• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pintu gerbang Persaudaraan indonesia- indonesia-malaysia

Dalam dokumen Memasuki budaya modern, Indonesia (Halaman 50-56)

Pulau sebatik sebagai Pintu keCil Hubungan inDonesia- inDonesia-malaysia

D. Pintu gerbang Persaudaraan indonesia- indonesia-malaysia

Kabupaten Nunukan merupakan kawasan penting bagi Provinsi Kalimantan Timur dan negara Indonesia, karena kabupaten ini merupakan jalur utama, baik darat maupun laut antara Indonesia dengan Malaysia.

Terdapat dua tempat penting di Kabupaten Nunukan yang menghubungkan Indonesia dengan Malaysia, yaitu kota Nunukan dan Sei Nyamuk di Pulau Sebatik. Dari kedua tempat tersebut siapapun dapat menyeberang ke Malaysia, ke kota Tawau bagian negara Sabah dalam waktu sekitar lima belas menit. Fakta lain yang perlu diperhatikan adalah, bahwa Pulau Sebatik merupakan sebuah pulau yang dimiliki oleh dua negara, yaitu Indonesia dan Malaysia karena di pulau ini terdapat garis perbatasan yang membagi pulau tersebut. Hal itu menunjukan betapa strategis posisi Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik.

Pulau Sebatik sebagai Pintu Kecil Hubungan Indonesia-Malaysia Purnawan Basundoro

Dalam kehidupan sehari­hari, masyarakat Sebatik sangat akrab dengan kota Tawau karena hampir semua kebutuhan sehari­hari harus dibeli di kota Tawau. Bagi mereka, kota Tawau adalah pasar dari segala kebutuhan sehari­hari dan pasar untuk menjual segala komoditi yang mereka miliki. Hal tersebut terjadi karena kota Tawau merupakan kota terdekat bagi masyarakat di pulau itu. Kota tersebut secara administratif berada di luar wilayah negara Indonesia. Dengan kata lain, kebutuhan sehari­hari masyarakat Pulau Sebatik harus dibeli di luar negeri. Hubungan antara Pulau Sebatik dengan kota Tawau dalam beberapa hal sebenarnya merugikan negara Indonesia dan menguntungkan negara Malaysia. Sebagian besar masyarakat Pulau Sebatik menjual komoditi yang mereka hasilkan, seperti pisang, kelapa sawit, kelapa, buah­buahan, dan bumbu­bumbu dapur ke kota Tawau. Mereka membelanjakan sebagian besar uang hasil penjualan komoditi yang mereka miliki juga di kota Tawau. Kebutuhan gas untuk memasak, batu alam, dan kerikil juga harus dibeli di Tawau (Maunati, 2010). Jika neraca perdagangan kedua wilayah tersebut dihitung secara cermat, posisi perdagangan Indonesia di kawasan ini sebenarnya minus.

Hal tersebut tentu saja sangat merugikan

Indonesia. Antara Pulau Sebatik dengan Kota Tawau terdapat kesenjangan yang tajam.

Pulau Sebatik merupakan hinterland bagi Kota Tawau. Kondisi yang senjang tersebut dapat dilihat dari perbandingan volume kunjungan masyarakat kedua kawasan, sebagaimana dapat dilihat pada tabel di bawah.

Tabel di bawah menunjukkan ketimpang­

an jumlah kunjungan. Selain itu, warga Sebatik memiliki ketergantungan terhadap kota Tawau karena kebutuhan sehari­hari lebih mudah didapatkan di kota tersebut. Kondisi semacam itu berimplikasi besar terhadap aspek politik, sosial, dan ekonomi. Aspek politik menyangkut persoalan nasionalisme warga Indonesia yang tinggal di wilayah perbatasan.

Ketergantungan mereka yang sangat tinggi terhadap wilayah di luar negeri dapat menyebabkan nasionalisme mereka sedikit­

demi sedikit terkikis. Negara Malaysia dapat saja sewaktu­waktu memperalat mereka untuk melakukan infiltrasi di negeranya sendiri, atau memengaruhi batas wilayah dengan cara menggeser patok batas negara, atau melakukan aksi teror. Dari aspek ekonomi, penyelundupan mudah dilakukan oleh warga yang tinggal di perbatasan, jika nasionalisme ekonomi mereka luntur. Kejahatan antarnegara sangat mudah terjadi di wilayah perbatasan, apalagi kondisi

no bulan Wni menuju ke tawau Wn malay menuju ke sebatik

lk Pr jumlah lk Pr jumlah

1 Januari 1.298 928 2.226 10 2 12

2 Februari 1.100 892 1.992 6 2 8

3 Maret 1.551 1.064 2.615 10 3 13

4 April 1.382 980 2.362 10 1 11

5 Mei 1.503 1.123 2.626 12 0 12

6 Juni 1.715 1.180 2.895 6 1 7

7 Juli 1.837 1.219 3.056 10 0 10

8 Agustus 1.372 867 2.239 0 0 0

9 September 1.300 845 2.145 10 1 11

10 Oktober 1.292 882 2.174 7 1 8

11 Nopember 1.389 1.050 2.439 7 1 8

12 Desember 1.354 984 2.338 7 1 8

jumlah 17.093 12.014 29.107 95 13 108

Tabel 2: Jumlah Warganegara Indonesia yang Mengunjungi Kota Tawau dan Jumlah Warganegara Malaysia yang Mengunjungi Sebatik Tahun 2011

sumber: Statistik Kegiatan Pos Imigrasi Sungai Pancang Tahun 2011

Vol. 3, No. 2, Desember 2013

perbatasan di Pulau Sebatik sangat terbuka dengan penjagaan yang cukup longgar.

Sebagai contoh, selama tahun 2011 terdapat delapan belas kali penyelundupan narkotika dan obat­obatan terlarang (narkoba) dari Malaysia menuju Pulau Sebatik. Pelaku dari tindak kejahatan antarnegara tersebut adalah warga negara Indonesia yang kemungkinan besar bekerja sama dengan warga negara lain.3

Mengacu kepada realitas yang telah di­

ungkapkan di bagian awal, perlu ada upaya yang serius untuk memajukan kawasan Pulau Sebatik sebagai beranda depan negara Indonesia yang berhadapan langsung dengan negara tetangga. Selama ini, upaya memajukan kawasan pulau Sebatik terkendala persoalan administratif, karena kawasan tersebut berstatus kecamatan yang secara geografis terpisah oleh laut dengan kabupaten induk. Sebagai sebuah wilayah dengan status kecamatan, aparat birokrasi di Pulau Sebatik tidak dapat memutuskan berbagai kebijakan strategis menyangkut wilayah kekuasaan mereka. Segala hal harus dilaporkan terlebih dahulu ke kabupaten induk sehingga segala hal menyangkut pengelolaan kawasan Pulau Sebatik berjalan lamban. Jika kondisi semacam ini dibiarkan terus­menerus, masyarakat yang tinggal di Pulau Sebatik terus mengalami ketergantungan dengan negara tetangga.

Mereka akan memajukan kota di negara tetangga, karena setiap hari membelanjakan uangnya di negara tersebut. Kondisi wilayah yang menjadi tempat tinggal mereka akan selalu tertinggal. Salah satu cara agar Pulau Sebatik beserta masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut mengalami kemajuan adalah dengan meningkatkan status Sebatik yang saat ini masih kecamatan menjadi kota otonom. Dengan status tersebut, kelambanan birokrasi dapat diputus sehingga mereka dapat mempercepat dalam mendorong kemajuan Pulau Sebatik.

3 Wawancara dengan Kapolsek Sebatik tanggal 4 April 2012.

e. simpulan

Hubungan dua negara antara Indonesia dan Malaysia salah satunya tercermin dari kondisi di Pulau Sebatik. Pulau unik yang terbagi menjadi dua, yang masing­masing dikuasai oleh Indonesia dan Malaysia menjadi perekat alamiah antara kedua negara bertetangga tersebut. Di pulau ini rakyat kedua negara saling membutuhkan layaknya orang bertetangga. Aspek­aspek kemanusiaan sangat mengemuka dan jauh dari hingar­bingar politik yang terjadi di kedua ibukota negara.

Ketika Indonesia dan Malaysia bersitegang memperebutkan beberapa gugus kepulauan di perbatasan, rakyat Pulau Sebatik tetap bersahabat layaknya tidak terjadi apa­apa. Di Pulau Sebatik lah model hubungan negara yang bersahabat, membina perdamaian, mengedepankan harmoni terbina dengan baik. Model semacam ini dapat dikembangkan untuk kawasan­kawasan perbatasan di bagian lain di negeri ini.

Daftar Pustaka

Abubakar, Mustafa. 2006. Menata Pulau-pulau Kecil Perbatasan: Belajar dari Kasus Sipadan, Ligitan, dan Sebatik. Jakarta: Kompas.

Kuntari, C.M. Rien. 2008. Timor-Timur Satu Menit Terakhir: Catatan Seorang Wartawan.

Bandung: Mizan.

Maunati, Yekti dkk. 2010. Kontestasi Identitas dan Diaspora Bugis di Wilayah Perbatasan Kalimantan Timur-Sabah. Jakarta: LIPI Press.

Sabarno, Hari. 2003. “Arti Penting Penataan Batas Wilayah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Majalah Perbatasan, Januari 2003.

Statistik. 2011. Statistik Kegiatan Pos Imigrasi Sungai Pancang Tahun 2011.

3 Wawancara dengan Kapolsek Sebatik tanggal 4 April 2012.

Pulau Sebatik sebagai Pintu Kecil Hubungan Indonesia-Malaysia Purnawan Basundoro

Tirtosudarmo, Riwanto. 2010. Mencari Indonesia 2: Batas-batas Rekayasa Sosial. Jakarta: LIPI Press.

Tirtosudarmo, Riwanto. 2005. “Wilayah Perbatasan dan Tantangan Indonesia Abad 21: Sebuah Pengantar,” dalam Riwanto Tirtosudarmo dan John Haba. Dari Entikong sampai Nunukan: Dinamika Daerah Perbatasan Kalimantan Malaysia Timur (Serawak-Sabah). Jakarta: Sinar Harapan.

informan:

Kapolsek Sebatik, 2012.

Danramil Sebatik, 2012.

Fery, Petugas Pos Imigrasi Sebatik di Sungai Pancang, 2012.

reFleksi buDaya jaWa Dalam noVel bumi mAnuSiA Dan AnAk SemuA bAngSA karya PramoeDya ananta toer:

PersFektiF FilsaFat

jaVanese Cultural reFleCtion on noVels entitleD bumi mAnuSiA Dan AnAk SemuA bangsa by PramoeDya ananta toer:

a PHilosoPHiCal PersPeCtiVe erfi Firmansyah

Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta Pos­el: [email protected]

abstrak

Falsafah pengetahuan dalam falsafah Jawa cenderung sedikit jumlahnya. Oleh karena itu, Pramoedya mengkritik budaya/orang Jawa yang sedikit sumbangannya bagi ilmu pengetahuan modern. Novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa merupakan autokritik terhadap filsafat Jawa yang seharusnya menjadi panduan dalam berpikir dan bertindak.

Kedua novel tersebut mengajak mengkritisi falsafah Jawa yang baik dan sekaligus mengandung kelemahan. Kajian terhadap dua novel tersebut menunjukkan bahwa falsafah Jawa cenderung merupakan filsafat nilai, khususnya etika. Hal tersebut dikritisi secara lebih mendalam dan meluas kebenaran dan efektivitasnya bagi kemajuan bangsa Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya.

kata kunci: autokritik, budaya, falsafah, nilai, pengetahuan abstract

The philosophy of science in the Javanese philosophy is limited in number. Therefore, Pramoedya criticizes the lack of contribution of the Javanese culture and people to modern science. Bumi Manusia and Anak Semua Bangsa form an auto­criticism to the Javanese philosophy that should become a guide to thought and action. Both novels invite the readers to criticize the Javanese philosophy, its strenghts and weaknesses. The study to the novels reveals that the Javanese philosophy is a philosophy of values, especially ethics. This issue is deeply and broadly elaborated in terms of its truth and effectivity in conncetion with the Indonesian nation’s progress in particular and the world in general.

keywords: auto­critics, culture, philosophy, values, and science

LITERASI

Volume 3 No. 2, Desember 2013 Halaman 144 ­ 149

a. Pendahuluan

Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa merupakan novel karya Pram yang menjadi objek kajian tulisan ini. Novel ini merupakan karya pertama dan kedua tetralogi Pulau Buru.

Keduanya ditulis Pram semasa penahanan di Pulau Buru. Novel ini menceritakan kondisi ketika Indonesia masih dijajah oleh Hindia Belanda dan beberapa kerajaan Jawa

masih berdiri. Dengan demikian novel ini menggambarkan kondisi sosial­budaya ketika kolonialisme Belanda masih berlangsung dan feodalisme Jawa masih tampak di bumi nusantara. Promoedya berasal dari orang tua etnik Jawa. Ia dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan tradisi Jawa. Berkaitan dengan hal itu, tentu akan menarik jika kita mengungkap

Refleksi Budaya Jawa dalam Novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa Karya Pramoedya Ananta Toer: Persfektif Filsafat Erfi Firmansyah

unsur filsafat Jawa dalam kedua novel tersebut.

Berkaitan dengan uraian di atas, tulisan meng ungkap unsur falsafah Jawa yang ter­

dapat dalam novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa yang digambarkan melalui ucapan, cara berpikir, dan bertindak para tokohnya.

b. budaya jawa

Perkataan falsafah secara etimologi berasal dari bahasa Yunani philosophia, berarti cinta kearifan (the love of wisdom). Secara terminologi, filsafat berarti suatu pencarian dengan kekuatan sendiri tentang hakikat segala wujud (fenomena) yang bersifat mendalam dan men­

dasar (Ciptoprawiro, 2000:11­14).

Falsafah Jawa pada dasarnya bersifat universal. Jadi, falsafah Jawa bukan hanya diperuntukkan bagi masyarakat Jawa, tetapi juga bagi siapapun yang ingin mempelajarinya.

Berbagai filsafat atau falsafah hidup, memang­

lah terdapat dalam budaya Jawa. Dalam kehidupan keseharian ada falsafah yang menjelaskan The Right Man on the Right Place (Orang yang baik adalah orang yang mengerti tempatnya). Ada juga ungkapan Jawa Crah Agawe Bubrah - Rukun Agawe Santosa menghendaki keserasian dan keselarasan dengan pola pikir hidup saling menghormati.

Paham mistik yang berpokok Manunggaling Kawula Gusti (persatuan manusia dengan Tuhan) dan Sangkan Paraning Dumadi (asal dan tujuan ciptaan) bersumber pada pengalaman religius. Berawal dari sana, manusia rindu untuk bersatu dengan yang Illahi, ingin mene­

lusuri arus kehidupan sampai ke sumber dan muaranya. Perumusan pengalaman religius Jawa dalam sejarahnya tidak lepas dari pengaruh agama­agama besar seperti Hindu, Budha dan Islam beserta dengan mistiknya yang khas, seperti terlihat dalam kitab­kitab Tutur, Kidung dan Suluk.1

Menurut Hardjowirogo, ada berbagai falsafah Jawa yang sering dijadikan sebagai

1 “Filsafat Jawa, Kejawen dan Islam” dalam http://www.

pedoman hidup bagi orang Jawa di mana pun ia berada. Falsafah hidup itu di antaranya:

Rumangsan (perasa bahwa tindak tanduknya selalu diperhatikan orang sehingga takut untuk bertindak yang melanggar tata susila dan kesopanan), Aja dumeh (suatu keadaan kejiwaan yang perlu dihindari yang men­

dorong seseorang untuk berbuat selagi atau mumpung dia sedang berkuasa hingga dapat menampakkan diri berupa mabuk kekuasaan), tepa slira (berusaha menempatkan diri dalam keadaan orang lain hingga dapat mengerti mengapa orang lain itu dalam hubungan dengan keadaannya sampai dapat melakukan perbuatan tertentu), mawas diri (meninjau ke dalam, ke hati nurani guna mengetahui benar tidaknya, bertanggungjawabtidaknya suatu tindakan yang telah diambil), budi luhur/kaluhuraning budhi (selalu berbuat baik, menghindar dari sifat serakah dan iri), sikap perwira (murah hati dan jaga gengsi/royal), mbanting raga (untuk mencapai suatu tujuan ia menghalangi raganya berfungsi sepenuhnya dengan cara mengurangi makan dan tidur atau dengan cara ngelakoni/puasa), gugontuhon (yakni takhayul/mistik), kamanungsan adalah memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi (Hardjowirogo, 1983:46­102).

Berfilsafat dalam kebudayaan Jawa berarti ngudi kasampurnan (berusaha mencari kesempurnaan). Ketiga aspek filsafat (ontologi, epistemologi, dan aksiologi) merupakan satu kesatuan. Filsafat Ada berkaitan dengan ontologi, kosmologi, antropologi, dan teologi.

Filsafat pengetahuan berhubungan dengan epistemologi dan logika, dan Filsafat nilai (axiologi) meliputi estetika (keindahan) dan etika (kesusilaan) (Ciptoprawiro, 2000:20­21).

Ketiga aspek filsafat tersebut ada dalam budaya Jawa. Hal yang tercakup dalam ketiga aspek tersebut misalnya: termasuk filsafat ada, 1) memayu hayuning bawana (melindungi kehidupan dunia), 2) Budi dayane manungsa ora dapat ngungkuli garise Kang Kuwasa (Budidaya manusia tidak dapat mengatasi takdir Yang

1 “Filsafat Jawa, Kejawen dan Islam” dalam http://www.jawapalace.org/index.html.

Vol. 3, No. 2, Desember 2013

Maha Kuasa), 3) Paham mistik yang berpokok Manunggaling Kawula Gusti (persatuan manusia dengan Tuhan) dan 4) Sangkan Paraning Dumadi (asal dan tujuan ciptaan, bersumber pada pengalaman religius. Berawal dari sana, manusia rindu untuk bersatu dengan yang Ilahi, ingin menelusuri arus kehidupan sampai ke sumber dan muaranya), 5) mbanting raga (untuk mencapai suatu tujuan ia mengguna­

kan raganya berfungsi sepenuhnya dengan cara mengurangi makan dan tidur atau dengan cara nglakoni/ puasa), 6) gugontuhon (yakni takhayul/mistik), 7) kamanungsan adalah memi liki rasa kemanusiaan yang tinggi, ter­

masuk filsafat pengetahuan, misalnya: Tan ngendhak gunaning janma (tidak merendahkan kepandaian manusia), termasuk filsafat nilai, misalnya: 1) sukeng tyas yen den hita (suka/

bersedia menerima nasihat, kritik, tegoran), 2) jer basuki mawa beya (keberhasilan seseorang diperoleh dengan pengorbanan), 3) ajining dhiri dumunung ing kedhaling lathi (nilai diri seseorang terletak pada gerak lidahnya), 4) ajining sarira dumunung ing busana (nilai badaniah seseorang terletak pada pakaiannya), 5) amemangun karyenak tyasing sesama (mem­

buat enaknya perasaan orang lain), 6) sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti (kemarahan dan kebencian akan terhapus/hilang oleh sikap lemah lembut), 7) kena cepet ning aja ndhisiki, kena pinter ning aja ngguroni, kena takon ning aja ngrusuhi. Maksudnya, boleh cepat tetapi jangan mendahului (sang pempinan), boleh pintar tetapi jangan menggurui (pempinan), boleh bertanya tetapi jangan menyudutkan pempinan, 8) aja dumeh, jangan merasa dirinya lebih, 9) hangrasa wani, mawas diri, instropeksi diri, 10) mikul duwur, mendhem jero, menghargai dan menghormati serta menyimpan rahasia orang lain, 11) ajining dhiri saka obahing lathi, artinya ‘harga diri tergantung ucapnya,’ 12) ajining diri saka pucuke Lathi, Ajining raga saka busana, artinya ‘harga diri seseorang tergantung dari ucapannya dan sebaiknya seseorang dapat menempatkan diri sesuai dengan busananya (situasinya)’, 13) Rumangsan, perasa bahwa

tindak tanduknya selalu diperhatikan orang sehingga takut untuk bertindak sesuatu yang melanggar tata susila dan kesopanan, 14) tepa slira, berusaha menempatkan diri dalam keadaan orang lain hingga dapat mengerti mengapa orang lain itu dalam hubungan dengan keadaannya sampai dapat melakukan perbuatan tertentu, 15) budi luhur/kaluhuraning budi (selalu berbuat baik, menghindar dari sifat serakah dan iri), 16) sikap perwira, murah hati dan jaga gengsi.

Ketiga aspek di atas (falsafah ada, falsafah pengetahuan, dan falsafah nilai) dijadikan sebagai landasan untuk mengkaji unsur filsafat Jawa dalam Novel Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.

C. analisis Filsafat terhadap budaya jawa

Dalam dokumen Memasuki budaya modern, Indonesia (Halaman 50-56)