DESKRIPSI TEKNIK PERMAINAN GAMBUS MELAYU
OLEH NASRI EFFAS
Skripsi Sarjana
Dikerjakan O L E H RICAN SIANTURI NIM: 100707058UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA
DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI MEDAN
ii
DESKRIPSI TEKNIK PERMAINAN GAMBUS MELAYU
OLEH NASRI EFFAS
Skripsi Sarjana
Dikerjakan O L E H RICAN SIANTURI NIM: 100707058Pembimbing I, Pembimbing II,
Drs. Irwansyah Harahap, M.A. Drs. Muhammad Takari, M. Hum.,Ph.D. NIP: 196212211997031001 NIP:196512211991031001
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA
DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI MEDAN
iii ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “Deskripsi Teknik Permainan Gambus Melayu oleh Nasri Effas”. Gambus adalah salah satu alat musik tradisional Melayu yang tergolong dalam jenis klasifikasi alat musik kordofon yaitu bunyi yang dihasilkannya melalui senar (dawai) yang digetarkan dengan cara dipetik. Alat musik ini terbuat dari batang pohon (biasanya pohon nangka) dan orang Sumatera Utara menyebut bentuknya sebagai gambus belalang.
Alat musik ini digunakan pada lagu-lagu Zapin Melayu yaitu sebagai pembawa melodi dimana marwas sebagai pembawa ritmenya. Maka dari itu penulis berkeinginan untuk mengetahui secara terperinci melodi-melodi yang dimainkan pada lagu Zapin Melayu tersebut.
Pada tulisan ini, penulis menemukan beberapa hal mengenai teknik permainan gambus oleh Nasri Effas, yaitu: (1) Gerenek, (2) Cengkok, dan (3) Patah-patah. Penulis juga menggunakan ensambel musik Zapin yakni lagu Menjelang Maghrib karya Rizaldi Siagian yang mana Nasri Effas memainkan lagu ini kemudian penulis rekam dan transkripsikan ke notasi Barat. beberapa teori dan metode dari para etnomusikolog seperti metode weighted scale oleh William P.Malm, teori pendekatan untuk mendeskripsikan musik oleh Bruno Nettl, dan teori tentang notasi perspektif dan deskriptif oleh Seeger. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan perekaman.
Penelitian ini diarahkan pada transkripsi dan analisis melodi-melodi yang ada pada lagu Zapin Melayu.
iv
KATA PENGANTAR
Segala pujian dan syukur penulis ucapkan kepada Yesus Kristus, atas kasih dan kemurahanNya yang begitu besar untuk semua umat manusia. Penulis berterimakasih atas segala berkat, kekuatan, penghiburan, pertolongan dan perlindungan Tuhan yang tidak pernah berhenti dalam penyelesaian skripsi ini. Terimakasih karena Engkau selalu ada ketika saya membutuhkan sahabat untuk berbagi suka dan duka.
Skripsi ini berjudul “Deskripsi Teknik Permainan Gambus Melayu oleh Nasri Effas”. Skripsi ini diajukan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Seni pada Departemen Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini, banyak hambatan yang penulis rasakan. Begitu juga dengan kejenuhan yang membuat penulis bosan dalam menyelesaikan skripsi ini. Namun, berkat orang-orang yang ada di sekitar penulis, membuat penulis kembali semangat untuk menyelesaikan skripsi ini.
Pada kesempatan ini penulis ingin mempersembahkan skripsi ini dan mengucapkan terimakasih kepada orang tua yang sangat saya cintai, Ayahanda Bangun Sianturi dan Ibunda Nurmaida Br Hutajulu. Terimakasih buat segala cinta kasih serta ketulusan kalian sehingga saya bisa seperti sekarang, terimakasih buat perhatian yang tak pernah putus-putus khususnya selama pengerjaan skripsi ini, terimakasih buat motivasi-motivasi yang kalian berikan sehingga saya tetap semangat dalam menyelesaikan skripsi ini, terimakasih buat doa-doa yang kalian panjatkan sehingga saya mendapatkan kekuatan dan penghiburan dari Tuhan.
v
Penulis juga mengucapkan rasa terimakasih kepada kakak-kakak dan abang-abang penulis yang penulis sayangi Ramenna Br Sianturi, Franky Sianturi, Harianto Sianturi, S.Pd, dan Rivatran Br Sianturi. Terimakasih buat doa dan semangat yang kalian berikan kepada saya.
Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada yang terhormat Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU Medan. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat Bapak Drs. Muhammad Takari, M.Hum, Ph.D, sebagai Ketua Jurusan Etnomusikologi. Kepada yang terhormat Ibu Drs. Heristina Dewi, M.Pd selaku sekretaris Jurusan Etnomusikologi.
Kepada yang terhormat Bapak Drs. Irwansyah Harahap, M.A dosen pembimbing I saya yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih untuk nasehat-nasehat, ilmu serta pengalaman yang telah bapak berikan selama saya berkuliah. Kiranya Tuhan selalu membalas semua kebaikan yang bapak berikan.
Kepada yang terhormat Bapak Drs. Muhammad Takari, M.Hum, Ph.D, dosen pembimbing II yang telah membimbing dan memberikan masukan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terimkasih untuk perhatian, ilmu dan semua kebaikan yang bapak berikan. Kiranya Tuhan membalas semua kebaikan bapak.
Kepada yang terhormat Bapak Drs. Bebas Sembiring, M.Si selaku dosen pembimbing akademik penulis selama perkuliahan, terimakasih atas bimbingan dan motivasi yang bapak berikan.
vi
Kepada seluruh dosen di departemen Entomusikologi, Bapak Prof. Mauly Purba, M.A.,Ph.D, Bapak Drs. Irwansyah Harahap, M.A., Ibu Drs. Rithaony Hutajulu, M.A., Bapak Drs. Kumalo Tarigan, M.A., Ibu Arifni Netrosa, SST,M.A., Ibu Dra. Frida Deliana, M.Si, Bapak Drs. Prikuten Tarigan, M.Si., Bapak Drs. Dermawan Purba, M.Si, terimakasih yang sebesar-besarnya kepada bapak-ibu sekalian yang telah membagikan ilmu dan pengalaman hidup bapak-ibu sekalian. Sungguh ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan karena telah belajar dari orang-orang hebat seperti bapak-ibu sekalian. Biarlah kiranya ilmu yang saya dapatkan dari bapak-ibu sekalian bisa saya aplikasikan dalam kehidupan dan pendidikan selanjutnya. Biarlah Tuhan membalaskan semua jasa-jasa bapak-ibu sekalian.
Terimakasih penulis sampaikan kepada Nasri Effas dan keluarga yang banyak memberikan informasi dalam tulisan skripsi ini serta bersedia menjadi informan kunci, sehingga data yang diperoleh mendukung penulisan skripsi ini, dan kepada Bapak Retno Ayumi yang telah memberikan banyak informasi dan saran yang membangun selama penulis melakukan penelitian.
Terimakasih juga penulis sampaikan teman-teman kerja saya khususnya bermain musik band yang ada dikota Medan yang selalu memberikan nasihat-nasihat baik kepada penulis sehingga membuat penulis semakin semangat dalam pengerjaan tulisan skripsi ini, serta menjadi teman dalam suka maupun duka.
Kepada saudara-saudara satu kontrakan saya, Donny S Marindra beserta isteri Susan Marinda, Muhammad Iqbal Sutan, Iskandar Ismail, Mustika Hadi, Arie celana bola dan seluruh anak Gg.Kecil Medan Area Selatan, yang telah
vii
membantu penulis dalam setiap kesulitan pikiran dan selalu setia dengan segala dukungan doanya saya ucapkan terimakasih banyak, semoga Tuhan membalaskan kebaikan-kebaikan kalian.
Kepada teman-teman seangkatan penulis yakni Etno ‘010 Frita Anjelina Pakpahan S.Sn, Pretty Manurung, Yenny Marpaung, Tribudi Purba, Ayu Triana Matondang, Riska Pricilia, Kezia Purba, Chandra Marbun, Jackry Oktora Tobing, Lido Hutagalung, Luhut Simarmata, Benny Yogi Purba, Andi Farhan, Khairil Amri, Supriadi Tampubolon, Tumpak Sinaga, Lamhot K Sinaga, Bobby Situmorang, dan teman-teman yang lain yang tak bisa penulis jabarkan satu-satu, terimakasih telah menjadi bagian hidup penulis, kebersamaan yang kita jalin selama ini menjadi memori indah yang tak terlupakan bagi penulis. Terimakasih teman-teman.
Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis menyadari masih belum sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap agar skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca dan dapat memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan dalam bidang Etnomusikologi.
viii DAFTAR ISI
ABSTRAK... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Pokok Permasalahan ... 4
1.3 Tujuan dan Manfaat ... 4
1.3.1 Tujuan ... 4
1.3.2 Manfaat ... 5
1.4 Konsep dan Teori yang digunakan ... 5
1.4.1 Konsep yang digunakan ... 6
1.4.2 Teori yang digunakan ... 8
1.5 Metode Penelitian ... 12
1.5.1 Tahapan sebelum Ke Lapangan ... 12
1.5.1.1 Pemilihan dan Perumusan Masalah ... 12
1.5.1.2 Pemilihan Informan ... 13
1.5.1.3 Pemilihan Lokasi Penelitian ... 13
1.5.2 Kerja Lapangan (Field Work) ... 14
1.5.2.1 Observasi (Observation) ... 14
1.5.2.2 Wawancara ... 14
1.5.2.3 Studi Kepustakaan ... 15
1.5.3 Kerja Laboratorium ... 15
1.5.3.1 Analisis Data ... 18
BAB II BIOGRAFI SINGKAT NASRI EFFAS ... 20
2.1 Pengertian Biografi ... 20
ix
2.2.1 Latar Belakang Keluarga ... 21
2.2.2 Latar Belakang Pendidikan ... 24
2.2.3 Latar Belakang Pekerjaan ... 24
2.2.4 Latar Belakan Pengalaman Bermain Musik ... 25
2.2.5 Manajemen Seni Nasri Effas... 27
BAB III GAMBUS DALAM BUDAYA MUSIK MELAYU ... 32
3.1 Latar Belakang Masuknya Gambus dalam Musik Melayu ... 32
3.2 Musik Zapin Sumatera Utara ... 35
3.3 Jenis Alat Musik Melayu ... 42
3.3.1 Rebab ... 44 3.3.2 Gendang Panjang ... 46 3.3.3 Gedombak ... 47 3.3.4 Geduk ... 48 3.3.5 Gong ... 48 3.3.6 Serunai ... 50 3.3.7 Gambang ... 52 3.3.8 Kesi... 52 3.3.9 Rebana ... 53
3.4 Struktur Musik Zapin ... 53
3.4.1 Bentuk Komposisi ... 54
3.4.1.1 Salam Pembuka (Taqsim) ... 54
3.4.1.2 Lagu Pokok ... 56
3.4.1.3 Salam Penutup (Taqtum) ... 56
BAB IV TEKNIK PERMAINAN GAMBUS OLEH NASRI EFFAS ... 58
4.1 Posisi Memainkan ... 58
4.1.1 Duduk Bersila ... 58
4.1.2 Duduk di Kursi ... 59
x 4.2 Cara Memetik ... 60 4.3 Penjarian (Fingering) ... 60 4.4 Pelarasan (Tunning) ... 61 4.5 Cara Belajar ... 62 4.6 Improvisasi ... 62 4.6.1 Gerenek ... 62 4.6.2 Cengkok ... 63 4.6.3 Patah-Patah ... 64
4.7 Analisis Melodi pada Lagu Zapin ... 64
4.7.1 Tangga Nada (Scale) ... 67
4.7.2 Nada Dasar (Pitch Centre) ... 68
4.7.3 Wilayah Nada (Range) ... 69
4.7.4 Jumlah Nada (Frequency of Note) ... 70
4.7.5 Interval Nada ... 71
4.7.6 Pola Kadensa (Cadence Patterns) ... 73
4.7.7 Formula Nada (Melodie Formula)... 74
4.7.8 Kantur (Contour) ... 76 BAB V PENUTUP ... 79 ` 5.1 Kesimpulan ... 79 5.2 Saran ... 82 5.2.1 Internal ... 82 5.2.2 Eksternal ... 83 DAFTAR PUSTAKA ... 84 LAMPIRAN I... 86 LAMPIRAN II ... 88
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Melayu merupakan salah satu kelompok etnik (atau ras) besar di dunia. Berdasarkan penyebaran dan perpindahannya, asal mula penduduk sebagian besar di Asia Tenggara dan Polinesia adalah Melayu. Ini dapat ditinjau dari sejarah persebarannya yang disebut Proto Melayu (Melayu Tua) dan Deutro Melayu (Melayu Muda). Etnik Melayu mendiami beberapa negara seperti Malaysia, Filipina (bagian selatan), Singapura, Pattani Thailand, Myanmar, Brunei Darussalam, dan Indonesia (Muhammad Husein, 2011: 2).
Menurut Ismail Hussein (1994) kata Melayu merupakan istilah yang meluas dan agak kabur. Istilah ini maknanya merangkumi suku bangsa serumpun di Nusantara yang pada zaman dahulu dikenali oleh orang-orang Eropa sebagai bahasa suku bangsa dalam perdagangan dan perniagaan. Masyarakat Melayu adalah orang-orang yang terkenal dan mahir dalam ilmu pelayaran dan turut terlibat dalam aktivitas perdagangan dan pertukaran barang-barang ekonomi dan kesenian dari berbagai wilayah dunia (Muhammad Takari dan Heristina Dewi, 2008:24).
Di Indonesia, etnik Melayu terdapat di beberapa daerah, yaitu: daerah Tamiang di Nangroe Aceh Darussalam, Pesisir Timur Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Barat, Jambi, dan Sumatera Selatan. Di Pesisir Timur Sumatera Utara (dahulu masuk wilayah Sumatera Timur), wilayah budaya etnik Melayu berdasarkan pemekarannya meliputi Kabupaten/Kota: Langkat, Binjai, Medan,
2
Deli Serdang, Serdang Bedagai, Tebing Tinggi, Asahan, Tanjungbalai, Batubara, dan Labuhan Batu (Labuhan Batu Utara dan Labuhan Batu Selatan), dan Siak Sri Indrapura (Muhammad Husein, 2011: 3).
Suatu kebudayaan pasti terdapat suatu unsur kesenian seperti musik dan tari yang mana fungsinya adalah sebagai unsure budaya yang menjadi pendukung terbentuknya suatu kebudayaan. Pada prinsipnya, musik terdiri dari wujud gagasan, seperti konsep tentang ruang: tangga nada, wilayah nada, nada dasar, interval, frekuensi nada, sebaran nada-nada, kontur, formula melodi, dan lain-lainnya. Dimensi ruang dalam musik ini merupakan organisasi suara. Sementara di sisi lain, musik juga dibangun oleh dimensi waktu, yang terdiri dari: metrum atau birama, nilai not (panjang pendeknya durasi not), kecepatan (seperti lambat, sedang, cepat, sangat cepat).
Kedua dimensi pendukung musik ini, kadang juga berhubungan dengan seni tari yang diiringinya. Dalam konteks budaya Melayu sendiri, integrasi musik dengan tari terwujud dalam konsep begitu musik begitu pula tarinya. Dengan demikian, budaya musik menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan kebudayaan Melayu pada umumnya (Muhammad Takari dan Heristina Dewi, 2008:113).
Dalam suatu ensambel musik Melayu, biasanya alat-alat musik atau instrumen yang digunakan ialah gendang (gendang anak, gendang induk), marwas, biola, akordion, tamburin, rebana, dan gambus. Namun ensambel musik tersebut terdapat penggunaan alat musik yang berbeda. Contohnya pada ensambel musik ronggeng atau pakpung, tidak menggunakan alat musik gambus berbeda
3
dengan ensambel musik zapin dan ensambel musik gambus. Pada ensambel musik zapin pembawa melodinya adalah gambus dan pembawa ritmenya adalah marwas. Gambus adalah suatu alat musik petik (kordofon) yang sumber bunyinya berasal dari senar yang digetarkan dan bentuk lehernya lebih panjang daripada badannya (long neck lute). Alat musik ini terbuat dari batang kayu nangka (Artocarpus integra sp) dan di daerah Sumatera Utara (khususnya kota Medan) biasa disebut dengan gambus belalang. Gambus ini memiliki senar paling sedikit 3 senar dan biasaya double (1 nada 2 senar) ditambah senar tunggal untuk nada yang paling rendah, namun ada juga yang terdiri dari 12 senar.
Asal mula masuknya gambus ke daerah-daerah Indonesia bersamaan dengan masuknya pengaruh Islam ke daerah-daerah yang bersangkutan, sehingga warna dan musiknya pun bernafaskan Islam. Alat musik ini awalnya masuk ke Indonesia dimulai dari daerah Pesisir Sumatera Timur yang dibawa oleh saudagar-saudagar asal Timur Tengah yang berdagang ke Indonesia. Pada saat yang bersamaan, mereka juga mengembangkan dan menyebarkan agama Islam ke Indonesia sehingga berkembanglah agama Islam dan kebudayaannya di Indonesia (Mohd Anis Md. Nor, 1997:116-117).
Fungsi dimainkannya alat musik gambus ini ialah sebagai pembawa melodi dalam sebuah ensambel musik Melayu khususnya ensambel musik zapin dan gambus.
Nasri Effas adalah musisi musik Melayu yang ahli dalam memainkan alat musik gambus. Dimasa kecil dan remajanya, Nasri Effas tumbuh dilingkungan komunitas Melayu. Pada saat penulis memperhatikan Nasri Effas bermain alat
4
musik gambus, penulis menemukan beberapa teknik yang sangat khas dari seorang Nasri Effas, yaitu dari segi penjarian, improvisasi (gerenek, cengkok, patah-patah), dan teknik pelarasannya. Karakter musik, teknik, dan gaya permainan gambus-nya menjadi menarik untuk disimak, dianalisis dan untuk lebih jauh untuk dipahami sebagai suatu fenomena penting dalam perkembangan tradisi musik gambus. Inilah nantinya akan menjadi perhatian utama dalam skripsi ini. 1.2 Pokok Permasalahan
Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam tulisan ini adalah:
Bagaimanakah teknik permainan gambus yang dimainkan oleh Bapak Nasri Effas? Pokok masalah ini akan didukung pula oleh masalah
bagaimanakah pola penggarapan komposisi musik pada alat musik gambus yang dimainkan Bapak Nasri Effas selaku informan kunci penulis?
1.3 Tujuan dan Manfaat
Berbicara masalah tujuan adalah menyangkut untuk apa sesuatu itu dilakukan. Sedangkan membicarakan tentang manfaat adalah apa manfaat dari sesuatu yang dilakukan itu kepada masyarakat.
1.3.1 Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dengan cara mendeskripsikan bagaimana pola penggarapan komposisi musik yang dimainkan dengan alat musik gambus menurut Bapak Nasri Effas selaku informan kunci penulis.
5
2. Untuk mengetahui dengan cara mendeskripsikan teknik permainan gambus yang dimainkan oleh Bapak Nasri Effas.
1.3.2 Manfaat
Sedangkan manfaatnya adalah sebagai berikut :
1. Sebagai suatu masukan pada pemusik, khususnya pemusik Melayu dalam mengembangkan teknik permainan gambus
2. Sebagai suatu bahan informasi tentang fenomena yang terjadi dalam ensambel musik Melayu
3. Untuk membantu pemerintah dalam suatu usaha pelestarian dan pengembangan musik tradisional khususnya musik Melayu.
4. Sebagai bahan dokumentasi yang bermanfaat dalam disiplin etnomusikologi.
1.4 Konsep dan Teori yang Digunakan
Sebagai dasar pemikiran penulis dalam mengerjakan penelitian ini, penulis mengetengahkan beberapa konsep dari masyarakat dan juga konsep dari pemusik-pemusik tradisional Melayu serta beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli. Semua konsep dan teori tersebut digunakan untuk kerangka berpikir penulis dalam penelitian maupun dalam penulisan.
6 1.4.1 Konsep yang Digunakan
Deskripsi adalah satu kaedah upaya pengolahan data menjadi sesuatu yang dapat diutarakan secara jelas dan tepat dengan tujuan agar dapat dimengerti oleh orang yang tidak langsung mengalaminya sendiri (Vardiansyah,2008:9).
Dalam keilmuan, deskripsi diperlukan agar peneliti tidak melupa-kan pengalamannya dan agar pengalaman tersebut dapat dibandingmelupa-kan dengan pengalaman peneliti lain, sehingga mudah untuk dilakukan pemeriksaan dan kontrol terhadap deskripsi tersebut.
Pada umumnya deskripsi menegaskan sesuatu, seperti apa sesuatu itu kelihatannya, bagaimana bunyinya, bagaimana rasanya, dan sebagainya. Deskripsi yang detail diciptakan dan dipakai dalam disiplin ilmu sebagai istilah teknik.
Saat data yang dikumpulkan, deskripsi, analisis dan kesimpulannya lebih disajikan dalam angka-angka maka hal ini dinamakan penelitian kuantitatif. Sebaliknya, apabila data, deskripsi, dan analisis kesimpulannya disajikan dalam uraian kata-kata maka dinamakan penelitian kualitatif (Vardiansyah,2008:10).
Konsep “teknik permainan” yang dimaksud dalam skripsi ini adalah ciri khas atau karakteristik Bapak Nasri Effas dalam mengolah unsur musik (melodi, ritem, harmoni) pada alat musik gambus Melayu. Teknik permainan gambus Melayu yang dimaksud mencakup dari tata cara memegang gambus, kontrsuksi jari, teknik-teknik permainan, sampai pada pola penggarapan komposisi lagu. Titon (1984:5) dalam bukunya yang berjudul “Word Of Musik Introduction to The
7
This includes everything related to the organization of musical sound it self: pitch elemen (scale mode, melody, harmony, tuning system, and soforth); time elemen (rhythms, meter); timbre elemen (voice quality, instrument tone color); and sound intensity (loudness and softness)
[Dengan terjemahan bebas: “gaya memasukan segala sesuatu yang berhubungan dengan organisasi musikal itu sendiri : elemen nada (tangga nada, modus, melodi, harmoni, dsb.); unsur waktu (ritem, meter); unsure timbre (kualitas suara, warna nada instrument); dan intesitas bunyi (kuat atau lemahnya bunyi atau suara)].
Selanjutnya, menurut Kodidjat (2004:25), ensambel adalah rombongan permainan bersama sekelompok musisi. Dengan demikian pengertian ensambel, termasuk dalam hal ini ensambel gambus adalah sekelompok musisi yang bermain bersama dalam pertunjukan music gambus.
Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa deskripsi teknik permainan gambus adalah suatu kaedah untuk menjelaskan atau mengutarakan secara jelas dan terperinci tentang teknik permainan gambus yang didukung dengan data-data seperti elemen nada (tangga nada, modus, melodi, harmoni, dsb.); unsur waktu (ritem, meter); unsur timbre (kualitas suara, warna nada instrument); dan intesitas bunyi (kuat atau lemahnya bunyi atau suara) yang telah di kumpulkan dan di analisis, dimana data-data tersebut diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh penulis terhadap informan kunci maupun informan pangkal dan menggunakan metode-metode dalam penelitian, baik itu metode penelitian kualitatif, maupun metode penelitian kuantitatif.
8 1.4.2 Teori yang Digunakan
Menurut Koentjaranigrat (1970:30), bahwa pengetahuan yang diperoleh dari buku-buku, dokumen-dokumen serta pengalaman kita sendiri merupakan landasan dari pemikiran untuk memperoleh pengertian tentang suatu teori yang bersangkutan. Oleh karena itu teori adalah salah satu pendapat para ahli yang dijadikan acuan dalam membahas masalah dalam tulisan ini.
Untuk mengkaji transmisi permainan gambus dari satu generasi ke generasi berikutnya, penulis menggunakan teori tradisi lisan, yang lazim digunakan dalam disiplin etnomusikologi. Di dalam tradisi musik lisan (oral tradition), perubahan merupakan sebuah fenomena yang pasti akan selalu terjadi. Begitu juga di dalam tradisi musik Melayu, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya hanya dengan lisan/tidak tertulis. Tidak adanya aturan yang baku secara tertulis mengakibatkan terjadinya proses penambahan maupun pengurangan di dalam unsur kebudayaan musik yang dimaksud.
In a folk or nonliterate culture…..a song must be sung, remembered, and taught by one generation to the next. If this does not happen, it dies is last forever. There is another alternative : if it is not accepted by it’s audience, it may be change to fit the needs and desires of the people who perform and hear it.” (Bruno Netll dan Gerald Behague, 1991:4)
[Dalam terjemahan bebas: Sebuah kebudayaan rakyat atau kebudayaan tidak tertulis , sebuah lagu / musik harus dinyanyikan, diingat dan diajarkan dari satu generasi kegenerasi berikutnya, jika hal ini tidak terjadi lagu/musik itu akan mati dan hilang atau punah. Namun ada alternative lain, jika musik tersebut tidak diterima oleh audiens / penonton, hal ini mungkin dapat diubah untuk disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan dari orang-orang yang mempertunjukan dan mendengarnya).
9
Teknik permaianan gambus yang dikembangkan oleh Bapak Nasri Effas merupakan hasil perubahan yang lahir dari proses belajarnya bermain gambus secara lisan. Secara sengaja maupun tidak sengaja, Bapak Nasri Effas telah mengembangkan teknik-teknik baru di dalam bermain alat musik gambus. Hal ini sangat mungkin terjadi di dalam setiap kebudayaan musik yang diwariskan secara lisan/tanpa tulisan. Mengacu pada teori di atas, peristiwa atau fenomena ini dapat diidentifikasi sebagai sebuah hasil dari sistem pewarisan tradisi lisan (oral
tradition), yang disesuaikan dengan kebutuhan maupun permintaan penonton atau
masyarakat (Daniel Limbong,2012:8-9).
Untuk mengkaji teknik permainan gambus dalam kebudsayaan music Melayu, oleh Nasri Effas, penulis menggunakan teori prilaku fisik dan verbal pemusik yang ditawarkan oleh Merriam (1964). Dalam buku yang ditulisnya ini, terutama pada Bab VI, Merriam mengkaji peranan pemusik itu melalui tiga aspek perilaku, yaitu (1) prilaku fisik, (2) prilaku verbal, dan (3) prilaku sosial. Lebih jauh secara eksplisit Merriam menyatakannya sebagai berikut.
Physical behavior refers the fact that in order for sound to be produced, people must flex their fingers and use their lips and diaphragm if the sound is to be produced on a music instrument; or they must manipulate the vocal cords and the diaphragm if the sound is to be vocal. Techniques of playing music instruments have been rather widely discussed in the ethnomusicological literature, and but two or three examples will suffice here. Among the Bashi people of the Eastern Congo (Leopoldville), the mulizi is a notched, end-blown flute played primarily by cattle herders (1964:103). …
Menurut Merriam prilaku fisik merujuk kepada fakta bagaimana pemusik dan alat musiknya menghasilkan suara atau bunyi, setiap pemusik memetikkan jari-jarinya dan menggunakan bibir dan diafragmanya dalam rangka menghasilkan
10
bunyi dari suaranya. Teknik memainkan alat-alat musik tidak begitu luas didiskusikan di dalam bahan-bahan bacaan etnomusikologi, hanya ada dua atau tiga yang dicontohkan oleh Merriam.
The second kind of behavior which exists in respect to music is verbal behavior, to wheter extent it may be used, about music sound. This, too, of course, is a reflection of underlying concepts of music, but in this case applied spesifically to what people say about music structure and the criteria which surround it.
Perhaps the most obvious verbal criteria are those which are applied to judgments of the performance of music: these are the standards of excellence in performance. Such standards of excellence must be present, for without them, as has been noted in another context, no such thing as a Scapiro, this point becomes obvious: “By style is meant the constant form—and sometimes the constant elements, qualities, and expression—in the art of an individual or a group” (1953:287). Further, style has continuity, as expressed by Haag when he notes that “the important point is the continuum in music; each musical style is drwan from the idiom of the preceding period. … Music teachers … draw their students of excellence from the preceding generation” (1960:219, 220). All groups must emphasize certain music values above others, and these values tend to be continuous in time, though change can and does occur. The question here, then, is not wheter criteria of excellence exixst, but rather wheter and how they are verbalized (Merriam, 1964:114-115).
Lebih jauh lagi, prilaku verbal dalam kajian etnomusikologis, dijelaskan oleh Merriam bahwa beranjak dari bunyi musik, maka manusia pendukung kebudayaan musik itu akan mengatakan tentang struktur musik dan kriteria musik tersebut. Mungkin yang paling sering menjadi bahan kajian mengenai prilaku verbal ini adalah pertunjukan musik: apa saja standar-satandar kehebatan dalam pertunjukan musik. Seperti yang dikemukakan oleh Scapiro bahwa gaya musik itu berarti bentuk konstan—dana kadang-kadang unsur-unsur konstan, kualitas, dan ekspresi musik—yang dilakukan baik dalam seni musik yang dibawakan secara individu maupun kelompok.
11
Gambus merupakan alat musik yang berperan sebagai pembawa melodi, maka untuk menganalisa suaranya penulis berpatokan pada pendapat William P. Malm (1977:8) yang menyatakan beberapa karakter yang harus diperhatikan dalam mendeskripsikan melodi, yaitu : (1) tangga nada, (2) nada dasar, (3) wilayah nada, (4) jumlah masing-masing nada, (5) interval, (6) pola kadens, (7) formula melodi dan (8) kontur. Teori ini disebut juga dengan teori Weighted Scale (bobot tangga nada). Teori ini pada dasarnya melihat struktur ruang dalam musik dengan menggunakan ukuran-ukuran tertentu.
Dalam proses transkripsi penulis berpedoman pada pendapat Nettl (1991:23) yang mengatakan ada dua pendekatan yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan musik, yaitu: (1) kita dapat menganalisa dan mendeskripsikan musik dari apa yang kita dengar, (2) kita dapat menuliskan bunyi musik itu dalam tulisan sehingga dapat mendeskripsikan tulisan itu.
Dalam hal notasi penulis mengacu pada pendapat Seeger (1958:184-195) yang membedakan dua notasi ditinjau dari tujuannya, yaitu : notasi perskriptif dan notasi deskriptif. Notasi perskriptif yaitu notasi yang hanya menuliskan garis besar dari bunyi. Notasi ini merupakan pedoman bagaimana musik itu dapat di wujudkan oleh pemain musik. Notasi deskriptif adalah laporan yang disertai dengan lengkap tentang bagaimana sebenarnya suatu komposisi musik diwujudkan.
12 1.5 Metode Penelitian
Menurut Koentjaraningrat (1977:16), metode adalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif untuk memahami permasalahan yang terdapat dalam ensambel musik Melayu.
Menurut Kirk dan Miller dalam Moleong (1990:3), penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang dalam bahasa dan peristilahannya.
Untuk mendapatkan teknik permainan yang ada pada instrumen gambus, penulis melakukan penelitian dengan melihat dan mengamati permainan oleh informan kunci yaitu Nasri Effas dalam konteks musik zapin Melayu.
Secara umum, dalam skripsi ini dibagi kedalam tiga tahapan yaitu: 1. Tahapan sebelum ke lapangan
2. Kerja lapangan (field work) 3. Kerja laboratiorium (desk work)
1.5.1 Tahapan Sebelum ke Lapangan 1.5.1.1 Pemilihan dan Perumusan Masalah
Tujuan dari sebuah penelitian adalah untuk memecahkan atau menemukan jawaban terhadap sebuah masalah. Oleh karena itu, langkah pertama didalam sebuah penelitian biasanya menentukan atau memilih masalah yang akan diteliti.
13
Salah satu langkah awal dalam memilih dan merumuskan masalah yang akan diteliti dalam skripsi ini adalah dengan melakukan Studi Kepustakaan. Studi kepustakaan adalah pengamatan pendahuluan untuk mencari data informasi tentang suatu masalah dari sumber bacaan atau literature.
1.5.1.2 Pemilihan Informan
Sebelum melakukan penelitian, penulis terlebih dahulu menentukan informan kunci yang akan memberikan informasi yang mendalam mengenai pokok permasalahan yang sudah ditetapkan. Informan kunci dalam penelitian skripsi ini adalah Nasri Effas, yang kemudian memberikan informasi atau petunjuk informan lain untuk melengkapi referensi data yang diperlukan.
1.5.1.3 Pemilihan Lokasi Penelitian
Lokasi yang dipilih sebagai tempat penelitian adalah berdasarkan tempat berdomisilinya informan kunci yaitu pemain gambus yang diteliti dan dimana informan tersebut bermain musik Melayu khususnya memainkan alat musik gambus. Oleh karena itu penulis melihat kasus yang sering terjadi di kota Medan sebagai suatu bahan penelitian dan memilih wilayah Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai sebagai perbandingan dan juga sebagai tempat tinggal informan kunci yaitu Nasri Effas. Berikut ini adalah lokasi penilitian yang penulis lakukan:
1. Senin, 13 Januari 2014 di Pantai Cermin di rumah Nasri Effas 2. Kamis, 16 Januari 2014 di Taman Budaya
3. Kamis, 27 Maret 2014 di Taman Budaya
14
5. Selasa, 9 September 2014 di Taman Budaya
6. Rabu, 10 September 2014 di Pantai Cermin di rumah Nasri Effas 7. Kamis, 11 September 2014 di Taman Budaya
8. Kamis, September 2014 di Taman Budaya 1.5.2 Kerja Lapangan ( Field Work)
1.5.2.1 Observasi (Observation)
Jenis observasi dalam skripsi ini adalah observasi yang tidak terstruktur. Observasi yang tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan di observasi. Observasi yang dilakukan meliputi tempat-tempat yang mendukung untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai permasalahan penelitian. Dari cara observasi dengan cara pengamatan langsung dan wawancara dilapangan, penulis mendapatkan catatan dan rekaman dengan menggunakan kamera digital canon power shot A2500 HD.
1.5.2.2 Wawancara
Untuk mendapatkan informasi mengenai teknik permainan gambus Melayu Nasri Effas, maka penulis melakukan metode wawancara terencana. Metode ini mengarahkan penulis bahwa sebelum melakukan wawancara, penulis menyusun daftar pertanyaan (interview guide) sebagai pedoman untuk melakukan wawancara. Akan tetapi, setiap pertanyaan dari wawancara tersebut akan dikembangkan lagi dan tidak hanya terbatas pada pertanyaan yang telah disusun sebelumnya (Koenjtaraningrat 1983:174)
15 1.5.2.3 Studi Kepustakaan
Untuk mendukung informasi yang diperoleh dari para informan, penulis mencari buku-buku yang relevan dengan masalah-masalah yang dibahas. Namun demikian sampai saat ini penulis belum menemukan buku-buku yang berkaitan tentang teknik permainan gambus Melayu dan juga yang berkaitan dengan komposisi musik Melayu. Oleh karena itu buku-buku yang penulis dapati dalam penulisan ini adalah buku-buku yang berkaitan dengan konsep musik secara umum dan menyangkut masalah teori-teori, analisis dan metode penelitian. Di antaranya: tesis S2 bertema musik zapin oleh Muhammad Husein, skripsi sarjana Eva Gusmala Yanti berjudul Lagu-lagu Zapin Ciptaan Zul Alinur: Kajian
Terhadap Struktur Teks dan Melodi, skripsi sarjana Daniel Limbong yang
berjudul Deskripsi Analitis Gaya Permainan Hasapi Sarikawan Sitohang Dalam
Konteks Tradisi Gondang Hasapi, buku karangan karangan Muhammad Takari
dan Heristina Dewi, yang berjudul Budaya Musik dan Tari Melayu Sumatera
Utara, buku karangan Rogayah A.Hamid dan Maryam Salim yang berjudul Kesultanan Melayu, buku karangan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I
Sumatera Utara yang berjudul Potensi Etnik Sumatera Utara, dan Zapin Melayu
di Nusantara karangan Mohd Anis Md Noor 1.5.3 Kerja Laboratorium
Keseluruhan data yang terkumpul dari lapangan selanjutnya diproses dalam kerja laboratorium. Data-data yang bersifat deskripsi analisis disusun dengan mempergunakan sistematika penulisan, sedangkan data-data berupa suara ditranskripsikan dalam bentuk notasi selanjutnya dianalisis.
16
Dalam penotosian nada yang dihasilkan gambus ini, penulis menggunakan
software computer berupa Sibelius 7. Selanjutnya penulis menganalisisnya ke
dalam Microsoft word. Hal-hal yang berkaitan dengan cara menganalisanya, penulis mengguanakan aplikasi dari windows media player. Proses pentraskripsian dilakukan dengan terlebih dahulu mendengarkan video rekaman berulang kali. Untuk memudahkan mendengar dan melihat objek yang diteliti, maka video diperlambat dengan menggunakan windows media player. Windows Media Player adalah salah satu software pemutar video yang menyediakan play sped setting “pengaturan kecepatan video”.
Berikut penulis jelaskan cara-cara penulis untuk penotasian nada-nada gambus yang dimainkan oleh Nasri Effas.
Gambar 1.1
Penggunaan Windows Media Player Sumber: dokumentasi penulis, 2014
17 Gambar 1.2
Penggunaan Play speed Setting untuk Memperlambat Video Sumber: dokumentasi penulis, 2014
Gambar 1.3
Tampilan Visual Sibelius 7 untuk Mentranskripsikan melodi Gambus Sumber: dokumentasi penulis, 2014
18 1.5.3.1 Analisis Data
Tahapan analisis data bertujuan untuk menajamkan dan mengorganisasikan data, dengan demikan kesimpulannya dapat divertivikasi untuk menjadi temuan penelitian terhadap masalah yang diteliti. Data yang berupa rekaman audio ditranskripsikan ke dalam notasi Barat. Sistematika kerjanya dalah dengan mendengarkan hasil rekaman, kemudian menuliskannya ke atas sebuah kertas untuk selanjutnya dianalisis (Nettl, 1963:98). Cara ini dilakukan untuk membantu menganalisis setiap teknik permainan gambus yang dimainkan Nasri Effas.
Notasi Barat yang digunakan dalam skripsi ini berbentuk lima garis dan empat spasi yang bertanda mula kunci G. Berikut ini beberapa elemen penting di dalam notasi Barat:
1. Tanda Tempo
Tempo berfungsi untuk menyatakan cepat lambatnya lagu yang dimainkan. Seperti pada contoh diatas tanda tempo allegretto, artinya agak cepat dan riang dengan hitungan 108-116 M.M.
19 2. Kunci G
Kunci G adalah kunci yang bentuknya seperti kepala biola. Kunci G disebut juga kunci biola karena kunci G digunakan untuk menuliskan nada-nada tinggi. Kunci G digunakan untuk menunjukkan letak nada G pada garis kedua. Berikut nilai nada di garis paranada dengan kunci G:
20 BAB II
BIOGRAFI SINGKAT NASRI EFFAS
2.1. Pengertian Biografi
Dalam disiplin ilmu sejarah biografi dapat didefenisiskan sebagai sebuah riwayat hidup seseorang. Sebuah tulisan biografi dapat berbentuk beberapa baris kalimat saja, namun juga dapat berupa tulisan yang lebih dari satu buku. Perbedaannya adalah, biografi singkat hanya memaparkan tentang fakta-fakta kehidupan seseorang dan peranan pentingnya dalam masyarakat. Sedangkan biografi yang lengkap biasanya memuat dan mengkaji informasi-informasi penting, yang dipaparkan lebih detail dan tentu saja dituliskan dengan penulisan yang baik dan jelas.
2.2. Biografi Nasri Effas
Dalam skripsi ini, biografi Nasri Effas bertujuan untuk memberi keterangan mengenai perjalanan hidupnya dan lebih jauh untuk melihat bagaimana pembentukan karakteristik dari gaya permainnan gambus Melayu Nasri Effas. Point-point penting yang akan dideskripsikan dalam bab ini mencakup aspek-aspek:
1. Latar belakang keluarga, 2.Latar belakang pendidikan, 3.Latar belakang pekerjaan,
4.Latar belakang pengalaman bermain musik, 5.Manajemen seni Nasri Effas.
21 2.2.1.Latar Belakang Keluarga
Nasri Effas lahir pada tanggal 5 Juni 1965 di Kelurahan Martubung Labuhan Deli, tepatnya di Kampung Besar. Ia merupakan anak kelima dari pasangan Alm. Ahmad Sa’ari Efendi dan Alm. Nur Kamah. Ayahnya Alm. Ahmad Sa’ari Efendi adalah merupakan seorang pemain musik Melayu juga, yaitu sebagai pemain marwas yang handal pada masa itu. Selain juga ahli dalam bermain musik Melayu khususnya alat musik marwas, beliau juga aktif dalam tarian Melayu bahkan orang Melayu kala itu menyebutnya sebagai “Rajanya tari Serampang Dua Belas” yang mana diartikan sebagai orang yang sangat ahli dalam menarikan tarian Serampang Dua Belas. Sama halnya dengan ibu Nasri Effas, ibu dari Nasri Effas adalah seorang penari dan juga sebagai penyanyi musik Melayu, sempat juga latihan vokal Melayu dengan ibu Nurainun.1 Jadi, Nasri Effas lahir di tengah-tengah keluarga “pekerja seni.”
Menurut pengakuan Nasri Effas, namanya diberikan oleh kedua orang tuanya agar kelak menjadi penolong dan penghibur masyarakat. Arti dari kata “Nasri” adalah sebagai penolong dan penghibur. Benar saja, saat ia duduk di bangku kelas 2 SD, ia termasuk penari inti di sebuah group yang bernama Group Gambus. Pada saat itu ia sedang melaksanakan sunat (khitanan) dimana saat itu juga ia dimintai tampil disebuah peresmian yang mana pelaksana peresmian tersebut mengatakan jika Nasri Effas tidak tampil maka acara tersebut tidak meriah atau tidak sah. Sedangkan arti kata “Effas” ia dapat pada tahun 1980-an yang mana artinya adalah sebuah singkatan dari Efendi Abu Sama. Tak hanya dia
1
22
yang dijulukin Effas, bahkan saudaranya nomor empat dan nomor Sembilan juga dijulukin kata Effas yang ditambahkan di belakang nama asli mereka.
Nasri Effas memang belum begitu lama bermain gambus Melayu, namun pada saat ia berusia dua belas tahun ia hanya baru mengenal gambus, namun pada saat itu yang ia lihat adalah ‘ud (gambus Arab). Ia baru mulai memainkan gambus pada tahun 1991, itu pun gambus yang ia mainkan adalah gambus milik sanggar Lestari Patria. Selang setahun, ia sudah bisa memainkan alat musik gambus tersebut, bahkan telah menjadi pemain gambus pada saat itu. Nasri Effas hanyalah bisa sekedar memainkan alat musik gambus, namun yang berhubungan dengan sistem tangga nada dan penotasian ia “buta” sama sekali. Menurutnya, ia belajar hanya sekedar mendengar saja, tidak melihat orang bermain bahkan tidak belajar dengan orang lain, naluri bermain alat musik gambusnya mengalir begitu saja di hatinya, dan langsung bisa dimainkan oleh jari-jarinya. Begitu juga dengan memainkan alat musik lainnya seperti akordion, marwas dan gendang Melayu.“ Saya adalah seorang penari juga, jadi saya tahu musik yang diingankan penari” begitu katanya.
Berikut ini adalah daftar nama keluarga Nasri Effas: Ayah : Alm. Ahmad Sa’ari Efendi
Ibu: Alm. Nur Kammah
Saudara laki-laki pertama: Amri
Saudara laki-laki kedua: Alm. (tidak ingat) Saudara laki-laki ketiga: Asri
23 Saudara laki-laki kelima: Fahri Anak keenam: Nasri Effas Saudara laki-laki ketujuh: Aswal Saudara laki-laki kedelapan: Taufik Saudara laki-laki kesembilan: Kudri Effas Saudara laki-laki kesepuluh: Syafrizal
Saudara perempuan kesebelas: Alm. Intan Kumala Sari
Dari anak pertama sampai anak terakhir dari keluarga tersebut semuanya merupakan pekerja seni, khususnya seni musik Melayu.
Namun yang menjalani pekerjaan sebagai pekerja seni seutuhnya sampai dengan saat ini adalah saudara laki-laki yang kedua, keempat dan yang kesembilan. Bahkan saudara laki-lakinya yang kesembilan adalah seorang pasca sarjana S2 pendidikan seni tari di Padang.
Nasri Effas menikah dengan isterinya bernama Rosita, dengan nama anak-anaknya:
1. Nindi Arifah: sedang menjalani kuliah di jurusan seni tari Universitas Negeri Medan angkatan 2013,
2. Nela Rafika: Kelas X di SMA Negeri 1 Pantai Cermin, 3. Farhan Syaputra: Kelas VII di SMP Negeri 1 Pantai Cermin, 4. M. Fariz Rozanza: Kelas II SD Negeri Pantai Cermin.
Menurut pengakuan Nasri Effas, semua anaknya masih bergemelut di dunia seni, yakni seni tari. Bahkan anak-anaknya berprestasi terus dibidang seni tari.
24 2.2.2 Latar Belakang Pendidikan
Nasri Effas memang tumbuh dalam sebuah keluarga yang berperan aktif dalam seni tradisi Melayu, namun hal itu tidak menyudutkannya untuk mengurungkan niat dalam menuntut ilmu disekolah.
Nasri Effas menuntut ilmu dibangku Sekolah Dasar Negeri 3 Labuhan Deli pada tahun 1971 dan menyelesaikan Sekolah Dasar pada tahun 1977. Kemudian Nasri Effas melanjutkan sekolahnya di Sekolah Menengah Pertama di Labuhan Deli pada tahun 1977 sampai 1980. Setelah itu ia menyambung sekolah di Sekolah Menegah Umun/Atas di SMA Muda (Mulya Darma) pada tahun 1980 sampai pada tahun 1983.
2.2.3 Latar Belakang Pekerjaan
Pada awalnya Nasri Effas adalah seorang penari yang ditekuninya sejak ia duduk sekolah dasar, namun beranjak dewasa ia tidak hanya menari saja, akan tetapi bisa juga sebagai pemain marwas dan gendang. Hal ini membuatnya semakin yakin bahwa dalam berkesenian juga dapat menafkahi keluarganya. Hingga saat ini ia hanya bekerja sebagai pemusik dan penari, terkadang ia mendapat pekerjaan sebagai pemain solo keyboard di daerah tempat tinggalnya, ia juga sebagai pengajar tari yang diterapkan di rumahnya sendiri dan bermuridkan teman anaknya di sekolah. Bahkan ia mengatakan bahwa pekerjaan tetapnya adalah sebagai pemusik dan penari, dan kerja sampingannya (side job) adalah
25
sebagai anggota Lembaga Swadaya Masyarakat di Pantai Cermin dan juga berdagang kecil-kecilan di rumahnya.
2.2.4 Latar Belakang Pengalaman Bermain Musik
Nasri Effas mempunyai latar belakang bermain musik dari mulai sejak ia lahir, karena dia dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan seni tradisi Melayu. Dari keahliannya dalam berkesenian tradisi Melayu (baik itu sebagai penari maupun sebagai pemusik), ia mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam pertunjukan-pertunjukan musik Melayu kebeberapa negara, antara lain:
1. Malaysia, dalam rangka pertunjukan untuk wisata Melayu (telah berulang kali tampil sehingga Nasri Effas tidak mengingat tahun-tahunya),
2. Singapura, dalam rangka pertunjukan untuk wisata Melayu (sering sekali sehingga tahunnya lupa),
3. Thailand, dalam rangka kunjungan wisata Melayu, sama halnya seperti Malaysia dan Singapura.
4. Korea Utara, dalam rangka pelantikan menteri-menteri Korea Utara. 5. Korea Selatan, dalam rangka peresmian Jalan Medan di Korea Selatan
pada tahuin 1999.
6. Republik Rakyat China (Guangzhou dan Hongkong) dalam rangka ulang tahun Kota Guangzhou dan pertunjukan buday Melayu untuk pariwisata di Hongkong pada tahun 2000.
7. Swiss, dalam rangka pertunjukan kesenian Melayu untuk pariwisata setempat pada tahun 2000.
26
8. Jerman, dalam rangka pertunjukan kesenian Melayu di Eropa pada tahun 2000.
9. Belanda dalam rangka pertunjukan kesenian Melayu di Eropa pada tahun 2000.
10. Australia, dalam rangka peresmian pembukaan route penerbangan pesawat Garuda Indonesia di kota Darwin, Australia.
11. Afrika Selatan, dalam rangka pertunjukan musik Melayu atas undangan konsulat Indonesia di Schecel, Afrika Selatan.
Gambar 2.1
Foto saat Nasri Effas Bermain Musik Melayu di Belanda Sumber : Foto dinding Nasri Effas yang penulis foto ulang
27
Gambar 2.2
Foto Saat Nasri Effas Bermain Musik Melayu di Australia Sumber: Foto dinding Nasri Effas yang penulis foto ulang
2.2.5 Manajemen Seni Nasri Effas
Untuk sekali penampilan musik Melayu, baik itu acara peresmian, acara pernikahan, maupun acara hiburan, group Nasri Effas menerima Rp. 500.000,-/org dilokal (didaerah kota Medan dan sekitarnya). Jika groupnya mendapat tawaran main diluar negeri, maka tergantung pada si pembuat acara, namun biasanya ia mendapat hasil lebih besar dari main dilokalan yakni sekitar Rp. 1.000.000 s/d Rp. 2.000.000,-/org.
Jika didalam group yang menawarkan anggotanya sendiri biasaya anggota tersebut mendapatkan 10% dari total gaji seluruhnya. Untuk Nasri Effas sendiri biasaya mendapatkan hasil yang lebih besar dari anggota-anggotanya dikarenakan Nasri Effas adalah leader digroupnya. Dan sebagai leader, Nasri
28
Effas bertanggung jawab atas keseluruhan groupnya, baik itu dari segi komposisi musik maupun garapan tariannya.
Gambar 2.3
Nasri Effas bersama isteri dan anak ke-tiganya di usaha kedainya Sumber : dokumentasi penulis
29
Gambar 2.4
Rumah Nasri Effas di Pantai Cermin Sumber : dokumentasi penulis
Gambar 2.5
Piagam Penghargaan Nasri Effas saat mengikuti Pawai Budaya Nusantara pada tahun 2008 di Jakarta
30
Gambar 2.6
Piagam penghargaan Nasri Effas dari Datuk Paduka Raja Wajir Negeri Serdang, yang Nasri Effas terima karena telah mengembangkan kesenian Melayu di daerah Serdang Sumber : foto dinding Nasri Effas yang penulis foto ulang
Gambar 2.7
Sertifikat Nasri Effas sebagai juri di festival tari Melayu Serampang XII yang ke-2 di Riau pada tanggal 16 s/d 17 November 2013 oleh Lembaga Tari dan Musik Putra Melayu
31
Gambar 2.8
Piagam Penghargaan Nasri Effas sebagai anggota seksi orkes musik pengiring, yang diterimanya dari Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia di Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batubara
tanggal 8 s/d 14 Desember 2009
32 BAB III
GAMBUS DALAM BUDAYA MUSIK MELAYU
3.1 Latar Belakang Masuknya Gambus dalam Musik Melayu
Musik Melayu pada umumnya adalah musik yang bernafaskan Islam, di Deli Serdang sangat popular sejak berabad-abad seni musik dan seni tari Islam ini yang kemudian dianggap milik orang Melayu karena telah dicernakan demikian rupa dengan ciri-ciri jati diri orang Melayu di Deli Serdang. Di daerah ini juga sudah merupakan suatu kenyataan, bahwa seni musik dan seni tari Islam itu diajarkan di pesantren/Kutab pengajian agama Islam dan dipelajari oleh para murid yang kemudian menurunkannya kepada generasi berikutnya (T.Luckman Sinar Basarshah 1998:12-13).
Musik Islam adalah buah dari persentuhan antara berbagai budaya musik yang berbeda, yang kemudian menghasilkan sebuah musik baru, yang mengandung karakteristik dan konsep, dengan elemen Arab sebagai katalistnya.
Musik baru ini berkembang sangat cepat dari Eropa sampai Teluk Persia dari Oxus sampai ke Atlantik dan Timur Jauh. Musik itu kemudian menjadi bagian dari kehidupan sosial. Contoh alat musik yang tersebar dimana-mana adalah serunai(Zurna, seperti oboe) dan tipe lute yaitu oud. Disamping oud ada sejenisnya yang disebut sitar. Kemudian terdapat lagi variasi dari sitar ini, yaitu tar yang ditutup dengan kulit (biasanya kulit kambing) dengan double string tune C-G-C tinggi. Variasi alat musik gambus ini pasti ada hubungannya dengan Qanbus yang ada di Arab Selatan (Hadramaut). Secara hurufiah Qanbus ini
33
artinya kulit penutup Pelana. Qanbus atau Gambus inilah yang merupakan suatu variasi dari Si(Tar) (T.Luckman Sinar 1998:13-14).
Namun, menurut pendapat Moh. Anis Md Noor bahwa asal mula masuknya gambus ke daerah-daerah Indonesia bersamaan dengan masuknya pengaruh Islam ke daerah-daerah yang bersangkutan, sehingga warna dan musiknya pun bernafaskan Islam. Alat musik ini awalnya masuk ke Indonesia dimulai dari daerah Pesisir Sumatera Timur yang dibawa oleh saudagar-saudagar asal Timur Tengah yang berdagang ke Indonesia. Pada saat yang bersamaan, mereka juga mengembangkan dan menyebarkan agama Islam ke Indonesia sehingga berkembanglah agama Islam dan kebudayaannya di Indonesia (Mohd Anis Md.Nor,1997:116-117).
Di Sumatera Utara khususnya di daerah Deli-Serdang, disamping musik Barodah(Hadrah) sejak zaman dahulukala sangat popular tarian Zapin (artinya dalam bahasa Arab, tarian yang menghentakkan kaki dengan keras). Tarian ini sangat erat hubungannya dengan gambus bahkan tarian zapin ini didaerah Deli-Serdang disebut dengan nama tarian gambus (T.Luckman Sinar 1998:14).
Gambus adalah suatu alat musik petik (kordofon) yang sumber bunyinya berasal dari senar yang digetarkan dan bentuk lehernya lebih panjang daripada badannya (long neck lute). Alat musik ini terbuat dari batang kayu nangka (artocarpus integra sp) dan di daerah Sumatera Utara (khususnya kota Medan) biasa disebut dengan gambus belalang. Panjang gambus ini bervariasi antara 80 cm sampai 100 cm dan memiliki senar paling sedikit 3 senar dan biasaya double
34
(1 nada 2 senar) ditambah senar tunggal untuk nada yang paling rendah, namun ada juga yang terdiri dari 12 senar.
Fungsi dimainkannya alat musik gambus ini ialah sebagai pembawa melodi dalam sebuah ensambel musik Melayu khususnya ensambel musik zapin dan gambus.
Berikut ini akan penulis gambarkan struktur gambus yang digunakan oleh Nasri Effas.
Gambar 3.1
Gambus yang digunakan Nasri Effas Sumber : dokumentasi penulis
35 3.2 Musik Zapin Sumatera Utara
Musik adalah salah satu media ungkap kesenian. Kesenian adalah salah satu daripada unsur kebudayaan universal. Musik mencerminkan kebudayaan masyarakat pendukungnya. Di dalam musik, terkandung nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi bagian dari proses enkulturasi budaya, baik dalam bentuk formal maupun informal. Musik itu sendiri memiliki bentuk yang khas, baik dari sudut struktural maupun genrenya dalam kebudayaan. Demikian juga yang terjadi dalam kebudayaan musik Melayu. Pertunjukan musik tradisional mengikuti aturan-aturan tradisional. Pertunjukan ini selalu berkaitan dengan penguasa alam, mantera (jampi) yang bertujuan menjauhkan bencana, mengusir hantu atau setan. Musik tradisi Melayu berkembang secara improvisasi, berdasarkan transmisi tradisi lisan. Setiap musik mempunyai nama tertentu dan alat-alat musik mempunyai legenda asal-usulnya. Pertunjukan musik mengikuti aturan dan menjaga etika permainan.
Kesenian Melayu, termasuk zapin adalah bahagian dari seni pertunjukan Indonesia dan dunia Melayu sekali gus. Pertumbuhan dan perkembangan seni pertunjukan dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, tidak lepas dari pertumbuhan dan perkembangan kehidupan kesenian dan kebudayaan Indonesia, yang terdiri berbagai suku bangsa, yang melahirkan kesenian yang sangat beragam dan bersumber dari identitas etnik setempat. Akar budaya seni pertunjukan Melayu, merupakan budaya yang diwarisi dari masa sebelum datangnya pengaruh luar dan terus ditransformasikan saat datangnya pengaruh dari luar. Akar budaya seni pertunjukan ini menjadi bagian dalam memperkuat jati
36
diri seni dan masyarakat Melayu itu sendiri. Kebudayaan Melayu sendiri merupakan kebudayaan yang terbuka yang mau menerima kebudayaan luar tanpa menghilangkan unsur budaya aslinya dalam konteks akulturasi. Sehingga terciptalah kekhasan tersendiri dalam musik Melayu. Seperti salah satu contoh seni pertunjukan Melayu yang cukup populer sekarang ini yaitu zapin.
Dalam genre seni ini, dapat dilihat pengaruh unsur budaya Arab yang sangat kental sekali, baik dari struktur melodi, ritme, instrumen, lirik, tari, pertunjukan, penonton, dan pendukung budayanya. Zapin-zapin yang masih hidup dan masih bertahan di bumi Melayu, memberikan corak warna gubahannya yang spesifik kedaerahan sebagai wujud prilaku komunitas Melayu itu sendiri dalam aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, walau zapin ini berasal dari Arab, oleh orang-orang Melayu zapin juga mengalami kreativitas disesuaikan dengan cita rasa seni dan keperluan kebudayaan etnik Melayu. Bahkan di Alam Melayu dikenal dua jenis zapin yaitu zapin Arab dan zapin Melayu.
Hamzah Ahmed (1984:71) mengatakan bahwa zapin lahir pada tahun keenam masa ketika terjadi gencatan senjata dengan or ang-orang kafir Mekah, pada waktu anak puteri Saidina Hamzah ingin ikut Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Padahal dalam perjanjian, orang-orang pelarian Mekah itu harus di kembalikan. Pihak Nabi Muhammad tidak mau. Lalu siapa yang menjadi pengasuh anak itu? Nabi Muhammad menunjuk Ja’far yang dengan girangnya menari-nari mengangkat kaki bersama Saidina Ali. Inilah diperkirakan sejarah awal munculnya zapin dalam peradaban (tamadun) Islam.
37
Zapin kemudian berkembang ke Persia (Farsi2) dan ke Nusantara, yaitu zapin ala Hijaz. Menurut Mohd Anis Md.Nor (1997:116-117) pertama kalinya kesenian zapin mulai masuk ke istana-istana di Nusantara adalah di Sumatera dan Kalimantan. Penari zapin yang terlatih mahir ujiannya adalah berzapin di tikar rotan yang licin dilapisi dengan permadani. Per madani di atas tikar rotan itu tidak boleh bergesersedikit pun. Apabila hal itu terjadi, hukumannya selama tiga bulan kumpulan itu tidak boleh lagi menghibur di istana. Begitulah halusnya langkah dan gerak tari zapin yang menurut asalnya zapin itu ditarikan sebagai kesenian yang bernafaskan Islam. Kesenian zapin masuk ke Nusantara sejalan dengan berkembangnya agama Islam sejak abad ke 13 Masehi. Para pedagang dari Arab dan Gujarat yang datang bersama para ulama dan senimannya, menyusuri pesisir Nusantara. Zapin tersebut kemudian berkembang di kalangan masyarakat pemeluk Islam. Sekarang kita dapat menemukan zapin hampir di seluruh pesisir Nusantara, seperti di: pesisir timur Sumatera Utara, Semenanjung Malaysia, Serawak, kepulauan Riau, pesisir Kalimantan, Jambi, Brunai Darussalam, dan lainnya. Hingga saat ini zapin tetap menjadi khazanah budaya Melayu yang masih digemari oleh berbagai lapisan masyarakat. Kesenian ini juga sangat populer. Zapin itu sendiri terdapat di kalangan istana-istana Melayu dan di tengah-tengah masyarakat awam.
2
Pada masa Nabi Muhammad hidup, Persia ini dikenal dengan nama Farsi yang wilayahnya mencakup beberapa kawasan di Timur Tengah. Mereka saat awal itu beragama Majusi dan menyembah api. Pada saat itu terjadi peperangan antara Persia dan Romawi yang agama resminya adalah agama Kristen. Umat Islam saat itu lebih cenderung membela Romawi karena “kedekatan” tauhid dan kepercayaan kepada Tuhan. Ketika tentara Romawi dapat ditaklukan oleh tentara Persia, maka gundah gulanalah umat Islam. Namun Tuhan berjanji akan segera memenangkan tent ara Romawi, dan kemudian janji Tuhan it u terbukt i. Kini wilayah Persia it u mencakup sebahagian besar Republik Islam Iran dan sebahagian Irak. Mereka umumnya beragama Islam (mazhab Syiah).
38
Secara etimologis, kata zapin berasal dari Bahasa Arab, yang memiliki berbagai makna. Kata zapin sendiri berkaitan dengan kata-kata turunan seperti zafa, zaffa, zafana, zaffan. Jika ditelisik lebih jauh, memang semua kata itu dalam bahasa Arab memiliki hubungan dengan kata tari bahasa Melayu. Namun sebelum dibedah maknanya, alangkah baik jika kita lihat dahulu arti kata zapin dalam Wikipedia Indonesia (Muhammad Takari 2008:11).
Zapin berasal dari bahasa Arab yaitu kata “Zafin” yang mempunyai arti pergerakan kaki cepat mengikuti rentak pukulan. Zapin merupakan tarian rumpun Melayu yang mendapat pengaruh dari Arab. Tarian tradisional ini bersifat edukatif dan sekaligus menghibur, digunakan sebagai media dakwah Islamiyah melalui syair lagu-lagu zapin yang didendangkan. Musik pengiringnya terdiri dari dua alat yang utama yaitu alat musik petik gambus dan tiga buah alat musik tabuh gendang kecil yang disebut marwas. Sebelum tahun 1960, zapin hanya ditarikan oleh penari laki-laki namun kini sudah biasa ditarikan oleh penari perempuan bahkan penari campuran laki-laki dan perempuan. Tari zapin sangat banyak ragam gerak tariannya, walaupun pada dasarnya gerak dasar zapinnya sama, ditarikan oleh rakyat di pesisir timur dan barat Sumatera, Simenanjung Malaysia, Serawak, Kepulauan Riau, pesisir Kalimantan dan Brunei Darussalam (sumber:http/id.wikipedia.org/wiki/Zapin).
Berdasarkan kutipan tersebut seperti terurai di atas, maka dapat dikatakan bahwa istilah zapin yang berasal dari bahasa Arab. Kemudian zapin adalah salah satu tari Melayu, yang diadopsi dari Arab. Zapin adalah media enkulturasi dakwah Islam. Ensambel musik terdiri dari dua peran yaitu yang membawa melodi adalah alat musik petik (gambus atau ‘ud) dan pembawa ritme yaitu tiga buah alat pukul kecil (maksudnya gendang marwas). Awalnya ditarikan oleh laki-laki, akhirnya perempuan, atau campuran laki-laki dan perempuan.
39
Menurut kajian Mohd Anis Md Nor, bahwa di dunia Melayu zapin adalah sebuah genre seni pertunjukan yang didalamnya menampilkan tarian serta musik. Biasanya tarian zapin dipersembahkan oleh penari laki-laki. Seperti yang dikutipnya dari Winsted, kata zapin berasal dari bahasa Arab, yang banyak yang digunakan oleh orang Melayu Johor. Zapin dalam bahasa Arab ini menurut Wilkinson adalah tarian yang dilakukan dua orang penari laki-laki. Kata turunan zapin yaitu zaffa maknanya adalah sehelai kain yang dibawa oleh pengantin wanita kepada mempelai laki-laki dalam prosesi pernikahan. Kemungkinan besar pula istilah zapin ini disesuaikan dengan lidah orang Melayu sehingga besar kemungkinan pula memiliki makna yang lain. Namun arti-arti itu jika ditelusuri dari bahasa Arab memiliki makna yang dekat, seperti maknanya adalah upacara pernikahan atau menari untuk upacara pernikahan. Kata zapin ini pula tidak dapat dihubungkan dengan kegiatan menari yang bertujuan untuk memperoleh uang yang disebut dengan kegiatan raqasa (Muhammad Takari 2008:21)
Menurut pendapat para ahli sejarah seni Melayu, Luckman Sinar (2010) dan Mohd Anis Md Nor (1995) zapin adalah berasal dari Yaman Selatan (Hadramaut) merupakan sejenis ir ama atau rentak dalam seni musik tradisional. Zapin juga adalah sejenis tarian rakyat Arab. Perkataan zapin berasal dari kata
al-zaffan, yaitu gerak kaki. Sebutan zapin umumnya dijumpai di Sumatera Utara dan
Riau, sedangkan di Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu menyebutnya dana. Julukan bedana terdapat di Lampung sedangkan di Jawa umumnya menyebut zafin. Masyarakat Kalimantan cenderung memberi nama jepin, di Sulawesi
40
disebut jippeng, dan di Maluku lebih akrab mengenal dengan nama jepen. Sementara di Nusa Tenggara dikenal dengan julukan dana-dani.
Di Nusantara, zapin dikenal dalam dua jenis, yaitu zapin Arab yang mengalami perubahan secara lamban, dan masih dipertahankan oleh masyarakat keturunan Arab. Jenis kedua adalah zapin Melayu yang ditumbuhkan oleh para ahli lokal, dan disesuaikan dengan linkungan masyarakatnya. Kalau zapin Arab hanya dikenal satu gaya saja, maka zapin Melayu sangat beragam dalam gayanya. Begitu pula sebutan untuk tari tersebut tergantung dari bahasa atau dialek lokal di mana dia tumbuh dan berkembang. Zapin juga merupakan sejenis rentak atau irama dalam seni musik tradisional Melayu (yang di sampingnya ada senandung
mak inang, lagu dua, patam-patam, ghazal, hadrah, dan lain-lain).
Zapin merupakan salah satu genre dalam seni pentas pertunjukan Melayu yang di dalamnya mencakup musik (rentak/ritme), tari, serta lagu. Apabila rentak zapin itu didendangkan, maka musik itu dinamakan dengan musik zapin. Seperti apa yang dikatakan oleh Fadlin Dja’far, bahwa struktur rentak atau ritem zapin di Sumatera Utara khususnya di Medan, dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori : (1) rentak induk atau dasar dan (2) rentak anak atau peningkah. Rentak induk dibentuk oleh tanda birama 4/4, sedangkan rentak peningkah dikembangkan berdasarkan rentak induk dengan struktur mengikut estetika para pemain musiknya. Zapin di samping memiliki meter 4, juga memiliki struktur musik yang cukup jelas.
Membicarakan masalah struktur musik, mencakup pembahasan yang sangat luas apabila keseluruhan aspek musik yang terdapat dalam musik tersebut
41
dikaji. Oleh karena itu pembahasan tentang struktur musik dalam tulisan ini adalah menyangkut masalah pola-pola penggarapan alat musik gambus berdasarkan karakter suara (timbre), teknik permainan dan juga bentuk-bentuk komposisi musik yang biasanya dimainkan oleh alat musik gambus. Ensambel musik zapin Melayu, pembawa melodi adalah gambus, akordion dan biola, sedangkan pembawa temponya adalah marwas dan gendang.
Gerakan tari zapin harus menampilkan gerak tari yang sopan dan menjunjung tinggi adat resam Melayu. Tidak melompat, mengangkat kaki tinggi-tinggi, berguling-berguling, dan tidak saling bersentuhan pada lawan jenis, seperti mengendong yang tidak sesuai dengan kaedah sopan santun adat Melayu yang berpaksikan kepada ajar an agama Islam. Sebab tari zapin itu sendiri bernafaskan Islam. Sekar ang banyak kita temukan zapin tradisi yang berkembang menjadi tari Zapin kreasi baru, yang telah mengalami pergeseran nilai-nilai budaya yang hampir kehilangan identitasnya. Timbulnya pembaharuan-pemabaharuan dari zapin tradisi ke bentuk zapin kreasi baru ini mulai dir asakan pada tahun 1960-an.
Demikian pula bila rentak zapin itu dinyanyikan maka lagu tersebut dinamakan dengan lagu zapin. Dari segi teks, nyanyian zapin ini di samping bersifat edukatif dan didaktik sekaligus menghibur tetapi juga digunakan sebagai media dakwah Islam dengan syair atau pantun-pantun Melayu yang didendangkan, bisa pula lebih ke arah etika pergaulan secara umum, ataupun pesan-pesan jenis lain, baik dengan tema percintaan, nasihat, pandangan hidup, dan lain sebagainya. Lagu-lagu tersebut akan penulis analisis melalui teori
42
semiotik. Penyajian musik zapin dapat saja hanya di iringin musik instrumental, atau tanpa teks pantun Melayu yang dinyanyikan (vokal).
Dari uraian di atas tergambar dengan jelas bahwa seni zapin sangatlah penting di dalam kebudayaan Melayu. Seni zapin ini mengekspresikan sejarah masuknya peradaban Islam ke dalam kebudayaan Melayu. Dalam seni zapin juga terkandung proses kreativitas seniman Melayu dalam mengolah zapin Arab menjadi zapin Melayu.
3.3 Jenis Alat Musik Melayu
Berdasarkan sistem klasifikasi yang ditawarkan oleh Curt Sachs dan Eric M. Von Hornbostel (1914), maka keseluruhan alat-alat musik Melayu Sumatera Utara dapat dikelompokkan ke dalam klasifikasi: (1) idiofon, penggetar utamanya badannya sendiri; (2) membranofon, penggetar utamanya membran; (3) kordofon, penggetar utamanya senar; dan (4) aerofon, penggetar utamanya kolom udara (Hornbostel dan Sach 1914).
Dalam kebudayaan musik Melayu Pesisir Timur Sumatera Utara, alat-alat musik yang termasuk ke dalam klasifikasi idiofon adalah: tetawak, gong, canang, calempong, ceracap (kesi), dan gambang. Alat musik yang termasuk ke dalam klasifikasi membranofon adalah: gendang ronggeng, gendang rebana (hadrah, taar), kompang, gendang silat (gendang dua muka), gedombak, table, dan baya. Alat-alat musik kordofon diantaranya adalah: ‘ud, gambus, biola, dan rebab. Alat-alat musik aerofon diantaranya adalah: akordion, bangsi, seruling, nafiri, dan puput batang padi (Muhammad Takari dan Heristina Dewi 2008:114-115).
43
Dari keberadaan alat-alat musik yang dipergunakan, kita dapat melihat bahwa etnik Melayu mempunya alat-alat musik yang berciri khas dari alur utama kebudayaan dan juga menyerap musik luar dengan tapisan budaya. Transformasi yang terjadi adalah untuk pengkayaan khasanah. Keberadaan alat-alat musik tersebut juga mengalami proses kesejarahan. Misalnya alat musik pra-Islam contohnya adalah gong, tetawak dan gendang ronggeng. Kemudian selepas masuknya Islam mereka juga menyerap alat-alat musik khas Islam seperti ‘ud dan gedombak (darabuka). Kemudian dengan masuknya Portugis, Inggris, dan Belanda, mereka menyerap alat-alat musik akordion dan biola. Kemudian diteruskan dengan mengambil alat musik saksofon, klarinet, trumpet, drum trap set, gitar akustik, gitar elektrik, dan yang terkini adalah keyboard.
Walaupun mempergunakan alat musik dari kebudayaan luar, namun struktur musiknya khas garapan Melayu. Selain itu, musik dari luar ini dianggap menjadi bagian dari musik tradisi Melayu. Dari keadaan ini tampaklah bahwa proses transformasi sosiobudaya musik mengikuti sejarah budaya seperti yang telah diuraikan diatas.
44
Akodion Marwas
Gendang Ronggeng
Gambar 3.2 alat musik melayu Sumber : Internet
Berikut ini akan penulis jelaskan tentang beberapa jenis alat musik Melayu khususnya alat musik Melayu Indonesia.
3.3.1 Rebab
Termasuk alat musik kordofon (lute type) yang kegunaannya sebagai musik melody solo. Di jaman dahulu kala di Persia terdapat rebab bertali satu yang digunakan untuk mengiringi diklamasi yang disebut “rebab ul Shaer”.
Rebab berasal dari Timur Tengah, kemudian ke Persia dan India, barulah kemudiannya mencapai di kepulauan nusantara (Al-Farabi 870-950 M, di dalam