Menimbang, bahwa dengan diterimanya Eksepsi Tergugat, maka pemeriksaan sengketa perkara ini berakhir dan tidak dilanjutkan lagi, sehingga terhadap pokok perkaranya haruslah dinyatakan tidak diterima; ---
Menimbang, bahwa oleh karena gugatan Penggugat dinyatakan tidak diterima maka Penggugat dinyatakan sebagai pihak yang kalah dan kepadanya berdasarkan Pasal 110 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 haruslah dihukum untuk membayar biaya perkara yang besarnya akan ditetapkan dalam amar putusan di bawah ini ; --- Menimbang, bahwa terhadap perkara ini terdapat pendapat yang berbeda dari Hakim Anggota II yaitu sebagai berikut :--- Menimbang, bahwa maksud gugatan Penggugat adalah sebagaimana telah diuraikan di atas;---
Menimbang, bahwa terhadap gugatan Penggugat tersebut, Tergugat telah mengajukan Jawaban/Sangkalan-nya tertanggal 25 September 2012 tentang Eksepsi adalah sebagai berikut;---
Dalam Eksepsi: ---
Menimbang, bahwa terhadap gugatan Penggugat tersebut, Tergugat telah mengajukan Eksepsi dalam Jawaban/ Sangkalannya yang pada pokoknya tentang kewenangan mengadili (kompetensi absolut) atas objek sengketa dalam perkara a quo;---
Menimbang, bahwa sebelum Hakim Anggota II mempertimbangkan Eksepsi tentang kewenangan mengadili (kompetensi absolut) yang diajukan oleh Tergugat, terlebih dahulu akan mempertimbangkan tentang tenggang waktu (daluarsa) gugatan sebagai berikut ;--- Menimbang, bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 jo Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 jo Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang berbunyi “gugatan dapat diajukan hanya dalam tenggang waktu sembilan puluh hari terhitung sejak saat diterimanya atau diumumkannya Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara ” ;----
Menimbang, bahwa Hakim Anggota II mencermati gugatan bahwa Penggugat telah menerima surat keputusan yang menjadi objek sengketa dalam perkara a quo adalah tertanggal 09 Mei 2012 dan gugatan atas objek sengketa a quo telah didaftarkan oleh Penggugat ataupun Kuasanya ke Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru pada tanggal 06 Agustus 2012 sehingga dengan demikian gugatan Penggugat masih dalam tenggang waktu gugatan sesuai ketentuan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 jo Undang-Undang Nomor 9 Undang-...
Tahun 2004 jo Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara;---
Menimbang, bahwa Hakim Anggota II setelah membaca secara cermat Jawaban/Sangkalan Tergugat atas gugatan Penggugat, ternyata Tergugat mengajukan Eksepsi tentang kewenangan mengadili (kompetensi absolut) atas objek sengketa dalam perkara a quo yang mana pada pokoknya Tergugat menyatakan peradilan tata usaha negara tidak berwenang untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara a quo:---
Menimbang, bahwa atas Eksepsi yang diajukan oleh Tergugat tentang kewenangan mengadili (kompetensi absolut) Hakim Anggota II juga memperhatikan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 dan yang berkaitan deferensiasi atau spesialisasi di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara yakni peradilan khusus dimaksud dengan Pasal 9 A Undang Nomor 9 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara;---
Menimbang, bahwa Tergugat menyatakan objek sengketa a quo merupakan yang menjadi alasan hukum diajukannya Eksepsi tentang kewenangan mengadili (kompetensi absolut) perkara a quo karena objek sengketa a quo mengenai sengketa pajak yang merupakan kewenangan peradilan khusus yaitu Pengadilan Pajak sesuai ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002;---
Menimbang,... ...
Menimbang, bahwa terhadap alasan hukum Tergugat yang telah diuraikakan di atas maka Hakim Anggota II berpendapat bahwa untuk menguji apakah objek sengketa a quo yang diajukan oleh Penggugat dalam perkara a quo merupakan kewenangan peradilan tata usaha negara atau Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru dan/atau peradilan khusus yaitu Pengadilan Pajak seyogyanya terlebih dahulu memperhatikan secara cermat dan seksama peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar atas penerbitan objek sengketa dalam perkara a quo serta surat-surat maupun data-data awal (ad-informandum) yang dianggap ada relevansi-nya dalam hal Hakim Anggota II dapat menilai serta menentukan berdasarkan keyakinannya tentang kewenangan mengadili (kompetensi absolut) atas objek sengketa dalam perkara a quo; ---
Menimbang, bahwa atas pertimbangan yang telah diuraikan di atas maka Hakim Anggota II berkesimpulan dan bertetap dalam menguji kewenangan mengadili (kompetensi absolut) dalam perkara a quo haruslah dipertimbangkan dalam pokok perkara adalah sebagaimana berikut;--- Dalam Pokok Perkara:
Menimbang, bahwa yang menjadi objek sengketa dalam perkara a quo adalah Surat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru (SPKPBM) Nomor. S-293/WBC.03KPP.MP.01/2012 tertanggal 09 Mei 2012 tentang Penyelesaian Hasil Audit Atas Nama PT. Reda Pump Indonesia (sesuai Bukti T-17); ---
Menimbang,... ...
Menimbang, bahwa badan hukum perdata yaitu PT. Reda Pump Indonesia telah berubah nama menjadi PT. Schlumberger Geophysics
Nusantara sesuai akta Notaris No. 89 tertanggal 26 Juli 2011;---
Menimbang, bahwa Hakim Anggota II sebelum menguji kewenangan mengadili (kompetensi absolut) atas objek sengketa yang diajukan oleh Penggugat dalam gugatannya dalam perkara a quo maupun mengenai pokok perkara terlebih dahulu berkewajiban untuk mempertimbangkan tentang syarat formil keputusan tata usaha negara (beschikking) yang diajukan objek sengketa dalam perkara a quo;---
Menimbang, bahwa untuk mengetahui apakah suatu surat keputusan (beschikking) tersebut dapat diajukan sebagai objek sengketa dalam gugatan yang diajukan pada peradilan tata usaha negara harus mengacu pada ketentuan Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang memenuhi unsur-unsur ataupun syarat-syarat sebagai berikut :---
- Penetapan tertulis ;---
- Dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara ;---
- Berisi tindakan hukum ;---
- Bersifat konkrit, individual dan final ;---
- dan menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata;---
Menimbang, bahwa setelah Hakim Anggota II meneliti dan berpendapat surat keputusan tata usaha negara yang menjadi objek sengketa...
sengketa a quo dan dikaitkan dengan ketentuan Pasal 1 angka 9 Undang-Undang No. 51 Tahun 2009 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Peradilan Tata Usaha Negara, maka surat keputusan yang dijadikan objek sengketa dalam perkara a quo baik format, isi maupun akibat hukum yang ditimbulkan disimpulkan telah memenuhi unsur-unsur ataupun syarat-syarat diatur dalam ketentuan Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, sehingga objek sengketa a quo (sesuai Bukti T-17) yang diajukan dalam gugatan oleh Penggugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru yang menurut Hakim Anggota II sudah tepat dan benar;--- Menimbang, bahwa sebelum menguji tentang pokok perkara terlebih dahulu Hakim Anggota II mempertimbangkan Eksepsi yang diajukan dalam Jawaban/Sangkalan Tergugat yaitu mengenai kewenangan mengadili (kompetensi absolut) atas permohonan batal/ tidak sah atas objek sengketa a quo yang diajukan dalam gugatannya;---- Menimbang, bahwa Hakim Anggota II setelah mencermati objek sengketa a quo adalah surat keputusan tata usaha negara (beschikking) tentang penagihan pajak yang telah diatur dalam ketentuan Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 dengan perubahannya yaitu Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak dan tidaklah tepat dan benar;---
Menimbang, bahwa Hakim Anggota II berpendapat tidak beralasan hukum apabila peradilan khusus yaitu Pengadilan Pajak
berwenang... ..
berwenang untuk menguji objek sengketa dalam perkara a quo dan bukanlah termasuk sengketa pajak seperti yang didalilkan oleh Tergugat dan seyogyanya Tergugat lebih cermat maksud, isi dan tujuan disahkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak oleh pembentuk undang-undang sehingga peraturan perundang-undangan yang masih berlaku dalam ruang lingkup Perpajakan dan yang terkait lainnya tidak secara otomatis tidak berlaku dan berubah (dalam arti kasuistis);---
Menimbang, bahwa Hakim Anggota II tidak sependapat sebagaimana yang didalilkan oleh Tergugat dalam Jawaban/ Sangkalannya yang telah dipertimbangkan di atas sehingga permohonan Tergugat kepada Majelis Hakim yang memeriksa perkara a quo agar terlebih dahulu memutus dan/ atau menyatakan sikap Majelis Hakim tentang Eksepsi mengenai kewenangan mengadili (kompetensi absolut) untuk menguji objek sengketa yang diajukan dalam gugatan Penggugat dalam perkara a quo;--- Menimbang, bahwa setelah Hakim Anggota II mencermati peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan objek sengketa a quo serta Hakim Anggota II berdasarkan pengetahuan maupun keyakinannya untuk bertetap pada pendapatnya bahwa peradilan tata usaha negara berwenang untuk menguji objek sengketa dalam perkara a quo dalam pengujiannya baik memeriksa, memutus dan menyelesaikannya;--- Menimbang, bahwa oleh karena sikap Hakim Anggota II yang berkeyakinan atas Eksepsi Tergugat mengenai kewenangan mengadili
(kompetensi... ....
(kompetensi absolut) atas objek sengketa dalam perkara a quo telah terjawab, maka Penggugat sebagai pencari keadilan yang merasa telah dirugikan Tergugat atas penerbitan keputusan tata usaha negara (beschikking) yang menjadi objek sengketa dalam perkara a quo telah memperoleh kepastian hukum tentang yurisdiksi peradilan dan selanjutnya Hakim Anggota II akan mempertimbangkan tentang pokok perkara;---
Menimbang, bahwa oleh karena objek sengketa dalam perkara a quo telah dinyatakan kewenangan peradilan tata usaha negara untuk memeriksa, memutus dan menyelesaikannya maka sangatlah beralasan hukum apabila Hakim Anggota II menolak Eksepsi tentang kewenangan mengadili (kompetensi absolut) yang diajukan oleh Tergugat dalam Jawaban/ Sangkalan-nya;---
Menimbang, bahwa selanjutnya Hakim Anggota II mencermati pokok permasalahan yang harus dipertimbangkan tentang pokok perkara dimana Penggugat dalam gugatannya dalam tuntutannya dalam gugatan dalam perkara a quo sesuai Pasal 53 ayat 1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 jo Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 jo Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dimana keputusan tata usaha negara (beschikking) yang dijadikan dalam objek sengketa a quo dinyatakan batal/tidak sah dengan alasan dalam penerbitannya Tergugat telah melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku dan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik;---
Menimbang,... ...
Menimbang, bahwa dalam pengujian untuk dinyatakan batal/ tidak sah suatu surat keputusan tata usaha negara (beschikking) yang menjadi objek sengketa haruslah terlebih dahulu diuji dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik dari segi kewenangan, prosedur maupun substansi;---
Menimbang, bahwa setelah Hakim Anggota II memperhatikan secara cermat dan menilai Surat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru (SPKPBM) Nomor. S-293/WBC.03KPP.MP.01/2012 tertanggal 09 Mei 2012 tentang Penyelesaian Hasil Audit Atas Nama PT Reda Pump Indonesia atau PT. Schlumberger Geophysics Nusantara yang dijadikan objek sengketa a quo ternyata tidak dapat dipisahkan dengan Surat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru (SPKPBM) Nomor. S-500124/2005 tertanggal 21 Desember 2005 dengan pengertian adalah suatu rangkaian keputusan tata usaha negara (beschikking) yang saling berkaitan satu sama lain;---
Menimbang, bahwa tersebut oleh karena pengujian pada Peradilan Tata Usaha Negara dilakukan menurut keadaan pada waktu keputusan (beschikking) itu ditetapkan, tanpa perlu memperhatikan perbuatan-perbuatan yang terjadi setelah keputusan itu dilaksanakan serta peraturan perundang-undangan setelah keputusan (beschikking) tersebut ditetapkan ;---
Menimbang, bahwa dengan demikian Hakim Anggota II berpendapat landasan hukum terkait objek sengketa dalam perkara
a quo secara ex tunc pengujiannya (toetsingsgronden) baik dari segi kewenangan, prosedur dan substansi harus sesuai peraturan perundang-undangan saat diterbitkannya Surat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru (SPKPBM) Nomor. S-500124/2005 tertanggal 21 Desember 2005;---
Menimbang, bahwa meskipun keputusan tata usaha negara (beschikking) dalam penerbitannya terdapat suatu rangkaian seperti dalam perkara a quo namun tetap tidak melanggar ketentuan perundang-undangan dimana tindakan administrasi dalam penerbitan keputusan tata usaha negara (beschikking) oleh badan/ pejabat tata usaha negara tidak hanya berdasarkan kebijakannya ataupun inisiatif semata tanpa memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta tidak mempertimbangkan akibat hukum/ kerugian yang ditimbulkan bagi seseorang atau badan hukum perdata;---
Menimbang, bahwa Hakim Anggota II dalam menilai terlebih dahulu menguji keabsahan (rechmatigheidtoetsing) penerbitan objek sengketa dalam perkara a quo dimana objek sengketa a quo merupakan suatu penetapan badan atau pejabat tata usaha negara yaitu Direktur Jenderal Bea dan Cukai, dalam hal ini adalah Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru ternyata telah diatur dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan;---
Menimbang, bahwa setelah memperhatikan dalil Penggugat dalam gugatannya, Penggugat terbukti telah mengajukan keberatan atas
objek sengketa dalam perkara a quo yang dikenal dalam ilmu hukum administrasi negara sebagai upaya hukum yang harus ditempuh oleh seseorang atau badan hukum perdata telah diatur dalam ketentuan perundang-undangan sebelum mengajukan gugatan;---
Menimbang, bahwa upaya administratif tersebut di atas juga telah diatur dalam ketentuan Pasal 48 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 jo Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 jo Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara;---
Menimbang, bahwa berdasarkan Pasal 93 ayat (1) dan Pasal 94 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan Penggugat telah mengajukan surat keberatan Nomor. RPI/6029/MS/I/2006 tertanggal 17 Januari 2006 dan selanjutnya atas pengajuan keberatan tersebut ternyata telah diakui oleh Tergugat dalam Jawaban/ Sangkalan-nya yang menegaskan bahwa Tergugat tidak pernah mengeluarkan keputusan atas keberatan Penggugat sesuai dengan surat Tergugat Nomor. S-81/WBC.02/KP.11/2006 dimaksud;---
Menimbang, bahwa oleh karena kealpaan/ tidak menjawab keberatan yang diajukan/ disampaikan secara tertulis kepada Tergugat atas Jawaban Penggugat terkait objek sengketa dalam perkara a quo maka keberatan Penggugat haruslah dianggap hapus oleh karena dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari Tergugat tidak dapat memberikan keputusan atas keberatan tersebut dianggap dikabulkan dengan pengertian istilah keputusan tersebut dalam ilmu hukum administrasi
negara adalah keputusan fiktif-positif (dianggap dikabulkan) badan/ pejabat tata usaha negara;--- Menimbang, bahwa keputusan tata usaha negara (beschikking) yang merupakan keputusan fiktif-positif tersebut yang berkaitan dengan mempertimbangkan dalil-dalil para pihak pokok perkara a quo ternyata juga diatur dalam ketentuan Pasal 93 ayat (4) dan Pasal 94 ayat (4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 dan dipersyaratkan agar jaminan dikembalikan dalam perkara a quo Tergugat diwajibkan untuk melaksanakan pengembalian uang jaminan yang telah disetor oleh Penggugat;--- Menimbang, bahwa berdasarkan atas pengetahuan hakim terkait objek sengketa a quo yaitu Surat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru (SPKPBM) Nomor. S-293/WBC.03KPP.MP.01/2012 tertanggal 09 Mei 2012 tentang Penyelesaian Hasil Audit Atas Nama PT. Reda Pump Indonesia dan/ atau PT. Schluumberger Geophysics Nusantara (sesuai Bukti T-17) yang diterbitkan oleh Tergugat dengan dalil yang dinilai oleh Hakim Anggota II perbuatan melawan hukum (onrechtmatig-overheidgedaad) dimana Tergugat tidak memperhatikan peraturan perundang-undangan yang seyogyanya secara yuridis formal dan administrasi (istilah-onbevoegheid ratione tempori) yang telah diatur dalam aturan perundang-undangan terkait penerbitan objek sengketa dalam perkara a quo;--- Menimbang, bahwa seyogyanya dalam menjalankan urusan pemerintahan haruslah tepat menurut hukum (rechtmatig) atau tepat menurut undang-undang (wetmatig) atau tepat secara fungsional (efektif)
dan/………... ...
dan/ atau berfungsi secara efisien serta keputusan tata usaha negara (beschikking) tersebut tidak bersifat melawan hukum;--- Menimbang, bahwa Hakim Anggota II berkesimpulan tentang dali-dalil maupun alasan-alasan hukum Tergugat dalam Jawaban/ Sangkalan-nya dikaitkan dengan aturan peraturan perundangan-undangan dalam pengujian (toetsingsgronden) secara keseluruhan terkait objek sengketa dalam perkara a quo terdapat kesalahan penafsiran oleh Tergugat serta pengertian atas maksud dan tujuan yang peraturan perundang-undangan yang salah penafsiran sehingga tidak dapat diterapkan dengan yang sebenarnya;---
Menimbang, bahwa berdasarkan uraian pertimbangan di atas serta penalaran hukum (legal reasoning) Hakim Anggota II berkesimpulan terbukti Tergugat dalam menerbitkan keputusan tata usaha negara (beschikking) yang menjadi objek sengketa dalam perkara quo adalah cacad yuridis dan haruslah dinyatakan tidak sah oleh karena didalam hukum normatif yaitu peraturan perundang-undangan tidak pernah mengatur tentang tindakan administrasi tersebut dianggap tidak pernah ada, dan telah terbukti bahwa Tergugat tidak berwenang lagi untuk menerbitkan yang berkaitan dengan objek sengketa dalam perkara a quo;---
Menimbang, bahwa Hakim Anggota II dalam memberikan pertimbangan dan pengujian atas objek sengketa a quo dilakukan secara ex tunc yaitu dengan mengingat dan memperhatikan keadaan fakta-fakta, kerangka keputusan maupun kebijaksanaan dan hukum yang ada
pada………... ...
pada saat itu yaitu dengan mengingat dan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku;--- Menimbang, bahwa berdasarkan keseluruhan pertimbangan hukum tersebut di atas menurut Hakim Anggota II ternyata Tergugat dalam menerbitkan objek sengketa dalam perkara a quo tidak mempunyai kewenangan dan menyatakan tidak sah keputusan tata usaha negara (beschikking) yang menjadi objek sengketa dalam perkara quo;--- Menimbang, bahwa oleh karena Hakim Anggota II menyatakan dalam pertimbangan hukum keputusan tata usaha negara (beschikking) yang menjadi objek sengketa yang bersifat melawan hukum (onrechmatigoverheiddaad) haruslah dinyatakan tidak sah dan tidak dapat diperkenankan (mutlak) dalam suatu negara hukum;--- Menimbang, bahwa sangatlah adil serta beralasan hukum setelah Hakim Anggota II menyatakan tidak sah keputusan tata usaha negara (beschikking) atas objek sengketa dalam perkara a quo dengan demikian seyogyanya gugatan Penggugat dikabulkan sebahagian oleh karena tentang permohonan penundaan yang diajukan oleh Penggugat dinyatakan tidak diterima dan tidak perlu dipertimbangkan sesuai ketentuan Pasal 67 ayat (4) huruf b Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 jo Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 jo Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara ;--- Menimbang, bahwa sangatlah adil dan beralasan hukum apabila Hakim Anggota II mengabulkan gugatan Penggugat serta dinyatakan
tidak………... ...
tidak sah keputusan tata usaha negara (beschikking) yang diterbitkan oleh Tergugat maka sangatlah tepat apabila objek sengketa dalam perkara a quo dianggap tidak berkekuatan hukum sejak putusan ini dibacakan/ diucapkan;---
Menimbang, bahwa Hakim Anggota II berkesimpulan menurut hukum oleh karena dalam perkara ini baik data-data awal (ad-informandum) dan hal-hal lain yang telah diajukan oleh para pihak baik Penggugat maupun Tergugat tidak relevan lagi untuk dipertimbangkan dalam putusan ini, maka oleh karenanya harus dikesampingkan;--- Mengingat, bahwa Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 jo Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 jo Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara serta peraturan perundang-undangan lain yang berkaitan dengan perkara ini;---
M E N G A D I L I :
- Menerima Eksepsi Tergugat ; --- - Menyatakan Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru tidak berwenang mengadili sengketa ini ; --- - Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam sengketa ini sebesar Rp 121.000,- (Seratus Dua Puluh Satu Ribu Rupiah) ; ---
Demikianlah diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru pada hari KAMIS tanggal 18 Oktober 2012 oleh kami DEWI ASIMAH, S.H. sebagai Hakim Ketua Majelis, ADI IRAWAN, S.H. dan PAHALA SHETYA
LUMBANBATU, S.H. masing-masing sebagai Hakim Anggota, putusan mana telah dibacakan dalam persidangan yang dibuka untuk umum pada hari SELASA tanggal 30 Oktober 2012 oleh Majelis Hakim tersebut di atas dengan dibantu oleh NUR SUJUD, S.H. sebagai Panitera Pengganti Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru dengan dihadiri oleh Kuasa Hukum Penggugat dan Kuasa Hukum Tergugat ;---