• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Pola Konsumsi Pangan Keluarga Karyawan

5.1.2 Pola Konsumsi Pangan Keluarga Karyawan Pelaksana

Menurut Cristian Lorent Ersnt Engel yang mengemukakan teori hukum konsumsi, semakin miskin suatu bangsa atau keluarga maka semakin besar persentase yang digunakan untuk barang pangan. Hal ini sesuai dengan pola konsumsi karyawan pelaksana yang cenderung memiliki kemiripan dengan pola konsumsi karyawan pimpinan hanya saja berbeda dari jumlah kapasitas yang

dikonsumsi. Hal ini dikarenakan karyawan pelaksana lebih mengoptimalkan konsumsi pangan nya karena pendapatan karyawan pelaksana tidak sebesar karyawan pimpinan.

Tabel 8 memperlihatkan pengeluaran konsumsi karyawan pelaksana PTPN IV Kebun Air Batu.

Tabel 8. Rata-rata pengeluaran konsumsi karyawan pelaksana tahun 2011

No Bulan Pengeluaran Konsumsi (Rp)

Pangan Non-Pangan Total

1 Maret 1.018.506 1.614.624 2.633.130 2 April 1.051.350 1.638.174 2.688.542 3 Mei 1.135.203 1.649.265 2.784.468 Rata – rata 1.068.019 1.634.021 2.702.040

% 39,5 60,5 100 Sumber : Data diolah dari lampiran 2

Berdasarkan tabel 8 dirumuskan bahwa rata-rata konsumsi pangan karyawan pimpinan adalah Rp 1.068.019 dan konsumsi non pangan Rp 1.634.021. jika dibandingkan dengan konsumsi perkapita pangan dan non pangan sumatera utara yaitu sebesar Rp 211.773 dan Rp 179.993 memperlihatkan bahwa konsumsi pangan dan non pangan karyawan pimpinan PTPN IV Kebun Air Batu adalah lebih besar. Tabel dibawah ini memperlihatkan komparasi konsumsi karyawan pimpinan terhadap konsumsi perkapita sumatera utara.

Pada lampiran 4 dapat dilihat bahwa rata-rata pendapatan karyawan pelaksana adalah Rp 3.256.191. berdasarkan data BPS diketahui bahwa upah minimum regional (UMR) Provinsi Sumatera Utara adalah Rp 1.095.000. sehingga dapat dianlisis bahwa pendaptan karyawan pelaksana diatas standart UMR Provinsi Sumatera Utara sehingga karyawan pelaksana PTPN IV Kebun Air Batu tergolong sejahtera. Tabel 9 memperlihatkan komparasi konsumsi dan

pendapatan karyawan pelaksana PTPN IV Kebun Air Batu terhadap konsumsi perkapita dan UMR Provinsi Sumatera Utara.

Tabel 9. Komparasi konsumsi dan pendapatan karyawan pelaksana PTPN IV kebun Air Batu Terhadap konsumsi perkapita dan UMR Sumatera Utara N o Jenis Konsumsi

Karyawan Pelaksana PTPN IV Kebun Air Batu Provinsi Sumatera Utara Konsumsi (Rp) Pendapatan (Rp) Persentase (%) Konsumsi Perkapita (Rp) UMR (Rp) Persentase (%) 1 Pangan 1,068,019.0 3,256,191.0 32.8 211,773.0 1,095,000.0 19.3 2 Non Pangan 1,634,021.0 50.2 179,993.0 16.4 Total 2,702,040.0 83.0 391,766.0 35.8 Sumber: BPS ,Pengeluaran untuk konsumsi masing-masing provinsi di Indonesia dan lampiran

Berdasarkan tabel 9 dapat dianalisis bahwa persentase konsumsi pangan terhadap pendapatan karyawan pelaksana lebih besar jika dibandingkan dengan persentase konsumsi pangan perkapita terhadap UMR. Hal ini menunjukan bahwa tingkat perekonomian karyawan pelaksana tergolong belum sejahtera. Hal ini dikarenakan persentase konsumsi pangan terhadap pendapatan karyawan pelaksana adalah 32,8 %, lebih besar jika dibandingkan dengan persentase konsumsi pangan perkapita sumatera utara yakni 19,3 %. Ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Purwantini dan Aryani (2008), yang menyebutkan bahwa semakin besar persentase konsumsi pangan terhadap pendapatan maka tingkat kesejahteraannya akan semakin rendah. Sehingga dapat dianlisis bahwa persentase konsumsi pangan

karyawan pelaksana lebih besar jika dibandingkan persentase konsumsi perkapita Sumatera Utara yang menjadi standar kesejahteraan keluarga.

Pola konsumsi pangan menunjukkan jenis bahan pangan yang dikonsumsi dalam suatu rumah tangga yang bergantung kepada pendapatan keluarga tersebut. Secara teory, konsumsi beras sangat dipengaruhi oleh besarnya pendapatan. Dan kenyataan menunjukkan semakin dekat kelompok penduduk ke level pendapatan dengan angaka di atas rata-rata, maka tingkat konsumsinya terhadap beras akan semakin menurun dan menu makanannya akan semakin terdiversifikasi (Sihombing, 2010). Hal ini dapat dilihat dari keragaman jenis bahan pangan dan jumlah yang dikonsumsi seperti pada tabel dibawah. Karyawan pelaksana mencapai tingkat pendapatan di atas rata-rata sehingga asupan pangan sudah mencapai diatas rata-rata asupan pangan tahun 2010 dan 2011 di Sumatera Utara. Sebagai pembanding dapat dilihat pada lampiran 10. Rata-rata karyawan pelaksana di PTPN IV kebun Air Batu memiliki pola konsumsi pangan yang cukup memenuhi standart. Kondisi standar ini akan memberikan implikasi positif terhadap kondisi kesehatan, aktifitas dan produktifitas kerja. Terpenuhinya pola konsumsi pangan yang cukup berkwalitas ini secara jangka panjang akan berpengaruh positif terhadap kwalitas sumberdaya manusia, kesejahteraan rumah tangga dan terpenuhinya nilai gizi standart. Pola konsumsi pangan karyawan pelaksana dapat dilihat pada tabel 10.

Tabel 10. Rata-rata Jumlah Bahan Pangan Yang Dikonsumsi Karyawan Pelaksana No Jenis Barang/satuan Bulan Total Rataan Rata-rata Gr/kap/hr

Maret April Mei (Rp)

1 Beras (kg) 38.6 38.72 38.83 116.15 38.72 372,000 1290.6 2 Gula (kg) 2.41 2.38 2.38 7.17 2.39 28,000 79.6 3 MinyakGoreng(ltr) 1.73 1.81 1.81 5.34 1.78 27,500 59.33 4 Minah/ Elpiji (kg) 4.47 4.27 5.27 14 4.67 75,000 155.66 5 Tepung (kg) 1.18 1.31 1.31 3.8 1.27 15,500 42.33 6 Sayur (kg) 1.66 1.64 1.64 4.94 1.65 16,500 55 7 Teh/ Kopi (bks) 2.61 2.42 2.42 7.46 2.49 31,500 - 8 Susu (klg) 1.15 1.5 1.5 4.14 1.38 27,000 - 9 Telur (btr) 16.03 16.03 16.03 48.1 16.03 33,500 - 10 Daging (kg) 1.62 1.72 1.72 5.06 1.69 168,000 56.33 11 Ikan (kg) 1.63 1.68 1.68 5 1.67 74,500 55.66 12 Tahu/Tempe dan Kacang–kacangan (kg) 1.66 1.78 1.78 5.21 1.74 47,500 58 13 Buah (kg) 1.93 1.93 1.93 5.78 1.93 42,000 64.33 14 Rempah (kg) 1.57 1.9 1.9 5.37 1.79 31,500 59.66 15 Roti (bks) 2.19 2.31 2.31 6.81 2.27 45,000 - 16 Mie Instant (bks) 15.81 16.07 16.07 47.94 15.98 33,500 - Total 1,068,000 1976.5

Sumber : Data diolah dari lampiran 8

Tabel diatas adalah jumlah bahan pangan yang umum dan rutin di konsumsi oleh Karyawan Pelaksana periode Maret-Mei 2011. Minyak tanah dan Elpiji merupakan bahan pendukung dalam konsumsi pangan.

Dari hasil analisa penelitian di PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Air Batu Kabupaten Asahan Sumatera Utara, terlihat bahwa pola pengeluaran konsumsi karyawan pelaksana dan pimpinan memiliki kesamaan dari jenis pangan nya, hanya saja yang membedakan adalah jumlah bahan pangan yang dikonsumsi dan besarnya pengeluaran konsumsi.

Dari analisis data diatas dapat dilihat adanya perbedaan jumlah bahan pangan yang dikonsumsi oleh karyawan pimpinan jika dibandingkan karyawan pelaksana

yang mana karyawan pelaksana memiliki jumlah konsumsi pangan lebih sedikit jika dibandingkan dengan karyawan pimpinan. Hal ini diakibatkan karena keterbatasan daya beli karyawan pelaksana. Dan jumlah konsumsi non-pangan karyawan pelaksana juga sangat jauh berbeda dibandingkan karyawan pimpinan. Dimana, jumlah konsumsi pangan dan non pangan pada karyawan pelaksana tidak jauh berbeda.

Berdasrkan hasil penelitian diketahui bahwa pola konsumsi pangan dan non pangan Karyawan Pimpinan dan Pelaksana memiliki kesamaan pola konsumsi. oleh karena itu, pola pengeluaran konsumsi pangan karyawan pimpinan dan pelaksana untuk pengeluaran konsumsi pangan terdiri dari Beras, gula, minyak goreng, minyak tanah/elpiji, tepung, sayur, teh/kopi, susu, telur, daging, ikan, kacang-kacangan, buah-buahan, rempah-rempah, roti, mie instan. Jumlah pengeluaran konsumsi pangan ini lebih kecil jika dibandingkan jumlah pengeluaran konsumsi non pangan lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh juga pola pengeluaran konsumsi non pangan meliputi konsumsi sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, pesta, dan sosial lainnya yang tingkat pengeluaran konsumsinya menunjukkan angka yang lebih besar jika dibandingkan dengan pengeluaran kosumsi pangan.

Dari hasil wawancara dengan responden,seperti yang ditunjukkan pada Tabel 5 dan Tabel 8 memperlihatkan bahwa pengeluaran konsumsi non pangan untuk sandang masih menempati urutan nomor satu. Pengeluaran kebutuhan sandang ini terutama pada hari-hari besar seperti Idulfitri, Natal/Tahun baru dan untuk acara khusus keluarga.

Konsumsi perumahan secara umum dibelanjakan untuk keperluan alat-alat rumah tangga. Keperluan tersebut antara lain listrik, meja, kursi, lemari/bufet, perbaikan sepeda motor, dan lain-lain.oleh karena itu pengeluaran konsumsi perumahan menjadi pengeluaran kedua terbesar pada kelompok konsumsi pangan. Biaya pendidikan di alokasikan untuk anak karyawan yang masih sekolah, kursus atau kuliah. Pengeluaran untuk konsumsi sosial merupakan pengeluaran yang terkecil. Pengeluaran ini mayoritas adalah untuk sumbangan ke masjid, gereja, pesta pernikahan, kemalangan. Penerapan bakti sosial ini dalam masyarakat didasari oleh kehidupan karyawan yang bercirikan sifat gotong royong.

Berdasarkan hasil penelitian sisa pendapatan karyawan setelah dikurangi pengeluran konsumsi pangan dan non pangan maka sisa pendapatan tersebut akan dialokasikan karyawan dalam bentuk tabungan (saving). Sehingga Sisa pendapatan akan disimpan dalam bentuk tabungan mengantisipasi keperluan-keperluan di masa mendatang.

5.2 Komparasi Pola Konsumsi Pangan antara Keluarga Karyawan

Dokumen terkait