• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.7 Plasma Kaya Trombosit (PKT)

Panjang gelombang dari UV yang paling efektif menyebabkan eritema yaitu 250-290 nm dan semakin berkurang efek eritemanya seiring dengan bertambahnya panjang gelombang. Pada pajanan sinar UVB tunggal dengan dosis suberitema, gejala eritema berangsur berkurang dalam waktu 24 jam. Pada pajanan berulang akan terjadi efek kumulatif dan terjadilah eritema. Gejala eritema setelah paparan sinar UVB akan terjadi kemudian dalam waktu 3- 5 jam dan maksimal pada 12-24 jam kemudian, dan berkurang dalam 72 jam. Sebelum terjadi eritema maka akan terjadi vasodilatasi pembuluh darah. Secara histopatologis pada studi dengan potongan kulit 1 µm yang disinari UVB tunggal dengan dosis 3 MED terjadi kerusakan sel keratinosit pada 30 menit setelah paparan, dan paling jelas pada 24jam kemudian. Setelah 72 jam sel keratinosit yang rusak berubah menjadi parakeratotik dan pembesaran sel endotel terjadi setelah 30 menit sampai maksimal 24 jam setelahnya (Gilchrest dan Krutmann, 2006). Pada Penelitian di Jogja oleh Noor, 2008 terbukti dengan penyinaran UVB 300 mJ/cm2 selama 5 menit pada kultur fibroblas terjadi kerusakan DNA sel berupa cyclobutane pyrimidine dimer (Noor, 2008).

2.7 Plasma Kaya Trombosit (PKT)

Penggunaan bahan dari darah sebagai pengobatan luka sangat berkembang di bidang bedah. Dua bahan yang sangat berkembang dan banyak dipakai sebagai pengobatan dengan bahan dasar darah adalah fibrin tissue adhesive (FTA) atau

yang dikenal dengan fibrin glue dan platelet rich plasma (PRP) atau plasma kaya trombosit (PKT) (Greene et al. 2009).

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang manfaat PKT maka harus dipahami tentang respon tubuh terhadap luka yang terdiri dari 3 fase yaitu inflamasi, proliferasi dan remodeling. Fase inflamasi yang didahului dengan agregasi trombosit sehingga terjadi hemostasis. Selain itu trombosit juga mengeluarkan thromboxane dan serotonin yang merangsang hemostasis dengan vasokonstriksi.

Selain itu trombosit juga mengeluarkan histamin yang merangsang polymorphonuclear (PMN) dan monosit ke tempat luka. Selanjutnya kemotaktik dari growth factor akan merekrut sel endotel untuk membuat pembuluh darah baru (angiogenesis), juga fibroblas terangsang untuk membentuk matriks ekstraseluler sehingga luka akan cepat menutup (Greene et al., 2009)

Bermacam sitokin dan growth factor berpengaruh terhadap penyembuhan dan maturasi dari luka. Sitokin berperan dalam perekrutan sel untuk proliferasi dan diferensiasi. Growth factor yang berasal dari trombosit atau PDGF keluar dari alfa granul dan berfungsi dalam rekrutmen dan aktivasi sel immun dan fibroblas.

Contoh produk yang telah dipakai dan disetujui oleh FDA yaitu bentuk isomer rantai β dari PDGF (PDGF-BB) yang secara klinis terbukti mempercepat penyembuhan, termasuk pada luka kronis diabetic neuropathy. Selain itu trombosit juga mengeluarkan TGF-β, yang merangsang maturasi fibroblas, migrasi, dan sintesis matriks ekstraseluler. Sedangkan growth factor lainnya yaitu EGF, dan VEGF dikeluarkan oleh fibroblas, sel endotel, dan sel immun untuk

menambah percepatan penyembuhan luka. PKT bisa didefinisikan sebagai plasma darah yang mengandung 1,000,000 trombosit/microliter dengan volume 5 ml plasma (Greene et al., 2009). Secara luas PKT diketahui mengandung 7 macam growth factor yaitu: PDGF-AA, PDGF-BB, PDGF-AB, TGF-β1, TGF-β2, VEGF, EGF. Kadar growth factor in-vivo tetap terjaga setelah dilakukan pembuatan PKT.

Konsentrasi trombosit dalam PKT dapat meningkat delapan kali dari kadar trombosit di dalam darah sehingga kadar growth factor di dalam PKT juga meningkat delapan kali kecuali IGF-1. Selama proses pengambilan atau pembuatannya tidak terjadi aktivasi dari trombosit (Greene et al. 2009). PKT juga disebutkan sebagai volume plasma darah autologus yang mengandung trombosit 4x nilai normal yaitu 200,000/µl. Namun belum diketahui apakah dengan peningkatan konsentrasi trombosit akan menghasilkan efek yang lebih baik (Sampson et al. 2008). Kontraindikasi dari terapi ini adalah kelainan fungsi trombosit, trombositopenia, pasien dengan ketidakstabilan hemodinamik serta kehamilan (Budiyanto, 2009).

2.7.1 Pembuatan PKT

Beberapa cara pembuatan dan proses pengambilan PKT ini sudah banyak beredar seperti SmartPrep Autologous Platelet Concentrate system (Harvest Technologies Corp) dan Magellan Autologous Separator (Medtronic Inc, Minneapolis ).

Dengan alat-alat sederhana tersebut dapat dihasilkan sepuluh persen PKT dari total darah yang diambil, yaitu berkisar dari 20 sampai 120cc (Greene et al.

2009). Namun beberapa cara konvensional dengan bantuan alat sentrifugasi dapat menghasilkan jumlah konsentrasi trombosit yang kurang lebih sama. Salah satu cara yang telah disetujui oleh FDA adalah dengan pemutaran 3200 rpm selama 15 menit dengan jumlah darah vena sebanyak 30-60 cc setelah itu plasma rendah trombosit atau supernatant bagian paling atas disedot keluar dengan spuit, lalu sisanya adalah PKT dan sel darah merah. Kemudian PKT dikocok sebanyak 30 kali, dapat dengan bantuan vortex atau resuspensi berulang. Pada akhir proses akan didapatkan jumlah PKT sebanyak 3-6 cc (Sampson et al. 2008). Cara lain juga banyak dilakukan antara lain dengan cara pengambilan darah vena sesuai kebutuhan lalu ditambahkan asam sitrat dekstrose sebanyak 10%, lalu dipusing dengan kecepatan 1100g selama 10 menit, kemudian dipisahkan antara plasma rendah trombosit yaitu sepertiga bagian atas lapisan plasma lalu dikeluarkan ke tabung terpisah untuk tidak dicampurkan ke dalam PKT. Sisa plasma (2/3 bagian bawah plasma) masukkan ke dalam tabung steril tanpa koagulan kemudian dipusing lagi dengan 2000rpm selama 2 menit atau dengan cara ultra pulse dengan bantuan vortex untuk mengaktifkan α granule (Yulianto, 2010).

2.7.2 Trombosit

Trombosit merupakan salah satu komponen darah tepi yang berbentuk diskoid tanpa inti dan berperan dalam berbagai proses hemostasis dan pertahanan alami manusia. Trombosit mempunyai karakter berbentuk bulat, berdiameter 2-4 µM, tidak mempunyai nukleus tetapi memiliki banyak vesikel dan granula. Kadar

normal trombosit 150.000 - 400.000 sel setiap µL darah. Umur trombosit dalam darah adalah 5-9 hari. Dalam trombosit dijumpai berbagai granula seperti:

granula-α, granula padat, dan granula lisosomal. Granula-α merupakan granula yang terbanyak, berkisar 50-80 granula per butir trombosit dan menyusun 10 % dari volume platelet. Riset proteomik menunjukan bahwa granula-α melepaskan ratusan protein yang diduga berperan penting pada proses penjendalan darah, penyembuhan luka, peradangan, atherosklerosis, antimikrobial, angiogenesis, dan malignansi (Blair dan Flaumenhaft, 2009). Protein-protein tersebut dapat diperoleh apabila platelet telah diaktivasi, yaitu antara lain dengan cara penambahan 10% kalsium klorida atau trombin serta adanya kolagen setempat (Wang dan Avila, 2007).

2.7.3 Growth Factor

Trombosit akan mengeluarkan growth factor, menarik dan memberi sinyal kepada stem cell untuk memperbaiki sel yang rusak atau mati. Growth factor adalah substansi yang secara alamiah ada di dalam tubuh kita, dan berguna untuk merangsang pertumbuhan sel baik proliferasi maupun diferensiasi. Biasanya growth factor adalah protein atau hormon steroid. Growth factor sangat penting dalam regulasi proses seluler. Growth factor berperan sebagai sinyal antar sel.

Contohnya sitokin dan hormon yang menempel pada reseptor dari sel target.

Mereka berperan dalam diferensiasi dan maturasi sel yang bervariasi untuk setiap growth factor. Misalnya, bone morphogenic proteins menstimulasi diferensiasi sel tulang, VEGF menstimulasi diferensiasi pembuluh darah (angiogenesis). Growth

factor akan menstimulasi siklus sel dari phase G0 menjadi phase G1. Dalam dunia kedokteran selama 20 tahun belakangan, penggunaan growth factor pada penanganan kelainan darah, kanker dan kardiovaskular sangat meningkat antara lain: neutropenia, sindrom myelodisplastik, leukemia, anemia aplastik, transplantasi sumsum tulang, angiogenesis untuk penyakit kardiovaskular serta penyembuhan luka (Sampson, 2008).

Dokumen terkait