• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

A. Sikap

2. Struktur Sikap

Ada berbagai struktur sikap yang dimiliki oleh seseorang di antaranya; menyangkut pemikiran (kognisi), perasaan (afeksi) dan kecenderungan seseorang dalam bertindak (konasi) terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya. Berdasarkan berbagai pengertian yang sudah dijelaskan maka pengertian sikap dapat dibagi menjadi tiga komponen yakni, (1) komponen cognitive (keyakinan); (2) komponen affective (emosi/perasaan); (3) dan komponen conative atau kehendak. Azwar (2015: 24), mengutip pendapat Kothandapani (dalam Middlebrook, 1974) kembali merumuskan tiga komponen sikap. Komponen

tersebut sebagai komponen kognitif (kepercayaan atau beliefs), komponen emosionl (perasaan), dan komponen prilaku (tindakan).

Azwar (2015: 24) mengutip kembali pendapat Mann (1969), yang menjelaskan bahwa ketiga komponen tersebut yakni komponen kognitif berisi persepsi atau tanggapan, kepercayaan yang dimiliki individu mengenai sesuatu. Komponen afektif merupakan perasaan individu terhadap suatu objek sikap dan menyangkut masalah emosi. Sedangkan komponen konatif atau kehendak merupakan tendensi atau kecenderungan untuk bertindak dan bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu. Maka untuk lebih jelasnya mengenai komponen-komponen sikap tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

a. Komponen Kognitif (cognitive)

Komponen kongnitif merupakan representasi atas apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap. Kepercayaan itu terbentuk berdasarkan pengelihatan dan pengalaman yang dialami, sehingga pengalaman itu membekas dalam ingatannya. Inilah yang akan menjadikan individu atau seseorang memperoleh dasar pengetahuannya mengenai apa yang diharapkan dari objek tertentu.

Terbentuknya sebuah kepercayaan akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai suatu objek tertentu berdasarkan interaksi dan pengalamannya. Pengalaman itu berupa penglihatan, pikiran dan pengalaman yang sebenarnya yang dialami. Tanpa adanya pengalaman ini maka seseorang sulit untuk menghayati atau menemukan makna hidupnya melalui interaksinya.

Selain kepercayaan itu bersal dari pengalaman pribadi dan orang lain, kepercayaan yang paling dominan dalam diri seseorang adalah kepercayaan yang datang dari apa yang dilihat dan apa yang telah diketahui. Berdasarkan apa yang kita lihat itu kemudian membentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau bahkan karekteristik yang muncul terhadap suatu objek. Sedangkan pengalaman dari orang lain yang ikut mempengaruhi kepercayaan seseorang disebut stereotipe. Sterotipe ini merupakan sesuatu yang terpolakan atau sudah terbentuk dalam pikiran seseorang. Sebagai salah satu contoh, pengalaman pribadi seseorang mengenai perilaku orang Kalimantan yang katanya adalah pemakan manusia hingga sekarang. Kepercayaan yang semacam inilah yang sudah membentuk sterotipe atau pola pikiran dalam diri seseorang.

Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa komponen kognitif membentuk kepercayaan seseorang berdasarkan pengalaman pribadi dan juga pengalaman dari orang lain. Tentu saja kepercayaan sebagai komponen kognitif tidak selalu akurat dan benar. Maksudnya adalah dalam hal ini, seseorang atau individu terkadang kepercayaannya justru terbentuk karena ketidaktahuan atau kurangnya informasi yang benar mengenai objek yang dihadapi. Misalnya dalam pergaulan sosial, kita cenderung menilai seseorang berdasarkan latar belekang kehidupan, suku, budaya, bahkan agamanya.

b. Komponen Afektif (affective)

Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional atau berdasarkan perasaan. Dalam pengertian umum biasanya komponen ini

disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang. Perasaan tersebut menyangkut rasa suka dan tidak suka terhadap sesuatu yang menyenangkan atau bahkan yang tidak menyenangkan terhadap objek, orang, situasi, dan mungkin aspek-aspek yang lain, termasuk ide abstrak atau konseptual dan kebijakan sosial (Alexander Sobur, 2013: 360).

Reaksi emosional (seseorang) yang demikian dipengaruhi karena kepercayaan yang berlaku bagi objek yang dimaksud. Sebagai salah satu contoh, apabila setiap orang percaya bahwa pelacuran akan membawa dampak yang buruk dan ancaman bagi kesehatan maka secara otomatis akan terbentuk afeksi atau perasaan negatif terhadap pelacuran. Sebaliknya, apabila kepercayaan terbentuk secara positif bahwa olahraga dapat menyehatkan tubuh maka perasaan atau afeksi seseorang juga akan bersifat positif.

Dengan demikian, komponen afeksi ini menyangkut sebuah kepercayaan yang memunculkan reaksi emosional seseorang terhadap sesuatu, baik itu menyangkut rasa suka dan tidak suka terhadap sesuatu yang menyenangkan atau bahkan yang tidak menyenangkan terhadap objek, orang, situasi, dan aspek-aspek yang lain. Ada banyak hal yang terkait dengan perasaan seseorang dan setiap orang memiliki perasaan tersebut. Misalnya si A suka karakter tokoh Batman sedangkan si B tidak menyukainya. Keduanya memiliki perbedaan dalam hal karakter atau tokoh-tokoh tertentu. Namun yang lebih penting dalam hal ini adalah bagaimana seseorang melihat dengan kacamatanya dan hal itu perlu dihargai sejauh itu bersifat positif dan tidak merugikan orang lain.

c. Komponen Konatif (conative)

Menurut Alexander Sobur (2013: 360), komponen konatif atau kecenderungan kehendak adalah kecenderungan-kecenderungan tindakan seseorang, baik yang bersifat posif maupun negatif, terhadap objek tertetu. Sikap positif seseorang akan membantu atau menolong maupun menyokong sebuah objek. Sikap negatif justru membuat atau merugikan suatu objek tertentu. Sesuatu terlihat positif jika keduanya terlihat bersahabat dengan baik. Namun, jika tidak terlihat bersahabat dengan baik maka merugikan anggota atau bahkan objek itu sendiri. Kedua segi ini merupakan kecenderungan-kecenderungan untuk bertindak atau bereaksi terhadap sesuatu dengan cara tertentu.

Komponen konatif atau perilaku merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang berkaitan dengan objek yang dihadapinya (Azwar, 2015: 27). Kaitan ini didasari dengan kepercayaan dan perasaan terhadap objek tertentu yang banyak dipengaruhi oleh perilaku. Bentuk yang mempengaruhi perilaku seseorang bukan hanya sekedar dengan pengelihatan, melainkan menurut pernyataan dan perkataan yang diucapkan oleh orang lain.

Pendapat tersebut di atas kembali dirumuskan oleh Krech, Cructchfield, dan Ballachey (1962: 140) menjadi tiga komponen tersebut sebagai komponen kognitif (cognitive), komponen perasaan (felling), dan kecenderungan tindakan (action tendency). Komponen kognisi adalah kepercayaan (beliefs) seseorang terhadap objek sikap. Sikap kepercayaan (beliefs) merupakan sikap yang mengandung evaluative beliefs: artinya bahwa hal ini menyangkut meyenangkan atau tidak

menyenangkan, menguntungkan atau tidak menguntungkan, berkualitas baik atau buruk, dan merespon yang sesuai maupun tidak sesuai terhadap objek. Komponen perasaan menunjuk pada emosionalitas terhadap objek. Komponen kecenderungan tindakan adalah kecendrungan-kecenderungan tindakan seseorang, baik positif maupun negatif terhadap sikap objek.

1) Interaksi Komponen-komponen Sikap

Komponen sikap Kognitif, afektif dan Konatif merupakan tiga komponen sikap yang tidak dapat dipisahkan karena memiliki keterkaitan dan interaksi satu dengan yang lain. Ketiga komponen sikap tersebut harus berjalan selaras dan konsisten. Berbagai para ahli psikologi khususnya para ahli psikologi sosial mengemukakan pendapat mereka tentang ketiga komponen sikap tersebut. Mereka beranggapan bahwa ketiga komponen sikap ini hendaknya selaras dan konsisten agar ketiganya berjalan dengan seragam atau seirama dan saling melengkapi antara komponen sikap yang satu dengan komponen sikap yang lainnya. Apabila ketiga komponen sikap ini tidak konsisten satu sama lain maka akan terjadi ketidakselarasan (Azwar, 2015: 28).

Para ahli mengatakan bahwa ketiga-tiganya harus dapat berjalan secara konsisten jika ketiga komponen sikap ini tidak dapat berjalan seirama atau sejalan maka akan mengakibatkan perubahan sikap sedemikian rupa. Dalam ketiga komponen sikap terdapat perbedaan tingkatan atau kadarnya sendiri sesuai dengan kinerja dari setiap komponen begitu juga dengan perbedaan kompleksitasnya.

Dokumen terkait