• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pluralisme dan Toleransi di Indonesia 1 Pluralisme 1 Pluralisme

THE WAHID INSTITUTE DAN PLURALISME DI INDONESIA

C. Pluralisme dan Toleransi di Indonesia 1 Pluralisme 1 Pluralisme

Merujuk kamus besar Bahasa Indonesia, Pluralisme ialah keadaam

masyarakat yang majemuk.24 Secara terminologis, “plural” adalah bentuk dasar

dari kata pluralisme, yang artinya lebih dari satu. Sedangkan secara etimologi, memiliki banyak arti, Sebagian ada yangg berpendapat, pluralisme adalah sebuah pengakuan hukum Tuhan yang menciptakan manusia yang tidak hanya terdiri dari etnis, suku, warna kulit dan satu kelompok saja. Jadi, pluralisme mengakui adanya perbedaan dimana-mana.

22Wawancara Pribadi dengan Bapak Alamsyah M. Dja’far, pada 10 Januari 2014.

23

Wawancara Pribadi dengan Ahmad Suaedy, pada 24 Desember 2013. 24

Pusat Bahasa Departemen pendidikan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 883.

41

Menurut pandangan Cak Nur, pluralisme adalah sistem nilai yang memandang positif-optimis terhadap kemajemukan itu sendiri. Pluralisme adalah sebuah paham yang menegaskan bahwa perbedaan-perbedaan diantara manusia

merupakan keniscayaan yang harus diterima.25

Pluralisme adalah perangkat budaya untuk mendorong pengayaan budaya bangsa. Maka, budaya Indonesia tidak lain adalah hasil interaksi yang kaya (resourcefull) dan dinamis antar pelaku budaya yang beranekaragam. Jadi, pluralisme tidak hanya dimaknai sebagai kemajemukan, beranekaragam, atau terdiri dari berbagai suku atau agama, justru menggambarkan perpecahan, bukan

pluralisme. Pluralisme tidak boleh dipahami sebagai kebaikan negatif (negative

good), yang dilihat dari kegunaannya untuk menyingkirkan fanatisme.

Seharusnya, pluralisme dipahami sebagai pertalian sejati kebihenekaan dalam ikatan-ikatan keadaban. Bahkan, pluralisme suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia, antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan antar mahluk Tuhan.

Dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah menciptakan mekanisme pengawasan

dan pengimbangan antar sesama, hal ini merupakan kemurahan Tuhan yang

melimpah kepada umat manusia. ”Seandainya Allah tidak mengimbangi segolongan manusia dengan golongan yang lain, maka pastilah bumi akan

25Miftahul Arief, “Menebar Kembali Pluralisme Agama” Buletin Kebebasan, (Jakarta: Lembaga Studi Agama dan Filsafat, Edisi No. 03/V/2007), 12.

42

hancur, namun Allah mempunyai kemurahan yang melimpah kepada seluruh

alam”. (Q.S. Al-Baqarah, ayat 251).26

Menurut Gus Dur, pluralisme berkaitan dengan gagasan kebangsaan. Pluralitas dalam kehidupan berbangsa menurutnya, adanya status antar golongan

mayoritas dan golongan minoritas agama dalam kehidupan berbangsa.27

Pluralisme adalah upaya untuk membangun tidak saja persoalan normatif teologis tetapi kesadaran sosial, dimana kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang plural dari segi agama, sosial, etnis, dan berbagai keragaman sosial lainnya. Oleh

karena itu, pluralisme bukan teologis semata, melainkan konsep sosiologis.28

Gus Dur juga menegaskan hal tersebut, bahwa keberagaman adalah rahmat yang telah digariskan Allah. Menolak kemajemukan sama halnya mengingkari pemberian Ilahi. Perbedaan merupakan kodrat manusia. Karena perbedaan itu rahmat, Gus Dur optimis bahwa keberagaman akan membawa kemaslahatan bangsa bukan memecah bangsa. Kemudian, Gus Dur mendasarkan perlunya universal-kebebasan, keadilan, dan musyawarah untuk menghadirkan pluralisme

sebagai agen kemaslahatan bangsa.29

Sedangkan menurut Syafii Maarif, pluralitas etnis, bahasa lokal, agama, dan latar belakang sejarah, kita jadikan sebagai mozaik kultural yang sangat kaya,

26

Nurcholish Madjid, “Asas-asas Pluralisme dan Toleransi dalam Masyarakat Madani,”

dalam Abuddin Natta, ed., Problematika Politik Islam di Indonesia (Jakarta: PT. Grasindo, dan UIN Jakarta Press, 2002), 5.

27

Ahmad Amir Azis, Neo Modernisme Islam di Indonesia Gagasan Sentral Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid, 61.

28

Moh Shofan, Pluralisme Menyelamatkan Agama-agama (Yogyakarta, Samudra Biru, 2011), 48.

29Benyamin F Intan, “Gus Dur pejuang Pluralisme Sejati”, dalam Rumadi, ed., Damai Bersama Gus Dur (Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2010), 70.

43

demi terciptanya sebuah taman sari Indonesia yang memberikan kenyamanan bagi

siapa saja yang menghirup udara di Nusantara ini.30

Pluralisme lebih identik dengan paham masyarakat terbuka (open society)

yang diperkenalkan oleh filsuf dan di kembangkan oleh Karl Poper. Paham masyarakat terbuka ini memungkinkan tegaknya demokrasi dan mencegah setiap bentuk otoritarianisme. Selain itu, masyarakat terbuka mengandung inovasi dan perkembangan ilmu pengetahuan yang akan mendorong masyarakat kearah yang

lebih baik.31

Oleh karena itu, pluralisme merupakan keberagaman untuk menyatukan berbagai aspek budaya, etnis, agama, dan golongan. Dengan adanya pluralisme dapat mewujudkan masyarakat yang berperadaban, dan taat pada hukum.

Pluralisme sebagai hal yang paling penting bagi kehidupan bernegara dan beragama untuk menanamkan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, kebhienekaan dan nilai demokrasi. Namun, pluralisme tidak akan tewujud tanpa adanya kesadaran sosial yang tinggi dalam menghormati perbedaan agama, etnik dan golongan. Kemudian, adanya peran pemerintah dalam menjalankan konstitusi dan bersikap adil bagi semua kelompok.

Dalam masyarakat plural, setiap toleransi sangat dibutuhkan. Sebab tanpa toleransi, pluralisme sangat rentan dipecah-belah. Hal ini pula yang terjadi di Indonesia saat ini. Masyarakat Indonesia yang plural baik etnis, ras maupun agama, tapi tidak di barengi dengan toleransi, sering mengakibatkan konflik

30

Ahmad Syafii Maarif, Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Indonesia, makalah Orasi Ilmiah disampaikan pada acara Nurcholis Madjid Memorial Lecture (Jakarta; Paramadina, 21 Oktober 2009), 14.

31

M Dawam Rahadjo, “Meredam Konflik: Merayakan Multikulturalisme” Buletin Kebebasan, (Jakarta: Lembaga Studi Agama dan Filsafat, Edisi No. 04/V/2007), 6.

44

horizontal berkepanjangan. Karena itulah sikap toleransi dalam masyarakat yang plural menjadi sangat penting.

C. 2 Toleransi

Toleransi yang dalam bahasa Arabnya disebut al-tasamuh sesungguhnya

merupakan salah satu diantara sekian ajaran inti dalam Islam. Toleransi sejajar

dengan ajaran fundamental yang lain seperti kasih (rahman), kebijaksanaan

(hikmah), kemaslahatan universal (maslahah ummah), dan keadilan (adl).32

Menurut pemikir Islam, seperti Al-Kindi (w. 873 M), ada lima prinsip

toleransi, pertama, kebenaran adalah tugas penting manusia. Kedua, seseorang

tidak bisa menguasai semua kebenaran. Ketiga, semua orang bisa terpleset dalam

kesalahan, keempat, menghargai orang lain dan pendahulu yang susah payah

mencari kebenaran. Dan kelima, toleransi diperlukan guna meyikapi perbedaan

guna membangun masa depan.33

Oleh karena itu, toleransi dan pluralisme sebagai fondasi kekuatan untuk mewujudkan kesatuan bangsa, berkeadilan, dan kebihenekaan. Realitasnya, persoalan pluralisme dan toleransi masih sering terjadi konflik di berbagai daerah.

Seperti halnya pada massa Orde Baru (ORBA) konflik bermuatanan etnisitas, dan kelompok keagamaan masih sering terjadi. Namun, pemerintah secara serius meminimalisir konflik melalui pendekatan keamaanan. Konflik antar-agama dalam sekala relatif sedikit, karena peran Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang bergerak menggunakan kekerasan kepada

32Abd Muqsith Ghazali, “Cetak Biru Toleransi Beragama,” dalam Abd Muqsith Ghazali, ed., Ijtihad Islam Liberal Upaya Merumuskan Keberagaman yang Dinamis (Jakarta; Jaringan Islam Liberal, 2005), 45.

33

45

pihak yang dicurigai memicu konflik. Seringnya, konflik yang terjadi bermuatan etnisitas, dan ada juga bermuatan simbol-simbol kegamaan. Maka, agar konflik tidak meluas antar umat agama adanya kerjasama mendukung pembangunan yang

direncanakan oleh pemerintah Orde Baru.34

Pasca reformasi 1998, persoalan pluralisme dan toleransi beragama di Indonesia tidak hanya menjadi kenyataan sosial namun juga menjadi diskursus politik dan hukum. Telah banyak regulasi yang lahir terkait pengaturan toleransi beragama di Indonesia. Regulasi-regulasi tersebut mengatur berbagai aspek menyangkut penciptaan iklim toleransi di tengah masyarakat. Seperti halnya, regulasi pendirian rumah ibadah dan regulasi menyangkut aliran-aliran

keagamaan.35

Aturan pendirian rumah ibadah menjadi satu paket dalam Peraturan Menteri Bersama (PMB) antara Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri)

No. 9 dan No. 8 tahun 2006 tentang “Pedoman tugas Kepala Daerah/Wakil dalam

pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat

beragama dan pendirian rumah ibadah.”36

Faktanya, penerapan PMB tersebut sering dilanggar oleh pemerintah daerah, bahkan melakukan tindakan intimidsi, kekerasan, penyegelan rumah ibadah, dan pembekuan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin Bogor, dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Filadelfia Bekasi.

34

Yeni Zannuba Wahid, dkk, Mengelolah Toleransi dan Kebebasan Beragama: 3 Isu Penting, (Jakarta: The Wahid Institute, 2012), 71-72.

35

Yeni Zannuba Wahid, dkk., Mengelolah Toleransi dan Kebebasan Beragama: 3 Isu Penting, 2-3.

36

Zainal Abidin Bagir dkk., Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia 2010

(Yogyakarta: Center for Religious and Cross-cultural Studies) Universitas Gadjah Mada, 2010), 36.

46

Persoalan GKI Taman Yasmin Bogor dan Gereja HKBP Filadelfia Bekasi sering mengalami tindakan diskriminasi, penyegelan tempat ibadah yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat tertentu, dan pembekuan IMB yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Selain itu, adanya keputusan Presiden tentang pembubaran Ahmadiyah. Melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri (Jaksa Agung, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri), Nomor: 3 Tahun 2008, Nomor: KEP-033/A/JA/6/2008, Nomor: 199 Tahun 2008 tentang peringatan dan perintah kepada penganut, anggota, atau pengurus Jemaat

Ahmadiyah Indonesia (JAI), dan warga masyarakat.37

Begitu juga dengan adanya peraturan daerah (Perda) yang mendasarkan keputusannya kepada SKB tersebut. Keputusan ini didukung Jaksa Agung Basrief Arif mendukungan penetapan perda pelarangan Ahmadiyah dengan alasan kepala daerah lebih mengetahui kondisi sosial masyarakatnya. Sependapat dengan itu,

37

Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri: Pertama, Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu. Kedua, memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Agama Islam yaitu penyebaran faham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW. Ketiga,

Penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada Diktum KESATU dan Diktum KEDUA dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk organisasi dan badan hukumnya. Keempat, memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk menjaga dan memelihara kerukunan umat beragama serta ketenteraman dan ketertiban kehidupan bermasyarakat dengan tidak melakukan perbuatan dan/atau tindakan melawan hukum terhadap penganut, anggota, dan/ atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Kelima, warga masyarakat yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada Diktum KESATU dan Diktum KEEMPAT dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Keenam, memerintahkan kepada aparat Pemerintah dan pemerintah daerah untuk melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan Keputusan Bersama ini. Ketujuh, Keputusan Bersama ini berlaku sejak tanggal ditetapkan (Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Juni 2008). Lihat The Wahid Institute, Monthly Report on Religious Issues, Edisi Juni 2008 (Jakarta: The Wahid Institute, 2008),

47

Menteri Dalam Negeri berpendapat bahwa perda-perda tersebut tidak bertentangan dengan SKB. Kemudian, Menteri Agama menganggap peraturan

daerah sudah tepat.38

Sebelumnya, pada tahun 1980 Majelis Ulama Indonesia (MUI) memfatwakan Ahmadiyah sesat. Kemudian, pada tahun 2005 MUI mengukuhkan fatwa Ahmadiyah sesat. Dengan alasan, meningkatnya penolakan terhadap Ahmadiyah di pentas dunia global, khususnya negara-negara yang berpenduduk muslim, serta menguatnya kelompok-kelompok konservatif yang mengancam

kerukunan antar-umat beragama.39

Sependapat degan MUI, Menteri Agama Suryadharma Ali beranggapan bahwa jemaat Ahmadiyah harus dibubarkan, karena kalau tidak potensi konflik akan terus meningkat dan mengganggu kerukunan umat beragama. Ahmadiyah adalah cikal bakal terjadi konflik di masyarakat. Menteri Agama juga beralasan bahwa Ahmadiyah bertentangan dengan pokok ajaran Islam, karena itu harus

diberhentikan berbagai aktifitasnya.40

Akan tetapi, fatwa MUI dan SKB Tiga Menteri sebenarnya tidak mampu menyelasaikan masalah Ahmadiyah. SKB Ahmadiyah di lapangan justru meligitimasi tuntutan massa dan konsiderasi pemerintah mengeluar

kebijakan-kebijakan diskriminatif terhadap Ahmadiyah.41

38

Zainal Abidin Bagir dkk, Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia 2011

(Yogyakarta: Center for Religious and Cross-cultural Studies, Universitas Gadjah Mada, 2011), 38 39

Ismail Hasani-Bonar dan Tigor Naipospos, Ahmadiyah dan Keindonesiaan Kita (Jakarta: Pustaka Masyarakat Setara, 2011), 26-27.

40

The Wahid Institute, Laporan Tahunan The Wahid Institute 2010 Pluralisme Kebebasan Beragama/Berkeyakinan di Indonesia (Jakarta: The Wahid Institute, 2010), 45.

41

Ismail Hasani-Bonar dan Tigor Naipospos, Menjamin Kebebasan, Mengatur Kehidupan Beragama: Laporan Studi Urgensi Kebutuhan RUU Jaminan Kebebasan Beragama/Berkeyakinan

48

Selain SKB Tiga Menteri, adanya regulasi penodaan agama yang tercantum KUHP 156a dan UU No. 1 PNPS tahun 1965 tentang pencegahan penyalahgunaan atau penodaan agama (selanjutnya disebut sebagai UU Penodaan Agama), yakni mengeluarkan perasaan permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan agama

(KHUP 156a).42

Seperti halnya, kasus Lia Aminudin, aliran kepercayaan yang bernama Salamullah didakwa melakukan penodaan agama (Pasal 156 a KHUP), penyebaran rasa permusuhan (Pasal 157 ayat 1 KHUP), dan perbuatan tidak

menyenangkan (Pasal 335 KHUP).43

Kemudian, kasus penyerangan dan pengusiran terhadap warga Syiah di Sampang Madura, yang mengakibatkan pesantren dan rumah Tajul Muluk dibakar massa yang tidak senang dengan keberadaan Syiah. Sehingga warga Syiah terpaksa mengungsi Gelanggang Olahraga (GOR) di Sampang. Atas kejadian tersebut, pimpinan Syiah Tajul Muluk didakwa telah melakukan penodaan agama.

Terkadang aturan-aturan tersebut didukung oleh lembaga keagamaan yang banyak melakukan tindakan diskriminatif, dan melemahnya tindakan negara dalam menyikapai persoalan kebebasan beragama. Imbasnya, adanya tindakan kekerasan struktural terhadap kaum minoritas. Contohya, gereja-gereja yang tidak diakui dan ditekan eksistensinya, ada juga oraganisasi-organisasi keagamaan lain

42

Zainal Abidin Bagir, dkk., Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia 2012

(Yogyakarta: Center for Religious and Cross-cultural Studies) Universitas Gadjah Mada, 2012), 14.

43

Uli Parulian Sihombing, ed., Ketidakadilan dalam Beriman Hasil Monitoring Kasus-kasus Penodaan Agama dan Ujaran Kebencian Atas Dasar Agama di Indonesia, Jakarta: The Indonesia Legal Resources Center (ILRC), 2012), 36.

49

seperti Islam Jama’ah, tarekat mistik, dan aliran kepercayaan lainnya yang mendapatkan perlakuan diskriminatif dari aparatur negara, pemerintah maupun oleh non-state actor..44

Hal ini menggambarkan bahwa toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia semakin buruk. Dengan maraknya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok radikal terhadap kelompok-kelompok minoritas, Ahmadiyah, perusakan rumah ibadah, aliran kepercayaan, dan aliran Syiah.

Begitu juga dengan sikap pemerintah yang bersikap intoleran dengan melakukan pembekuan IMB rumah ibadah GKI Taman Yasmin Bogor, dan HKBP Filadelfia Bekasi. Selain itu, pemerintah melakukan pembiaran terhadap kasus kekerasan yang bernuasa agama di Inonesia, kelompok minoritas, serta aparat penegak hukum tidak tegas dalam menangani kasus kekerasan dan perusakan rumah ibadah.

Menurut laporan The Wahid Institute, korban tindakan intoleransi dan diskriminasi selama 2010 ini berjumlah 153 korban. Korban tertinggi adalah perorangan/individu 35 korban, kemudian jemaat gereja di berbagai daerah 28, kelompok masyarakat 20, korban dari warga Ahmadiyah di berbagai daerah 18

dan komunitas yang diduga sesat 15.45 Untuk lebih lengkapnya lihat tabel di

bawah ini.

44

Muhamad Ali, Teologi Pluralis-Multkultural: Menghargai Kemajemukan Menjalin Kebersamaan (Jakarta: KOMPAS, 2003), 48-49.

45

The Wahid Institute, Laporan Tahunan The Wahid Institute 2010 Pluralisme Kebebbasan Beragama/Berkeyakinan di Indonesia, 75-76.

50

Tabel 1. Korban Intoleransi dan Diskriminasi 2010

No Korban Jumlah

1 Individu 35

2 Jemaat gereja di berbagai daerah 29

3 Kelompok masyarakat 20

4 Warga Ahmadiyah di berbagai daerah 19

5 Komunitas ynag diduga sesat 15

6 Dunia usaha 8

7 Pemimpin dan aliran pengikut Abraham 7

8 Umat Buddha Tanjung Balai 4

9 Instasi pemeritahan 5

10 Pengikut aliran surga Eden 2

11 Umat Konghucu 2

12 Pemimpin dan pengikut aliran akmaliyah 2

13 Pengikut ahl al-bait Indonesia Jawa Timur 1

14 Pemimpin dan pengikut Brayat Agung 1

15 Jemat LDII 1

16 Pengikut tharikat Fatoriyah 1

17 Santri dan Pengasuh Pesantren Fajar Hidayah

1

18 LSM 1

19 Komunitas LGBT 1

Total 155

Sumber; Laporan The Wahid Institute2010.

Sedangkan tahun 2011 korban intoleransi dan diskriminasi diantaranya; Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) adalah kelompok yang paling sering menjadi korban tindak intoleransi karena keyakinan mereka dianggap berbeda dari mainstream umat Islam dengan 65 kasus (26%). Korban berikutnya adalah individu yang dianggap berbeda dari mainstream 42 kasus (17%), Pemilik usaha

51

atau pedagang 24 kasus (10%), umat Kristen 20 kasus (8%). Berikut tabel

selengkapnya.46

Tabel 2. Korban Intoleransi 2011

Sumber: Laporan The Wahid Institute 2011.

Pada tahun 2012, korban tertinggi dialami oleh umat Kristen dengan 39 kali, berikutnya individu atau korban perorangan dengan 35 kali, diikuti pengikut

Syi’ah 27 kali dan kelompok atau aliran yang terduga menyebarkan aliran sesat

dengan 26 kali, berikutnya dari pelaku usaha 21 kali dan JAI 19 kali, selekapnya

bisa di lihat tabel di bawah ini.47

46

The Wahid Institute, Lampu Merah Kebebbasan Beragama Laporan Kebebasan Beragama dan Toleransi di Indonesia 2011, 50.

47

The Wahid Institute, Ringkasan Eksekutif Laporan Akhir Tahun Kebebbasan Beragama dan Toleransi di Indonesia 2011, 34-35.

No Korban Jumlah %

1 Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) 65 26

2 Individu 42 17

3 Pemilik usaha / pedangang 24 10

4 Umat Kristen 21 9

5 Pejabat / pengawai pemerintahan 16 7

6 Kelompok atau individu terduga sesat 16 7

7 Tempat ibadah 15 6

8 Jemaat GKI Yasmin 11 4

9 Artis / pelaku seni 7 3

10 Kelompok pelajar / siswa 6 2

11 Properti umum 4 2 12 Pengikut Syiah 5 2 13 Peneliti / akademisi 3 1 14 LSM 3 1 15 Polisi 4 2 16 Warga NU 2 1 17 Ormas Agama 2 1 18 Media 1 0

52

Tabel 3. Korban Intoleransi 2012

No Korban Jumlah

1 Umat Kristen 39

2 Individu 35

3 Pengikut Syiah 27

4 Kelompok terduga sesat 26

5 Pelaku Usaha 21

6 JAI 19

7 Kelompok warga masyarakat 17

8 Properti umum 13

9 Rumah ibadah 12

10 Anggota ormas agama 7

11 Pejabat/aparat negara 5

12 Kelompok pelajar 2

13 Umat Hindu 2

14 Pengacara 2

15 LSM 2

16 Pejabat lembaga Internasional 2

17 Umat Konghucu 1

18 Geraka Ahmadiyah Indonesia 1

19 Media massa 1

20 Pengikut agama lokal 1

21 Perguruan tinggi 1

22 Kelompok umat Islam 1

23 LGBT 1

24 Seniman 1

Sumber; Laporan The Wahid Institute, 2012.

Berdasarkan tabel di atas tersebut, bahwa tindakan intoleransi dan diskriminasi di Indonesia masih sering terjadi. Baik itu konflik rumah ibadah intimidasi aliran kepercayaan, dan tindakan kekerasan terhadap kelompok minoritas.

Seharusnya, para penegak hukum mencegah aksi kekerasan tersebut, memberikan pemahaman nilai-nilai demokrasi dan toleransi kepada masyarakat.

53

Maka, dengan toleransi dapat mewujudkan masyarakat yang damai, menghargai perbedan umat beragama, aliran kepercayaan, membangun masyarakat adil, berperadaban, dan demokratis.

Kemudian, adanya peran pemerintah sebagai resolusi kasus kekerasan yang terjadi di Indonesia. Lalu, sikap pemerintah yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, menjamin kebebasan beragama, melindungi hak asasi manusia, bersikap adil, dan tegas dalam melaksanakan konstitusi UUD dasar 1945 sebagi fondasi negara Indonesia.

Akan tetapi, dalam penerapan toleransi di masyarakat masih banyak mengalami kendala diantaranya; SKB tiga Menteri, peraturan daerah, dan fatwa MUI tentang penyesatan kepada aliran kepercaan. Selain itu, adanya regulasi undang-undang PNPS 1965 tentang pencegahan dan penodaan agama di Indonesia. Kemudian, masih banyak sikap masyarakat yang intoleran terhadap kelompok agama lain.

Maka, dengan hadirnya The Wahid Institut juga diharapkan dapat mewujudkan prinsip-prinsip dan cita-cita intelektual Gus Dur dalam membangun bangsa, mendorong terciptanya masyarakat yang demokrasitis, pluralisme, mulikulturalisme, kebebasan beragama, dan toleransi. Oleh karena itu, toleransi

sebagai kekuatan bangsa untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera baldatun

thoyibatun wa rabbun ghofur. Serta, toleransi sebagai khazanah untuk membangun integritas etnis, budaya, bahasa, dan kearifan lokal.

54

BAB IV

PERAN THE WAHID INSTITUTE TERHADAP KEBEBASAN