cocok pada zamannya dimana dulu biasanya para pihak yang mengadakan kontrak berada pada tempat yang sama, para pihak langsung bertemu muka.174
9. Lex Loci Solusionis
Sebagai variasi terhadap teori lex loci contractus dikemukakan pula adanya teori lex loci solusionis. Menurut teori ini hukum yang berlaku bagi suatu kontrak adalah tempat dimana kontrak tersebut dilaksanakan. Menurut Sudargo Gautama dalam praktek hukum Internasional umumnya diakui bahwa berbagai peristiwa tertentu dipastikan oleh hukum yang berlaku pada tempat pelaksanaan kontrak.175
173 Ibid.
174 Ibid., hal.114
175 Ibid., hal.116
Titik taut penentu diatas tidak digunakan semuanya dalam suatu kasus tertentu. Misalnya ada perselisihan yang mengangkut suatu kontrak dagang Internasional, tentu tidak semua titik taut penentu itu digunakan, harus dipilih salah satu. Pemilihan tersebut harus sesuai dengan kaidah-kaidah hukum yang ada.176
Jika di dalam kontrak itu telah ada pilihan hukum, maka hukum yang digunakan haruslah sesuai dengan hukum yang dipilih para pihak. Jika di dalam kontrak itu ternyata tidak ada pilihan hukumnya maka harus dicari titik-titik penentu lainnya, misalnya tempat ditandataganinya kontrak dan tempat dilangsungkannya kontrak. Penggunaan titik taut selain pilihan hukum tersebut harus didasarkan pada hukum yang berlaku. Jika kasus tersebut diadili di Indonesia, maka pengadilan sesuai dengan Pasal 18 AB harus menggunakan hukum tempat atau negara dimana kontrak tersebut dilaksanakan.177
Operasionalisasi perusahaan joint venture di Indonesia pada prinsipnya tunduk pada Undang-Undang Penanaman Modal dan Undang-Undang Perseroan Terbatas. Di Indonesia pengelolaan perusahaan joint venture tunduk pada ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas. 178
176 Ibid., hal.31
177 Ibid.
178 Budiman Ginting, Op.Cit., hal.94
Berdasarkan perspektif ketentuan hukum yang mengatur perseroan terbatas, anggaran dasar suatu perseroan terbatas merupakan dokumen konstitusional (by-law) dari para pemegang saham, direksi, dewan komisaris.179
Hukum yang berlaku untuk mengatur aktivitas ini tunduk pada hukum para pihak dan hukum nasional setempat. Hukum para pihak adalah kebebasan yang dituangkan ke dalam kesepakatan para pihak (party autonomy).
Kesepakatan tersebut mencakup isi atau objek kerjasama.180 Diluar apa yang telah diatur dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas dan anggaran dasar perusahaan yang bersangkutan, apa yang diatur dalam joint venture agreement atau shareholder’s agreement (apabila ada) juga harus diperhatikan. 181
Dengan demikian, para pihak dalam melakukan kerja sama dengan membuat suatu perjanjian (joint venture agreement) di Indonesia, disamping harus memperhatikan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, peraturan perundang-undangan, dan kebijaksanaan pemerintah di bidang Penanaman Modal Asing, tentunya juga harus memperhatikan ketentuan-ketentuan hukum perdata internasional termasuk konvensi-konvensi internasional.182
Hal lain yang harus diperhatikan juga adalah bahwa anggaran dasar adalah dokumen yang diatur secara tegas dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas, sedangkan shareholder’s agreement atau joint venture agreement tidak
179 David Kairupan, Op.Cit., hal.102
180 Huala Adolf, Op.Cit., hal.139
181 David Kairupan, Op.Cit., hal.135
182 Amirizal, Op.Cit., hal.100
diatur sebagai dokumen dasar dari suatu perseroan terbatas. Bahkan anggaran dasar merupakan dokumen perusahaan yang mengikat pihak ketiga yang berhubungan dengan perusahaan, terlebih dokumen tersebut wajib diumumkan dalam tambahan berita negara sehingga memenuhi asas publisitas sedangkan shareholder’s agreement atau joint venture agreement tidak.183
Artinya, ketentuan ini oleh pihak-pihak yang ber-joint venture harus dibuktikan dalam akta notariil pendirian Perseroan Terbatas yang bersangkutan, sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku di Indonesia.184
Apabila terdapat perselisihan di antara para pemegang saham mengenai shareholders’ agreement atau joint venture agreement dan terdapat pertentangan penafsiran atau substansi antara ketentuan yang terdapat dalam shareholders’
agreement atau joint venture agreement dengan anggaran dasar, maka salah satu pihak tidak dapat menyatakan bahwa ketentuan yang berlaku adalah yang terdapat dalam anggaran dasar saja, sedang shareholder’ agreement atau joint venture agreement menjadi tidak berlaku. 185 Hal ini dikarenakan berdasarkan Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya (pacta sunt servanda atau asas konsensualisme). Bahkan dalam Pasal tersebut dinyatakan bahwa perjanjian-perjanjian tersebut tidak dapat ditarik kembali
183 David Kairupan, Op.Cit., hal.103
184 B. Napitupulu, Op.Cit., hal.41
185 David Kairupan, Loc.Cit., hal.104
selain dengan kesepakatan kedua belah pihak atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup dan perjanjian-perjanjian tersebut harus dilaksanakan dengan itikat baik.186
Sesuai asas kebebasan berkontrak, maka para pihak dalam suatu perjanjian atau kontrak bebas menentukan isi dan bentuk suatu perjanjian, termasuk untuk menentukan pilihan hukum. Kemudian apa yang telah disepakati oleh kedua belah pihak tadi berlaku sebagai undang-undang bagi kedua belah pihak dalam suatu kontrak.187Dalam bidang hukum kontrak umumnya kebebasan yang diberikan kepada para pihak besar adanya.188 Bila dalam suatu kontrak, termasuk kontrak internasional terdapat klasula pilihan hukum, maka hukum yang berlaku bagi kontrak tersebut adalah hukum sebagaimana yang dtunjuk dalam kontrak tersebut.189 Maka pada dasarnya dengan mengingat beberapa pembatasan :190
1. Tidak bertentangan dengan ketertiban umum;
2. Pilihan hukum tidak mengenai hukum yang bersifat memaksa;
3. Pilihan hukum hanya dalam bidang perjanjian saja, kecuali perjanjian kerja.
Apabila ditinjau dari Pasal 15 ayat (2) Undang-Undang Perseroan Terbatas, sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang Perseroan
186 Ibid., hal.103
187 Ridwan Khairandy, dkk. Op.Cit., hal.108
188 Sudargo Gautama, Hukum Perdata Internasional Indonesia Jilid II bagian 3 Buku ke-4, (Bandung: Alumni, 2007), hal.284
189 Ridwan Khairandy, dkk. Loc.Cit.
190 Ibid.
Terbatas, maka ketentuan dalam shareholder’s agreement atau joint venture agreement pada dasarnya dimungkinkan untuk dimuat dalam anggaran dasar suatu perseroan terbatas.191
Ketentuan-ketentuan yang diatur dalam joint venture agreement atau shareholder’s agreement berlaku bagi para pemegang saham dan perusahaan yang bersangkutan sepanjang apa yang diaturnya tidak bertentangan dengan Undang-Undang Perseroan Terbatas dan perundang-undangan lain.192
191 David Kairupan, Op.Cit., hal.107
192 Ibid., hal.135
BAB III
PENJUALAN SAHAM PERSEROAN TERBATAS YANG BIDANG