TEKNIK PERMAINAN GAMBUS OLEH NASRI EFFAS 4.1 Posisi Memainkan
4.7 Analisis Melodi Pada Lagu Zapin
4.7.6 Pola Kadensa (Cadence Patterns)
Kadensa adalah nada akhir dari suatu bagian melodi lagu yang biasanya ditandai dengan tanda istirahat. Pola kadensa dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: semi kadens (half cadence) dan kadens penuh (full cadence). Semi kadens (half cadence) adalah suatu bentuk istirahat yang tidak lengkap atau tidak selesai (complete) dan memberi kesan adanya gerakan ritem yang lebih lanjut. Sedangkan kadens penuh (full cadence) adalah suatu bentuk istirahat di akhir frasa yang terasa selesai (lengkap) sehingga pola kadensa seperti ini tidak memberikan keinginan/ kesan untuk menambah gerakan ritem.
Berikut pola kadensa yang terdapat pada lagu Menjelang Magrib, yaitu Frasa A
74 4.7.7 Formula Melodi (melodie fomula)
Dalam medeskripsikan formula melodik, ada tiga hal yang penting untuk dibahas, yaitu bentuk, frasa, dan motif. Netll (1964:149-150) mengatakan bahwa bentuk adalah hubungan diantara bagian-bagian dari sebuah komposisi, termasuk hubungan diantara unsur-unsur melodis dan ritmis, atau dengan pemahaman sederhana, bentuk merupakan suatu aspek yang menguraikan tentang organisasi musikal. Frasa adalah suatu unit dari melodi di dalam komposisi. Sedangkan motif adalah ide melodi sebagai dasar pembentukan melodi. Bentuk disimbolkan dengan huruf A, B, C, dan seterusnya, sedangkan frasa dituliskan ke dalam angka-angka.
Ada beberapa jenis bentuk (form) menurut Malm (1976:8) antara lain :
1. Repetitive, yaitu bentuk nyanyian yang mengalami pengulangan.
2. Ireratif, yaitu suatu bentuk nyanyian yang menggunakan formula melodi
yang kecil dengan kecenderungan pengulangan-pengulangan di dalam keseluruhan nyanyian.
75
3. Reverting, yaitu suatu bentuk nyanyian apabila di dalam nyanyian terjadi
pengulangan pada frase pertama setelah terjadi penyimpangan melodis. Namun pada lagu Menjelang Maghrib tidak ditemukan bentuk (form) tersebut.
4. Strofic, yaitu bentuk nyanyian diulang dengan formalitas yang sama
namun menggunakan teks yang baru.
Frasa A : Pucuklah lubuk Pucuklah lubuk Hay pucuklah korang Frasa B : Banyaklah jangkar
Banyaklah jangkar Kayu terapung
76
5. Progressive, yaitu bentuk nyanyian selalu berubah dengan menggunakan
materi melodi yang selalu baru. Namun dalam lagu Menjelang Magrib, bentuk (form) ini tidak ada, karena semua bentuk melodinya selalu mengalami pengulangan.
4.7.8 Kantur (Contour)
Kontur adalah garis atau melodi pada sebuah lagu (Malm 1964:8). Defenisi yang sama, kontur adalah alur melodi yang biasanya ditandai dengan menarik garis. Ada beberapa jenis kontur yang dikemukakan oleh Malm (Malm dalam Jonson 2000: 76), antara lain:
1. Ascending, yaitu garis melodi yang sifatnnya naik dari nada rendah ke nada yang lebih tinggi, seperti gambar :
2. Descending, yaitu garis melodi yang sifatnya turun dari nada yang tinggi ke nada yang rendah, seperti gambar :
77
3. Pendulous, yaitu garis melodi yang sifatnya melengkung dari nada yang rendah ke nada yang tinggi, kemudian kembali ke nada yang rendah. Begitu juga sebaliknya, seperti gambar :
4. Teracced, yaitu garis melodi yang sifatnya berjenjang seperti anak tangga dari nada yang rendah ke nada yang lebih tinggi kemudian sejajar, seperti gambar:
78
5. Statis, yaitu garis melodi yang sifatnya tetap atau apabila gerakan-gerakan intervalnya terbatas, seperti gambar:
79 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan
Dari hasil deskripsi analisis semua data yang telah dipaparkan dalam skripsi ini, maka penulis melihat adanya variasi-variasi di dalam komposisi lagu (musik zapin) yang dimainkan oleh Nasri Effas. Dari hasil transkipsi lagu yang dimainkan, maka penulis menemukan variasi-variasi dalam bentuk: pola item, pola melodi dan ornamentasi. Faktor yang menyebabkan adanya variasi adalah teknik-teknik permainan yang dikembangkan oleh Nasri Effas, yang kemudian menjadi karakteristik gaya permainan gambus-nya.
Teknik permainan gambus yang dikembangkan oleh Nasri Effas bukan hanya telah memberikan kontribusi variasi ke dalam komposisi musik zapin yang sudah ada, namun juga telah memberikan kontribusi terhadap kamus istilah musik Melayu ‘nama-nama teknik permainan gambus. “Aset” teknik yang dimilikinya, telah memampukan dia ber-improvisasi secara luas. Pada bab akhir skripsi ini, penulis sangat setuju dengan pernyataan yang telah disampaikan oleh Bruno Netll dan Gerald Behague (1991:4). Mereka mengatakan bahwa dalam regenerasisasinya, musik tradisi oral akan mengalami perubahan-perubahan berupa variasi maupun modifikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan dari orang-orang yang mempertunjukan dan mendengarnya. Pendapat di atas didukung lagi oleh pendapat Bruno Netll (1978-171) mengenai salah satu indikator perubahan adalah Moderenisasi. Istilah moderenisasi di dalam skripsi ini bukan hanya pada perubahan bentuk dari gambus. Namun, juga mengarah
80
kepada perubahan ide dan cara memainkan gambus. Bila dikaji lebih dalam, maka penulis menemukan adanya indikator modernisasi di dalam teknik yamg dikembangkan oleh Nasri Effas. Pertama, kita dapat melihat adanya unsur-unsur musik barat seperti: arpeggio, penggunaan tangga nada diatonik, dan unsur
harmonisasi di dalam teknik permainan gambus-nya. Ke dua, kita dapat melihat
dari latar belakang pekerjaannya. Dari hasil wawancara dan pengamatan penulis di lapangan menunjukan bahwa: alasan utama Nasri Effas mengadaptasikan
gambus-nya ke dalam beberapa ensambel musik adalah untuk dapat tetap
menjadikan gambus-nya sebagai mata pencarian utamanya yang kemudian disesuaikan dengan permintaan panitia acara. Variasi-variasi dari teknik permainan gambus Nasri Effas tersebutlah yang menjadi data bagi penulis untuk kemudian menyimpulkan bahwa, Nasri Effas telah menjadi salah satu “dalang” pengayaan di dalam tradisi musik zapin, dan pada akhirnya akan mengarah kepada sebuah perkembangan di dalam musik tradisi musik Melayu. Mengingat fungsi disiplin Etnomusikologi sebagai disiplin ilmu yang mengkaji musik dalam konteks kebudayaan, dimana manusia merupakan penghasil kebudayaan tersebut, maka secara umum proses sebab dan akibat dari gaya permainan gambus Nasri Effas adalah sebagai berikut:
81
Musik Melayu Awal (Permainan Gambus)
Input
Gaya Permainan Nasri Effas
Aplikasi
Teknik Permainan
Gerenek Cengkok Patah-patah
Pengayaan
Musik Melayu (Gambus)
Bagan di atas secara umum menjelaskan bagaimana terjadinya proses pengayaan. Permainan gambus yang diwariskan dengan cara tradisi oral, memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan, karena di dalam tradisi oral suatu kebudayaan diwariskan tanpa aturan yang baku, sehingga bukan suatu kebetulan akan selalu terjadi suatu peristiwa yang disebut dengan variasi.
82
Gaya permainan gambus Nasri Effas sebagai akibat dari tradisi oral, sudah pasti mengalami variasi-variasi didalamnya. Variasi inilah yang kemudian menyimpulkan adanya sebuah pengayaan dan pada akhirnya akan membawa sebuah perkembangan
di dalam tradisi musik Melayu, khususnya permainan gambus Melayu.
5.2 Saran