BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
B. Pluralisme
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan keberagaman. Bentuk keberagaman itu antara lain: budaya, etnis, ras, bahasa, dan agama yang mengungkapkan bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang sangat beragam. Keberagaman itu diungkapkan melalui Bhineka Tunggal Ika yang berarti bahwa biar berebda-beda, namun tetap satu. Hal ini dijadikan semboyan Negara Indonesia sebagai dasar yang mencerminkan keberagaman seperti disinggung diatas.
Menurut Khalik Ridwan (2001: 77), pengertian Pluralisme adalah sebuah paham yang menegaskan bahwa hanya ada satu fakta kemanusiaan, yakni keragaman heterogenitas dan kemajuan itu sendiri. Oleh karena itu, ketika disebut pluralisme maka penegasannya adalah diakuinya wacana kelompok, individu, komunitas, sekte dan segala macam bentuk perbedaan sebagai fakta yang harus diterima dan dipelihara. Dalam pluralisme, keberbedaan diakui adanya, dan karenannya bukan ingin dilebur dan disatukan dalam bentuk homogenitas, kesatuan, tunggal, mono, dan ika.
Dalam lingkup masyarakat yang plural ini seringkali yang terjadi dan terlihat bahwa tidak adanya keseimbangan yang katanya “masyarakat plural” dengan realitas kehidupan yang terjadi sehingga keduanya tidak sinkron antara kemajemukan itu sendiri dengan fakta yang sebenarnya terjadi. Dalam buku Prospek Pluralisme Agama Indonesia, Aris Angwarmase dalam Mety dan Anwar (2009: 9-10) mengutip pendapat Nurcholis Madjid menjelaskan bahwa pluralisme
bukan hanya sebagai konsep pemahaman tentang kemajemukan (etnis, bahasa, budaya, warna kulit dan agama) “kita berbeda, titik”, atau sebagai “kebaikan yang negativisme” akan tetapi pluralisme harus dipahami sebagai “pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban dengan menerima kemajemukan itu dan berbuat sebaik mungkin bagi sesama.
Maka berdasarkan pengertian pluralisme di atas, Nur Khalik Ridwan (2001: 78-92) dan Aris Angwarmase dalam Mety dan Anwar, (2009: 11-14) yang mengutip pendapat Nurcholis Madjid dalam buku Prospek Pluralisme Agama di Indonesia merumuskan beberapa syarat untuk menerapkan arti pluralisme itu sendiri. Pertama-tama pluralisme harus dipahami sebagai kemajemukan bukan sebuah absolutisme yang tidak pernah atau tidak mengakui keberagaman dan keberadaan orang lain. Dalam artian bahwa tidak ada pengakuan terhadap orang lain, agama lain, kelompok lain, dan entitas lain; karena menurut pengertian ini bahwa pembenaran hanya pada diri sendiri.
Namun yang sering terjadi adalah adanya truth claim atau menganggap pandangan dialah yang paling benar. Truth claim pada diri seseorang akan membuat dirinya sendiri merasa yang paling benar sehingga hal ini menimbulkan tasfir atau paham terhadap orang lain tidak benar (negatif). Dalam konteks kemajemukan, pengakuan terhadap orang lain menjadi hal yang sangat penting, baik itu terhadap sebuah kelompok, etnis, agama, budaya, bahasa dan lainnya merupakan masyarakat yang plural dan beragam.
Dengan demikian, absolutisme dalam pluralisme ketika berhadapan dengan orang lain harus dibongkar, ditundukkan dan diganti dengan tidak mutlak
berdasarkan sudut pandang seseorang. Dengan kata lain bahwa apa yang diyakini oleh seseorang belum tentu sama dengan orang lain. Misalkan saja, kebenaran yang saya yakini belum tentu sama dengan orang lain yang berbeda dari diri saya sendiri. Syarat yang kedua adalah adanya relativisme dalam pemahaman, penafsiran, dan artikulasi terhadap orang lain. Setiap orang mempunyai hak atas pemahaman, penafsiran bahkan mengartikan apa yang diyakininya. Dengan adanya hal yang semacam ini maka pandangan seseorang tentu relatif menurut apa yang diyakininya benar sejauh itu menyangkut hal-hal yang bersifat positif. Jika pandangan yang demikian hanya bersifat pada pribadi dan bukan berdasarkan persepsi masyakat, keadaan setempat dan juga budaya sebuah kelompok tentu akan menimbulkan ketidaksesuaian atau ketidakcocokan. Oleh karenanya pluralisme harus menegaskan bahwa setiap masalah, persoalan, kasus dan pemecahannya bahkan terhadap “kebenaran” itu harus ditentukan bersama agar tidak adanya perselisihan atau salah paham antar sesama.
Menurut Ridwan (2001: 83), pemahaman manusia yang dianggap relatif itu perlu adanya prosedur-prosedur yang harus disepakati bersama agar tidak terjadi: selisih paham, penafsiran, dan juga salah mengartikan tentang kemajemukan itu sendiri. Ridwan menyebut prosedur-prosedur tersebut sebagai “Absolutisme-konteks”. Maksudnya dari absolutisme-konteks ini bahwa pemahaman dan penafsiran seseorang akan terus berkembang dan akan menciptakan peluang-peluang penemuan kembali, pengujian ulang sejauh hal itu disepakati bersama dalam momen-momen tertentu.
Tidak berarti bahwa kita dibenarkan membiarkan relativisme tak terkendali, sehingga tidak ada keberanian dan tidak ada pendirian masalah yang kita temukan dan kita yakini kebenarannya untuk saat dan tempat itu, sementara harus dilaksanakan dengan tulus dan sungguh, kita harus pula tetap terbuka untuk setiap perbaikan dan kemajuan…bahwa kaum beriman adalah mereka yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan mereka yang pada hari esok adalah mereka yang lebih baik daripada hari ini.
Pernyataan ini ingin menegaskan bawha relativisme mengandung kebenaran yang masih punya kemungkinan untuk diperbaiki maka pernyataan tersebut di atas tentu tidaklah absolut atau sewaktu-waktu akan berubah (tidak mutlak) karena terus diuji dan dikaji ulang terus-menerus.
Syarat yang ketiga adalah adanya bentuk toleransi. Pluralisme mensyaratkan adanya bentuk toleransi dalam bersikap terhadap setiap orang baik itu kelompok, etnis maupun komunitas ketika sedang berhadapan dengan orang lain agar saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Bentuk toleransi yang demikian harus ditanamkan bagi semua orang agar setiap orang saling menghargai nilai-nilai kemajemukan dan keberagaman orang lain sebagaimana orang itu sendiri juga perlu untuk dihargai dan dihormati oleh orang lain. Manusia adalah makhluk sosial yang hidup ditengah-tengah orang lain sebagaimana juga orang lain hidup ditengah-tengah banyak orang. Jadi manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi serta mau menghargai dan menghormati sesama.
Sebelum membahas lebih jauh tentang toleransi maka ada baiknya diketahui lebih dahulu asal usul kata toleransi. Kata toleransi berasal dari bahasa Latin, dari kata kerja tolerare yang memiliki tiga arti pokok, yakni (1) membawa, memegang; (2) menanggung, menyabarkan, menahan, membetahkan, membiarkan; dan (3) memelihara (dengan susah payah), mempertahankan supaya hidup, menghidupi.
Dari kata kerja (tolerare) tersebut toleransi dibagi menjadi dua bentuk kata kerja: kata sifat dan kata benda. Kata sifat disebut tolerans dan kata benda tolerantia. Kata sifat tolerans berarti yang dapat menyebarkan (memgang, menahan); sabar, tahan, betah, dan bersikap membiarkan. Sedangkan kata benda tolerantia berarti: hal yang menyebarkan, menanggung, dan hal yang membetahkan (Aloysius Budi Purnomo 2002: 12-13).
Menurut Ridwan (2001: 88), dalam konteks pluralisme, toleransi harus dijadikan sebagai pegangan dan sandaran dalam bersikap. Toleransi dianggap sebagai salah satu dasar dalam menyikapi kemajemukan. Bisa dibayangkan, jika tidak ada sebuah toleransi untuk saling menghargai dan meghormati satu sama lain maka masyarakat yang plural ini akan hancur dan menimbulkan konfilk yang mungkin akan berkepanjangan. Bagaimana mungkin tanpa toleransi masyarakat yang memiliki keberagaman; suku, budaya, etnis dan agama bisa hidup berdampingan tanpa adanya sebuah toleransi yang menjadi ikatan sebagai tali persaudaraan.
Ridwan (2001: 88) kembali mengutip pendapat Cak Nur yang menjelaskan arti toleransi sebagai berikut:
Toleransi adalah ajaran dan kewajiban melaksanakan ajaran itu. Jika toleransi menghasilkan adanya tatacara pergaulan yang enak antara berbagai kelompok yang berbeda-beda, maka hasil itu harus dipahami sebagai hikmah dan manfaat dari pelaksanaan suara ajaran yang benar. Hikmah atau manfaat itu sekunder nilainnya, sedangkan yang primer adalah ajaran kebenaran itu sendiri. Maka sebagi yang primer, toleransi harus kita wujudkan dalam masyarakat, sekalipun untuk kelompok tertentu – bisa jadi untuk diri kita sendiri – pelaksanaan toleransi secara konsekuen itu mungkin tidak menghasikan sesuatu yang “enak”.
Dengan demikian, toleransi adalah prinsip atau pegangan sebagai pedoman yang harus diwujudkan dalam hidup sehari-hari dan tidak bisa diganggu gugat dalam pluralisme karena harus. Maka setiap orang perlu untuk menghargai dan menghormati setiap individu lainnya. Dalam konteks pluralisme yang menjadi dasar adalah pertama-tama seseorang harus bersikap bahwa “kebenaran” itu bersifat tidak mutlak. Kedua, pemahannya hanya bersifat relatif artinya bahwa pemahaman yang diyakininya belum tentu diyakini atau sependapat dengan orang lain dan yang terakhir adalah sikap toleransi terhadap orang lain tanpa harus memaksakan kehendak, kemauannya sendiri terhadap orang lain (Ridwan, 2001: 90-91).
Ridwan kembali menegaskan bahwa masalah yang terjadi dalam pluralisme, baik itu dalam wilayah agama maupun masyarakat bukan hanya semata untuk diakui melainkan kemajemukkan itu harus dilihat dan diperlakukan sebagai bentuk positivisme, bukan sebagai negativisme yang seolah-olah kemajemukan itu dijadikan sebagai pemecahbelah karena perbedaan (heterogen) itu sendiri. Menurut Aloysius Budi Purnomo (2002: 20) bahwa semua orang dipanggil untuk hidup bersatu dengan rukun, selaras, dan damai. Justru dengan kemajemukkan itulah yang seharusnya menjadi pondasi atau dasar untuk hidup bersatu dengan rukun, damai dan sebagai pemersatu antarsiapapun tanpa terkecuali.
Menurut Djohan Effendi (2010: 5), pluralisme adalah cara pandang dan pendekatan yang memberi apresiatif dalam menghadapi heterogenitas suatu masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok, entah itu etnik, ras, agama dan sosial yang saling menerima, menghargai dan mendorong partisipasi dalam
mengembangkan budaya tradisional serta kepentingan dalam kehidupan bersama. Memang seharusnyalah pluralisme itu dijadikan sebagai nilai yang positif untuk saling menghargai dan melindungi keberagaman itu dengan cara mau menerima dan bersikap toleran terhadap pihak lain dan juga bagi sesama sesuai dengan makna Bhineka Tunggal Ika.
Sebagai nilai yang menghargai dan melindungi keberagaman itu maka sepantasnyalah semua orang berhak untuk bersikap toleran kepada siapapun tanpa harus memandang latar belakang: suku, budaya, bahasa, etnis, dan agama. Justru dengan keberagaman inilah yang harus dijunjung tinggi dan dijaga dengan baik agar hal semacam ini menjadi sebuah kekayaan bukan sebagai pemecahbelah keberagaman. Selain dijaga, pluralisme harus sungguh-sungguh dihayati dan dimaknai dalam kehidupan sehari-hari guna untuk membangun sebuah dialog yang menjembatani keberagaman sehingga tercipta hubungan yang harmonis, saling menghargai, menghormati serta bersikap terbuka terhadap siapapun berdasarkan keberagaman itu sendiri.
Sikap toleransi inilah yang harus dan sungguh-sungguh dijaga. Tanpa sikap toleransi dan keterbukaan untuk saling menghargai, menghormati maka bisa dilihat dan dipastikan bahwa hal-hal yang tidak diinginkan akan mudah terjadi, bisa saja memicu konflik yang memisahkan. Sikap terbuka dan tanpa diskriminasi akan membawa semua orang untuk saling menghargai dan menghormati keberagaman itu sendiri baik itu budayanya, suku, bahasa, ras, dan agama yang seringkali menjadi pemicu masalah.
Terkait dengan keberagaman Djohan Effendi (2010: 30), menjelaskan bahwa keberagaman adalah penerimaan terhadap nilai dan juga norma yang berasal dari Sang Pencipta sebagai jalan menuju kepada-Nya sebagai Sang Pencipta. Manusia ada bukan karena hidup dalam kesendirian atau hidupnya hanya sebatang kara, melainkan karena kebersamaan yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. Maka sepatutnya keberagaman itu yang menyatukan manusia.