CIVIL SOCIETY
DAN KEBEBASAN BERAGAMA
DI INDONESIA: STUDI KASUS THE WAHIDINSTITUTE
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh:
Syaefullah
107033201757
PROGRAM STUDI ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
i
ABSTRAK
Skripsi ini memfokuskan pada pembahasan The Wahid Institute sebagai civil society dalam memperjuangkan kebebasan beragama, toleransi, dan nilai-nilai demokrasi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa peran The Wahid Institute dalam memperjuangkan kebebasan beragama dan melindungi kelompok minoritas. Hal ini sesuai dengan visi The Wahid Institute yakni mewujudkan cita-cita intelektual Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk membangun kehidupan bangsa Indonesia, bangsa yang sejahtera, serta umat manusia yang berkeadilan sosial dan menjunjung tinggi pluralisme, multikulturalisme, demokrasi, dan Hak Asasi Manusia (HAM) yang diinspirasi oleh Islam.
Penelitian ini menggunakan studi pustaka dan wawancara dengan Ahmad Suaedy Direktur The Wahid Institute, Subhi Azhari Monitoring dan Advokasi The
Wahid Institute, dan Alamsyah M. Dja’far Kampanye dan Media The Wahid
Institute. Penelitian ini menjelaskan, bahwa The Wahid Institue rutin melakukan advokasi terhadap korban kekerasan agama, aliran kepercayaan, rumah ibadah, dan kelompok minoritas. Salah satu pembelaan yang dilakukan The Wahid Institute ialah kepada Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin Bogor, Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Filadelfia Bekasi, aliran Syiah di Sampang, Madura, dan kasus Ahmadiyah Cikeusik Banten.
Dalam skripsi ini menggunakan strategi yang dilakukan oleh kelompok kepentingan dalam memperjuangkan nilai-nilai demokrasi, toleransi, dan keadilan
sosial. Pertama, melalui penegak hukum. Kedua, pendekatan terhadap
pemerintah. Ketiga, pendekatan dalam hukum. Keempat, pendekatan ke publik.
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada baginda Nabi Besar
Muhammad SAW. Penulis dapat menyelesaikan salah satu kewajiban akademik
yang merupakan prasyarat dalam rangka meraih gelar Sarjana Sosial di
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ucapan terima kasih tak lupa penulis haturkan kepada berbagai pihak yang
ikut memberikan kontribusi dalam penyelesaian skripsi ini yang berjudul “Civil
Society dan Kebebasan Beragama di Indonesia: Studi Kasus The Wahid Institute”. Adapun ucapan terima kasih penulis haturkan yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Bahtiar Effendy, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Ali Munhanif, Ph.D selaku Ketua Program Studi Ilmu Politik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak M. Zaki Mubarak, M.Si selaku dosen pembimbing, dan Sekretaris
Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Kepada seluruh dosen dan staf pengajar Program Studi Ilmu Politik yang
telah banyak memberikan ilmunya selama penulis menempuh proses
iii
5. Kepada Bapak Ahmad Suaedy, Bapak M Subhi Azhari, dan Bapak
Alamsyah M. Dajafar yang telah meluangkan waktunya untuk bersedia di
wawancara, serta kepada staf The Wahid Institute yang telah memberikan
data-data mengenai isu kekerasan agama.
6. Kepada kedua orang tuaku yang telah memberikan kasih sayang serta
doanya.
7. Kepada kawan-kawan diskusi Indonesian Culture and Academic (INCA),
Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci), dan teman-teman Ilmu Politik
angkatan 2007, Adi Ridwan, Siswo, Beni Azhar, Lupih Nurhadi, Deni
Humaidi, Adik Saiful Safkri, Neneng, Siti Masitoh.
Semoga Allah SWT Yang Maha Pemurah dapat memberikan petujuk dan
hidayah-Nya. Dalam penulisan skripsi ini, penulis masih banyak kekuranagan
dalam melakukan penelitian ini, oleh karena itu, penulis membutuhkan kritik dan
saran dari dosen, pembimbing, dan penguji.
Jakarta, 1 Januari 2014
iv
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR SINGKATAN ... vii
BAB I PENDAHULUAN A. Pernyataan Masalah ... 1
B. Pertanyaan Penelitian ... 8
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9
D. Tinjauan Pustaka ... 9
E. Metodologi Penelitian... 11
F. Sistematika Penelitian ... 12
BAB II CIVIL SCIETY DAN KEBEBASAN BERAGAMA A. Konsep Civil Society ... 14
B. Civil Society dan Demokrasi ... 22
C. Kebebasan Beragama ... 26
BAB III THE WAHID INSTITUTE DAN PLURALISME DI INDONESIA A. Sejarah Singkat The Wahid Institute ... 31
B. Visi dan Misi The Wahid Institute ... 37
C. Pluralisme dan Toleransi di Indonesia ... 40
C.1 Pluralisme ... 40
C.2 Toleransi ... 44
BAB IV PERAN THE WAHID INSTITUTE TERHADAP KEBEBASAN BERAGAMA DI INDONESIA A. Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin Bogor ... 54
v
C. Aliran Syiah di Sampang Madura ... 64
D. Ahmadiyah di Cikeusik Banten ... 68
E. Tantangan The Wahid Institute dalam Memperjuangkan Kebebasan Beragama di Indonesia ... 74
BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan ... 78
B. Saran ... 79
DAFTAR PUSTAKA ... ix
vi
DAFTAR TABEL
Tabel I Korban Intoleransi dan Diskriminasi 2010 ... 50
Tabel II Korban Intoleransi dan Diskriminasi 2011 ... 51
vii
DAFTAR SINGKATAN
ABRI : Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
AD/ART : Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
AKKB : Aliansi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
AS : Amerika Serikat
BASRA : Badan Urusan Silaturahmi Ulama
CMARs : Center Marginalized Communites Studies
DEPAG : Departemen Agama
DPRD : Dewan Parwakilan Rakyat Daerah
FKUB : Forum Kerukunan Umat Beragama
FKUI : Forum Kerukunan Umat Islam
FORDEM : Forum Demokrasi
GKI : Gereja Kristen Indonesia
GOLKAR : Golongan Karya
GOR : Gelanggang Olahraga
HAM : Hak Asasi Manusia
HKBP : Huria Kristen Batak Protestan
ICCPR : International Covenant on Civil Political Right
ICMI : Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia
ICRP : Indonesian Conference on Religion and Peace
IMB : Izin Mendirikan Bangunan
INPRES : Instruksi Presiden
JAI : Jamaah Ahmadiyah Indonesia
KEMENAG : Kementrian Agama
KOMNASHAM : Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
KTP : Kartu Tanda Penduduk
KUHP : Kitab Undang-undang Hukum Pidana
LBH : Lembaga Bantuan Hukum
viii
LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat
MA : Mahkamah Agung
MENDAGRI : Menteri Dalam Negeri
MUI : Majlis Ulama Indonesia
MUNAS : Musyawarah Nasional
NI : Negara Islam
NU : Nahdlatul Ulama
ORBA : Orde Baru
ORMAS : Organisasi Masyarakat
PBNU : Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
PCNU : Pimpinan Cabang Nahdaltul Ulama
PEMDA : Pemerintah Daerah
PEMKOT : Pemerintah Kota
PERDA : Peraturan Daerah
PERGUB : Peraturan Gubernur
PMB : Peraturan Menteri Bersama
PN : Pengadilan Negeri
PTUN : Pengadilan Tata Usaha Negeri
RI : Republik Indonesia
SDI : Syarikat Dagang Islam
SDI : Serikat Dagang Islam
SEJUK : Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman
SK : Surat Keputusan
SKB : Surat Keputusan Bersama
UU : Undag Undang
UUD : Undang Undang Dasar
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Pernyataan Masalah
The Wahid Institute merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang
bertujuan mengembangkan Islam yang damai, toleransi, penegakan hukum,
multilkulturalisme, dan nilai-nilai demokrasi. Mulai tahun 2005, The Wahid
Institute melakukan pendokumentasian terkait isu kebebasan beragama di
Indonesia.1
Sejak berdiri pada 7 September 2004, The Wahid Institute memiliki visi
yang sesuai dengan cita-cita intelektual Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk
membangun kehidupan bangsa Indonesia dan umat manusia yang berkeadilan
sosial dengan menjunjung tinggi pluralisme, multikulturalisme, demokrasi, dan
Hak Azasi Manusia (HAM) yang diinspirasi nilai-nilai Islam.2
Dalam kiprahnya, selama ini The Wahid Institute rutin melakukan
pemantauan yang difokuskan kepada penggalian data dan informasi. Seperti kasus
Ahmadiyah di Cikeusik Banten, aliran Syiah di Sampang Madura, sengketa rumah
ibadah Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin Bogor dan Huria Kristen
Batak Protestan (HKBP) Filadelfia Bekasi, serta pembelaan terhadap korban
1
The Wahid Institute, Laporan Kebebasan Beragama/Berkeyakian dan Toleransi di Indonesia 2010 (Jakarta: The Wahid Institute, 2010), ii.
2
2
kekerasan dan kebebasan beragama di Indonesia.3 Oleh karena itu, The Wahid
Institute mempunyai peran yang signifikan terhadap kebebasan beragama,
multikulturalisme, dan nilai-nilai demokrasi.
Setidaknya ada dua peran penting yang dilakukan oleh The Wahid Institute,
yaitu, pertama, yang berkaitan dengan tindakan pelanggaran kebebasan beragama
di Indonesia. Kedua, berkaitan dengan masa depan kebebasan beragama di Tanah
Air.4
Akhir-akhir ini banyak aksi kekerasan, penganiayaan, dan anarki sosial
yang mengatasnamakan agama. Selain itu, perusakan tempat ibadah dari aliran
kepercayaan, kelompok minoritas dan penodaan kegiatan ritual keagamaan yang
kerap terjadi di sejumlah tempat di Indonesia adalah bukti nyata tidak
terbantahkan.5
Di antara banyaknya aksi kekerasan di Indonesia, pertama, kasus Gereja
Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin, Bogor, Jawa Barat. Selama ini,
pendirian rumah ibadah GKI Yasmin Bogor telah diizinkan oleh Pemerintah
Daerah (Pemda) pada 13 Juli 2006. Walikota Bogor telah mengeluarkan Izin
Mendirikan Bangunan (IMB) melalui Surat Keputusan Walikota Nomor
645.8-372 Tahun 2006.6
3
The Wahid Institute, Laporan Kebebasan Beragama/Berkeyakian dan Toleransi di Indonesia 2010, 1.
4
The Wahid Institute, Lampu Merah Kebebasan Beragama, Laporan Kebebasan Beragama dan Toleransi di Indonesia 2011 (Jakarta: The Wahid Institute, 2011), 12.
5
Departemen Agama RI, Riuh di Beranda Satu, Peta Kerukunan Umat Beragama di Indonesia, Seri II (Jakarta: Departemen Agama RI, Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Puslitbang Kehidupan Beragama, 2011), 82.
6
3
Pada 10 Februari 2008, pembangunan rumah ibadah GKI Taman Yasmin
tersebut menuai protes dan unjuk rasa bertajuk “selamatkan aqidah umat” yang
berlangsung di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota
Bogor dan Balai Kota Bogor. Acara ini dihadiri oleh organisasi masyarakat
(ormas) Islam Kota Bogor yang dikoordinir oleh Forum Umat Islam (FUI) dan
warga sekitar perumahan Taman Yasmin dan Tanah Sareal, Bogor. Mereka
menuntut pembubaran Ahmadiyah di Bogor dan penolakan terhadap
pembangunan tempat ibadah GKI Taman Yasmin dan Gereja Huria Kristen Batak
Protestan (HKBP) Tanah Sareal tersebut.
Akhirnya tuntutan diterima oleh Pemerintah Kota Bogor. Pada 14 Februari
2008, Kepala Dinas Tata Kota dan Pertamanan Kota Bogor mengeluarkan Surat
Keputusan Nomor 503/367/208-OTK Perihal Pembekuan IMB Gereja GKI
Taman Yasmin. Pada Tanggal 25 Februari 2008, Wali Kota Bogor mengeluarkan
surat Nomor 503/367/HUK Perihal Pembatalan Rekomondasi Walikota yang
tertera dalam Surat Keputusan Walikota Nomor IMB601/389/Pem Perihal
Pembangunan GKI Taman Yasmin.7
Kedua, kasus penyegelan Gereja HKBP Filadelfia di Bekasi Jawa Barat.
Selama dua tahun jemaat HKBP Filadelfia tidak bisa menjalankan ibadah
sebagaimana mestinya. Mereka beribadah di tepi jalan Desa Jejalen Jaya,
Tambun, Bekasi, karena bangunan HKBP Filadefia disegel berdasarkan Peraturan
Daerah (Perda) No. 7 Tahun 1996. Kemudian jemaat HKBP Filadelfia
melaporkan kasus ini ke PTUN Bandung pada tahun 2010. Pengadilan Tata Usaha
7
4
Negeri (PTUN) Bandung pun mengabulkan tuntutan HKBP Filadelfia. PTUN
menganggap bahwa penghentian dan pelarangan kegiatan ibadah melanggar HAM
dan UUD 1945.8
Ketiga, kekerasan terhadap aliran Syiah. Peristiwa ini terjadi pada Kamis 29
Desember 2011. Sekitar 500 massa yang mengatasnamakan pengikut aliran Sunni
merusak pesantren milik warga Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karang
Gayam, Kecamatan Omben, Sampang, Madura. Atas kejadian tersebut, 253 warga
Syiah diungsikan ke Gelanggang Olah Raga (GOR) Wijata Kusuma, Sampang
Madura.
Peristiwa ini adalah kasus kedua yang terjadi pada bulan April 2011. Saat
itu masyarakat tidak setuju dengan keberadaan Syiah karena ajarannya yang
bertentangan dengan Islam. Dalam perkembangannya mereka mengancam warga
Syiah untuk; 1) Menghentikan semua kegiatannya dan kembali kepada ajaran
Islam. 2) Meninggalkan (di usir) wilayah Sampang tanpa ganti rugi lahan. 3) Jika
dua poin tersebut tidak dilaksanakan, maka jemaat Syiah harus mati.9
Setelah menerima tindakan kekerasan dan penyerangan, Roisul Hukama
melaporkan Ustadz Tajul Muluk selaku pimpinan Syiah ke Polres Sampang atas
tuduhan penodaan agama, khususnya pernyataan bahwa Al-Qur’an tidak asli lagi.
Akibatnya Tajul Muluk dipidana selama dua tahun penjara. Menurut Majelis
Hakim Pengadilan Negeri, Tajul Muluk melakukan penyebaran ajaran Syiah di
8
The Wahid Institute, MRORI Monthly Report on Religious Issues, Edisi XXXIX Desember 2011- Januari 2012 (Jakarta; The Wahid Instutue, 2012), 10.
9
Zainal Abidin Bagir dkk., Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia 2011,
5
Februari 2011. Kejadian ini megakibatkan tiga orang meninggal dunia, lima orang
luka-luka, dan satu rumah milik jemaat Ahmadiyah rusak. Kasus penyerangan
terhadap jemaat Ahmdiyah di Cikeusik Banten, merupakan kekerasan terbesar
terhadap jemaat Ahmadiyah di Indonesia.
Akibat kasus Ahmadiyah di Cikeusik tersebut, mulai berkembang aturan
yang membatasi kegiatan jemaat Ahmadiyah di Indonesia. Misalnya, Surat
Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa
Agung, Peraturan Bupati (Perbub) Pandeglang, Banten Erwan Kurtubi, No. 5
Tahun 2011, tanggal 21 Februari 2011, dan Peraturan Gubernur (Pergub) Banten
Ratu Atut Chosiyah No. 5 Tahun 2011, tanggal 11 Maret 2011 tentang pelarangan
Ahmadiyah.11
10
Uli Parulian Sihombing, Ketidakadilan dalam Beriman Hasil Monitoring Kasus-Kasus Penodaan Agama dan Ujaran Kebencian atas Dasar Agama di Indonesia (Jakarta, Setara Institute, 2012), 55.
11
6
Menyikapi kasus di atas tersebut, The Wahid Institute melakukan
perjuangan pembelaan terhadap korban kekerasan dan kelompok minoritas.
Antara lain; pertama, mendesak kepada pemerintah untuk lebih tegas menghadapi
organisasi masyarakat (ormas) pelaku kekerasan atas nama agama. Kedua,
pengaturan mengenai agama oleh pemerintah baik pusat maupun daerah harus
melibatkan kelompok minoritas yang menjadi objek kekerasan. Ketiga, mendesak
Presiden agar memerintahkan kepada Menteri Dalam Negeri (Mendagri) untuk
merevisi dan mencabut peraturan yang bertentangan dengan kebebasan beragama
dan berkeyakinan.12
The Wahid Institute menilai negara tidak tegas dalam menangani kasus
kekerasan dan kebebasan beribadah. Negara absen, lalai, dan lambat dalam
mengatasi kasus kekerasan yang bernuansa SARA. Bahkan, negara dinilai sebagai
aktor kekerasan yang kerap kali melakukan intimidasi terhadap kelopok minoritas,
aliran kepercayaan, dan rumah ibadah di Indonesia.13
Dalam hal ini, ada dua bentuk cara negara dalam melakukan pelanggaran.
Pertama, dengan cara tindakan aktif yang memungkinkan terjadinya pembatasan,
pembedaan, campur tangan, atau membatasi hak-hak seseorang dalam beragama
dan berkeyakinan. Kedua, dengan cara membiarkan hak-hak seseorang menjadi
Indonesia (JAI) dalam segala bentuknya; menyebarkan dan menafsirkan kegiatan menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam. The Wahid Institute, Lampu Merah Kebebasan Beragama Laporan Kebebasan Beragama dan Toleransi di Indonesia 2011 (Jakarta: The Wahid Institute, 2011), 33-34.
12
The Wahid Institute, Lampu Merah Kebebasan Beragama Laporan Kebebasan Beragama dan Toleransi di Indonesia 2011, 11.
13
Ismail Hasani dan Bonar Tigor Naipospos, ed., Mengatur Kehidupan Beragama: Menjamin Kebebasan, Urgensi Kebutuhan RUU Jaminan Kebebasan Beragama/Berkeyainan
7
terlanggar, termasuk membiarkan setiap tindak pidana yang dilakukan oleh
seseorang tidak diproses secara hukum.14
Tindakan yang dilakukan oleh aktor negara tersebut melanggar UUD
Negara RI 1945 Pasal 28 I ayat (1), Pasal 28 E, dan UU No. 29 Tahun 1999
tentang Hak Asasi Manusia (HAM) Pasal 4.15 Kebebasan untuk memilih agama
atau kepercayaan tertentu merupakan hak setiap orang untuk menentukan pilihan
sesuai dengan keimanan yang diyakininya. Semua orang berhak memiliki hak atas
berpikir, berkeyakinan, dan beragama. Hal ini juga mencakup akan kebebasan
memeluk agama, baik secara individu maupun secara kolektif dan di ranah publik
maupun privat.16
Secara historis, jauh sebelum kemerdekaan para founding father menyikapi
dan menghormati perbedaan keyakinan tersebut dengan baik. Gagasan yang dibangun dengan merumuskan “Bhineka Tunggal Ika” untuk mewujudkan cita
14
Ismail Hasani dan Bonar Tigor Naipospos, ed., Politik Diskriminasi Rezim Susilo Bambang Yudhoyono, Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan di Indonesia (Jakarta: Setara Institute, 2012), 19.
15
Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 menyebutkan:“Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan. Pasal 28E ayat (2) UUD 1945 juga menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 juga diakui bahwa hak untuk beragama merupakan hak asasi manusia. Selanjutnya Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 juga menyatakan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk
memeluk agama. Sementara Pasal 4 UU No. 29 Tahun 1999 tentang HAM; “ hak untuk hidup, hak
untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaa di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat
dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun” Lihat Undang-Undang Dasar 1945, dan UU
Tahun 1999. 16
8
cita luhur bangsa.17 Hal ini sesuai dengan pandangan Ahmad Syafii Maarif,
bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, semua prinsipnya dapat
diterima Islam.18 Etos Islam saling menghargai akan perbedaan, egaliterian,
humanisme, dan pluralistik.
Salah satu syarat terwujudnya masyarakat yang demokratis adalah
terwujudnya masyarakat yang majemuk atau pluralis. Kemajemukan merupakan
sunnatullah (hukum alam). Masyarakat yang majemuk memiliki budaya dan
aspirasi beraneka ragam, tetapi mereka harus memiliki kedudukan yang sama,
serta tidak ada superioritas etnis, agama, suku, dan kelompok yang lainnya.19
Untuk mengetahui lebih jelas lagi mengenai peran The Wahid Institute
terhadap kebebasan beragama di Indonesia, maka dalam skripsi ini akan
memfokuskan pembahasannya pada tema “Civil Society dan Kebebasan
Beragama di Indonesia: Studi Kasus The Wahid Institute.” B. Pertanyaan Penelitian
Fokus penelitian ini mengenai tema “Civil Society dan Kebebasan Beragama
di Indonesia: Studi Kasus The Wahid Institute.” Maka penelitian ini akan
menganalisa tentang kebebasan beragama di Indonesia. Oleh karena itu, rumusan
masalahnya dibatasi pada:
1. Bagaimana The Wahid Institute sebagai civil society memperjuangkan
kebebasan beragama di Indonesia?
17
Tohirin el-Ashary, “Memaknai Kemerdekaan dan Pluralisme,” Buletin Kebebasan “Memaknai Kemerdekaan dan Pluralisme, (Jakarta: Lembaga Studi Agama dan Filsafat, Edisi No. 03/V/2007), 11.
18
Lutfi Assyaukanie, Ideologi Islam dan Utopia, (Jakarta: Freedom Institute, 2011), 137. 19
9
2. Apa tantangan The Wahid Institute dalam memperjuangkan kebebasan
beragama di Indonesia?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini, pertama, mengetahui konsep civil society di
Indonesia. Kedua, untuk mengetahui bagaimana perjuangan The Wahid Institute
terhadap nilai-nilai kebebasan beragama di Indonesia. Ketiga, mengetahui
tantangan The Wahid Institute dalam memperjuangkan kebebasan beragama di
Indonesia Selain itu, tujuan penelitian ini ingin memotret The Wahid Institute
sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang kajian,
penelitian, isu HAM, kekerasan yang mengatasnamakan agama, kelompok
minoritas, kebebasan beragama, dan nilai-nilai demokrasi.
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah ingin mengetahui konsep
kebebasan beragama dan pentingnya nilai-nilai dalam kehidupan beragama
maupun dalam bernegara. Kemudian ingin mengetahui konsep civil society di
Indonesia.
D. Tinjauan Pustaka
Pembahasan dalam penelitian ini didasari oleh penelitian Ihsan Ali-Fauzi dan Saiful Mujani tentang “Gerakan Kebebasan Sipil Studi dan Advokasi Kritis
atas Perda Syari’ah.” Penelitian ini bekerja sama dengan Lembaga Survey
Indonesia (LSI), Freedom Institute, Indonesia Institute, dan Jaringan Islam Liberal
(JIL).
Penelitian ini membicarakan peran gerakan sosial terhadap Perda Syari’ah
10
penelitiannya adalah advokasi yang dilakukan oleh masyarakat sipil mengenai
Perda Syari’ah di Pandeglang, Banten, setidaknya perda-perda Syari’ah mulai di
perdebatkan kembali mengenai perlu atau tidaknya perda-perda itu direvisi atau
dihapuskan.
Namun di Bulukumba, Padang, ternyata kegiatan advokasi yang dilakukan
oleh masyarakat sipil mengalami kontraproduktif. Dukungan mengenai
perda-perda Syari’ah yang sudah merosot selama satu-dua tahun, kini mulai menguat
kembali dengan adanya kegiatan advokasi perda Syariah tersebut.20
Penelitian lain dilakukan oleh Aniqotul Ummah dalam skripsinya, “Advokasi ICRP sebagai Civil Society terhadap Kasus Ahmadiyah di Indonesia.”
Skripsi ini memfokuskan perjuangan Indonesian Conference on Religion and
Peace (ICRP) terhadap jemaat Ahmdiyah. Hasil penelitiannya adalah pertama,
pemerintah tidak berani menentukan sikap terhadap Ahmadiyah. Hal ini terlihat
lamanya proses pengambilan keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah
mengenai Ahmadiyah. Misalnya, penerbitan Surat Keputusan Bersama (SKB)
Ahmadiyah yang harus diundur beberapa kali karena rumitnya masukan dari
berbagai pihak.
Kedua, di internal jemaat Ahmadiyah sendiri terjadi pergeseran yang
semula komunitas Ahmadiyah tertutup dan bersikap mengalah jika berhadapan
dengan negara, maka dengan adanya advokasi yang dilakukan oleh ICRP
20
Ihsan Ali-Fauzi dan Saiful Mujani, Gerakan Kebebasan Sipil: Studi dan Advokasi Kritis
11
setidaknya jemaat Ahmadiyah lebih terbuka dan membangun jejaring dengan
agama-agama lain.21
D. Metodologi Penelitian
Skripsi ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif yang
menggunakan pengumpulan data melalui wawancara dan studi pustaka. Pertama,
pendekatan kualitatif adalah penelitian empiris yang data-datanya bukan
berbentuk angka.22 Kedua, wawancara (interview) dengan cara tanya-jawab.
Tujuan wawancara adalah mengumpulkan data atau informasi (keadaan,
gagasan/pendapat, sikap/tanggapan, keterangan dan sebagainya) dari pihak The
Wahid Institute terkait dengan perannya dalam melakukan pembelaan terhadap
kebebasan beragama di Indonesia.23 Ketiga, studi pustaka, yang bertujuan
memperoleh data bacaan buku-buku, jurnal, buletin, majalah, dan artikel yang
termuat di berbagai media cetak maupun media elektronik.
Beberapa referensi atau daftar pustaka yang menjadi sumber dalam skripsi
ini adalah; Laporan Tahunan The Wahid Institute, Laporan Setara Institute,
Laporan Tahunan Center for Religion and Cross-culture Studies (CRCS) UGM,
Kontroversi Gereja di Indonesia CRCS UGM, jurnal Titik-Temu Dialog
Peradaban Nucholis Madjid Society (NMSC) Paramadina, buletin Kebebasan
Lembaga Studi Agama dan Filsafat, Majalah Tempo, dan untuk sumber media
eloktronik website www.wahidinstitute.org.
21
Aniqotul Ummah, Advokasi ICRP Sebagai Civil Society Terhadap Kasus Ahmadiyah di Indonesia (Jakarta: FISIP UIN JAKARTA, 2012)
12
Sedangkan data primer skripsi ini, diperoleh melalui wawancara dengan
narasumber langsung dengan Ahmad Suaedy Direktur Eksekutif The Wahid
Institute, Subhi Azhari divisi Monitoring dan Advokasi The Wahid Institute, dan
Alamsyah M. Dja’far divisi Media dan Kampanye. Wawancara ini diharapkan
mampu menggali signifikansi peran The Wahid Institute terhadap kebebasan
beragama di Indonesia.
Sementara itu, teknik penulisan dalam penelitian ini menggunakan analisis
data yang bersifat kualitatif dengan teknik pembahasan deskriptif analisis yang
bertujuan menggambarkan The Wahid Institute dalam memperjuangkan
kebebasan beragama di Indonesia. Pengumpulan data, perumusan masalah, dan
penulisan dalam skripsi ini kemudian disesuaikan dengan standar panduan
penyusunan proposal dan penulisan skripsi yang diterbitkan Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.24
E. Sistematika Penelitian
Agar penulisan ini terarah dan lebih sitematis, maka penelitian ini dibagi
menjadi lima bab, dengan sistematika sebagai berikut:
Pada Bab Pertama, berisi pendahuluan yang terdiri dari sub-sub bab yang
menjelaskan pernyataan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat
penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teoritis, metodologi penelitian, dan
sistematika penelitian.
Bab Kedua, berisi gambaran umum tentang civil society serta civil society
dan demokrasi, strategi kelompok kepentingan, yang menjelaskan peran civil
24
13
society terhadap nilai-nilai demokrasi, dan pembahasan tentang kebebasan
beragama.
Bab Ketiga, menjelaskan sejarah singkat berdirinya The Wahid Institute,
visi dan misi, toleransi dan pluralisme di Indonesia.
Bab Keempat, dalam bab ini membahas peran The Wahid Institute dalam
memperjuangkan kebebasan beragama di Indonesia. Terkait kasus rumah ibadah
GKI Taman Yasmin Bogor, Gereja HKBP Filadelfia Bekasi, Syiah di Sampang
Madura, Ahmadiyah di Cikeusik Banten, dan tantangan The Wahid Institute
dalam memperjuangkan kebebasan beragama.
Bab Kelima, bab penutup yang membahas kesimpulan permasalahan yang
14
BAB II
CIVIL SOCIETY
DAN KEBEBASAN BERAGAMA
A. Konsep Civil Society
Secara harfiah, civil society sendiri adalah terjemahan dari istilah latin,
civilis societas. Istilah ini pada awalnya digunakan oleh Cicero (106–43 S.M) –
seorang orator dan pujangga Roma yang hidup pada abad pertama sebelum
Kristus. Menurut Cicero, civil society bisa disebut sebagai sebuah masyarakat
politik (political society) yang memiliki kode hukum sebagai dasar pengakuan
hidup. Konsep Cicero mencakup kondisi masyarakat yang memiliki budaya dan
menganut norma-norma kesopanan tertentu.1
Sejauh ini terdapat beberapa perkembangan penafsiran civil society dari
berbagai pemikir sosial dan politik. Konsep civil society pertama kali dicetuskan
oleh filsuf Yunani, Aristoteles, yang lahir di Semenanjung Kalkidike di Trasia
(Balkan) pada tahun 384 S.M, dan meninggal di Kalkis pada tahun 322 S.M.2
Aristoteles menggunakan istilah koinonia politike, atau dalam bahasa Latin
societas civilis, yang berarti masyarakat politik (political society).
Istilah koinonia politike ini digunakan oleh Aristoteles untuk
menggambarkan sebuah masyarakat politik dan etis warga negara yang
mempunyai kedudukan sama di depan hukum.3 Selain itu, istilah koinania politike
1
M. Dawam Rahadjo, Masyarakat Madani: Agama, Kelas Menengah, dan Perubahan Sosial (Jakarta: LP3ES, 1999), 137.
2
Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani (Jakarta, UI-Press dan Tintamas, 1986), 115. 3
15
ialah komunitas politik tempat warga terlibat langsung dalam berbagai ajang
ekonomi-politik dan pengambilan keputusan.
Dalam buku Adi Suryadi Culla, Rekonstruksi Civil Society: Wacana dan
Aksi Ornop di Indonesia, konsep civil society kemudian dikembangkan oleh
Thomas Hobbes (1588-1679)4 dan John Locke (1632-1704).5 Menurut Hobbes,
civil society yang identik dengan negara merupakan perwujudan dari kekuasaan
absolut. Civil society hadir untuk meredam konflik agar tidak terjadi chaos dan
tindakan anarki. Civil society berfungsi untuk mengontrol dan mengawasi perilaku
politik warga yang memiliki kekuasaan mutlak. Sedangkan menurut John Locke,
civil society berfungsi untuk menjaga kebebasan warga dan melindungi hak-hak
milik individu.6
Pemahaman civil society merupakan sebuah gagasan yang menjadi interest
para filsuf pencerahan. Salah satu tokohnya adalah Adam Ferguson (1776), filsuf
dari Skotlandia, yang memahami civil society sebagai ”sebuah visi etis dalam
berkehidupan bermasyarakat.” Ferguson menggunakan istilah ini untuk
4
Thomas Hobbes adalah pemikir politik abad ke XVII, gagasanya berkaitan dengan negara dan kekuasaan. Hobbes mengibaratkan negara sebagai Leviathan, atau sejenis monster yang ganas dan memberi rasa takut kepada siapa yang melanggar hukum, Leviatan tidak segan-segan untuk menjatuhi vonis hukuman mati. Dalam Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Masyarakat dan Kekuasaan (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004), 165.
5
John Locke adalah seorang pemikir politik dengan gagasan besarnya adalah kemerdekaan individu serta Hak Asasi Manusia (HAM) yang di tulis dalam karyanya Two Treatises of Government. Karyanya tersebut menjadi rujukan wacana politik demokrasi di Amerika. Locke juga sebagai peletak dasar negara konstitusional dan penganjur konstitusional di zaman modern. Locke sendiri dilahirkan 29 Agustus 1632 di Wrington, sebuah desa di Somerset Utara, Inggris Barat. Dalam Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Masyarakat dan Kekuasaan, 181-182.
6
16
mengantisipasi perubahan sosial yang diakibatkan oleh revolusi industri dan
munculya kapitalisme.
M. A.S Hikam dalam buku Islam, Demokrasi, dan Pemberdayaan Civil
Society, mengutip pendapat Ferguson yang mengatakan bahwa munculnya
ekonomi pasar dapat melunturkan tanggung jawab publik terhadap sesama warga
negara karena kecenderungan pemuasan kepentingan pribadi. Oleh karena itu,
civil society dapat menghalangi munculnya tindakan kesewenangan pemerintah.
Dalam civil society itulah solidaritas bisa muncul yang diilhami oleh sikap saling
menyayangi antar sesama warga.7
Di dalam buku tersebut, konsep civil society mengalami perubahan pada
paruh akhir abad ke 18. Menurut Thomas Paine (1737-1809), seorang aktivis
liberal, perlu adanya pemisahan antara civil society dan negara. Peran negara
harus dibatasi sekecil-kecilnya karena keberadaannya merupakan keniscayaan
yang buruk (necessary evil) belaka. Civil society merupakan ruang dimana dapat
mengembangkan kepribadiannya secara bebas dan memberikan peluang bagi
pemuasan kepentingannya. Karena itu, civil society berperan terhadap kontrol
negara.8
Berbeda pandangan dengan Thomas Paine, dalam buku Masyarakat
Madani: Agama, Kelas Menengah, dan Perubahan Sosial karya M Dawam Rahadjo,
Hegel (1770-1831), seorang pemikir sosial politik Jerman, berpendapat bahwa
civil society sesungguhnya merupakan produk masyarakat borjuis. Hegel
membagi kehidupan modern ini menjadi tiga wilayah, yakni keluarga, civil
7
Muhammad A.S. Hikam, Islam, Demokratisasi, dan Pemberdayaan Civil Society, 115. 8
17
society, dan negara. Keluarga merupakan ruang pribadi yang ditandai hubungan
harmonis antar individu dan menjadi tempat sosialisasi pribadi anggota
masyarakat.
Kemudian civil society dimaknai sebagai lokasi pemenuhan kepentingan
ekonomi baik individu maupun kelompok. Sementara negara merupakan
representasi dari ide universal yang melindungi kepentingan politik warga.
Dengan demikian negara mempunyai hak intervensi kepada civil society, karena
civil society mengandung potensi konflik. Civil society tidak bisa dilepaskan dari
kontrol negara.9
Dalam buku itu M. Dawam Rahadjo mengutip pendapat Karl Marx10, bahwa
civil society adalah sebagai masyarakat borjuis. Bagi Marx, masyarakat borjuis
mencerminkan kepemilikan yang bermuatan materialisme, dimana setiap orang
mementingkan dirinya sendiri, dan setiap orang berjuang melawan yang lainnya.11
Konsepsi lain ditemukan dalam buku Adi Suryadi Culla, Rekonstruksi Civil
Society; Wacana dan Aksi Ornop di Indonesia, ia mengutip pendapat Tocqueville
(1805-1859) bahwa civil society bukan subordinat negara. Civil society
merupakan suatu entitas yang keberadaannya dapat menerobos batas-batas kelas,
9
Adi Suryadi Culla, Rekonstruksi Civil Society: Wacana dan Aksi Ornop di Indonesia, 48.
10
Karl Mark adalah tokoh pemikir sosial politik dari Jerman. Karya yang dihasilakan Mark selama bertahun-tahun hidupnya di London adalah Das Kapital sebagai karya besar (magnum opus). Dalam karyanya tersebut, sebagai usaha Mark untuk memberikan analisa sejarah dan dinamikan masyarakat kapitalis. Mark juga mengkritik toeri ortodoksi Adam Smith dan david Ricardo tentang ekonomi pasar bebas. Dalam Doyle Paul Johnson dan diterjemahkan oleh Robert M.Z Lawang, Teori Sosiologi Klasik dan Modern (Jakarta: PT Gramedia, 1986), 126.
11
18
memiliki kapasitas politik yang cukup tinggi, dan menjadi kekuatan pengimbang
intervensi negara.12
Oleh karena itu, gagasan Tocqueville dijadikan sebagai sumber referensi
gerakan pro-demokrasi di negara Barat maupun di Indonesia. Perkembangan civil
society di Indonesia mulai tumbuh atas kesadaran masyarakat untuk mendirikan
organisasi modern pada abad ke 20. Dengan berdirinya organisasi Budi Utomo
(1908), Syarikat Dagang Islam (SDI) (1911), Muhammadiyah (1912), dan
organisasi lainnya. Hal ini menandakan, civil society di Indonesia sudah
berkembang pada masa kolonialisme Belanda.13
Di Indonesia, istilah civil society atau pun masyarakat sipil menggunakan
istilah masyarakat madani–yang dimunculkan oleh Dato Anwar Ibrahim, wakil
P.M. Malaysia. Istilah masyarakat madani sebagai padanan dari civil society,
ketika itu disampaikan oleh Dato Anwar Ibrahim pada acara Forum Istiqlal 26
September 1995. Masyarakat madani ia kaitkan dengan konsep kota ilahi, kota
peradaban, atau masyarakat kota, yang tersentuh oleh peradaban maju.
Kemudian istilah masyarakat madani dipopulerkan cendikiawan muslim seperti
Nurcholis Madjid atau (Cak Nur) dan Dawam Rahadjo. 14
Guna memperkaya dan menyempurnakan makna konsep civil society, maka
penggalian elemen-elemen dasarnya dari berbagai perspektif seperti tradisi
pemikiran, filsafat, adat istiadat masyarakat, dan agama, demi relevansi harus
terus dilakukan. Salah satu elemen dasar yang sangat penting dalam pembentukan
12
19
civil society adalah agama, yang dalam hal ini adalah Islam sebagai agama
mayoritas. Islam merupakan sistem nilai yang harus digali secara menyeluruh.
Secara demografis, Islam merupakan agama mayoritas penduduk Indonesia. Islam
memiliki energi doktrinal dalam mempengaruhi perilaku para pemeluknya.15
Banyak kalangan para pemikir, cendikiawan dan pengamat politik muslim
yang berpendapat tentang kesesuaian ajaran-ajaran Islam dengan masyarakat
madani (civil society). Hal ini secara aktual pernah diterapkan oleh Nabi
Muhammad sendiri dalam perwujudan masyarakat madani itu. Ketika beliau
mendirikan dan memimpin negara-kota Madinah.16
Mitsaq Al-Madinah (Piagama Madinah) adalah dokumen politik pertama
dalam sejarah umat manusia, yang meletakan dasar-dasar pluralisme dan toleransi.
Dalam piagam tersebut ditetapkan adanya pengakuan kepada semua penduduk
Madinah, tanpa memandang perbedaan agama dan suku, sebagai anggota umat
yang tunggal (ummatan wahidah) dengan hak-hak dan kewajiban sama.
Menurut Cak Nur, Madinah merupakan suatu model bangunan masyarakat
nasional modern yang lebih baik dari yang diimajinasikan, dan menjadi contoh
sebenarnya bagi nasionalisme, patriotisme serta egaliter. Oleh karena itu, usaha
umat Islam di zaman modern ini menjadikan Madinah sebagai rujukan masyarakat
madani.17
15
Asrori S. Karni, Civil Society dan Ummah; Sintesa Diskursif “Rumah Demokrasi”, 6. 16
Azyumardi Azra, Menuju Masyarakat Madani, Gagasan, Fakta, dan Tantangan,
(Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 1999),3. 17 Nurcholish Madjid, “Asas
20
Cak Nur berpendapat, sebagai suri tauladan umat manusia, Nabi
Muhammad telah memberikan contoh bagaimana mewujudkan semangat
ketuhanan Yang Maha Esa yang berhubungan langsung dengan sosial,
keagamaan, dan politik yang berjiwa kemajemukan (plural) di dalam masyarakat
Madinah. Nabi Muhammad SAW telah mewariskan model bagaimana mengatur
masyarakat dan menyelesaikan persoalan umat manusia.18
Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang kharismatik yang disegani
banyak orang, baik kalangan awam, intelektual, akademisi, serta para tokoh elit
politik. Nabi Muhammad SAW adalah sosok politikus berkelas dan diplomat
ulung yang tidak tertandingi.19
Menurut Din Syamsudin, Madinah merupakan kota yang berhubungan erat dengan kata “tamadun” yaitu berperadaban. Madinah merupakan lambang
peradaban yang kosmopolit, bukan suatu “din” atau agama. Dengan demikian,
cita-cita Islam ialah terwujudnya suatu masyarakat yang berperadaban tinggi. Hal
ini juga pernah dijelaskan oleh Al-Farabi mengajukan teori tentang “masyarakat
utama” (al-madinah al-fadilah). Suatu masyarakat yang berorientasi menegakan
persatuan dan kesatuan. Al-Farabi menekankan perlunya kolektifitas sosial dan
etika kolektif dalam mencapai kebahagiaan yang hakiki. 20
Dengan demikian, masyarakat madani bakal terwujud jika terdapat cukup
semangat keterbukaan dalam masyarakat. Keterbukaan adalah konsekuensi dari
18 Nurcholish Madjid, “Mewujudkan Masyarakat Madani,”
Titik-temu, Jurnal Dialaog Peradaban, Vol. 1, No. 2 Januari-Juni 2009, (Jakarta: Nurcholish Madjid Society (NCMS), 2009), 16.
19
Khalil Abdul Karim, Negara Madinah: Politik Penaklukan Masyarakat Arab
(Yogyakrta: LKiS, 2005), x. 20
21
prikemanusiaan, suatu pandangan yang melihat sesama manusia secara positif dan
optimis. Yaitu, pandangan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik.21
Oleh karena itu, civil society merupakan perkumpulan masyarakat politik,
yang taat kepada hukum, menjalin persaudaaran, toleransi, dan menjamin
kebebasan beragama. Tidak hanya itu, civil society sebagai penegak demokrasi,
penegakan terhadap hukum yang tidak adil dan melindungi apapun bentuk
kekerasan.
Dalam hal ini, melaksanakan undang-undang dan melindungi setiap warga
negara merupakan suatu keharusan yang harus dilaksanakan oleh siapa pun begitu
juga negara. Demi mewujudkan masyarakat yang berperadaban serta menjunjung
nilai-nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan keadilan.
Dalam praktiknya, perjuangan yang dilakukan oleh civil society sering
mengalami kendala cukup berat. Misalnya, pemerintahan yang otoriter, adanya
sikap masyarakat yang eklusif terhadap kemajemukan bangsa. Padahal, nilai-nilai
keberagaman merupakan khazanah kekayaan Indonesia yang tidak dimiliki oleh
bangsa lain.
Untuk mewujudkan perjuangan civil society dalam menegakan demokrasi
dan kebebasan beragama di Indonesia, maka menggunakan strategi yang
dilakukan oleh kelompok kepentingan. Pertama, melalui pendekatan terhadap
penegak aparat hukum. Kedua, pendekatan terhadap pemerintah atau negara.
21
22
Ketiga, pendekatan dalam hukum. Keempat, pendekatan ke pubik, kelima,
demonstrasi, dan keenam, menyuarakan protes.22
Selama ini, strategi kelompok kepentingan masih digunakan oleh civil
society dalam melakukan pembelaan terhadap kelompok minoritas, kebebasan
beragama, nilai-nilai demokrasi, dan penegakan hukum di Indonesia, sehingga
perjuangannya lebih efektif dan dapat memberikan resolusi permasalahan yang
ada.
Akan tetapi strategi kelompok kepentingan tidak akan terlaksana dengan
baik, jika masih ada sikap pemerintah yang tidak adil, kurang bijak, serta sikap
apatis pemerintah terhadap konflik yang terjadi di masyarakat. Setidaknya,
melalui pendekatan strategi kelompok kepentingan ini konflik-konflik kekerasan
yang terjadi di masyarakat dapat berkurang.
B. Civil Society dan Demokrasi
Civil society lebih dari sekedar gerakan pro demokrasi. Civil society
mengacu kepada kehidupan masyarakat yang berkualitas dan bertamadun
(civility).23 Oleh karena itu, Civil society dapat memberikan sumbangan bagi
konsolidasi demokrasi, karena dapat menjembatani antara pemerintah dan
masyarakat. Civil society dapat menstabilkan harapan, mempermudah komunikasi
antara masyarakat dan pemerintah.
Hal ini akan membuat masyarakat tidak terasingkan dengan sistem
pemerintah yang ada, dan berfungsi sebagai wahana untuk melawan pemerintahan
22
Michael G. Roskin, Political Science an Introduction (United State: Pearson, 2003), 188–191.
23
23
yang tirani. Kemudian memperkuat norma-norma sipil bagi prilaku warga, yakni
menekankan pentingnya toleransi, kebersamaan, dan keikutsertaan dalam
menghadapi persoalan bangsa.24
Bahkan, menurut para pakar sosial politik modern, civil society bertujuan
untuk menolak kesewenangan kekuasaan elite yang mendominasi kekuasaan
negara. Hal ini merupakan manifestasi dari penanaman demokrasi.25 Adapun
pandangan Ernest Gellner, civil society merupakan masyarakat yang terdiri atas
berbagai institusi non-pemerintahan yang cukup kuat untuk mengimbangi
negara.26
Sedangkan menurut kelompok devlopmentalis dan Neo-Tocquevelian
seperti Putnam, civil society adalah asosiasi perantara. Civil society adalah
wilayah antara negara dan struktur keluarga yang dihuni oleh organisasi,
menikmati posisi otonom berhadapan dengan negara, dan memiliki pengaruh
signifikan terhadap kebijakan publik.27 Hal ini tergambar dalam teori sistem
David Easton, civil society merupakan salah satu penekan kebijakan dan sebagai
kontrol terhadap pemerintah yang meyimpang, sehingga output yang dihasilkan
lebih baik.28 Tapi, civil society juga bisa bekerjasama dengan negara, tidak mesti
24
Saiful Mujani, Muslim Demokrat, Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca Orde Baru (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), Yayasan Wakaf Paramadina, dan Freedom Institute, 2007), 20.
25
Fahmi Huwaidy, Demokrasi Oposisi, dan Masyarakat Madani (Bandung: Mizan, 1996), 296.
26
Ernest Gellner, Membangun Masyarakat Sipil Prasyarat Menuju Kebebasan (Bandung: MIZAN Anggota IKAPI, 1995), 6.
27
Fuad Fahrudin, Agama dan Pendidikan Demokrasi Pengalaman Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (Jakarta: Pustaka Alvabet dan Yayasan INSEP, 2006), 40.
28 Muhtar Mas’ud dan Colin MacAndrews,
24
bermusuhan. Ini telah terbukti antara lain di bidang pendidikan, kesehatan dan
lain sebagainnya yang ternyata antara civil society dapat bekerjasama.29
Oleh karena itu, untuk mewujudkan nilai-nilai demokrasi membutuhkan
etika diskursif yang dalam bahasa Habermas, etika diskursif yang menjamin
bahwa setiap orang berhak secara bebas tanpa ancaman dari orang lain. Adanya
tujuan deliberasi publik atau musyawarah adalah konsensus atau mufakat yang
diterima secara ikhlas oleh semua partisipan masyarakat.30
Konsep civil society meneguhkan gerakan sosio-kultural. Dalam paham civil
society, rakyat bukan subordinat negara, melainkan partner yang setara. Begitu
juga dalam Islam, tidak boleh ada lembaga agama yang memaksakan
konsep-konsepnya kepada para pengikutnya, atas dasar hak satu kelompok.31 Umat Islam
merupakan salah satu elemen bangsa yang memiliki peran terhadap nilai-nilai
demokrasi di Indonesia. Dukungan organisasi-organisasi besar Islam di Indonesia,
seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, terhadap upaya demokratisasi
memiliki peran penting membina umat Islam yang hidup dalam culture yang
toleran terhadap perbedaan, merawat kemajemukan bangsa, dan nilai-nilai
demokrasi.32
Menurut Abdurahman Wahid (Gus Dur), demokratisasi merupakan sesuatu
yang strategis dan fungsional untuk menjawab persoalan bangsa, karena
29
Budhi Munawar-Rachman, Membela Kebebebasan Beragama Percaakapan Tentang Liberalisme, Sekularisme, dan Pluralisme (Jakarta: Democrazy Project, Edisi Digital, Buku 1, 2011), 290.
30Donny Gahral Adian, “Demokrasi dan Kemaslahatan Umum,” dalam Jurnal Titik Temu,
Vol. 5, No. 1, Juli – Desember 2012 (Jakarta: Nurcholis Madjid Society (NCMS), 2012), 45. 31
Komarudin Hidayat dan Gaus AF, Islam, Negara dan Civil Society, Gerakan dan Pemikiran Islam Kontemporer (Jakarta: Paramadina, 2005), xix.
32Sunaryo, “Islam dan Tantangan Demokrasi
25
demokrasi dapat mempersatukan kekuatan-kekuatan bangsa.33 Begitu juga
organisasi Muhammadiyah34 yang memiliki kesamaan karakter dengan
masyarakat madani yang mempunyai keyakinan nilai-nilai ilahiah, demokratis,
berkeadilan, otonom, berkemajuan dan berahlak muliah (al-ahlakul karimah).35
Oleh karena itu, civil society sebagai ujung tombak penegakan demokrasi di
Indonesia. Maka, dengan adanya civil society memungkinkan tumbuhnya diskusi
dan kerja sama memupuk kepercayaan terhadap orang lain, menjalin
persaudaraan, dan kerja sama dengan umat lain adalah modal sosial untuk meretas
kecurigaan, melampaui rasa toleran, dan permusuhan.
Dengan demikian, demokrasi bukan sekadar prosedur kekuasaan, bukan
pula sebagai sistem yang ditentukan oleh mereka yang mayoritas. Demokrasi
adalah pengakuan dan penerimaan terhadap prinsip-prinsip kesetaraan, kebebasan,
toleransi, pluralisme, keadilan, pengakuan terhadap hak-hak umat beragama, hak
hidup, hak untuk memperoleh kekayaan, dan kepada kelompok minoritas.
Namun, perjuangan civil society terhadap demokrasi tidak akan berjalan
dengan mulus. Tentu akan ada hambatan yang dialami civil society dalam
menegakan demokrasi. Misalnya, dengan munculnya kelompok radikal yang
mengancam kebebasan beragama, penegakkan hukum yang dipandang masih
33
Al – Zastrouw, “Gus Dur dan Demokrasi” dalam M. Fajrul Falakh dkk., Membangun Budaya Kerakyatan: Kepemimpinan Gus Dur dan Gerakan Sosial NU (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1997), 136
34
Organisasi Muhammadiyah didirikan pada 18 November 1912, 7 Djulhijjah 1330 H. Oleh Kiyai Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta pada tahun 1868 dengan nama Muhammad Darwis. Ayahnya K.H. Abubakar adalah imam dan khatib masjid besar Kauman Yogyakarta. Sementara Ibunya adalah anak K.H. Ibrahim. Menurut silsilah, keluarga Ahmad Dahlan merupakan keturunan Maulana Malik Ibrahim, seorang wali yang menyebarkan ajaran Islam di Jawa. Dalam Hery Sucipto, KH. Ahmad Dahlan: Sang Pencerah, Pendidik, dan Pendiri Muhammadiyah, (Jakarta: Best Media Utama, 2010),17-18.
35
26
tebang pilih. Lalu, adanya tindakan sikap pemerintah yang otoriter, para
pengambil kebijakan yang melakukan diskriminasi kepada kelompok minoritas di
Indonesia. Bahkan, pemerintah juga melakukan pembiaran terhadap korban
kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini.
D. Kebebasan Beragama
Persoalan utama dari kasus kebebasan beragama di Indonesia adalah
ketidakmampuan pemerintah dalam melindungi hak warga negaranya untuk
beragama sesuai dengan undang-undang. Dalam UUD 1945 Pasal 29 Ayat 1.
Setiap warga negara berhak memeluk agama sesuai dengan kepercayaan yang
dianutnya. Maka perlakuan atas kelompok minoritas seperti Ahmadiyah dan Syiah
secara semena-mena adalah perlakuan yang melanggar konstitusi.36
Kebebasan beragama juga tertuang dalam International Covenant on Civil
Political Right (ICCPR). Indonesia sudah meratifikasi ICCPR melalui
Undang-undang No. 12 Tahun 2005 tentang pengesahan International Covenant on Civil
Political Right (Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil dan Politik), hal
ini tercatat dalam pasal 18 ICCPR.37
36
Zuly Qodir, “Kaum Minoritas dan Kebebasan Beragama di Indonesia,” dalam Elza Peldi
Taher, ed., Merayakan Kebebasan Beragama Bunga Rampai Menyambut 70 Tahun Djohan Effendi (Jakarta: Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), dan Kompas, 2009), 401.
37
UU No. 12 Tahun 2005 Pasal 18: 1. Setiap orang berhak atas kebebasan berfikir, keyakinan dan beragama. Hak ini mencangkup kebebasan kebebasan untuk menetapkan agama atau kepercayaan atas pilihannya sendiri, dan kebebasan, baik secara sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, baik di tempat umum atau tertutup untuk menjalankan agama dan kepercayaannya dalam kegiatan ibadah, pentaatan, pengalaman, dan pengajaran.
2. Tidak seorangpun dapat dipaksa sehingga terganggu kebebasannya untuk menganut atau menetapkan agama atau kepercayaannya sesuai dengan pilihannya.
27
Sementara dalam Islam, prinsip saling menghormati antar para pemeluk
agama yang berbeda sangat ditekankan. Hal ini sesuai dengan firman Allh SWT,
lakum dienukum waliyadin.“Berpegang teguhlah engkau pada agamamu dan aku
berpegang pada agamaku.” (QS. Al-kafirun, ayat 6). Toleransi dalam beragama
merupakan salah satu dasar ajaran Islam.38 Dengan kata lain, prinsip keyakinan
setiap manusia terhadap Tuhannya tidak boleh dipaksakan karena bertentangan
dengan nilai-nilai Islam. Mendengar dan Maha Menghetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256).
Ayat tersebut menjelaskan pentingnya toleransi terhadap pemeluk agama
lain. Bahwa kemajemukan masyarakat sesungguhnya merupakan bagian dari
kehendak Tuhan. Al-Qur’an, kitab suci umat Islam secara amat ekplisit
menyatakan bahwa keanekaragaman budaya, bahasa, ras dan warna kulit
merupakan ciptaan Tuhan dan sekaligus menunjukkan kebesarannya.39 Oleh
karena itu, kemajemukan dan multikulturalisme tidak bisa dipisahkan dari
kehidupan warga negara Indonesia. Dengan demikian, keberagaman sebagai
mozaik kekayaan bangsa yang harus dilestarikan dan dijaga oleh seluruh
masyarakat Indonesia.
38
Harun Nasution dan Bahtiar Effendy, Hak Asasi Manusia dalam Islam (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1987), xi.
39
28
Islam tidak menafikan pluralitas dalam masyarakat. Pluralitas dan
multikulturalisme merupakan sunnahtullah (hukum Tuhan). Hal ini termaktub
dalam kitab suci Al-Qur’an; “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal” (QS. Al-Hujuraat:
13).40 Ayat di atas tersebut, memberikan gambaran kepada umat manusia akan
pentingnya keberagaman dalam kehidupan beragama dan bernegara.
Pasalnya, keberagaman bukanlah sesuatu yang baru bagi kehidupan
berbangsa dan bernegara. Bahkan, nilai-nilai keberagamanpun sudah tertera
sangat jelas dalam “Bhineka Tunggal Ika” dan dilndungi oleh konstitusi negara.
Lebih dari itu, keberagaman menjadi tonggak perekonomian negara ini.
percampuran berbagai etnik ialah mesin yang menghasilkan budaya negeri ini,
itulah makna keberagaman dalam bernegara.
Para ulama telah mencoba merumuskan ajaran Islam kompatibel dengan
nilai-nilai kemanusiaan universal. Dengan merujuk kepada ulama Islam klasik
yang pertama kali menemukan konsep maqasid syari’ah yaitu; Imam Ghazali
(w.1111 M). Ulama besar abad ke-12 tersebut mencoba merumuskan dasar syari’at Islam yang disebut dengan maqasid syari’ah ialah: penghargaan terhadap
hak dasar kebebasan dasar manusia. (al-kulliyah alkhamsyah), yaitu hak hidup
(hifzh nafs), hak kebebebasan beropini dan berekpresi (hifzh al-aql), hak
40
29
kebebasan reproduksi (hifzh al-nasl), hak memilik properti (hifzh mal), dan
terakhir hak untuk beragama (hifzh al-dien).41
Dengan demikian, ajaran Islam sangat menjunjung tinggi nilai toleransi dan
kebebasan beragama dalam kehidupan beragama maupun dalam kehidupan
bernegara. Oleh karena itu, Islam sangat kompatibel dengan konstitusi dan dasar
negara Bangsa Indonesia.
Selama ini, persoalan keragaman dan kebebasan beragama di Indonesia
masih buruk, karena banyak aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok Islam
garis keras seperti Front Pembela Islam (FPI) kepada kelompok minoritas dan
aliran kepercayaan yang dianggap sesat, seperti Ahmadiyah di Cikeusik Banten,
pada 11 Februari 2011 dan Syiah di Sampang Madura, pada 29 Desember 2012.
Oleh karena itu, untuk mewujudkan adanya jaminan kebebasan beragama di
Indonesia dengan berbagai cara. Contohnya, melalui pendekatan ke pemerintah
untuk melaksanakan konstitusi negara serta melindungi setiap warga negara
dalam beragama dan berkeyakinan. Kemudian mengadakan seminar, dialog,
pendidikan kewarganegaraan, toleransi, serta keberagaman kepada masyarakat
umum dan kepada kelompok radikal yang mengancam kebebasan beragama di
Indonesia.
Semestinya negara menjamin warga negara dalam memeluk kepercayaan,
dan beribadah berdasarkan UUD 1945. Dalam ajaran Islam, agama tidak berhak
memaksa seseorang dalam memeluk kepercayaan agama tertentu. Dengan
41Siti Musdah Mulia, “Menuju Kebebasan Beragama di Indonesia.” dalam Abdul Hakim,
dan Yudi Latif, ed., Bayang-bayang Fanatisme Esai-esai untuk Mengenang Nurcholish Madjid
30
demikian, kebebasan beragama, toleransi dan multikulturalisme merupakan
sunatullah yang harus di jaga oleh setiap warga negara Indonesia.
Akhirnya, sebagai kesimpulan dari bab ini, bahwa salah satu elemen dasar
dalam pembentukan civil society (masyarakat politik) adalah agama. Dan civil
society hanya akan terwujud bilamana adanya sikap keterbukaan (inklusivitas)
dalam masyarakat. Oleh karena itu, agar konsep masyarakat madani bisa
ditegakkan, maka sikap toleransi dalam beragama menjadi hal yang diperlukan.
Masyarakat beragama harus menyadari jika keberagaman merupakan salah satu
31
BAB III
THE WAHID INSTITUTE DAN PLURALISME DI INDONESIA
A. Sejarah Singkat The Wahid Institute
Berdirinya The Wahid Institute terinspirasi dari sosok Abdurrahman Wahid
(Gus Dur) sebagai tokoh pluralisme dan Bapak bangsa. Maka, dalam pembahasan
ini akan mendeskripsikan tentang pemikiran Gus Dur, sejarah singkat berdirinya
The Wahid Institute, pluralisme dan toleransi di Indonesia.
Gus Dur lahir pada tanggal 4 Agustus 1940, di Denanyar Jombang Jawa
Timur. Ia anak pertama dari enam bersaudara. Ayahnya bernama K.H. Wahid
Hasyim, putra K.H. Hasyim Asyari,1 pendiri pondok pesantren Tebu Ireng dan
pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.
Sedangkan Ibunya bernama Hj. Solehah, juga putri tokoh besar NU, K.H. Bisri
Syamsuri pendiri pondok pesantren Jombang dan Ro’is Am Syuriah Pengurus
Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) setelah K.H. Abdul Wahab.2
NU sebagai organisasi keagamaan mempunyai kontribusi terhadap
perkembangan sosial keagamaan dan negara. Perkembangan NU ditandai dengan
lahirnya tokoh-tokoh NU salah satunya, Gus Dur cucu dari Hadratussyaikh
1
Kiai Hasyim Asyari dilahirkan di Jombang pada bulan Februari1871 dan meninggal di Jombang pada bulan Juli 1947. Dia adalah adalah pendiri NU pada tahun 1926. Keluarga Hasyim
Asy’ari adalah keturunan Raja Brawijaya VI, yang berkuasa di Jawa pada abad XVI M, dan terkenal sebagai raja terakhir kerajaan Hindu-Budha yang tersebasar di Jawa, Kerajaan Majapahit. Bahkan yang lebih penting lagi, tokoh lagendaris Jaka Tinggkir, putera Brawijaya VI, dianggap sebagai orang yang memperkenalkan agama Islam di daerah pantai timur laut pulau Jawa. Lihat Greg Barton, Biografi Gus Dur The Authorized Biografi of Abdurrahman Wahid (Yogyakarta; LKiS Group, 2002), 26-27.
2
32
Hasyim Asyar’i, pendiri NU.3 Organisasi kegamaan tersebut memiliki doktrinan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja),4
Gus Dur adalah mantan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ia
mampu mengubah wajah NU yang bersifat ekslusif, menjadi inklusif, modern,
dan moderat. Semangat memperjuangkan nilai-nilai demokratis dalam kehidupan
politik nasional.5 Karenanya, suatu keharusan bersama memperjuangkan
kebebasan dan menyempurnakan demokrasi di negeri ini.6
Selain berkiprah di NU, Gus Dur membentuk juga suatu organisasi Forum
Demokrasi (FORDEM) pada Maret 1991, dan Ia terpilih sebagai juru bicaranya.
Ketenaran dan pengaruh Gus Dur membuat organisasi baru ini mendapatkan
kepercayaan publik. Forum Demokrasi didirikan untuk memberikan kekuatan
pengimbang terhadap lembaga-lembaga seperti Ikatan Cendikiawan Muslim
Indonesia (ICMI) yang mendorong tumbuhnya pemikiran sektarianisme.
Organsisai Forum Demokrasi merupakan kelompok kecil yang anggotanya bukan
3
NU: Organisasi keagamaan yang didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 (16 Radjab 1344
H.) dalam sebuah rapat yang dihadiri oleh K.H. Hasyim Asya’ri, K.H. Wahab Hasbullah, K.H.
Bisri Sansuri, K.H. Ridwan, K.H. Nawawi, K.H. Doromuntaha (menantu K.H. Cholil Bangkalan). Lihat Nur Khalik Ridwan, NU dan Neoliberalisme dan Harapan Menjelang Satu Abad
(Yogyakarta: LkiS, 2008), 1. 4
Ahlusunnah Wal-Jamaah, sebuah paham keagamaan-yang dikalangan NU–bersumber pada; Al-Qur’an, As–Sunnah, Al-Ijma’ dan Qiyas. Secara Harfiah Ahlusunnah Wal-Jamaah berarti pernganut Sunnah Nabi Muhammd dan Jamaah (sahabat-sahabatnya). Secara ringkas, segolongan pengikkut sunnah (jejak) Rasulullah Alaihi Wassalam yang di dalamnnya melaksanakan ajaran-ajaran beliau berjalan di atas garis yang telah dipraktekan oleh Jamaah (sahabat Nabi). lihat Kacung Marijan, Quo Vadis NU Setelah Kembali ke Khittah 1926 (Jakarta: Erlangga. 1992), 21.
5Ahmad Syafii Maarif dan Muhhamad Najib, “Upaya Memahami Sosok Kontraversial Gus
Dur,” dalam Ahmad Suaedy dan Ulil Absar Abshar Abdalah, ed., Gila Gusdur Wacana Pembaca Abdurrahman Wahid (Yogyakarta: LKiS, 2000), 4.
6
33
hanya dari NU, malah bukan muslim, kebanyakan dari mereka adalah Katolik dan
Protestan.7
Tujuan lain berdirinya Forum Demokrasi ialah untuk memperjuangkan
tegaknya demokrasi pada level kelembagaan maupun kesadaran masyarakat.
Namun secara khusus, berdirinya Forum Demokrasi dilatarbelakangi peristiwa
kasus perusakan kantor tabloid Monitor pada bulan Oktober 1990, kantor tersebut
dirusak massa yang mengatasnamakan Islam gara-gara surveinya yang
menyinggung umat Islam. Menurut Gus Dur, kasus Monitor menunjukan bahwa
beberapa kelompok dalam masyarakat ingin memanipulasi keagamaan dengan
mengedepankan kelompok mereka.8
Pada tahun 1999, Gus Dur diangkat menjadi Presiden Indonesia ke-4.
Pengangkatan ini menunjukan penghargaan dan apresiasi terhadap sosok Gus Dur
sebagai pemikir, aktivis, politisi yang pluralis dan demokratis. Maka, sebagai
seorang demokrat dan pluralis, Gus Dur mengusulkan pencabutan TAP MPRS
No XXV Th 1966 mengenai pelarangan terhadap PKI dan ajaran
Komunisme/Marxisme/Leninisme. TAP ini menjadi landasan perlakuan
diskriminatif terhadap anggota dan aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI).
Perjuangan Gus Dur bukan membela PKI, atau ajaran Komunisme,
Marxisme Leninisme, tetapi membela suatu prinsip demokrasi dan HAM, suatu
prinsip yang telah ditancapkan dengan kokoh dalam UUD 1945 Republik
7
Greg Barton, Biografi Gus Dur The Authorized Biografi of Abdurrahman Wahid, 224– 225.
8
34
Indonesia. Gus Dur menjelaskan bahwa TAP MPRS No XXV Th 1966 tersebut
bertentangan dengan UUD 1945 dan melanggar HAM.9
Pada level praktis dan kebijakan, Gus Dur melakukan pembelaan terhadap
kelompok etnis Tionghoa di Indonesia. Dengan demikian, salah satu keputusan
politik Gus Dur pada Januari 2000, mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres)
Nomor 6 Tahun 2000, isinya mencabut Inpres No 14/1967 yang dibuat Suharto
tentang agama, kepercayaan, adat istiadat Cina.10
Selain melakukan tindakan aktif, Gus Dur banyak memberikan kontribusi
pemikiran, salah satunya mengenai “pribumisasi Islam”. Gagasan ini di
latarbelakangi dengan keinginan kuat Gus Dur dalam mempertemukan budaya
(adat) dengan norma Islam (syariah).11 Ide besar gagasan Gus Dur mengenai
“pribumi Islam” adalah agar umat Islam Indonesia mempunyai pandangan luas,
menjungjung tinggi toleransi, menghargai orang lain dan kebebasan beragama di
Indonesia.
Munculnya gagasan “pribumisasi Islam” yang membuatnya dikenal sebagai
pejuang humanis. Wawasan humanisme ini membuat Gus Dur tidak lelah
berbicara tentang bahaya ancaman kekerasan politik yang bisa saja
mengatasnamakan agama. Ia juga berbicara penting sikap non-sektarian dan
toleransi antar agama di dalam sebuah bangsa yang heterogen, semisal Indonesia.