• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Diplomasi Kuliner

1. Pluralitas Masyarakat Amerika Serikat

Amerika Serikat merupakan bangsa besar yang terdiri dari, bukan lagi beragam suku bangsa, akan tetapi beragam bangsa-bangsa. Keragaman bangsa yang ada dalam masyarakat Amerika tidak terlepas dari sejarah terbentuknya bangsa Amerika. Sejarah kedatangan bangsa-bangsa di Amerika bermula dari migrasi bangsa Asia melalui selat Bering yang membeku pada 28000 SM menuju Amerika Utara.

Kemudian dilanjutkan dengan kedatangan bangsa-bangsa Eropa, seperti mendaratnya kapal Spanyol yang dipimpin Crhistopher Colombus pada tahun 1492, atau kedatangan bangsa lain seperti Perancis, Portugal, Inggris, Irlandia, dan Jerman.

Kedatangan bangsa-bangsa tersebut di Amerika tentunya membawa berbagai macam nilai budaya dari kebudayaan daerah asalnya.

Berbagai macam nilai-nilai tersebut kemudian berakulturasi dan membentuk suatu nilai budaya baru.

Masyarakat Amerika Serikat memiliki kultur yang beragaram. multikultural berkembang di dalam masyarakat Amerika Serikat bersifat antarbudaya etnis yang besar, yaitu budaya antar bangsa. Terdapat empat jenis dan fase perkembangan pendidikan multikultural di Amerika Serikat (Banks, 2004: 4), yaitu: (1) pendidikan yang bersifat segregasi yang memberi hak

58 berbeda antara kulit putih dan kulit berwarna terutama terhadap kualitas pendidikan; (2) menurut konsep Salad Bowl, di mana masing-masing kelompok etnis berdiri sendiri, mereka hidup bersamasama sepanjang yang satu tidak mengganggu kelompok yang lain; (3) konsep melting pot, di dalam konsep ini masing-masing kelompok etnis dengan budayanya sendiri menyadari adanya perbedaan antara sesamanya. Namun dengan menyadari adanya perbedaan-perbedaan tersebut, mereka dapat membina hidup bersama.

Meskipun masing-masing kelompok tersebut mempertahankan bahasa serta unsur-unsur budayanya tetapi apabila perlu unsur-unsur budaya yang berbeda-beda tersebut ditinggalkan demi untuk menciptakan persatuan kehidupan sosial yang berorientasi sebagai warga negara Amerika Serikat.

Kepentingan negara di atas kepentingan kelompok, ras, dan budaya; (4) multikultural melahirkan pandangan baru mengenai praksis pendidikan yang memberikan kesempatan serta penghargaan yang sama terhadap semua anak tanpa membedakan asal usul serta agamanya.

Amerika Serikat merupakan negara yang sangat panjang dalam mencapai sejarah hingga seperti sekarang ini, dimana pengalaman masa lalu itu sangat dominan untuk membentuk sebuah kesadaran nasional yang mana kesadaran tersebut salah

59 satunya adalah gagasan dalam memandang sebuah keberagaman yang ada ditilik dari sejarah bangsa Amerika Serikat terbentuk.

Pluralisme di Amerika bukanlah suatu cita-cita untuk dipakai sebagai titik awal oleh penduduk, tapi fasilitas- fasilitas tersebut penduduk pada akhirnya terdorong menjadi korban saling tidak toleran yang menghancurkan dalam suatu negara yang terlalu besar dan berbeda-beda sehingga setiap segmen penduduk dapat dominan secara efektif.

Kemerdekaan Amerika Serikat pada tahun 1776 telah mengumandangkan janji kebebasan terhadap setiap warga negaranya dan seperti yang telah dikatakan dalam deklarasi kemerdekaan Amerika, bahwa semua orang telah diciptakan sederajat.

Namun arti sebuah kebebasan dan persamaan derajat dalam masyarakat Amerika masih belum nampak dalam kehidupan sehari-hari. Sementara kemerdekaan telah didapatkan oleh orang kulit putih yang lebih dominan di masyarakat Amerika, di lain pihak para budak maupun para warga minoritas belum memiliki kemerdekaan dalam diri mereka karena masih ada belenggu dan pembatasan terhadap budaya masyarakat Amerika yang didominasi oleh orang kulit putih55.

55 Allen F Davis dan D. Harold D. Woodmand, Konflik dan Konsensus dalam sejarah Amerika modern hlm. 253, Gajah Mada University Press

60 Implementasi multikulturalisme di Amerika tidak memakan waktu yang sedikit, namun melalui berbagai proses yang kompleks.

Mulai dari kebudayaan yang bersifat monokulturisme hingga menjadi multikulturisme. Semakin banyak imigran yang datang untuk menetap di Amerika maka budaya mereka menjadi semakin majemuk. Meskipun berasal dari berbagai etnik, namun di Amerika tidak menghilangkan budaya asal, tapi kultur-kultur baru yang ada diakomodir dengan baik dan masing-masing memberikan kontribusi untuk membangun budaya Amerika, sebagai sebuah budaya nasional56.

Bangsa Amerika berusaha memperkuat bangsanya dengan kemajemukan yang mereka miliki. Pada kisaran tahun 1960-an masih ada sebagian masyarakat Amerika yang merasa hak-hak sipilnya belum terpenuhi. Kelompok orang Amerika yang memiliki warna kulit hitam, atau imigran Amerika Latin, dan etnik minoritas lainnya. Atas dasar itulah mereka mengembangkan multikulturisme, yang menekankan penghargaan dan penghormatan terhadap hak-hak minoritas, baik dilihat dari segi etnik, agama, rasatau warna kulit.

Multikulturalisme menjadi kekuatan untuk membangun sebuah bangsa yang maju,dengan berbagai latar belakang, baik itu etnik, budaya, ras, dan bahasa. Tentu saja dengan saling

56Mosaik Amerika Sejarah Etnis sebuag Bangsa, Tomas Sowell, Jakarta.

Pusataka Sinar Harapan.hlm 24

61 menghargai, menghormati, dan toleransi. Meskipun berbeda namun, memiliki satu tujuan yang sama, yaitu mencari kehidupan dan membesarkan nama bangsa di dunia.

Masyarakat Amerika Serikat berhak untuk mendapatkan perlindungan hak dari pemerintah tidak perduli golongannya.

Dalam masyarakat pluralis merupakan hak-hak individu dalam memutuskan kebenaran universalnya masing-masing. Sama halnya dalam menentunkan makanan yang akan di konsumsi. Masyarakat Amerika Serikat tergolong masyarakat yang pola konsumsinya sangat tinggi. Makanan khas Indonesia menjadi salah satu pilihannya. Hadir sebagai makanan dengan citarasa yang begitu khas membuat masyarakat Amerika Serikat menjadi tertarik untuk mencicipinya.

Masyarakat Amerika Serikat juga memiliki selera yang beragam. Dalam hal makanan, sebagian besar kuliner Indonesia yang disajikan di Amerika Serikat memang merupakan kombinasi yang dibawa pendatang asing. Akan tetapi, para koki yang ada di Amerika Serikat memiliki kemampuan yang sangat mengagumkan.

Kuliner-kuliner yang dibawa oleh pendatang tersebut diolah dengan gaya khas Amerika Serikat tetapi tetap menonjolkan khas dari asalnya.

62 2. Budaya Konsumsi Bangsa Amerika Serikat

Amerika Serikat adalah negara besar dengan budaya konsumsi yang tinggi. Masyarakat Amerika Serikat yang merupakan masyarakat multikulturalisme. Dalam budaya konsumsi makanan, masyarakat Amerika Serikat lebih tertarik pada makanan siap saji. Hal ini di karenakan makanan siap saji lebih cenderung menghemat waktu masyarakat Amerika Serikat dalam mengkonsumsi makanan setiap hari.

Bangsa Amerika Serikat menjadi salah satu Negara yang memiliki budaya konsumsi yang tidak sehat dengan lebih tertarik pada makanan siap saji. Semua pola konsumsi baru itu adalah postmodern dalam pengertian bahwa pola-pola itu sebagian besar adalah inovasi baru yang muncul dan berkembang pada parch akhir abad dua puluh. Seperti McDonald, pola-pola itu sebagian besar inovasi Amerika Serikat yang bukan hanya telah mentransformasikan konsumsi di Amerika Serikat, tetapi juga diekspor secara agresif ke sebagian besar belahan dunia lain dimana pola konsumsi itu bahkan berdampak lebih besar terhadap konsumsi.

Di Amerika Serikat pola-pola itu juga berhasil berfungsi sebagai model untuk setting yang berbeda seperti universitas, rumah sakit, museum, bandara, stadion olahraga, dan bahkan gereja. Yang disebut terakhir, yang dianggap melayani konsumen,

63 mulai menengok pada pola konsumsi baru tersebut. Pola konsumsi baru adalah bersifat postmodern dalam pengertiannya yang lebih penting, yakni pola-pola itu sangat rasional atau ter-McDonaldisasi-kan57.

Hal tersebut di karenakan oleh meningkatnya arus globalisasi, termasuk globalisasi pola konsumsi makanan, tidak dapat dibendung, kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan impor, terutama jenis siap santap (fast food) seperti ayam goreng, pizza, hamburger dan lain-lain, telah meningkatkan tajam terutama dikalangan generasi muda dan kelompok masyarakat ekonomi menengah keatas dikota-kota besar, dipihak lain, kecintaan masyarakat terhadap makanan tradisional Indonesia mulai menurun.

Meningkatnya taraf hidup (kesejahteraan) masyarakaat, pengaruh promosi melalui iklan, serta kemudahan informasi, dapat menyebabkan perubahan gaya hidup dan timbulnya kebutuhan psikogenik baru dikalangan masyarakat ekonomi menengah keatas.

Kebutuhan psikogenik (semata-mata timbul karena faktor psikogenik) ini ditandai dengan pemilihan bahan-bahan mkanan yang terlalu mewah, padat kalori dan protein, serta berharga mahal,yang sesungguhn yang tidak diperlukan tubuh untuk hidup sehat.

57Baudrillard, Jean P. Masyarakat Konsumsi (terj). Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2004.

64 Hingga saat ini, masyarakat Amerika Serikat masih tetap menyukai makanan siap saji. Tetapi dengan pola konsumsi yang tinggi, masyarakat Amerika Serikat tetap menyantap makanan-makanan yang unik yang berasal dari penjuru dunia salah satunya makanan Indonesia.

Pada beberapa pameran kuliner yang diadakan Indonesia di Amerika Serikat, mencuri perhatian masyarakat Amerika Serikat.

Hal ini dikarenakan makanan khas Indonesia yang memiliki rempah-rempah yang sangat beragam membuat mereka tertarik mencicipinya.

Dalam konteks kehidupan masyarakat Negara besar, selain di pengaruhi oleh kepribadian seseorang, perlilaku seseorang juga di pengaruhi oleh lingkungan perkotaan dan media massa. Selain itu, media massa, baik cetak maupun elektronik terutama iklan di televisi telah membentuk perilaku seseorang untuk membeli produk. Dalam hal ini, Indonesia harus mampu untuk memrpomosikan makanan khas Indonesia dalam media massa yang ada di Amerika Serikat.

Rasa yang khas dimiliki Indonesia sebagai bekal utama dalam menentukan perjalanan diplomasi kuliner Indonesia.

Amerika Serikat sebagai Negara besar menjadi sasaran utama.

Mulai dari pola makan yang tergolong lebih menyukai makanan siap membuat tantangan bagi Indonesia untuk dapat menyajikan

65 makanan Indonesia yang sangat memiliki cita rasa khas Indonesia tetapi disajikan dalam bentuk yang modern agar masyarakat Amerika Serikat tertarik mencicipinya.

66 BAB IV

WUJUD PENCAPAIAN KEPENTINGAN INDONESIA DI AMERIKA SERIKAT

Dokumen terkait