TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Teknik Kultur in Vitro
2.5.1 Plant Preservative Mixture
Plant Preservative Mixture (PPM) merupakan preservative atau biosida spektrum luas yang sangat efektif untuk mencegah atau menurunkan tingkat kontaminasi mikroba pada kultur jaringan. Penggunaan PPM dengan dosis yang optimum sangat efektif dan tidak mempengaruhi vitro germination, proliferasi kalus dan regenerasi kalus. Kandungan zat aktif yang terkandung dalam PPM
terdiri dari 5-Chloro-2 methyl-3-(CH)-isothiazolone 0,1350 % dan 2-methyl-3(H)- isothiazolone 0,0412% dan komposisi lain 99,82338% (Syatria 2010).
Pada umumnya rentang dosis PPM yang disarankan yaitu 0,05%-0,2% untuk kontaminasi endogen sedangkan untuk proliferasi kalus, organogenesis dan embriogenesis yaitu 0,5%-0,75%. Selain itu, penggunaan dosis PPM yang sering digunakan yaitu 0,5 ml/liter atau menurut rekomendasi dari pabrik dengan dosis 1 ml sampai 2 ml/liter media. Cara pemakaian PPM yaitu dengan menambahkan langsung pada saat pembuatan media ketika media sudah ditambahkan dengan agar dan dimasak hingga mendidih lalu ditambahkan hormon yang dikehendaki selanjutnya ditambahkan dengan PPM lalu diukur pH media dan dimasukan kedalam botol-botol (Syatria 2010). Dosis penggunaan PPM yang baik yakni 0,5 ml/liter media atau rekomendasi dari pabrik penggunaan PPM yang baik yaitu antara 1 sampai 2 ml/liter media.
Pembuatan PPM ini dirancang untuk menghambat kontaminasi yang berasal dari udara, air, dan yang melalui kontak dengan manusia serta kontaminasi yang berasal dari dalam tumbuhan itu sendiri. Bahan aktif yang ada dalam PPM inipun dapat menghambat tumbuhnya jamur atau menembus dinding sel bakteri dan menghambat aktivitas enzim kunci dalam siklus metabolisme sentral seperti siklus asam sitrat dan transpor elektron. Selain itu juga dapat menghambat proses pengangkutan monosakarida dan asam amino dari medium ke dalam sel bakteri atau jamur. Adapun kelebihan penggunaan PPM daripada antibiotika lain yakni : 1. PPM dapat digunakan secara luas dan efektif untuk menghambat tumbuhnya
jamur
2. PPM lebih murah dibandingkan dengan antibiotika sehingga lebih terjangkau jika akan digunakan dalam jumlah yang besar dan rutin
3. Sasaran PPM yaitu menghambat beberapa jenis enzim, akan tetapi untuk pembentukan mutan resisten tidak efektif.
4. PPM memiliki sifat tahan panas yang stabil dan dapat diautoclave dengan media
2.5.2 Propolis
Propolis berasal dari bahasa Yunani yaitu Pro = sebelum dan Polis = sistem pertahanan kota. Propolis adalah bahan perekat atau dempul yang bersifat resin yang dikumpulkan oleh lebah pekerja dari kuncup, kulit tumbuhan atau bagian-bagian lain dari tumbuhan (Gojmerac 1983). Woo (2004) diacu dalam Saputra (2009) menyatakan bahwa propolis berwarna kuning hingga coklat tua, ataupun transparan tergantung kandungan flavonoidnya. Umumnya propolis akan meleleh pada suhu 60-690C dan beberapa sampel mempunyai titik leleh diatas 1000C. Pada suhu dibawah 150C propolis keras dan rapuh, namun akan kembali lengket pada suhu 25-450C.
Menurut Gojmerac (1983) kandungan senyawa yang terdapat pada propolis yaitu bahan campuran campuran kompleks malam, resin, balsam, minyak dan sedikit polen. Sedangkan menurut Khismatullina (2005) diacu dalam Saputra (2009) propolis mengandung senyawa resin, lilin, minyak esensial, polen, senyawa organik dan mineral, sebagaimana tersaji pada Tabel 2.
Tabel 2 Komposisi propolis
Kelas Senyawa Golongan Senyawa Jumlah
Resin Flavonoid, asam aromatik, dan esternya 50%
Lilin Asam lemak dan esternya 30%
Minyak esensial Volatil 10%
Polen Protein dan asam amino bebas 5%
Senyawa organik dan mineral Mineral, lakton, quinon, steroid, vitamin, dan gula
5% Sumber : Khismatullina (2005) diacu dalam Saputra (2009)
Selain itu, unsur aktif yang terkandung dalam propolis antara lain flavonoid (flavon, flavonol, flavonon), senyawa fenolat, serta senyawa aromatik. Senyawa flavonoid yang ada yaitu flavonol (galangin, kaemferol, quersetin), flavonon (pinocembrin dan pinsobrin), serta flavon (chrysin, acacetin, apigenin, ermanin). Adapun senyawa fenolat yang ada antara lain hidroksisimat, asam sinamat, vanilin, benzil alkohol, asam benzoat, kafeat, kumarat, serta asam ferulat. Menurut Winingsih (2004) diacu dalam Suseno (2009) zat aktif yang diketahui bersifat antibiotika adalah asam ferulat yang efektif terhadap bakteri gram positif dan negatif. Komposisi kimia propolis sangat kompleks dan tergantung vegetasi lingkungan tempat pengumpulannya. Untuk aktivitas biologis propolis dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Aktivitas biologis komponen propolis
No Jenis aktivitas Senyawa
1 Antibakteri Prenylated p-coumaric acids
Lignans Diterpenic acids
2 Sitotoksik Flavonoid
Prenylated p-coumaric acids Lignans
Diterpenics acid
3 Imunomodulasi Caffeoulquinic acids
4 Antihepatotoksik Caffeoulquinic acids
Sumber : Bankova et al. (2000) diacu dalam Saputra (2009)
Propolis digunakan untuk mensterilkan sarang lebah dari bakteri, jamur, dan virus, dimanfaatkan oleh lebah pekerja untuk melapisi bagian dalam rongga sarang dan mengurangi pintu masuk sarang yang bertujuan untuk menggunakan sifat antibakteri dan antifungi propolis sehingga dapat melindungi koloninya dari serangan penyakit (Adiprabowo 2008) digunakan untuk mengisi celah dan retakan serta menghaluskan permukaan yang kasar pada sarang lebah madu (Gojmerac 1983). Anggraini (2006) menyatakan bahwa beberapa bakteri gram positif yang mampu dihambat oleh propolis adalah Bacillus subtilis dan Staphylococcus aureus. Sedangkan untuk bakteri gram negatif yang efektif dihambat oleh propolis yakni Escherichia coli dan Pseudomonas aeuriginosa (Anggraini 2006), Klebsiella sp., Salmonela sp., Campylobacter sp. (Tukan 2008 diacu dalam Abidin 2010) dan Enterobacter sakazakii (Fitriannur 2009). Abidin (2010) juga menyatakan bahwa senyawa aktif yang terdapat pada propolis mampu menghambat pertumbuhan bakteri Lactobacillus bulgaricus.
Propolis yang berasal dari sarang lebah madu (Trigona spp) merupakan propolis yang sangat berpotensi sebagai antibakteri alami (Adiprabowo 2008) Kelebihan propolis sebagai antibiotika alami dibandingkan dengan bahan sintetik yaitu lebih aman serta dengan efek samping yang relatif kecil. Propolis bekerja melawan bakteri berbahaya tanpa membinasakan bakteri yang dibutuhkan oleh manusia karena propolis memiliki daya selektivitas yang tinggi sebagai antibiotika (Winingsih 2004 diacu dalam Saputra 2009). Propolis juga telah terbukti efektif untuk melawan strain bakteri yang tahan terhadap antibakteri sintetik (Drapper’s Super Bee Apiaries 2007 diacu dalam Adiprabowo 2008). Adapun senyawa aktif yang memberikan efek antibakteri di dalam propolis adalah pinocembrin, galangin, asam kafeat, dan asam ferulat. Senyawa
antifunginya adalah pinocembrin, pinobaksin, asam kafeat. Benzil ester, sakuranetin dan pterostilbena. Senyawa antiviralnya yakni asam kafeat, lutseolin, dan quersetin (Winingsih 2004 diacu dalam Suseno 2009).
Menurut Abidin (2010) meskipun propolis memiliki manfaat kesehatan sebagai antibakteri, namun propolis pada konsentrasi tertentu memiliki peranan simbiotik terhadap beberapa spesies bakteri probiotik. Berdasarkan hasil penelitian Abidin (2010) diketahui bahwa pada konsentrasi 0,6% propolis mampu menstimulasi pertumbuhan bakteri Lactobacillus casei subsp. Rhamnosus dan aktivitas bakteri Streptococcus thermophillus yaitu dengan menstimulasi produksi asam laktat.