• Tidak ada hasil yang ditemukan

PUTUSAN Nomor : 33/G/2012/PTUN-Pbr

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PUTUSAN Nomor : 33/G/2012/PTUN-Pbr"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

Nomor : 33/G/2012/PTUN-Pbr

“DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”

Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru yang memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara pada tingkat pertama dengan acara biasa yang dilaksanakan digedung yang telah ditentukan untuk itu terletak di Jalan H.R. Soebrantas KM 9 Pekanbaru telah memutuskan dalam putusannya dalam sengketa antara :---

PT. SCHLUMBERGER GEOPHYSICS NUSANTARA, yang

berkedudukan di 402 Cilandak Commercial Estate, Jalan Cilandak KKO Raya, Jakarta Selatan 12560, yang dalam hal ini diwakili oleh : --- Nama : HARRYSON SUKIANTO;--- Kewarganegaraan : Indonesia;--- Pekerjaaan : Direktur PT. SCHLUMBERGER GEOPHYSICS NUSANTARA ; --- Tempat tinggal : di Taman Palem Lestari C5 No. 71 RT. 009 RW. 012, Cengkareng Barat, Jakarta Barat 11730;--- Dalam hal ini memberi kuasa kepada :--- 1. MOCHAMAD FACHRI, S.H., LL.M.;--- 2. HENDRONOTO SOESABDO, S.H., LL.M.;--- 3. TURANGGA HARLIN, S.H., LL.M.;--- Ketiganya Kewarganegaraan Indonesia, Pekerjaan Advokat pada Firma Hukum Hadiputranto, Hadinoto & Partners, beralamat di Gedung Bursa Efek

(2)

Indonesia, Menara II Lantai 21, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 2 Agustus 2012;---- Selanjutnya disebut sebagai ………. PENGGUGAT;

Melawan

KEPALA KANTOR PENGAWASAN DAN PELAYANAN BEA DAN CUKAI TIPE MADYA PABEAN B PEKANBARU, berkedudukan di Jalan Jenderal Sudirman 2-4 Pekanbaru 28152;--- Dalam hal ini memberikan kuasa kepada : --- 1. Nama : DIDIK HARIYANTO, SH. MH. ; ---

Jabatan : Kepala Bagian Bantuan Hukum I pada Biro Bantuan Hukum Kementerian Keuangan; --- 2. Nama : Ir. AZIZ SYAMSU ARIFIN; ---

Jabatan : Plt. Kepala Sub Direktorat Peraturan dan Bantuan Hukum pada Direktorat Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 3. Nama : Drs. RUDY HERNANTO, MM.; --- Jabatan : Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Riau dan Sumatera Barat; ---

(3)

4. Nama : ARIF, SE. M.Si.; --- Jabatan : Kepala Bidang Audit pada Kantor

Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Riau dan Sumatera Barat; --- 5. Nama : AGUS AMIWIJAYA, S.H. MH.; ---

Jabatan : Kepala Seksi Bantuan Hukum pada Direktorat Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 6. Nama : RIZAL ALPIANI, SH.; --- Jabatan : Kepala Sub Bagian Bantuan Hukum

I C pada Biro Bantuan Hukum Kementerian Keuangan; --- 7. Nama : HASYA ILMA ADHANA, SH.; ---

Jabatan : Kepala Sub Bagian Bantuan Hukum I D pada Biro Bantuan Hukum Kementerian Keuangan; --- 8. Nama : WIJI PUTUT SIDOLAMONG, SH.; - Jabatan : Kepala Seksi Penyidikan dan

Barang Hasil Penindakan I pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Riau dan Sumatera Barat; --- 9. Nama : SONY WAHYU PRASETYO, SE.; --

(4)

Jabatan : Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai II pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Riau dan Sumatera Barat; --- 10. Nama : AGUNG KISWONDO, S.Sos; --- Jabatan : Kepala Seksi Pelaksanaan Audit II pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Riau dan Sumatera Barat; --- 11. Nama : NANGKOK P. PASARIBU, SE.; --- Jabatan : Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru; --- 12. Nama : DARMA BAKTI, SH.; ---

Jabatan : Kepala Seksi Perbendaharaan pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru; --- 13. Nama : FARIDA HERTIANA SARAGIH, SH.; --- Jabatan : Kepala Seksi Pelayanan

Kepabeanan dan Cukai IV pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan

(5)

Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru; --- 14. Nama : SATRIYANTO SADJATI; --- Jabatan : Kepala Seksi Penyidikan dan Barang Hasil Penindakan pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru; --- 15. Nama : IRIANTO; --- Jabatan : Kepala Seksi Administrasi pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru; --- 16. Nama : MAHMUD ZEIN FIRMANSYAH, SH.; --- Jabatan : Penangan Perkara Tingkat IV pada Direktorat Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 17. Nama : RUSDIANTO K. MARDANI, SH.; --- Jabatan : Penangan Perkara Tingkat IV pada

Direktorat Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; 18. Nama : RIKSI A. SOMPIE, SH.; ---

(6)

Jabatan : Pelaksana Pemeriksa pada Direktorat Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; --- 19. Nama : ELITA MARIANT P, SH.; ---

Jabatan : Pelaksana pada Bagian Bantuan Hukum I, Biro Bantuan Hukum, Kementerian Keuangan; --- 20. Nama : CHRISTIAN, SH.; --- Jabatan : Pelaksana pada Bagian Bantuan

Hukum I, Biro Bantuan Hukum, Kementerian Keuangan; --- 21. Nama : RANDHIKA YOGA PERDATA, SH.;

Jabatan : Pelaksana pada Bagian Bantuan Hukum I, Biro Bantuan Hukum, Kementerian Keuangan; --- 22. Nama : DINA ASSRIANA, SH.; --- Jabatan : Pelaksana pada Bagian Bantuan

Hukum I, Biro Bantuan Hukum, Kementerian Keuangan; --- 23. Nama : ASTRID MONIKA, SH.; ---

Jabatan : Pelaksana pada Bagian Bantuan Hukum I, Biro Bantuan Hukum, Kementerian Keuangan; ---

(7)

24. Nama : FIRSTDA AYU FIAN NUR AGUSTA, SH.; --- Jabatan : Pelaksana pada Bagian Bantuan Hukum I, Biro Bantuan Hukum, Kementerian Keuangan; --- 25. Nama : RUDI PURNOMO, SH.; --- Jabatan : Pelaksana pada Bagian Bantuan

Hukum I, Biro Bantuan Hukum, Kementerian Keuangan; --- 26. Nama : EKO WIGIYANTO; ---

Jabatan : Pelaksana Pemeriksa pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru; --- Kesemuanya berkewarganegaraan Indonesia, pekerjaan Pegawai Negeri Sipil dan berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor : SKU-01/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tertanggal 16 Agustus 2012; --- Selanjutnya disebut sebagai ...TERGUGAT;

Pengadilan Tata Usaha Negara tersebut : --- Telah membaca, surat Penetapan Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru Nomor : 33/PEN/2012/PTUN-Pbr. tertanggal 08 Agustus 2012 tentang Penunjukan Majelis Hakim ; ---

(8)

Telah membaca, surat Penetapan Hakim Ketua Majelis Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru Nomor : 33/Pen-PP/2012/PTUN-Pbr. tertanggal 09 Agustus 2012 tentang Hari Pemeriksaan Persiapan; --- Telah membaca, Penetapan Ketua Majelis Hakim Nomor : 33/Pen.HS/2012/PTUN-Pbr Tanggal 12 September 2012, tentang Persidangan yang terbuka untuk umum ; ---

Telah membaca berkas perkara yang bersangkutan; --- Telah memeriksa bukti-bukti tertulis dari kedua belah pihak; --- Telah membaca dan mempelajari Berita Acara Pemeriksaan Perkara dan segala sesuatu yang terjadi dalam persidangan tersebut; ----

TENTANG DUDUKNYA SENGKETA

Bahwa Penggugat telah mengajukan gugatan terhadap Tergugat dengan surat gugatannya tertanggal 06 Agustus 2012, yang didaftarkan di Kepaniteraan Perkara Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru pada tanggal 06 Agustus 2012 dengan Register Perkara Nomor : 33/G/2012/PTUN-Pbr, yang pada pokoknya sebagai berikut :---

Bahwa yang menjadi obyek gugatan Tata Usaha Negara dalam perkara ini adalah : --- Surat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru Nomor : S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tanggal 9 Mei 2012 tentang Penyelesaian Hasil Audit Atas Nama PT. Reda Pump Indonesia;---

(9)

I. TENTANG FORMALITAS PENGAJUAN GUGATAN---

A. PENGGUGAT MENGAJUKAN GUGATAN DALAM TENGGANG WAKTU YANG DIPERKENANKAN OLEH UNDANG-UNDANG---

1. Pasal 55 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (‘UU PTUN”) menentukan bahwa gugatan TUN diajukan dalam tenggang waktu 90 hari sejak saat diterima atau diumumkannya keputusan badan atau pejabat TUN;--- 2. Faktanya :---

(a) Surat Objek Gugatan diterbitkan pada tanggal 9 Mei 2012;-- (b) Gugatan a quo diajukan pada tanggal 6 Agustus 2012;--- 3. Karenanya terbukti bahwa pengajuan Gugatan ini telah memenuhi tenggang waktu yang ditentukan dalam Pasal 55 UU PTUN, yaitu dalam tenggang waktu 90 hari sejak Surat Objek Gugatan diterbitkan;--- B. SURAT OBJEK GUGATAN MERUGIKAN KEPENTINGAN

PENGGUGAT---

DENGAN MENGELUARKAN SURAT OBJEK GUGATAN, TERGUGAT MEWAJIBKAN PEMBAYARAN ATAS UTANG

YANG TELAH HAPUS DEMI HUKUM

(10)

4. Pada tanggal 21 Desember 2005 Tergugat menerbitkan Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi Dan Pajak Dalam Rangka Impor (SPKPBM) No. S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP-11/2005 (“Surat No. S-500124/2005”) kepada PT. Reda Pump Indonesia (sekarang Penggugat). Dalam Surat tersebut Tergugat menyatakan bahwa Penggugat memiliki utang bea masuk, denda administrasi dan pajak dalam rangka impor kepada Tergugat;--- 5. Sebagaimana akan dijelaskan lebih lanjut dalam bagian lain

Gugatan ini, pada dasarnya utang Penggugat tersebut di atas sudah hapus demi hukum sehingga Penggugat tidak memiliki kewajiban pembayaran apapun kepada Tergugat;--- Namun, melalui Surat Objek Gugatan Tergugat secara tidak berdasar kembali menagih utang yang disebut dalam Surat No. S-500124/2005 kepada Penggugat. Tergugat bahkan membebankan bunga sebesar Rp. 2.385.179.060,- atas utang yang telah hapus tersebut. Selain itu, Tergugat juga mengancam akan melakukan pemblokiran atas aktivitas impor Penggugat apabila Penggugat tidak melunasi utangnya kepada Tergugat;--- 6. Tindakan Tergugat melahirkan kembali suatu utang yang sudah hapus tentunya telah menimbulkan akibat hukum yang sangat merugikan bagi Penggugat karena Penggugat harus melakukan pembayaran atas sesuatu yang bukan

(11)

merupakan kewajibannya, terlebih atas utang yang telah hapus tersebut Penggugat juga diwajibkan membayar beban bunga;--- 7. Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa (keberadaan) Surat Objek Gugatan telah merugikan kepentingan Penggugat dan karenanya Penggugat mohon agar Pengadilan TUN Pekanbaru bersedia untuk memeriksa dan mengadili sengketa TUN a quo dalam rangka melindungi kepentingan Penggugat selaku warga masyarakat agar tidak dirugikan oleh tindakan aparatur negara yang tidak berdasar;--- C. SURAT OBJEK GUGATAN MERUPAKAN KEPUTUSAN TATA

USAHA NEGARA--- 8. Pasal 1 angka 9 UU PTUN menyebutkan bahwa keputusan TUN merupakan suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata;---

SURAT OBJEK GUGATAN MERUPAKAN PENETAPAN TERTULIS YANG DIKELUARKAN OLEH PEJABAT TUN

9. Merupakan suatu fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa surat Objek Gugatan merupakan penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh pejabat TUN dalam hal ini Kepala Kantor Pengawasan

(12)

dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru;---

SURAT OBJEK GUGATAN BERISI TINDAKAN TUN

10. Surat Objek Gugatan jelas berisi hukum TUN karena melalui penerbitan surat tersebut Kantor Pengawasan Dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru (Tergugat) telah menetapkan hal-hal sebagai berikut :--- (a) Adanya kewajiban pembayaran dari Penggugat kepada

Tergugat sebesar Rp. 4.969.123.042,-;--- (b) Adanya beban bunga atas kewajiban pembayaran pada

butir (a) sebesar Rp.2.385.179.060,-;--- (c) Dilakukannya pemblokiran atas aktivitas impor Penggugat

ketika Penggugat tidak menyelesaikan kewajiban pembayarannya kepada Tergugat;---

SURAT OBJEK GUGATAN BERSIFAT KONKRIT, INDIVIDUAL DAN FINAL

11. Berdasarkan uraian di bawah ini, Surat Objek Gugatan terbukti merupakan suatu keputusan TUN yang bersifat konkrit, individual dan final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 9 UU PTUN;--- Konkrit---

12. Surat Objek Gugatan bersifat konkrit karena surat tersebut nyata-nyata dibuat oleh Tergugat, tidak abstrak tetapi

(13)

berwujud serta tertentu atau dapat ditentukan hal yang ditetapkan, yaitu menetapkan adanya kewajiban pembayaran dari Penggugat kepada Tergugat serta pemblokiran ketika Penggugat tidak menyelesaikan kewajiban pembayarannya tersebut.;--- Individual---

13. Surat Objek Gugatan bersifat individual karena surat tersebut tidak ditujukan untuk umum tetapi secara tertentu menyebutkan PT. Schlumberger Geophysics Nusantara sebagai pihak yang ditetapkan memiliki utang kepada Tergugat, ditambah dengan beban bunga, serta dikenakan pemblokiran atas aktivitas impor ketika Penggugat tidak dapat menyelesaikan utangnya tersebut.;--- Final---

14. Surat Objek Gugatan bersifat final karena surat tersebut sudah definitive, menimbulkan suatu akibat hukum dan tidak memerlukan persetujuan instansi atasan atau instansi lain dan menimbulkan hak dan kewajiban pada pihak yang bersangkutan. dalam hal ini Surat Objek Gugatan menimbulkan akibat yaitu membebankan kewajiban pembayaran kepada Penggugat dan menetapkan pemblokiran ketika Penggugat tidak menyelesaikan kewajiban tersebut;--- 15. Dengan demikian, berdasarkan peraturan

perundang-undangan yang berlaku, terbukti bahwa Surat Objek Gugatan

(14)

memang bersifat konkrit, individual dan final sehingga surat tersebut memenuhi seluruh syarat dari definisi keputusan TUN;---

SURAT OBJEK GUGATAN MENIMBULKAN AKIBAT HUKUM

16. Surat Objek Gugatan jelas menimbulkan akibat hukum karena sebagai akibat dari diterbitkannya surat tersebut Penggugat diwajibkan membayar utangnya yang telah hapus yang disertai beban bunga dengan ancaman pemblokiran;--- II. ALASAN MATERIL PENGAJUAN GUGATAN---

A. SURAT OBJEK GUGATAN HARUS DIBATALKAN KARENA SURAT TERSEBUT DITERBITKAN TANPA DASAR;---

PENERBITAN SURAT OBJEK GUGATAN NYATA-NYATA TIDAK BERDASAR KARENA FAKTANYA PENGGUGAT

SUDAH TIDAK MEMILIKI KEWAJIBAN PEMBAYARAN APAPUN TERHADAP TERGUGAT

17. Berdasarkan Akta Notaris No. 181 April 1987, Penggugat adalah suatu perusahan yang bergerak di bidang industri perminyakan gas. Dalam kesehariannya Penggugat biasa melakukan impor alat-alat dan produk-produk perminyakan gas;--- 18. Pada tahun 2005, Tim Audit Kepabeanan Kantor Wilayah

DJBC II Tanjung Balai Karimun telah mengaudit Penggugat (dahulu PT. Reda Pump Indonesia) atas seluruh impor yang

(15)

Penggugat lakukan dalam kurun waktu 1 Juli 2003 sampai dengan 30 Juni 2005;--- 19. Sebagai tindak lanjut atas audit kepabeanan tersebut, Tergugat menerbitkan Surat No. S-500124/2005 tertanggal 21 Desember 2005 kepada Penggugat. Dalam surat ini Tergugat menyatakan bahwa Penggugat memiliki utang bea masuk, denda administrasi dan pajak dalam rangka impor sebesar Rp. 4.969.123.042,- kepada Tergugat dengan perincian sebagai berikut ;--- Jenis Tagihan Tagihan Bea Cukai (Rp.) Tagihan Pajak (Rp.) Jumlah Tagihan (Rp.) Bea Masuk 753.558.891 753.558.891 Cukai PPN 2.769.241.532 2.769.241.532 PPnBM PPh Psl 22 692.763.728 692.763.728 Denda Administrasi 753.558.891 753.558.891 1.507.117.782 3.462.005.260 4.969.123.042

20. Sesuai dengan ketentuan Pasal 93 ayat (1) jo. Pasal 94 ayat (1) Undang-Undang No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (“UU Kepabeanan”) jo. Surat Direktur Verifikasi dan Audit Kepabeanan Nomor :

(16)

44/BC.6/2006 tertanggal 16 Januari 2006 tentang Petunjuk Atas Temuan Audit Kepabeanan, Penggugat berhak untuk mengajukan keberatan secara tertulis atas Surat No. S-500124/2005 kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai melalui Tergugat;--- Pasal 93 ayat (1) UU Kepabeanan :--- “Orang yang berkeberatan terhadap penetapan pejabat bea dan cukai mengenai tarif dan/atau nilai pabean untuk penghitungan bea masuk dapat mengajukan keberatan secara tertulis hanya kepada Direktur Jenderal dalam waktu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal penetapan dengan menyerahkan jaminan sebesar tagihan yang harus dibayar”;---

Pasal 94 ayat (1) UU Kepabeanan :--- “Orang yang dikenai sanksi administrasi berupa denda dapat mengajukan keberatan secara tertulis hanya kepada Direktur Jenderal dalam jangka waktu 60 (enam puluh hari) sejak tanggal penetapan dengan menyerahkan jaminan sebesar sanksi administrasi berupa denda yang ditetapkan”;--- Surat Direktur Verifikasi dan Audit Kepabeanan Nomor : S-44/BC.6/2006 tertanggal 16 Januari 2006 tentang Petunjuk Atas Temuan Audit Kepabeanan --- “Dalam hal Saudara keberatan terhadap temuan audit yang telah dituangkan dalam Laporan Hasil Audit (LHA) dan telah

(17)

ditindaklanjuti dengan Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi dan Pajak Dalam Rangka Impor (SPKPBM), agar disampaikan hanya kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku”;--- 21. Selain itu, mohon perhatian Majelis Hakim yang mulia bahwa

Surat No. S-500124/2005 itu sendiri juga menegaskan bahwa Penggugat berhak untuk mengajukan keberatan atas surat dimaksud kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai melalui Tergugat. Berikut Penggugat kutip bagian yang relevan dari Surat No. S-500124/2005;--- Paragraf 3 Surat No. S-500124/2005;--- “Keberatan atas SPKPBM ini diajukan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai melalui Kepala Kantor Pelayanan di atas, sebelum tanggal jatuh tempo dengan ketentuan sebelumnya sudah menyerahkan jaminan sebesar tagihan hutang”;--- Catatan: Berdasarkan Surat No. S-500124/2005 tanggal jatuh tempo sebagaimana dimaksud adalah tanggal 20 Januari 2006;--- 22. Pada tanggal 17 Januari 2006 Penggugat melalui Suratnya

No. RPI/6029/MS/I/2006 telah mengajukan keberatannya terhadap Surat No. S-500124/2005 kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai melalui Tergugat sesuai dengan UU Kepabeanan jo. Surat Direktur Verifikasi dan Audit

(18)

Kepabeanan Nomor : S-44/BC.6/2006 tertanggal 16 Januari 2006 tentang Petunjuk Atas Temuan Audit Kepabeanan dan Surat No. S-500124/2005;--- Dalam surat keberatannya tersebut Penggugat telah memohonkan hal-hal sebagai berikut :--- (a) Memohon agar Surat No. S-500124/2005 dibatalkan;--- (b) Memohon agar tagihan atas PPh Pasal 22 yang telah lewat tahun takwim dibatalkan;--- Selanjutnya, pada tanggal 16 Februari 2006 Tergugat melalui Suratnya No. S-81/WBC.02/KP.11/2006 telah mengirimkan surat keberatan Penggugat kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Dalam surat ini Tergugat secara tegas mengakui bahwa surat keberatan Penggugat telah diajukan secara lengkap dan benar. Berikut Penggugat kutip bagian yang relevan dari Surat No. S-81/WBC.02/KP.11/2006 tertanggal 16 Februari 2006;--- Paragraf 2 Surat No. S-81/WBC.02/KP.11/2006--- “Surat pengajuan keberatan diterima dengan lengkap dan benar pada tanggal 19 Januari 2006 jatuh tempo SPKPBM tanggal 20 Januari 2006”;--- 23. Lebih lanjut, mohon perhatian Majelis Hakim yang mulia bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 93 ayat (4) jo. Pasal 94 ayat (4) UU Kepabeanan, apabila dalam jangka waktu 60 hari terhitung sejak diterimanya pengajuan suatu keberatan

(19)

Direktur Jenderal Bea dan Cukai tidak juga memberikan keputusannya, maka keberatan yang bersangkutan dianggap dikabulkan;--- Pasal 93 (4) UU Kepabeanan :--- “Apabila dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Direktur Jenderal tidak memberikan keputusan, keberatan yang bersangkutan dianggap dikabulkan dan jaminan dikembalikan”;---

Pasal 94 (4) UU Kepabeanan :--- “Apabila dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Direktur Jenderal tidak memberikan keputusan, keberatan yang bersangkutan dianggap dikabulkan dan jaminan dikembalikan”;---

24. Fakta membuktikan bahwa 60 hari sejak surat keberatan Penggugat diterima oleh Tergugat, yaitu tanggal 19 Januari 2006,. dan bahkan hingga saat tanggal pengajuan Gugatan ini, Direktur Jenderal Bea dan Cukai tidak pernah mengeluarkan keputusannya atas keberatan Penggugat terhadap Surat No. S-500124/2005 dan karenanya keberatan Penggugat yang meminta agar (1) Surat No. S-500124/2005 dan (2) tagihan atas PPh Pasal 22 yang telah lewat tahun takwim dibatalkan demi hukum dianggap dikabulkan;--- 25. Sebagai konsekuensinya, Surat No. S-500124/2005 menjadi tidak berlaku atau batal dan karenanya Penggugat secara

(20)

hukum tidak memiliki utang bea masuk, denda administrasi dan pajak dalam rangka impor ataupun kewajiban pembayaran apapun kepada Tergugat;---

26. Walaupun Penggugat (sudah) tidak memiliki kewajiban pembayaran apapun kepada Tergugat, Tergugat justru menerbitkan Surat Objek Gugatan yang pada pokoknya bertujuan untuk kembali menagih Penggugat atas utang sebagaimana dimaksud dalam Surat No. S-500124/2005, utang mana berdasarkan UU Kepabeanan telah hapus. Tergugat bahkan membebankan bunga sebesar Rp. 2.385.179.060,- atas utang yang telah hapus tersebut. Tergugat juga menegaskan tentang pelaksanaan tindakan pemblokiran atas aktivitas impor Penggugat apabila Penggugat tidak melunasi utangnya yang telah hapus tersebut kepada Tergugat;---

27. Mohon perhatian Majelis Hakim yang mulia bahwa tindakan menagih suatu utang yang sudah hapus jelas merupakan tindakan yang keliru dan secara hukum tidak berdasar. Karenanya tindakan Tergugat menerbitkan Surat Objek Gugatan yang pada pokoknya bertujuan untuk menagih utang Penggugat yang telah hapus merupakan tindakan yang tidak berdasar hukum dan untuk itu Penggugat mohon agar Majelis Hakim yang mulia menyatakan batal atau tidak sah Surat Objek Gugatan yang diterbitkan oleh Tergugat;---

(21)

B. SURAT OBJEK GUGATAN HARUS DIBATALKAN KARENA PENERBITAN SURAT TERSEBUT MELANGGAR ASAS-ASAS UMUM PEMERINTAHAN YANG BAIK---

28. Sesuai dengan ketentuan Pasal 53 ayat (2) huruf b UU PTUN, Surat Objek Gugatan dapat dinyatakan batal atau tidak sah antara lain apabila surat tersebut bertentangan dengan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (“AAUPB”);---

SURAT OBJEK GUGATAN BERTENTANGAN DENGAN ASAS KEPASTIAN HUKUM

29. Berdasarkan penjelasan Pasal 3 Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (“UU Bebas KKN”), asas kepastian hukum adalah asas dalam Negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggaraan Negara;--- 30. Tindakan Tergugat menerbitkan Surat Objek Gugatan jelas bertentangan dengan AAUPB, khususnya asas kepastian hukum, karena Tergugat telah mengesampingkan UU Kepabeanan;--- Dalam hal ini, sebagaimana diuraikan di atas berdasarkan Pasal 93 ayat (4) jo. Pasal 94 ayat (4) UU Kepabeanan surat keberatan Penggugat atas Surat No. S-500124/2005 telah demi hukum dikabulkan dan karenanya Penggugat tidak

(22)

memiliki kewajiban pembayaran apapun kepada Tergugat. Oleh karenanya, tindakan Tergugat menerbitkan Surat Objek Gugatan jelas telah menimbulkan ketidakpastian hukum tentang status utang Penggugat kepada Tergugat yang sebenarnya telah hapus;--- 31. Lebih jauh, tindakan Tergugat menerbitkan Surat Objek Gugatan jelas merupakan tindakan yang sewenang-wenang mengingat Tergugat sesungguhnya mengetahui bahwa utang Penggugat kepada Tergugat telah hapus demi hukum oleh karena Direktur Jenderal Bea dan Cukai tidak juga mengeluarkan keputusannya dalam jangka waktu 60 hari sejak diterimanya surat keberatan Penggugat atas Surat No. S-500124/2005;---

SURAT OBJEK GUGATAN BERTENTANGAN DENGAN ASAS TERTIB PENYELENGGARAAN NEGARA

32. Berdasarkan penjelasan Pasal 3 UU Bebas KKN asas tertib penyelenggaraan Negara adalah asas yang menjadi landasan keteraturan, keserasian dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggaraan Negara;--- 33. Tindakan Tergugat yang mengeluarkan Surat Objek Gugatan

secara tidak berdasar dan bahkan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku adalah tindakan yang bertentangan dengan asas tertib penyelenggaraan Negara;---

(23)

SURAT OBJEK GUGATAN BERTENTANGAN DENGAN ASAS PROFESIONALITAS

34. Berdasarkan penjelasan Pasal 3 UU Bebas KKN asas profesionalitas adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;--- 35. Surat Objek Gugatan yang diterbitkan oleh Tergugat

bertentangan dengan asas profesionalitas karena Tergugat telah bertindak tidak cermat dalam mengeluarkan surat tersebut sehingga menimbulkan kerugian bagi Penggugat selaku warga masyarakat;--- 36. Sikap tidak cermat atau ketidak hati-hatian dari Tergugat tersebut terlihat dari tindakan Tergugat yang tetap menerbitkan Surat Objek Gugatan dalam rangka menagih utang Penggugat sebagaimana dimaksud dalam Surat No. S-500124/2005, padahal utang tersebut telah hapus demi hukum sesuai dengan ketentuan UU Kepabeanan;---

SURAT OBJEK GUGATAN BERTENTANGAN DENGAN ASAS AKUNTABILITAS

37. Berdasarkan penjelasan Pasal 3 UU Bebas KKN asas akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggaraan Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan

(24)

tertinggi Negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;--- 38. Tindakan Tergugat menerbitkan Surat Objek Gugatan juga

jelas bertentangan dengan asas akuntabilitas karena surat tersebut tentunya tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat termasuk Penggugat karena tindakan Tergugat menghidupkan atau menagih kembali utang yang telah hapus jelas menimbulkan ketidakpastian hukum, kebingungan dan kekacauan dalam masyarakat serta bertentangan dengan hukum;--- 39. Berdasarkan seluruh alasan-alasan tersebut di atas, maka Pengadilan TUN Pekanbaru sudah sepatutnya mengabulkan Gugatan ini dan selanjutnya menyatakan batal atau tidak sah Surat Objek Gugatan yang dikeluarkan oleh Tergugat karena terbukti bertentangan dengan AAUPB;--- III. DALAM PENUNDAAN---

40. Apabila Surat Objek Gugatan dilaksankan, maka hal tersebut jelas akan sangat merugikan kepentingan Penggugat karena dengan demikian Penggugat diwajibkan untuk membayar utangnya yang telah hapus dan bahkan disertai beban bunga. Selain itu, pelaksanaan Surat Objek Gugatan juga akan melegitimasi tindakan pemblokiran terhadap aktivitas impor Penggugat ketika Penggugat tidak membayar utangnya, padahal utang tersebut secara hukum telah hapus. Pemblokiran ini tentunya akan menghalangi dan menghambat

(25)

usaha Penggugat dan pada akhirnya mengakibatkan kerugian materiil yang luar biasa bagi Penggugat;--- 41. Oleh karena itu, penundaan pelaksanaan Surat Objek

Gugatan merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dilakukan guna mencegah terjadinya kerumitan atas pemulihan kerugian-kerugian Penggugat yang harus dilakukan apabila putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap dalam perkara ini nantinya mengabulkan Gugatan a quo. Dalam hal ini, apabila Penggugat sudah terlanjur membayar utangnya yang telah hapus tersebut tentunya akan sulit bagi Penggugat untuk mendapatkan uangnya kembali apabila nantinya Gugatan Penggugat dikabulkan, termasuk untuk mendapatkan ganti rugi atas segala kerugian yng ditimbulkan akibat tindakan pemblokiran. Selain itu, mohon perhatian Majelis Hakim yang mulia bahwa penundaan pelaksanaan Surat Objek Gugatan juga tidak akan merugikan kepentingan umum dalam rangka pembangunan dan karenanya dimungkinkan untuk dikabulkan;--- 42. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, terbukti bahwa

permohonan penundaan pelaksanaan Surat Objek Gugatan telah memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam Pasal 67 ayat (4) UU PTUN dan karenanya beralasan untuk dikabulkan;--- 43. Secara khusus, Penggugat mohon dengan hormat kepada Majelis Hakim yang mulia untuk mencegah pelaksanaan Surat

(26)

Objek Gugatan dengan mengeluarkan putusan sela (sebelum dikeluarkannya putusan akhir) berupa penundaan terhadap pelaksanaan surat tersebut, termasuk untuk melarang Tergugat melakukan tindakan pemblokiran terhadap aktivitas impor yang dilakukan oleh Penggugat, selama pemeriksaan perkara ini berlangsung sampai dengan adanya putusan yang final dan berkekuatan hukum tetap atas perkara a quo;--- Berdasarkan Fakta-fakta dan ketentuan hukum tersebut di atas, Penggugat dengan ini mohon agar Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru yang memeriksa perkara ini berkenan mengeluarkan putusan dengan amar sebagai berikut :--- Dalam Penundaan---

Mengabulkan permohonan Penggugat agar pelaksanaan Surat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru Nomor : S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tertanggal 9 Mei 2012 ditunda, termasuk agar Tergugat dilarang melakukan tindakan pemblokiran terhadap aktivitas impor yang dilakukan oleh Penggugat, selama pemeriksaan sengketa TUN a quo sedang berjalan sampai dengan adanya putusan pengadilan yang memperoleh kekuatan hukum tetap;---

Dalam Pokok Perkara ---

1. Mengabulkan gugatan Penggugat seluruhnya; ---

(27)

2. Menyatakan batal atau tidak sah Surat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru Nomor : S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tertanggal 9 Mei 2012 ---

3. Mewajibkan Tergugat untuk mencabut Surat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru Nomor : S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tertanggal 9 Mei 2012 ---

4. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara ini; ---

Bahwa pada hari sidang yang telah ditentukan untuk Penggugat datang menghadap Kuasa Hukumnya bernama 1. MOCHAMAD FACHRI, S.H., LL.M., 2. HENDRONOTO SOESABDO, S.H., LL.M. dan 3. TURANGGA

HARLIN, S.H., LL.M. sedangkan Tergugat datang menghadap Kuasa Hukumnya bernama 1. SATRIYANTO SADJATI, 2. IRIANTO, 3. MAHMUD ZEIN FIRMANSYAH, SH., 4. RIKSI A. SOMPIE, SH., 5. ELITA MARIANT P,

SH. dan 6. RANDHIKA YOGA PERDATA, SH.;--- Bahwa atas Gugatan Penggugat tersebut, pihak Tergugat telah mengajukan Jawabannya yang termuat dalam Jawaban Tergugat Dalam Eksepsi tertanggal 25 September 2012, yang pada pokoknya sebagai berikut : ---

1. Bahwa Tergugat dengan tegas menolak petitum dan dalil-dalil yang diajukan oleh Penggugat kecuali yang dengan tegas diakui kebenarannya oleh Tergugat; ---

(28)

2. Bahwa Pasal 77 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana diubah terakhir dengan Undang Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara menyatakan : --- Ayat (1) --- Eksepsi tentang kewenangan absolut Pengadilan dapat diajukan setiap waktu selama pemeriksaan dan meskipun tidak ada eksepsi tentang kewenangan absolut Pengadilan apabila Hakim mengetahui hal itu, ia karena jabatannya wajib menyatakan bahwa Pengadilan tidak berwenang mengadili sengketa yang bersangkutan; ---

Ayat (2) --- Eksepsi tentang kewenangan relatif Pengadilan diajukan sebelum disampaikan jawaban atas pokok sengketa dan eksepsi tersebut harus diputus sebelum pokok sengeta diperiksa; --- Ayat (3) --- Eksepsi lain yang tidak mengenai kewenangan Pengadilan hanya dapat diputus bersamaan dengan pokok sengketa; --- 3. Bahwa sebelum Tergugat menyampaikan Jawaban dalam pokok

perkara, sesuai dengan ketentuan Pasal 77 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang menyatakan bahwa eksepsi tentang

(29)

Kewenangan Absolut dapat diajukan setiap waktu selama pemeriksaan. Oleh karena itu Tergugat memohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim untuk dapat memeriksa dan memutus terlebih dahulu eksepsi kewenangan mengadili yang Tergugat ajukan; --- 4. Bahwa sebagaimana dikemukakan Penggugat dalam gugatan Penggugat tertanggal 6 Agustus 2012, bahwa Penggugat pada pokoknya mempermasalahkan mengenai Surat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru Nomor S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tanggal 9 Mei 2012 tentang penyelesaian hasil audit atas nama PT. Reda Pump Indonesia (selanjutnya disebut objek gugatan);--- 5. Bahwa sebelum Tergugat menyampaikan Eksepsi Kewenangan Mengadili, perlu Tergugat jelaskan kronologis perkara a quo secara singkat sebagai berikut :---

a. Bahwa pada tanggal 21 Juni 2005 Kanwil II Khusus DJBC Tipe Khusus Tanjung Balai Karimun menerbitkan Surat Tugas Nomor: ST-31/WBC.02/2005 tanggal 21 Juni 2005 untuk melakukan audit pembukuan terhadap PT. Reda Pump Indonesia dengan periode audit 1 Juli 2003 s.d. 30 Juni 2005;--- b. Bahwa dari hasil pelaksanaan audit tersebut, maka terbit 3 (tiga)

SPKPBM, diantaranya :--- - SPKPBM Nomor : S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005

tanggal 21 Desember 2005 sebesar Rp. 4.969.123.042,00;--- - SPKPBM Nomor : S-500125/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005

tanggal 21 Desember 2005 sebesar Rp. 47.002.310,00;---

(30)

- SPKPBM Nomor : S-500126/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005 tanggal 21 Desember 2005 sebesar Rp. 2.977.732.048,00;--- c. Bahwa pada tanggal 18 Januari 2006 PT. Reda Pump Indonesia

telah melunasi SPKPBM Nomor :

S-500125/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005 tanggal 21 Desember 2005 sebesar Rp. 47.002.310,00 dengan SSPCP Nomor: 022/213/0683 tanggal 18 Januari 2006;---

d. Bahwa pada tanggal 21 Desember 2005, berdasarkan Surat Nomor : RPI/6029/MS/I/2006 dan Surat Nomor : RPI/6030/MS/I/2006, PT. Reda Pump Indonesia mengajukan

keberatan atas SPKPBM Nomor :

S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005 tanggal 21 Desember 2005 dengan nilai sebesar Rp. 4.969.123.042,00 dan SPKPBM Nomor : S-500126/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005 tanggal 21 Desember 2005 dengan nilai sebesar Rp. 2.977.732.048,00;--- e. Bahwa terhadap surat keberatan PT. Reda Pump Indonesia

tersebut di atas, pada tanggal 25 Januari 2006 Tergugat telah memberikan tanggapan dengan mengirimkan surat nomor : S-28/WBC.02/KPP.01/2006 kepada PT. Reda Pump Indonesia yang menyatakan:---

a) Mengacu pada Pasal 95 (1) UU Nomor 10 Tahun1995 tentang Kepabeanan dirumuskan bahwa Orang yang keberatan terhadap penetapan Direktur Jenderal atas tarif dan nilai pabean sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2),

(31)

Keputusan Direktur Jenderal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93 ayat (2), Pasal 93 ayat (4), atau Pasal 94 ayat (2) dapat mengajukan permohonan banding kepada Pengadilan Pajak dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal penetapan atau tanggal keputusan, setelah pungutan yang terutang dilunasi;--- b) Bahwa tagihan yang timbul akibat verifikasi dan/atau audit

merupakan penetapan kembali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan;--- c) Berdasarkan butir a dan b, maka Saudara dapat

mengajukan banding kepada Pengadilan Pajak;--- f. Bahwa berdasarkan arahan Tergugat yang terdapat pada surat Tergugat Nomor : S-28/WBC.02/KPP.01/2006 yang berisi tanggapan atas surat keberatan dari PT. Reda Pump Indonesia, pada tanggal 16 Februari 2006, PT. Reda Pump Indonesia telah mengajukan banding ke Pengadilan Pajak atas SPKPBM Nomor : S-500126/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005 dengan surat Nomor : RPI/II/6063/MS-2006 tanggal 16 Februari 2006;--- g. Bahwa pada tanggal 19 April 2007, Pengadilan Pajak telah menerbitkan putusan atas banding dari PT. Reda Pump Indonesia terhadap SPKPBM hasil audit Nomor : S-500126/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005 dengan Nomor Putusan Pengadilan Pajak : Put-10450/PP/M.III/19/2007 tertanggal 27 November 2006, amar putusan Pengadilan Pajak tersebut pada

(32)

intinya adalah mengabulkan sebagian permohonan banding dari PT. Reda Pump Indonesia tersebut;--- h. Bahwa terhadap SPKPBM Nomor :

S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005, PT. Reda Pump Indonesia tidak mengajukan banding kepada Pengadilan Pajak sehingga PT. Reda Pump Indonesia memiliki hutang pajak kepada Negara;--- i. Bahwa sampai dengan saat ini PT. Reda Pump Indonesia yang telah bergabung dengan PT. Schlumberger Geophysics Nusantara (Penggugat) belum membayar tagihan sebesar Rp.

4.969.123.042,00 (SPKPBM Nomor :

S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005 tanggal 21 Desember 2005);--- j. Bahwa Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa menyatakan : --- Pasal 1 angka 10 menyatakan :--- Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis adalah surat yang diterbitkan oleh Pejabat untuk menegur atau memperingatkan kepada Wajib Pajak untuk melunasi utang pajaknya;--- Pasal 8 ayat (2) menyatakan :--- Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis diterbitkan apabila Penanggung Pajak tidak melunasi utang pajaknya sampai dengan tanggal jatuh tempo pembayaran;---

(33)

k. Bahwa Pasal 16 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 51/PMK.04/2008 tentang Tata Cara Penetapan Tarif, Nilai Pabean, Dan Sanksi Administrasi, serta Penetapan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Atau Pejabat Bea Dan Cukai menyatakan “apabila orang yang berutang sebagaimana tercantum dalam surat penetapan atau surat keputusan tidak melunasi kewajibannya dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal jatuh tempo pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan tidak mengajukan keberatan atau tidak mengajukan banding, Kepala Kantor Pabean menerbitkan Surat Teguran”;--- l. Bahwa berdasarkan fakta-fakta hukum dan peraturan perundang-undangan tersebut di atas, maka dari itu pada tanggal 9 Mei 2012 Tergugat menerbitkan Surat Teguran Nomor : S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tanggal 9 Mei 2012 tentang penyelesaian hasil audit atas nama PT. Reda Pump Indonesia sebagaimana dimaksud Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa;--- m. Bahwa terhadap Surat Teguran Nomor :

S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tanggal 9 Mei 2012, PT. Schlumberger Geophysics Indonesia mengajukan gugatan ke Pengadiilan Tata Usaha Negara Pekanbaru dengan Nomor Register Perkara: 33/G/2012/PTUN-Pbr;--- DALAM EKSEPSI ---

(34)

Eksepsi Kewenangan Mengadili ---

Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru tidak memiliki kewenangan memeriksa dan mengadili objek gugatan pada perkara a quo;---

6. Bahwa objek gugatan perkara a quo adalah Surat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru Nomor : S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tanggal 9 Mei 2012 tentang penyelesaian hasil audit atas nama PT. Reda Pump Indonesia;---

7. Bahwa Objek gugatan surat Kepala KPPBC TMP B Pekanbaru Nomor : S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tanggal 9 Mei 2012 tentang penyelesaian hasil audit atas nama PT. Reda Pump Indonesia merupakan tindak lanjut dari SPKPBM Nomor : S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005 tanggal 21 Desember 2005 yang belum dilakukan pelunasan oleh Penggugat;---

8. Bahwa sesuai dengan Pasal 16 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 51/PMK.04/2008 yang pada intinya menyatakan apabila suatu perusahaan atau importer tidak melakukan pelunasan atas tagihan yang terdapat pada SPKPBM, maka tindak lanjut yang dilakukan oleh Tergugat adalah melakukan penagihan aktif yang dimulai dengan menerbitkan surat teguran Nomor S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tanggal 9 Mei 2012 tentang penyelesaian hasil audit atas nama PT. Reda Pump Indonesia;---

(35)

9. Bahwa perlu Tergugat sampaikan kepada Yang Mulia Majelis Hakim yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara a quo, adapun rangkaian penagihan adalah sebagai berikut :---

A. Penagihan Administratif, yang dalam perkara a quo adalah

terbitnya SPKPBM Nomor :

S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005 tanggal 21 Desember 2005;---

(- Bahwa dasar dari SPKPBM Nomor : S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005 tanggal 21 Desember 2005 adalah tindakan audit, maka upaya hukum yang dapat dilakukan adalah banding kepada Pengadilan Pajak;---

- Bahwa apabila terhadap SPKPBM tersebut tidak diajukan banding kepada Pengadilan Pajak dan tidak dilakukan pelunasan, maka Tergugat melakukan penagihan aktif terhadap tagihan yang tidak terbayar); --- B. Penagihan Aktif---

- Bahwa penagihan aktif dimulai dengan adanya surat teguran, surat peringatan, atau surat lain yang sejenis yang diterbitkan oleh Pejabat untuk menegur atau memperingatkan kepada Wajib Pajak untuk melunasi utang pajaknya (dalam perkara a quo adalah Surat Nomor : S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tanggal 9 Mei 2012 Tentang Penyelesaian Hasil Audit Atas Nama PT. Reda Pump Indonesia);---

(36)

- (Apabila dengan diterbitkannya Suat Teguran atas tagihan SPKPBM tersebut belum juga dilunasi dalam jangka waktu 21 hari, maka akan terbit Surat Paksa dari Tergugat);--- - (Apabila dengan diterbitkannya Surat Paksa tagihan tersebut masih belum juga dilunasi, maka dalam jangka waktu 2 X 24 jam akan terbit Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan dari Kepala KPPBC;--- - Bahwa dalam jangka waktu 14 hari setelah diterbitkannya Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan oleh Kepala KPPBC, maka akan terbit Pengumuman lelang oleh Kepala KPPBC;---- - Pelaksanaan lelang akan dilaksankan dalam jangka waktu 14

hari setelah Pengumuman Lelang oleh Kepala KPPBC dan pelaksanaan lelang tersebut akan dilaksanakan oleh Pejabat Lelang;--- (Bahwa upaya hukum terhadap penagihan aktif adalah mengajukan gugatan kepada Pengadilan Pajak sebagaimana diatur dalam Pasal 40 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tetang Pengadilan Pajak;--- 10. Bahwa berdasarkan objek gugatan perkara a quo, maka gugatan Penggugat harus dinyatakan ditolak atau setidak-tidaknya dinyatakan tidak dapat diterima karena Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru tidak berwenang untuk memeriksa, memutus dan mengadili objek gugatan dalam perkara a quo;--- 11. Bahwa pada faktanya objek gugatan perkara a quo berupa Surat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe

(37)

Madya Pabean B Pekanbaru Nomor : S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tanggal 9 Mei 2012 tentang penyelesaian hasil audit atas nama PT. Reda Pump Indonesia merupakan surat teguran yang ditujukan kepada Penggugat untuk melunasi utang pajaknya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa;--- 12. Bahwa materi di dalam Surat Teguran tersebut pada intinya

merupakan penagihan terhadap utang pajak yaitu tagihan sebesar Rp. 4.969.123.042,00 atas SPKPBM Nomor : S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005 tanggal 21 Desember 2005 dan bunga sebesar 2 % perbulan dari jumlah tagihan yang terhutang dimana bagian bulan dihitung satu bulan penuh untuk selama-lamanya 24 (dua puluh empat) bulan sebesar Rp. 2.385.179.060,00 sehingga jumlah seluruh tagihan yang harus dibayar sebesar Rp. 7.354.302,102,00;--- 13. Bahwa upaya hukum yang hanya dapat dilakukan oleh Penggugat terhadap pelaksanaan penagihan Pajak tersebut yaitu mengajukan gugatan tertulis kepada Pengadilan Pajak dimana diatur di dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 jo Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (UUPPSP) dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak (UU Pengadilan Pajak) sebagaimana berikut :--- UU PPSP menyatakan :---

(38)

Pasal 1 angka 8 : Utang Pajak adalah pajak yang masih harus dibayar termasuk sanksi administrasi berupa bunga, denda atau kenaikan yang tercantum dalam surat ketetapan pajak atau surat sejenisnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.--- Pasal 1 angka 9 : Penagihan Pajak adalah serangkaian tindakan

agar Penanggung Pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan menegur atau memperingatkan, melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan Surat Paksa, mengusulkan pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan penyanderaan, menjual barang yang telah disita;--- Pasal 1 angka 10 : Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis adalah surat yang diterbitkan oleh Pejabat untuk menegur atau memperingatkan kepada Wajib Pajak untuk melunasi utang pajaknya;--- Pasal 1 angka 22 : Gugatan atau Sanggahan adalah upaya hukum terhadap pelaksanaan penagihan pajak atau kepemilikan barang sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang bersangkutan; ---

(39)

UU Pengadilan Pajak menyatakan :---

Pasal 1 angka 2 : Pajak adalah semua jenis Pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat, termasuk Bea Masuk dan Cukai, dan Pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;---

Pasal 1 angka 7 : Gugatan adalah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh Wajib Pajak atau penanggung Pajak terhadap pelaksanaan penagihan Pajak atau terhadap keputusan yang dapat diajukan Gugatan berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku;--- Pasal 40 angka 1 : Gugatan diajukan secara tertulis dalam Bahasa

Indonesia kepada Pengadilan Pajak;--- Pasal 40 angka 2 : Jangka waktu untuk mengajukan Gugatan terhadap pelaksanaan penagihan Pajak adalah 14 (empat belas) hari sejak tanggal pelaksanaan penagihan;---

14. Bahwa Pengadilan Pajak merupakan kekhususan dari Pengadilan Tata Usaha Negara. Berdasarkan ketentuan Pasal 25 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (untuk selanjutnya disebut UU Kehakiman) dengan tegas dinyatakan bahwa “Badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung meliputi badan peradilan dalam lingkungan

(40)

peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, dan peradilan tata usaha negara”; --- 15. Bahwa lebih lanjut di dalam Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman dengan tegas menyatakan bahwa “Pengadilan khusus hanya dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25”;--- 16. Bahwa selanjutnya, di dalam Penjelasan Pasal 27 ayat (1) UU

Kehakiman ditegaskan bahwa " Yang dimaksud dengan “pengadilan khusus” antara lain adalah pengadilan anak, pengadilan niaga, pengadilan hak asasi manusia, pengadilan tindak pidana korupsi, pengadilan hubungan industrial dan pengadilan perikanan yang berada di lingkungan peradilan umum, serta pengadilan pajak yang berada di lingkungan peradilan tata usaha negara”;--- 17. Bahwa terkait dengan kekhususan tersebut, juga telah diatur dalam Pasal 9A Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang dengan tegas dinyatakan bahwa “Di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara dapat diadakan pengkhususan yang diatur dengan undang-undang”;--- 18. Bahwa Pengadilan Pajak adalah pengadilan yang berwenang untuk memeriksa dan memutus sengketa pajak. Hal tersebut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 UU Pengadilan Pajak, yang dengan tegas dinyatakan bahwa “Pengadilan Pajak adalah badan/peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi Wajib Pajak atau

(41)

Penanggung Pajak yang mencari keadilan terhadap Sengketa Pajak”;--- 19. Berdasarkan ketentuan Pasal 31 ayat (1) UU Pengadilan Pajak

dengan tegas dinyatakan bahwa “Pengadilan Pajak mempunyai tugas dan wewenang memeriksa dan memutus Sengketa Pajak”. Dan berdasarkan ketentuan Pasal 31 ayat (3) Undang-Undang Pengadilan Pajak dengan tegas dinyatakan bahwa “Pengadilan Pajak dalam hal gugatan memeriksa dan memutus sengketa atas pelaksanaan Penagihan Pajak atau keputusan pembetulan atau keputusan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 dan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku”;---

20. Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas, terbukti dan tidak terbantahkan jika upaya hukum atas penerbitan objek gugatan perkara a quo Surat Teguran berupa Surat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru Nomor : S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tanggal 9 Mei 2012 tentang penyelesaian hasil audit atas nama PT. Reda Pump Indonesia adalah berupa gugatan kepada Pengadilan Pajak;--- 21. Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka telah terbukti dan

tidak terbantahkan lagi bahwa Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru tidak berwenang untuk memeriksa, memutus dan

(42)

mengadili objek gugatan dalam perkara a quo oleh karenanya Tergugat mohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara a quo untuk menolak gugatan Penggugat atau setidak-tidaknya dinyatakan tidak Dapat Diterima;---- DALAM PENUNDAAN---

TANGGAPAN ATAS PERMOHONAN PENUNDAAN SURAT

KEPUTUSAN TATA USAHA NEGARA--- 22. Bahwa Tergugat dengan tegas menolak seluruh dalil-dalil Penggugat

pada halaman 12 (dua belas) sampai dengan halaman 13 (tiga belas) yang pada pokoknya meminta penundaan Surat Keputusan (Surat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru Nomor : S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tanggal 9 Mei 2012 tentang Penyelesaian hasil audit atas nama PT. Reda Pump Indonesia) yang dikeluarkan Tergugat dengan alasan menggangu dan menghambat aktivitas bisnis/usaha Penggugat dan pada akhirnya mengakibatkan kerugian materiil yang luar biasa bagi Penggugat;--- 23. Bahwa dalil-dalil tersebut merupakan alasan yang sangat

mengada-ada dan tidak dapat dibenarkan karena tidak berdasarkan hukum sama sekali sehingga sudah seharusnya ditolak;--- 24. Bahwa sesuai ketentuan Pasal 67 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5

Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 9 Tahun 2004, dinyatakan bahwa gugatan tidak menunda atau menghalangi pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat. Bahwa

(43)

dalam Pasal 67 ayat (4) huruf b Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 juga dinyatakan bahwa permohonan tidak dapat dikabulkan jika terdapat kepentingan umum yang mengharuskan dilaksanakan Keputusan Tata Usaha Negara tersebut;--- 25. Bahwa terhadap permohonan penundaan dalam gugatan yang diajukan oleh Penggugat tidak dapat dijadikan alasan untuk menunda atau menghalangi pelaksanaan Keputusan Tata Usaha Negara (Surat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru Nomor : S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tanggal 9 Mei 2012 tentang Penyelesaian hasil audit atas nama PT. Reda Pump Indonesia) karena tidak ada kepentingan umum sebagaimana yang disyaratkan dalam Pasal 67 ayat (4) huruf b tersebut di atas;--- 26. Bahwa selanjutnya, apabila permohonan penundaan tersebut dikabulkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru, justru Negara akan dirugikan kepentingannya karena tertundanya penerimaan Negara yang sangat diperlukan dalam rangka pembangunan nasional;--- 27. Bahwa apabila surat keputusan tersebut ditunda, jelas akan mengakibatkan tidak dilunasi tagihan sebesar Rp. 4.969.123.042,00 dan bunga 2% per bulan dari jumlah tagihan bea dan cukai terutang sebesar Rp. 2.385.179.060,00 sehingga jumlah seluruh yang harus dibayar oeh Penggugat sebesar Rp. 7.354.302.102,00 yang akan menghambat hak-hak Negara dan sumber penerimaan Negara yang sangat diperlukan dalam rangka pembangunan;---

(44)

28. Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka dengan ini Tergugat memohon kepada Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara a quo untuk menyatakan menolak permohonan penundaan yang dimohonkan Penggugat;--- 29. Bahwa dalil-dalil dan petitum Penggugat selain dan selebihnya sudah sepatutnya ditolak oleh Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru yang memeriksa perkara a quo karena gugatan Penggugat yang jelas-jelas tidak berdasar, sama sekali tidak beralasan dan hanya mengada-ada;--- Maka : Berdasarkan fakta hukum dan dalil yang disampaikan oleh

Tergugat di atas serta berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh Pasal 77 Undang-Undang Peradilan Tata Usaha Negara kepada Majelis Hakim pada perkara a quo cukup beralasan apabila Tergugat mohon kepada Majelis Hakim yang memeriksa, mengadili dan memutus pada perkara a quo berkenan untuk memberikan Putusan Sela terhadap Eksepsi yang diajukan oleh Tergugat dengan amar : --- DALAM EKSEPSI : ---

1. Menerima eksepsi Tergugat--- 2. Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima; --- DALAM PENUNDAAN :---

Menolak permohonan penundaan Penggugat;---

(45)

Bahwa atas Jawaban Eksepsi dan Penundaan dari Tergugat, Penggugat melalui Kuasa Hukumnya telah mengajukan Replik pada persidangan tanggal 11 Oktober 2012;---

Bahwa untuk membuktikan serta menguatkan dalil-dalil gugatannya, Penggugat telah mengajukan alat bukti berupa foto copy surat-surat yang telah bermeterai cukup yang diberi tanda Bukti P-1 sampai dengan Bukti P-8 serta telah dicocokkan dengan aslinya, adalah sebagai berikut :---

1. Bukti P-1 : Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi Dan Pajak Dalam Rangka Impor No. S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP-11/2005, tertanggal 21 Desember 2005 (Foto copy sesuai dengan aslinya); --- 2. Bukti P-2 : Surat Nomor : S-81/WBC.02/KP.11/2006, tertanggal

16 Februari 2006, Hal : Keberatan atas SPKPBM No. S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP-11/2005, tertanggal 21 Desember 2005 atas nama PT. Reda Pump Indonesia (Foto copy sesuai dengan aslinya); --- 3. Bukti P-3 : Surat Nomor : S-44/BC.6/2006, tertanggal 16 Januari

2006, Hal : Petunjuk Atas Temuan Audit Kepabeanan (Foto copy sesuai dengan aslinya); --- 4. Bukti P-4 : Surat Nomor : RPI/6029/MS/I/2006, tertanggal 17

Januari 2006, Hal : Keberatan Atas Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk (SPKPBM) Nomor :

(46)

11/2005, (Foto copy sesuai dengan aslinya); ---

5. Bukti P-5 : Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan (Foto copy sesuai dengan aslinya); ---

6. Bukti P-6 : Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 Tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa (Foto copy sesuai dengan aslinya);---

7. Bukti P-7 : Peraturan Menteri Keuangan Nomor 51/PMK.04/2008 Tentang Tata Cara Penetapan Tarif, Nilai Pabean, Dan Sanksi Administrasi, Serta Penetapan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Atau Pejabat Bea Dan Cukai (Foto copy sesuai dengan aslinya); ---

8. Bukti P-8 : Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 25/BC/2009 Tentang Bentuk Dan Isi Surat Penetapan, Surat Keputusan, Surat Teguran, Dan Surat Paksa (Foto copy sesuai dengan aslinya); --- Bahwa untuk membuktikan serta menguatkan dalil-dalil sangkalannya, Tergugat telah pula mengajukan alat bukti berupa foto copy surat-surat yang bermeterai cukup yang diberi tanda Bukti T – 1 sampai dengan Bukti T – 17 serta telah dicocokkan dengan aslinya, adalah sebagai berikut : ---

1. Bukti T-1 : Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Tentang

(47)

Peradilan Tata Usaha Negara (Foto copy sesuai dengan aslinya);--- 2. Bukti T-2 : Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 Tentang

Pengadilan Pajak (Foto copy sesuai dengan aslinya); --- 3. Bukti T-3 : Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang

Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan (Foto copy sesuai dengan aslinya);--- 4. Bukti T-4 : Undang-Undang 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman (Foto copy sesuai dengan aslinya); --- 5. Bukti T-5 : Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 Tentang

Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa jo. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 Tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa (Foto copy sesuai dengan aslinya); --- 6. Bukti T-6 : Peraturan Menteri Keuangan Nomor 51/PMK.04/2008 Tentang Tata Cara Penetapan Tarif, Nilai Pabean, Dan Sanksi Administrasi, Serta Penetapan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Atau Pejabat Bea Dan Cukai (Foto copy sesuai dengan aslinya); ---

(48)

7. Bukti T-7 : Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi Dan Pajak

Dalam Rangka Impor No.

S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP-11/2005, tertanggal 21 Desember 2005 (Foto copy sesuai dengan aslinya); --- 8. Bukti T-8 : Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran

Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi Dan Pajak

Dalam Rangka Impor No.

S-500126/AUDKAN/WBC.02/KP-11/2005, tertanggal 21 Desember 2005 (Foto copy sesuai dengan aslinya); --- 9. Bukti T-9 : Surat Nomor : RPI/6029/MS/I/2006, tertanggal 17

Januari 2006, Hal : Keberatan Atas Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea

Masuk (SPKPBM) Nomor :

S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP-11/2005, (Foto copy sesuai dengan aslinya); --- 10. Bukti T-10 : Surat Nomor : RPI/6030/MS/I/2006, tertanggal 17 Januari 2006, Hal : Keberatan Atas Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea

Masuk (SPKPBM) Nomor :

S-500126/AUDKAN/WBC.02/KP-11/2005, (Foto copy sesuai dengan aslinya); --- 11. Bukti T-11 : Surat Nomor : S-28/WBC.02/KP.11/2006,

(49)

tertanggal 25 Januari 2006, Hal : Tanggapan Atas Pengajuan Surat Keberatan SPKPBM (Foto copy sesuai dengan aslinya); --- 12. Bukti T-12 : Surat Setoran Pabean, Cukai Dan Pajak Dalam Rangka Impor (SSPCP) atas nama PT. Reda Pump Indonesia SPKPBM Nomor : S-500126/AUDKAN/WBC.02/KP-11/2005, (Foto copy sesuai dengan aslinya); --- 13. Bukti T-13 : Salinan Resmi Putusan Pengadilan Pajak No. Put. 10450/PP/M.III/19/2007, tertanggal 19 April 2007 atas nama PT. Reda Pump Indonesia terhadap

SPKPBM Nomor :

S-500126/AUDKAN/WBC.02/KP-11/2005 (Foto copy sesuai dengan salinan resmi putusan Pengadilan Pajak); --- 14. Bukti T-14 : Surat Nomor : ING/SGN/X-7764/AR, tertanggal 29 Oktober 2007, Hal : Permohonan Pengembalian Bea Masuk (Foto copy sesuai dengan aslinya); ---- 15. Bukti T-15 : Surat Perintah Membayar Kembali Bea Masuk, Nomor SPMKBM : 000002/SPMKBM/2007, tertanggal 14 Nopember 2007 (Foto copy sesuai dengan aslinya); --- 16. Bukti T-16 : Surat Perintah Pencairan Dana Nomor :

385651F/008/110, tertanggal 20 Nopember 2007

(50)

(Foto copy sesuai dengan aslinya); --- 17. Bukti T-17 : Surat Nomor : S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012, tertanggal 09 Mei 2012, Hal : Penyelesaian Hasil Audit Atas Nama PT. Reda Pump Indonesia (Foto copy sesuai dengan aslinya);--- Bahwa, sehubungan dengan adanya eksepsi Tergugat yang menyangkut kewenangan Absolut Pengadilan dan diminta agar diputus perkaranya terlebih dahulu sehingga Tergugat belum menanggapi terhadap pokok perkaranya, maka Majelis Hakim berdasarkan wewenang yang diberikan oleh ketentuan Pasal 77 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 harus mengambil sikap terhadap Eksepsi yang diajukan oleh Tergugat tersebut;---

Bahwa untuk mempersingkat uraian ini, maka segala sesuatu yang telah terjadi dipersidangan dicatat dalam Berita Acara Persidangan dan merupakan satu kesatuan dengan Putusan ini;---

TENTANG PERTIMBANGAN HUKUM

Menimbang, bahwa yang menjadi objek Gugatan dalam perkara ini adalah : Surat Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pekanbaru Nomor : S-293/WBC.03/KPP.MP.01/2012 tanggal 9 Mei 2012 tentang Penyelesaian Hasil Audit Atas Nama PT. Reda Pump Indonesia selanjutnya disebut objek gugatan (vide bukti T-17);--- Menimbang, bahwa menurut dalil-dalil Gugatannya Penggugat merasa kepentingannya dirugikan ( Pasal 53 ayat (1) dan ayat (2) huruf a

(51)

dan b Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara ), karena Tergugat dengan mengeluarkan surat keputusan objek sengketa telah mewajibkan pembayaran atas utang yang telah hapus demi hukum, yaitu tanggal 21 Desember 2005 atas kewajiban Penggugat berdasarkan Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi Dan Pajak Dalam Rangka Impor (SPKPBM) No. S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP-11/2005 (“Surat No. S-500124/2005”) kepada PT. Reda Pump Indonesia in casu Penggugat (vide bukti P-1 = T-7), sehingga oleh karenanya Penggugat memohon agar Keputusan objek Gugatan in litis yang diterbitkan oleh Tergugat tersebut dinyatakan batal atau tidak sah dan memohon kepada Pengadilan agar memerintahkan Tergugat untuk mencabut Keputusan objek Gugatan tersebut ; --- Menimbang, bahwa terhadap Gugatan dari Penggugat tersebut di atas, pihak Tergugat pada persidangan tanggal 25 September 2012 melalui Kuasa Hukumya telah mengajukan Jawaban dalam eksepsi dan Penundaan;--- DALAM EKSEPSI--- Eksepsi kewenangan mengadili : ---

Menimbang, bahwa Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru tidak memiliki kewenangan memeriksa dan mengadili objek gugatan pada perkara a quo, karena surat keputusan objek sengketa yang merupakan tindak lanjut dari SPKPBM Nomor :

S-500124/AUDKAN/.... ...

(52)

500124/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005 tanggal 21 Desember 2005 yang belum dilakukan pelunasan oleh Penggugat (vide bukti P-1 = T-7);--- Menimbang, bahwa Pasal 77 ayat (1) dan ayat (2) Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1986 menentukan bahwa : “eksepsi tentang kewenangan absolut Pengadilan dapat diajukan setiap waktu selama pemeriksaan, dan meskipun tidak ada eksepsi tentang kewenangan absolut pengadilan apabila hakim mengetahui hal itu, ia karena jabatannya wajib menyatakan bahwa Pengadilan tidak berwenang mengadili sengketa yang bersangkutan” ; ---

Menimbang, bahwa terhadap Eksepsi mengenai kewenangan absolut tersebut di atas sebagaimana dimasud dalam Pasal 77 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, maka Majelis Hakim akan mempertimbangkannya terlebih dahulu yang akan diuraikan dalam pertimbangannya di bawah ini ; --- Menimbang, bahwa terbitnya objek sengketa dalam perkara ini, adalah sebagai akibat atas surat SPKPBM Nomor : S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005 tanggal 21 Desember 2005 yang belum dilakukan pelunasan oleh Penggugat (vide bukti P-1 = T-7);---

Menimbang, bahwa pada tanggal 17 Januari 2006, berdasarkan Surat Nomor : RPI/6029/MS/I/2006 (vide bukti P-4 = T-9) dan Surat Nomor : RPI/6030/MS/I/2006 (vide bukti T-10), PT. Reda Pump Indonesia mengajukan keberatan atas SPKPBM Nomor : S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005 tanggal 21 Desember 2005 ;---

Menimbang, bahwa terhadap surat keberatan PT. Reda Pump Indonesia tersebut di atas, pada tanggal 25 Januari 2006 Tergugat telah

memberikan... ....

(53)

memberikan tanggapan dengan mengirimkan surat Nomor : S-28/WBC.02/KPP.01/2006 kepada PT. Reda Pump Indonesia (vide bukti T-11);---

Menimbang, bahwa Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak (bukti T-2) menentukan bahwa yang dimaksud dengan sengketa pajak adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara Wajib Pajak atau penanggung Pajak dengan Pejabat yang berwenang sebagai akibat dikeluarkannya keputusan yang dapat diajukan Banding atau Gugatan kepada Pengadilan Pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan, termasuk Gugatan atas pelaksanaan penagihan berdasarkan Undang-Undang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa ;--

Menimbang, bahwa berdasarkan dalil yang sama-sama telah diakui kedua belah pihak baik pihak Penggugat maupun Tergugat yaitu bahwa objek gugatan merupakan tindak lanjut dari SPKPBM Nomor : S-500124/AUDKAN/WBC.02/KP.11/2005 tanggal 21 Desember 2005 yang belum dilakukan pelunasan oleh Penggugat (vide bukti P-1 = T-7) tentang Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi Dan Pajak, maka menurut pendapat Majelis Hakim objek sengketa dalam perkara ini merupakan sengketa dalam bidang perpajakan;--- Menimbang, bahwa dari alasan-alasan hukum tersebut di atas, maka Majelis Hakim berkesimpulan dan berpendapat bahwa Pengadilan yang berwenang dan mempunyai tugas untuk memeriksa dan memutus sengketa ini adalah Pengadilan Pajak, sehingga dengan demikian

(54)

Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru secara absolut tidak berwenang mengadili sengketa ini;---

Menimbang, bahwa oleh karenanya Majelis Hakim telah menyatakan Pengadilan Tata Usaha Negara secara kewenangan absolut tidak berwenang, maka dengan demikian Eksepsi Tergugat tersebut haruslah dinyatakan diterima ; ---

DALAM POKOK PERKARA : ---

Menimbang, bahwa dengan diterimanya Eksepsi Tergugat, maka pemeriksaan sengketa perkara ini berakhir dan tidak dilanjutkan lagi, sehingga terhadap pokok perkaranya haruslah dinyatakan tidak diterima; ---

Menimbang, bahwa oleh karena gugatan Penggugat dinyatakan tidak diterima maka Penggugat dinyatakan sebagai pihak yang kalah dan kepadanya berdasarkan Pasal 110 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 haruslah dihukum untuk membayar biaya perkara yang besarnya akan ditetapkan dalam amar putusan di bawah ini ; --- Menimbang, bahwa terhadap perkara ini terdapat pendapat yang berbeda dari Hakim Anggota II yaitu sebagai berikut :--- Menimbang, bahwa maksud gugatan Penggugat adalah sebagaimana telah diuraikan di atas;---

Menimbang, bahwa terhadap gugatan Penggugat tersebut, Tergugat telah mengajukan Jawaban/Sangkalan-nya tertanggal 25 September 2012 tentang Eksepsi adalah sebagai berikut;---

Referensi

Dokumen terkait

Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara Pasal 1. ayat (9)menyatakan bahwa: Keputusan Tata Usaha Negara

Menimbang, bahwa menurut Majelis Hakim hal tersebut penting untuk diketahui terlebih dahulu, mengingat surat keputusan yang menjadi obyek sengketa a quo yang

Menimbang, bahwa setelah mencermati objek sengketa a quo yaitu berupa pemberhentian tidak dengan hormat atas nama Penggugat (Vide : Bukti P-1=T-1), serta dihubungkan

Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peru- bahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yang dimaksud Sengketa Tata Usaha

Bahwa berdasarkan Surat Keputusan Nomor : 140/Pemdes/XII/2012/182 perihal Hasil Tes Bakal Calon Kepala Desa Buluh Cina Kecamatan Siak Hulu tertanggal 10 Desember 2012,

Menimbang, bahwa proses penerbitan Surat Keputusan objek sengketa diawali dengan adanya Laporan Polisi No.Pol :LP-A/38/X/2013/Propam tanggal 29 Oktober 2013 yang

Halaman 47 dari 81 halaman oleh Tergugat sebelum menerbitkan sertipikat, maka Hakim Anggota I dan Hakim Anggota II berpendapat hal tersebut merupakan kewenangan Peradilan

telah dijatuhi hukuman disiplin berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 yang telah dicabut dan dirubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010