• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memasuki budaya modern, Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Memasuki budaya modern, Indonesia"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

Demokrasi Dunia maya

M

emasuki budaya modern, Indo­

nesia ber ada dalam ruang keber­

aksaraan tanpa mening galkan kelisanan. Keberaksaraan ditandai dengan adanya bahan cetak cetak dalam bentuk dan jenisnya yang beraneka ragam, seperti majalah, surat kabar, jurnal, tabloit, dan buku.

Kelisanan mewujud dalam ruang interpersonal dan ruang publik. Keberaksaraan berkembang sejalan dengan budaya masyarakat.

Keberaksaraan, seperti dikemukakan Macaryus, dibedakan menjadi empat, yaitu literal, fungsional, medial, dan digital (2010).

Keberaksaraan literal adalah kemampuan mengenali huruf dan angka sebagai modal untuk menerima dan menyampaikan infor­

masi setera tertulis. Keberaksaraan fungsi­

onal adalah kemampuan menggunakan keberaksaraan untuk menangkap dan meng­

ekspresikan pikiran, perasaan, dan kemauan­

nya secara tertulis yang mengasumsi adanya daya pilah dan pilih. Keberaksaraan medial adalah kecakapan mengakses media audi­

visual, seperti radio dan televisi yang meng­

gunakan aspek verbal dan nonverbal. Keber­

aksaraan medial menuntut daya pilah dan pilih kritis. Keberaksaraan digital adalah kecakapan memanfaatkan media digital atau teknologi informasi untuk menerima dan menyebarkan aneka informasi.

keberaksaraan Digital

Menurut Houwink, sebelum dunia me­

masuki masyarakat biologis yang antara lain ditandai dengan munculnya teknologi kloning dan trangenik telah didahului munculnya masyarakat komunikasi. Masyarakat komuni­

kasi terus berkembang sejalan dengan temuan­

temuan baru dalam bidang komunikasi. Saat ini banyak informasi (lapangan kerja, bea

siswa, penelitian, kegiatan ilmiah, undangan, perniagaan, dan aneka transaksi) disampaikan dengan memanfaatkan teknologi informasi digital. Demikian juga diskusi, debat, aneka transaksi, dan saling menghujat dapat di­

lakukan melalui dunia maya. Hal tersebut menjamin informasi dapat sampai secara cepat, tepat, dan murah. Dunia maya merupakan ruang terbuka, dalam bahasa Jawa ngeblak

‘terbuka seluas­luasnya’ secara global. Semua itu memungkinkan memungkinkan terjadinya komunikasi dan informasi pada tataran lokal, nasional, regional, dan global.

Sebaliknya, hal yang kontraproduktif juga dimungkinkan dilakukan melalui dunia maya secara terbuka pula, sebagai risiko dari penggunaan teknologi informasi digital ter­

sebut. Penyebaran virus, pencurian data, penipuan, sabotase, teror, dan saling meng­

hujat berpeluang terjadi melalui dunia maya.

Masyarakat dunia maya internasional tentu masih ingat pembocoran kegiatan spionase Amerika yang dilakukan Snowden. Sekitar bulan Agustus 2009, Indonesia juga diheboh­

kan dengan penyadapan yang dilakukan oleh intelejen Australia terhadap telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Fenomena yang terjadi dengan memanfaatkan dunia maya saat ini dapat ditarik ke dunia fisik, seperti respons pemerintah Indonesia yang me­

minta penjelasan Australia dan pembatalan beberapa kerjasama. Dalam lingkup personal masyarakat Indonesia tentu juga masih ingat kasus Prita yang mengeluh melalui dunia maya dan direspons oleh institusi yang merasa dirugikan atas keluhan tersebut. Prita harus menerima tuntutan pengadilan tetapi juga mendapat pembelaan dari masyarakat.

Lepas dari semua kemungkinan risiko yang dapat terjadi, keberaksaraan digital, saat ini

(2)

Vol. 3, No. 2, Desember 2013

memungkinkan sebagai ruang pengembangan aneka komunitas, komunikasi, dan informasi pada tataran lokal, nasional, regional, dan global. Dalam memasuki dunia maya, para pihak yang tergabung dan memanfaatkan di tuntut memiliki penguasaan material, teknis operasional, dan mental. Penguasaan material berkaitan dengan kesanggupan menye dia kan materi yang merupakan sarana untuk memasuki dunia maya, seperti telepon genggam, laptop, tablet, atau personal computer. Pengua saan teknis operasional adalah kemampuan mengoperasikan sarana yang tersedia dalam me masuki dunia maya melalui aneka program yang tersedia.

Penguasaan mental maksudnya, kemampuan dalam menyikapi materi dan teknis operasional sehingga mendapatkan manfaat yang optimal.

Keberaksaraan digital memungkinkan setiap anggota masyarakat menerima dan me­

nyampaikan informasi kepada mitra­mitranya, memanfaatkan program­program atau software yang dapat membantu inovasi, dan mengikuti perkembangan baru dalam berbagai bidang, seperti sastra digital, sastra facebook, distant learning, e-learning, e-library, e-journal, dan e-banking yang menghemat penggunaan ruang fisik dan biaya yang signifikan.

Demokrasi Dunia maya

Konsep demokrasi di dunia Barat melewati sejarah panjang mulai dari munculnya polis (negara kota). Anggota masyarakat yang tinggal di dalam polis melakukan pemilihan pemimpin mereka secara langsung. Pemimpin diberi kekuasaan untuk mengatur beberapa bidang kehidupan dan ketika kekuasaan di­

selewengkan atau melakukan tindakan yang melebihi kekuasaan yang dipercayakan masya­

rakat berkumpul dan mencabut kekuasaan tersebut, untuk diperikan kepada pemimpin yang lain melalui pemilihan.

Dalam tatanan kehidupan modern, demokrasi dihayati sebagai hak masyarakat untuk berkumpul, berserikat, mendapatkan informasi, dan menyampaikan pendapat dengan tetap memperhatikan serta menghargai hak sesamanya. Dunia maya yang sudah ngeblak memberi peluang setiap anggota masyarakat untuk melakukan semua itu. Dunia maya membebaskan masyarakat dari batas­

batas teritorial, budaya, dan kelembagaan.

Hal tersebut memunculkan berlakunya logika waktu pendek. Masyarakat global berpeluang membangun komunitas­komunitas tertentu, misalnya yang bersifat kategorial, fungsional, teritorial, atau profesional.

Aneka fenomena dan peluang tersebut menempatkan penguasaan mental menjadi sesuatu yang primer sebagai modal untuk mendapatkan manfaat secara optimal. Pengua­

saan material dan teknis operasional harus dilengkapi dengan penguasaan mental demi terwujudnya masyarakat dunia yang cerdas, responsif, santun, dan berkeadilan. Negara yang bertanggung jawab melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut me­

laksanakan ketertiban dunia yang berda sarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial harus segara merespons fenomena ini untuk merujudkan kewibawaan, kemandirian, dan kesejahteraan masyarakatnya. Contoh konkret Pemilu di Indonesia mulai dari pemilihan bupati, gubernur, legis latif, dan presiden yang dalam jangka waktu lima tahun jumlahnya mencapai lima ratus lima puluhan tentu menghabiskan dana yang spek­

takuler. Mengapa belum ada program pemilu elektronik yang kemungkinan meng hemat dana secara spektakuler pula?

Masyarakat mengharap dan menunggu!

Redaksi

(3)

LITERASI

Volume 3 No. 2, Desember 2013 Halaman 93 ­ 99

Abdi dAlem Dan abDi negara: iDentitas ganDa seniman- Priyayi kemlayan surakarta 1950-an-1970-an

royal serVant anD state serVant: Double iDentity oF artist- PRiYAYi in kemlayan, surakarta, 1950s-1970s

Heri Priyatmoko

Kolumnis Solo Tempo Doeloe di Media Massa Pos­el: [email protected]

abstrak

Artikel ini membahas identitas seniman priyayi di Kemlayan, Surakarta pada masa periode post­kolonial. Keraton Kasunanan tidak mempunyai otoritas untuk mengikat abdi dalem untuk melayani raja sesudah masa kemerdekaan. Raja tidak dapat menjamin keuangan pangrawit di Kemlayan. Permasalahan yang menarik untuk dikaji adalah strategi politis kultural yang digunakan komunitas seniman­priyayi di Kemlayan untuk menghadapi era yang berubah? Bagaimanakah identitas mereka setelah kelas sosial dihapus?

Dengan keahlian dalam seni, priyayi­seniman di Kemlayan bergabung dengan lembaga kesenian milik pemerintah Indonesia untuk menjadi abdi negara. Mereka membantu Keraton Kasunanan dengan bergabung dalam acara­acara tradisional. Kemudian mereka mendapat identitas baru tanpa kehilangan identitas sebelumnya sebagai abdi dalem. Mereka juga mempertahankan atribut priyayi mereka. Strategi yang digunakan priyayi­seniman di Kemlayan membawa hasil positif. Mereka mempunyai identitas ganda dan peran fungsional sebagai seniman tetap bertahan meskipun hegemoni keraton menghilang.

Orientasi kerja mereka tidak lagi melayani raja. Sekarang mereka melayani rakyat di bidang kebudayaan sesuai rencana pemerintah. Identitas mereka sebagai priyayi diakui rakyat dan pemerintah sebagai penghormatan atas sumbangsih mereka.

kata kunci: seniman, abdi dalem, hegemoni, identitas, priyayi abstract

This article explains the identity of artist­priyayi in Kemlayan, Surakarta during the post­colonial period. Kasunanan court did not have the authority to keep abdi dalem to serve the king after the independence of Indonesia. The king could not guarantee the finance of pangrawit in Kemlayan. The question to respond the situation is what cultural political strategy was used by the artist­priyayi community in Kemlayan to deal with the changing era? How was their identity after the social class was omitted?

With expertise in art, the artist­priyayi in Kemlayan joint art institution that belonged to the Indonesian government to become abdi negara. They were helping Keraton Kasunanan by joining in traditional events. Then they got new identity without losing their the previous one, as abdi dalem. They also kept their priyayi’s attributes. Strategy that was used by the artist­priyayi in Kemlayan brought a positive outcome. They have double identity and the functional role as artists remained although keraton hegemony was gone. Their work orientation was not serving the king anymore. Now they serve people in culture sector according the government’s plan. Their identity as priyayi was admitted by the people and government as respect for their contribution.

keywords: artists, priyayi, abdi dalem, hegemony, identity

(4)

Vol. 3, No. 2, Desember 2013

a. Pendahuluan

Pada masa Paku Buwana XI (1939­1945), Keraton Kasunanan mengalami kesulitan di sektor keuangan. Pemerintah Belanda men­

dadak mengurangi anggaran belanja kerajaan besar­besaran, karena terjadi perubahan status dari vassal (tanah kerajaan) melebur menjadi wilayah Hindia Belanda secara permanen.

Pemangkasan budget dikerjakan bertahap dengan mempertimbangkan jumlah pejabat tingkat rendah bergaji sedikit yang bakal terkena imbas hematisasi. Sesuai perjanjian, anggaran dipotong sampai sekitar seperempat dalam bulan pertama dan berangsur­angsur akan dipangkas lebih besar di tahun berikutnya hingga separuh (Larson, 1990:300­301).

Bergulirnya kebijakan pahit ini membuat pihak kerajaan hanya mampu menghidupi abdi dalem secara pas­pasan. Kaum bangsawan pun terpaksa memasuki fase serba hemat, sederhana, dan meninggalkan kebiasaan hidup mewah. Paku Buwana XI tidak sanggup ber­

buat banyak dengan situasi tersebut. Akhir­

nya, dilakukan pemangkasan jumlah pegawai keraton secara besar­besaran. Kondisi itu meresahkan kawula dalem, termasuk abdi dalem niyaga yang diminta berhenti bekerja sementara waktu (Waridi, 2001:58). Aksi pemecatan ini dapat dimaknai sebagai tanda merosotnya kewibawaan Paku Buwana XI, Raja gagal menyelamatkan bawahannya dari badai masalah keuangan. Imbas buruknya adalah perasaan hormat dan taat, kekaguman, dan pengabdian abdi dalem kepada raja berkurang.

Badai kedua adalah lahirnya negara Republik Indonesia tahun 1945, dan terlebih setelah pecahnya gerakan antiswapraja tahun 1946, Keraton Kasunanan sudah tidak lagi memiliki ruang kekuasaan, baik dalam penger­

tian geografis maupun politis. Tinggal lah bangunan istana yang merupakan sumber kebudayaan Jawa lahiriah maupun batiniah.

Dalam kedudukan yang demikian ini, pewaris dinasti Mataram Islam tersebut tidak punya otoritas mengontrol abdi dalem, termasuk

kelompok abdi dalem niyaga yang bermukim di kampung Kemlayan. Abdi dalem niyaga ini pada dasarnya masuk dalam kategori kelompok sosial priyayi, sebagai kompensasi atas kese­

diaan mereka mengabdi kepada keraton.

Keberadaan seniman­priyayi Kemlayan di tengah melemahnya kondisi keraton ini menjadi permasalahan menarik untuk dikupas.

Apakah status sosial sebagai priyayi dan peran fungsional mereka sebagai seniman juga ikut tamat bersamaan hancurnya hegemoni keraton? Selain itu, strategi politik kultural apa yang ditempuh komunitas seniman­

priyayi Kemlayan untuk melewati perubahan zaman dan mempertahankan kehidupan sosial­ekonominya? Bagaimana juga identitas mereka setelah dihapusnya stratifikasi sosial bangsawan­priyayi­wong cilik seiring tumbang­

nya kekuasaan keraton?

Untuk memahami dinamika sejarah komu­

nitas seniman­priyayi Kemlayan Surakarta dan keterkaitan mereka dengan kekuasaan negara Republik Indonesia, dipakailah sumber sejarah.

Beberapa sumber primer dalam penelitian ini, di antaranya surat keputusan, piagam peng hargaan, kekancingan, foto sezaman, dan arsip lain yang relevan. Komunitas seniman­

priyayi Kemlayan tidak banyak meninggalkan dokumen mengenai riwayat hidupnya. Oleh karena itu, diperlukan wawancara mendalam untuk mendapatkan keterangan lisan dari berbagai pihak terkait.

b. “angkat kaki” dari keraton

Pergantian sistem pemerintahan dari kerajaan ke Republik Indonesia tahun 1945 membawa pengaruh besar dalam kehidupan Keraton Kasunanan, termasuk lingkungan abdi dalem. Keraton yang sebelumnya begitu kuat mengontrol kehidupan abdi dalem lambat laun mengurangi intervensinya. Keraton juga tak sanggup lagi memberi jaminan kehidupan mapan. Berdirinya Republik membuka peluang masyarakat umum untuk berkembang. Alhasil, kehidupan di luar lingkungan keraton mulai menawarkan pilihan hidup yang lebih baik bagi para seniman.

(5)

Abdi Dalem dan Abdi Negara: Identitas Ganda Seniman-Priyayi Kemlayan Surakarta 1950-an-1970-an Heri Priyatmoko

Kondisi tersebut memancing abdi dalem niyaga keraton keluar dari lingkungan yang sebelumnya menjadi prioritas hidup mereka.

Mereka ingin bebas dari kekangan pihak istana. Selain hendak mencari penghidupan yang lebih layak di luar tembok keraton, para pemusik istana juga berupaya keras mengem­

bangkan dan menyebarkan kemampuan yang dimilikinya kepada publik. Mereka ber­

kemauan mengajarkan kesenian karawitan dan tari gaya Surakarta yang merupakan hasil dari patronase penguasa keraton.

Para pangrawit dan seniman tari yang

“angkat kaki” dari istana bermaksud meng­

ajarkan gending dan tari klasik gaya Surakarta kepada masyarakat karena didasari oleh kegelisahan bahwa para empu andalan dari keraton makin lama makin habis dikikis usia, selain pertimbangan pragmatis. Jika para empu tetap di dalam keraton, tidak ada penye­

barluasan pengetahuan dan keterampilan perihal gending dan tari klasik. Di titik ini, abdi dalem seniman tidak hanya memaknai kesenian tradisional sebagai kebutuhan, tetapi juga pengajaran sebagai hal yang urgen bagi kelestarian gending Jawa dan tarian klasik gaya Surakarta (Tranggono, 1990).1

Bagai gayung bersambut, pemerintah pusat saat mendirikan Konservatori Karawitan (KOKAR) membutuhkan orang­orang yang sudah berpengalaman atau terampil memain­

kan alat musik gamelan Jawa untuk menjadi pengajar. Sementara, orang yang pandai bermusik yang tidak lain adalah abdi dalem niyaga keraton itu mengharapkan sebuah payung atau lembaga guna merealisasikan mimpi menularkan kepandaian berkesenian kepada publik secara lebih sistematis dan terorganisasi.

Kuntowijoyo menjelaskan bahwa pada periode awal kemerdekaan, pemerintah Republik Indonesia dalam menjalankan peran­

nya sebagai penguasa dan pengelola negara, mengadopsi model birokrasi kerajaan dengan

1 Buku resmi terbitan pemerintah (TVRI) tersebut mengulas profil seniman Kemlayan, yakni Mlayawidada dan S.

Ngaliman Tjondropangrawit yang semasa hidupnya sama­

sedikit pembaruan dan mengubah orientasi.

Diketahui bahwa fungsi abdi dalem melayani raja dalam hubungan atas­bawah yang bersifat konsentris membuat kedudukan birokrasi dalam negara patrimonial hanya merupakan kepanjangan tangan dari kekuasaan raja.

Birokrasi tidak melayani masyarakatnya, melainkan melayani kepentingan raja (1994:

184­193).

Pemerintah nasional Indonesia yang masih berumur muda ini memberi definisi baru pada birokrasi beserta mekanismenya, yaitu abdi dalem keraton yang kemudian menjadi abdi negara itu diminta fokus melayani masyarakat, bukan penguasa. Etos pelayanan diperbesar ketimbang etos kekuasaan, untuk mencegah terjadinya refeodalisasi. Pengangkatan abdi negara tidak berdasarkan kualifikasi genea­

logis, tetapi berdasar kriteria rasional. Hal berbeda dengan para abdi dalem yang diangkat karena kemurahan raja.

Abdi dalem yang berasal dari kampung Kemlayan yang direkrut pemerintah pusat menjadi abdi negara dan diberi kesempatan menularkan ilmu di lembaga KOKAR, yakni empu karawitan Warsadiningrat, Mlayawidada, Warsapangrawit, Djoyomlaya, Hadipurwoko, Karyopradangga, Gunopang­

rawit, Yasapradangga, Martapangrawit, Parsono, Mlayareksaka, dan baru belakangan empu tari S. Ngaliman Tjondropangrawit.

Sebelum berdirinya KOKAR tempat pangrawit Kemlayan bekerja, beberapa dari mereka telah membanting tulang membantu pemerintah Republik Indonesia. Di satu pihak, mereka masih tetap mengabdi kepada Keraton Kasunanan walau tingkat loyalitasnya menurun, tidak seperti zaman keemasan Paku Buwana X. Sekitar tahun 1947­1948, mereka masuk di Kantor Karesidenan sebagai staf karawitan, akan tetapi tidak maksimal dalam mencurahkan pikiran serta keahliannya lantaran job deskripsinya belum tertata rapi dan iklim bekerja kantoran belum terbangun

1 Buku resmi terbitan pemerintah (TVRI) tersebut mengulas profil seniman Kemlayan, yakni Mlayawidada dan S. Ngaliman Tjondropangrawit yang semasa hidupnya sama­sama mengalami kegelisahan dan berusaha

(6)

Vol. 3, No. 2, Desember 2013

(Wawancara Diyem, Surakarta, 2010). Mafhum bahwa model pemerintahan Karesidenan belum mapan, sebab masih tahap ujicoba sebagai pengganti sistem pemerintahan tradi­

sional kerajaan di Surakarta yang sedikit mem­

peroleh dukungan massa.

C. kontestasi memperebutkan seniman kemlayan

Kisah abdi dalem niyaga mendaftar menjadi pegawai diceritakan oleh Mlayawidada. Suatu ketika, ia memperoleh informasi dari tetangga sebelah rumahnya, Ndoyopradangga. Dika­

barkan bahwa di Kantor Karesidenan Surakarta membutuhkan tenaga pangrawit. Tanpa sepe­

ngetahuan pihak Keraton Kasunanan, Mlaya­

widada mengajak Marta pangrawit, Warso­

pangrawit, dan Puspolalito men daftarkan diri. Karena kantor ini mem butuhkan tenaga pangrawit dan pihak Karesidenan sudah men­

dengar kepiawaian mereka menabuh gamelan, keempat seniman ini langsung diterima men jadi staf karawitan tanpa melewati tes wawancara dan uji kemampuan. Selain mempunyai kepan daian menabuh gamelan, mereka ber­

empat ditarik sebagai staf karawitan kantor Karesi denan Surakarta agar lebih bebas dalam membantu perjuangan gerilya. Saat revolusi fisik, rumah Mlayawidada memang dipakai untuk penitipan senjata dan perlengkapan gerilya lainnya.2 Sebagai kompensasinya, mereka akan mendapat gaji Rp 250 per bulan.

Untuk perbandingan, upah sehari­hari bekerja sebagai abdi dalem niyaga dibayar oleh keraton

“hanya” sebesar Rp 10 per bulan. Tanggal 1 Mei, Mlayawidada resmi diangkat menjadi pegawai kantor Residen Surakarta.3

Berita mereka bekerja di tempat yang baru ini sampai juga ke telinga pembesar keraton.

Prabuwinoto sebagai pengangeng Amongraras atau pemimpin niyaga keraton, melayangkan

2 Selain mempunyai kepandaian menabuh gamelan, mereka berempat ditarik sebagai staf karawitan kantor Karesidenan Surakarta agar lebih bebas dalam membantu perjuangan gerilya. Saat revolusi fisik, rumah Mlayawidada memang dipakai untuk penitipan senjata dan perlengkapan gerilya lainnya. Baca Moch. Nursjahid, “S. Mlayawidada Pemegang Anugerah Seni 1979”, dalam Minggu Ini Suara Merdeka 16 September 1979.

3 Surat Keputusan Residen Surakarta No 13/5k/Kar 29 November 1948. Tahun 1970, Mlayawidada resmi pensiun dengan golongan I dan menerima gaji sebulan Rp 1.170. Periksa

surat kepada Mlayawidada, Martapangrawit, Warsopangrawit, dan Puspolalito. Layang tersebut berisi teguran dan keempat seniman itu diminta tegas memilih Keraton Kasunanan atau Kantor Karesidenan Surakarta. Karena pertimbangan finansial dan faktor ambruknya hegemoni keraton, teguran ini direspon seniman Kemlayan dengan memutuskan tetap mencari sesuap nasi di Kantor Karesidenan Surakarta. Mereka menghadap Prabuwinoto dan menyatakan diri ingin berhenti dari profesi abdi dalem niyaga. Mengingat sulitnya mencari figur pengganti dan orang lama yang paham gending­gending Jawa gaya Surakarta, pengageng parentah keraton memberi kelonggaran, yakni tugas mereka di dalam istana tetap dilaksanakan dan pekerjaan di Kantor Karesidenan Surakarta dipertahankan demi mencukupi kebutuhan hidup (Saptono, 1998:33­35).

Keputusan tersebut disetujui oleh ke­

empat pangrawit dari Kemlayan ini dengan senang hati, meski di sisi lain mungkin terasa pahit bagi keluarga Keraton Kasunanan sebab merasa dilecehkan oleh bawahannya yang lancang berbuat demikian. Dalam perspektif keluarga keraton, mungkin sekali muncul pemikiran bahwa bagaimana pun abdi dalem niyaga ini telah bertahun­tahun ngawula dan dibesarkan oleh Keraton Kasunanan sejak periode Paku Buwana X hingga Paku Buwana XII. Tentu harapan yang dibangun petinggi keraton adalah aspek loyalitas atau kesetiaan para abdi dalem semestinya dijaga kendati zaman berubah.

Dari realitas sejarah ini dapat ditafsirkan bahwa selepas kemerdekaan, terjadi suatu kontestasi atau ajang adu kekuatan antara pemerintah Republik Indonesia dengan pe­

tinggi Keraton Kasunanan demi mendapatkan atau memperebutkan seniman­seniman

2 Selain mempunyai kepandaian menabuh gamelan, mereka berempat ditarik sebagai staf karawitan kantor Karesidenan Surakarta agar lebih bebas dalam membantu perjuangan gerilya. Saat revolusi fisik, rumah Mlayawidada memang dipakai untuk penitipan senjata dan perlengkapan gerilya lainnya. Baca Moch. Nursjahid,

“S. Mlayawidada Pemegang Anugerah Seni 1979”, dalam Minggu Ini Suara Merdeka 16 September 1979.

3 Surat Keputusan Residen Surakarta No 13/5k/Kar 29 November 1948. Tahun 1970, Mlayawidada resmi pensiun dengan golongan I dan menerima gaji sebulan Rp 1.170. Periksa Arsip Surat Pensiun dan Tunjangan Kepala Kantor Urusan Pegawai RI 16 Maret 1970.

96

(7)

Abdi Dalem dan Abdi Negara: Identitas Ganda Seniman-Priyayi Kemlayan Surakarta 1950-an-1970-an Heri Priyatmoko

Kemlayan. Hasil kontestasi antara dua keku­

asaan tersebut secara jelas dimenangkan oleh pemerintah Republik Indonesia lantaran lebih mampu menjamin kehidupan para seniman Kemlayan, baik secara ekonomi maupun sosial.

Dipahami pula bahwa pascakemerdekaan, posisi tawar abdi dalem niyaga relatif tinggi sebab memiliki keahlian menabuh gamelan yang mumpuni. Bermodal kemampuan itulah, para pangrawit dapat menentukan pilihan siapa majikannya, karena posisinya memang sangat dibutuhkan oleh penguasa untuk alat legitimasi kekuasaan di ranah kebudayaan.

Dengan mempunyai dua majikan, berarti dapat dinyatakan bahwa identitas seniman Kemlayan tersebut ganda, yaitu sebagai abdi dalem sekaligus abdi negara.

Seniman Kemlayan yang terakhir ditarik oleh pemerintah pusat untuk membagikan ilmunya di KOKAR Surakarta, yaitu S.

Ngaliman Tjondropangrawit. Tahun 1952, pangkat S. Ngaliman sebagai abdi dalem niyaga di Keraton Kasunanan naik menjadi abdi dalem Lurah Miji pengendang dengan nama kekancingan Tjondropangrawit. Baru tahun 1956, S. Ngaliman diangkat pegawai negeri pada KOKAR (Haryono, 1997:55).

Tidak semua seniman Kemlayan ter­

wadahi di instansi KOKAR. Sebagai contoh, Gunapangrawit dipercaya sebagai pangrawit rebab di kelompok karawitan Riris Raras Irama di bawah naungan Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta. Kemudian Turahyo Harjomartono, didapuk (ditunjuk) sebagai pangrawit kendang di RRI Surakarta dan mengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan mata pelajaran Praktik Karawitan Surakarta II.4 Di Akademi Karawitan Surakarta (ASKI), Turahyo juga diminta untuk membagikan ilmunya tentang Tabuh Sendiri Gender ber­

sama Martapangrawit dan Mlayawidada.5 Meski telah menerima penghasilan dari luar keraton, ia masih merangkap sebagai abdi

4 Arsip Surat Keputusan Rektor ISI Yogyakarta tentang Daftar Tenaga Luar Biasa Pada ISI Yogyakarta 1979.

dalem Keraton Kasunanan seperti layaknya KRT. Warsadiningrat, Mlayawidada, Warso­

pangrawit, Yasapradangga, Djoyomlaya, Hadi­

purwoko, Karyopradangga, Martapangrawit, Parsono, dan Mlayareksaka.

D. kreativitas yang tak tumpul

Di tempat kerja baru yang ini, kreativitas seniman tidak tumpul, malah kian ber­

kembang. Mlayawidada, misalnya, berhasil mendokumentasikan notasi gending Jawa gaya Surakarta 3 jilid. Gending­gending yang dimuat dalam tiga jilid buku itu dikumpulkan dari catatan abdi dalem niyaga Keraton Kasunanan yang tinggal di Kemlayan, yaitu KRT.

Warsadiningrat, R.Ng. Purwapangrawit, R.Ng.

Mlayasutedja, dan R.Ng. Djoyomlaya.

Hasil identifikasi tersebut menunjukkan bahwa sejumlah 1270 komposisi musikal (gending) Jawa gaya Surakarta sebagai warisan budaya yang begitu berharga berhasil didoku­

mentasikan dalam bentuk notasi balungan gending. Ketiga jilid buku tersebut sampai sekarang digunakan sebagai acuan utama masyarakat karawitan Jawa gaya Surakarta, terutama bagi pendidikan formal. Dalam perkembangannya, seiring dengan semakin meningkatnya lulusan Kokar dan ASKI Surakarta yang berasal dari luar daerah dan menyebar ke kota­kota di Jawa, sebagian notasi repertoar gending yang tercatat dalam buku itu ikut mengalir pula ke berbagai kelompok karawitan di beberapa kota dan daerah, bahkan hingga ke mancanegara (Waridi, 2008:78).

Berkat keberadaan abdi dalem niyaga keraton yang berkiprah di KOKAR dan ASKI, membawa dampak positif dalam penyebaran pengetahuan karawitan terutama gaya Surakarta. Sebagaimana yang diutarakan Sumarsam bahwa semenjak didirikan KOKAR dan ASKI, pelajaran praktik gamelan selalu mendapat ajaran dan bimbingan dari pangrawit-pangrawit keraton yang terkenal.

Lulusan dari sekolah ini mempunyai catatan­

4 Arsip Surat Keputusan Rektor ISI Yogyakarta tentang Daftar Tenaga Luar Biasa Pada ISI Yogyakarta 1979.

5 Arsip Keputusan Pimpro ASKI No. 0120/PAK­I/K/76­77 Tanggal 17 Mei 1977.

(8)

Vol. 3, No. 2, Desember 2013

catatan notasi yang diperoleh sewaktu mereka belajar. Sumber timbulnya notasi berasal dari para pangrawit keraton yang mengajar dan melayani mereka. Lulusan dari kedua sekolah tersebut telah tersebar luas, bahkan sampai di luar Jawa maupun di luar negeri (termasuk Sumarsam sendiri) yang tugasnya kebanyakan mengajar atau membimbing seni karawitan. Sudah selayaknya kalau mereka akan mengajar berdasarkan catatan atau buku yang dipunyai (Sumarsam, 1976:1).

Abdi dalem pembuat gamelan dari Kemlayan, R.Ng. Yasapradangga juga ditarik oleh pemerintah di KOKAR. Pada permulaan berdirinya KOKAR, pemerintah memang sangat berkepentingan dengan beliau dalam program pengembangan kawruh atau teknik membuat dan merawat gamelan. Tujuan utama Yasapradangga bersedia mengabdi di KOKAR adalah ingin mewariskan ilmu yang dimilikinya kepada generasi muda, mumpung pemerintah telah memberi jalan yang strategis. Di tempat inilah, kreativitas Yasapradangga kian tumbuh dan terdorong untuk mengembangkan diri. Yasapradangga resmi pensiun dari tugas mengajar di KOKAR pada tahun 1959 (Hardjoprasonto, 1997:55­56).

Selain mengajar di kelas, seniman­priyayi Kemlayan ditugaskan menjalin hubungan dengan masyarakat luar lewat jalur kesenian.

Berikut ini rincian tugas dan peran nyata staf pengajar di KOKAR di dunia luar, melalui berbagai kegiatan berikut.

1. Mengadakan pergelaran wayang kulit guna menunjukkan kepentingan kedudukan karawitan dalam pedalangan.

2. Mendampingi para siswa Konservatori mengadakan siaran karawitan di RRI studio Surakarta.

3. Dua kali dalam sebulan staf karawitan pada Konservatori melayani siaran dan masyarakat.

4. Bulan Mei 1951 Konservatori membantu Himpunan Budaya Surakarta untuk melayani Himpunan Kebudayaan Kabupaten di Lumajang.

5. Bulan Mei 1952 Konservatori mengirimkan beberapa orang pegawai ke Nganjuk untuk membantu Krida Langen Budaya di sana.

6. Sejak Juli 1951 hingga kini (1956) Konser­

vatori mengirimkan beberapa orang pegawai ke Kediri sebulan sekali dan tiga hari berturut­turut melatih kader pedalangan dan karawitan pada Kebudayaan Nasional Pancasila di sana (Departemen Penerangan, 1956:453­454).

e. simpulan

Dari paparan fakta­fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa meski para abdi dalem niyaga berasal dari kampung Kemlayan adalah produk masa lalu Keraton Kasunanan, mereka dapat bertahan dari terpaan zaman kendati kekuatan patron mereka sudah di­

nyatakan ambruk dengan lahirnya negara Republik Indonesia. Para bangsawan keraton

“bertumbangan” dan tidak siap menyongsong zaman baru karena tidak mempunyai strategi dan alat (kepandaian) untuk mengikuti perubahan zaman. Kondisi berbeda justru dialami seniman­priyayi Kemlayan. Berbekal keahlian seni dan setia hidup di jalur kesenian, abdi dalem niyaga tersebut mulai masuk di lingkungan pemerintahan Republik Indonesia.

Pemerintah Republik Indonesia dipilih menjadi patron utama oleh komunitas seniman­priyayi Kemlayan sebab mampu memberikan jaminan ekonomi dan status sosial. Di lain pihak, tugas­

tugas di keraton tidak sepenuhnya mereka tinggalkan.

Dengan bekerja di lembaga pemerintah Republik Indonesia dan melayani masyarakat, mereka justru memperoleh identitas baru tanpa harus menanggalkan identitas lama sebagai abdi dalem Keraton Kasunanan berikut simbol kepriyayian yang mereka miliki (gelar, bahasa, dan rumah). Masyarakat dan peme­

rintah tidak menyoal atribut atau simbol yang dikenakan seniman­priyayi Kemlayan berkesinambungan kendati stratifikasi sosial telah terhapus. Sebaliknya, masyarakat dan pemerintah malah segan terhadap mereka

(9)

Abdi Dalem dan Abdi Negara: Identitas Ganda Seniman-Priyayi Kemlayan Surakarta 1950-an-1970-an Heri Priyatmoko

karena pelayanan terhadap masyarakat dan kerja kulturalnya cukup nyata, serta menjadi rujukan publik yang berkeinginan mem­

pelajari kesenian tradisional gaya Surakarta.

Oleh karena itu, pada akhirnya mereka pun beridentitas ganda. Hal itu suatu bukti

“kemenangan” atau kesuksesan abdi dalem niyaga beradaptasi dengan zaman yang telah berubah.

Keputusan komunitas seniman­priyayi Kemlayan memilih menjadi tenaga pengajar di lembaga­lembaga kesenian pemerintah merupakan strategi politik kultural yang cerdas.

Mereka konsisten menekuni dunia kesenian dan membawa dampak positif bagi mereka.

Lewat lembaga yang didirikan pemerintah inilah, seniman Kemlayan tetap dapat eksis, berkreasi, dan mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan hidup. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa seniman­priyayi kampung Kemlayan memberi kontri busi yang besar bagi pengaderan lahirnya seniman karawitan yang andal. Selain itu, mereka mengembangkan karawitan yang berkembang di keraton ke luar tembok keraton dengan memberi kesempatan masyarakat luas untuk belajar dan memperoleh pengetahuan serta keterampilan menguasai karawitan gaya Surakarta. Hal itu berarti, peran fungsional mereka sebagai seniman tetap berjalan kendati zaman telah berubah.

Orientasinya tidak melayani raja lagi, melainkan melayani masyarakat seperti yang dikehendaki peme rintah.

Daftar Pustaka

Aliyah, Istijabatul. 2002. “Landasan Konsep Konservasi Kampung Kemlayan Sebagai Kawasan Seni dan Budaya Jawa di Surakarta.” Tesis. Semarang: Program Magister Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro.

Hardjoprasonto, Soemardjo.1997. Bunga Rampai Seni Tari Solo. Jakarta: Taman Mini Indonesia Indah.

Haryono, 1997. “S. Ngaliman Tjondropangrawit:

Dari Seorang Pengrawit Menjadi Empu

Tari Sebuah Biografi.” Tesis. Yogyakarta:

Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan UGM.

Kuntowijoyo. 1994. Demokrasi & Budaya Birokrasi.

Yogyakarta: Bentang.

Larson, George D. 1990. Masa Menjelang Revolusi:

Kraton dan Kehidupan Politik di Surakarta, 1912-1914. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nursjahid, Moch. 1979. “S. Mlayawidada Pemegang Anugerah Seni 1979,” dalam Minggu Ini Suara Merdeka 16 September.

Radjiman. 1984. Sejarah Mataram Kartasura Sampai Surakarta Hadiningrat. Surakarta: Toko Buku Krida.

Saptono. 1998. “Mloyowidodo Sebagai Sumber Sejarah Lisan: Sebuah Biografi.” Tesis.

Yogyakarta: Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan UGM.

Sumarsam. 1976. Kendangan Gaya Solo. Surakarta:

ASKI.

Tranggono, Indra. dkk. 1990. 30 Profil Budayawan Indonesia. Yogyakarta: TVRI.

Waridi. 2001. Martapangrawit Empu Karawitan Gaya Surakarta. Yogyakarta: Mahavhira.

Waridi. 2008. Gagasan dan Kekaryaan Tiga Empu Karawitan: Pilar Kehidupan Karawitan Jawa Gaya Surakarta 1950-1970-an (Ki Martapengrawit, Ki Tjakrawarsita, Ki Nartasabda). Bandung: Etnoteater Publisher, BAAC, Pascasarjana ISI Surakarta.

arsip

Surat Keputusan Residen Surakarta No 13/5k/

Kar 29 November 1948.

Surat Keputusan Pimpro ASKI No. 0120/PAK­

I/K/76­77 Tanggal 17 Mei 1977.

Surat Pensiun dan Tunjangan Kepala Kantor Urusan Pegawai RI 16 Maret 1970.

Surat Keputusan Rektor ISI Yogyakarta tentang Daftar Tenaga Luar Biasa Pada ISI Yogyakarta 1979.

Departeman Penerangan Republik Indonesia Provinsi Djawa Tengah. Djakarta:

Departeman Penerangan Republik Indonesia, 1956

Wawancara

(10)

LITERASI

Volume 3 No. 2, Desember 2013 Halaman 100 ­ 108

tHe laW oF Fine in genDer relationsHiPs on traDitional interPretation OendAng-OendAng SimbOeR TjAhAjA

in tulung selaPan, ogan komering ilir, soutH sumatera

Hukum DenDa Dalam Hubungan genDer atas taFsir traDisional OendAng-OendAng SimbOeR TjAhAjA Di tulung selaPan ogan

komering ilir, sumatera selatan gayung kasuma1

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Pos­el: [email protected]

abstract

The presence of Simboer Tjahaja book for the residents in South Sumatra generally and in Ogan Komering Ilir in particular, is the answer of the experienced social phenomenon.

Simboer Tjahaja is a series of conceptual and symbolic meaning resulted in consequences over inappropriate behaviours to both ethics and manners. The essence of life association in the book is not only served as formal law but as common habit and local identity either.

Genealogically, it served also as both cultural morality roots and life concept of society.

As the time goes by, after phenomenon traced in the District of Tulung Selapan it was revealed that there were many facts that been changed and oriented. The friction occurred in the perspective nowadays is related to the women motivation trapped in the centre of modernization, economic interests, and globalization. The friction over dende (fine) was done by the society for money (materials) objectives. The case revealed if there was a denunciating (crime by accusation) of the victim or third parties involved. Otherwise, then this dende (fine) would not be given.

keywords: dende (fine), globalization, the customary law, modernization abstrak

Keberadaan Simboer Tjahaja bagi masyarakat Sumatera Selatan pada umumnya dan masyarakat Ogan Komering Ilir khususnya merupakan jawaban atas fenomena sosial yang dialami. Simboer Tjahaja merupakan rangkaian makna konseptual dan simbolis yang muncul yang melahirkan konsekuensi atas perilaku­perilaku yang tidak sesuai dengan etika atau sopan santun. Esensi pergaulan hidup dalam kitab Simboer Tjahaja ini tidak hanya menjadi hukum formal, tetapi juga menjadi kebiasaan umum dan identitas daerah.

Secara genealogis, hal itu menjadi akar moralitas budaya dan konsep hidup masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, sebuah fenomena terjadi di Kabupaten Tulung Selapan, Banyak fakta telah diubah dan diarahkan. Pergeseran yang terjadi pada perspektif saat ini terkait dengan tujuan perempuan yang terperangkap dalam pusat modernisasi, tujuan ekonomi, dan globalisasi. Pergeseran mengenai dende (denda) dimunculkan oleh masyarakat dengan tujuan mendapatkan uang (materi). Kasus terungkap jika ada pengaduan (kejahatan karena ada tuduhan) dari korban atau pihak ketiga yang terlibat.

Jika tidak, dende (denda) ini tidak akan dijatuhkan.

kata kunci: dende (denda), globalisasi, hukum adat, modernisasi

1 This article has gone into changes, has been presented in 9th National Conference on History on 5­7 July 2011 at Bidakara Hotel Jakarta.

(11)

The Law of Fine in Gender Relationships on Traditional Interpretation Oendang-Oendang Simboer Tjahaja Gayung Kasuma

a. introduction

In the novel Dian yang Tak Kunjung Padam written by Sutan Takdir Alisyahbana, there are the records of the lives of people of South Sumatra in the 1930s. This novel contains human life romance colored with longing and revenge in the shadow of local customs. Faille de Roo in his work Dari Zaman Kesultanan Palembang, also noted various aspects of the life of Palembang society with ample descriptions such as description about the structure of society, socio­political traditions, customs, as well as the price of vegetables in the market.

He also noted various artworks of Palembang society born due to the strength of intuition, perseverance, and a delicate taste. In Syair Menteng, we found various heroic slogans ­ such as “one step backward, die as unbeliever”

­ which depicts how strong the spirit of the freedom fighters in South Sumatra was in the war against the Dutch colonialists.

South Sumatra consists of 31 sub­ethnic groups living in an extensive customary region.

Social relations in general or gender relations in particular is specifically addressed in the customary book known as Oendang-oendang Simboer Tjahaja (Simbur Cahaya Act). As an act, the book set social ethics, rights and obligations of indigenous people, the environment, and customs administration. The essence of social life in the book Simboer Tjahaja was not only a formal law, but also a common practice and identity of the area. In geneologis, also at the root of cultural morality and the concept of life. The term “act” and “custom” in the manuscript shared the same meaning as the laws or regulations to be obeyed (Djamaris, et al, 1981).

The existence of the book Simboer Tjahaja for the South Sumatera society was a response to social phenomena they experienced. Simboer Tjahaja is a series of conceptually visible meanings and appeared as a symbol of meaning resulted in consequences for behaviors that did not conform to ethics or manners. According to Geertz, revealing conceptual structure by

revealing human actions is an analysis system consists of terms which are generis toward the structure, and what belongs to these structures would face other determinations over human behavior (Geertz, 1992:35).

Culturally and naturally, Simboer Tjahaja was also articulated into different levels of society awareness (Geertz, 1992:21). As Geertz described Javanese in Mojokuto and Balinese with its chicken fighting, the concept of interpretation was necessary to see the relation between culture and social structure of the society of South Sumtera and Simboer Tjahaja manuscript. In other words, the text of Simboer Tjahaja and its articles can guide us in understanding or interpreting language and context, as well as analyzing the culture of the society of South Sumatra.

b. Simboer Tjahaja: a meaning of splash of light

Simboer Tjahaja is the name of a customary system as well as an act had been effective for hundreds of years in the society of South Sumatra. This fact has been revealed by De Roo Faille in the 16th century in the book Dari Zaman Kesultanan Palembang (Berlian, 2000:3). In its capacity as a normative “legal guidance”, the actual value in it is a source of grand narrative that assesses, determines and guides the direction of development of society. However, on the other hand, its openness to “revision” and “amendment”

makes this act develop following a variety of social changes and cultural development of society. Thus, in the very long term, there is a dialectic between the development of social system and a standardized dictum in the act (Berlian, 2000:v). It is a typical, particularly in the interpretation of gender perspectives and human rights.

Etymologically, Simboer Tjahaja means splash of light or ray. Sometimes it is also associated with the myth of selimbur (emission) of light that occured in Seguntang hill while welcoming the arrival of Iskandar Zulkarnain’s

(12)

Vol. 3, No. 2, Desember 2013

grandchildren. The event of emission of light became one of the authentication symbols as well as the painting on the origin of Moslem kings in three Malay lands (Palembang, Singapore and Malacca). In addition to the myth of the Seguntang hill, it was also related to the folklore of the Panggung island. The folklore is about a princess named The Limbur Cahaya Princess found in the water. So called because she looks radiant.Until now, the truth about the origin of the use of the name Simboer Tjahaja to be the name of a customary system in South Sumatra has not been ascertained (Berlian, 2000:10­11). Apparently, the literal meaning of Simboer Tjahaja is more easily understood as “ray” or “ light “serves as a”

torch that lights the way of life “.

According to an old story, the book Oendang-Oendang Simboer Tjahaja was compiled by Susuhanan Palembang (Queen Sinuhun) around the year 1603, accompanied by Muslim Scholars, Ministers, and attendants. This book of act was effective during the reign of the Sultanate of Palembang until the early period of independence of the Republic of Indonesia (Oendang-Oendang Simboer Tjahaja, copy by the Customs Trustees of South Sumatera, 1991).

In later development, the book was still valid as a guidance for customs and social laws, although there was also reduction in meaning in its use due to the centralization / governance structures homogenization (around the middle and the late 1970s) and the unification of national laws (mid­1960s). Previously, the book was changed by the decree granted by the meetings of the chief of the villages on September 2 to 6, 1927 (Oendang-Oendang Simboer Tjahaja, copy by the Customs Trustees of South Sumatera, 1991).

Oendang-Oendang Simboer Tjahaja consists of five chapters and one additional rule specific to the region of Ogan Ilir. Chapter I is about the tradition of bachelor and marriage. Chapter II is about the rules of the clan.Chapter III is about the rules of the village and farming.

Chapter IV is about the rules of ethnic group.

Chapter V discusses the customary law.

C. Simboer Tjahaja in the gender Perspective This paper discusses Chapter I which is about the tradition of bachelor and marriage, including the tradition effective in the region of Ogan Komering Ilir (OKI). The subject of the study of Simboer Tjahaja in gender perspective is related to ethics (manners) and the relationship between man and woman, while the material object is Simboer Tjahaja Act as rules and law.

The use of gender meanings here regarding:

1) the concept and social reality which are a product and convention about ability (skill) and the quality of individual, 2) social construction built to lay the proportion of role between man and woman in culture, including sexual relations and everyday behavior, 3) the natural relationship between man and woman with interest in one another in natural pattern and without ethics (normative), and 4) behavior that is always discussed within the scope of dominance culture and male violence and also woman resistance to the violence.

Discussion on manners and gender behavior in Simboer Tjahaja revolves around the discussion on how the customary acts ­ as a cultural system in South Sumatra ­ recognizes the fact of the existence of gender differences and the ethics management. In the manuscript of Simboer Tjahaja, there are parts that regulate the tradition of bachelor and marriage, rules, manners and rules on penalties for the infraction (Berlian, 2000:28). The discussion covers social etiquette, the intricacies of the pre­marriage, the marriage, and so on. The legal relationship between man and woman, opportunities, and sanctions are also presented.

In order to make gender study in Tjahaja Simboer not ambiguous, sexual relation and gender relation should be distinguished first.

Sexual relationship is relationship between man and woman based on biological demand and theory, whereas gender relation is a concept and social reality which is a product of social construction invoving variables of skill and quality of individual. Thus, the concept and manifestation of gender relation are more

(13)

The Law of Fine in Gender Relationships on Traditional Interpretation Oendang-Oendang Simboer Tjahaja Gayung Kasuma

dynamic and flexible by taking the developing psychosocial variable into account (Hidayat, 1999:xviii).

As a value system that meets the interests of its citizens, Simboer Tjahaja maintains and preserves the basic human needs, including sexual needs. Here, in the gender aspect management, the non­physical relationship of man and woman is legal in everyday life.

While relation in a broad sense is legalized and preserved under the institution of marriage alone. A legal marriage according to Simboer Tjahaja is called kawin terang (Berlian, 2000:43).

A Marriage which is not based on kawin terang or known as violence or sexual abuse is set in the articles of Simboer Tjahaja manuscript.

Chapter I of Simboer Tjahaja consists of 32 articles that regulate the tradition of bachelor and marriage, as in below example:

Article 18 reads (according to the original text): Should a man brush against a woman’s hand or called rangda “naro gawe”, he is subject to 2 ringgit fine if the woman reports it to a hearing and 1 ringgit goes to her, called ‘tekap malu’ and 1 ringgit goes to the hearing. In this rule, it is interpreted that a man who intendedly touches the hand of a woman or widow will be fined if she reports it to the customary meeting.

Article 19 reads: Should a man hold woman’s arm or called rangda “menanting gawe”, he is subject to 4 ringgit fine if the woman reports it to a hearing and 2 ringgits goes to her called “tekap malu” and 2 ringgits goes to the hearing. The purpose of this rule is a worse punishment than the article 18 above. Subject is not only touching, but there is an intention or he intends to abuse. This article is stricter than article 18 regarding the fine specified.

Article 20 reads: Should a man hold a woman above her elbow or called rangda “meragang gawe”, he is subject to 6 ringgit fine if the woman reports it to hearing and 3 ringgit goes to her as “tekap malu”

and 3 ringgit goes to the hearing. Here, the fine is even more than previous cases because a man intendedly touches a woman from her elbow to the shoulder.

Article 21 reads: Should a man hold a woman or rangda then he hugs her called “meragang gawe”, he is subject to12 ringgit fine if the woman reports it to a hearing and 6 ringgit goes to the woman as

“tekap malu” and 6 ringgit goes to the hearing.

In this level, greater fine is applied as a man does not only hold / touch a woman, but also embraces her.

Article 22 reads: Should a single man catch a girl or grabs her clothes which does not please her, called “nangkap rimau”, he is subject to 12 ringgit fine and another 8 ringgit fine goes to the girl, the 12 ringgit fine goes to the hearing at which the case is administered. In this article, it is explained that a man holding a woman or grabbing her cloth (sarong) or shawl intendedly, he will be fined 12 ringgit which goes to the hearing committee and another 8 ringgit which goes to the victim.

Article 23 reads: Should a man hold another man’s wife or her husband reports it to a hearing, he is sibject to 12 ringgit fine. This fine goes to the judge and the hearing as stated on article 21.

In this article, it is explained that a man who intendedly holds another man’s wife, he is subject to 12 ringgit fine. 6 ringgit goes to the victim and the remaining 6 ringgit goes to the hearing which holds the case

Article 24 reads: should a man’s wife cheat and her husband report it to a hearing; the wife is subject to a sentence only and the man is subject to a penalty of a buffalo which goes to the husband as well as a 12 ringgit fine which goes to the hearing.

This article implies that if a woman commits adultery, then the man whom she committs with is subject to a penalty of one buffalo to be submitted to the husband of the woman. In addition, the man is also subject to 12 ringgit fine to pay for the trial.

Article 25 reads: Should a man take another man’s wife with him, he is subject to 40 ringgit fine which goes to the husband and another 24 ringgit which goes to the hearing. Should a man takes a widow with him whereas she is still in her three month eleven day idah period or called rangda where the husband has died for not more than four

(14)

Vol. 3, No. 2, Desember 2013

months and ten days, he is subject to 12 ringgit fine, 6 ringgit goes to the husband. The purpose of this article is that if a man takes another man’s wife, he will be fined 40 ringgit to be submitted to the victim’s husband and an additional 24 ringgit fine to be submitted to the hearing in which the case is held. Meanwhile, if a man takes a widow with him ­ either a widow due to a divorce or a passed away husband ­ who is still in her idah period, he will be fined 12 ringgit. Six ringgit goes to the widow’s former husband or his heir and 6 ringgit goes to the hearing.

Article 32 reads: Should a single woman take a walk and a bachelor grab a flower from her head called “lang menarup buaja”, the bachelor is subject to 2 ringgit fine. This article implies that a man who intendedly seizes or takes the flower ornaments from a single woman’s head (called eagle manarap crocodile) will be fined 2 ringgit.

A very severe sexual harassment case is known as illicit1. Article 27 states: Should an illicit take place in a village, the case must not be administered by Pasirah, but it ought to be administered in a great hearing and subject to king’s punishment. The penalty for a major illicit is a buffalo to cleanse the village whereas the penalty for minor illicit is a goat i.e. with coconut rice and other sufficient charity. In this case, it is determined that the offender must pay a fine for charity and for the purpose of cleansing the poor image attached to the village since the incident.

The rules in Simboer Tjahaja articles above, especially Simboer Tjahaja additional rules, are still effective in the district of Ogan Komering Ilir (OKI) and its surrounding Muslim majority.

For example, in the sub­district of Tulung Selapan, district of Ogan Komering Ilir (OKI), the norm is still effective until today, although it begins to fade due to modernization and the influence of foreign cultures as well as urban

1 Minor illicit is when a father in law has sexual intercourse with his daughter in law or when a son in law has sexual intercourse with his mother in law. Major illicit is when a father has sexual intercourse with his daughter or when a son has sexual intercourse with his own mother or when a

culture. In other words, this tradition of fine is still rooted for rural communities that are far from the downtown. The amount of fine is adjusted to current currency. In the past, the fine was in ringgit, as 1 ringgit = Rp. 1 or equal to 1 gold rate (1 gold rate = 6.7 gram). As for today, the nominal is calculated by money based on gold prices on the market. In certain cases, in the past, the fine imposed was not only in form of money, but also added with other objects, including cattles such as buffalo and culinary need such as bekasam2.

Indeed, sexual harassment or sexual violence cases above may be said to be crime on accusation with civil penalty. If no one reports or feel aggrieved on a case of sexual intercourse between a man and a woman, it is considered consensual. However, commonly community would punish them by attaching a bad image to both actors.

If the accusation of a case turns out to be counterfeit, Simboer Tjahaja has also included its sanctions rules. Settlement of various cases is conducted through an institution that reaches down to the village community so that the possiblity of the cases to be hushed up is very small.

D. Simboer Tjahaja: reflection of local Wisdom

According to Aberle, et al., “Identity and continuity of a society are integratedly contained within the rigidity of the action system of the actors and the actors themselves”

so that any structural change in the culture would be a signal of a death of a society (Kaplan and Albert A. Manners, 1999:88) For Peursen, culture is a precipitate of human’s activities and works, then Simboer Tjahaja was one of man’s works which precipitates and becomes customary element of the community in South Sumatra (Puersen, 1988:9).

2 Side dish preserved with acid process

2 Minor illicit is when a father in law has sexual intercourse with his daughter in law or when a son in law has sexual intercourse with his mother in law. Major illicit is when a father has sexual intercourse with his daughter or when a son has sexual intercourse with his own mother or when a brother has sexual intercourse with his sister.

3 Side dish preserved with acid process

(15)

The Law of Fine in Gender Relationships on Traditional Interpretation Oendang-Oendang Simboer Tjahaja Gayung Kasuma

As a customary source, Simboer Tjahaja has colored the character of the community in South Sumatra which are Muslim majority.

Oendang-Oendang Simboer Tjahaja is the oldest act applied in South Sumatra. Values contained in it are the result of dialogues with the needs of the community. This act was written in local letters and language known as Surat Ulu.

The formulation of the Simboer Tjahaja manuscript in 1927, for example, showed the dialectical process. In the preface to the Simboer Tjahaja manuscript, it is said that the manuscript was a formulation resulted from the deliberations of clan chiefs within the residency of Palembang. It contains the rules that protect people’s life aspects such as rules and composition of the government characters, sexual ethics that surrounds the rules of bachelor­single woman relationship, the procession of pre­marital and marriage.

The text of Simboer Tjahaja manuscript was written in local Malay language3.

In the 18th century, Queen Sinuhun4

­a smart jurist­ compiled and unified the language of Simboer Tjahaja. Furthermore, the leaders of the villages periodically conducted meetings to discuss improvements on the act.

In formulating the improvements, they had a fairly strong independence. In fact, the pressure from the colonial to adjust Simboer Tjahaja to Inlaandsche Gemente Buiten-Westen Ordinance was not able to persuade (Berlian, 1994:5).

Breakdown of law contained in the manuscript or the book Oendang Oendang Simboer Tjahaja describes individual and collective juridical sense. Sexual ethics rules, for example, reflect the respect for individual rights of women. Due to its long standing application, the public awareness towards the laws and mechanisms of traditional institutions became ingrained in daily life. In

3 Almost entire words in the manuscript are comprehendable to anyone because it has been translated into Bahasa Indonesia. However, the orthography still uses vocal and consonant of old Bahasa Indonesia (before EYD). Previously, the manuscript was written in Malay. The masuscript is quite special, for it was published in 1927, a year after the trigger of Sumpah Pemuda in 1928 which declared Bahasa Indonesia as a unitary language.

a broader aspect of life, this fact has indeed become a local cultural character and cultural capital for the development of people living in South Sumatra.

e. interpretation of changes in Simboer Tjahaja

As well as any rules, laws, customs, or norms, Simboer Tjahaja is a representation, expression, and text. As an expression of norms, Simboer Tjahaja did not incidentally emerge, but it was built by a certain structure in society. According to Bruner, there are three components that are inherent in human life namely reality, experience and expression (Bruner, 1986:6). Reality is “thing that is really going on out there, whatever it is “, while experience is “how reality presents itself in consciousness” and expression is

“how individual experience is structured and articulated”. The three components in individual’s life history are referred to as “life as lived”,”life as experience”, and “life as told”.

Based on Bruner’s view, Simboer Tjahaja is actual reality, which has existed for hundreds of years. Therefore, the application of Simboer Tjahaja provides life experience for South Sumatra community. As an expression, it is undeniable that Simboer Tjahaja is an expression of social behavior.

According to Geertz, in order to understand the culture of a society, it is necessary to look at reality from the perspective of the perpetrators.

This method is often referred to as verstehen or technically referred to as “epistemic analysis”.

A researcher, according to Geertz, must begin with the interpretations of what the informants deliver or the thought on what the cultural perpetrators deliver (Geertz, 1992:18). Geertz concluded that the system of

4 Almost entire words in the manuscript are comprehendable to anyone because it has been translated into Bahasa Indonesia. However, the orthography still uses vocal and consonant of old Bahasa Indonesia (before EYD).

Previously, the manuscript was written in Malay. The masuscript is quite special, for it was published in 1927, a year after the trigger of Sumpah Pemuda in 1928 which declared Bahasa Indonesia as a unitary language.

5 Peeress of Prince Sindang Kinayan titled Queen Sinuhun and was considered as the founding mother of act for the people called Simboer Tjahaja.

(16)

Vol. 3, No. 2, Desember 2013

symbols available in the general life of a society actually demonstrated how the people view, feel, and think about their world or act based on the values espoused. To Geertz, culture is something that is contextual and semiotic and related to symbols available in public, and known by the society concerned. The meaning of the symbols need to be interpreted and shared to the public and the subsequent generation (Susanto SJ., In Geertz:1992:vi­

vii). The symbol system is, 1) the relationship between social structures in the community with the organization and implementation of the symbols, and 2) how members of the community implement the integration and disintegration by organizing and realizing its symbols. Therefore, the apparent differences between the social structures that exist in the community are complementary (Suparlan in Geertz, 1989:vii).

Starting from Geertz’s framework above, the existence of Simboer Tjahaja is part of law and cultural meanings associated with the behavior of the community. According Berkhofer, behavior is an implication of the concept of culture which is also used as an analysis in history. Behavior contains context related to the culture in use. Here, a document can be used as a material for analysis to make assumptions. So far, interpretation is often very abstract and interpreted as the result or something that can be revealed later (Berkhofer, 1969:146). In addition to interpretation, there is hermeneutics method which assimilates the dialectic between the general to the individual, determines the relation of object with experience, and takes expression into account as a medium of “normal” things. Thus, an understanding is engaged to a situation where there are at least two subjects communicating in a language that allows them to share valid symbols individually (Howard, 2000:38).

Geertz’s way to interpret a culture is not very detailed and strong regarding ethnography, yet it is very global. This global overview allows Geertz to see cultural phenomenon which is always related to many things; substantially

similar to multidemensional approach in history.

Through the concept of hermeneutics, Geertz sees phenomenon as a text, then the gender behavior in Chapter I and additional rules of Simboer Tjahaja already had a normative meaning and structure. Here, a woman quite has bargaining power against abusive behavior.

Sexual harassment/violence becomes an act that violates the norms of customary law and moral violations. Therefore, the perpetrator is fined and sanctioned by the traditional institutions and the victim gets the right over the fine. The normative meaning can be seen from the sanctions, while the meaning of the structure refers to the phenomenon of the relationship between man and woman in a community. Finally, Simboer Tjahaja legitimizes the cultural behaviour of South Sumatra community without being linked to its validity period. This suggests that ­ although it is vague

­ Simboer Tjahaja inherited from the past still has influence in the contemporary life of South Sumetera community.

Simboer Tjahaja underwent meaning constriction along with political and power hegemony changes. By the time of independence of Indonesia or the Japanese occupation period, the system of Simboer Tjahaja was not much changed. At the time of independence of Indonesia (in 1951), a transition of government system took place as well as some changes on Simboer Tjahaja as a legal system. However, through the Decree of South Sumatra Governor No. Gb/53/1951 (May 9, 1951), Simboer Tjahaja was still systematically recognized to be effective. Significant changes actually occurred in the 1960s as the national legal unification was being intensively carried out by the Central Government. Due to the unification, the legal power of Simboer Tjahaja formally subsided.

Institutions that overshadowed Simboer Tjahaja were clan and village which were disbanded in 1983, following the issuance of Act no. 5/1979 on Village Government, and the properties of the clan such as river, valley, and lebung were transferred to the district government (Berlian,

(17)

The Law of Fine in Gender Relationships on Traditional Interpretation Oendang-Oendang Simboer Tjahaja Gayung Kasuma

2000:16). This is the starting point of the cultural changes or the local cultural changes of the people of South Sumatra from originally autonomous into dependent. Social and cultural transformation brought by the legal spirit of the book Simboer Tjahaja was fading, though it was still like unflagging light.

Along with Geertz’s thinking on above matters, it is concluded that: “one of the most things that everyone knows but no one can quite thinks how to demonstrate is that a country’s politics reflect the design of its culture.” (Geertz, 1972:319). So, it is still difficult to prove that the state’s political reflects a perfect cultural design, both in terms of locality as well as a universal institution.

Until today, Oendang-oendang Simboer Tjahaja has been ups and downs in legalistic defining, but it is still often referred to as conflict resolution media, particularly with respect to gender issues and disputes in social interaction. At least, the existence of Simboer Tjahaja is still felt in some areas of the district of Ogan Komereng Ilir (OKI) as in the sub­

district of Tulung Selapan and surroundings.

F. Conclusion

The application of Simboer Tjahaja is held by various circumstances, types of action, and a range of values. Its each article contains suggestions and the scope of rights and obli­

gations for both individual and collective. This suggests that the reaction and anticipation of traditional institutions are very serious in a effort of protection toward human and the environment. The protection transformed into social and cultural capitals that elevate human potential of each person in South Sumatra. Enforcement of social manners and gender through Simboer Tjahaja was precisely embodied or institutionalized in the form of human security (human protection collectively).Not only individuals who act as a controller, but also the society at large, in addition to customs officials who are assigned.

The attitude of human security appears logical

because each person is given the discretion to keep their rights not to be violated by others.

The ceremony of village cleansing, for example, is an attempt to clean an area of cosmologic threat. Meanwhile, the fine imposed in any sanctions are intended as tekap malu or to cover up embarrassment. Shame is a psychological expression that arises from the perception of existence and the blame for social ethics. Regarding this matter, transcendently a woman has her own existence which results in a number of rights. Woman’s rights must not be contested by anyone, especially the opposite sex. Violations of these rights will result in damage to the transcendent order which will then bring shame. Spirit of protection toward woman contained in Simboer Tjahaja proves that the social reach is far away into the future.

Interesting thing for further study is regarding social setting when the book Simboer Tjahaja was a norm of customary law. It means that there was indication that prior to or at that time, a lot of sexual violence and abuse in the lives of the community of South Sumatra took place. Moreover, the book was conceived and hardfought by the peeress of Prince Sindang Kinayan (1629­1936) titled the Queen Sinuhun of Palembang Sultanate. Queen Sinuhun regarded as the founding mother of Oendang- oendang Simboer Tjahaja. So, in terms of gender relations, there was actually commitments and a clear social role of the “state” (empire) in terms of the protection of woman’s rights, although it was still considered elitist because it was triggered by a noble woman. Gender struggles by Queen Sinuhun is the most important part of the whole socio cultural gender implications in South Sumatra, which is similar to the issue of woman’s struggles today. It appears that the Simboer Tjahaja manuscript is an answer or a concrete reaction to the social reality in the lives of South Sumatra community, which also binds all people without exception. However, not all that long legacy should be swallown because there is also a need to remove, in addition to alternative values that can be used as capital change and social transformation.

Gambar

Tabel 1: Sebaran Pulau­Pulau Kecil pada Kawasan Perbatasan Laut
Tabel di bawah menunjukkan ketimpang­

Referensi

Dokumen terkait

Surat Setoran Pajak untuk pembayaran Pajak Pertambahan Nilai atas Surat Setoran Pajak untuk pembayaran Pajak Pertambahan Nilai atas pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud

Model hubungan variabel penelitian Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini berdasarkan konsep teori yang digunakan adalah : H1 : Information quality pada sistem

Dalam percobaan ketiga Radar mendeteksi 1 objek, tetapi dikarnakan objek didepan lebih kecil maka pendeteksian jarak terlihat berbeda pada sudut 129⁰ - 142⁰ radar.. 4)

Oleh sebab itu, peran guru dalam mengembengkan multimedia pembejaran berbasis video sangatlah membantu pesrta didik karena semua kegiatan belajar mengajar

Nilai parameter hasil perhitungan evaluasi dan optimasi penggunaan aerated drilling pada trayek 17 ½”, 12 ¼”, dan 9 5/8” menunjukkan kecepatan alir fluida di annulus (Vann)

Proses kreatifitas dan inovasi dalam tahap ini dapat diperoleh dari ilmu pengetahuan dasar (basic knowledge), pengalaman/ experiences, informasi-informasi terbaru dsb.

TAHUN AJARAN 2016/2017 TAHUN AJARAN 2016/2017 RPPH TK SEMESTER I (GASAL) RPPH TK SEMESTER I (GASAL) TK B (USIA 5-6 TAHUN) TK B (USIA 5-6 TAHUN) MINGGU KEDELAPAN MINGGU KEDELAPAN.

Untuk mengetahui Sistem Pengendalian Internal yang diterapkan meliputi keempat aspek Pengendalian Pervasif yakni, Rencana Pengendalian Kepegawaian, Rencana Pengendalian