Aspek lain yang perlu dipantau berkenaan dengan peningkatan pendapatan penduduk adalah bagaimana pendapatan tersebut terdistribusi diantara kelompok penduduk. Walaupun indikator distribusi pendapatan didekati dengan pengeluaran, akan tetapi dapat memberi petunjuk tercapai atau tidaknya aspek pemerataan.
Dari data pengeluaran dapat juga diungkapkan tentang pola konsumsi rumah tangga secara umum dengan menggunakan indikator proporsi pengeluaran untuk makanan dan bukan makanan.
Pola pengeluaran per kapita dapat mencerminkan tingkat kehidupan masyarakat. Di negara-negara yang sedang berkembang, pengeluaran untuk keperluan makan masih merupakan bagian terbesar dari keseluruhan pengeluaran rumah tangga. Terjadinya perubahan pengeluaran atau pergeseran proporsi pengeluaran untuk
Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 makanan dapat menunjukkan ada atau tidaknya peningkatan taraf kehidupan rumah tangga.
Sedangkan negara-negara maju, pengeluaran non makanan merupakan bagian yang terbesar dari pengeluaran rumah tangga.
Pengeluaran makanan bukan lagi dianggap sebagai kebutuhan yang utama. Pengeluaran primer sudah bergeser kepada pengeluaran untuk pendidikan, kesehatan, rekreasi dan sebagainya. Dalam bab ini akan membahas berbagai gambaran tingkat kehidupan masyarakat di Kabupaten Sukabumi dengan melihat pola konsumsi penduduk (perkapita).
Gambar 2.6
Rata-rata Pengeluaran Per Kapita Sebulan Menurut Kelompok Barang di Kabupaten Sukabumi Tahun 2011
Sumber : Susenas 2009-2011
Pengeluaran rata-rata per kapita terdiri dari makanan dan non makanan. Pengeluaran rata-rata per kapita merupakan seluruh pengeluaran dibagi dengan jumlah penduduk yang tinggal di daerah tersebut. Arti lainnya adalah merupakan pengeluaran rata-rata seseorang tiap bulannya, baik itu untuk kebutuhan makanan maupun non makanan. Gambar 2.6. menunjukkan bahwa pola pengeluaran untuk makanan lebih besar daripada pengeluaran untuk non makanan. Sebanyak 58,86 persen dari pengeluaran digunakan untuk kebutuhan makanan dan sisanya 41,44 persen digunakan untuk kebutuhan non makanan hal ini menggambarkan masih rendahnya tingkat kesejahteraan penduduk karena komposisi pengeluaran rumahtangga dapat dijadikan ukuran guna menilai tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk, dengan asumsi bahwa penurunan persentase untuk makanan terhadap total pengeluaran
Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 merupakan gambaran membaiknya tingkat perekonomian penduduk.
Apabila dibandingkan dari tahun 2009 - 2011, terlihat pola konsumsi yang fluktuatif, hal ini menggambarkan belum stabilnya pola pengeluaran di Kabupaten Sukabumi meskipun dari setiap tahunnya proporsi pengeluaran tidak berubah yaitu pola pengeluaran untuk makanan lebih besar daripada pengeluaran untuk non makanan. Berdasarkan Tabel 2.11. memperlihatkan bahwa proporsi untuk makanan lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran untuk non makanan.
Tabel 2.11
Persentase Pengeluaran Rata-rata per Rumah Tangga Sebulan Untuk Kelompok Makanan di Kabupaten Sukabumi
Tahun 2009 – 2011
Persentase pengeluaran rata-rata per kapita sebulan untuk kelompok makanan disajikan pada Tabel 2.11 tabel tersebut menunjukkan pendapatan yang dikeluarkan untuk komoditi apa saja yang dikonsumsi penduduk. Pola pengeluaran makanan penduduk pada tahun 2011 masih didominasi oleh padi-padian yaitu sebesar 28,47 persen dari total konsumsi,hal ini sesuai dengan konsumsi masyarakat Indonesia pada umumnya.Disusul kemudian oleh konsumsi makanan jadi yaitu sebesar 14,24 persen keadaan ini
Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 mengalami kenaikan yang cukup besar dari tahun sebelumnya (8,89%), sedangkan pengeluaran untuk tembakau dan sirih masih tetap tinggi yaitu sebesar 14,15 persen. Untuk pengeluaran sumber protein seperti ikan, daging, telur dan susu serta komoditi kacang-kacangan relatif tidak memperlihatkan perubahan yang berarti.
Tabel 2.12
Persentase Pengeluaran Rata-rata per Rumah Tangga
Sebulan Untuk Kelompok Bukan Makanan di Kabupaten Sukabumi Tahun 2009 - 2011
Jenis Pengeluaran
T a h u n
2009 2010 2011
1. Perumahan,Bahan bakar,Penerangan dan Air 2. Aneka Barang dan Jasa
3. Biaya Pendidikan 4. Biaya Kesehatan
5. Pakaian, Alas Kaki dan Tutup Kepala 6. Barang Tahan Lama
7. Pajak Pemakaian dan Premi Asuransi 8. Keperluan Pesta dan Upacara
50,53
Salah satu ukuran untuk melihat tingkat kesejahteraan penduduk secara umum adalah dengan melihat seberapa besar pengeluaran untuk konsumsi kelompok non makanan. Semakin besar porsi pengeluaran untuk konsumsi non makanan dari pendapatan yang diperoleh oleh rumahtangga mencerminkan semakin baik tingkat kesejahteraan. Hal ini dapat dijelaskan dari pola pengeluaran untuk konsumsi makanan pada umumnya elastisitasnya rendah, sebaliknya elastisitas permintaan terhadap konsumsi non makanan tinggi. Keadaan ini jelas terlihat pada kelompok penduduk yang tingkat konsumsi makanannya sudah mencapai titik jenuh sehingga peningkatan pendapatan akan digunakan unutk memenuhi kebutuhan non makanan. Pengeluaran untuk kelompok bukan makanan seperti yang ditampilkan oleh Tabel 2.12 sebagian besar digunakan untuk perumahan, bahan bakar, dan penerangan serta air yaitu sebesar 50, 53 persen.
Proporsi pengeluaran untuk kelompok perumahan ini dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 cenderung berfluktuatif, demikian halnya dengan pengeluaran untuk kelompok lainnya selama kurun
Dokumen Perubahan RPJMD Kab. Sukabumi 2010 - 2015 waktu tiga tahun cenderung fluktuatif dan perubahannya tidak terlalu besar.
2.2.1.9 Ketenagakerjaan
Ketenagakerjaan merupakan aspek yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia karena mencakup dimensi ekonomi dan sosial. Salah satu sasaran utama pembangunan adalah terciptanya lapangan kerja baru dalam jumlah dan kualitas yang memadai agar dapat menyerap tambahan angkatan kerja yang memasuki pasar kerja setiap tahun. Setiap upaya pembangunan selalu diarahkan pada perluasan kesempatan kerja dan berusaha sehingga penduduk dapat memperoleh manfaat langsung dari pembangunan.
Konsep ketenagakerjaan mendefiniskan bahwa angkatan kerja adalah penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja atau mencari pekerjaan dalam periode seminggu yang lalu (seminggu sebelum waktu survei). Masalah ketenagakerjaan di Indonesia umumnya dan di Kabupaten Sukabumi pada khususnya, dalam tahun-tahun belakangan ini, diperkirakan akan semakin kompleks.
Ini diindikasikan dari terus bertambahnya penduduk usia kerja tiap tahunnya.
Tambahan lagi masih banyaknya pengangguran terbuka maupun terselubung (disguised unemployed) atau bekerja kurang dari jam kerja atau upah yang kurang (under employed) yang antara lain sebagai akibat dari masyarakat bercorak agraris, lapangan pekerjaan yang sangat terbatas dan semakin banyaknya calon tenaga kerja baik yang berpendidikan maupun tidak. Beberapa konsekuensi yang sering timbul adalah tingkat upah yang rendah dan relatif kurang memadai serta terjadinya perpindahan penduduk usia produktif ke daerah lain yang lebih menjanjikan di bidang pekerjaan.