• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN

4.5 PLATFORM PARTAI AMANAT NASIONAL

PAN mempunyai Azas : Ahlak Politik Berlandaskan Agama yang Membawa Rahmat bagi Sekalian Alam.

Identitas : PAN adalah partai politik yang menjadikan agama sebagai landasan moral dan etika berbangsa dan bernegara yang menghargai harkat dan martabat manusia serta kemajemukan dalam memperjuangkan kedaulatan rakyat, keadilan sosial, dan kehidupan bangsa yang lebih baik untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang makmur, maju, mandiri dan bermartabat.

Sifat : PAN adalah partai yang terbuka bagi warga negara Indonesia, laki-laki dan perempuan yang berasal dari berbagai pemikiran, latar belakang etnis maupun agama dan mandiri.

Visi : Terwujudnya PAN sebagai partai politik terdepan dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur, pemerintahan yang baik dan bersih di dalam negara Indonesia yang demokratis dan berdaulat, serta diridhoi Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Misi : Mewujudkan kader yang berkualitas; mewujudkan PAN sebagai partai yang dekat dan membela rakyat, mewujudkan PAN sebagai partai yang modern berdasarkan sistem dan

manajemen yang unggul serta budaya bangsa yang luhur, mewujudkan Indonesia baru yang demokratis, makmur, maju, mandiri dan bermartabat. Mewujudkan tata pemerintahan Indonesia yang baik dan bersih, yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum, serta mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan negara Indonesia yang bersatu, berdaulat, bermartabat, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, serta dihormati dalam pergaulan internasional.

Garis Perjuangan Partai : Partai dan pemenangan pemilu, perkaderan yang handal, partai yang dicintai rakyat, membangun organisasi PAN yang modern.

Filosofi Logo : Matahari putih yang bersinar cerah dilatarbelakangi segi empat warna biru dengan tulisan PAN dibawahnya, merupakan simbolisasi bahwa Partai Amanat Nasional membawa suatu pencerahan baru menuju masa depan Indonesia yang lebih baik.

Makna Logo : Simbol Matahari yang bersinar terang : Matahari merupakan sumber cahaya, sumber kehidupan. Warna putih adalah ekspresi dari kebenaran, keadilan dan semangat

4.6 STRUKTUR ORGANISASI PAN

Dalam rangka melaksanakan tugas partai, disusun jenjang kepengurusan sebagai berikut :

1. Dewan Pimpinan Pusat Partai, disingkat DPP yang meliputi wilayah NKRI.

2. Dewan Pimpinan Wilayah Partai, disingkat DPW yang meliputi wilayah Provinsi.

3. Dewan Pimpinan Daerah Partai, disingkat DPD yang meliputi wilayah Provinsi.

4. Dewan Pimpinan Cabang, disingkat DPC yang meliputi wilayah kabupaten/kota.

5. Dewan Pimpinan Ranting Partai, yang meliputi wilayah

desa/kelurahan dan atau yang setingkat.

4.7 SEJ ARAH BERDIRINYA DPW PAN J AWA TIMUR

Dua bulan setelah deklarasi PAN secara nasional di Jakarta (23 Agustus 1998), dideklarasikan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN Jawa Timur di gelora tambaksari Surabaya yang dihadiri oleh para petinggi Muhammadiyah, tokoh-tokoh lintas budaya dan simpatisan Amien Rais di Jawa Timur. Berikut merupakan susunan pengurus DPW PAN Jawa Timur pada periode 1 sampai sekarang.

Periode 1 (1998-2000), ketuanya adalah Ustadz Abdurrohim, dengan sekretaris bernama Wahyudi dan bendahara bernama Masyfuk.

Periode 2 (2000-2005), ketuanya adalah Sulthon Amin, dengan sekretaris Suyoto dan bendahara bernama Subekti Romli.

Periode 3 (2005-2010), ketuanya adalah Suyoto, dengan sekretaris Sunarnoyo dan bendahara bernama Ismail Sahib.

Periode 4 (2010-2015), ketuanya adalah Suyoto, dengan sekretaris Kuswiyanto dan bendahara bernama Shodiq Nur Hadi.

4.8 SUSUNAN PENGURUS DPW PAN J AWA TIMUR

1. Ketua : Suyoto

2. Wakil Ketua : Suli Da’im

3. Sekretaris : Kuswiyanto

BAB V

ANALISIS TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS LAPORAN DANA KAMPANYE PARTAI POLITIK DITINJ AU DARI SEGI

GOOD GOVERNANCE

(Studi Kasus DPW PAN J AWA TIMUR pa da Pemilu 2009)

5.1 PEMAHAMAN MENGENAI GOOD GOVERNANCE

Bab ini merupakan jawaban dari mini research question mengenai pemahaman dan penerapan Good Governance pada suatu perusahaan maupun organisasi, termasuk Partai Politik. Dalam penelitian ini, penerapan Good Governance sangatlah penting guna menciptakan negara Indonesia yang makmur dan sejahtera. Berikut pemaparan yang dikemukakan oleh mantan anggota DPRD Fraksi PPP di era 1980’an :

“Good Governance itu pelaksanaan pemerintahan yang baik, manajemennya baik, keterbukaannya baik, keadilannya baik, tata laksana pembukuan baik, pokoknya yang baik-baik lah. Di governance itu pada dasarnya adalah melaksanakan pemerintahan dengan sebaik-baiknya. Artinya, bahwa pemerintahan itu berada pada standar kelayakan pemerintahan yang baik, wajahnya ndak bopeng-bopeng”

Demikian juga yang diungkapkan oleh salah satu anggota DPW PAN JATIM tentang petingnya pemahaman mengenai Good Governance selama menjalankan tugas sebagai anggota Partai Politik. Berikut pemaparan yang diungkapkan pria tersebut :

“Good Governance iku istilahe lak pemerintahan yang baik. Jadi antara transparansi dan akuntabilitas itu kan juga termasuk Good Governance”

(Informan Inisial RF)

Dari pemaparan tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa

pemahaman akan Good Governance akan sangat penting apabila dijalankan oleh seluruh pemilik instansi, perusahaan, maupun setiap anggota partai politik. Karena bagaimanapun juga, dengan adanya Good Governance di partai politik, akan tercipta pula secara perlahan Good Governance Di Indonesia. Berikut adalah pendapat seorang staff yang bekerja di sekretariat DPRD Provinsi Jawa Timur :

“Saya rasa Good Governance di Indonesia sudah cukup baik, cuma belum sampai angka 100%. Indonesia masih berusaha dalam mencapai Good Governance”

Dari pemaparan tersebut peneliti menyimpulkan bahwa pemahaman akan Good Governance di partai politik jelas sangat penting untuk kelancaran dan kelangsungan partai guna menciptakan keadilan dan kesejahteraan masyarakat.

Pelaksanaan tata kelola organisasi, terutama partai politik jika dijalankan sebaik-baiknya sesuai dengan prinsip yang berlaku, maka akan tercipta pula suatu partai politik yang tertata dan terorganisir sesuai dengan jabatan anggota masing-masing. Sebagaimana pemaparan berikut ini :

“Kalau di Indonesia, saya rasa Jawa Timur ini Good Governance’nya baik. Karena semua investor di luar negri percaya untuk menanamkan modal usaha di Jawa Timur. Soalnya disini itu kan tingkat kemacetannya beda dengan Jakarta. Pelabuhan Tanjung Perak juga sudah internasional. Dan masyarakat Jawa Timur itu tidak gampang terpengaruh. Itu yang dinilai dari segi Good Governance. Selain itu, Barometer Indonesia letaknya ya di Jawa Timur”

(Informan inisial HR)

Dilihat dari pemaparan inisial HR tersebut, sudah jelas bahwa dengan menanamkan suatu usaha maupun kebijakan yang berkaitan dengan kelangsungan hidup negara, diperlukan adanya suatu tata kelola pemerintahan yang baik. Itu semua akan sangat mudah apabila dijalankan sesuai dengan aturan yang berlaku.

5.2 PENGELOLAAN GOOD GOVERNANCE DI DPW PAN J AWA TIMUR

Bagian ini akan membahas mengenai tata kelola DPW PAN Jawa Timur, apakah sudah sesuai dengan kriteria maupun prinsip-prinsip Good Governance atau belum. Dari sebuah kegiatan yang diungkapkan oleh seorang anggota DPW PAN JATIM mengenai potret kecil dari tata kelola pemerintahan yang baik antara lain :

“Misalkan habis melaksanakan rapat kampanye, kemudian dilaporkan di rapat selanjutnya mengenai hasil pembahasan kampanye. Disana ada laporan dari ketua pelaksana kampanye dan perangkat yang lainnya”

(Informan RF)

Berikut pemaparan oleh sekretaris DPW PAN JATIM :

“Partisipasi itu disini kelebihan, karena mohon maaf, lebih banyak dana partisipasi daripada dana iuran. Lah yo’opo, disini banyak kegiatan. Alhamdulillah banyak partisipan yang mau membantu. Jadi kegiatan ada terus. Contohnya pembangunan gedung PAN ini, tidak ada rencana. Tau-tau ada pengurus yang menawarkan, ya langsung aja digarap. Kalo pake bantuan luar, mungkin gak cukup 200juta. Berhubung ada partisipan, duit 100juta cukup untuk bangun gedung”

Berikut juga disampaikan mengenai partisipasi masyarakat maupun anggota PAN untuk mewujudkan Good Governance :

“Partisipasi itu dari human investmen, contoh paling gampang ya pengobatan gratis, menghutankan kota, dan lain sebagainya. Itu kan semua dibuat tidak mikir profitnya seperti pengusaha lain. Pada dua pemilu yang lalu, PAN menggerakkan tanaman buah dan bagi-bagi bibit mangga gratis pada penduduk, menyediakan sarana produksi padi untuk petani miskin di desa, itu sering dan tidak diukur berapa keuntungannya. Yang jelas ya loosing, karena yang dinilai adalah seberapa besar keikutsertaan anggota untuk bersimpati pada gerakan PAN. Ada juga beasiswa untuk anak anggota yang miskin, jadi kalo tidak ada dana partai, ya disekolahkan sama anggota yang mampu. Itu sarana guna membangun kepemimpinan di PAN. Kemudian rakyat dengan sadar mendukung PAN. Tanpa diobrak-obrak dengan kemauan sendiri mendukung PAN”

(Informan Moeslimin)

Pemaparan tersebut menandakan bahwa seluruh kegiatan di DPW PAN JATIM bisa terlaksana karena adanya partisipan yang dengan sukarela membantu berbagai kegiatan di DPW tanpa adanya perintah dari pimpinan. Partisipan disini, fungsinya adalah membantu program-program yang ada di DPW PAN untuk segera dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan dengan waktu yang tepat pula.

Partisipan yang ikut serta membangun PAN menunjukkan bahwa DPW PAN JATIM sudah melaksanakan Good Governance dengan baik guna menciptakan masyarakat yang makmur dan sejahtera.

Berikut juga disampaikan mengenai beberapa aturan maupun prinsip Good Governance yang dilaksanakan di DPW PAN JATIM :

“Adanya aturan hukum pasti, karena setiap partai politik melaporkan keuangan, lebih-lebih saat pemilu, karena itu diaudit oleh akuntan publik. Sehingga transparan ya, terutama transparan terhadap pengurus”

(Informan Kuswiyanto)

Ada juga pendapat mengenai berbagai lembaga yang menopang PAN di Indonesia seperti negara dan sektor swasta :

“Negara itu tentu sudah ditopang. Karena pemilu yang lalu, PAN masuk 10 besar dan itu diakui. PAN sudah terdaftar secara resmi, sah dan secara hukum sebagai partai di Indonesia yang berhak mengikuti pemilu. Kalo sektor swasta kita lihat, kelompok menengah, keatas dan kebawah itu. Ada yang motivasinya bagus, ada yang motivasinya jelek. Contohnya kontraktor mau bantu, tapi minta proyek. Itu namanya rakus. Oleh karena itu dalam dunia nyata, pasti ada hal seperti itu. Kita ndak bisa menyamakan.

Kalau masyarakat madani ya sedang dibangun, masyarakat madani itu kan masyarakat yang menjalankan pemerintahan dengan syariat islam. Karena pemerintahan islam yang pertama itu di Madinah saat Nabi hijrah kesana”

(Informan Moeslimin)

Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh informan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa dengan adanya aturan hukum yang berlaku untuk seluruh kalangan partai politik dan lembaga yang menopangnya, itu akan sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kredibilitas partai dalam mewujudkan seluruh program yang sudah direncanakan dan akan dilaksanakan, khususnya pada DPW PAN JATIM. Karena bagaimanapun juga, aturan hukum sangat penting untuk menunjang kualitas Good Governance di sebuah organisasi Partai Politik.

Demikian halnya dengan pengaruh efisiensi dan efektifitas program Partai Politik demi menunjang kualitas Good Governance untuk mencapai tujuan Partai yang disampaikan oleh sekretaris DPW PAN JATIM :

“Kita itu harus seefisien mungkin. Bahkan dengan bondo sedikit bisa bangun gedung baru. Semua itu ya harus efisien dan uangnya terukur. Jadi tidak ada program yang tidak jalan. Kalo efektif itu kan sesuai dengan porsinya dalam rangka efektifitas.

Jadi kalau kepala rumah tangga, ya ngurusi rumah tangga. Yang bagian pengkaderan, ya ngurusi pengkaderan. Jadi semua ikut andil dalam menciptakan efektifitas. Partai ini kan punya visi, yaitu bagaimana menciptakan keadilan. Jadi bagaimana PAN itu bisa menciptakan kondisi yang lebih baik. Dan tentunya dengan misi bagimana mewujudkan semua itu agar tercapai. Begini lho, ini unsur negoro. Jadi bagaimana caranya partai itu menciptakan masyarakat madani. Ini tugasnya partai juga untuk mewujudkan itu semua. Karena Undang-Undang juga mengatakan bahwa sumber kekuasaan itu lewat Partai”

(Informan Kuswiyanto)

Hal serupa juga diungkapkan oleh Bapak Moeslimin mengenai tujuan nasional Partai Politik :

“Tujuan nasional belum tercapai, masih diperjuangkan. Untuk mencapai itu kan banyak kendala. Sulit ngukur presentasenya. Yang kita lihat ya bangunan gedung perkantoran PAN sudah bagus. Ambil tujuan yang struktural saja lah. Lah wong bangsa Indonesia itu saja belum bisa menegakkan demokrasi secara maksimal kok. Yang diperjuangkan PAN itu relatif sudah banyak. Seperti mengusung pemberdayaan masyarakat kecil. Seperti pedagang kaki lima, diajarkan bagaimana menjadi pedagang kaki lima yang baik. Semua itu berproses dalam arti yang cukup baik.

Kalau masalah struktur organisasi itu ndak ada yang tersembungi di PAN. Cuma yang beda kan era’nya. Sekarang ini era korupsi berjamaah. Yang dinilai ya mental pengurus. Dan itu butuh sosiologi politik yang handal di PAN”

(Informan Moeslimin)

Berdasarkan kedua pemaparan diatas mengenai efisiensi dan efektifitas yang dikaitkan dengan tujuan nasional DPW PAN JATIM, maka dapat diambil poinnya, yaitu tanpa adanya efisiensi dalam menyusun program serta anggaran untuk kebutuhan Partai, maka mustahil akan adanya efektivitas dan tercapainya tujuan akhir. Karena efisiensi dan efektivitas sangat dibutuhkan guna menciptakan Partai Politik yang jauh dari hujatan publik maupun anggota internal Partai. Dengan adanya efektivitas dan efisiensi penggunaan dana maupun pelaksanaan program kegiatan Partai, otomatis tujuan akan tercapai secara perlahan.

Berikut adalah pendapat sekretaris DPW PAN JATIM mengenai konsensus yang berkaitan dengan tercapainya Good Governance di Partai ini :

“Konsensus itu kesepakatan, kesepakatan PAN itu dihasilkan melalui musyawarah PAN. Nah musyawarah PAN yang berjenjang itu ada kongres. Dibawah kongres ada musyda. Dibawah musyda ada musycab. dibawah musycab ada musyawarah ranting.

Dibawah musyawarah ranting ada musyawarah rayon. Ketika di musyawarah itu membikin kesepakatan-kesepakatan, disitu juga ada rapat harian di setiap akan dan sesudah melaksanakan kegiatan. Yang diundang macam-macam. Ada yang seluruh anggota. Ada yang per sektor. Contohnya permasalahan pemberdayaan perempuan, yang diundang ya anggota bidang pemberdayaan perempuan. Jadi tugas partai itu adalah mewujudkan kesejahteraan. Lewat apa? Lewat penyaluran aspirasi kepada pemerintah. Karena apa? Karena tugas partai itu yang pertama adalah memberikan pencerahan kepada masyarakat. Dua, rekrutmen kader. Yang ketiga mengeluarkan aspirasi, yang keempat menjaring aspirasi dari masyarakat untuk disampaikan kepada pemerintah. Karena partai politik itu golnya ya di masyarakat yang sejahtera”

(Informan Kuswiyanto)

Ada juga pendapat mengenai evaluasi maupun lembaga yang digunakan untuk mengontrol jalannya Partai Politik yang dilaksanakan oleh DPW PAN JATIM :

“Misalnya habis melakukan kampanye, ada rapat di suatu tempat. Kemudian setelah rapat kita laporan, laporan dari ketua pelaksana dan lain sebagainya. Seluruh hasil rapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh peserta dan partisipan”

“Di PAN ini lembaga peradilannya namanya lembaga arbitrase (internal pan). Jadi kalo ada sengketa, ada masalah ya di internal partai yang bersangkutan, itu merujuk pada undang-undang. Arbitrase terletak di kantor pusat PAN, Jakarta. Pan tidak punya dewan ombudsman, karena dewan tersebut punya pemerintah. Tapi yang serupa dengan itu namanya adalah lembaga advokasi. Di PAN ada, di bidang advokasi. Tujuannya untuk membantu para anggota yang terkena sengketa atau masalah”

(Informan Kuswiyanto)

“Misalnya salah satu bidang melakukan kegiatan, itu tetap melaporkan kegiatan kepada ketua dan sekretaris. Karena yang mempunyai wewenang disini adalah ketua dan sekretaris. Jadi kalo ada kegiatan, semuanya tau dan tidak dirahasiakan”

(Informan inisial RF)

Bila dilihat dari seluruh pemaparan informan mengenai pemahaman serta pengelolaan Good Governance di suatu Partai Politik, khususnya DPW PAN JATIM, bahwa dengan adanya program-program maupun tujuan yang dikerahkan Partai guna mewujudkan tata kelola yang baik, akan sangat berarti dan berkualitas apabila dijalankan sesuai dengan aturan dan prinsip yang berlaku di dalam kriteria Good Governance.

Karena bagaimanapun juga, Good Governance tidak hanya berfungsi sebagai alat internal Partai guna menjaring massa sebanyak-banyaknya, namun juga berfungsi untuk menambah kredibilitas Bangsa Indonesia dalam mewujudkan suatu Pemerintahan yang baik yang selalu didukung dan disegani oleh seluruh lapisan masyarakat. Disini, Good Governance yang baik akan menciptakan suatu Pemimpin yang baik dan handal, serta ahli dalam memimpin dan membina rakyatnya untuk segera berproses menuju masyarakat madani yang makmur, adil dan sejahtera. Dalam Good Governance suatu Pemerintahan, masyarakat tidak lagi menaruh pikiran yang buruk mengenai kinerja Pemerintah. Juga tidak akan ada kasus korupsi yang merajalela seperti sekarang ini. Dari berbagai pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa DPW PAN JAWA TIMUR sudah mengelola Partainya sesuai dengan kriteria maupun prinsip-prinsip Good Governance yang berlaku umum di Indonesia.

5.3 PEMAHAMAN LAPORAN KEUANGAN DAN LAPORAN DANA

KAMPANYE PARTAI POLITIK

Di dunia perpolitikan seperti sekarang, pemahaman mengenai laporan keuangan Partai tentu sangat penting untuk diperhatikan, mengingat banyaknya kasus korupsi yang terjadi akibat adanya nafsu money politic yang timbul di Negara Indonesia ini. Laporan keuangan yang disajikan menurut standar yang berlaku akan mempermudah semua kalangan, baik internal maupun eksternal untuk memeriksa dan menilai

apakah laporan tersebut layak untuk disebut dengan transparan dan akuntabel, yaitu terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Fokus yang peneliti bahas disini adalah mengenai Transparansi dan Akuntabilitas Laporan Dana Kampanye DPW PAN JAWA TIMUR yang disusun pada saat Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2009. Disini akan kita lihat sejauh mana DPW PAN JATIM menyajikan laporan dana kampanye terkait dengan tuntutan transparansi dan akuntabilitas yang harus dilaksanakan oleh seluruh anggota Partai tersebut. Dari laporan dana kampanye yang tersaji, peneliti akan menarik kesimpulan mengenai pengelolaan laporan dana kampanye pada Pemilu 2009 yang lalu. Berikut akan disajikan hasil wawancara peneliti dengan beberapa informan terkait dengan pemahaman Laporan Keuangan dan Laporan Dana Kampanye.

“Pemahaman akan Laporan Keuangan Partai sangat penting, karena Partai Politik itu memiliki tanggungjawab moral untuk melaporkan dana yang dia terima. Mulai dari sumbangan, iuran, simpatisan atau sumbangan dari pihak-pihak yang tidak terikat dengan partai. Itu perlu kita beri laporan terkait dengan penggunaan dana tersebut. Jadi dana yang kita terima itu tadi perlu kita sampaikan laporannya kepada pemberi sumbangan atau bahkan pemerintah. Pemerintah kan pingin tau dana partai itu digunakan untuk apa saja”

“Pemahaman keuangan itu sangat penting sekali bagi semua. Tidak hanya bagi pengurus partai, tapi juga sangat penting bagi para anggotanya. Harus dipahami keuangan partai itu dari mana, untuk apa? Karena pada dasarnya keuangan partai itu uang amanat. Amanat itu dari si pemberi, yaitu rakyat”

(Informan Moeslimin)

“Partai politik itu kan tidak ada seperti pembukuan di perusahaan. Kalo perusahaan itu kan lengkap mulai dari cash flow, cash outflow. Kalau parpol itu merupakan lembaga non profit. Duit yang diperoleh PAN itu adalah urunan dari anggota PAN dan anggota DPR maupun DPRD, termasuk Bupati dan Walikota yang berasal dari PAN. Apa yang ada itu pasti transparan dan dapat dilihat oleh siapapun, ndak ada masalah. Tapi setelah iitu dibelanjakan untuk keperluan operasional partai. Keperluan operasional partai itu yang pertama mulai dari bagaimana keperluan sehari-hari, yang kedua tentu implikasi kpd kemenangan partai. Kemenangan partai itu mulai dari menggerakkan organisasi sampai pada kemenangan partai”

“Standar akuntansi itu kan mengenai loosing and profit dalam suatu transaksi bisnis. Kalo partai politik itu gak mikir itu. Loosing dan profitnya itu pada tinggi rendahnya kualitas kejuangan partai. jadi untuk segi keuangan partai, sama sekali ndak mikir loosing and profit. karena investasi tidak semata mata materi”

(Informan Moeslimin)

Berdasarkan pemaparan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa pemahaman akan Laporan Keuangan dan Laporan dana Kampanye Partai Politik sangat penting untuk diketahui dan dipelajari. Bukan hanya untuk anggota Partai, tapi juga untuk simpatisan Partai yang ada diluar. Disini, peran sebuah laporan keuangan sangat penting untuk mengukur kinerja Partai selama berjalannya periode yang diberikan Pemerintah. Dengan adanya laporan keuangan Partai, maka Partai tersebut dapat menjalankan program kegiatannya dengan terstruktur rapi dan tentunya disertai dengan perkiraan biaya yang digunakan selama periode berjalan. Walaupun bentuk laporan keuangan Partai tidak seperti laporan keuangan perusahaan lainnya, paling tidak disitu dicantumkan jumlah penerimaan dan pengeluaran yang digunakan. Dan uniknya, di dalam Partai Politik khususnya DPW PAN JATIM tidak pernah sampai menyimpan dana yang nilainya milyaran, karena semua penerimaan langsung digunakan untuk keperluan Partai. Berikut ini akan dijelaskan mengenai inti dari penelitian, yaitu pemahaman akan Laporan Dana Kampanye Partai Politik :

“Sebenarnya ada 2 sumber pendanaan kampanye. Jadi gini, selain dana kampanye yang dimiliki oleh partai, sebenarnya biaya tersebut juga ditopang dari masing-masing caleg. Jadi dana itu berasal dari caleg sendiri untuk digunakan selama kampanye”

(Informan Inisial RF)

“Kita laporannya itu laporan sederhana, karena laporan yang kita pakai itu sesuai dengan standar pemerintah. Standar akuntasinya ya belum memenuhi. Karena begitu dapat langsung dibelanjakan. Tidak sampai saving dana sampai bermilyar-milyar tidak pernah begitu. Kekayaannya itu kekayaan yang langsung bisa dibelanjakan. Lah nanti pas pemilu itu kebutuhannya ya langsung dibelanjakan. Dari mana duitnya? Ya dari calegnya itu. Bahkan si caleg sampai belanja kebutuhan kampanye sendiri”

(Informan Kuswiyanto)

“Laporan dana kampanye itu penting karena: pertama, ada batas kelayakan yang boleh diterima yang ditentukan oleh Undang-Undang.

Dokumen terkait