RINGKASAN SURAT EDARAN BANK INDONESIA SEPTEMBER DESEMBER
III. Pokok-pokok Perubahan
Realisasi untuk persetujuan roll over PLN Jangka Panjang dan/atau roll over PLN Jangka Pendek menjadi PLN Jangka Panjang dapat disesuaikan dengan jatuh tempo per tranche. Dengan demikian, apabila realisasi PLN Bank pada awalnya dilakukan secara bertahap (dalam beberapa tranches), maka realisasi perpanjangan PLN tersebut dapat melampaui 3 (tiga) bulan dari tanggal persetujuan roll over sesuai dengan jatuh tempo masing- masing tranche pinjaman tersebut.
1. Penyempurnaan SE BI ini merupakan tindaklanjut dari telah diterbitkannya Peraturan Bank Indonesia No. 14/12/PBI/2012 tanggal 15 Oktober 2012 dan dalam rangka menciptakan keseragaman dalam penyusunan dan penyampaian Laporan Kantor Pusat Bank Umum.
2. Pokok-pokok pengaturan Surat Edaran Bank Indonesia (SE BI) ini adalah menyempurnakan pedoman penyusunan laporan dan petunjuk teknis aplikasi laporan khususnya terkait dengan laporan-laporan sebagai berikut: 1. proyeksi arus kas.
2. aktivitas Bank sebagai agen penjual produk non Bank yang meliputi: a. bancassurance;
b. reksadana; dan
c. produk keuangan luar negeri.
3. transaksi perbankan melalui delivery channel e-banking. 4. structured products. 5. pejabat eksekutif. Ringkasan Tanggal No. Peraturan 14/31/DPNP 31 Oktober 2012
6. jaringan kantor
7. laporan keuangan publikasi Bank 8. tenaga kerja perbankan
3. SE BI ini mulai berlaku sejak tanggal 1 November 2012.
1. Repo SBSN Operasi Pasar Terbuka (OPT) Syariah merupakan instrumen yang digunakan oleh Bank Indonesia untuk penambahan likuiditas Bank dalam rangka Operasi Moneter Syariah (OMS) atau ekspansi moneter. 2. Akad yang digunakan dalam Repo SBSN adalah menggunakan akad al
bai’ (jual beli) yang disertai dengan al wa’d (janji) oleh BUS/UUS kepada Bank Indonesia untuk membeli kembali SBSN.
3. Repo SBSN OPT Syariah dapat dilakukan pada setiap hari kerja Bank Indonesia dengan jangka waktu Repo SBSN OPT Syariah paling singkat 1 (satu) hari dan paling lama 12 (dua belas) bulan yang dinyatakan dalam hari.
4. Repo SBSN OPT Syariah dilakukan melalui mekanisme lelang, baik lelang fixed rate tender maupun variable rate tender.
5. BUS/UUS dapat mengikuti Repo SBSN OPT Syariah untuk kepentingan sendiri, dengan memenuhi syarat :
a. berstatus aktif sebagai peserta BI-SSSS dan Sistem BI-RTGS;
b. tidak dalam masa pengenaan sanksi penghentian sementara untuk mengikuti kegiatan OMS;
c. memiliki rekening giro di Sistem BI-RTGS; dan d. memiliki rekening surat berharga di BI-SSSS.
6. BUS/UUS dapat mengajukan penawaran Repo SBSN OPT Syariah secara langsung dan/atau melalui Lembaga Perantara.
7. Lembaga Perantara adalah pialang pasar uang rupiah dan valuta asing, dan pialang pasar modal yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia sebagai dealer utama. Lembaga Perantara Lembaga Perantara hanya dapat mengajukan penawaran untuk kepentingan BUS/UUS dan harus memenuhi syarat sebagai berikut:
Ringkasan Tanggal
No. Peraturan
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 10, Nomor 3, September - Desember 2012
a. berstatus aktif sebagai peserta BI-SSSS; dan
b. tidak sedang dikenakan sanksi terkait izin usaha oleh otoritas pengawas yang berwenang.
8. SBSN yang dapat di-repo-kan memenuhi syarat sebagai berikut : a. SBSN Jangka Panjang dan SBSN Jangka Pendek;
b. tercatat dalam Rekening Surat Berharga di BI-SSSS; c. tidak sedang diagunkan; dan
d. memiliki sisa jangka waktu paling singkat 3 (tiga) hari kerja pada saat second leg Repo SBSN.
9. Bank Indonesia mengumumkan rencana lelang Repo SBSN OPT Syariah melalui BI-SSSS paling lambat sebelum window time, pelaksanaan lelang antara pukul 08.00 WIB sampai dengan 16.00 WIB.
10. Pengajuan penawaran Repo SBSN OPT Syariah antara lain meliputi: a. nilai nominal, jenis dan seri SBSN yang di-repo-kan, untuk lelang
dengan metode fixed rate tender; atau
b. nilai nominal, jenis dan seri SBSN yang di-repo-kan dan Marjin Repo SBSN, untuk lelang dengan metode variable rate tender.
11. Bank Indonesia mengumumkan hasil lelang Repo SBSN OPT Syariah setelah window time ditutup secara individual kepada pemenang lelang maupun secara keseluruhan.
12. Setelmen dilakukan melalui BI-SSSS dengan ketentuan sebagai berikut: a. first leg
BUS/UUS wajib menyediakan jenis dan seri SBSN yang direpokan dalam jumlah yang cukup untuk setelmen first leg.
b. second leg
• setelmen second leg dilakukan secara otomatis di BI-SSSS pada tanggal Repo SBSN OPT Syariah jatuh waktu (second leg), sejak Sistem BI-RTGS dibuka sampai dengan cut off warning Sistem BI- RTGS.
• BUS/UUS wajib menyediakan saldo Rekening Giro dalam jumlah yang cukup untuk setelmen second leg.
13. Dalam hal BUS/UUS tidak dapat memenuhi kewajiban setelmen second leg, Repo SBSN diperlakukan sebagai transaksi penjualan secara outright.
Ringkasan Tanggal
14. Atas pembatalan Repo SBSN karena tidak terpenuhinya kewajiban setelmen, BUS/UUS dikenakan sanksi :
a. sanksi teguran tertulis;
b. kewajiban membayar sebesar 0,01% (satu per sepuluh ribu) dari nilai transaksi Repo SBSN yang dinyatakan batal, paling sedikit sebesar Rp10.000.00,00 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah);
c. dalam hal BUS/UUS melakukan transaksi OMS yang dinyatakan batal sebanyak 3 (tiga) kali dalam kurun waktu 6 (enam) bulan, BUS/UUS dikenakan sanksi berupa penghentian sementara untuk mengikuti kegiatan OMS selama 5 (lima) hari kerja berturut-turut; dan
d. sanksi tambahan dalam hal terjadi kegagalan setelmen second leg dan harga SBSN pada saat second leg lebih rendah dari harga SBSN pada transaksi first leg.
1. Latar belakang
Sebagaimana pada perbankan konvensional, pertumbuhan pembiayaan kepemilikan rumah (KPR iB) yang terlalu tinggi pada perbankan syariah dapat mendorong peningkatan harga aset properti yang tidak mencerminkan harga sebenarnya (bubble) sehingga dapat meningkatkan risiko kredit bagi bank yang memiliki eksposur pembiayaan properti yang besar. Demikian pula untuk pembiayaan kendaraan bermotor (KKB iB) bahwa pembiayaan KKB iB yang terlalu ekspansif dapat meningkatkan risiko kredit bagi bank.
Dalam rangka penerapan prinsip kehati-hatian dan peningkatan peran perbankan syariah dalam mendukung pertumbuhan perekonomian nasional melalui pembiayaan yang produktif maka sebagaimana yang telah diberlakukan untuk perbankan konvensional, perbankan syariah perlu menetapkan kebijakan terkait denganpembiayaan KPR iB dan KKB iB. Kebijakan dalam pembiayaan KPR iB dan KKB iB pada perbankan syariah dilakukan dengan tetap memperhatikan karakteristik produk perbankan syariah termasuk fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional- Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).
2. Pokok-pokok ketentuan a. Produk pembiayaan KPR iB Ringkasan Tanggal No. Peraturan 14/33/DPbS 27 November 2012
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 10, Nomor 3, September - Desember 2012
1) Pengaturan pembiayaan KPR iB hanya diberlakukan untuk pembiayaan KPR iB untuk rumah/bangunan tipe 70 ke atas dan tidak termasuk KPR iB dalam rangka pelaksanaan program perumahan yang ditetapkan pemerintah.
2) Pembiayaan KPR iB dengan akad Murabahah atau Istishna dikenakan ketentuan batasan Financing to Value (FTV) paling tinggi 70% artinya jumlah pembiayaan yang dapat diberikan oleh bank syariah paling banyak sebesar 70% dari nilai agunan yang diserahkan nasabah. Agunan dalam hal ini adalah rumah/bangunan yang dibiayai bank. 3) Pembiayaan KPR iB dengan skim Musyarakah Mutanaqisah (MMQ)
dipersyaratkan adanya batasan penyertaan (sharing) kepemilikan rumah/bangunan pada saat awal oleh bank syariah ditetapkan paling tinggi 80% dari nilai rumah/bangunan, atau dengan kata lain nasabah diharuskan melakukan penyertaan (sharing) kepemilikan awal paling rendah 20% nilai rumah/bangunan.
4) Pembiayaan KPR iB dengan akad Ijarah Muntahiya Bittamlik (IMBT) dipersyaratkan adanya uang jaminan (deposit) yang harus diserahkan oleh nasabah kepada bank syariah paling rendah 20% dari nilai rumah/bangunan. Uang jaminan tersebut nantinya akan diperhitungkan sebagai pembayaran atas pembelian rumah/ bangunan pada saat akad IMBT jatuh tempo dalam hal nasabah mengambil opsi untuk membeli rumah/bangunan yang menjadi obyek IMBT.
Dalam hal nasabah tidak mengambil opsi untuk membeli rumah/ bangunan yang menjadi obyek IMBT, maka uang jaminan tersebut akan dikembalikan kepada nasabah.
b. Produk pembiayaan KKB iB
Pembiayaan KKB iB pada perbankan syariah dipersyaratkan adanya uang muka (down payment) dari nasabah yaitu:
Ringkasan Tanggal
No. Peraturan
Ketentuan Keterangan
Uang muka paling rendah 25%
Uang muka paling rendah 30%
untuk pembelian kendaraan bermotor roda dua atau roda 3.
untuk pembelian kendaraan bermotor roda empat untuk keperluan non produktif.
3. Ketentuan FTV, penyertaan (sharing), dan uang jaminan (deposit) untuk KPR iB serta uang muka (down payment) untuk KKB iB sebagaimana dimaksud dalam angka 2 dan angka 3 tersebut di atas dapat disesuaikan dari waktu ke waktu sesuai dengan kondisi perekonomian Indonesia. 4. Sanksi pelanggaran:
a. Bank Indonesia meminta BUS atau UUS untuk menghentikan kegiatan produk KPR iB dan/atau KKB iB apabila melanggar ketentuan butir IV.C, butir V.B, butir V.D, dan butir VI.B Surat Edaran ini.
b. BUS atau UUS yang tidak menghentikan kegiatan produk KPR iB dan/atau KKB iB sesuai permintaan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud pada huruf a, dikenakan sanksi administratif sebagaimana diatur dalam Pasal 11 Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/17/PBI/2008 tentang Produk Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah.
5. BUS atau UUS yang telah memiliki kebijakan dan prosedur tertulis mengenai penyaluran KPR iB dan/atau KKB iB sebelum Surat Edaran ini berlaku, wajib menyesuaikan kebijakan dan prosedur KPR iB dan/atau KKB iB serta menyampaikannya kepada Bank Indonesia paling lambat pada tanggal 31 Maret 2013.
Ringkasan Tanggal
No. Peraturan
Ketentuan Keterangan
Uang muka paling rendah 20%
untuk pembelian kendaraan bermotor roda empat atau lebih untuk keperluan produktif, yaitu bila memenuhi salah satu syarat :
1) merupakan kendaraan angkutan orang atau barang yang memiliki izin yang dikeluarkan oleh pihak berwenang untuk melakukan kegiatan usaha tertentu; atau 2) diajukan oleh perorangan atau
badan hukum yang memiliki izin usaha tertentu yang dikeluarkan oleh pihak berwenang dan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional usaha yang dimiliki.
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 10, Nomor 3, September - Desember 2012
6. Ketentuan FTV, penyertaan (sharing), dan uang jaminan (deposit) untuk KPR iB dan uang muka (down payment) untuk KKB iB tidak berlaku untuk KPR iB dan KKB iB yang sudah mendapat persetujuan Bank sebelum berlakunya Surat Edaran ini.
7. Surat Edaran ini mulai berlaku sejak tanggal 27 November 2012, sedangkan ketentuan FTV, penyertaan (sharing), dan uang jaminan (deposit) untuk KPR iB serta uang muka (down payment) untuk KKB iB mulai berlaku pada tanggal 1 April 2013.
1. Surat Edaran Bank Indonesia ini diterbitkan untuk meningkatkan aspek perlindungan konsumen pengguna Kartu Kredit di Indonesia serta mendukung praktek pemberian Kartu Kredit yang lebih memperhatikan manajemen risiko pemberian kredit.
2. Materi pengaturan Surat Edaran Bank Indonesia ini antara lain mencakup: a. penetapan batas maksimum suku bungan Kartu Kredit yang wajib
diterapkan oleh Penerbit Kartu Kredit, yaitu sebesar 2,95% (dua koma sembilan puluh lima persen) per bulan atau 35,40% (tiga puluh lima koma empat puluh persen) per tahun;
b. batas maksimum suku bunga Kartu Kredit tersebut berlaku baik untuk transaksi pembelanjaan maupun transaksi tarik tunai; dan
c. penegasan bahwa Bank Indonesia dapat mengubah batas maksimum suku bunga Kartu Kredit tersebut dengan mempertimbangkan, antara lain:
1) indikator perekonomian seperti BI rate;
2) struktur biaya Kartu Kredit yang meliputi biaya dana (cost of fund), biaya operasional dan pengelolaan risiko kredit oleh Penerbit (risk premium); dan/atau
3) praktek suku bunga yang dikenakan oleh Penerbit.
3. Surat Edaran Bank Indonesia ini berlaku secara efektif pada 1 Januari 2013.
Ringkasan Tanggal
No. Peraturan
Latar Belakang Pengaturan :
Surat Edaran (SE) ini merupakan tindak lanjut dari telah diterbitkannya Peraturan Bank Indonesia No. 14/14/PBI/2012 tanggal 18 Oktober 2012 tentang Transparansi dan Publikasi Laporan Bank. SE ini mewajibkan bank untuk menyampaikan informasi berkala mengenai kondisi Bank secara menyeluruh, sehingga dapat meningkatkan transparansi kondisi keuangan Bank kepada publik dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan. Penyesuaian SE ini juga diselaraskan dengan implementasi Pilar 3 Basel II mengenai market discipline.
Substansi Pengaturan :
1. Laporan Tahunan paling kurang mencakup: a. Informasi Umum
b. Laporan Keuangan Tahunan c. Opini dari Akuntan Publik
d. Pengungkapan Permodalan serta Pengungkapan Eksposur Risiko dan Penerapan Manajemen Risiko Bank
e. Aspek Transparansi sesuai Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan f. Aspek Pengungkapan yang terkait dengan Kelompok Usaha g. Aspek Pengungkapan sesuai Standar Akuntansi Keuangan h. Informasi Lain
2. Penyesuaian utama dalam cakupan Laporan Tahunan adalah diwajibkannya pengungkapan secara lebih detail dan komprehensif mengenai eksposur risiko dan penerapan manajemen risiko bank, serta kecukupan permodalan yang dimiliki. Pengungkapan permodalan serta pengungkapan eksposur risiko dan penerapan manajemen risiko bank dilakukan untuk Bank secara individual dan Bank secara konsolidasi dengan perusahaan anak, serta paling kurang terdiri atas:
a. Pengungkapan permodalan; dan
b. Pengungkapan eksposur risiko dan penerapan manajemen risiko paling kurang untuk risiko kredit, risiko pasar, risiko operasional, risiko likuiditas, risiko hukum, risiko stratejik, riisko kepatuhan dan risiko reputasi. 3. Selain menyampaikan Laporan Tahunan, Bank yang merupakan bagian
dari kelompok usaha dan/atau Bank yang memiliki Perusahaan Anak, wajib menyampaikan laporan tahunan tertentu kepada Bank Indonesia yang paling kurang mencakup:
Ringkasan Tanggal
No. Peraturan
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 10, Nomor 3, September - Desember 2012
a. Laporan tahunan Perusahaan Induk dan laporan tahunan Perusahaan Induk di Bidang Keuangan;
b. Laporan tahunan pemegang saham langsung yang memiliki saham mayoritas atau laporan tahunan perusahaan yang melakukan pengendalian langsung kepada Bank; dan
c. Laporan tahunan Perusahaan Anak.
4. Ketentuan penyampaian Laporan Tahunan dan laporan tahunan tertentu mulai berlaku terhadap penyampaian Laporan Tahunan dan laporan tahunan tertentu Tahun Buku 2012.
1. Surat Edaran ini merupakan ketentuan pelaksanaan dari PBI No.14/9/PBI/2012 tentang Uji Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test) BPR. 2. Dengan diberlakukannya ketentuan ini, maka Surat Edaran Bank Indonesia
No.6/35/DPBPR tanggal 16 Agustus 2004 perihal Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test) Bank Perkreditan Rakyat, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
3. Penyempurnaan pengaturan ini antara lain:
a. Penyempurnaan cakupan pihak-pihak yang wajib menjalani uji kemampuan dan kepatutan.
1. Penambahan calon Pemegang Saham Pengendali (PSP), calon anggota Dewan Komisaris, dan calon anggota Direksi BPR yang melakukan merger dan konsolidasi sebagai pihak-pihak yang wajib menjalani uji kemampuan dan kepatutan.
2. Penambahan PSP, anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi, dan atau Pejabat Eksekutif yang sudah tidak lagi menjadi PSP atau tidak lagi menjabat sebagai anggota Komisaris, Direksi, atau Pejabat Eksekutif namun terindikasi mempunyai permasalahan integritas, kelayakan/reputasi keuangan dan/atau kompetensi pada bank, sebagai pihak yang wajib menjalani uji kemampuan dan kepatutan. 3. Terhadap pengangkatan kembali jabatan anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi pada BPR yang sama tidak dilakukan uji kemampuan dan kepatutan. Pengangkatan kembali jabatan anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi tersebut dilaporkan kepada Bank Indonesia paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah RUPS dengan memperhatikan berakhirnya masa jabatan anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi.
Ringkasan Tanggal
No. Peraturan
b. Penyempurnaan tatacara uji kemampuan dan kepatutan: 1. New Entry
Memuat penjelasan mengenai:
• tata cara uji kemampuan dan kepatutan melalui penelitian administratif dan wawancara.
• tatacara penghentian uji kemampuan dan kepatutan bagi calon yang diajukan BPR.
2. Existing
Memuat penjelasan mengenai:
• tindakan/perbuatan yang termasuk dalam permasalahan integritas, kelayakan/reputasi keuangan dan/atau kompetensi bagi uji kemampuan dan kepatutan.
• sumber bukti/data/informasi sebagai dasar dilakukan uji kemampuan dan kepatutan.
• tahapan penilaian.
• klasifikasi tingkat keterlibatan/peran dari pihak yang diuji. • konsekuensi tidak lulus khususnya apabila pihak yang ditetapkan
tidak lulus tersebut telah menjadi pemegang saham atau pengurus pada bank lain.
• surat kuasa menjual saham (bentuk, isi, dan pihak yang dapat menerima surat kuasa menjual).
c. Penjelasan pengenaan jangka waktu sanksi, sebagaimana tercantum dalam Lampiran 3a dan 3b Surat Edaran ini.
d. Penjelasan ketentuan peralihan.
1. Penyempurnaan SE BI ini merupakan tindaklanjut dari telah diterbitkannya Peraturan Bank Indonesia No. 14/18/PBI/2012 tanggal 28 November 2012 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.
2. Pokok-pokok pengaturan Surat Edaran Bank Indonesia (SE BI) ini meliputi antara lain:
a. Komponen Internal Capital Adequacy Assessment Process (ICAAP) paling kurang mencakup:
1. Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi
Tanggung jawab Dewan Komisaris dan Direksi dalam ICAAP antara lain adalah (i) memahami sifat dan tingkat risiko yang dihadapi oleh Bank, menilai kecukupan kualitas manajemen risiko, dan mengaitkan tingkat risiko dengan kecukupan modal yang dimiliki Bank untuk mengantisipasi risiko-risiko yang dihadapi dan untuk
Ringkasan Tanggal
No. Peraturan
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 10, Nomor 3, September - Desember 2012
mendukung rencana bisnis serta rencana strategis Bank di masa mendatang dan (ii) memastikan terlaksananya ICAAP secara konsisten dan terintegrasi dalam aktivitas operasional Bank. 2. Penilaian Kecukupan Modal
Dalam pelaksanaan penilaian kecukupan modal, bank antara lain wajib memiliki kebijakan dan prosedur yang memadai untuk memastikan bahwa seluruh risiko telah diidentifikasi, diukur, dan dilaporkan secara berkala kepada Dewan Komisaris dan Direksi. Selain itu Bank wajib memiliki metode dan proses dalam melakukan penilaian kecukupan permodalan dengan mengaitkan tingkat risiko dengan tingkat permodalan yang dibutuhkan untuk menyerap potensi kerugian dari risiko dimaksud. Hasil pengukuran risiko dan perhitungan tingkat permodalan yang dibutuhkan, termasuk metode dan asumsi yang digunakan wajib didokumentasikan. 3. Pemantauan dan Pelaporan
Dalam proses pemantauan dan pelaporan, Bank wajib memiliki sistem informasi yang memadai untuk memantau dan melaporkan eksposur risiko serta mengukur dampak perubahan profil risiko terhadap kebutuhan modal Bank. Laporan disampaikan secara berkala kepada Dewan Komisaris dan Direksi.
4. Pengendalian Internal
Dalam pelaksanaan pengendalian internal, Bank wajib memiliki sistem pengendalian intern yang memadai untuk memastikan keandalan dari ICAAP yang diimplementasikan serta melakukan kaji ulang ICAAP secara berkala paling kurang 1 (satu) tahun sekali dan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan Bank.
b. Terhadap ICAAP bank, Bank Indonesia melakukan Supervisory Review and Evaluation Process (SREP), yang meliputi penilaian terhadap: 1. Kecukupan pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi; 2. Kecukupan penilaian kecukupan modal;
3. Kecukupan pemantauan dan pelaporan; 4. Kecukupan pengendalian internal.
c. Laporan penilaian kecukupan modal minimum sesuai profil risiko dan Laporan pemenuhan CEMA minimum disusun sesuai pedoman yang diatur dalam SE BI ini.
d. Dalam rangka pemenuhan CEMA, aset keuangan yang digunakan sebagai CEMA harus bebas dari klaim pihak manapun yang dibuktikan dengan surat pernyataan dari kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri. Surat pernyataan tersebut mengacu pada format surat pernyataan dalam Lampiran SE BI ini.
Ringkasan Tanggal
e. Pemenuhan CEMA minimum dilakukan melalui tahapan implementasi sebagai berikut:
1. Seluruh kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri wajib memenuhi CEMA minimum sebesar 8% (delapan persen) dari total kewajiban bank paling lambat posisi bulan Juni 2013. 2. Dalam hal CEMA minimum sebesar 8% terhadap rata-rata total kewajiban lebih kecil dari Rp1 Triliun sejak posisi bulan Juni 2013 sampai dengan posisi bulan November 2017, kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri tetap wajib memenuhi CEMA minimum sebesar 8% (delapan persen) dari total kewajiban bank.
3. Kewajiban pemenuhan CEMA minimum paling sedikit Rp1 Triliun bagi kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri sebagaimana dimaksud pada angka 2), berlaku sejak posisi bulan Desember 2017.
1. Surat Edaran Bank Indonesia ini merupakan peraturan pelaksanaan dari Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/3/PBI/2012 tentang Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme bagi Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran Selain Bank (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5302), Surat Edaran ini memuat pedoman standar penerapan program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme bagi Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran Selain Bank.
2. Dalam menerapkan Program APU dan PPT, Penyelenggara wajib memiliki kebijakan dan prosedur tertulis yang paling kurang mencakup:
a. pelaksanaan Customer Due Diligence (CDD) dan Enhanced Due Diligence (EDD), yang terdiri dari:
1. permintaan informasi dan dokumen; 2. verifikasi dokumen; dan
3. pemantauan transaksi. b. penatausahaan dokumen;
c. penetapan profil pengguna jasa dan pengkinian informasi pengguna jasa;
d. penolakan dan penghentian hubungan usaha; e. kebijakan dan prosedur transfer dana; dan f. pelaporan kepada PPATK.
Ringkasan Tanggal
No. Peraturan
Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan • Volume 10, Nomor 3, September - Desember 2012
3. Dalam hal Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran Selain Bank berhubungan dengan Pengguna Jasa yang tergolong berisiko tinggi terhadap kemungkinan pencucian uang dan pendanaan terorisme, Penyelenggara tersebut wajib melakukan prosedur CDD yang lebih mendalam yang disebut dengan Enhanced Due Diligence (EDD).
4. Penyelenggara wajib menatausahakan dokumen dengan baik sebagai upaya untuk membantu pihak yang berwenang dalam melakukan penelusuran terhadap dana-dana yang diindikasikan berasal dari hasil tindak pidana.
5. Penyelenggara wajib memiliki fungsi pengendalian internal yang efektif yang dilakukan dengan penetapan kebijakan Direksi, yang dapat memastikan bahwa pelaksanaan Program APU dan PPT telah sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan.
6. Ketentuan dalam Surat Edaran Bank Indonesia ini mulai berlaku pada tanggal 8 Juni 2013.
I. Ketentuan ini merupakan penyempurnaan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/3/DPM perihal Laporan Harian Bank Umum sehubungan dengan adanya pengembangan sistem dan tata cara pelaporan Laporan Harian Bank Umum melalui perubahan beberapa form pelaporan.
II. Penyempurnaan pengaturan meliputi :
1. Penyempurnaan pelaporan proyeksi arus kas terkait dengan penyempurnaan metode perhitungan proyeksi arus kas berdasarkan pendekatan remaining maturity dan berdasarkan pendekatan behavioral dan rencana pendanaan-penggunaan.
2. Penyempurnaan pelaporan transaksi valas meliputi penyempurnaan kode tujuan transaksi yang lebih rinci dan penambahan field jenis dokumen untuk transaksi tod/tom/spot, transaksi derivatif berupa