• Tidak ada hasil yang ditemukan

POKOK-POKOK PEMIKIRAN POLITIK MAUDUDI

Dalam dokumen Tiga ulama idola kaum Fundametalis (Halaman 62-67)

Landasan Pemikiran Politiknya

Pemikiran politik Maududi mengacu kepada apa yang ia sebut dengan “Empat Istilah Asasi” dalam Alquran. Keempat istilah itu menurut Maududi menjadi poros dan tema sentral ajaran Islam. Menurutnya hanya dengan memahami dan menghayati empat istilah itu, kaum Muslim akan dapat memahami dan menghayati “hakikat” ajaran Islam. Pemahaman terhadap empat istilah ini harus dilakukan dengan tukus ikhlas,

tanpa ada tujuan tertentu yang tidak sesuai dengan misi Islam.1

Selanjutnya Maududi menyatakan, bahwa seseorang yang ingin melakukan studi terhadap Alquran itu harus terlebih dahulu memahami secara serius empat istilah ini; sebab semua surat dan ayat yang berisi petunjuk, sejarah hukum dan lain-lain sebetulnya berpusat pada ungkapan di bawah ini :

”Bahwa Allah itu adalah Rabb dan Ilah

1 Lihat Abul A’la al-Maududi, al-Mustalahat al-Arba’ah Fil-Qur’an al-Ilah, ar-Rabb, ad-Din, Darul Qalam, Kuwait, Cet. V, 1971, dan Lihat juga Maududi, Muqaddimah Tafhimul Qur’an, dalam Samir Abdul hamid Ibrahim, Abul A’la al-Maududi Fikruhu wa Da’watuhu, Darul Ansar, Kairo, Cet. I, 1979, h. 111-112.

TIGA

POKOK-POKOK PEMIKIRAN

POLITIK MAUDUDI

Sesungguhnya tidak ada Rabb dan Ilah kecuali Dia Hanya kepadaNyalah manusia pantas beribadah

Dan hanya untukNya Yang Esa itulah agama (ad-Din) ini diikhlaskan”.2

Dari ungkapan ini, jelaslah bahwa yang perlu dikaji pengertiannya secara mendalam dalam Alquran adalah empat istilah: al-Ilah, ar-Rabb, al-‘Ibadah, dan ad-Din. Jika pemahaman Empat istilah ini keliru, maka sebagian besar inti dan esensi ajaran akan kurang jelas, bahkan akan sirna dari pemahaman dan penghayatan kaum Muslimi.

Ketika Alquran diturunkan kepada masyarakat Arab Jahiliah, kemudian kepada masyarakat Islam, secara alami istilah al-Ilah dan ar-Rabb dapat dipahami secara benar; sebab kedua isttilah tersebut sudah biasa mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka paham betul maksud dua istilah itu dalam semua konteks yang berbeda. Justruitu, jika mereka mendengar “Tiada Ilah selaih Allah dan tiada Rabb melainkan Dia, serta tiada sekutu bagiNya dalam keilahian dan kerabbian-Nya”, mereka paham betul esensi ajaran yang terkandung dalam ungkapan itu, tanpa sedikitpun terselip ketidak jelasan. Jadi orang yang menentang ungkapan tersebut “kafir”, Kafir dengan penuh kesadaran terhadap keilahian dan kerabbian Allah. Demikian juga orang beriman, ia beriman dengan penuh kesadaran dengan pengertian yang mendalam terhadap dampak

dan akibat penerimaan akidah baru itu.3

Demikian juga dua istilah yang lain, yakni al-‘ibadah dan

ad-din sebab dua istilah terakhir ini sudah biasa dipakai dalam

percakapan sehari-hari. Mereka paham maksud al-‘abd, tindakan yang disebut ‘Ubudiyah, serta cara praktis yang disebut

al-‘ibadah. Mereka juga paham kedudukan dan pengertian ad-din.

Jadi setelah mereka mendengar seruan Alquran “agar beribadah

anda kepada Allah dan jauhilah Tagut”,4 dan masuklah ke

dalam al-din (agama) Allah dengan melepaskan semua agama

2 Ibid., h. 7.

3 Lihat Ibid., h. 8.

(al-Adyan) yang lain, mereka tidak keliru dalam memahami inti

dakwah Alquran ini.5

Setelah beberapa waktu kaum Muslim melewati masa kejayaan, Empat Istilah Asasi dalam Alquran itu menurut Maududi mengalami perubahan dan penyempitan pengertian dengan argumen (dalalah) yang tidak jelas. Ini biasa terjadi, karena dua faktor utama. Pertama, karena semakin menipisnya rasa bahasa ke-Araban (az-zawqul ‘Arabi) yang murni di kalangan kaum Muslim pada masa itu. Kedua, kaum Muslim yang dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah masyarakat Islam sudah tidak menemui pengertian Empat Istilah Asasi dalam Alquran itu, seperti pengertian yang terkenal dalam masyarakat jahiliah ketika diturunkannya Alquran. Akibatnya, para penyusun Kamus dan para penafsir kata-kata dalam Alquran mengartikan Empat Istilah itu dengan pengertian yang berkembang pada masa terakhir sebagai ganti dari pengertian aslinya. Di sini dapat diajukan contoh perubahan pengertian tersebut, misalnya :

Kata ‘al-Ilah’ diartikan pahala dan patung.

Kata ‘ar-Rabb’ diartikan pendidik atau lembaga pendidikan yang diserahi pendidikan moral dan pengembangannya. Kata ‘al-‘Ibadah’ diartikan penuhanan, taat dan salat di hadapan Allah swt.

Kata ‘ad-Din’ diartikan sama dengan arti Nihlah atau agama. Kata ‘at-Tagut’ ditafsiri berhala dan syetan.6

Perubahan pengertian ini menurut Maududi kemudian menjadi “keyakinan kebenaran” Islam di kalangan kaum Muslim. Kekeliruan pengertian ini menjadi pangkal penyebab kelemahan akidah dan memudarnya semangat jihad kaum Muslim, walaupun mereka menerima Islam sebagai agama.

5 Ibid., h. 9.

6 Ibid., h. 10. tagut juga diartikan syetan dan apa saja yang disembah selain Allah. Lihat Alquran dan Terjemahannya, DEPAG RI., Bumi restu, Jakarta, 1985, h. 63.

Ungkapan Maududi yang cukup radikal ini banyak

mendatangkan reaksi, baik yang pro7 maupun yang kontra,8

baik di Pakistan dan India maupun Mesir. Reaksi atas pemikiran Maududi ini akan penulis bahas dalam pasal sendiri.

Untuk memperjelas landasan pemikiran politik Maududi yang sekaligus menjadi metode pemahamannya terhadap Alquran dan Hadis, kiranya perlu dikemukakan penjelasan Maududi tentang Empat Istilah Asasi dalam Alquran itu.

1. al-Ilah

Maududi mengemukakan enam arti al-Ilah ditinjau dari segi bahasa, yaitu diambil dari akar kata berikut :

( نلاف لىا تلها) Aku “diam” kepada si fulan.

( هلأي لجرلا هلا ) Jika turun sesuatu yang mengejutkan, kemudian orang itu me”nuhankan”nya

(لجرلا لىا لجرلا هلا) Menuju kepadanya, karena sangat mencintai ibunya.

( ليصفلا هلا ) Jika ia sangat mencintai.

( ةهولاو ةهلاإ هلا ) Berarti menyembah.

Ada juga yang berpendapat bahwa ( هللإا )itu diambil dari akar kata (ةلهإ هيلي هلا ) yang berarti menutupi.9

Selanjutnya Maududi menjelaskan, bahwa kata : ( ةلهإ هلأي هلا ) digunakan untuk arti “ibadah” (ةدابعلا ) dengan pengertian Tuhan yang menjadi obyek ibadah ( دوبعلما ) dengan penjelasan sebagai berikut :

1. Motivasi manusia beribadah dan menuhankan sesuatu terletak pada kepentingan dan kebutuhannya. Selamanya

7 Lihat Abdul Muta’al Muhammad Jibril, al-Mustalahatul ‘Arba’ah Bainal Imamain al-Maududi wa Muhammad ‘Abduh, Darul I’tisam, Kairo, Cet. 1, 1975. Dan lihat juga Sayyid Qutub, Ma’alimun fit Tariq, Darusy Syuruq, Kairo, 1981. Lihat juga, Muhammad Abdus Salam Faraj, al-Faridah al-Gaibah, dalam Jamal Banna, al-Faridatul Gaibah, Jihadus Saif Am Jihadul ‘Aqli, Daru Sabit, Kairo, Cet. 1, 1984.

8 Lihat Abul Hasan an-Nadwi, At-Tafsir as-Siyasi lil Islam, Dar Afaqil Gad, kairo, Cet. II, 1980. Lihat juga, Hasan Ismail Habibi, Du’atun la Qudatun, Darut Tiba’ah al-Islamiyah, Kairo, 1977.

9 Lihat Maududi, op. cit., h. 13. Sayangnya Maududi tidak mengutip langsung arti kata al-Ilah dari kitab-kitab Ma’ajim dan Kamus bahasa Arab. Ia hanya mengutip dari Tafsir Ibnu Kasir, An-Nisaburi dan at-Tabari.

manusia tidak akan menuhankan dan menyembah sesuatu, jika ia tidak punya keyakinan bahwa “sesuatu” itu dapat memenuhi, kebutuhannya, menolongnya jika ia dalam keadaan bahaya dan dapat menenangkannya jika ia dalam keadaan gundah, cemas dan takut.

2. “Sesuatu” yang diyakini sebagai penolong dan penerima permohon, jelas mempunyai kedudukan dan derajat yang lebih tinggi. Lebih dari itu ia diyakini sebagai yang mempunyai “Kekuatan” dan “Kekuasaan”.

3. Proses pemenuhan kebutuhan dan kepentingan itu tidak berjalan menurut hukum kausalitas. Tetapi berjalan di luar jangkauan akal dan ilmu pengetahuan (irrasional).

4. Sudah menjadi hukum alam, jika seseorang berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya, menjadi penolong dan menjadi penenang jika dalam keadaan gundah untuk menuju kepada “sesuatu” itu sebagai ungkapan rasa cinta yang membara.

Dengan berpedoman kepada beberapa ayat dalam Alquran (Qs Maryam: 81, Yasin : 101, an-Nahl 20-22, Qasas : 88, al-An’am: 80). Maududi menyimpulkan bahwa:

1. Masyarakat jahiliah menjadikan sebagian dari mereka sendiri

Ilah (tuhan). Mereka mohon perlindungan jika ada bahaya

mengancam dan berdoa untuk memenuhi kebutuhannya. 2. Yang mereka anggap sebagai Ilah tidak hanya Tuhan, Jin,

Malaikat dan patung saja, tetapi juga para tokoh manusia yang sudah mati.

3. Mereka berkeyakinan bahwa yang dianggap sebagai Ilah (Tuhan itu) dapat mendengar permohonan dan mampu untuk memberi pertolongan.

4. Maududi menganggap mohon pertolongan yang dilakukan melalui kausalitas yang rasional tidak termasuk dalam kategori “penuhanan”, seperti pertolongan dokter terhadap pasiennya dan pertolongan pembantu terhadap tuannya. Tetapi, jika seseorang minta pertolongan kepada seorang wali atau kepada patung untuk melenyapkan diri dari rasa dahaga,

maka ia telah menganggap wali dan patung itu sebagai Ilah (Tuhan). Sebab ia berkeyakinan bahwa wali dan patung itu

mempunyai kekuasaan merubah hukum kausalitas.10

5. Keyakinan dan anggapan bahwa perintah dan larangan seseorang atau sesuatu yang lain itu sebagai syariat, walaupun mereka tidak menyembah. Maududi mengacu kepada Qs.

At-Taubah: 31, dan asy-Syura: 21.11

6. Seseorang yang menuruti hawa nafsu dengan keyakinan bahwa nafsunya itu sebagai kekuasaan tertinggi, berarti ia telah menjadikan nafsunya sebagai Ilah (Tuhan). Maududi

mengacu pendapatnya itu kepada QS. Al-Furqan: 43.12

7. Pembuat undang-undang, aturan dan tata tertib tanpa memperhatikan perintah Allah, berarti ia telah menyamai Allah dalam keilahianNya.

8. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kekuasaan mutlak dalam mengatur jagad raya ini adalah hak Allah semata. 9. Beberapa poin tersebut oleh Maududi dijadikan dasar

“ketidak benaran dan kesesatan keilahian” (anggapan sebagai

Tuhan) selain Allah.13

Selanjutnya Maududi beranggapan bahwa keilahian

Dalam dokumen Tiga ulama idola kaum Fundametalis (Halaman 62-67)